"Selamat ulang tahun, Emi!"
Sendou Emi bersumpah ini adalah pesta ulangtahun paling berkesan dalam kehidupan kampusnya. Seluruh teman-teman sekelas dan sahabat-sahabat dari klub Cardfighter wanita di universitasnya sudah sengaja mendekorasi ruangan klub sampai sedemikian apik, belum lagi kue ulangtahun super lezat dari toko ternama, yang belinya bisa ngantri berjam-jam.
Ulangtahun Emi yang ke dua puluh.
Tanpa terasa, waktu melaju dengan amat cepat. Rasanya, kemarin ia hanyalah seorang gadis kecil polos, keibuan, ke sana ke mari selalu menjaga sang kakak agar tak ceroboh dalam kesehariannya. Kini, ia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Kepala dua. Usia matang. Emi telah tumbuh menjadi wanita dewasa, keibuan, ke sana ke mari selalu mengawasi gerak-gerik sang kakak kalau lagi pacaran. Asupan lewat memang nggak ada yang nandingin.
Untung 27 September jatuh tepat Hari Minggu, hingga pesta dapat digelar dari siang hingga menjelang malam. Setelah pesta di ruang klub, semuanya lanjut karaoke ria—bahkan secara ajaib Kamui sudah anteng di dalam bilik karaoke, mungkin dia yang booking tempatnya.
Angin malam membelai rambut lembut sang bungsu Sendou. Ada jepit rambut lucu yang menahan poninya agar lebih rapi. Warna merah, bentuk bunga. Itu salah satu dari satu set jepit rambut hadiah dari Kamui.
Emi senang menerimanya. Bahkan jepit itu langsung dipakai begitu diterima. Bukan main girangnya hati Kamui sampai cium-cium mikrofon. Bikin pamor Reiji dan Eiji turun di hadapan wanita-wanita cantik sahabat Emi.
Hadiah yang lain juga ada. Teman-teman kampus memberikannya sebuah baju terusan imut berwarna pastel, bando berpita, kalung manik-manik, juga mug bergambar beruang. Tapi hadiah paling berkesan adalah dari Tobita Mai, teman sedari kecil yang pasti sudah hapal mati sosok sahabatnya luar-dalam.
"Emi, ini doujinshi beel R18 Shotacon Nagichu dan Akangbener Kurma idamanmu," ujar gadis berhelai gelap itu riang. "Jangan lupa ada mini-doujinshi panas antara Kapten Tisubasah dengan Kiper Wahkokbayarsih, juga artbook dari sensei pujaanmu, Takaray Rihitong."
Edan, fujoshi kelas menengah starter pack.
"Gantinya tolong fotoin kakakmu dan Kai Toshiki-san kalo lagi nganu, ya?" Emi langsung cemberut, ternyata Mai ada maunya.
Yo wis. Nggak masalah, toh, sebentar lagi Emi sampai rumah. Aichi dan kakak iparnya pasti masih berunding berdua soal dekorasi dan tempat resepsi. Emi bisa modus dengan bantu-bantu usul tempat atau sok nelepon percetakan buat nanyain undangannya—padahal percetakan sepenuhnya diurus Aichi. Tinggal menyusup di antara kedua pasang calon-suami istri itu, pura-pura kepeleset, tubruk Aichi, Aichi jatuh ke pelukan Kai, foto candid asupan. Mission completed!
Ketika pintu rumah dibuka, Emi mendapati senyap menyapa. Mengereling heran, ia mencoba mengintip ruang makan. Ada konfeti mungil menyambutnya. Di atas meja makan telah tertata rapi makanan (yang kelihatan) mewah dan menggugah selera—Pasti masakan Kai. Ada Onigiri yang bentuknya tak karuan—Pasti buatan Aichi, tapi rasanya dijamin enak, kok. Dan vas baru yang menyajikan bunga segar di tengah-tengah meja—Pasti Mama yang menyiapkan.
Emi hampir mangap, tak bisa berkata-kata. Ia hanya menatap Aichi dan Kai yang berdiri di sisi meja.
"Emi, maaf sederhana, aku dan Toshiki-kun terlalu sibuk mengurusi pernikahan kami nanti," Aichi menggaruk pipinya. "Belum sempat mencari kado dan hadiah ... Tapi ... er ... selamat ulangtahun, ya? Semoga kamu bertambah dewasa dan bahagia."
"Sekarang Emi sudah 20 tahun," Sendou Shizuka menyambung lembut. "Anak perempuanku sudah dewasa."
Ada rasa haru yang mengudara. Ada bulir airmata haru yang menumpuk di pelupuk mata biru sang gadis. Ia mengusapnya perlahan, sebelum menaruh sekantung besar kado-kado di ambang pintu. Dia menghambur memeluk sang ibu, mengecup pipi wanita itu. Ada kikikan bahagia yang terdengar dari Emi, sebelum akhirnya pindah memeluk Aichi dan mengecup pipi sang kakak. Aichi hanya membalas dengan senyum dan rona merah di pipi.
"Terima kasih," senyum lebar terkembang di wajah cantiknya, memupuk rasa haru dan bahagia dalam setiap sanubari.
Kai dan Aichi sempat senggol-senggolan, tapi akhirnya Aichi mengalah dan maju bicara. "Anu ... soal kado ... mungkin kami baru bisa mencarikannya besok. Emi katakan saja apa yang kamu inginkan. Besok akan kuusahakan mencarinya. "
"Oh?" gadis itu mengerjap pelan, berpikir sejenak akan minta apa. Semenit berlalu, akhirnya ia berseru seraya menampakkan senyum ... usil?
"Ada, nggak usah dicari besok," sahutnya, disertai gaya memelas ala anime shoujo. "Hadiahnya bisa diberikan sekarang, dan hanya Kakak Ipar yang dapat mengabulkannya?"
"Aku?" Kai menunjuk diri. Perasaan gue gak enak.
"Iya. Kakak Ipar nggak keberatan?"
Kai memandang sekeliling. Ada Aichi dan ibu mertua yang menengok. Uugh, permintaan dari tuan putri yang tengah berulangtahun, tabu jika ditolak. "Ba-baiklah, kamu minta apa?"
Telapak tangan berdiri di sudut bibir. "Senyumin aku, dong."
Jelegar! Ada petir cantik lewat di antara ruang makan Sendou.
"Senyum ...?"
"Iya."
Hening beberapa saat, sebelum Kai menoleh pada Aichi untuk minta kepastian—dan pertolongan, tapi yang bersangkutan malah acung jempol sembari siap-siap kamera ponsel.
Kai Toshiki, 24 tahun. Merasa jadi badut acara ulang tahun.
Nggak apa-apa, demi adik ipar. Ya, nggak?
To be kontinyuuuh
Jadi haloooooo apa kabar di Sabtu berhujan ini? Semoga pada sehat dan bahagia yaaa xDD Selamat bermalam mingguuuuu
Balesan Review:
Kanato-desu: haiii salam kenal ya xDD yuk kita sama-sama jalan-jalan di fandom ini. *tarik* www iya nih, move-on itu kenapa susah ya 8"D *iyain* Semoga terhibuuuuur.
Ohok. RnR?
