Wajah tampannya tidak cacat estetik. Dahinya terbentur steer sampai bocor di satu sisi. Luka kecelakaan yang klasik. Tak apa kata dokter, bekasnya akan hilang nanti. Selang-selang terpasang di badannya, Dongwook tidak tahu itu untuk apa saja. Yang jelas, keadaan adiknya begitu menyedihkan. Tertidur dengan wajah yang sama sekali tidak damai selama tiga hari terakhir. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa kaki Seunghyun tidak akan bisa digerakkan lagi.
Mobil yang dikendarai Seunghyun sambil mabuk menabrak pohon besar dan ringsek. Entah bagaimana kejadiannya hingga dashboard mobil tersebut menekan lutut Seunghyun hingga syaraf kakinya terjepit dan putus. Dokter bilang ia tidak akan bisa jalan lagi. Lumpuh permanen. Selamanya akan duduk di kursi roda.
"Ireona Seunghyun-ah!" Dongwook memanggil lembut sambil menggenggam tangan adiknya. Tapi sang pemilik tangan tidak juga merespon. Dongwook jadi tidak tega.
"Apakah Hyung perlu membawa Jiyong ke sini untukmu?" ia lalu bermonolog.
Bagaimana Jika Akulah Orang yang Dipilih Tuhan Untuk Mencintaimu
Cast: Kwon Jiyong, Choi Seunghyun
Derap langkah mereka seirama. Suaranya bergema di lorong rumah sakit yang sepi. Tak ada yang bersuara. Bahkan ketika mereka masih berada di dalam mobil beberapa saat yang lalu. Hanya langkah Dongwook yang tergesa, juga langkah kaki Jiyong yang sama cepat – semata untuk mengimbangi Dongwook- yang menandakan interaksi mereka.
Bagi Jiyong, lorong rumah sakit itu terlihat begitu panjang. Sedari tadi mereka belum juga sampai di tempat yang dituju. Sampai kemudian, mendadak Dongwook berhenti di depan sebuah kamar. Jiyong ikut berhenti di belakangnya. "Masuklah," Dongwook mempersilahkan gadis itu sambil membukakan pintunya. Perlahan gadis itu melangkah masuk. Kepalanya melongok sedikit.
Di sana, berbaring orang yang dikenal Jiyong. Keadaannya mengenaskan. Luka di kepalanya terbebat perban. Banyak selang yang dipasang di lubang alaminya. Jiyong tahu alat-alat itu sedang membantu Seunghyun bertahan hidup. Ada selang yang masuk di lubang hidungya. Ada yang menembus nadinya di tangan, mengalirkan nutrisi dari botol infus ke tubuh Seunghyun.
Sole flat shoes-nya mengetuk permukaan lantai, menggema memenuhi ruangan. Ia mendekat ke Seunghyun dengan wajah kasihan. Mata elang Seunghyun menutup, wajahnya terlihat keras, tidak damai seperti wajarnya orang tidur, dadanya naik turun teratur. Suara ECG terdengar monoton, memuakan. Pria itu masih hidup, hanya saja sedang tertidur.
"Dia mabuk-mabukan sejak seminggu yang lalu," jelas Dongwook tanpa diminta. "Lalu tiga hari yang lalu ia mengendarai mobilnya sambil mabuk dan menabrak pohon,"
"Bagaimana keadaannya, Oppa?" tanya Jiyong tanpa menatap Dongwook. Matanya terkunci ke wajah Seunghyun. Menghujaninya dengan belas kasihan.
"Tubuh atasnya tidak apa-apa. Tapi kakinya…" Dongwook menghela nafasnya. "lumpuh. Lumpuh permanen,"
Jiyong diam tak bereaksi. Ia tetap menatap wajah Seunghyun dengan kasihan. Begitu banyak hal yang dipikirkannya saat ini. Mabuk-mabukan? Jiyong tidak tahu kalau orang ini suka melakukan itu. Tapi Seughyun mabuk-mabukan sejak seminggu yang lalu. Apa mungkin ada hubungannya dengan pertengkaran mereka?
"Dia sangat mencintaimu, Jiyongi..." Dongwook berkata pelan. Ketika Jiyong menoleh dan menatapnya, pria itu menampakkan wajah sedih. Bibirnya membentuk senyuman kasihan. Miris melihat adiknya terbaring seperti ini.
"Oppa..."
"Dia mencintaimu, namun terlambat menyadarinya..." Dongwook berkata lagi. "Duduklah!" pintanya sambil mendorong kursi ke arah Jiyong. "Aku ingin bercerita sesuatu,"
Mata gadis itu fokus ke arah Dongwook. Pria yang ia anggap sebagai oppa-nya sendiri kini nampak begitu sedih. Kesedihannya seolah menjadi sihir, menguar di udara, memaksa Jiyong untuk duduk di depannya dan mendengarkannya bercerita.
"Kau tahu hari itu, sehari setelah kau pergi untuk training di YG, adikku menunggumu di gerbang sebelum masuk sekolah," mulai Dongwook. Matanya menerawang jauh, berselancar ke masa lalu. "Ketika aku menyuruhnya untuk masuk, dia bilang dia masih menunggumu. Ia ingin minta maaf,"
"Minta maaf?"
"Ne. Minta maaf atas kotoran anjing itu," jawab Dongwook. Hening sebentar, lalu pria itu meneruskan. "Aku membujuknya sampai akhirnya dia mau masuk ke kelas. Ketika istirahat, ia mencarimu di kelas. Semua teman-temanmu memilih untuk mengacuhkan saat dia bertanya,"
"Dia bahkan datang kepadaku dan memohon untuk mengatakan dimana kau berada saat itu," Dongwook meraih tangan sang adik, lalu digenggamnya. "Cuaca hari itu mendramatisir suasana. Hujan turun saat pulang sekolah hingga malam dan adikku berdiri di depan gerbang menunggumu,"
Jiyong mendengarkan dengan baik segala kalimat yang dikeluarkan oleh Dongwook. Meresapinya, membayangkannya. Diam, ia tak tahu harus menjawab apa. Tangan Dongwook bergerak-gerak mengusap telapak Seunghyun dengan jemarinya. Kekehan kecil lalu terdengar dari pria itu. "Lucu sekali Jiyongi..." ia berdehem sebentar. "Ia menangis saat aku menyuruhnya pulang. Tersedu seperti ketika layangannya kurebut saat jaman kecil dulu,"
"Menangis?" Jiyong bertanya. Choi Seunghyun? Menangis? Seolma…
"Menangisimu," Dongwook tersenyum seperti memuji pacarnya. "Dia bilang padaku kalau dia menyesal, dia ingin meminta maaf, dan kembali memohon supaya aku memberi tahu di mana kau berada. Tapi tak bisa. Aku sudah berjanji padamu,"
"Dia melewatkan hari-hari sisanya di SMA dengan cemoohan. Semua orang menjauhinya. Tak ada yang mau berteman dengannya lagi," kini Dongwook menoleh pada Jiyong. "Aku tidak cerita begini karena ingin membujukmu untuk menerimanya Jiyongi,"
"Ne. Arraseoyo, Oppa!" jawab Jiyong sambil tersenyum kecil.
"Meski begitu, aku ingin kau memikirkannya kembali. Adikku sudah berjuang sejauh ini untuk menunjukkan cintanya padamu. Bagaimana denganmu?"
Jiyong merasa seperti pembunuh yang ketahuan menyembunyikan bangkai. Tubuhnya mendadak kaku. Tulang belakangnya tegak menopang tubuh. Kedua kakinya saling merapat. "Mianhae," kata maaf itu terucap begitu saja.
"Hey, kenapa minta maaf?" Dongwook menepuk sayang bahu Jiyong sambil tersenyum. "Kau tidak salah apa-apa. Kalau kau tidak merasakannya sekarang, tak apa Jiyongi! Aku tidak memaksa. Aku ingin adikku bahagia. Kalau kalian berdua bisa bahagia bersama, kenapa tidak?"
.
.
.
Ruangan yang memuakkan. Berbau aneh dan sepi. ECG masih berbunyi monoton. Dan Seunghyun belum sadar. Dongwook sedang menjemput pacarnya sebentar, orang tua Seunghyun baru saja pulang untuk mengambil barang-barang. Hanya tersisa Jiyong dan sang pasien yang belum sadar di kamar itu.
"Dokter bilang dia akan segera bangun 3 hari yang lalu," Dongwook memberi tahunya tadi. Kalimat itu terngiang di telinga Jiyong, secara magis membuatnya resah. "Dia akan segera bangun, dokter bilang. Tapi sampai saat ini dia belum juga bangun,". Jiyong menghela nafasnya, lalu perlahan menyelipkan jemarinya di sela tangan Seunghyun yang tergenggam. Seketika merasakan hangat suhu Seunghyun yang tak wajar. Sedikit –mungkin sepersekian derajat- lebih rendah dari suhu tubuh Jiyong.
Ringtone ponselnya menggema di dalam ruang perawatan. Jiyong mengambil benda itu dari kantong dan melihat identitas peneleponnya. "Yeoboseyo, Eonni?" sapanya setelah menerima panggilan.
"Apa kau akan pulang malam ini? Atau menemaninya di rumah sakit?" Sandara langsung bertanya ke duduk persoalan.
Jiyong menyandarkan punggungnya ke kursi seolah lelah, namun tangannya tidak lepas dari jemari Seunghyun. "Aku... tidak tahu,"
"Dia belum sadar juga, ya?" tanya sang manager. "Kurasa kau akan menemaninya malam ini. Sebentar lagi kami akan ke sana membawa perlengkapanmu,"
"Ba-" ucapannya terputus. Mata Jiyong yang tadinya menatap ke langit-langit kini ganti fokus ke Seunghyun. Tangan Jiyong merasakan pergerakan kecil dari jemari Seunghyun. Matanya membulat lebar. Dia...
"Jiyong-ah? Ji-"
"Eonni, nanti kuhubungi lagi, ne? Tabi Oppa sepertinya sudah sadar!" pip. Ia memutus sambungan telepon.
"Eugh…" lenguhan itu terdengar dari bibir pucat Seunghyun. Genggaman tangannya pada jari Jiyong mengerat seiring dengan membukanya kelopak mata itu. Pelan, namun sudut antara kelopaknya terus melebar. Pupilnya reflex berkonstriksi menyesuaikan cahaya yang masuk. Panca indranya masih belum berfungsi sempurna. Butuh waktu beberapa menit hingga ia bisa melihat dengan jelas.
"Tabi Oppa?" Jiyong menyapa. Ia sempat merasa aneh kala nama yang telah lama dipendamnya itu terucap lagi.
Seunghyun merasa ia sudah mati. Ketika bau obat-obatan menguasai penciumannya, ia sekuat tenaga menolak. Tidak mungkin ia masih hidup kalau Jiyong memanggilnya dengan nama itu dan nada semanis itu.
Eh? Jiyong?
Seunghyun melirik ke arah kanan. Tangan kanannya menggenggam sebuah tangan kecil putih nan lembut. Tangan seorang gadis. "Tabi Oppa?" ulang gadis itu. Begitu Seunghyun dapat melihat wajah Jiyong, air matanya menetes otomatis. Buncahan rindu, perasaan bersalah, dan rasa senang yang tiada tara buru-buru menguasainya.
"Ji... yonghhh..." panggilnya susah payah.
"Ne. Ini aku," jawab Jiyong sambil tersenyum. Jemari yang terselip di telapak Seunghyun digunakannya untuk mengelus tangan itu lembut.
"Jiyongihh..." Seunghyun memanggil lagi. Suaranya pecah oleh tangis.
"Uljimayo, Oppa!" Jiyong berkata lembut. Sebelah tangannya menghapus air mata Seunghyun. "Sebentar, ne! Aku panggil dokter dulu,"
Lalu pengangan Seunghyun pada tangan Jiyong mengerat. Jiyong yang sudah berbalik menoleh pada pria itu lagi.
"Jangan pergi, Jiyong…"
"Aku tidak akan pergi, Oppa. Aku hanya akan memanggil dokter,"
"Ja-jangan kumohon," air matanya mengalir makin deras. Pegangannya mengencang. Kini sebelah tangannya yang lain ikut mencegah gadis itu pergi. Cukup dengan melihat punggung kecil Jiyong mencoba menjauh, Seunghyun merasa seolah seluruh jiwanya tertarik lepas dari tubuhnya dan itu membuatnya tidak nyaman. Ia ingin Jiyong di sini. Di sisinya.
Selamanya…
"Oppa…" Jiyong berkata lirih kasihan. Ia menghapus sungai kecil di pipi Seunghyun penuh kasih sebelum kembali duduk di sebelah tempat tidur. "Arraseo. Aku akan di sini," ia lalu menekan tombol merah di dekat nakas.
Lupakan air mata yang masih mengalir, Seunghyun tersenyum tolol karena terlalu gembira. "Tetap di sini, Jiyongi..." ucapnya segera setelah ia merasa bisa bicara dengan lancar. "Jangan pergi lagi,"
.
.
.
Bisa dibilang, hidup Seunghyun begitu sempurna sekarang. Ia tidak peduli dengan keadaan kakinya yang lumpuh permanen, bahkan acuh ketika dokter memberitahukan keadaannya itu. Tak ada tangisan. Seunghyun merasa airmatanya tidak perlu jatuh selama Jiyong berada di sisinya. Segalanya merasa lengkap, seperti puzzle yang terpasang rapi. Tergantung apik berbingkai pigora emas.
"Aaaaaaa..." ia berkata manja sambil membuka mulutnya lebar. Ia melahap isi sendok yang disodorkan Jiyong padanya. Ketika itu lidahnya terasa hambar. Makanan rumah sakit tanpa natrium, membuat Seunghyun sedikit mengernyitkan alisnya.
Sejak bangun kemarin, Seunghyun terus tersenyum. Cenderung terlihat bodoh daripada tampan. Tangannya terus memegang tangan Jiyong, tak peduli gadis kesusahan menyuapinya atau ingin ke toilet. Err... Pengecualian untuk yang terakhir. Seunghyun akan melepaskan tangan Jiyong, namun terus-terusan merengek.
"Tidak enak ya?" tanya Jiyong. Gampang sekali menyimpulkan rasa makanan rumah sakit dari pelahapnya.
"Enak kok," Seunghyun menatap wajah Jiyong. "Makan apa saja enak kalau ditemani rapper cantik sepertimu," godanya.
Jiyong tersenyum kecil. Pipinya merona sedikit. Ia lalu menunduk, kembali menyiapkan sesendok makanan untuk Seunghyun. "Sekali lagi, Oppa…" dan sesendok lagi masuk ke dalam mulut Seunghyun.
Seunghyun masih senyum-senyum bodoh sambil menatap Jiyong. Gadis itu juga membalas senyumnya dengan senyum manis. Senyum formal. Begitu kata orang-orang. Senyum yang diberikan artis kepada semua orang. Bukan senyum tulus karena jatuh cinta.
Namun Seunghyun tidak mengerti. Yang ia tahu, kini Jiyong sudah ada di sini bersamanya. Gadis itu telah jatuh cinta padanya dan kembali ke pelukannya lagi. Tak akan pernah pergi, menemaninya sampai tua nanti.
"Annyeong~~" sapa Dongwook hangat. Senyumnya ceria seperti anak-anak. Dengan kantung plastik di tangan, Dongwook masuk ke dalam ruangan Seunghyun diikuti Changmin yang sedang mengunyah di belakangnya.
"Annyeonghaseyo, Oppa..." balas Jiyong formal tanpa menatap Dongwook. Sementara itu, dengan jahil Seunghyun menjawab informal dengan suara yang difeminimkan. "Oppa annyeooooong~~"
Dongwook tersenyum lucu. Sedikit terkekeh ketika berucap "Ya!" pada Seunghyun. Adiknya memang tak dapat ditebak. Bisa-bisanya ia menyapa sang kakak dengan gaya seperti itu. Lucu sekali.
Senyum lucunya perlahan menjadi senyum tulus ketika Dongwook sadar ada siapa di sisi adiknya. Jiyong, pasti gadis itu yang merubah adiknya. Kehadiran Jiyong yang akhirnya membawa kebahagiaan bagi Seunghyun. Dongwook akhirnya optimis bahwa Jiyong akan menjadi adik iparnya dalam waktu dekat. Dari penglihatannya selama ini, Jiyong juga sudah membalas perasaan Seunghyun.
Iya, kan?
.
.
.
"Yeoboseyo,"
"Yeoboseyo. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Kau sendiri?" tanya Jiyong.
"Aku juga," Lee Soohyuk menjawab perlahan di ujung sana. Kemudian hening.
Jiyong yang sedang memasak menghentikan gerakannya dan merogoh kantong. Layar ponselnya masih menunjukkan panggilan itu belum terputus. Kenapa Soohyuk malah diam saja? Apakah headphone-nya yang bermasalah?
"Hyuk-ah?"
"Ne?"
"Ah. Kukira kau sudah menutup teleponnya. Ada apa meneleponku?" tanya Jiyong kali ini sambil mengaduk sup ayamnya.
"Eng... aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu. Sedang di dorm ya?"
"Ani. Aku sedang berada di… rumah Seunghyun Oppa," ucap si gadis ragu.
"Oh…" tanggap Soohyuk. Hening sejenak, lalu Soohyuk berkata lagi. "Bagaimana keadaannya?"
"Ya seperti yang sudah kau ketahui sebelumnya. Tapi ia baik-baik saja dan selalu ceria,"
"Pasti Karena kau selalu berada di sampingnya," goda Soohyuk sambil tertawa kecil. Berbeda sekali dengan dadanya yang terasa sesak ketika melakukan ini.
"Ya!" Jiyong berseru lalu tertawa.
"Jiyongi.." sebuah suara memaksa Jiyong menghentikan percakapannya. Ketika ia menoleh, Seunghyun telah berada di pintu dapur. Mata elang itu menatapnya tajam.
"Hyuk-ah, sudah dulu, ne? Kita sambung nanti," ucap Jiyong sambil menatap Seunghyun.
"Ne. Jaga dirimu dan Seunghyun-ssi baik-baik. I'll hang up,"
"Ne,"
"Siapa itu?" tanya Seunghyun sambil mendorong kursi rodanya mendekat ke arah Jiyong. Matanya memicing curiga. Ketidaksukaan menguasai perasaannya ketika didengarnya suara tawa Jiyong yang bahagia. Gadis itu hanya tersenyum saat bersamanya. Paling banter tertawa kecil. Dan 'Hyuk-ah'? Lee Soohyuk? Apakah Jiyong-nya masih berhubungan dengan model itu?
"Soohyuk," jawab Jiyong pelan. Tangannya kembali bergerak memasukkan kocokan telur ke dalam sup-nya yang hampir jadi. Rasanya tidak enak dilihat Seunghyun dengan tatapan seperti itu. Ia merasa begitu terintimidasi.
"Kau masih dekat dengannya ya, Jiyongi?" dengan sedih Seunghyun menanyakannya.
"Kami adalah sahabat, Oppa. Sahabat tidak pernah menjauh," Jiyong masih menghindari tatapan Seunghyun yang terus terasa mengintimidasinya.
"Tapi dia menyukaimu," Seunghyun mulai merengek.
Jiyong diam saja. Ia sibuk memasukkan hasil masakannya ke dalam mangkok. "Sudah siap Oppa, ayo kita makan," gadis itu mengalihkan topik. Ditaruhnya mangkok berisi sup ayam tersebut di atas meja makan, lalu dengan ceria dihampirinya Seunghyun yang sedang cemberut seperti anak kecil. "Ayo makan,"
Seunghyun diam saja dan pasrah ketika Jiyong mendorong kursi rodanya mendekat ke meja makan. Matanya sendu menatap sang pujaan hati yang duduk di sebelahnya. Jiyong nampak tidak berani menatap Seunghyun.
Mendadak pria itu mempertanyakan perhatian Jiyong selama ini padanya. Apakah itu palsu? Sekedar basa-basi?
Ia rindu. Rindu 'pemujaan' yang dulu Jiyong lakukan padanya. Keadaannya sudah berbeda sekarang. Ingin rasanya melihat Jiyong melakukan itu lagi, Seunghyun tentu akan membalas kali ini. Tak akan lagi ia mencampakkan Jiyong seperti sebelumnya. Tidak akan pernah.
.
.
.
"Kau tidak menyukainya tapi memberi harapan padanya? Yang benar saja, Jiyonga!" Taeyang berseru marah. Wajahnya heran, menatap sang sahabat tak percaya.
"Aku tidak memberi harapan padanya," Jiyong membalas pelan.
"Tapi kau merawatnya dan selalu ada di sisinya. Itu namanya kau memberi harapan," menyadari sahabatnya yang sedang bingung, Taeyang menurunkan intonasinya. Kedua tangannya menyandar pada tangan kursi rodanya, lalu menghela nafas. "Kalian perempuan-perempuan memang kadang terlalu baik,"
"Maksudmu?"
"Lihat saja kasus ini," tatapan Taeyang menjadi serius. "Kau menerima tawaran untuk mengurusnya. Tanpa kau sadari, kau sedang memberi harapan padanya. Dan ia percaya kalau kau menyukainya. Kau terlalu baik, Yonga..."
"Aku tidak tahu harus bagaimana menolaknya," kata Jiyong, lalu menggigit bibir. "Dia menempel terus padaku dan aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan kalau aku tidak menyukainya," dengan dramatis, gadis itu menyenderkan tubuh langsingnya ke sofa seolah tak bertenaga.
Taeyang diam sebentar. Sahabatnya sudah kehilangan akal begini. Ah, ya. Itu sebabnya Jiyong mencuri waktu ke rumahnya untuk bertanya. "Bagaimana kalau... kau yang mencoba mencintainya?" usulnya kemudian. Pelan-pelan dan setenang mungkin.
Jiyong ingat, terakhir kali Taeyang menggunakan nada seperti itu ketika mengajaknya bolos dulu. Saat kakinya masih bisa berlari cepat, belum lumpuh seperti sekarang. Jiyong ingat bahwa Taeyang memiliki kharisma luar biasa, sangat persuatif. Ajakannya tak pernah gagal merayu Jiyong.
Tapi sang rapper perempuan tahu bahwa usul Taeyang kali ini tak berhasil merayunya.
"Tidak bisa, Bae. Aku sudah mencobanya," Jiyong langsung menyahuti. Tak ragu, karena ia memang sudah tak bisa lagi merasakannya. Masalah ini memang rumit. Lebih ruwet dari benang kusut. Masalah perasaan yang menyiksanya. Ia tak ingin terus-terusan membohongi dirinya sendiri tapi juga tak ingin Seunghyun sedih.
Andai Jiyong tahu, Seunghyun sudah sedih sejak tadi siang...
"Dengar aku," Taeyang berkata. "Katakanlah saat ini kau sedang ada di sebuah persimpangan. Kau harus memilih, menyakitinya atau mencintainya. Kau tak bisa berpikir lama dan harus segera memutuskan jalan mana yang akan kau pilih,"
"Keduanya sulit," Jiyong berkata.
"Tapi kusarankan kau mencintainya," ucap Taeyang. Diharaukannya tatapan Jiyong yang kaget, Taeyang lalu melanjutkan lagi. "Aku tau perasaanmu tak bisa dipaksakan, Yonga. Tapi apa yang sudah menimpanya adalah bukti bahwa ia berusaha keras mendapatkan hatimu kembali,"
"Jadi kau bilang aku adalah penyebab kecelakaannya?" Jiyong mendadak tersulut emosi.
"Whooo… Whooo… Bagian mana dari kalimatku tadi yang berkata demikian?" Taeyang menjawab heboh. Pertanyaan di atas pertanyaan. Membungkam mulut Jiyong, meredakan emosi feminimnya.
"Cobalah," lanjut pria itu seperti di iklan. "Kau sudah bersikap baik padanya. Setiap hari ia bertemu denganmu. Kalau kau mencoba untuk mencintainya, mungkin kalian akan menikah setahun lagi,"
"Menikah?"
"Ne. Menyenangkan lo..." Taeyang promosi kembali. "Kalau kalian menikah nanti aku akan mengajarkan dia bercinta di atas kursi roda,"
"Ya! Mesum sekali!" Jiyong berseru heboh. Dilayangkannya bantal ke wajah Taeyang yang tertawa puas.
.
.
.
Senyum di hari-hari Seunghyun mulai berkurang. Ia tetap senang ketika melihat Jiyong berada di sampingnya, namun potongan percakapan yang di dengarnya beberapa hari lalu selalu datang mengusik. Jiyong dan Soohyuk. Publik mencurigai mereka berpasangan, tak ada yang keberatan dengan itu. Belakangan Seunghyun malah menemukan banyak sekali fanfiction tentang keduanya. Makin membuat Seunghyun frustasi.
Ia sedang berada di ruang tunggu 2NE1 untuk menonton Jiyong perform. Hari ini adalah hari comeback mereka dan Jiyong secara khusus mengundangnya datang. Harusnya Seunghyun senang. Ya, seharusnya.
Fakta bahwa pria itu datang dengan tampannya. Rambut tersisir rapi ke samping, baju yang entah mengapa terasa ratusan kali lebih bagus ketika dipakainya, dan seikat bunga. Cerah, meredupkan semangat Seunghyun. Jadilah ia duduk saja di pojok ruangan, menatap nanar Jiyong dan Soohyuk yang bercanda singkat. Walaupun singkat, tapi gadis itu tertawa lepas.
Seunghyun kemudian menatap sedih ke arah kakinya yang tertopang. Jadi kakinya lumpuh permanen ya? Mengapa dia baru sadar? Mengapa dia baru sedih sekarang? Kemana saja ia ketika dokter memberitahunya tentang kaki itu?
Di bibirnya terkembang senyum miris, mengasihani dirinya sendiri. Jiyong adalah wanita sempurna yang fisiologi organnya masih lengkap. Ia cantik dan berbakat. Masakah Jiyong mau pada orang cacat sepertinya?
Aneh. Sungguh aneh. Rasanya baru beberapa hari yang lalu ia terus-terusan tersenyum karena Jiyong ada di sisinya. Sekarang rasanya gadis itu tak mampu lagi untuk sekedar Seunghyun sentuh. Begitu semu, begitu jauh.
Apa memang Seunghyun harus mengalah? Apa memang Jiyong tidak akan mencintainya lagi?
"Tabi Oppa," Jiyong berseru riang membuyarkan lamunan Seunghyun. Heels tinggi dan runcing yang digunakannya mengetuk lantai dengan keras. Ia berlari kecil ke arah Seunghyun yang nampak lesu. Ya, ya, gadis itu tahu apa yang terjadi namun enggan membahasnya. Nanti saja.
"Biar Dara Eonni mengantar Oppa ke kursi yang sudah dipersiapkan. Nonton aku, ne?" Jiyong berkata seperti anak kecil.
Senyum sang pria terkembang, kecil saja. "Ne," ucapnya singkat. Jiyong melambaikan tangan di hadapannya, lalu berlalu keluar.
Bagi Seunghyun, itu seperti pamit yang tertunda. Sesuatu yang seharusnya Jiyong lakukan saat ia akan meninggalkannya dulu. Ia menatap ke arah pintu dengan sedih, seolah Jiyong tak akan kembali ke pelukannya lagi.
.
.
.
Bersambung...
