DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

PAIRING :

KuroPika, KilluPika, LeoPaku,

WARNING :

AU. OOC. FemKura. Characters' death. Based on a legendary epic poem from Germany.

.

A/N :

Pertama, aku ingin mengingatkan lagi bahwa genre fic ini adalah tragedi...selain romance tentu saja dengan tambahan fantasy.


"Kembalilah selagi masih bisa. Dewa Phoibos memberiku sedikit gambaran tentang masa depan...dan tak ada satupun, dari kalian bertiga Hai Para Pendosa, yang terlihat di sana. Kalian akan mati. Beserta seluruh pasukan itu...semuanya."


Sang prajurit mengikuti Kurapika dengan penuh kewaspadaan. Dia khawatir akan terjadi hal-hal yang membahayakan mengingat saat ini mereka telah menuju ke sungai itu.

'Di sana mereka bertemu...dan di sana juga Pangeran Kuroro tewas,' ucapnya dalam hati sambil menatap Kurapika yang terus berkuda tanpa mengucapkan sepatah kata pun sepanjang perjalanan mereka dari istana. 'Dewa, kumohon lindungilah aku...'

Lamunan prajurit itu buyar seketika begitu kuda yang dinaiki Kurapika mendadak berhenti. Si prajurit pun turun, bersiap untuk mengikuti sang putri.

Kurapika menatap Orva, membelai surai kuda putih itu dan merangkulnya.

'Orva, ingatkah kau? Waktu itu...aku pertama kali bertemu dengannnya di sini...,' ucap Kurapika dalam hati. Dia melepaskan rangkulannya, dengan mata yang berkaca-kaca menatap mata Orva yang besar. Kuda itu meringkik lemah seolah memahami kesedihan yang dirasakan majikannya.

Kurapika menepuk-nepuk kepala Orva sebentar, lalu menoleh pada prajurit yang berada tak jauh di belakangnya. Menatapnya seolah mengatakan, jangan-ikuti-aku. Langkah sang prajurit langsung terhenti.


Suara gemericik air sungai terdengar semakin jelas ketika Kurapika melangkah ke sana. Dia berusaha menguatkan diri, walau langkahnya terasa berat, dadanya terasa sesak, bibirnya gemetar karena menahan tangis.

Tak lama kemudian Kurapika sampai di tepi sungai itu. Dia duduk di atas batu dan menyentuh permukaan air. Mata birunya terpejam...mengingat saat-saat berharga pertemuan mereka.

"Aku Kuroro dari Kerajaan Bintang Jatuh. Siapa namamu?"

'Kuroro...suamiku...apa yang kaurasakan saat itu? Di detik-detik terakhir hidupmu...apakah kau mengingatku? Apakah kau mengingat anak kita yang menantimu?'

Air mata menetes perlahan dari kedua sudut mata Kurapika. Dia langsung terisak.

"Maafkan aku...Aku tak mampu...menjaga anak kita..."

Kurapika menekuk kakinya, meletakkan pelipis kanannya pada salah satu lututnya.

'Sudahkah kau bertemu dengan anak kita di sana? Kuroro, seperti apa rupanya? Kapan aku...bisa bertemu?'

Diam-diam si prajurit mengikuti Kurapika, mengawasi gadis itu dari balik salah satu pohon yang ada di sana. Dia merasa terharu melihat kesedihan Kurapika.

Sementara itu sang putri terus meratap, hingga sampai pada titik di mana dia merasa sangat marah pada Leorio, Hisoka, Pakunoda dan Phinks. Sorot matanya menampakkan kemarahan dan kebencian yang mendalam, warnanya pun kini telah berubah menjadi merah.

'Aku akan membalas mereka,' batin Kurapika. Dia menatap dan meraba cincin pernikahannya. Perlahan dilepaskannya cincin itu. 'Kau cinta abadiku...satu-satunya orang yang kucintai, hanya padamu aku memasrahkan segalanya...'

Cincin itu berkilau indah terkena sinar mentari.

'Aku akan menyerahkan jiwaku pada iblis...untuk memberi mereka pembalasan yang setimpal. Maafkan aku...Kasihku, kuharap kau mengerti.'

Kurapika menjatuhkan cincin itu ke dalam aliran air sungai. Apakah cincin tersebut langsung terbawa arus atau tersangkut tumbuhan maupun kerikil di sana, Kurapika tak tahu pasti. Dia tak bisa melihat dengan jelas karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Kurapika menengadah menatap langit, seolah menatap Kuroro yang berada di alam sana.

'Aku akan terus hidup hingga dendam ini terbalaskan...Aku berjanji padamu. Mereka harus membayar semua penderitaan yang kurasakan saat ini.'

Tak lama kemudian, Kurapika sudah berbalik pergi menghampiri Orva...meninggalkan dirinya yang lama, dan mengisi dirinya yang baru dan penuh dendam. Prajurit yang merasa heran menghampiri sungai itu. Dia terkejut melihat cincin yang tersangkut di sebuah batu kerikil.

'Ini...cincin pernikahan Putri Kurapika dan Pangeran Kuroro...,' ucapnya dalam hati sebelum membungkuk dan memungut cincin itu tanpa sepengetahuan sang pemilik. 'Putri...kenapa dia membuangnya?'


Sekembalinya Kurapika ke istana, para penghuni istana menatapnya heran. Mereka sudah mendengar tentang kepergian Kurapika yang tiba-tiba. Sejak pemakaman Ibu Suri waktu itu, Kurapika tak pernah lagi keluar lingkungan istana. Lagipula dia bisa terkena bahaya, mengingat kondisinya yang tak sama lagi seperti dulu.

"Kurapika, kau membuat khawatir semua orang," tegur Leorio sambil menatap adiknya dengan tajam.

Kurapika mengangkat wajahnya dan balas menatap Leorio. Dia tak berkata apapun...namun Leorio bisa melihat semburat cahaya berwarna kemerahan di mata gadis itu. Leorio seolah terpaku karena tatapan tersebut. Kurapika pun berbalik dan kembali ke kamarnya.

'Kurapika...dia...'


"Itu tidak mungkin!" komentar Pakunoda setelah mendengar cerita Phinks.

Phinks berusaha meyakinkan wanita itu, "Tapi memang itu yang terjadi. Yang kudengar, Putri Kurapika tiba-tiba meminta salah seorang prajurit untuk mempersiapkan kudanya dan pergi bersamanya ke sungai itu."

"Lalu? Memangnya dia melakukan hal yang berbahaya di sana?"

"Bukan...bukan seperti itu, tapi sekembalinya dari sana, Putri Kurapika terlihat berbeda. Reaksinya saat menghadapi Yang Mulia Raja...benar-benar lain."

Pakunoda terdiam, berusaha mencerna penjelasan Phinks dengan hati-hati. Tapi kemudian seulas senyum jahat yang sinis kembali nampak di wajahnya.

"Tak ada hal berbahaya yang perlu kita takutkan, bukan? Phinks, sadarlah! Walaupun Kurapika bisa sadar kembali, apa yang bisa dia lakukan? Tak ada."

Phinks tersentak, kini dia terlihat ragu.

'Tapi...ah...Pakunoda...aku—'

"Sebaiknya sekarang kau ceritakan padaku tentang apa yang diperintahkan Leorio padamu. Tadi dia memanggilmu secara khusus, bukan?" Pertanyaan Pakunoda membuyarkan lamunan pria itu.

Phinks berusaha fokus. "Ya...Yang Mulia memerintahkanku untuk pergi ke Kerajaan Zaoldyeck, menyampaikan penolakan lamaran Raja Killua pada Putri Kurapika," dia menjawab.

"Laksanakan tugasmu dengan baik. Setelah itu, kuperintahkan kau untuk segera kembali ke Acantha. Acantha membutuhkanmu...kau sudah terlalu lama di sini."

"Baiklah."

Phinks membungkuk hormat pada Pakunoda, lalu melangkah meninggalkan kediaman wanita itu. Sebelum berbelok, tiba-tiba dia berhenti dan menyempatkan diri untuk menoleh. Tatapan matanya terlihat bagaikan terluka ketika menatap ke arah di mana Pakunoda berada.

'Acantha membutuhkanku...lalu bagaimana denganmu?'

Sesungguhnya, Phinks tahu betul bahwa cintanya sejak dulu bertepuk sebelah tangan.

"Phinks, apa yang kaulakukan?! Aku ratumu, kau harus mematuhi perintahku! Siapa yang memberi kuasa padamu untuk merubah strategi yang sudah kurencanakan?!" bentak Pakunoda. Dia benar-benar marah besar.

Phinks terdiam, lalu menatap langsung mata Sang Ratu Acantha. "Keselamatanmu adalah tanggungjawabku..."

"Sejak menjadi Ratu, aku sudah tahu apa konsekuensinya!"

"Aku mencintaimu, Pakunoda."

Pakunoda tersentak. Tentu dia tahu, menyadari sejak lama mengenai hal itu. Namun dia tak menyangka Phinks akan mengatakannya.

"Kalau begitu, manfaatkan cintamu untuk setia padaku sampai mati. Bantu aku bertindak untuk Acantha...jadilah tangan kananku," Pakunoda berkata setelah memikirkannya sejenak.

Phinks terkesiap. Apa yang dikatakannya memang sia-sia saja. Dia tahu, Pakunoda tak akan menanggapi pernyataan cintanya.

"Aku tak punya waktu untuk cinta," Pakunoda menambahkan.


Di kamarnya, Kurapika belum terlelap. Dia memegangi pedang yang sudah lama tak digunakannya. Karena kondisinya, Kurapika sudah lama tak berlatih pedang. Apalagi...menggunakan pedang itu dalam kondisi yang sesungguhnya.

Kurapika berdiri, memegangi pedang itu dengan kedua tangannya. Dia memejamkan matanya.

'Cintaku...perlihatkan padaku...'

Kurapika berusaha mengingat ketika dia melihat Kuroro berlatih pedang sewaktu di Kerajaan Bintang Jatuh dulu. Sikap tubuh yang khas...caranya menebas pedang dengan penuh keyakinan dan kekuatan.

'Ajari aku...'

Kurapika pun tak tidur malam itu. Tidak, dia memang memutuskan untuk tidak tidur. Dia merasa perlu untuk kembali membiasakan diri dengan pedangnya, dan karena waktu yang sangat mendesak, dia berusaha keras mengingat beberapa cara Kuroro bertarung dengan pedangnya.


Ketika fajar baru saja menjelang, Phinks sudah berangkat dari istana dengan menaiki kudanya. Phinks pergi sendiri. Sebagai seorang jendral, tentu dia tak membutuhkan siapapun untuk mengawalnya. Lagipula utusan hanyalah perwakilan, yang tak boleh dikenakan hukuman apapun dalam menjalankan tugasnya.

Phinks menderap pergi cukup kencang, memasuki hutan yang menuju ke daerah perbatasan Rukuso. Suasana sangat hening.

'Keheningan yang aneh...seakan-akan hanya aku yang terbangun saat ini,' batinnya.

Namun Phinks mengabaikan perasaan itu. Walau akhirnya...Phinks akan segera menyesalinya.

Udara pagi ini terasa lebih dingin. Phinks merapatkan jubahnya. Tiba-tiba kuda hitam yang dinaikinya meringkik. Phinks akan terjatuh jika dia tak segera memegangi tali kekang.

"Hei, ada apa?!" pekiknya terkejut.

Phinks membelai surai kuda itu, mencoba membuatnya tenang. Dia pun memicingkan matanya sembari mengamati sekitar. Tak ada yang aneh.

"Kita lanjutkan..."

Phinks menarik tali kekang dan memberikan aba-aba, tapi kudanya tak mau berjalan juga. Dengan tetap merasa keheranan, pria itu tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang bergerak dengan cepat.

Sekelebat bayangan.

Seseorang.

Phinks segera waspada. Dia mengeluarkan pedang dari sarungnya...perlahan turun dari kudanya. Surat untuk Killua terselip di ikat pinggangnya.

"Tunjukkan dirimu!"

Pergerakan orang itu kini semakin nyata...hingga tiba-tiba sosok berbaju hitam dengan wajah yang hampir tertutup seluruhnya muncul di hadapan Phinks.

"Aku sedang menjalankan titah Yang Mulia Raja Rukuso...kau mau apa? Jangan halangi jalanku atau kau akan menerima hukuman yang berat," ucap Phinks.

Kata-kata Phinks tak berpengaruh bagi sosok itu. Dia mengacungkan pedangnya dan langsung menyerang Sang Jendral Acantha secara membabi-buta. Phinks menyesal telah meremehkannya.

Lalu...dia pun melihatnya.

Sorot mata yang dikenalnya, sikap tubuh saat bertarung yang nampak familiar namun terasa sedikit berbeda...

'Tidak mungkin...kenapa...suasana apa ini? Begitu menyesakkan!'

Phinks berkelit dari serangan lawannya, mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi lalu mengarahkannya ke penutup wajah Si Penyerang.

Mata pria itu terbelalak.

Helaian rambut pirang muncul dari balik kain hitam yang terkoyak itu. Sorot mata yang berwarna merah dan bercahaya laksana kobaran api...tatapan penuh kebencian.

"Putri Kurapika!" ucap Phinks dengan suara tertahan. Tubuhnya mematung. Rasanya seperti mimpi, dia tak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini.

Kurapika pun tak punya waktu untuk mundur, lagipula dia tak memikirkan hal itu saat ini.

"Pembunuh...," desis Kurapika marah sambil memperkuat serangannya. Tanpa diduga Phinks kewalahan menghadapi serangan Kurapika. Dia sudah pernah mendengar, gadis itu senang bermain pedang bahkan sering mengajari Gon sebelum dia menikah dulu. Ditambah dengan rasa benci begitu besar yang membangkitkan adrenalin, Kurapika menjadi lebih kuat saat ini.

"Matilah kau...ANJING PAKUNODA!"

Untuk pertama kalinya, serangan Kurapika kali ini terjadi secara nyata. Gadis itu pun tak menyangka dia akan begitu menikmati tindakannya ini.


Suasana Kerajaan Rukuso tengah kacau karena untuk kedua kalinya, Kurapika tiba-tiba tidak ditemukan di kamarnya. Pakunoda pun berang karena harinya yang tenang harus terganggu hanya karena ulah gadis itu.

"Pasti Kak Kurapika masih ada di sekitar sini," ucap Gon cemas. Teringat di benaknya bagaimana kondisi kakaknya itu, dan raut wajah Ibu Suri sebelum meninggal dunia.

'Ibu...bantu kami menemukan Kak Kurapika...Lindungilah dia, Wahai Dewa...' batin Gon.

Hisoka pun sibuk memerintahkan para prajurit untuk menyisir wilayah istana. Perhatiannya terpecah ketika seorang pelayan datang dengan tergopoh-gopoh. Napasnya tersengal-sengal begitu sampai di hadapan Hisoka.

"Kudanya...," ucapnya terbata-bata. "Kuda milik Tuan Putri tidak ada di kandangnya!"

Semua tercengang. Bila Kurapika meninggalkan istana dengan berjalan kaki, kemungkinan besar akan cepat ditemukan. Namun hal ini akan lebih sulit jika Kurapika menggunakan kudanya.

"Lakukan pencarian tanpa menyebabkan keresahan bagi rakyat," perintah Leorio.

Hisoka membungkuk hormat, dan meneruskan perintah itu pada para prajuritnya. Namun tanpa diduga pencarian terhadap Kurapika dinyatakan selesai.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Karena Kurapika tiba-tiba menunjukkan diri bersama Orva. Kurapika membuat penampilannya seolah baru selesai berjalan-jalan. Wajahnya yang cantik dan seolah tanpa dosa, menatap ke arah prajurit yang tengah mencarinya.

"P-Putri Kurapika...?" Prajurit itu tergagap.

Kurapika hanya menatapnya tanpa bicara. Namun dia menoleh, memandang Leorio, Pakunoda dan Hisoka yang tak kalah terkejutnya.

'Pembalasanku...baru saja dimulai,' batinnya, lalu melangkah pergi menuju ke kediamannya.

Leorio dan Pakunoda menatap kepergian Kurapika dengan heran, sementara Hisoka memicingkan matanya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Angin semilir menghantarkan bau yang begitu dikenal Hisoka.

'Apakah...dia tak menyadarinya?'

Dengan hati-hati Hisoka melirik ke samping, dan agak tersentak begitu bertemu dengan mata Pakunoda.

'Ya...Yang Mulia Ratu, kau pun seorang petarung. Pasti kau bisa mengenalinya. Bau darah...bau darah seolah menyeruak dari balik kulit Putri Kurapika yang putih itu...'

Pakunoda mengalihkan tatapannya dari Hisoka. Seketika dia merasa tegang. Dia merasa bahwa Kurapika nampak berbeda. Gadis itu masih tak mau bicara, tatapan mata yang menerawang...Tapi sesaat tadi, ketika Kurapika melihat ke arahnya, itu bukan tatapan mata yang menerawang. Tatapan itu benar-benar ditujukan untuknya.

'Dan mungkin juga pada Raja dan Hisoka...Anak Kecil, apa yang kaurencanakan? Apa yang telah kaulakukan? Jika kau menyatakan perang lagi kali ini, aku akan menanggapinya...' batin Pakunoda.


Leorio mengangguk-anggukkan kepalanya dengan puas setelah mendengar penjelasan dari para pejabat istana termasuk para pejabat militer.

"Kalau begitu...bisa kusimpulkan bahwa kondisi Rukuso sedang aman, bukan?" Leorio menegaskan.

Netero tersenyum. "Ya, Yang Mulia," jawabnya.

"Terakhir, adakah yang mengetahui keberadaan Phinks? Seharusnya dia sudah kembali dari Kerajaan Zaoldyeck..."

Suasana di aula yang sebelumnya sudah lebih tenang menjadi ricuh kembali. Sepertinya mereka semua baru menyadarinya.

"Jangan-jangan Jendral Phinks ditahan oleh Kerajaan Zaoldyeck setelah membaca surat penolakan itu!" Salah seorang menteri berkata.

Berbagai asumsi bermunculan, walaupun pada akhirnya hampir semua berpendapat bahwa Phinks baik-baik saja, mengingat dia seorang jendral dan dianggap mampu untuk menghadapi rintangan yang mungkin menghambatnya saat ini.

"Kalau begitu aku akan menunggu selama beberapa hari lagi," ucap Leorio akhirnya, sebelum menoleh pada Hisoka, "Jendral Hisoka, persiapkan anak buahmu untuk berjaga-jaga kalau saja pencarian memang harus kita lakukan."

Hisoka mengangguk tanda mengerti, walau benaknya masih berpikir kira-kira apa yang tengah menghambat jendral dari Acantha dan sekaligus orang kepercayaan Pakunoda itu.

Pertemuan baru saja dibubarkan, ketika tiba-tiba seorang prajurit datang dengan tergesa-gesa.

"Yang Mulia! Mereka datang!" serunya dengan napas terengah-engah, membuat semua perhatian teralih padanya. "Kerajaan Zaoldyeck datang beserta Raja mereka!"

Semua terkejut. Leorio dan Hisoka pun saling pandang.


Pemuda berambut putih keperakan itu berdiri dengan gagahnya, di hadapan Penguasa Negeri Rukuso. Killua kini sudah dewasa dan tampak lebih tampan. Matanya menampakkan keberanian dan emosi yang menggebu-gebu.

"Ehm...Raja Killua," Leorio angkat bicara. "Pertama kuucapkan selamat atas penobatanmu beberapa waktu lalu. Aku merasa sangat malu tidak bisa mempersiapkan penyambutan yang pantas atas kunjunganmu ini."

Killua tersenyum. "Tak apa, aku menyadari kunjunganku yang kedua kalinya ini begitu mendadak...walau seharusnya kau sudah bisa memperkirakan bahwa hal ini akan terjadi, karena aku tidak menerima balasan apapun dari Rukuso."

Leorio langsung mengernyit. Pakunoda yang ada di sampingnya langsung terlihat khawatir.

"Maaf...tapi sebenarnya...setelah membaca suratmu aku sudah membalasnya, bahkan utusanku...Jendral Phinks, belum juga kembali hingga sekarang," jelas Leorio.

Semua terdiam sejenak, dan beberapa saat kemudian para pejabat yang ada di sana saling berbisik.

'Phinks...apa yang sebenarnya terjadi padamu?' Pakunoda bertanya-tanya.

Melihat kekhawatiran yang muncul, Killua pun bicara kembali, "Kalau begitu Yang Mulia, jika Anda tidak mengharapkan kedatanganku...itu berarti Rukuso kembali menolak lamaranku untuk menjadikan Putri Kurapika sebagai istriku?"

"Benar begitu," jawab Leorio. "Dan bukankah dulu itu adalah salah satu isi perjanjian yang disepakati antara kedua negara kita? Bahkan—"

"Biarkan aku yang menjawabnya sendiri."

Suara itu membuat Leorio menghentikan ucapannya. Semua menoleh ke arah pintu masuk aula, melihat Kurapika berdiri dengan penuh percaya diri...seolah dirinya yang dulu, seluruhnya sudah kembali.

Killua tampak takjub melihatnya.

Kurapika melangkah masuk ke dalam aula, lalu berdiri menghadap Leorio dan Pakunoda.

"Yang Mulia, perkenankan aku berbicara atas namaku sendiri," ucapnya.

Leorio yang masih terheran-heran hanya mampu mengangguk. Kemudian Kurapika membungkukkan badannya dengan penuh hormat di depan Killua yang dulu pernah melamarnya, pernah bertarung dengan mendiang suaminya, lalu kini sudah menjadi raja. Gadis itu pun menunduk...menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Aku, Putri Kurapika dari Kerajaan Rukuso, dengan ini menerima lamaran Yang Mulia Raja Killua dari Kerajaan Zaoldyeck."

Mata Killua berbinar-binar seketika, begitu berbeda dengan reaksi yang diberikan Leorio, Pakunoda, dan orang-orang yang ada di sana.

"Mohon jangan pertanyakan segala alasan yang mendasari keputusanku ini. Dan aku simpulkan bahwa Yang Mulia tidak keberatan dengan statusku yang merupakan janda dari mendiang Putra Mahkota Kerajaan Bintang Jatuh..."

"Tentu saja," jawab Killua segera, sambil memegangi kedua bahu Kurapika.

Menangkap isyarat tersebut, Kurapika menegakkan badannya dan mendongak menatap mata Killua...yang mulai hari ini resmi menjadi calon suami keduanya.

"Kini aku yang akan menjagamu...Kurapika."

Pakunoda terkesiap. Dia tidak tahu pasti apa rencana adik iparnya itu, namun yang dia tahu...apa yang akan terjadi nanti benar-benar tidak baik baginya. Bahkan kini dia tidak bisa macam-macam pada Kurapika mengingat sudah ada Killua yang pasti akan selalu melindunginya.

Dengan sikap yang protektif, Killua meletakkan tangannya di belakang pinggang Kurapika.

"Yang Mulia, aku akan langsung membawa Putri Kurapika ke negeriku dan menikahinya di sana," ucapnya pada Leorio.

Mendengar hal ini, tentu saja Leorio tak bisa menolak. "Ya...tentu...jika adikku memang menginginkan begitu."


"Salah seorang utusanku sudah kembali ke Zaoldyeck lebih dulu untuk mengabarkan berita gembira ini, dan agar persiapan upacara pernikahan bisa segera dimulai," Killua berkata. Malam ini dia dan rombongannya menginap di Rukuso, memberi waktu bagi Kurapika untuk berkemas-kemas dan membereskan segala sesuatunya, sebelum akhirnya kembali ke Zaoldyeck esok hari.

"Terima kasih," jawab Kurapika singkat.

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan kediaman Kurapika.

Killua mengangkat sebelah tangannya, membelai rambut gadis itu seolah merasa tak sabar ingin segera memilikinya. Kurapika hanya diam...berusaha membiasakan diri dengan sentuhan itu.

"Selamat malam..." ucap Killua lagi, lalu dia mengecup kening Kurapika dengan lembut.

Mata Kurapika terbelalak, tindakan Killua membuatnya terkejut. Sementara Killua tersenyum geli melihat hal itu.

Setelah Killua pergi, Kurapika melangkah masuk ke kamarnya. Dia memeriksa semua barang yang telah dikemasi oleh para pelayan.

"Terima kasih atas bantuan kalian," ucap Kurapika sambil memandangi para pelayan yang telah setia melayaninya sejak dulu. Mereka terlihat sedih...semuanya mengangguk sambil menahan tangis. Apa boleh buat, Kurapika memutuskan tak akan membawa seorangpun pelayan pribadinya ke Zaoldyeck. Entah kapan mereka akan bertemu kembali dengan putri yang sangat mereka sayangi.

"Silakan beristirahat...aku akan menemui Gon sekarang," ucap Kurapika.


Ketika Kurapika datang ke kamar Gon, bocah itu sedang duduk terpekur di tempat tidur. Dari bahunya yang tampak gemetar, sepertinya dia sedang menangis diam-diam. Kurapika menghentikan langkahnya sebentar...dia tahu pasti Gon tak ingin dipergoki dalam keadaan seperti itu.

Gon menghapus air matanya.

"Selamat malam Gon," ucap Kurapika sambil melangkah masuk.

Gon tersentak. Dia segera menoleh, menatap kedatangan kakaknya seolah tak percaya.

"Kak Kurapika...?"

Kurapika tak menjawab. Dia duduk di tepi tempat tidur di dekat Gon.

"Ini malam terakhirku ada di sini," Kurapika mulai bicara. Dia menoleh, memandangi adiknya.

Gon berusaha tersenyum. "Ya, besok Kakak akan pergi ke Negeri Zaoldyeck...Semoga Kakak bahagia!"

'Kau...satu-satunya adikku...Satu-satunya keluarga yang masih peduli padaku...Adikku...Sang Pembawa Kebahagiaan...'

Kurapika segera mendekat dan memeluk Gon. Dia tak mau menangis...tak ada waktu untuk menangis. Hal itu akan membuat hatinya lemah, dan mengurangi hasratnya untuk balas dendam.

"Maukah kau...berjanji padaku, Gon...?" Kurapika bertanya dengan suara yang lebih terdengar seperti bisikan.

Walau Gon merasa heran, namun dia menjawab, "Tentu saja...Kak Kurapika ingin aku berjanji apa?"

"Kuberikan Orva padamu...jaga dia sebaik-baiknya. Belajar dengan tekun, jangan pernah mengeluh karena kaulah yang akan memerintah Rukuso kelak."

"Tapi kalau Ratu Pakunoda punya keturunan—"

"Tidak! Jangan bicara tentang itu! Kaulah yang akan menjadi raja menggantikan Kak Leorio. Tetaplah pantang menyerah, penuh semangat dan selalu tersenyum...hal itu akan menjadi kekuatan bagimu. Lalu satu hal lagi...walau apapun yang terjadi, ketika Kak Leorio dan istrinya pergi dari sini, kau tak boleh meninggalkan Rukuso."

Gon terdiam. Dia bingung mendengar kalimat Kurapika yang terakhir. Merasakan hal ini, Kurapika melepaskan pelukannya dan menatap Gon.

"Kak Kurapika, memangnya Kak Leorio dan Ratu Pakunoda akan pergi ke mana? Kenapa mereka harus pergi dari sini?" tanya Gon tak mengerti.

Kurapika menggenggam tangan bocah itu tanpa melepaskan tatapannya. "Aku belum bisa memberitahumu...tapi saat itu akan datang. Berjanjilah."

"Ngg...ya, aku berjanji..."

Kurapika tersenyum puas mendengarnya. Sosok gadis itu, tampak begitu indah dalam cahaya sinar bulan yang masuk melalui sela-sela jendela. Gon tertegun. Menyadari hal ini, Kurapika memeluk adiknya kembali. Dia tidur bersama Gon malam itu.


Akhirnya esok hari pun tiba. Seolah masa itu terulang lagi, masa ketika Kurapika meninggalkan Rukuso untuk menjadi calon istri Kuroro. Hanya saja, kali ini Killua yang akan menjadi suaminya. Pihak istana melepas kepergian mereka, begitu pula halnya dengan rakyat Rukuso. Mereka sangat berharap Kurapika dapat berbahagia kembali bersama Killua.

Ada sesuatu yang terjadi. Ketika berpamitan, Kurapika berbisik di telinga Pakunoda,

"Kau mencari anjingmu yang setia itu? Carilah dia...di hutan yang menuju ke perbatasan. Di gua kecil yang menutupi semua rahasia..."

Mata Pakunoda terbelalak seketika mendengar hal itu. Setelah Killua dan Kurapika pergi bersama rombongan dari Kerajaan Zaoldyeck, Pakunoda dengan panik segera memerintahkan pencarian terhadap Phinks.

"Tenanglah, kita lakukan pelan-pelan," Leorio berusaha menenangkan istrinya. "Jangan memancing kekacauan yang tidak perlu, yang akan membuat semua perbuatan kita terbongkar."

Akhirnya, Leorio mengutus Hisoka dan sebagian kecil pasukan Rukuso ke tempat yang disebutkan Kurapika. Tak perlu waktu lama, mereka berhasil menemukan gua kecil di sana.

"Biarkan aku yang masuk lebih dulu," perintah Hisoka.

Pria itu memasuki gua, dan setelah melangkah lebih jauh di dalamnya mulai mencium bau bangkai yang sangat menusuk hidung. Hisoka menutup hidungnya. Dia pun langsung tahu apa yang akan dia temukan.

Di sana, di jalan buntu di dalam gua, Hisoka menemukan jasad Phinks yang sudah mulai tak utuh lagi. Banyak binatang kecil mulai menggerogoti tubuhnya...bahkan sebelah matanya sudah tak ada. Mulut Phinks menganga, beberapa luka tusukan pedang menghujam sekujur tubuhnya. Tak jauh dari tempat di mana jasad itu berada, Hisoka menemukan surat dari Leorio untuk Killua...surat penolakan atas lamarannya.

Dengan getir Hisoka menatap pemandangan itu.

'Putri Kurapika...kaukah yang melakukan ini? Inikah pembalasan dendammu? Apakah Yang Mulia Raja, Ratu...dan aku sendiri, akan terkena akibatnya?' tanya Hisoka dalam hati.

Hisoka dan para prajuritnya membawa jasad Phinks ke istana. Pakunoda langsung histeris, dia menangis keras tak terkendali di kamarnya.

'Phinks! Kenapa begini?! Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku sendirian di dunia ini!' jeritnya di dalam hati. Dia melemparkan barang-barang yang dapat diraihnya dengan penuh kesedihan dan kemarahan.


Killua dan Kurapika tiba di Zaoldyeck dua minggu kemudian. Suasana penyambutan yang begitu meriah, membuat Kurapika takjub dan sedih karena teringat saat pertama kali datang ke Kerajaan Bintang Jatuh dulu. Lalu...ketika Eleazar menyatakan persetujuannya untuk menerima Kurapika sebagai menantunya...

"Putri Kurapika, selamat datang…aku yakin kau akan membawa kebahagiaan di kerajaan ini."

Kurapika sedikit larut dalam memori masa lalu, namun Killua segera menggenggam tangannya erat, menampakkan senyumnya yang meyakinkan Kurapika bahwa segalanya akan baik-baik saja.

"Ayo...kita masuk," ucapnya sambil menuntun Kurapika masuk ke dalam istana.


Persiapan pernikahan dilaksanakan segera, karena Killua sudah tak sabar untuk segera memiliki gadis impiannya yang telah membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali bertemu. Di lain pihak, Kurapika merasa gugup ketika hari pernikahannya sudah semakin dekat. Kenangan bahagianya bersama Kuroro dulu, yang berujung dengan tragis, berulangkali melintas di benaknya.

Tapi Kurapika tak bisa mundur lagi. Ini adalah pilihannya. Demi pembalasan dendam atas penderitaan yang dialaminya karena kehilangan suami dan anaknya, dia harus melakukannya.

Sejak pagi hari, para pelayan sudah selesai mendandani Kurapika. Mereka terpesona melihat kecantikan Putri Rukuso itu. Kurapika menggenggam buket bunga yang dipegangnya, melirik cermin yang berada di dekatnya.

'Aku tak boleh menangis,' batinnya sambil menggigit bibir bawahnya karena menahan tangis. 'Ayolah Kurapika, ini kesempatan untukmu!'

Pintu kamar itu terbuka, memperlihatkan Perdana Menteri Kerajaan Zaoldyeck yang akan mengantarnya ke tempat dilaksanakannya upacara pernikahan.

'Ini...saatnya!'


Killua dan Kurapika saling meletakkan tangan di atas buku suci, dan mengucapkan janji bersama-sama,

"Kami berjanji akan selalu bersama, saling mencintai dengan penuh rasa hormat, saling menjaga kehormatan rumah tangga ini sampai akhir dan menjunjung tinggi kemuliaan Negeri Zaodyeck."

Upacara ditutup dengan pemasangan cincin pernikahan. Jantung Kurapika berdegup kencang, hatinya merasa sakit...ketika Killua memasangkan cincin pernikahan yang berukirkan nama mereka di dalamnya, ke jari manis di tangan kanan Kurapika.

Killua menyadari hal ini, dia menggenggam tangan Kurapika yang dingin dan gemetar dengan lebih erat seolah berusaha menenangkan istrinya itu.

"Mempelai pria diperkenankan untuk mencium mempelai wanita," ucap salah seorang pejabat istana yang memimpin upacara pernikahan.

Kurapika terkejut. Ini akan menjadi yang pertama kali baginya dan Killua! Perlahan Killua menarik tubuh Kurapika, dan mencium bibirnya dengan lembut.

'Akhirnya...aku dapat memilikimu,' ucap Killua dalam hati.

Mulai hari ini, Kurapika resmi menjadi istri Killua sekaligus menjadi Ratu Zaoldyeck. Kedudukannya ini membuat iri banyak wanita bangsawan yang berharap dapat menjadi pendamping sang raja muda dan turut memiliki kekuasaan dalam pemerintahan.

"Yang Mulia, rakyat sudah menunggu," ucap Zeno, salah seorang jendral di Kerajaan Zaoldyeck sekaligus orang yang mendidik Killua sejak kecil.

Kurapika melangkah di samping suaminya menuju ke pintu keluar. Sayup-sayup terdengar suara rakyat Zaoldyeck meneriakkan namanya dan nama Kurapika.

Setelah Killua dan Kurapika menampakkan diri, semua kegembiraan pun terlihat. Pemuda itu memeluk Kurapika dari belakang sebelum menciumnya lagi, seperti yang dulu pernah dilakukan Kuroro di hari pernikahannya dan Kurapika...

"Ini rakyatku…Kurapika, rakyat kita. Ingatlah terus hari ini, saat kau menerima cinta dari mereka."


Pesta resepsi baru selesai ketika hari sudah tengah malam. Beberapa orang pelayan baru saja selesai membantu Kurapika membersihkan diri. Mereka memakaikan gaun tidur tipis berwarna putih yang terlihat begitu sempurna membungkus tubuh ramping Sang Ratu, dan menyisir rambut pirang panjang miliknya.

"Kami mohon diri, Yang Mulia," ucap para pelayan itu.

Kurapika mengangguk. "Terima kasih," katanya singkat.

Kemudian Kurapika duduk di tepi tempat tidur. Dan tak lama setelah itu, pintu kamar terbuka. Killua datang menghampirinya, ia tertegun seketika melihat pesona Kurapika...membuatnya seolah kembali ke masa lalu saat mereka pertama kali bertemu di taman Istana Rukuso.

'Tenanglah, Kurapika,' Kurapika menenangkan dirinya. 'Dia suamimu sekarang...'

Killua mengulurkan tangan, membelai wajah Kurapika.

"Pangeran Kuroro adalah orang yang hebat," Killua berkata dengan lembut, membuat Kurapika tak menyangkanya. "Sekeras apapun aku berusaha, aku tahu...aku tak akan pernah bisa menggantikannya. Aku tak akan pernah melarangmu untuk mengingatnya. Dan hari ini aku bahagia...karena kau mau menerimaku ke dalam hidupmu."

Air mata yang ditahan Kurapika sejak mengunjungi sungai di mana Kuroro tewas pun tumpah seketika. Kata-kata Killua begitu menyentuh sanubarinya. Killua hanya tersenyum...ia mengecup kening Kurapika yang masih terus menangis tanpa suara, memeluknya dan membelai rambut gadis itu. Perlahan belaian Sang Raja beralih ke leher Kurapika, mulai menyibak bagian atas gaun tidur yang dikenakannya.

Semua terjadi begitu cepat dan seolah bagaikan di dalam mimpi. Killua sama sekali tak memerintahkan Kurapika untuk berhenti menangis. Dia menyentuh tubuh istrinya dengan lembut.

Killua menciumnya, melumat bibirnya dengan lebih bernafsu. Namun yang dirasakan Kurapika adalah bibir Kuroro. Beberapa kali wajah Kuroro yang dilihat Kurapika, menimbulkan rasa bersalah di dadanya. Killua tak membiarkan Kurapika berlama-lama dalam kenangan ini dan mempercepat tindakannya.

Kurapika meringis ketika Killua memasuki tubuhnya. Bagaimanapun juga, sudah cukup lama sejak terakhir kali Kurapika mengalami hal ini. Killua tak bisa menahan dirinya lagi. Dia melepaskan segala nafsu dan gairahnya atas diri Kurapika. Berulangkali Kurapika berusaha untuk fokus, menyadarkan diri bahwa saat ini bukan Kuroro yang tengah bercinta dengannya. Semua sensasi yang dirasakannya...membuat Kurapika merasa jijik atas dirinya sendiri.

'Kuroro...datanglah! Bawa aku...' pekik Kurapika dalam hati.

Namun tentu saja hal itu tak terjadi.


Killua sedikit terusik ketika merasakan perbedaan suasana di sekitarnya. Suasana pagi hari...

Killua membuka matanya perlahan, menoleh ke samping dan mendapati Kurapika tak berada di sana. Awalnya dia terkejut dan khawatir, hingga kemudian menyadari bahwa Kurapika pasti membutuhkan waktu untuk sendiri.

Killua duduk dan tersenyum mengingat semua yang terjadi semalam.


"Istana yang indah," komentar Kurapika ketika dirinya dan Killua mengunjungi istana yang baru saja selesai dibangun.

"Aku mendirikan istana ini untukmu," ucap Killua sambil menatap mata biru istrinya. "Kau bebas mengaturnya. Ketika musim panas tiba, kita berlibur sejenak di sini...pasti akan sangat menyenangkan."

Kurapika tersenyum lemah. Ya, dia tahu Killua sangat mencintainya dan berusaha membuatnya bahagia. Tapi apa yang dilakukan Kurapika? Dia menerima lamaran Killua sebagai sarana untuk pembalasan dendamnya.

Dua bulan kemudian, Killua mendapatkan kebahagiaannya yang pertama. Kurapika mengandung anaknya, calon pewaris Kerajaan Zaoldyeck. Killua semakin perhatian pada gadis itu...seluruh pihak menantikan kelahiran sang pewaris dengan bahagia.

Kurapika memegangi perutnya, seolah mencoba merasakan kehidupan yang mulai tumbuh di sana.

'Anggaplah ini hadiah untukmu...Yang Mulia,' batin Kurapika sambil melirik Killua yang tertidur lebih cepat karena aktivitasnya sebagai seorang raja, yang terasa begitu melelahkan. 'Maafkan aku...'


Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kelahiran sang pewaris. Dewi Fortuna tengah berpihak pada Killua dan Kurapika, seorang anak laki-laki yang sehat pun lahir. Rambut pirang seperti ibunya, mata berwarna ungu yang mengagumkan laksana batu nilam seperti milik ayahnya. Dia menangis begitu kencang, seolah menyuarakan kebahagiaan di sana.

Killian Zaoldyeck.

Sudah pasti Killua sangat bahagia atas kelahiran Killian, dan Kurapika...ini pertama kalinya dia memeluk bayi miliknya. Walau dirinya tak mencintai Killua, walau bayi itu lahir bukan berdasarkan atas cinta...namun Kurapika begitu bersyukur dan menyayangi Killian.

'Bayiku...milikku...,' ucap Kurapika sambil tersenyum dan menciumi wajah putranya. 'Killian...'


Empat tahun kemudian...

Leorio membaca ulang surat yang ada di tangannya...surat yang baru saja dikirim melalui seorang utusan dari Negeri Zaoldyeck. Killian akan dikukuhkan menjadi putra mahkota, dan dengan senang hati Killua dan Kurapika mengundang keluarganya untuk turut hadir di acara tersebut.

"Jangan datang ke sana, Yang Mulia," ucap Hisoka tiba-tiba.

Leorio mengernyit, menatap pria berambut merah itu dengan heran. "Apa maksudmu? Mereka mengundang kita ke sana."

"Aku merasa...sesuatu yang buruk akan terjadi. Mohon jangan lupakan bagaimana Phinks tewas. Itu adalah awal dari balas dendam yang akan dilakukan Putri—maksudku, Ratu Kurapika."

"Apa yang bisa dia lakukan untuk menghadapi kita semua? Mungkin dia bisa mengalahkan Phinks, tapi belum tentu dia bisa mengalahkan kita. Tak usahlah khawatir secara berlebihan..."

"Tapi Yang Mulia, bagaimana kalau sebenarnya Ratu Kurapika menerima lamaran Raja Killua waktu itu semata-mata untuk membalas dendam?"

"Hisoka, aku yakin...Kerajaan Zaoldyeck tak mau terlibat dengan hal ini."

Leorio terus berargumentasi, yang tentu saja akan disesalinya kemudian. Dan amarah Pakunoda atas kematian Phinks pun turut memperparah hal itu.

"Kita harus pergi ke sana," ucap Pakunoda geram ketika Leorio meminta pendapatnya. "Aku ingin melihat orang yang telah berani membunuh Phinks..."

Hisoka menatap Pakunoda, dia tahu betul betapa marah dan sedihnya Pakunoda karena Kurapika telah membunuh satu-satunya orang kepercayaannya yang begitu berarti bagi wanita itu.

"Dan kau pun harus ikut, Hisoka," tambah Pakunoda.


Gon memandangi Leorio, Pakunoda dan Hisoka yang akan segera pergi ke Zaoldyeck bersama serombongan pasukan. Kata-kata Kurapika saat itu terngiang di benaknya...

"Lalu satu hal lagi...walau apapun yang terjadi, ketika Kak Leorio dan istrinya pergi dari sini, kau tak boleh meninggalkan Rukuso. Berjanjilah."

'Kakak, inikah saat yang kaumaksudkan? Tapi...kenapa justru Kak Kurapika yang menyebabkan kepergian mereka?' Gon bertanya-tanya dalam hati.

Tiba-tiba Gon merasakan tatapan seseorang tertuju kepadanya. Dia pun mengangkat wajahnya, dan bertemu pandang dengan Hisoka. Beberapa jam sebelum ini, ketika Gon baru saja bangun, Hisoka sudah datang menemuinya. Apa yang dikatakan pria itu membuatnya heran.

"Pangeran Gon, kurasa kau sudah tahu bahwa kau tak akan ikut serta mengunjungi kakakmu ke Negeri Zaoldyeck," ucap Hisoka.

Gon mengangguk tanpa menoleh padanya. "Aku akan tetap di sini...," dia berkata.

"Hmm...keputusan yang bagus..."

Tanggapan Hisoka sungguh di luar dugaan Gon. Dia pun akhirnya menoleh, melihat sebuah senyuman yang tak biasa di wajah pria itu. Itu sebuah senyum sedih.

"Kalau begitu, sebelum kepergianku...bolehkah aku pun meminta sesuatu padamu, Pangeran?" tanya Hisoka.

Dahi Gon mengernyit. "Apa itu, Hisoka?"

"Jika sampai terjadi sesuatu di Kerajaan Zaoldyeck...Ssetelah kau dewasa nanti, carilah seseorang bernama Zuriel di Kerajaan Bintang Jatuh."

"Zuriel? Siapa dia, Hisoka?"

"Kau akan tahu...setelah bertemu dengannya nanti. Mohon sampaikan maafku padanya."

Hisoka mengulurkan selembar surat pada Gon. Surat itu adalah surat yang dikirim Menchi, yang berisi tentang keberadaan Zuriel, anak kandung Kuroro dan Kurapika.

"Bukalah surat ini...ketika kau bertemu dengannya. Bersediakah kau berjanji padaku seperti layaknya seorang ksatria, Pangeran?"


Suasana yang tak biasa menyelimuti kepergian rombongan Rukuso. Leorio, Pakunoda dan Hisoka jarang saling bicara. Ketiganya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

"Yang Mulia, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Hisoka pada Pakunoda ketika mereka semua tengah beristirahat sejenak di tepi sungai yang berdekatan dengan Negeri Zaoldyeck..

"Tanyakan saja," jawab Pakunoda datar. "Sejak kapan kau perlu meminta ijinku dulu?"

"Pangeran Zuriel...putra kandung Pangeran Kuroro dan Putri Kurapika..."

Pakunoda tersentak, tapi kemudian dia tersenyum tipis. "Ya, itu perbuatanku. Saatnya begitu tepat bukan? Ketika kekhawatiran atas hubungan antara Rukuso dan Bintang Jatuh...saat yang tepat untuk sebuah pembalasan yang manis."

Hisoka tak berkata apapun lagi. Dia telah mendapatkan pengakuan, yang diucapkan Pakunoda tanpa penyesalan sedikitpun.

'Mungkin aku, Yang Mulia Raja dan Ratu memang pantas menerima pembalasan dendammu, Putri Kurapika,' ucapnya dalam hati.

Tiba-tiba sesuatu yang bergerak tertangkap ujung matanya. Hisoka meninggalkan Pakunoda dan mencoba menangkap sosok itu. setelah mencari selama beberapa saat, Hisoka terkejut.

Senritsu.

Senritsu tengah berdiri di tepi sungai, menunduk dengan sedih.

"Kembalilah selagi masih bisa," ucap penyihir itu. "Dewa Phoibos memberiku sedikit gambaran tentang masa depan...dan tak ada satupun, dari kalian bertiga Hai Para Pendosa, yang terlihat di sana. Kalian akan mati. Beserta seluruh pasukan itu...semuanya."

"Jangan bercanda...Dewa memberitahukan itu padamu? Sungguh aku ingin tertawa terbahak-bahak sekarang."

"Silakan tertawa...sementara kau mengakui kebenaran kata-kataku di hatimu."

Emosi Hisoka langsung terpancing. Untuk pertama kalinya, Hisoka bertindak tanpa perhitungan. Dia langsung mengeluarkan pedangnya, menebas tubuh penyihir itu. Sebenarnya, Hisoka mengira Senritsu akan menggunakan kemampuan sihirnya untuk menghindari serangannya itu. Tapi ternyata itu tak terjadi...seolah Senritsu sengaja melakukannya.

Tubuh Senritsu yang sudah tak bernyawa jatuh ke dalam air, terbawa arus yang deras. Dengan raut wajah yang tak terbaca, Hisoka menatap air yang berwarna kemerahan karena darah Senritsu. Membuatnya teringat...pada hari itu, ketika dirinya membunuh Kuroro.

Hisoka menyeringai, terkekeh pelan secara mengerikan.

'Berakhirlah...semuanya...'


"Selamat datang di Kerajaan Zaoldyeck," sambut Killua. Di sampingnya, Kurapika pun turut menyambut dengan senyuman ramah hingga rasanya Leorio, Pakunoda dan Hisoka tak percaya.

Pakunoda terlihat marah, mengingat kematian Phinks yang sudah dibunuh Kurapika dengan keji. Tapi dia tak bisa melakukan apa-apa karena ada Killua di sana.

Sesosok anak kecil berambut pirang muncul dari balik tubuh Kurapika.

"Killian, ayo ucapkan salam...," kata Kurapika lembut pada putra semata wayangnya.

Killian melangkah maju dan membungkuk hormat. "Selamat datang Yang Mulia Raja dan Ratu dari Rukuso, Jendral Hisoka...aku Killian, sungguh merasa tersanjung atas kehadiran kalian," ucapnya. Lalu dia menegakkan tubuhnya, menatap Leorio dengan mata yang berbinar-binar.

'Pamanku seorang raja...ah, betapa hebatnya...,' ia berkata dalam hati.

Pakunoda menatap Kurapika geram. 'Apa maksudmu? Kau mau memamerkan apa yang kau peroleh kini, hah?! Dan kedudukanmu sebagai seorang ratu dari kerajaan yang kuat...'

"Ada apa, Ratu Pakunoda? Kau tampak kurang sehat...," ucap Kurapika sambil tersenyum—yang lebih terlihat seperti sebuah seringai bagi Pakunoda. "Apa kau ingin beristirahat di istana yang dibangun khusus oleh Raja Killua untukku?"

"Tidak usah...Aku baik-baik saja, terima kasih," Pakunoda menjawab dengan sorot mata penuh amarah.

Killua mengernyit merasakan aura permusuhan di antara mereka, juga sikap Kurapika yang berbeda. Tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


Upacara penobatan Killian sebagai putra mahkota dihadiri oleh seluruh keluarga bangsawan di negeri itu dan juga perwakilan dari kalangan rakyat. Ya, Zaoldyeck adalah negara yang cukup demokratis. Walau suara rakyat masih dibatasi, secara perlahan tapi pasti mereka tetap diberikan kesempatan.

Killua mengeluarkan pedangnya, dengan hati-hati menyentuhkan ujung pedang itu ke bahu kiri dan kanan Killian.

"Aku, Raja Zaoldyeck, dengan penuh tanggung jawab menobatkan Killian sebagai Putra Mahkota Kerajaan Zaoldyeck, di hadapan kesaksian negeri ini dan para Dewa Yang Agung."

Killua memasangkan sebuah mahkota ke kepala Killian.

"Aku bersumpah akan melaksanakan tugas dan kewajibanku sebagai seorang putra mahkota dengan baik, dan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menjadi pewaris kerajaan ini," jawab Killian dengan suara yang meyakinkan...walau dirinya masih berusia empat tahun. Dia merasa senang berhasil mengatakannya. Killian sudah berusaha keras melatih pelafalan kalimat itu.

Semua tamu berdiri, memberikan penghormatan pada Sang Putra Mahkota. Kurapika terlihat puas...wanita itu melirik Pakunoda yang tampak benar-benar kesal.


Pesta diadakan segera setelah upacara penobatan. Killian mendapatkan banyak sekali hadiah. Di tengah-tengah pesta, Kurapika menghampirinya.

"Killian, ikutlah dengan Letnan Illumi ke Istana Zenobia sekarang," ucap wanita itu. Istana Zenobia merupakan istana yang dibangun khusus oleh Killua untuk Kurapika.

Killian memanyunkan bibirnya yang mungil. "Tapi ini pestaku, Ibu...," ia mengeluh. "Kenapa aku harus cepat-cepat pergi? Lagipula hari baru saja akan senja..."

"Apakah penobatanmu sebagai Putra Mahkota hari ini membuat putraku Killian menjadi angkuh dan mulai membantah perintah ibunya?"

"T-Tidak...Maaf..."

Killian menunduk, merasa menyesal atas tindakannya. Kurapika pun tersenyum.

"Nanti kita berlibur di sana...dan apapun yang terjadi nanti, Killian...seperti apapun alasan dan kondisinya...," Kurapika berhenti sejenak, seketika sorot matanya berubah menjadi sedih. "Percayalah...aku mencintaimu, Anakku..."

Kurapika memeluk Killian yang terheran-heran, dan mengecup keningnya. Setelah itu, Illumi pun mengajaknya pergi dari sana. Killian sedikit merasa aneh karena Kurapika tidak memerintahkannya untuk pamit terlebih dahulu pada Killua seperti biasa, ibunya itu mengatakan bahwa dia yang akan memberitahu ayahnya.

Killian menaiki kuda bersama Illumi, dia ingin menoleh namun terhalang oleh sosok pria berambut panjang dan berwajah dingin itu.

"Jangan menoleh, Pangeran," ucap Illumi datar sambil tetap menatap lurus ke depan.

Killian pun diam. Perasaannya campur-aduk sekarang.

'Ibu...entah kenapa...aku merasa tak akan bisa melihat Ibu lagi...,' batinnya.

Sementara itu Illumi teringat akan beberapa pertemuan rahasia yang diadakan Kurapika. Ratu Zaoldyeck itu berhasil mendapatkan kepercayaan dari prajurit dan beberapa petinggi militer, walaupun Zeno tidak termasuk di antaranya. Dia mengetahui rencana Kurapika namun tidak menyetujui hal itu. Untunglah Zeno masih memilih untuk diam daripada memberitahu Killua.

'Letnan Illumi, untukmu...kuberikan tugas khusus. Bawa Killian ke Istana Zenobia, dan lindungi dia...dengan sepenuh jiwamu. Ini permintaanku sebagai seorang Ibu...'

Mata biru Kurapika terlihat sedih, berkaca-kaca karena air mata yang mulai menggenang di sana. Illumi tahu betul wanita itu sangat menyayangi putranya.

'Bagaimana mungkin aku bisa menolak kilauan indah mata yang bagaikan samudera itu,' ucap Illumi dalam hati. 'Jika memungkinkan...Yang Mulia Ratu, berusahalah untuk tetap hidup...dan kembali untuk Pangeran...'


"Ratu, di mana Killian?" tanya Killua tiba-tiba saat menyadari ketidakhadiran putranya.

"Maaf, Yang Mulia, Killian merasa kurang sehat...aku memerintahkannya untuk segera beristirahat," jawab Kurapika segera.

"Oh...baiklah. Kau tahu? Aku bangga sekali padanya...Dan kau, istriku yang tercinta yang memberikan kebahagiaan itu padaku."

Killua menunduk dan mengecup pipi istrinya, namun Kurapika hanya tersenyum tipis.

'Aku benar-benar minta maaf, Yang Mulia,' batinnya. 'Kau sangat baik padaku...Aku dapat merasakan cintamu yang sangat besar untukku dan anak kita. Tapi aku...harus melakukan ini...Aku sudah memberikan jiwaku pada Iblis...demi pembalasan dendamku...'

Di sudut ruangan, Pariston Hill, salah seorang bangsawan tinggi di Kerajaan Zaoldyeck, tersenyum melihat adegan itu. Dia menoleh pada Hisoka yang kebetulan tengah berada di sampingnya.

"Jendral, apa kau membawa serta pedangmu?" tanya Pariston.

"Tentu saja," Hisoka menjawab. "Apa maksud—"

"Tidak, aku hanya menyarankan...Kau, Yang Mulia Raja dan Ratu Rukuso...beserta para prajuritmu, jangan pernah terpisah dari senjata kalian."

Hisoka tersentak. Pariston kembali tersenyum melihat reaksinya ini, lalu melangkah keluar aula istana tempat pesta diadakan. Dia menatap langit yang sudah gelap sekarang.

"Ah...langit dengan bintang-bintang yang indah. Untunglah aku masih bisa melihatnya di sini, sebelum hal yang buruk terjadi..."

Pariston melanjutkan langkahnya, meninggalkan istana dengan beberapa orang pengawalnya. Dia tak sabar menantikan kabar besar yang akan didengarnya besok pagi.


Di pesta perayaan itu, tanpa diduga datang utusan dari negara tetangga. Killua pun mohon diri sejenak, pergi ke ruang pribadinya...meninggalkan Kurapika bersama para tamu, termasuk tamu yang datang dari Rukuso.

Kurapika berdiri, mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi.

"Kuucapkan terima kasih pada semua yang hadir di sini," ucapnya. "Kuharap semuanya turut berbahagia untuk putraku Killian...walau mungkin ada beberapa pihak yang merasa sebaliknya. Ratu Pakunoda, kakak iparku tersayang...aku sangat berharap bisa menghadiri upacara penobatan keponakanku namun sepertinya hal itu mustahil terjadi karena sampai sekarang kau belum bisa memberikan keturunan."

Suasana mulai ricuh. Wajah Leorio, Pakunoda dan Hisoka langsung berubah seketika. Termasuk rombongan yang datang bersama mereka. Pakunoda berdiri dari kursinya dengan geram, dan Leorio segera berusaha menahannya.

"Mungkin itulah hukuman dari Dewa untukmu, karena telah merencanakan pembunuhan atas suami pertamaku...Pangeran Kuroro dari Kerajaan Bintang Jatuh. Kakakku Leorio, kau begitu bertekuk lutut di hadapannya demi harga diri yang kau junjung tinggi dan melupakan semua jasa Kuroro yang ia lakukan dengan mempertaruhkan nyawa! Jendral Hisoka, kau mengkhianati kepercayaanku...menodai cintaku untuk suamiku Kuroro dan menghabisi nyawanya dengan cara yang memalukan!"

Emosi Kurapika sudah tidak bisa terbendung lagi. Dia melemparkan gelasnya ke arah di mana Pakunoda duduk hingga hancur berkeping-keping dan isinya tumpah mengenai gaun wanita itu. Semua terhenyak melihatnya. Leorio pun marah. Hisoka langsung berdiri untuk melindungi pasangan suami istri itu.

"Kalian marah, hah?! Lalu apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisiku? Kehilangan suami dan anak sekaligus...APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN!" seru Kurapika marah sambil menuruni anak tangga di depan singgasana dengan cepat.

Pakunoda terkikik, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.

"Kau benar-benar percaya...anakmu mati? Sungguh kasihan!" ucap wanita Acantha itu. "Aku memerintahkan Tabib Istana untuk segera memisahkan anak itu darimu begitu dia lahir...Dan tahukah kau, ketika Permaisuri Aurora kembali ke Kerajaan Bintang Jatuh, dia pergi sambil membawa cucunya...Pangeran Zuriel, anak kandungmu dan Pangeran Kuroro."

Kurapika terkejut, begitu pula halnya dengan Leorio.

"P-Pakunoda...?" Pria itu tak menyangka.

Pakunoda menyeringai menatap suaminya. "Oh Suamiku Sayang, sekalian saja kukatakan...bahwa Pangeran Shalnark mati dibunuh Phinks, atas perintahku. Dia terlalu penuh perhitungan...terlalu bisa menebak gerak-gerik kita."

Semua terdiam. Namun hal itu tak berlangsung lama. Dengan mata yang basah oleh air mata, Kurapika membuka mulutnya dan berseru, "BUNUH MEREKA!"

Itu adalah aba-aba yang ditunggu-tunggu oleh para prajurit dan petinggi militer Kerajaan Zaoldyeck. Kurapika menghunus pedangnya. Dalam sekejap saja, pertarungan antara Zaoldyeck dan Rukuso terjadi di aula itu. Kurapika tak memperhitungkan lagi bahwa yang dia lawan adalah negerinya sendiri. Matanya berkilat merah laksana kobaran api, menyiratkan dendam dan kepedihan yang begitu mendalam.

'Anakku...Zuriel...Namanya Zuriel...,' ucapnya dalam hati sambil menebaskan pedangnya kepada para prajurit Rukuso. 'Oh...Kuroro! Mereka begitu kejam!'

Jika saja Kurapika mengetahui putra pertamanya lahir dengan selamat, mungkin hal ini tak akan terjadi. Dia akan mau bertahan dan melanjutkan hidupnya bersama Zuriel...membesarkan pewaris Kerajaan Bintang Jatuh. Kenyataan ini semakin menambah luka hati wanita itu.

Hisoka dibuat sibuk dengan pihak Zaoldyeck, Leorio dan Pakunoda kewalahan. Dengan sekali tebasan, Kurapika memenggal kepala Leorio hingga terpisah dari tubuhnya. Kepala yang bersimbah darah dalam keadaan mulut yang menganga ngeri milik Sang Penguasa Rukuso berguling dan berhenti di hadapan Pakunoda, membuat wanita itu menjerit seketika.

"Ini pembalasan...untuk kematian Kuroro dan penderitaan yang kalian sebabkan!" seru Kurapika.

Seorang prajurit memberikan lembing padanya, Kurapika mulai mengarahkan lembing itu ke arah Pakunoda yang terdesak. Pakunoda berusaha melarikan diri. Kurapika menyeringai. Ini...adalah kondisi yang ia inginkan. Wanita itu mengikuti Pakunoda, sejenak membungkuk untuk meraih kepala Leorio dan menentengnya, lalu menghujamkan lembing ke bagian punggung bawah Pakunoda.

Mata Pakunoda membelalak ngeri. Darah langsung muncrat keluar dari mulutnya. Dia menoleh ke belakang dengan perlahan...menatap Kurapika. Wanita itu terlihat bagai seorang iblis di matanya. Tangan terangkat memegang lembing penuh darah, dan tangan satunya lagi menenteng kepala Leorio.

Kurapika menghujamkan lembingnya lagi, bertubi-tubi...walau setelah tusukan kedua Pakunoda sudah mati. Kurapika menghempaskan lembing itu begitu saja ke lantai setelah merasa puas.

"HISOKA!" panggil Kurapika. Ya, tinggal pria itu yang belum mendapatkan pembalasan darinya. Hisoka berada di tengah-tengah barikade yang dibentuk para prajurit Rukuso yang merasa seolah mereka tengah melihat mimpi buruk saat ini. "Kau pasti tahu semuanya. Tentang anakku...tentang Kak Shalnark..."

"Hentikan semua ini, Yang Mulia!" Hisoka berusaha mencegah walau dalam hatinya, dia merasa hal itu akan sia-sia saja.

"Hentikan katamu?! Kalau begitu kembalikan kebahagiaanku! KEMBALIKAN KURORO! Kembalikan...waktuku bersama putra pertamaku, yang telah kalian renggut dari hidupku..."

Tentu saja Hisoka tak bisa melakukan semua itu. Dia terdiam...

"Kembalikan Harta Suci Tarleton yang telah kau buang ke laut seperti sampah. HISOKA! SERAHKAN DIRIMU!"

Para prajurit Rukuso memperkuat barikade mereka. Kurapika merasa geram, dia kembali menghampiri jasad Pakunoda yang bersimbah darah dan memenggal kepalanya, lalu menenteng kepala itu bersama dengan kepala Leorio di tangan yang satunya.

"Ayolah, Hisoka...," ucap Kurapika sambil menyeringai. "Serahkan dirimu di hadapan Raja dan Ratu yang begitu kaulindungi..."

Tindakan Kurapika tak berhasil. Dia melemparkan kedua kepala itu ke arah Hisoka, dan memerintahkan para prajurit Zaoldyeck untuk membakar aula. Perintah ini membuat pihak Rukuso terkejut. Mereka berusaha melarikan diri ketika pihak Zaoldyeck menutup pintu dan hendak mengunci mereka untuk membakar mereka hidup-hidup. Menyadari situasi yang genting, Hisoka pun maju menghampiri Kurapika dan seluruh anak buahnya yang sudah berada di luar aula. Keadaan yang kacau, dan begitu memicu batinnya, lebih dari suasana perang manapun yang pernah dia alami sebelumnya, membuat jendral itu lengah.

Saat itulah Killua datang beserta Zeno dan para pengawalnya, dia datang tergesa-gesa setelah mendengar petaka yang terjadi di aula istana.

"Ratu! Kurapika! Jangan lakukan itu!" ia berseru.

Tapi sudah terlambat. Kurapika menusukkan pedangnya ke perut Hisoka, membuat pria itu jatuh bertekuk lutut di hadapannya. "Aku tak akan membuat semua ini begitu mudah untukmu...wahai kau yang telah mengabaikan hati nuranimu dan memutuskan untuk meneruskan perbuatan dosamu," Kurapika berkata. Dia melepaskan pedangnya dari perut Hisoka dan menusukkannya perlahan ke leher Hisoka lalu memenggal kepalanya.

Napas Kurapika tersengal-sengal, dia begitu dikuasai nafsu saat ini. Gaunnya yang indah bersimbah darah, bahkan darah pun turut menodai pipinya yang putih dan rambut pirangnya yang berkilau.

Killua segera berlari menuju Kurapika, tanpa mengetahui bahwa Zeno sudah bergerak lebih dulu. Tiba-tiba saja jendral tua itu muncul di hadapan Kurapika dan menebaskan pedangnya beberapa kali.

Kurapika terhenyak...hingga kemudian dia menyeringai kembali.

"Jendral Zeno...apa yang kaulakukan?" Desisnya.

Zeno tetap memegang pedangnya. "Aku tak akan membiarkanmu menodai Kerajaan Zaoldyeck," ia berkata.

"Aku sama sekali tak merasakan apapun...Apakah kau juga ingin bermain-main denganku?"

"Jangan terlalu cepat menyimpulkan, Yang Mulia Ratu. Lihatlah...benda yang sempat diberikan Jendral Hisoka padaku."

Zeno mengulurkan sebelah tangannya dan membuka kepalannya, memperlihatkan sesuatu yang berkilau.

Itu...cincin pernikahannya dan Kuroro.

"Kau menginginkannya, Yang Mulia? Ambillah."

Zeno menjatuhkan cincin itu hingga jatuh tepat di tepi gaun yang dikenakan Kurapika. Wanita itu pun membungkuk. Tiba-tiba...terjadi sesuatu. Tubuh Kurapika langsung jatuh terbelah dalam beberapa bagian.

Dengan sedih Killua menatap jasad Kurapika. Melihat hal ini, Zeno merasa bersalah. Dia telah membunuh wanita yang begitu dicintai Penguasa Negeri Zaoldyeck yang sudah ia anggap anak sendiri.

Api berkobar di dalam aula, asapnya membumbung tinggi menutup langit yang berbintang. Bau darah menyeruak di tempat itu, meninggalkan sosok Kurapika yang sudah tak menyatu lagi, Sang Putri Rukuso yang berubah menjadi iblis untuk membalaskan dendamnya. Cincin pernikahan yang suci pun tenggelam dalam genangan darah miliknya.


Kerajaan Bintang Jatuh, sepuluh tahun kemudian...

Gon menghela napas, dia duduk di beranda sambil menatap ke arah taman...ke arah dua orang pemuda yang ada di sana, Zuriel dan Killian. Ingatan Gon kembali ke saat di mana dirinya menerima kabar menggemparkan dari Kerajaan Zaoldyeck. Dia tak menyangka kakak perempuannya yang bagaikan malaikat, bisa melakukan tindakan sekeji itu. Leorio, Pakunoda dan Hisoka kembali dalam keadaan mengenaskan. Kurapika dimakamkan di Kerajaan Zaoldyeck. Dan orang yang membunuhnya, Zeno, langsung bunuh diri setelah membunuh Kurapika waktu itu, sebagai bentuk permohonan maafnya pada Killua.

Sesuai amanat Hisoka, setelah dewasa dia mencari Zuriel. Begitu melihatnya, Gon langsung tahu bahwa Zuriel adalah anak dari Kuroro dan Kurapika. Zuriel cukup terguncang saat itu ketika Aurora dan Eleazar pun turut mengungkapkan segalanya.

Gon mengabarkan hal ini pada Killua. Sang Raja membalasnya dengan mengirimkan Killian bersama sebuah satuan pengawal terpercaya dan menuliskan surat padanya, "Tolong perkenalkan putraku pada kakak tirinya, aku yakin hal ini akan menjadi sebuah penghiburan bagi Kurapika dan Pangeran Kuroro."

Gon pun melakukannya. Awalnya sangat menyulitkan. Zuriel merasa marah dan iri, karena Killian sempat mengenal dan merasakan kasih sayang Kurapika, ibu yang tak pernah dia miliki. Sementara Killian, merasa sakit hati mengetahui bahwa ibunya sebenarnya hanya mencintai Kuroro. Namun akhirnya keduanya bisa saling menerima keadaan dan memahami semuanya. Mereka sepaham mengenai satu hal...Kurapika mencintai mereka berdua. Tak ada kebohongan mengenai hal itu.

Gon tersenyum melihat Zuriel dan Killian yang tampak akrab.

"Kak Zuriel, jadi Naga Ambrosine itu tak ada lagi? Seandainya aku bisa melihatnya...," Killian menyayangkan.

Zuriel tersenyum—tidak, tepatnya itu sebuah seringai nakal. Pemuda berambut hitam dan bermata biru itu melirik Gon yang ada di belakang mereka lalu berbisik ke telinga Killian, "Sebenarnya aku mendapat kabar kalau titisan Naga Ambrosine telah hadir...dan aku berencana untuk menaklukkannya seperti yang dilakukan ayahku dulu."

"Itu berbahaya!"

"Begitulah...dan aku harus melakukannya secara diam-diam, tanpa diketahui Kakek dan Nenek, juga paman kita. Menegangkan, bukan?"

Killian ikut menyeringai nakal, matanya berbinar-binar. "Baiklah, jangan lupa untuk mengajakku ya," jawabnya.


THE END


A/N :

Akhirnya fic ini selesai, yeayy...! xD

Aku sangat senang bisa menyelesaikannya. Plot utama yang diadaptasi dari epic poem dari Jerman, Nibelungenlied (there! Finally I said it, haha), cukup menguras otak untuk membuatnya...karena aku merubah beberapa bagian, menambahkan banyak plot agar beberapa kejadian di sini bisa lebih masuk akal untuk diterima.

Terima kasih atas semua dukungan para readers, yang review maupun yang menjadi silent readers...kuharap fic ini cukup berkesan.

Ini balasan review chapter lalu :

October Lynx :

Okay, I hope you're satisfied now...or the ending is too much? Too tragic? But this is what I decided when I wrote the first chapter of this fic, heheh

M404 :

Maybe Leorio didn't talk and act too much, but I think he was no difference from Pakunoda! He knew about everything but he let everything happen too!

Hisoka? That what I like about him...strange, powerful...actually I like his character here...

Yup, I made her accept Killua's proposal! #cheers for me

Do you like their son's name? Killian...I think it's cute and soo Killua xDa

About the sequel...they already died...I can't make a sequel full of OCs (Zuriel and Killian, I mean), but maybe I can do something about reincarnation...I don't know when, but I promise I'll think about it!

Thank you, I'm glad you love my story^^

minerva :

Gimana? Udah lebih sedih dari yang chapter kemarin? *wink*

Natsu Hiru Chan :

Ngg...jadi, lebih kejam Pakunoda atau aku? *nyengir*

Yah, sebenarnya selain romance/tragedy, fic ini ada genre fantasy-nya juga...tapi tetep Kuroro ga bisa hidup lagi. Setidaknya Kuroro selalu hidup di hati Kurapika dan hanya dia yang benar-benar dicintai olehnya sampai mati :')

Adegan pembantaiannya udah cukup parah bukan? Lebih dari yang dialami Kuroro. Aku ga mau bikin lebih berdarah lagi, gore is not my style...dan nanti rasanya akan menodai kesan romance di sini.

Maafkan aku karena sudah membuat Kurapika mati seperti itu! Don't kill meee...! Dx

Katzura Ryukomi :

Aku harap Ivon juga suka, haha xD


Okay then...sampai jumpa di karyaku selanjutnya. Untuk sementara aku mau fokus ke fic TRAPPED dulu. Jadi untuk yang menantikan kelanjutan fic multichapterku dan fic-fic translate (memang ada yang nunggu?), akan kulanjutkan setelah menyelesaikan fic tersebut. Deadline tanggal 15 Nopember nih! Dx

Review please...^^

*Ambil barang2 yang sudah dikemas plus tiket* *kabur dari amukan Natsu Hiru Chan*