Kyungsoo membaringkan kepalanya di atas meja bar. Menatap lekat-lekat pintu masuk. Akankah dia datang? Akankah Kai datang? Sial, memang ia menelpon pria itu tapi ia tidak berpikir bahwa Kai akan langsung menanyakan keberadaannya lalu menutup panggilannya secepat itu. Semua pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika ia melihat Kai datang. Sesaat Kyungsoo bisa memerhatikan penampilannya. Rambutnya berantakan, ia datang menggunakan kaos dan celana jeans yang sangat pas dikenakannya.

Ketika mata Kai menemukannya. Mata Kyungsoo seolah terkunci. Setengah sadar, ia melihat Kai yang datang menghampirinya dengan napas terengah dan tak tau malunya Kyungsoo langsung bangun untuk meraih lengan Kai mendekat. Sayangnya, kaki Kyungsoo seolah melemas tak bisa menahan tubuh dirinya sendiri. Kepalanya berputar, perutnya begejolak membuat ia kehilangan kendali dirinya. Kyungsoo berpikir ia akan jatuh namun Kai telah lebih dulu menahan tubuhnya. Ia merasa mual, dengan tidak sopannya muntah pada tubuh Kai yang tengah menopang tubuhnya yang lemas.

'Akh!'

Kyungsoo bisa mendengar pekikan pria itu. Namun Kyungsoo tidak sempat untuk mengucapkan permintaan maaf karena pada akhirnya ia telah jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Kai. Ia menutup matanya ketika kelegaan itu datang. Kai masih disana, memeluknya dan menahan tubuhnya kuat-kuat. Pijatan lembut di pundaknya membuat ia semakin merasa nyaman. Sebuah kelembutan yang membuatnya semakin menutup matanya.

Sekilas ia mendengar suara desahan napas Kai sebelum ia berucap dengan suara lirih.

"Kau membuatku cemas."

Kyungsoo semakin tenggelam dalam dekapan Kai. Terlalu nyaman untuk ia tinggalkan. Bahkan aroma tubuhnya semakin membuat Kyungsoo menghilang. Lebih memabukkan daripada wisky yang ia minum. Tanpa sadar Kyungsoo mencengkram kuat lengan Kai. Sedikit berbisik ketika lengan Kai berusaha melepaskan cengkramannya.

"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Bisik Kyungsoo. Saat itu Juga kesadaran Kyungsoo sepenuhnya menghilang.

Hanya itu yang bisa Kyungsoo ingat. Ia mengumpat di dalam hatinya karena telah berkata dan bertindak bodoh di hadapan Kai. Apa pria itu akan marah kepadanya? Baiklah, seperti yang dikatakan Suho. Ia hanya perlu mengucapkan permintaan maaf dan terima kasih. Namun sialnya, Suho tak ingin mengantarnya pergi. Ia beralasan memiliki kesibukan di kantor sebelum mengambil libur Chuseok lebih awal. Apa hanya dia saja yang butuh liburan? Kyungsoo pun membutuhkannya.

Ketika ia sampai di studio. Tanpa pikir panjang Kyungsoo langsung turun dari mobilnya. Menerobos hujan yang tengah turun siang ini. Tidak peduli dengan teriakan sopir yang memanggilnya. Kyungsoo melesat masuk, menghiraukan bahwa sopir itu masih menunggunya atau tidak. Ia terlalu malas untuk mengatur karena di kepalanya kini dipenuhi oleh beribu-ribu alasan saat ia bertemu Kai nanti.

Ia menyusuri setiap lorong studio seorang diri. Menuju ruangan yang biasa ia pakai untuk latihan bersama Kai. Kyungsoo yakin pria itu berada disana—harapnya. Kyungsoo tak memiliki jadwal hari ini, dan Kyungsoo berharap Kai memang ada disini; sedang tidak melatih dancer lain. Kalaupun ada, itu lebih baik. Mungkin ia akan sedikit menunggu menyiapkan kata-kata yang pas untuk permintaan maafnya nanti.

Ketika Kyungsoo menemukan sebuah pintu ruangan yang terbuka lebar. Kyungsoo semakin memantapkan langkahnya. Ia sedikit menengok keadaan di dalam. Namun ekspresi kecemasan berubah menjadi sebuah kebingungan. Kosong dan berantakan. Apa yang telah terjadi dengan ruangan ini?

"Apa aku harus bertanya apakah aku telah membuat jadwal yang salah?"

Kyungsoo tersentak. Ia berbalik dan memundurkan tubuhnya. Terkejut karena secara tiba-tiba Kai telah berada di belakang tubuhnya. Pria itu mengernyit dan beberapa detik kemudian terkekeh menertawakan tingkah Kyungsoo.

"Kau baik-baik saja? Alkohol itu tidak membuatmu hilang ingatan kan?" Lanjutnya diselingi tawa membuat Kyungsoo menggeram seketika. Sial, Kai malah menertawakannya.

Kai langsung masuk, membiarkan Kyungsoo yang masih diam di ambang pintu. Sebenarnya dia malu menemui Kai, tetapi melihat sikap pria ini membuat Kyungsoo ingin mencekiknya. Kyungsoo melangkah masuk mengikuti Kai. Nah, sekarang apa yang harus ia katakan?

"Setelah meninggalkan New York, kupikir kau berhenti minum," Kai berbalik dan menatap lekat Kyungsoo. "Apa yang tengah kau pikirkan hingga memilih mabuk seperti itu?"

"Kenapa kau ingin tahu?" ketus Kyungsoo. Ia melemparkan tatapannya. Ia terlalu malu ditatap Kai seperti itu.

Kai mendesis. "Apa kau memiliki masalah dengan tunanganmu itu?"

"Jangan bicarakan dia." Kyungsoo menggeram karena tiba-tiba Kai membahas tentang tunangannya. Tentu saja bukan Chanyeol.

"Oh.. jadi kau benar-benar memiliki masalah dengannya. Kenapa malah menghubungiku?"

"Sudah kukatakan bukan dia!"

"Lalu siapa?"

"Kau!" Tegas Kyungsoo melirik dan menatap Kai tajam.

Kai menaikkan satu alisnya tak mengerti. Sontak Kyungsoo langsung mengangkat satu lengannya. Menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Kyungsoo seolah membeku secara tiba-tiba saat ini. Ditambah tatapan Kai yang begitu sangan intens.

"Aku?"

Kyungsoo langsung menundukkan wajahnya. Tidak ingin menatap Kai lagi. Ia mencoba mengalihkan pembicaaarannya namun tidak ada satupun bahasan yang bisa ia tangkap. Pikirannya dipenuhi oleh Kai. dan semakin lama semakin kacau, membuat ia tidak bisa berpikir apa-apa lagi.

"A.. aku.. aku.." Sial kenapa ia menjadi tergagap?

"Jika masalahnya ada padaku, maafkan aku." Balas Kai. Kyungsoo tersentak. Tunggu kenapa Kai yang kini meminta maaf kepadanya. Kyungsoo mengangkat wajahnya dan menemukan Kai yang tengah membereskan beberapa pakaian yang tercecer di dalam ruangan latihan miliknya.

Belum Kyungsoo membuka suaranya untuk menyangkal, Kai telah kembali berbicara. "Mulai hari ini hingga lima hari ke depan studio akan libur. Itu berarti kau tidak perlu latihan hingga pekan depan." Kai meraih tasnya siap memakainya. Ia berbalik dan memberi salam secara hormat dan sopan kepada Kyungsoo. "Selamat menikmati hari libur chuseok, Kyungsoo."

Kyungsoo terpaku. Ucapan apa itu? Apa ia telah benar-benar membuat kesalahan kepada Kai kemarin malam. Kesalahan selain muntah itu? Ia tidak mengerti. Beberapa hari kemarin Kai begitu sangat berbeda. Tidak seperti Kai yang ia kenal di New York dulu. Kai benar-benar tengah menghindarinya. Bahkan Kai melangkah melewatinya tanpa sedikit pun berniat menatapnya. Entah kenapa hatinya kini terasa sesak.

Kyungsoo berbalik dan memanggil Kai. mencegah pria itu untuk keluar dari ruangan ini.

"Apa aku telah membuat kesalahan? Kesalahan yang sangat besar?" Tanya Kyungsoo. Tak bisa lagi menahan rasa penasarannya akan sikap Kai saat ini. Kai menoleh namun pria itu sama sekali tak mengatakan apa-apa.

"Oke, maafkan aku, kemarin malam aku telah melakukan sesuatu yang menurutmu mungkin sangat menjijikan! Tapi aku benar-benar tak sengaja. Dan maafkan aku telah merepotkanmu. Aku datang kesini untuk meminta maaf dan berterima kasih padamu," jelas Kyungsoo. "Aku tidak tahu, entahlah.. tapi kenapa kau seolah menghindariku?"

Kai masih tenang disana. Menatap Kyungsoo dengan tatapan begitu dingin. Bahkan Kyungsoo bisa melihat perubahannya dengan jelas. Mata ramahnya menghilang digantikan tatapan dingin yang tak bersahabat. Ia sama sekali tak bersuara dan Kyungsoo tak tahu lagi harus mengatakan apa. Semakin lama pikirannya semakin kacau.

"Tolong jelaskan.. jelaskan apa kesalahanku."

"Kau tidak memiliki kesalahan apapun, Kyungsoo," akhirnya Kai membuka suara. "Kau sama sekali tidak melakukan kesalahan. Semua kesalahannya ada padaku."

"Apa?" Kyungsoo tak bisa lagi menyembunyikan kebingungannya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kai.

"Saat di New York, pertama kali kita saling mengenal. Aku sadar bahwa seharusnya aku tak mengenalmu. Aku telah melewati batas."

Kyungsoo masih tercenung mendapatkan pernyataaan tak terduga dari Kai. Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba saja melemas. Ia menatap Kai sendu, sebaliknya tatapan pria itu kian menajam.

"Aku merasa telah kehilangan Kai yang dulu mengagumiku." Bisik Kyungsoo.

"Karena tak seharusnya kau merasakan hal itu." Balas Kai tak kalah dingin dari sebelumnya.

Hati Kyungsoo seolah tertusuk. Jantungnya berdebar melemah dan ia tidak tahu apalagi yang harus ia katakan. Ia tidak mengerti situasi macam apa saat ini. Kyungsoo masih mempertahankan tatapannnya. Mencoba mencari petunjuk apa pria itu jujur dengan yang dikatakannya. Namun Kyungso tak bisa mengatakan apa-apa. Sebaliknya, tatapan Kyungsoo yang kini kian kosong.

"Apa kau masih menyukaiku?" Entah kenapa pertanyaan itu terlontar begitu saja.

"Aku masih menyukaimu, aku menyukai suaramu. Hanya itu."

"Hanya itu?" Tanya Kyungsoo kecewa.

"Memangnya apa yang kau harapkan?" Tanya Kai datar.

Kyungsoo tercekat. Apa maksudnya? Kyungsoo merasa seperti mendapatkan tusukan di hatinya. Ia terhenyak dan entah kenapa tiba-tiba saja matanya berubah memanas. Kyungsoo mencoba bertahan. Menatap Kai dengan lekat.

"Kau membuatku bingung Kai."

Kai menggeleng. "Tidak, kau yang membuat dirimu sendiri bingung," bisiknya.

Kyungsoo menatapnya lekat. Ekspresi wajah Kai kini berubah dingin. Entahlah, itu semakin membuat perasaannya seolah diledakkan. Apa yang Kai maksud? Tentu saja semua ini berawal darinya. Ia tidak bisa bertahan lama.

"Sepertinya aku telah salah paham, aku harus segera pergi. Terima kasih." Kyungsoo langsung melangkah menjauhi Kai.

Kyungsoo sebisa mungkin menahan kemarahannya. Tidak peduli bahwa hujan masih turun, saat ini ia ingin pergi meninggalkan studio ini. Bodoh. Tak seharusnya ia mengatakan hal itu sejak awal, ia harus pergi.

Ketika Kyungsoo hendak membuka pintu saat itu juga tangan Kai telah lebih dulu menariknya membuat ia tersentak berbalik. Kyungsoo menatapnya marah meski tatapan Kai mulai melembut tak sedingin sebelumnya.

"Ya, aku menyukaimu!" Tegas Kai. Kyungsoo menatapnya lekat-lekat. Menunggu apa yang akan dikatakan kai selanjutnya. "Lebih dari menyukaimu. Aku mencintaimu," bisik Kai lagi.

Jantung Kyungsoo terasa berhenti berdetak saat itu juga. Ia tak percaya dengan apa yang disampaikannya saat ini. Mencintainya? Sungguh? Kyungsoo hendak membuka suaranya ketika Kai telah lebih dulu memotong ucapannya.

"Aku mencintaimu, tapi aku sadar itu salah."

"Apa?"

"Aku tidak bisa mencintaimu. Ada dinding tak kasat mata yang membatasi kita. Aku tidak bisa melewatinya hanya untuk bisa menggapaimu. Kau mengerti?" Kyungsoo membuka mulutnya namun ia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Lidahnya terasa kelu, tak tahu apa yang akan dikatakannya. "Bahkan aku takut untuk melangkah lebih dekat padamu. Coba aku ingin bertanya, apa kau akan membenciku bila aku menciummu? Aku mencium gadis yang telah dimiliki lelaki lain." Tekannya.

Seketika Kyungsoo sadar. Ia telah melewati batas keinginannya. Tiba-tiba wajah Chanyeol terbayang di pikirannya. Chanyeol, dan ia telah bertunangan. Kyungsoo mulai meneteskan air matanya. Selain itu ia semakin merasakan cengkraman tangan Kai pada pergelangan tangannya kian kuat.

"Aku akan bertanya, jika aku mendobrak dan menghancurkan dinding itu apa kau akan bahagia? Bagaimana dengan keluargamu? Sadarlah bahkan aku bukan siapa-siapa!"

"Kai.."

"Jangan memberi sebuah harapan yang membuatku nekad untuk menghancurkan dinding itu. Tuan Putri.. bahkan bila aku adalah pangeran berkuda, sengaja datang untuk menyelamatkanmu yang terkurung di atas menara. Aku tidak akan pernah bisa mendapatkanmu."

Kyungsoo menahan napasnya. Mereka saling menatap dalam satu sama lain. Kyungsoo dengan ketidak percayaannya dan Kai yang mencoba menahan emosinya. Tiba-tiba Kepala Kyungsoo mendadak pening. Ia menundukkan wajahnya untuk menghindari tatapan Kai. Ia menggeleng perlahan, ia tidak mengerti. Situasi macam apa ini?

"Jawablah pertanyaanku, kini apa kau menyukaiku?"

"A..aku.." Kyungsoo tergagap, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Semakin Kyungsoo ingin membuka suaranya. Tenggorokkannya terasa sakit membuat ia tercekat. Kyungsoo bahkan tidak bisa bernapas dengan normal saat ini.

Kai sendiri mencoba menahan emosinya untuk tak meluap-luap. Ini yang ia takutkan. Bukan salahnya membuat gadis ini bingung. Sejak awal, sejak ia bertemu dan mengenal lebih dekat dengan Kyungsoo. Ia tidak pernah berpikir bahwa perasaannya akan ikut berubah dari rasa kagum menjadi rasa cinta. Semuanya terlalu mustahil ketika ia sadar bahwa ia bukanlah siapa-siapa bagi Kyungsoo. Malam itu, di New York. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu lebih jauh, karena inilah akhirnya. Kai berpikir setelah dua tahun berlalu, perasaannya akan segera berubah. Ternyata tidak. Kai malah semakin jatuh untuk mencintai gadis yang selama ini ia kagumi.

Menunggu dan menunggu. Kyungsoo masih tak menjawab semua pertanyaannya dan itu semakin membuat Kai jengah. Kai langsung menarik lengan Kyungsoo hingga tubuhnya tersentak mendekat. Dengan gerakan cepat, Kai mendaratkan bibirnya untuk mencium bibir Kyungsoo. Sangat dalam, namun ia menciumnya selembut mungkin. Ia tidak bisa bertahan lagi. Sekali ini, ia ingin menyampaikan perasaan yang selama ini ia tahan. Gadis itu sama sekali tak bergerak, bahkan tak membalas ciumannya. Namun Kai tidak peduli untuk saat ini. Kai hanya ingin gadis itu tahu perasaannya.

Hanya semenit, hingga tautan bibirnya terlepas dari bibir Kyungsoo. Ciuman yang singkat namun mampu membuat kedua napas mereka terengah. Kyungsoo tak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Sejak kemarin, ia menginginkan bibir itu menciumnya. Tetapi kini perasaannya jauh berbeda tak seperti dulu. Jantungnya berdebar namun tidak dengan pikirannya. Sepenuhnya kacau.

"Pikirkan. Tentang kehidupanmu, tentang kehidupanku. Tentang siapa diriku dan siapa dirimu. Dan tentang perasaanmu." Bisik Kai.

Kyungsoo masih menunduk mendengar kalimat yang disampaikan Kai. Hingga akhirnya ia langsung menarik diri dari pelukan Kai. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu. Ia membukanya dan tanpa sepatah katapun, Kyungsoo keluar meninggalkan Kai.

Kai sendiri masih mematung. Napasnya terengah perlahan. Matanya mengekor menatap kepergian Kyungsoo hingga pintu ruang latihan kembali menutup sempurna. Beberapa detik ketika ia sadar bahwa Kyungsoo telah pergi. Kai langsung menumpu kedua lengannya pada lutut kakinya. Memejamkan matanya erat mencoba memikirkan apa yang telah ia lakukan kepada Kyungsoo beberapa saat yang lalu.

Ini semua diluar kehendaknya. Ia telah bertahan cukup lama hingga sejauh ini. Bukan karena Kai tidak menginginkan gadis itu. Ia hanya tidak ingin membuat Kyungsoo berada pada posisi yang menyulitkannya. Kai mencintainya. Ya, Kai sangat mencintainya. Saat di New York, ia pernah berpikiran hal konyol. Mungkinkah saat ia kembali dari New York, Kyungsoo tidak memiliki status pertunangan dengan pria itu lagi. Tetapi, itu hanyalah sebuah pemikiran bodoh seorang pria tak tahu malu mencintai wanita yang telah memiliki tunangan. Saat ia mengetahui bahwa Kyungsoo masih terikat dalam status itu, Kai memilih mundur. Ia mengalah dengan cintanya, lagipula apa yang diharapkan Kyungsoo


Ini adalah hari ketiga setelah hari perdebatannya dengan Kai. Semuanya seolah kembali seperti semula. Kyungsoo tidak pernah bertemu kembali dengan Kai sejak hari itu. Seperti yang telah direncanakan. Ayahnya telah pulang kemarin malam untuk merayakan Chuseok bersama Kyungsoo. Sedangkan Chanyeol, seperti yang dikatakannya beberapa hari yang lalu sebelum ia berangkat. Pria itubelum kembali dari Jepang. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya.

Kyungsoo tersenyum ketika seseorang—salah satu dari kerabatnya—menyapanya. Ia tidak tahu bahwa hari dimana seluruh keluarga besar, dan kolega bisnis ayahnya berkumpul membuat dirinya semakin kesepian. Kyungsoo merasa sendirian dan tak memiliki teman. Suho; satu-satunya kerabat yang sangat dekat dengannya tidak berada disini. Bibi Kim mengatakan bahwa Suho pergi untuk berlibur bersama teman-temannya ke Jepang. Hebat sekali. Bahkan ia tidak tahu bahwa Suho telah pergi sejak lusa dan Kyungsoo ditinggalkan disini. Demi Tuhan, ia merasa terkucilkan saat ini.

Selama tiga hari ini juga Chanyeol terus menghubunginya setiap malam. Namun keinginannya untuk mengangkat panggilan itu menghilang. Bahkan sekedar membalas pun Kyungsoo tak memiliki semangat sama sekali. Lagipula sejak kapan ia begitu dekat secara intens dengan tunangannya itu. Hanya tidak biasanya Chanyeol menghubunginya sesering itu. Padahal ia tengah disibukkan dengan pekerjaannya. Masa bodoh apa yang akan dilakukan Chanyeol kepadanya sepulang dari jepang nanti. Ia sedang malas dengan kehidupannya saat ini.

Dibandingkan bergabung dengan para gadis dari keluarga kerabatnya—entah apa yang mereka obrolkan, saling bersenda gurau hingga melemparkan tawa satu sama lain—Kyungsoo memilih untuk duduk seorang diri disini. Di Meja makan. Menyantap beberapa hidangan yang telah di buat secara khusus untuk acara ini. Mungkin sudah hampir lima kali Ayah Kyungsoo memanggil untuk menyapa dan menemani beberapa kerabatnya. Namun, Kyungsoo tak memiliki semangat sama sekali. Sebagai tuan rumah, ia memang harus bersikap sopan dan melayani seluruh tamu-tamunya. Tetapi, ia memilih tempat ini. Tempat ternyaman untuk membiarkan ia seorang diri; semakin membuatnya kesepian.

Apa yang dikatakan Kai tempo hari selalu membayangi pikirannya. Ia mengaduk supnya tanpa ada niatan untuk melahapnya. Ia menatapnya lekat seolah mencari petunjuk dari sup itu.

"Pikirkan. Tentang kehidupanmu, tentang kehidupanku. Tentang siapa diriku dan siapa dirimu. Dan tentang perasaanmu."

Kyungsoo lagi-lagi menghela napasnya. Kini kepalanya terasa semakin sakit setiap kali ia mencari jawabannya. Ia menyimpan sikunya di atas meja dan menumpu kepalanya yang terasa sakit. Kyungsoo memejamkan matanya beberapa saat dan wajah Kai kembali muncul dalam ingatannya. Ia menggeleng. Tidak ia tidak boleh seperti ini terus.

"Kau baik-baik saja, Kyungsoo." Salah satu kerabatnya—entah bahkan Kyungsoo lupa siapa namanya—menepuk bahunya. Wanita itu hampir berusia empat puluh tahunan. Memakai riasan tebal dengan tampilan yang glamor. Kyungsoo menunduk dan menggeleng perlahan.

"Aku baik-baik saja."

"Kau terlihat pucat. Kau membutuhkan istirahat."

Kyungsoo hanya tersenyum. Mengucapkan terima kasih atas perhatian dari wanita itu. Setelah ia mengatakan bahwa ia memang baik-baik saja, akhirnya wanita itu pergi meninggalkannya. Kyungsoo memerhatikan langkahnya. Terus mengekor dan berhenti ketika ia menemukan bahwa wanita itu kini duduk di meja lain. Disana ia menemukan seorang gadis kecil tengah terduduk dengan kaku. Arah tatapannya menunduk namun ia menunjukkan sisi sopannya ketika orang-orang menyapanya. Kembali menunjukkan senyumannya meski—sedikit—Kyungsoo dapat menemukan gurat ketidaknyamanan pada gadis kecil itu. Entahlah, gadis itu mengingatkannya pada seseorang. Ya, seperti dirinya dahulu. Bersikap seperti gadis yang tahu kesopanan dan tatakrama. Bersikap lembut dan berusaha membuat orang-orang mengagumi dan menyanjungnya.

Ia merasa miris terhadap dirinya sendiri. Perfect Princess. Kyungsoo tersenyum getir mengingat julukannya dahulu saat di Juilliard dulu. Entah itu di New York ataupun di Seoul. Tidak ada yang berubah dari kehidupannya. Monoton dan sama sekali tidak menyenangkan. Hingga satu yang bisa Kyungsoo pahami tentang kehidupannya—ia terkekang.

Untuk beberapa saat Kyungsoo terdiam memikirkan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Terkekang. Kini ia sadar sepenuhnya kenapa ia tidak menikmati kehidupannya. Tiba-tiba saja ia teringat dengan apa yang dikatakan Kai. Tentang kehidupanmu, tentang kehidupanku. Kyungsoo hidup dalam sebuah aturan yang menuntutnya untuk tampil sempurna sedangkan Kai hidup dalam kebebasan dalam mimpinya—tidak melainkan mimpi yang benar-benar menjadi kenyataan. Tentang keluargamu dan tentang keluargaku. Kyungsoo hidup dalam sebuah keluarga yang kaya raya tetapi ia selalu kesepian sedangkan Kai hidup—entahlah Kyungsoo belum mengetahui latar belakangnya—namun ia terlihat dicintai dan bahagia.

Untuk meyakinkan dirinya, kini Kyungsoo memerhatikan setiap orang yang ada dalam ballroom hotel. Meskipun seluruh keluarga ini adalah kerabatnya, tetapi mereka hidup masing-masing; dalam dunia mereka sendiri. Itu semakin membuat Kyungsoo sadar bahwa salah satu kesepiannya berasal dari sini. Perbedaannya dengan Kai kini semakin nampak jelas. Kini Kyungsoo tahu jawaban dari semua yang dikatakan Kai kepadanya. Latar belakang mereka berbeda.

Satu lagi, pikirkan perasaanmu. Tentu kini Kyungsoo menemukan jawaban yang pantas untuk semua ini. perasaannya. Kenapa ia begitu nyaman bersama Kai, kenapa ia begitu bahagia bila selalu dekat dengannya, jawabannya; karena Kai adalah satu-satunya sosok yang memenuhi kekosongan yang dibutuhkan Kyungsoo saat ini. Kai yang telah menyempurnakan kehidupannya. Hanya dia pria yang mampu membuat Kyungsoo menjadi dirinya sendiri di hadapan Kai. Tanpa aturan, tanpa paksaan. Kyungsoo tak harus menunjukkan kesopanannya, Kyungsoo tak perlu takut apakah kata-katanya akan menyinggungnya, dan Kyungsoo tak perlu berpikir apakah penampilannya akan mendapat pujian atau tidak. Ia tahu, bahwa perasaannya mengatakan; ia membutuhkan Kai, dan ia mencintainya.

Kyungsoo terhenyak menyadari akan kenyataan ini. Kenapa baru sekarang ia menemukan jawabannya? Suho benar.

Kebimbangannya tiba-tiba saja menghilang digantikan dengan perasaan antusias di dalam hatinya. Ia langsung bangun dari tempat duduknya. Menerawang beberapa orang yang mungkin tidak akan memerhatikannya—seperti sebelumnya, mereka sibuk dengan dunia mereka masing-masing—termasuk itu adalah ayahnya sendiri.

Kyungsoo berbalik arah. Mengangkat ujung gaunnya yang tergerai panjang. Sialan dengan pakaiannya ini. Untuk pertama kalinya ia mengumpat karena pakaian yang dikenakannya. Kyungsoo berjalan dengan langkah besar hingga akhirnya ia berlari. Meninggalkan ballroom hotel, meninggalkan acaranya. Pergi secara diam-diam untuk kembali pada kehidupan yang diinginkannya.


Kai melipat beberapa pakaian sebelum ia masukkan kedalam tasnya. Sebelumnya ia tidak berniat untuk pergi selama libur chuseok ini. Awalnya Kai memiliki rencana untuk berlibur dengan teman-temannya. Akan tetapi perasaannya tak setenang dulu. Tentu, itu karena Kyungsoo.

Sejak hari itu, perasaannya berubah tak tenang. Kai tidak bisa menikmati hari-harinya seperti dulu. Daripada ia terus merenung memikirkan perkataan yang—tak seharusnya—ia ucapkan kepada Kyungsoo. Ia lebih baik pulang ke Suncheon. Sudah sangat lama sejak ia pertama kali pulang dari New York dan kembali ke Suncheon. Mungkin setelah ia pulang kerumahnya, perasaannya akan kembali sebaik dulu.

Kai mendudukkan tubuhnya. Melirik ponselnya, mungkin pikirannya terlalu gila saat ini. Ia berharap Kyungsoo menghubunginya. Selama tiga hari ini, gadis itu sama sekali tak ada kabar. Benar-benar menghilang. Kai mencemaskan hal yang buruk terjadi pada Kyungsoo. Bagaimanapun, Kyungsoo memiliki sifat keras kepala dan ceroboh—tidak akan ada yang mengetahui sifat Kyungsoo ini selain Kai. Ia tersenyum menertawakan dirinya sendiri. Masih mengharapkan Kyungsoo menghubunginya. Sepertinya semuanya telah berakhir. Lima hari ini mungkin akan berubah dan mereka berdua kembali, melupakan hubungan mereka sebelumnya.

Hujan kini tengah turun sangat deras. Mungkin Kai harus sedikit bersabar untuk pergi. Menunggu hujan sedikit mereda. Kai bangkit dari duduknya dan melangkah menuju dapur. Disana telah tersedia kopi yang sebelumnya telah ia seduh. Ia menggenggam cangkirnya erat, sudah mulai mendingin. Namun Kai tidak menyurutkan niatnya untuk menyesap kopi itu perlahan.

Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ingatannya kembali kepada Kyungsoo. Kai mengingat dengan jelas apa yang telah ia lakukan dan katakan kepada Kyungsoo. Bagaimana cara gadis itu menatapnya dan bagaimana tangisan itu. Oh, bahkan hingga sejauh ini ia tidak bisa melupakan perasaannya. Jangan, lupakan, abaikan. Ia terus mengatakan itu di dalam hatinya.

Ketukan di pintunya membuat Kai kembali pada kesadarannya. Ia mendongak dan memerhatikan pintu apartemennya. Siapa? Ia tidak sedang menunggu seseorang kan? Atau mungkin itu teman-temannya? Kai memiringkan sedikit kepalanya sebelum ia menyimpan cangkir kopi kembali ke atas meja.

Kai berjalan dengan buru-buru. Ia akan segera pergi dan di tengah hujan lebat seperti ini ada yang bertamu ke apartemennya.

Kai membuka pintu apartemennya hendak menyapa ketika bibirnya tiba-tiba saja mengatup. Menatap seseorang di depannya dengan tatapan terkejut melihat tamu yang tak terduga—Kyungsoo. Bagaimana gadis itu tahu ia tinggal disini?

Gadis itu dalam keadaan basah kuyup. Kai memerhatikannya lekat-lekat dengan tatapan terkejut. Kyungsoo gemetar kedinginan. Beberapa helaian rambutnya yang basah terurai lepas dari ikatannya. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang basah. Ketika Kai memerhatikannya hingga ujung kaki, ia menemukan bahwa gadis itu sama sekali tak memakai alas kaki. Ia bertelanjang kaki.

"Kyung, ada apa?" Bahkan Kai tergagap menemukan sosok Kyungsoo di hadapannya.

Namun gadis itu sama sekali tak menjawab. Kyungsoo hanya terdiam dan kedua lengannya yang memeluk tubuhnya sendiri bergetar kedingin.


Setelah turun dari taksi, ia langsung menerobos hujan yang tengah turun malam ini. Ia berlari dengan tergesa memasuki Studio tempat biasa ia latihan. Apa Kai berbohong sebelumnya, bahkan studio ini benar-benar tidak diliburkan. Masih terdapat beberapa orang yang ada disana. Mengabaikan semua tatapan orang asing di dalam studio, Kyungsoo menanyakan dengan nada menuntut alamat tinggal Kai. Membutuhkan waktu lama Kyungsoo berdebat dengan ketidak sabarannya hingga akhirnya ia mendapatkan alamat tersebut. Beruntung letak apartemennya tidak terlalu jauh dari studio ini.

Kyungsoo berlari tidak peduli dengan hujan yang turun kian deras. Ketika ia sadar bahwa genangan air membuat langkah kakinya terhambat. Kyungsoo melepaskan sepatu heelsnya. Lebih memilih bertelanjang kaki dan berlari menerobos hujan. Satu yang inginkan—Kai. Kyungsoo tahu ia telah bertindak bodoh. Ia meninggalkan acara keluarganya dan melarikan diri kesini. Selama perjalanan jantungnya berdebar tak menentu. Ia cemas dan gelisah. Hingga akhirnya ia sampai, ia melihat wajah pria itu. Sosok yang selama ini paling ia butuhkan. Kyungsoo berada sedekat ini kembali dengannya. Setelah tiga hari, akhirnya kini mereka bertemu.

Kyungsoo menggenggam erat-erat handuk yang menutupi tubuhnya. Rambutnya masih terikat berantakkan dalam keadaan basah. Ia menggigil kedinginan. Kai disini. Didekatnya. Bersamanya. Pria itu berlutut di hadapannya. Melakukan sesuatu yang selalu membuat hatinya terenyuh. Pria itu membersihkan kaki-kakinya yang lecet. Untuk pertama kalinya Kyungsoo berlari menapaki jalanan kerikil dengan bertelanjang kaki.

"Sudah kubilangkan bahwa kau memiliki kaki yang indah, kemana sepatumu?" Kai bertanya tanpa memiliki niatan untuk menatapnya. Pria itu masih menunduk dan mengusap telapak kaki Kyungsoo yang lecet dengan handuk hangat basah.

Kyungsoo sama sekali tidak menjawab. Ia makin menggenggam erat handuknya ketika debaran itu kembali datang. Semakin cepat dan membuatnya semakin sesak. Kyungsoo mencoba mengatur napasnya. Memerhatikan apa yang tengah dilakukan Kai.

Lihat, bagaimana bisa Kyungsoo tak jatuh cinta kepada pria ini. Ia bahkan memiliki sisi lembut yang tak pernah Kyungsoo dapatkan dari orang lain selain ayahnya. Ada keinginan besar, Kyungsoo ingin menyentuh surai rambutnya. Mengusapnya penuh rasa sayang. Namun ia mengurungkan hal itu. Kyungsoo mengunci kedua lengannya di balik handuk. Mengalihkan tatapannya kemanapun, asal jangan Kai.

"Aku telah mengerti semuanya Kai." Bisik Kyungsoo.

Kai langsung mendongak. Menghentikan aktifitasnya. Menatap lekat wajah Kyungsoo yang kini melirik ke sisi lain. menunggu apa yang akan dikatakan Kyungsoo selanjutnya.

"Kehidupan kita memang berbeda, aku memiliki kehidupan yang sempurna tapi tidak sesempurna dirimu. Kehidupanku, aku tidak ingin hidup seperti itu lagi." Kai membeku, ia masih diam mendengarkannya. "Selama 25 tahun hidupku, aku tidak pernah menjadi diriku sendiri. Kau sendiri telah tahu, aku hidup dalam sebuah aturan. Menuntutku untuk tampil sempurna dan mengagumkan. Aku terkekang dalam keluargaku sendiri. Kehidupanku terlalu monoton untuk dijalani. Namun tiga hari itu.. tiga hari dimana aku bersamamu. Untuk pertama kalinya aku merasa bebas."

"Dua tahun aku menunggu, berpikir apakah takdir akan memabawamu kembali kepadaku? Aku tak mengerti apa yang aku rasakan tetapi selama dua tahun itu aku benar-benar merasa kehilangan. Ada beberapa hal istimewa yang tidak bisa aku tunjukkan kepada orang lain selain kepadamu. Disini, bersamamu, aku merasa bebas untuk menjadi diriku sendiri."

"Apa yang kau katakan dua tahun yang lalu itu nyata. Aku terkekang dalam diriku sendiri." Ia meneteskan air matanya. Lalu menjatuhkan pandangannnya kebawah. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. A..aku, aku tidak bisa hidup seperti ini lagi Kai.. A..aku hanya.. aku hanya ingin bersamamu. Dan hanya kau yang mengerti diriku, bukan orang lain." Isaknya. Dadanya semakin terasa sesak mengatakan semua kejujurannya.

Kai masih tertegun mendengar semua yang dituturkan Kyungsoo. Bahkan ia merasa jantungnya tertusuk melihat tangisan Kyungsoo yang begitu menyesakkan. Bukan ini yang ia inginkan. Seharusnya Kyungsoo menjauhinya bukan malah semakin mendekatinya. Namun, Kai tidak bisa membiarkan Kyungsoo menangis seperti ini. Semakin melihatnya menangis semakin membuat Kai merasa sakit. Ia langsung menumpu kedua lututnya untuk tegak dan merengkuh tubuh Kyungsoo dalam pelukannya.

"Kumohon kai, hancurkan dinding itu. Hancurkan seperti apa yang kau inginkan.. aku terlalu lelah dengan kehidupanku.. aku hanya ingin bersamamu.."

Suaranya begitu menyayat hati Kai. Ia sama sekali tak berucap selain mengusap punggung Kyungsoo untuk menenangkannya. Semakin lama isakannya semakin keras. Dan tubuh Kyungsoo semakin gemetar dalam pelukannya. Ia bisa merasakan remasan kuat telapak tangan Kyungsoo meremas kausnya. Kai semakin mempererat pelukannya.

"Jangan seperti ini." Bisik Kai.

Kai tahu apa yang dirasakan Kyungsoo. Sebuah keputusasaan. Ia telah lelah dengan dunianya dan memilih melemparkan seluruh kehidupan miliknya untuk bersama Kai. Kyungsoo ingin lepas dari belenggu yang selama ini membuat ia terkunci tak bisa melakukan apa-apa. Tapi bukan ini yang diinginkannya. Pelarian? Mungkin Kyungsoo hanya membutuhkan hal itu. Ia membutuhkannya tapi bukan membutuhkan dalam hal yang ia inginkan.

"A..ku hanya membutuhkanmu. Selama ini aku telah menunggumu.. jangan pergi dan tinggalkan aku. Aku ingin hidup dalam duniamu. Bahkan.. jika kau menginginkan tubuhku. Akan aku berikan."

"Kyungsoo.. bisakah kau berhenti. Jangan seperti ini."

"Tidak! Aku hanya ingin bersamamu."

"Kyungsoo!" Ucapnya tegas. Ia melepaskan pelukannya dan beralih meremas bahu Kyungsoo erat-erat. Ia dapat melihat wajah gadis itu bergetar dengan tangisannya. "Apa yang kau katakan? Berhentilah menjadi gadis yang bodoh!"

Kyungsoo mengerang dalam tangisannya. Ia memang pantas dijuluki gadis bodoh. Ia tahu betul, dua puluh lima tahun telah cukup bagi dirinya menjadi gadis yang sempurna. Biarkan ia menjadi bodoh, hari ini, besok atau mungkin selamanya. Ia terlalu bodoh untuk menggilai semua yang sebelumnya ia sangkal. Ia menginginkan Kai, selebihnya. Bukan hanya seluruh raganya, melainkan hatinya. Kai bagaikan udara yang harus ia butuhkan untuk tetap hidup.

"Aku mencintaimu, tapi bukan berarti kau harus seperti ini!" Teriak Kai lagi.

Kyungsoo tersentak, namun ia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Kai. ia masih bertahan dan menguci tatapannya untuk beberapa saat.

"Kubilang robohkan! Hancurkan! Hancurkan dinding itu! Aku menginginkanmu!" Balas Kyungsoo berteriak.

Kai mengerang frustasi. Hancur sudah pertahanan yang ia buat. Dinding itu; dinding yang membatasi kehidupannya dengan Kyungsoo benar-benar akan ia robohkan. Kyungsoo telah bertindak tanpa berpikir apakah pilihannya tepat atau salah. Namun jauh di lubuk hati Kai, hatinya bersorak. Kai langsung mendekat, bahkan tak memberi peringatanan apapun pada Kyungsoo. Ia langsung memagut bibir Kyungsoo dalam. Menekan tubuh Kyungsoo dengan tubuhnya hingga bersandar pada sandran sofa. Kai mendekap tubuh Kyungsoo erat. Tidak peduli bahwa pakaian Kyungsoo yang basah akan turut membasahi pakaiannya.

Satu tangan Kai terulur membelai pipi Kyungsoo. Hangat—air matanya. Ia masih menangis dan Kai tidak bisa membuat gadis yang dicintainya terus seperti ini. Ia ingin menghilangkan kesedihan Kyungsoo. Benar-benar menghilangkannya. Membuat Kyungsoo bahagia, bersamanya. Tak peduli dengan status hubungan Kyungsoo yang telah bertunangan. Sekali ini, Kai ingin egois. Memilikinya dan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Bibirnya masih memgut dengan intim bibir Kyungsoo. Ia merasa tubuhnya terasa terbakar oleh gejolak yang selama ini ia rindukkan. Bahkan ketika Kyungsoo membalas ciumannya. Kai berpikir bahwa ia akan meledak kapan saja. Ia terlalu menginginkan Kyungsoo sejak lama.

Pagutannya terlepas. Kedua napas mereka terengah. Wajah mereka saling berdekatan hingga kedua napas mereka menjadi satu. Rasanya hangat dan ia merindukan gadis ini lebih dari sebelumnya. Ini nyata, dan mereka begitu sangat dekat. Belum sempat Kyungsoo membuka suaranya. Kai telah kembali jatuh kedalam pesona Kyungsoo. Ia tidak bisa membiarkan Kyungsoo begitu saja.

Tangan Kyungsoo membelai secara perlahan. Menyentuh kedua lengan atas Kai sebelum beralih kebelakang tubuh kai dan mencengkram punggung Kai kuat. Kyungsoo menginginkannya dan ia mencintainya. Kyungsoo menggilai semuanya. Ia menarik bibirnya hingga pagutannya terlepas. Menatap lekat-lekat wajah Kai dan mata mereka bertemu untuk beberapa detik. Kyungsoo terbuai dengan tatapannya bahkan melalui tatapannya saja Kyungsoo merasa telah dilindungi.

"Aku mencintaimu." Bisik Kyungsoo tanpa ragu. Dan seulas senyuman yang terukir indah dari wajah Kai membuat Kyungsoo kembali jatuh kedalam pesona pria yang telah mengaguminya sejak lama. Dua tahunnya tidak berakhir sia-sia.


To Be Continued


Selamat malam~
Sudah berapa lama saya menghilang? hihi.. yang nanya keberadaan saya beserta kelanjutan ff ini entah itu dari fb, pm sampe line. Ada kok ini ada, cuma orangnya aja yang ilang. Lagipula selama 3 mingguan ini lagi sibuk nugas sampe sekaranag. Tinggal ditempat yang gak memungkinkan internet jalan jaya selalu(?)galau banget kan? Ditambah galau gara-gara gagal rencana apelin oppa di BSD malam minggu nanti karena gak memungkinkan untuk bolos(?) hah~ malah curhat.

stt... mumpung lagi nyuri wifi juga, nyempetin update ini karena gak enak juga bikin reader kelamaan nunggu. hehe.. Dan jujur. Sebelumnya chapter ini gak seperti ini tapi entah kenapa erasa gak srek dan milih rombak habis-habisan alur ceritanya biar lebih dipersingkat, latar belakang kai juga belakangi dulu aja deh. Kaisoonya... di chapter depandepandepannyalagi deh. Doaakan saja supaya aku bisa cepet pulang dari sindan selesain tugasnya TTT

Thanks buat semua readers dan reviewer:

Chanbaekhunlove, sekyungbin13, Rahmah736, Lovesoo, Kimra14, Kim YeHyun, arvita kim, raryberry, daebaektaeluv, jihanowl7, veronicayosiputri9, kyung1225, viaerlyta, sebutsajamantan,winda fitria07, joonwu, Guest, chankaiya, overdokai, 9493, anon, Defti785, nini, zharaayumediaanggraeni, kyungnoonim, rly, kyungri, NopwilineKaiSoo, sarnikelodeon.

Yapp~ Happy reading, maaf bila masih ada typo. Masih teima kritik dan saran yang membangun kok.

Enjoy yang nonton exoluxion ina~ :D Salam dari saya yang masih nyangkut sama nugas :3 /pegang lightstick diatas gunung/

p.s : Yang nanya Sequel Sunrises's Died, tunggu kasih napas dulu. Belum punya ide yang pas atau mungkin gak ada sama sekali. Semoga ada pencerahan :'v

Salam blossom~