Disclaimer:
Naruto : Masashi Kishimoto
High School DxD : Ichiei Ishibumi
.
.
.
My Husband From The Last
By Hikasya
.
.
.
Chapter 9. Tentang iblis
.
.
.
Koneko terbangun ketika mendengar suara dentingan pedang. Ia melihat ke pemuda yang sedang berlatih pedang, jauh darinya.
"Ah, selamat pagi, Naruto-kun."
Mendengar suara Koneko, Naruto menghentikan latihannya.
"Ya, selamat pagi. Kau baru bangun rupanya."
"Hn. Kau tidak berangkat ke sekolah?"
"Tidak."
"Jika kau tidak pergi ke sekolah, bagaimana reaksi Asia dan lainnya?"
"Urusan itu, biar dua kloning-ku yang mengatasinya."
"Eh? Maksudmu?"
"Ya. Mereka menyamar jadi kita berdua."
"Sudah kuduga."
Koneko berwajah datar. Ia menyibak selimut yang membungkus tubuhnya. Bangun dan bergegas menghampiri Naruto.
Naruto menyambutnya dengan senyuman. Koneko membelit pinggangnya.
"Kau telah kembali menjadi dirimu yang dulu, Koneko-chan."
"Ya."
"Berarti kau ingat dengan semua jurus pedang yang aku ajarkan padamu?"
"Ingat."
"Syukurlah."
"Kapanpun itu, aku siap untuk bertarung lagi."
"Tapi, kau sedang hamil. Jangan memaksakan dirimu untuk bertarung."
"Aku tahu itu, tetapi aku tidak akan membiarkan kau dan Tousan untuk menghadapi mereka. Aku seorang Dewi Bumi, tentunya tidak akan terluka sedikitpun karena ada Matatabi yang akan melindungiku."
"Itu benar, tetapi aku tidak ingin kau terlibat. Keselamatanmu dan calon anak kita yang paling utama bagiku. Karena itu, kau tetaplah menjalani kehidupan normal tanpa pertarungan sampai kau melahirkan anak kita."
"Aku mengerti. Baiklah, Naruto-kun."
Koneko menengadah, menatap wajah Naruto. Ia melonggarkan pelukan dan menebarkan pesona cinta dengan senyuman manis.
Naruto juga tersenyum seraya memegang pucuk rambut Koneko. Tinggi badan Koneko sebatas dadanya.
"Ya sudah, kau mandilah dulu. Aku akan membelikan sarapan untukmu. Kali ini, kau mau apa?"
"Aku ... mau..."
Jeda sesaat, Koneko berpikir. Naruto sabar menunggunya.
Kemudian Koneko meneruskan perkataannya.
"Aku mau makan makanan yang manis-manis."
"Oh. Baiklah. Aku akan membelikannya untukmu."
"Jangan lupa, susu juga ya."
"Iya."
"Ayo, pergi sana!"
"Bagaimana aku mau pergi? Kau masih memelukku begini."
"Ah, aku lupa."
Koneko cepat melepaskan Naruto. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Menunduk malu.
Sikapnya sangat membuat Naruto terpikat. Karena itu, Naruto tidak pernah berhenti untuk mencintainya, meskipun banyak gadis yang menembak Naruto selama tiga bulan ini.
Naruto memegang dagu Koneko agar ia bisa menatap wajah imut Koneko. Ia tidak sabar ingin mewujudkan keinginannya.
Ciuman mesra terjadi lagi.
Naruto menjauhi Koneko seraya memasukkan Sword Of Eden ke dadanya. "Aku pergi dulu, Koneko-chan."
Koneko mengangguk. "Ya."
"Nanti kita lanjutkan lagi."
Naruto tersenyum. Ia menghilang sekejap mata. Meninggalkan Koneko yang memejamkan mata.
Koneko masih merasakan lembutnya ciuman Naruto yang membekas di bibirnya.
.
.
.
Tiba di ruang klub, Naruto dan Koneko langsung dihujani pertanyaan ala wartawan dari Issei, Asia, dan Akeno. Sementara Rias menepuk jidatnya dan Kiba tersenyum hambar.
"Hei, hei, hentikan! Bagaimana kami bisa menjawab pertanyaan kalian itu?" sergap Naruto seraya mengangkat tangan seperti penjahat yang menyerah pada polisi.
"Iya," sahut Koneko mengangguk cepat.
"Maaf," ucap Asia.
"Habisnya kami mengkhawatirkan kalian," kata Akeno.
"Jadi, kalian pergi kemana sekarang?" tanya Issei.
Naruto dan Koneko bertukar pandang. Mereka bingung harus menjawab apa. Kemudian Naruto langsung mengatakan apa yang terlintas di otaknya.
"Kami ... kemarin, ada urusan mendadak sehingga harus pergi ke luar kota."
"Urusan mendadak apa, Naruto?"
"Urusan membicarakan tentang pernikahan kami, Akeno-senpai."
"Oh."
Akeno, Issei, dan Asia membulatkan mulut seperti huruf o. Naruto tersenyum. Koneko memilih diam.
"Begitu ya?" Rias datang mendekati Naruto dan Koneko, "Jadi, kapan kalian akan menikah?"
"Setelah lulus sekolah, Buchou." Koneko ikut menjawab.
"Ara, ara, selamat ya!" Akeno bertepuk tangan.
"Iya. Benar, kan, Asia?" Issei juga ikut bertepuk tangan sembari menyenggol bahu Asia dengan bahunya.
"Ya. Selamat ya buat kalian berdua, Naruto, Koneko." Asia tersenyum.
Semuanya bertepuk tangan kecuali Naruto dan Koneko yang tersenyum.
Sesudah itu, mereka duduk di sofa yang berbeda. Rias membicarakan sesuatu yang penting dengan para anggotanya.
"Semuanya, dengarkan aku. Ini masalah yang sangat serius."
"Apa itu, Buchou?"
"Ini mengenai ... kami para iblis, Naruto."
"Lalu?"
"Dia ... Dewa Kegelapan telah melenyapkan keluarga Phenex. Kau tahu 'kan tentang Ravel Phenex, Naruto?"
"Ya. Aku tahu dia dari Koneko-chan."
"Ravel juga mati sekarang. Berikutnya para iblis yang terdeteksi akan dimusnahkan. Ini karena masalah yang terjadi di masa lampau."
"Masalah apa?"
Naruto penasaran. Koneko dan Asia turut memikirkan apa yang dipikirkan Rias. Rias seorang iblis yatim piatu, terdiam sebentar.
Hening.
Waktu terus berlalu. Hingga suara Rias memecahkan kesunyian di tempat itu.
"Kami para iblis, dulunya pengikut setia Dewa Kegelapan. Tapi, beberapa dari kami, menentangnya dan mencoba melepaskan diri darinya agar tidak melakukan keonaran lagi di Bumi. Kemudian kami diam-diam pergi dari tempatnya yaitu di dunia bawah, menyamar menjadi manusia biasa agar bisa berbaur dengan manusia. Ada di antara kami yang ketahuan melarikan diri, dimusnahkan Dewa Kegelapan dari ketiadaan."
Semuanya terdiam. Rias tidak sanggup meneruskan ceritanya. Ia menunduk seraya menyembunyikan ekspresi wajah yang sebenarnya.
Naruto mengerti itu. Ia turut merasakan apa yang dirasakan Rias. Lalu Akeno yang mewakili Rias.
"Keluarga Buchou, juga tidak ada lagi karena dimusnahkan Dewa Kegelapan sejak dua tahun yang lalu. Kalau dibiarkan, kami juga menjadi target berikutnya. Siapapun tidak bisa melawannya kecuali Dewa Matahari yang memegang Sword of Eden," ungkap Akeno yang berwajah kusut
"Ya. Dewa Matahari yang diceritakan karangan novelis zaman Heian, Jiraiya," tambah Asia.
"Tidak mudah untuk mencarinya," tukas Issei.
"Benar," pungkas Kiba.
"Begitu ya." Naruto berwajah kusut.
Koneko tetap terdiam. Ia melirik Naruto. Memberikan sebuah isyarat lewat gerakan mulut. Naruto pun mengerti dengan isyarat Koneko.
Tidak ada yang berbicara lagi sampai bel masuk berbunyi.
.
.
.
Di gua saat ini, Koneko duduk berdiam sambil menonton Naruto yang berlatih berpedang. Suara dentingan pedang menggema keras hingga mengagetkan kelelawar-kelelawar yang menghuni gua.
"Naruto-kun, buat apa kau berlatih lagi? Kau 'kan sudah kuat."
"Ya, aku ingin menjadi lebih kuat lagi dari Dewa Kegelapan itu. Waktu itu, aku kalah saat melawannya karena tidak menggunakan Sword of Eden. Apa lagi anak kita dijadikan sandera olehnya. Jadi, aku ingin mengalahkannya kali ini dan tidak membiarkan dia mempunyai keturunan lagi."
"Benar. Tapi, masa lalu biarlah berlalu. Kita sudah mempunyai anak lagi sekarang. Aoshi dan Haruki akan kembali pada kita. Saat itu tiba, aku ingin kita meneruskan kehidupan kita dengan damai. Tanpa ada pertarungan lagi."
Naruto berhenti berlatih. Ia menancapkan ujung pedang emas ke tanah. Menghampiri Koneko yang duduk beralaskan tikar sederhana.
Ia berlutut di depan Koneko. Menatap mata emas itu lekat-lekat.
"Kau benar."
"Aku ingin secepatnya kau menemukan di mana Dewa Kegelapan itu bersembunyi sekarang. Jangan menunggu dia datang lagi untuk mengganggu manusia."
"Baiklah."
Naruto mengangguk sembari tersenyum. Ia mengelus perut datar Koneko yang terhalang baju kaos merah muda. Ingin memberikan sinyal cinta seorang Ayah pada sang buah hati.
"Haruki atau Aoshi. Mungkin juga dua-duanya yang lahir. Aku ingin melihat mereka tumbuh besar hingga menikah nanti."
"Aku juga."
Seulas senyum terukir di wajah gadis berambut putih itu. Naruto menatapnya sangat lama. Wajah Koneko memerah.
"A ... ada apa?"
"Kita lanjutkan lagi."
"A ... apanya?"
"Ini."
Naruto hendak mencium Koneko, tetapi Koneko buru-buru menutup mulutnya karena merasa mual. Lantas ia langsung pergi menuju ke luar gua.
Di sana, luar gua, ia muntah-muntah. Perasaannya tidak enak. Efek kehamilan muda membuatnya lemah.
Naruto khawatir, segera menghampiri istrinya. Ia merangkul bahu Koneko dari samping.
"Kau tidak apa-apa, Koneko-chan?"
"Sedikit mual."
"Kalau begitu, kau istirahat dulu."
"Iya."
Naruto membimbing Koneko berjalan dengan hati-hati. Ia membaringkan Koneko dan menyelimuti Koneko dengan kain yang tebal.
"Kau mau minum?"
"Iya."
"Tunggu sebentar."
Naruto mengambil air dari cerek yang terletak di batu berbentuk meja. Kemudian ia memberikan segelas air putih untuk Koneko.
Koneko meminum air itu sampai tandas. Naruto senang melihatnya.
"Terima kasih, Naruto-kun."
"Ya. Sekarang tidur ya. Aku mau berlatih pedang lagi."
"Iya."
Koneko mengangguk patuh. Ia berbaring lagi seraya menarik selimut hingga sebatas dada. Naruto menatapnya lembut.
"Maaf, karena kau tidak bisa menciumku sekarang karena aku merasa mual."
"Aku tahu itu. Di sini, bisa kulakukan."
Naruto mencium kening Koneko. Koneko memejamkan matanya.
Usai itu, Naruto perlahan meninggalkannya karena Koneko sudah tertidur.
.
.
.
Malam tiba lagi. Keadaan dunia masih aman juga. Sesekali kloning Naruto datang melapor pada Naruto sehingga Naruto bisa mengetahui keadaan yang terjadi sekarang.
Dua kloning Naruto yang menyamar menjadi Naruto dan Koneko, kini tinggal bersama Asia. Mereka berakting dengan baik sehingga tidak ada yang mengetahui bahwa mereka bukanlah Naruto dan Koneko yang sesungguhnya.
Hawa dingin menyelimuti luar gua sana. Naruto membuat api unggun untuk menghangatkan keadaan. Koneko menggosok-gosokkan dua tangannya agar bisa menciptakan kehangatan untuk mengusir rasa dingin yang menyerang kulitnya.
"Brrr ... Dingin sekali, Naruto-kun." Koneko bersandar di dinding gua.
"Ya. Tidak lama lagi, musim gugur akan tiba." Naruto selesai membuat api unggun.
"Benar."
Cahaya terang dari api unggun meluas ke seluruh sudut gua. Sehingga sekitar api unggun terasa cukup hangat.
Naruto menghampiri Koneko. Ia memegang kedua bahu Koneko. Tatapannya pun beradu dengan mata emas itu lagi.
"Kau merasa dingin, kan?"
"Iya."
"Ayo, hangatkan badanmu dulu!"
Naruto menarik tangan Koneko untuk menghampiri api unggun. Mereka duduk berdekatan. Naruto merangkul bahu Koneko dari belakang.
Kandungan Koneko sudah menginjak lima bulan sekarang. Perutnya sedikit membesar. Pergerakan janinnya sudah terasa.
Menurut Minato yang beberapa kali mengunjungi pasangan suami-istri itu, Koneko akan melahirkan Haruki terlebih dahulu. Bukan anak kembar lagi sebagaimana di masa lalu itu.
Karena itu, Naruto menjaga Koneko lebih ketat lagi. Ia tidak ingin Koneko mengalami bahaya selama mengandung Haruki.
Kepala Koneko bersandar di bahu kanan Koneko. Ia menatap api unggun yang bergerak tidak beraturan. Ada bayang-bayang keluarganya yang telah tiada, muncul di api unggun itu.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Fic ini akan tamat di chapter 15 aja.
Tunggu aja kelanjutannya ya.
Untuk fic-fic lainnya, saya juga usahain lanjut. Tunggu aja. Oke?
Kamis, 4 Juli 2019
