Halo, minna ^^

trims buat yang masih setia menunggu fic anri ini, gomen untuk telat update dan wordny yg pendek, wkwk

selamat membaca (^o^)/*


Thanks to Reviewers #deepbow

Balasan reviewers yg ga login~

Guest : arigatou ^^ fic Anri emang rata" segini wordny, gomen, hehe, sesuai pairingny SasuNaru. Kalo Sasu ma Haru mereka temen masa kecil, cuma Sasuke suka sama Haruto, sayang perasaanny tak terbalaskan~ doita :D ini update~

xxxSN : rahasia dooooong~ wkwk, gag seru kalo dikasitau sekarang #evilgrin :3 arigatou~ xxxSN ^^

headrose : salahin tangan Anri yg ga mau manjangin wordny tuh, haha, trims ya headrose :D seseorang berkulit putih dan bersurai gelap ? gag hiatus kok, paling lama update #dibogem semangat (*o*)9 akan Anri coba usahaiin manjangin deh, tapi ga janji ya #plakk :3

Akiko Yuzuki : Akiko chan suka jangan-jangan yah, wkwk, ada beberapa yg bener tp Anri gam au kasih tau yg mana :p trims reviewnya yah~ :D siiiiip~ chap depan NaruSasu :3


.

.

.

"Ah, ini dia orang yang sedang kita tunggu-tunggu !'' ucap Suigetsu santai dengan sebungkus snack di tangan kirinya,

''Sasuke !'' Karin berlari-lari kecil menyapanya, ''Kau sudah pulang~''

''Tuan muda'' Jugo membungkuk yang dijawab dengan anggukan singkat oleh Sasuke,

Mereka sekarang sedang berada di sisi selatan kediaman Uchiha, tepatnya area yang dihuni oleh Sasuke. Sebuah rumah tradisional yang masih terhubung dengan rumah utama. Semenjak berumur 7 tahun, setelah Uchiha Mikoto meninggal Sasuke memutuskan untuk menempati sayap kiri kediaman uchiha itu. Tidak hanya Sasuke, namun Karin, Suigetsu dan Jugo yang sudah bersama Sasuke sejak kecil juga ikut tinggal bersamanya. Fugaku yang saat itu sangat khawatir dengan keadaan Sasuke memutuskan untuk memberinya beberapa teman-atau bisa disebut pengawal-yang didapatkannya dari panti asuhan milik Orochimaru dan ia senang usahanya membuahkan hasil.

Sasuke setidaknya tidak lagi menjadi anak pemurung dan penyendiri seperti saat Mikoto baru meninggal dahulu. Mungkin tidak bisa dilihat dari luar, namun Fugaku sangat berterimakasih pada mereka berempat, Karin, Suigetsu, Jugo dan juga Haruto dimana pada saat-saat itu Fugaku benar-benar disibukkan oleh pekerjaan dan tidak bisa memberikan perhatiannya pada Sasuke.

"Kenapa dengan gadis blondy berkulit tan yang sexy ini, Sas ?" tanya Suigetsu dengan kedua tangan di depan dadanya—dengan pose grope grope—yang hanya dibalas dengan tatapan datar oleh Sasuke. "Come on, Sas. Tell us~"

Baru saja Sasuke pulang ia sudah mendapat pertanyaan macam itu, padahal belum ada satu jam sejak ia meninggalkan tempat dimana dia bertemu dengan Narumi. Kadang Sasuke lupa betapa mengerikan sistem informasi yang dimiliki oleh mereka. Khususnya Jugo.

"Sui, kau tidak boleh memaksa Tuan Muda seperti itu." tegur Jugo pelan.

"Hah ! Aku yakin kau juga sama penasarannya denganku Jugo." Suigetsu menyeringai menampakkan giginya yang seperti taring hewan buas. "Ya kan, Karin ?" Suigetsu meminta dukungan wanita berambut merah di depannya.

"Yap,"

"Walaupun begitu..." Jugo memelankan suaranya,

Suigetsu mengalihkan perhatiannya pada Sasuke yang sedang duduk di atas tatami menikmati secangkir teh yang baru saja diseduhkan oleh Karin. "Aku penasaran, Sas. Tidak biasanya kau tertarik pada perempuan." ucap Suigetsu geleng-geleng, "Karin yang begini saja ditolak."

PLAK

"Itte !" Karin memukul kepala Suigetsu kesal.

"Apa maksudmu, hah !?" bentak Karin,

Suigetsu mengusap-usap kepalanya yang baru saja ditampol Karin, 'Dasar nenek sihir !'

"Bilang saja kalau sebenarnya kau yang ingin, Sui." timpal Jugo dengan nada tidak tertarik.

"Hmph !" dengus Karin.

"A-apa !? Aku tidak salah dengar kan ? Dengan si ne- kacamata ini ? Eww !" ucap Suigetsu dengan nada iyuuuh~ membuat tiga kedutan muncul di kepala bersurai merah itu.

"Cari mati kau, hah, Sui ?" Karin meremas buku-buku jarinya hingga menimbulkan bunyi 'kretek'

"A-hahaha... Cuma bercanda, suer..." Suigetsu mengangkat tangannya menyerah dengan butir-butir keringat turun dari dahinya.

"Karin." suara Sasuke membuat keduanya menurunkan tangan mereka.

"Ya, Sasuke-kun ?"

"Cari informasi tentang wanita bernama Narumi ini." Karin mengangguk singkat, "Secepatnya." tambah Sasuke.

"Ha-hai, Sasuke-kun !"

Karin menutup pintu kamarnya lalu menggerang pelan. 'Apa yang harus kulakukan !?' batinnya frustasi, 'Apa harus kulaporkan bila keberadaan gadis itu sama sekali tidak ada sebelumnya !?' Karin menggeleng-geleng, 'Apa kuberikan informasi palsu saja ?' ia menghela nafas pelan, 'Tapi, kalau kuberikan informasi palsu akan lebih parah nantinya !' geram Karin menjambak-jambak rambutnya frustasi 'Aaaaaaargh ! Kenapa kau harus membawaku ke dalam masalahmu, Narutoooooo ! ! !'


.

.

.

Blue Shappire

Naruto © Masashi Kishimoto

Runriran

Chapter IX

WARNING : AU, OOC, OC, Typos, Gajeness, Yaoi, slight Straight

.

.

.


"Naruto-kun."

Haruto mendongak, ia melihat Sai sedang berdiri di depan pintu kelasnya—menunggu Haruto keluar menghampirinya. Haruto kemudian memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan menghampiri Sai. Saat itu jam perkuliahan terakhir Haruto telah usai jadi selebihnya ia free.

"Ayo," Haruto mengangguk dan mengikuti Sai berjalan keluar kampus.

"Ada apa ?"

Sai tersenyum, "Aku rasa kau harus memberitahu Kyuubi senpai." ucapnya menoleh ke samping untuk menatap Haruto, "Kau tau apa maksudku, kan ?" Haruto mengalihkan pandangannya ke depan.

"Masalah tadi malam."

"Benar." Sai mengeluarkan handphonenya—mengetik sms sebentar, mengirimnya lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celananya. "Tapi, lebih baik kita minta pendapat sensei dulu masalah ini. Kita tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil tindakan, benar ?"

Haruto diam.

"Aku anggap kau setuju denganku." senyum Sai,

"Hentikan senyum palsu itu." Haruto menghentikan langkahnya, begitu pula Sai.

"Maksudmu ?" tanya Sai masih dengan senyum palsu di bibirnya,

"Apa kau tidak lelah dengan senyum palsu itu." Haruto menatap mata Sai,

"Setiap manusia memiliki kepalsuan, Haruto-kun." ucapnya, "Begitu juga dirimu." tambah Sai kalem.

"Tapi itu bukan berarti kau harus memasang senyum palsumu kapanpun dan dimanapun, Sai." Haruto kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Sai yang kemudian ikut menyusulnya.

"Ehemph." Sai menahan tawanya, "Kalian berdua memang benar-benar mirip ya."

"Maksudmu ?"

"Naruto-kun dulu juga pernah berkata seperti itu padaku." Haruto menaikkan alisnya. "Jangan-jangan kalian anak kembar ya." celetuk Sai membuat Haruto berhenti dan menatapnya serius.

"Sai."

"Aku hanya bercanda, Haruto-kun." Sai tertawa, "Jangan serius begitu menanggapinya. Kau sendiri tau ada 9 orang di dunia ini yang wajahnya sama kan. Doppelganger~"

Haruto mengerutkan alisnya, pikirannya melayang pada saat ia berbicara pada Naruto beberapa hari lalu.

Ah, kata Kaa-san dia sudah meninggal saat aku baru lahir. Katanya kecelakaan, tapi aku tidak pernah melihat fotonya sama sekali, aku juga tidak berani bertanya pada Kaa-san,

Tidak perlu minta maaf, lagipula aku tidak punya ingatan sama sekali tentang ayahku kok,

Haruto memejamkan matanya,

Haru… Haru…

Kaa-san mencintaimu, sayang…

Hanya Haru yang kaa-san miliki…

Jadi… jangan pernah tinggalkan kaa-san…

Haruto…

"Haruto-kun."

Haruto membuka matanya, mendapati Sai yang menatapnya khawatir. "Aku perlu menelpon Naruto sekarang juga."

"Sebentar lagi kita sampai di klinik Kabuto sensei." Haruto mengangguk dan berjalan mengikuti Sai ke tempat tujuan utama mereka.

.

.

.

KLIK

Naruto menekan tombol hijau di handphonenya dan menempelkannya di telinga.

[Naruto, dimana kau sekarang ?] tanya Haruto dengan nada sedikit menekan. Naruto menaikkan alisnya heran, karena tidak biasanya Haruto bersikap seperti itu. Biasanya dia lebih pendiam dengan nada datarnya yang biasa.

"Di apartemen, ada apa ?"

[Sendiri ?] Naruto mengangguk, ingat bila Haruto tidak bisa melihatnya ia menjawab 'iya' [Apa baa-san sudah menemanimu ke rumah utama ?]

"Belum, ada apa memangnya ?" Naruto berjalan ke arah dapur dengan headset di telinganya, ia menaruh handphonenya di kantong celananya,

[Tsk…]

"Haru ?" Naruto membuka kulkas mengambil beberapa telur, bawang, saus tomat dan bahan-bahan lainnya untuk membuat omlete.

[Piiiip Piiiip] terdengar suara dial di handphone Naruto. Haruto ternyata mengundang pembicara lain di sambungan telpon mereka.

[KLIK]

[Ada apa, bocah ?]

Naruto membuka tutup susu cair, "Baa-chan ?"

[Baa-san, kenapa Naruto belum mengunjungi rumah utama ? ini sudah lebih dari seminggu, kaa-san pasti khawatir.]

[Naruto tidak boleh mengunjungi rumah utama dalam sosokmu, Haruto.]

[Apa maksud baa-san !? Baa-san tau ini sudah tanggal berapa ? dan kaa-san belum bertemu denganku semenjak kecelakaan itu !]

Naruto menghentikan acara prepare membuat omletenya—menyadari situasi—ia duduk di sofa dan mendengarkan percakapan Haruto dengan neneknya. Merasa dia adalah orang luar, Naruto tidak ingin ikut campur tanpa tau seluk beluk permasalahannya—bukan berarti ia akan ikut campur bila tau permasalahannya.

[Kau tau, Haruto, Miroku pasti akan menyadari perbedaan kalian dan aku tidak ingin mengambil resiko untuk hal itu.]

[Baa-

[Haruto.] potong Tsunade, [Keputusanku adalah mutlak.]

Naruto mendengar geraman Haruto di sebrang sana. "Baa-chan, bukankah dalam sekenarionya Haruto mengalami amnesia ? Jadi, bagaimana Miroku-san bisa menyadarinya ?" Naruto menyuarakan pikirannya.

[Benar apa yang dikatakan Naruto, baa-san. Kaa-san tidak akan menyadarinya.]

[Apa kau bisa bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada Naruto, bocah ?] tanya Tsunade dengan nada mengancam.

[Aku-

[Kau tau bagaimana kondisi mental ibumu, Haruto.]

[Kaa-san tidak sakit !] bentak Haruto tanpa sadar membuat Tsunade menghela nafas pelan,

Naruto membulatkan matanya heran, 'Mental ? Memangnya kenapa dengan kondisi mental ibu Haruto ?'

[… maksudmu ?] Haruto bertanya pada seseorang disebelahnya membuat Tsunade dan Naruto membatin penasaran pada siapa Haruto berbicara. [Lebih baik kau bicara langsung…] ucapnya sebelum menyerahkan handphonenya pada seseorang.

[Selamat siang, Tsunade sama.] ucap suara di sebrang sana menggantikan Haruto.

Naruto menyadari jelas suara itu, suara yang sangat familiar di telinganya bahkan tanpa berpikir sedetikpun ia dapat mengenali pemilik suara itu, "Sai !"

[Halo, Naruto-kun,] salam Sai pada Naruto, ia bisa membanyangkan Sai yang sedang berbicara dengan senyum 'khas'nya,

[Anak didik Kabuto… Shimura…]

[Hai. Saya hanya ingin menyarankan sesuatu tentang hal ini bila diperbolehkan.]

[Lanjutkan.]

[Terimakasih, Tsunade sama. Saya hanya ingin menyarankan agar Haruto-kun mempelajari henge.]

"A—Kau tidak boleh berbicara sembarangan, Sai !" ucap Naruto sedikit panik,

[Tidak apa-apa, Naruto-kun. Haruto-kun sudah mengetahui identitas asli desa kita, jadi aku rasa tidak masalah.]

"Ta-

[Begitu…] potong Tsunade, [Menurutmu berapa hari dia bisa menguasainya penuh ?]

[Hmm… itu tergantung Haruto-kun sendiri, tapi saya yakin dia bisa menguasainya dalam satu hari bila ia memang benar-benar serius.]

[Aku serius, Sai.] tambah Haruto.

"Ma-maksudmu kami bisa bertukar tempat kembali ? Aku bisa kembali ke desa ?"

[Tidak, Haruto-kun yang akan ke kota dan mengantikanmu mengunjungi rumah utama selama kurang dari 24 jam.] jawab Sai tegas.

"Kenapa tidak bertukar tempat saja !?"

[Brat, orang-orang akan curiga bila kalian sembuh dari amnesia secara cepat dan asal kau tahu menggunakan henge dalam kurun waktu lama menghabiskan banyak tenaga. Apalagi orang yang belum terbiasa dilatih.] jelas Tsunade membuat kepala Naruto menunduk kalah.

"Mmm…"

[Naruto-kun jangan sedih, ambil saja sisi positifnya. Kau jadi bisa bertemu dengan Haruto-kun secara langsung kan.] tambah Sai berusaha menyemangati Naruto.

[Baiklah. Aku serahkan hal ini padamu, Shimura.]

[Hai, Tsunade sama.]

.

.

.

"Gaara."

Pemuda berambut merah bata itu menoleh, mata emeraldnya bertatapan dengan mata semerah ruby milik pemuda berkulit putih yang berdiri di depan mejanya. Sabaku Gaara yang saat itu sedang menikmati makan siangnya di kantin kampus mendapat kunjungan tak terduga dari kakak sahabat baiknya, Uzumaki Kyuubi. Namun Gaara sangat tahu apa yang ada di benak pemuda yang saat ini menyamankan diri, duduk di depan Gaara.

"Kyuu." sapanya singkat, Gaara meletakkan roti sandwich dagingnya—melihat ada yang lebih menarik daripada menghabiskan makan siangnya itu.

Kyuubi membuka kopi kalengan yang baru saja dibelinya sebelum menghampiri Gaara, "Anak itu…" mulai Kyuubi,

"Naruto ?" Kyuubi memijit pelipisnya pelan,

"Dia bukan Naruto." Gaara memperhatikan Kyuubi dengan tatapan datarnya,

"Apa kau yakin ?" tanyanya

"Yakin. Aku yakin 100% tapi…"

"Tapi ?"

"Tapi aku sudah mengeceknya… dia benar-benar Naruto." Kyuubi menyesap kopi kalengnya tanpa memandang mata Gaara.

"Bagaimana kau bisa yakin dan tidak yakin di saat yang bersamaan ? Ini tidak seperti kau yang biasanya, Kyuu." balas Gaara memejamkan matanya.

"Aku tau. Ini benar-benar memusingkan. Sifatnya benar-benar berbeda sama sekali dengan Naruto, tapi tubuhnya…" Kyuubi menutup matanya dengan tangan kanannya bingung,

"Tubuhnya... masih sama ?"

"Ck." Kyuubi berdecak kesal, "Aku pikir itu henge sebelumnya, namun setelah memastikan ternyata tubuh itu memang tubuh Naruto."

"Perlukah aku tahu bagaimana kau memastikannya ?" mata Kyuubi memicing, "Kurasa tidak perlu." Gaara mengangguk mengerti. "Lalu ?"

"Karan menghubungiku." tegukan terakhir sebelum Kyuubi meremas kaleng kopi yang ada ditangannya, "Aku rasa dia tahu sesuatu."

"Instingmu selama ini belum pernah salah, Kyuu."

Kyuubi menyeringai, "Jadi, kau mau ikut aku ke Tokyo ?"

.

.

.

Naruto merebahkan dirinya di sofa setelah percakapan di handphonenya selesai. Ia memijit pelipis kepalanya pelan, mengingat ia punya masalah lain yang harus diselesaikan. Yah, bukan benar-benar masalah, hanya saja Naruto menganggapnya masalah. Andai saja ia tidak menyetujui apa yang diminta oleh Karan malam itu, kepalanya tidak akan pusing seperti ini. Bukannya Naruto mau mengambil kembali kata-katanya—tidak—laki-laki tidak boleh menjilat ludahnya sendiri. Namun, Naruto sudah terlanjur bilang bahwa ia akan melakukan apa saja yang diminta Karan sebagai imbalannya akan Sasuke.

'Tapi ini memalukan…' batin Naruto memejamkan matanya, 'Aku ini laki-laki…'

Seorang laki-laki tidak boleh menarik kembali apa yang sudah diucapkannya

Kata-kata itu selalu mampir di kepala Naruto dikala ia memiliki masalah perihal janji. Kata-kata yang pernah diucapkan Kyuubi padanya itu sudah melekat erat di kepalanya layaknya mantra ajaib. Saat Naruto mendengar kata-kata itu, ia memutuskan untuk menjadikan kalimat yang keluar dari mulut kakaknya itu sebagai jalan hidupnya.

Ya. Jalan hidup seorang Uzumaki Naruto.

Naruto sudah memutuskan tidak akan mengambil kembali kata-katanya, ia pun menyalakan handphonenya dan mengirimkan sebuah pesan singkat pada Karan.

Kapan acaranya diadakan ?

Belum ada semenit, balasannya datang.

Besok lusa. Bagaimana ?

Naruto menghela nafas pelan sebelum menjawab.

Tapi aku tidak tahu apa yang harus kukenakan.

Dan apa tidak mencurigakan bila aku datang bersamamu.

Kau tau maksudku, Karan.

Setelah pesan itu terkirim, handphone Naruto berdering dan nama Karan muncul di layarnya.

"Kar…"

[Nar, tidak usah kahawatir akan hal itu. Aku dan Karin akan mengurusnya, jadi kau santai saja.]

"Yakin tidak akan ada yang curiga ?" Naruto mendengar tawa Karan di sebrang sana.

[Tidak mungkin tidak ada yang curiga. Hahaha, kau tau Sasuke juga sudah meminta Karin untuk menyelidiki identitasmu loh.]

Mata Naruto membulat horror, "…"

[Aku dan Karin sudah mengurus semuanya, Naru. Kau… percaya padaku, kan ?]

"Aku percaya padamu, Karan." jawabnya tanpa berfikir sedetikpun.

[Aku tau. Hahaha.] Naruto menggeram kesal, pipinya memerah—malu.

"Kalau sudah tau kenapa masih ditanyakan, hah !? Jangan menanyakan hal yang memalukan ! ! !"

[Oh, Nar. Andai aku bisa melihat wajahmu sekarang, hahahahaha.]

"Damn you !" desis Naruto sebelum menutup sambungan telfonnya.

Handphonenya kemudian berdering tanda masuknya pesan.

Datang ke café besok lusa sekitar jam 3 sore.

Aku sudah mempersiapkan semuanya, jadi jangan khawatir.

Anggap saja ini kencan pertama kita, Narumi-chan~

"Karan berengseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek ! ! ! !"

.

.

.


.

.

.

Chap IX owari,

°•(^┌┐^)•°

Mind to Review minna ^^