"Ah, ya, ya," ujar kepala desa sambil mengangguk-angguk. Matanya menyipit dan terlihat binar menyelidik ke arah Sasuke. Ino yang tidak pernah meninggalkan sosok Sasuke sedikit pun sampai dipaksa menelan ludah.

Bukan hanya belum berhasil menyelesaikan misi yang sebenarnya, Ino bahkan tidak bisa melarang Sasuke untuk membatalkan niatnya menunjukkan diri secara terang-terangan. Dan sekarang, di hadapan kepala desa dan penduduk desa lainnya, ia merasa bahwa ia dan Sasuke tengah dinilai! Seakan-akan mereka adalah orang jahat yang siap dihukum.

Tangan Ino menyentuh dahinya dengan lemah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ino juga tidak bisa membayangkan reaksi Tsunade apabila Godaime Hokage itu mendengar laporan terbarunya ini.

"Sebenarnya, kami sudah membicarakan hal ini kemarin, kami sudah tahu bahwa 'Sakkun' adalah Uchiha Sasuke," ujar kepala desa lebih lanjut.

Yang tidak pernah Ino duga adalah, wajah serius kepala desa itu mendadak berubah ramah dan menampilkan senyum yang sama sekali tidak dibuat-buat. Tulus.

Meskipun demikian, Ino tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arah Masaru yang ada di belakang kepala desa. Pemuda itu telah berbohong kepadanya! Masaru bilang ia tidak akan memberi tahu kepala desa dan penduduk lain jika bukan Sasuke sendiri yang mengatakan. Nyatanya, saat Sasuke mengungkapkan jati diri, semua sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Masaru melemparkan cengiran kecil dan mengedikkan bahunya sedikit. Ino menghela napas untuk meredam amarah sesaatnya dan seketika perhatiannya kembali teralihkan pada kepala desa.

"Apa yang Uchiha-san lakukan dahulu mungkin memang tidak bisa dimaafkan, tapi, kami percaya Godaime Hokage memiliki pertimbangannya sendiri. Lagi pula, apa yang Uchiha-san telah lakukan bagi desa kami sekarang juga tidak bisa diabaikan."

"Benar, bagaimanapun, Uchiha-san juga sudah membantu menyelamatkan anak-anak Koyubigakure," timpal salah satu penduduk yang menerima persetujuan dari penduduk yang lain.

Kepala desa memandang penduduk-penduduknya sambil tersenyum dan kemudian mengangguk-angguk. Ino dan Sasuke sendiri hanya bisa saling bertukar pandang sebelum kembali memandang kepala desa yang dengan begitu mudahnya menerima fakta mengenai jati diri Sasuke sebenarnya.

"Mungkin sekali lagi, kami harus melakukan penyambutan yang sesuai." Kepala desa itu berdeham. "Selamat datang di Koyubigakure, Yamanaka Ino-san. Uchiha Sasuke-san. Mohon bantuannya untuk pembangunan desa kami."


BACK TO THE BEGINNING

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

No commercial advantages is gained by making this fanfic.

I write this just for my personal amusement.

Pairing : SasuIno, NaruSaku, and may be some slights or hints

STEP 9. Acceptance


Setelah pertemuan dengan kepala desa Koyubi dan beberapa penduduk, Sasuke dan Ino meninggalkan balai desa. Mereka pun melontarkan salam perpisahan dengan para shinobi dari desa sebelah yang akan kembali ke desa mereka. Dengan demikian, itulah saat perpisahan mereka dengan Masaru.

Tidak ada salam perpisahan yang mengharu-biru. Hanya satu-dua tepukan di pundak sebagai penumbuh semangat. Lalu, satu peringatan diucapkan Masaru secara tegas saat di sekitar mereka sudah tidak banyak orang hilir-mudik—teman-temannya sudah lebih dulu berlalu.

"Mungkin kau sudah tahu, tapi aku akan mengingatkan sekali lagi. Penerimaan orang ataupun desa lain, mungkin tidak akan semudah dan sebaik orang-orang Koyubigakure," Masaru berkata. Ia memusatkan fokusnya pada Sasuke. "Namun, jangan melarikan diri. Kau harus bisa menerima perlakuan mereka dengan berbesar hati sebelum mereka belajar untuk menerimamu. Bagaimanapun, kaulah yang memulai semua."

"Aku tahu," jawab Sasuke datar, "aku akan terima apa pun konsekuensinya."

Masaru mengamati Sasuke sekilas sebelum melihat ke arah Ino yang memasang wajah kesal padanya. Gadis itu melipat tangan di depan dada dan melihat sinis pada Masaru.

"Haha. Masih marah, Yamanaka-san?"

"Menurutmu?"

"Hei, yang memberi tahu identitas Uchiha-san pada kepala desa bukan aku, lho? Memang aku mengutarakan kecurigaanku pada teman-teman dan ternyata mereka sendiri yang berinisiatif untuk melaporkannya pada kepala desa," terang Masaru santai. "Namun toh segalanya berjalan baik, 'kan? Kalian juga tidak langsung diusir dari desa."

Kedua tangan Ino turun ke sisi-sisi tubuhnya. "Yah …."

Belum sempat Ino mengatakan apa pun lagi, suara teman Masaru yang memanggil nama pemuda itu kemudian terdengar. Masaru menoleh sekilas ke arah temannya sebelum berkata,

"Sudah, ya. Aku harus pergi sekarang. Untuk kalian sendiri, selamat melaksanakan tugas."

Masaru kemudian mengangguk ke arah keduanya dan kemudian berbalik untuk menyusul teman-temannya. Satu lambaian singkat ia berikan.

Kini, Sasuke dan Ino siap melakukan tugas mereka—membantu pembangunan desa. Mereka pun segera bergerak ke arah bangunan tempat kayu-kayu gelondongan tersimpan. Namun, belum sampai di tempat yang mereka tuju, segerombolan anak-anak menghadang langkah mereka.

"Koroppu, Mune," sapa Ino lembut begitu mengenali kedua anak yang berada paling depan. Ekspresi mereka tampak aneh—membuat Ino langsung menduga-duga mengenai apa yang ingin mereka katakan. "Ada apa?"

Sasuke memasang kewaspadaannya saat ia melihat tatapan tajam Koroppu terarah kepadanya. Namun, kewaspadaan itu mengendur saat Koroppu justru menundukkan kepala dan kedua tangan kecilnya menggenggam ujung-ujung celana.

"Ap-apa gara-gara aku, Sakkun-nii terpaksa membuka topeng dan memberitahukan nama aslinya pada orang lain?" Suara Koroppu terdengar bergetar. "Padahal Sakkun-nii adalah orang yang pemalu, 'kan? Dan karena itulah Sakkun-nii sengaja menyembunyikan identitas aslinya pada yang lain. Tapi aku malah—"

"Jangan besar kepala," balas Sasuke cepat. "Itu bukan kesalahanmu atau kesalahan siapa pun. Ini … urusanku pribadi."

Dari posisi di sebelah Sasuke, Ino bisa melihat mata Sasuke yang tampak menerawang. Namun, Ino cukup paham apa yang tengah Sasuke pikirkan saat itu. Ia pun memilih untuk tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan Sasuke yang menyelesaikannya.

"Sekarang minggirlah, jangan menghalangi ja—!"

Koroppu mendadak memeluk pinggang Sasuke.

"Sakkun-nii—atau Sasuke-nii—siapa pun namamu sebenarnya, aku benar-benar berterima kasih padamu!" seru Koroppu. "Kalau kau tidak ada, pasti saudara-saudara kami tidak akan selamat."

Seruan Koroppu diikuti persetujuan dari anak-anak yang lain. Mune menyeringai lebar dan anak-anak panti lain menunjukkan senyum tulus yang didasari semangat. Melihat itu, Sasuke hanya bisa bergeming.

Ino pun jadi terkikik geli saat melihat Sasuke yang salah tingkah dan seolah meminta bantuannya untuk bisa mengatasi situasi ini. Ino menjawab hanya dengan satu kedikan bahu.

"Ya-yaah—sudahlah." Sasuke mendorong pundak Koroppu. Wajahnya sudah menyiratkan pertanda bahwa ia tidak ingin diganggu lebih lama. "Kami harus bekerja sekarang."

Koroppu melepaskan diri dari Sasuke dan kemudian mengangguk-angguk. Tak lupa ia menghapus sedikit air mata yang sempat lolos dari pelupuk matanya.

"Kami akan membantu! Ah, bukan! Izinkan kami membantu!"

Alis Sasuke mengernyit. "Terserah."

Ino menambahkan sambil tertawa, "Semangat kalian bagus sekali. Apalagi, ini desa kalian. Campur tangan kalian tentu akan berarti."

Koroppu mengangguk. Mune pun bergumam 'yosh' pelan dengan kedua tangan yang terkepal di depan dada. Mereka kemudian mengomandani anak-anak yang lain dan meminta mereka juga membantu dalam pembangunan desa—meskipun hanya bisa membantu hal-hal kecil.

Melihat itu, Sasuke hanya bisa menghela napas. Ino yang tidak tahan melihat Sasuke yang terlihat salah tingkah hanya bisa menyikut pinggang Sasuke dan tertawa-tawa kecil. Sasuke memandang tajam kepadanya yang sudah pasti diabaikan oleh Ino. Lalu, interaksi kecil di antara keduanya terputus saat Koroppu kembali berbicara kepada mereka.

"Tapi, untunglah Sasuke-nii mau membuka topengnya sekarang dan menunjukkan wajah aslinya."

"Oh, ya? Kenapa?" tanya Ino dengan tatapan jahil. "Bukankah dia lebih tampan dengan topengnya?" goda Ino sambil menyentuhkan telunjuknya ke pipi Sasuke. Sasuke hanya memutar bola mata.

"Nggak kok! Sasuke-nii lebih tampan tanpa topeng!" sergah seorang bocah perempuan dengan pipi yang bersemu-semu kemerahan dengan cepat. Lalu, begitu menyadari ucapannya, ia segera menutup mulut dengan kedua tangan. "Ah."

Ino berbisik pada Sasuke, "Dasar musuh wanita."

"Hn," jawab Sasuke malas.

Lalu, perhatian mereka kembali pada Koroppu yang tampak berusaha menjelaskan ucapannya terdahulu.

"Ng! Menurutku, sih, wajah Sasuke-nii memang jauh lebih baik jika tidak mengenakan topeng—seperti kata Ricchan." Koroppu berkata dengan nada ceria dan tanpa malu-malu. "Tapi bukan itu yang ingin kukatakan tadi." Koroppu berdeham-deham sesaat. "Maksudku, tanpa topeng, sekarang aku justru bisa melihat kebaikan Sasuke-nii dengan lebih jelas. Kebaikan dan ketulusan. Kalau pakai topeng, Sasuke-nii malah terlihat menyeramkan. Hehe!"

Baik Sasuke maupun Ino seketika membatu di tempat. Koroppu sendiri tidak menunggu respons Sasuke dan Ino—ia langsung memimpin teman-temannya untuk berlari ke arah gudang penyimpanan kayu. Dengan semangat, mereka kemudian berteriak-teriak pada orang yang menyapa mereka bahwa mereka akan mulai bekerja dan membantu pembangunan desa.

"Bagaimana, Sasuke-kun?" tanya Ino dengan tatapan yang tidak terarah pada Sasuke melainkan pada Koroppu dan teman-temannya.

Sedikitnya, Ino masih cukup tercengang dengan kata-kata polos yang diucapkan oleh anak yang mungkin belum begitu paham mengenai kejamnya dunia. Tapi, justru itulah yang terkadang membuat seorang anak dapat menilai dengan lebih objektif dan berani, bukan?

" … Hn." Sekali lagi, hanya gumaman andalannyalah yang menjadi jawaban Sasuke sebelum ia mulai berjalan kembali—seakan mengikuti jejak Koroppu.

Ino tidak tahu apa yang Sasuke pikirkan kala itu. Mungkin kelegaan serta sepercik kebahagiaan karena ada yang bisa menaruh kepercayaan padanya seperti itu.

Sementara itu, Ino sendiri berpikir bahwa semua akan berjalan lebih baik dari yang ia pikirkan semula.

o-o-o-o-o

Satu hari lagi telah berhasil dilalui para shinobi Konoha tanpa gangguan berarti. Tugas asli mereka yang mewajibkan keduanya untuk membantu pembangunan berjalan dengan cukup lancar. Bantuan-bantuan dari tiap penduduknya sangat membantu.

Malam itu, kepala desa memanggil mereka dan mengatakan bahwa perjanjian dengan Hokage adalah bahwa keduanya akan membantu selama tiga hari, yang berarti, besok adalah hari terakhir mereka di Koyubigakure. Di kesempatan itu juga, kepala desa sekali lagi mengutarakan terima kasih dan betapa bersyukurnya ia bahwa Ino dan Sasuke sudah menyempatkan diri untuk datang.

Obrolan dengan kepala desa berakhir dengan dituangkannya sake untuk Sasuke dan Ino. Sampai larut, mereka bercerita panjang lebar—terutama Ino dan kepala desa yang mulai tidak sadarkan diri. Banyak informasi yang mereka tukar dan Sasuke kebanyakan terdiam mendengarkan dengan wajah datarnya.

Sampai dirasanya cukup, Sasuke kemudian menarik lengan Ino.

"Sudah cukup, Ino. Ayo kembali ke penginapan."

Ino memiringkan kepalanya. "Sudah?"

"Hahahaha. Kalau mau, kalian bisa menginap di sini."

"Aiiih~ Ojiisan memang baik!" seru Ino sambil melepaskan tangan Sasuke dan mengaitkan jemarinya—berpose imut.

Sasuke menghela napas keras dengan sengaja. Sekali lagi, ia menarik tangan Ino untuk memaksa gadis itu berdiri. Perlahan, ia kemudian mengetuk kepala gadis itu dengan punggung tangannya.

"Jangan kebablasan. Ayo pulang. Besok masih ada banyak pekerjaan yang menanti."

Belum sempat Ino menjawab, kepala desalah yang menggantikan sang gadis untuk bersuara,

"Hahahaha. Uchiha-san mau memonopoli Ino-chan, yah, malam ini?"

"Aduh, aduh, Koyu-sama sudah mabuk, ya?" ujar salah seorang tangan kanan kepala desa sembari membantu bapak tua itu untuk membetulkan posisi duduknya.

"Hahahaha. Kata siapa? Walau begini-begini, mataku masih cukup mampu melihat, kok."

"Apa, apa?" sambut Ino antusias.

"Sudahlah, Ino. Ayo pulang."

"Hahahaha. Kalian ini lucu. Aku doakan kalian langgeng dan banyak anak, ya~!"

"Kyaaa! Aku juga nggak sabar melihat Uchiha-Uchiha kecil nantinya~!" jawab Ino yang tubuhnya sudah diseret menjauh oleh Sasuke.

"Ngawur," tukas Sasuke cepat.

"Hahahaha. Hahahaha." Kepala desa Koyubigakure itu seolah sudah kehilangan kata-kata dan hanya bisa tertawa-tawa. Ia mengangkat sebelah tangannya dan melambai pada Ino. Seakan hendak mengucapkan salam perpisahan, tapi yang keluar dari mulutnya, lagi-lagi hanyalah suara tawa.

"Selamat malam. Sampai jumpa besok," ujar Ino akhirnya. "Doakan semoga malam ini Sasuke-kun tidak terlalu kasar, ya~!"

Gadis itu kemudian melambai-lambaikan tangannya dengan riang sementara Sasuke bungkam seolah tidak mendengar apa pun.

Sang kepala desa—Koyu—sendiri pada akhirnya hanya bisa tergeletak begitu saja tanpa daya hingga ia tidak bisa mengantarkan kepergian tamunya. Tangan kanannya yang setia pun hanya bisa mengutarakan salam perpisahannya pada Sasuke dan Ino dengan singkat karena ia harus membantu kepala desa untuk bangun dan beranjak ke kamarnya sendiri yang masih cukup jauh dari paviliun tempat pertemuan mereka saat ini.

Benar-benar salam perpisahan yang tidak sopan. Namun, bukan berarti Sasuke peduli. Ia sendiri masih harus mengurus Ino yang cukup mabuk malam itu. Siapa sangka sang dara Yamanaka itu tidak segan-segan meminum sake dalam jumlah yang banyak—tanpa kontrol.

Sasuke sendiri menjaga diri agar ia tidak terlalu banyak minum; ia sadar sepenuhnya bahwa besok ia masih harus bekerja. Awalnya, ia kira mereka hanya akan minum beberapa gelas dan pulang. Sungguh, siapa yang pernah mengira bahwa pada akhirnya mereka akan terjebak lama di rumah kepala desa? Ino sendiri tampak tidak keberatan berlama-lama hingga mereka pun mencapai botol sake yang kesepuluh.

Entah apa yang Ino pikirkan. Apa mungkin gadis itu cukup tertekan dengan tugas yang tengah diembannya? Tidak butuh waktu lama bagi Sasuke untuk memahami bahwa Ino pun bukan seseorang yang tidak bisa stres. Sejak pertama kalinya Sasuke terbangun di rumah sakit, gadis itu sudah mengalami berbagai macam hal—bisa dibilang banyak pula yang tidak menyenangkan. Jadi, mungkin malam ini gadis itu memutuskan untuk sedikit melupakan tugasnya dan bersenang-senang?

"Sasuke-kuuun~…," panggil Ino manja. Sepenglihatan Sasuke, gadis ini tidak benar-benar kehilangan kesadarannya. Namun, di mata Sasuke, Ino juga seakan ingin melepaskan segala beban yang tengah ia tanggung—meski cuma satu malam. "Dibanding pegangan tangan, aku lebih mau digendong Sasuke-kun~ kayak kemarin ini, lho~?"

"Hah?" Sasuke mengernyitkan alisnya.

Ino melepaskan pegangan tangan Sasuke. Ia kemudian mengacungkan kedua tangannya ke arah Sasuke yang membuat pemuda itu menatapnya tidak percaya.

"Memangnya kau bayi?"

"Gendong!" pinta—tepatnya perintah—Ino.

"Tidak."

Ino menggembungkan pipinya sebelum ia mendadak berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan.

"Sasuke-kun jahaaattt~!"

"Tsk." Sasuke menggelengkan kepalanya. Baru saja kemarin ia berpikir bahwa Ino tidak lagi sama dengan Ino yang dulu, yang merupakan penggemar gilanya. Apa mabuk membuat seseorang bisa menunjukkan sifat aslinya? Apa berarti, seperti inilah karakter Ino yang dipendam gadis itu?

Sasuke sudah hendak mengulurkan tangannya untuk mengangkat Ino. Tapi bersamaan dengan itu, kata-kata dari mulutnya meluncur lebih cepat dari tindakannya,

"Jangan bercanda, Ino. Cepatlah. Aku sudah mengantuk."

Rengekan Ino terhenti. Ia kemudian mengangkat wajahnya.

"Ketahuan, ya, kalau aku hanya bercanda?"

Sekali ini, justru Sasuke yang tampak terbelalak. Tangannya yang sudah terulur tampak membeku begitu saja. Apalagi setelah Ino bangkit dari posisi jongkoknya dan kemudian mengulet—mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menggerakkannya ke kanan dan kiri sedikit. Ia kemudian membuka mata dan mengerjap-ngerjap. Seulas senyum terpampang di wajahnya yang terlihat puas.

"Apa?" tanya Ino. "Kaupikir aku benar-benar mabuk, ya?"

"Ah … hm …."

Ino tertawa-tawa kecil. "Kautahu dong, kunoichi itu sering kali ditugaskan untuk mencari informasi. Kami menyusup, menemani para penjahat minum hingga mendengar informasi-informasi yang meluncur begitu saja dari mulut mereka. Kami cukup resisten terhadap sake, lho~!" jelas Ino bangga.

"Memangnya … informasi apa yang ingin kautahu dari kepala desa? Sampai berpura-pura mabuk segala?"

Ino menggaruk-garuk pipinya sambil tersenyum lembut.

"Tidak ada, sih, sebenarnya. Hanya untuk menghormati ajakannya saja. Ditambah sedikit kebiasaan untuk pura-pura mabuk."

"... Kau itu …."

"Lagi pula," Ino membungkukkan tubuhnya sedikit sementara matanya menatap langsung ke mata Sasuke tanpa keraguan, "dengan berpura-pura mabuk, aku bisa melihat dan mendengar banyak hal."

Sasuke lagi-lagi hanya bisa dibuat mengernyitkan alis dengan perasaan bingung. Ia benar-benar tidak bisa menerka apa yang tengah gadis Yamanaka ini pikirkan. Tidak ada perbuatannya yang masuk di akal Sasuke.

"Setidaknya, satu, aku tahu kalau kepala desa dan yang lain-lainnya tidak berbohong waktu mereka bilang bahwa mereka menerimamu. Dia benar-benar tulus. Kepala desa yang baik," ujar Ino lagi sambil mulai melangkah—meloncat-loncat kecil dan menyibakkan tanah di bawah kakinya. Ia tidak lagi mengobservasi Sasuke yang kini sudah beberapa langkah di belakangnya.

"Kedua, aku tahu kalau Sasuke itu ternyata bisa bersikap baik pada perempuan yang mabuk. Bahkan Sasuke nyaris saja mengikuti permintaan konyol untuk menggendongku, 'kan?" Sekali ini, Ino menengok ke arah Sasuke sembari menjulurkan lidahnya. Cahaya bulan dan penerangan samar dari rumah-rumah di sekitar mereka membantu Sasuke untuk melihat ejekan main-main yang Ino lontarkan padanya.

Sayang, penerangan samar semacam itu tidak cukup untuk membuat Ino menyadari pergerakan Sasuke. Tiba-tiba saja, pemuda itu sudah di belakangnya. Tanpa peringatan, tubuh Ino seolah terangkat dan begitu tersadar, ia sudah berada dalam gendongan Sasuke.

Mata biru Ino membulat. Terlebih, saat ia melihat Sasuke tersenyum menyeringai ke arahnya.

"Apa aku yang mabuk, ya, saat ini?"

"Sa—apa yang kaulakukan?" Wajah Ino tidak bisa bertahan lebih lama dengan warna aslinya—terganti oleh merah yang sedemikian rupa.

"Memangnya apa yang kulakukan? Rasanya aku hanya mengabulkan keinginan dari seorang perempuan yang berpura-pura mabuk yang ingin digendong?" Senyum Sasuke sudah kembali digantikan wajah datarnya. Ia pun sudah mulai berjalan kembali dengan membawa Ino dalam gendongannya.

"Apa—aku—hanya bercanda—aku bisa kook—" Ucapan Ino terhenti sampai di sana. Ia seakan tidak bisa berpikir. Bukan, meski ia pernah berharap, ia tidak pernah berpikir bahwa Sasuke akan mengabulkan keinginan main-mainnya. Apa Sasuke yang ia kenal memang seorang pemuda yang bisa diajak bercanda dan mencandainya balik? Waktu memang punya andil yang sangat mengerikan dalam perubahan seseorang, ya?

"Sasuke-kun …."

"Sudahlah, jangan berisik. Kau akan mengganggu orang-orang yang ingin beristirahat."

Ino tidak lagi mau berkata apa-apa. Ia memilih untuk kemudian memeluk leher Sasuke dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lengan.

Malam memang membuat pendengarannya menjadi berfungsi lebih baik dibanding ketika siang. Namun, Ino tidak mengerti. Pengaruh malamkah atau karena kedekatannya dengan Sasuke yang seolah membuatnya bisa mendengar detak jantung keduanya? Bahkan ia seolah bisa mendengar tarikan napas Sasuke dan dirinya sendiri.

Terlalu hening. Terlalu dekat. Terlalu … terlalu intim.

Berapa lama waktu sudah berlalu? Ino tidak ingat. Ia benar-benar kehilangan fokusnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, ia pun tidak sadar akan sekelilingnya. Bukan, bukan pengaruh sake. Ino bisa meyakinkan dirinya untuk hal yang satu itu.

Hingga, suara Sasuke dan pergerakan pemuda itu menyadarkan Ino.

"Kita sudah sampai."

Bersamaan dengan itu, Sasuke menurunkan Ino dari gendongannya. Ino pun kembali berdiri di atas kedua kakinya. Gadis berambut pirang itu masih berupaya untuk mengumpulkan kesadarannya. Sebelumnya, ia pernah digendong Sasuke, tapi dalam konteks yang berbeda. Sekali ini … yang dirasakannya adalah suatu penerimaan, keterbukaan dari seorang Uchiha Sasuke terhadap dirinya.

"Mau berdiri di sini sampai kapan? Kau tidak mau kembali ke kamar?"

Ino mengangkat wajah. Ia tidak tahu wajah apa yang ia tunjukkan saat ini. Ino hanya merasa bahwa otot-otot di sekitar bibirnya tertarik. Bahkan, susah sekali untuk menjawab pertanyaan Sasuke. Apa mendadak Ino kehilangan keberaniannya?

Tangan gadis itu terangkat ke wajahnya.

"Ahahahaha. Pasti pengaruh sake."

"Hm?" Sasuke memasukkan tangannya ke saku celana. "Kupikir, kau sendiri yang bilang kalau kau tidak mabuk?"

"Y-yaah …." Ino kemudian mengibaskan tangannya perlahan. "Sudahlah, aku mau tidur dulu, ya? Sampai besok, Sasuke-kun."

"Hmph. Maksudmu, pengaruh sake justru membuatmu menjadi lebih pemalu?" ujar Sasuke lagi sambil menyandarkan tubuhnya di depan pintu kamarnya sendiri. Sebuah seringai kembali ia tunjukkan. "Menarik juga."

Ino terdiam dengan bibir yang sedikit mengerucut. "Dan apa sake membuatmu menjadi cowok bawel yang suka berbicara?"

Sasuke hanya mengangkat bahu sebelum ia membuka pintu kamarnya sendiri. Namun, belum sampai ia benar-benar menghilang dalam kamarnya, Sasuke kembali berkata,

"Kalau ternyata hanya karena digendong saja kau sudah salah tingkah, bagaimana kau bisa membantuku membangkitkan keluarga Uchiha lagi nanti?"

"Hah?"

"Selamat malam, Ino."

Setelah itu, Ino yang hanya bisa menerka-nerka mengenai kata-kata terakhir Sasuke berakhir dengan wajah yang kembali memerah. Bahkan, malam itu ia jadi kesulitan untuk tidur!

o-o-o-o-o

Pagi itu, Ino seolah menemui seseorang yang berbeda. Wajah yang kaku dan datar, tanpa ekspresi sebagaimana biasanya menjadi yang pertama ia lihat dari seorang Uchiha Sasuke. Ah, bukankah justru ini Sasuke yang ia kenal? Pasti yang kemarin memang hanya mimpi. Atau pengaruh sake. Yang mana pun, intinya sama saja: Tidak nyata.

Haaa~ rugi aku memikirkannya sepanjang malam sampai tidak bisa tidur, keluh Ino dalam hati.

"Ino-nee kenapa? Kurang tidur?" sapa Koroppu yang sudah tampak siap untuk bekerja. Ia mengenakan kaos tanpa lengan dan melilitkan kain di sekitar lehernya yang kemudian berkibar-kibar setiap ia bergerak.

"Eh? Tidak, tidak, kok!" Ino mengacak-acak rambut Koroppu. Ia kemudian mengangkat tangannya. "Ayo, hari ini juga yang semangat, ya! Hari ini hari terakhir kami, lho!"

"Eeeh?" seru beberapa anak-anak di situ.

"Ka-kalian sudah mau pergi lagi?" tanya Koroppu sedikit tidak percaya. "Cepat sekali?" rengeknya.

"Masih banyak yang harus kami lakukan," jawab Sasuke. "Masih banyak desa yang harus kami bantu."

Beberapa anak di sana langsung menundukkan kepalanya. Beberapa di antara mereka ada pula yang mencengkeram bajunya erat-erat. Sasuke dan Ino saling bertukar pandang sebelum Sasuke menghela napas dan Ino tersenyum lembut.

Ino kemudian berjongkok di depan salah seorang gadis kecil yang ia kenali bernama Rika dan dipanggil Ricchan—salah satu dari anak yang ia selamatkan. Ditepuknya kepala Ricchan dengan lembut.

"Terima kasih, ya, atas penerimaan kalian yang begitu baik." Ino memulai. "Semoga nanti kami bisa mengunjungi kalian lagi setelah semua tugas kami sudah selesai."

"… Janji?" Ragu-ragu, Ricchan bertanya. Gadis kecil itu kemudian mengangkat jari kelingkingnya

Ino terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk dan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Ricchan. Wajah Ricchan saat itu tampak menggembung seolah menahan tangis. Dengan cepat, sebelum air matanya mengalir, Ricchan kemudian menyambar dan memeluk Ino di lehernya.

Sementara itu, Mune dan Koroppu tampak berhadap-hadapan dengan Sasuke. Tidak ada pelukan, tidak ada ucapan yang mengharu-biru. Mungkin mereka menahan diri.

Namun, kemudian, Koroppu melepaskan kain yang saat itu ia kenakan sebagai jubah.

"Jubah ini adalah perlambang pahlawan." Bocah itu kemudian memegang tangan Sasuke dan melilitkan jubahnya yang berwarna merah mencolok itu ke pergelangan tangan Sasuke, kemudian mengikatnya. "Sasuke-nii adalah pahlawan bagi desa ini."

Sasuke tidak dapat menahan diri untuk tidak terbelalak. Mune kemudian menambahkan,

"Kapan pun Sasuke-nii butuh tempat untuk berlindung atau sekadar beristirahat, datanglah ke Koyubigakure." Mune kemudian bertukar pandang dengan Koroppu dan kemudian keduanya mengangguk. "Kami pasti akan menyambut kedatangan Sasuke-nii dan Ino-nee."

Sasuke tidak dapat menyembunyikan senyumnya—meski tipis.

"Terima kasih."

Dari tempatnya, Ino pun tidak luput melihat senyum Sasuke. Gadis itu merasa lega—juga bersyukur untuk Sasuke. Ada yang menerima Sasuke sebegitunya, bukan hanya ia dan beberapa penduduk Konoha. Ino tidak tahu, apa yang akan mereka hadapi di desa selanjutnya; penerimaan ataukah penolakan? Namun, perjumpaan dengan penduduk Koyubigakure seolah membangkitkan rasa optimisnya.

"Baiklah," ujar Ino tiba-tiba sembari bangkit berdiri dari posisi jongkoknya. "Ayo kita mulai bekerja!"

"OOOOSSHH!"

Dengan itu, anak-anak desa Koyubi langsung berhamburan. Tinggallah Sasuke dan Ino beberapa langkah di belakang mereka. Saat Ino hendak menyusul anak-anak tersebut, Sasuke mendadak menahan tangannya.

Sesaat keduanya hanya berpandangan sampai Ino memecah kebisuan sementara tersebut.

"Ada apa, Sasuke-kun?"

Mulut Sasuke sudah hendak terbuka, tapi kemudian tertutup kembali, sebelum diganti dengan sebuah senyuman.

"Untukmu juga … terima kasih."

Bersamaan dengan itu, Sasuke melepaskan tangannya dan berjalan melewati Ino begitu saja.

Dan Ino?

Dalam kekakuannya, gadis itu kembali berpikir bahwa penampakan Sasuke yang tersenyum barusan adalah kelanjutan dari mimpinya kemarin!

(Walau Ino tidak bisa benar-benar tidur kemarin.)

***つづく***


Pengakuan: sa-sa-saya nyaris beberapa kali mau bikin Sasuke dan Ino kissing di chapter ini. Tapi … tertahan untuk satu dan beberapa penyebab. Jadi … sabar, yaa~! Wakakakaka! X"D

Oke, ayo balesin review yang masuk untuk chapter kemarin :3

INOcent Cassiopeia: a-aku lupa loh kalau genre ff ini tuh romance. Wkwkwk. Love you too ;*

lastri nara: pasti lanjutt dooong, tenang. Makasih ripiunya :3

Rei: yup!

xixi: oke!

Kay Yamanaka: ini lanjutannya, met menikmati~ :D

uchihakhamya: tenang, masih berlanjut kok :))

MysteriOues Girl: aaa, makasih juga udah mau baca :"") pastinya si Sasuke jadi OOC karena dia amnesia, nggak inget dendamnya, semacam diubah circumstance, jadi pembawaannya juga agak berubah. Lebih ... soft kali ya? Tapi moga-moga OOC-nya nggak ganggu :""))

Yamaguchi Akane: betul, karena Masaru tipe ninja analisis :D Hihihi, thaaaanks udah suka Pojok (Sok) Gahoel-nya, kamu yang pertama nyinggung soal PSG. Huhuhu *terharu*

kuroba: ini nggak lama, kan? Tapi selanjutnya ... nggak tahu deh. Ehehehe :""3

vaneela: yoaai, doi kan diam-diam kerja sambilan jadi wartawan tipi gosip. :P amiiin untuk semua doanya bagi Sasuke dan Ino, semoga Vanee-chan yang mendoakan diberikan berkah yang sama (?)

yudi: siap!

amay: ehehehe, sippo. Sabar, yak, untuk romance-nya~

Yap. Sekian balesan ripiu-ripiunya. Seperti biasa juga, buat yang silent reader (kalau ada), buat yang udah nge-fave dan nge-alert juga, terima kasih yang sebesar-besarnya yaaa! *hug you all*

Moga-moga chapter ini tidak mengecewakan, yaa~. D":

Last but not least, jangan lupa beritahukan pendapat, pesan, kesan, kritik minna-san tentang chapter ini via review. Okay, okay? XD

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie.

~Thanks for reading~