A/N : Langsung to the point aja deh ._. #duesh
Hehe, gomen nasaiii baru bisa update ;_; author sedang dalam masa sibuk-sibuknya nih. Tugas, les dan UTS got in the way. Makasih atas kesabarannya dalam menunggu update-an fic ini…#sujud
Satu lagi yang mau author bacotin…kalau fic Cruel Temptation masuk nominasi IFA, kategori Best Romance Straight Multichapter dan The Most Favourite Fic for Multichapter! Yaaay ┐('⌣'┐) (┌'⌣')┌ kalau dibilang seneng, ya seneng doong :D masalahnya pede ikut aja nggak, eh taunya ada yang nominasiin cerita ini untuk ikut IFA. Intinya, author berhutang banget sama yang nominasiin itu ;_; arigato gozaimasu, stranger! (atau malah salah satu dari reviewersku yg nominasiin? Siapapun anda, terima kasih!)
Untuk yang nggak tau apa itu IFA, itu singkatan dari Indonesian Fanfiction Awards. Cari tahu lebih lanjut di twitter: _IFA2011 atau grupnya di fb, okeh ;) and dukung fic-ku terus yaaa -3-
Crimson Fruit : umm sasuke suka sama siapa yaaa u,u heheh
Hiru'Na' Fourthok'og : iya itu typo ;_; huaah maaf bangets. Makasih yaa dikasih tau :3 terima kasih sudah nge-fave, love you :* #cipokanbasah
kaze sabaku: iyaaa gapapa :D yg penting udah nge-review u,u hahah baca terus yaa
Panda Kunoichi: Alhamdulillah kalo jadi suka ma kakaten u,u hidup crack pairing! Tentenlicious sudah updet kok, chap 3 GaaTen. Sudah baca kan? Sori ya lawas updetnya;_;
zoroutecchi: akhirnya…updet…juga! :D thanx sudah menemaniku saat sedang menulis chap ini via bb :*
Azalea Ungu : itulah, fan girls kadang bersikap terlalu berlebihan u,u let's put a stop in bullying!
Seiffer : hmm terakhir kucek penname seiffer itu heartbeat satellite -_-; ganti penname ya? Hahah, ga masalah. Feedback sei (you said I can call you sei/heart, whichever I want :p) itu detil banget, aku suka. Thanx a lot! Keep reading, though I doubt I can do better than keepin this pace :p heheh
AyameHyuga : yang disayangin kok bangunannya -_- hahahaha liat aja nanti kalo sudah waktunya, ayame akan muncul sebagai villain :B ups, spoiled -_-
KiYu desu : another cliffhanger…-_- I suppose. Keep reading! XD
KuroMaki RoXora : makasih makasih :'D sudah mau nunggu lama…dan sepertinya akan makin lama untuk yang berikutnya…#kabur #dilemparinpisau
Once more, thank you all for the support! 3
.
Kakashi-sensei!
Deg.
"Tenten...?"
Sasuke menangkap ekspresi aneh gurunya. "Ada apa, Kakashi?"
Kakashi menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Aneh...tadi ia seperti mendengar suara Tenten. Berteriak memanggil namanya, ia terdengar putus asa.
"Kakashi?" Anko ikut bertanya dengan suara yang bertambah berat dengan nafas memburu. Mereka masih belum sampai di tempat tujuan.
Melirik untuk terakhir kalinya, Kakashi memutuskan untuk mempercepat larinya. "Aku baik-baik saja."
.
Entah...apa ini yang disebut suratan takdir...
Hh...hh...
Atau kebetulan semata.
"Heh. Sama-sama."
Yang Tenten tahu...dirinya selamat. Dalam artian masih hidup. Meski lumpur, keringat dan spiritus menyelimuti sosoknya di tanah Tenten cukup menggemaskan dengan ekspresi kaget bercampur bingungnya. Setidaknya, bagi Zabuza.
"Apa-apaan ini, Zabuza?" bentak Karin. "Kau tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua ini! Kemarikan lighterku!"
"Heh." pria bertubuh kekar itu mendengus. Ia memainkan lighter bermerk milik Karin di salah satu tangannya yang besar, seolah mengancam Karin kalau dia bisa saja melempar lighter itu padanya. "Aku tidak suka padamu atau nada bicaramu."
Karin menghentakkan kaki kesal, wajahnya memerah karena mulai kehilangan kesabaran. "Aku tidak pernah bertanya kalau kau suka padaku atau tidak! Bayarannya sudah cukup, kan? Sekarang pergi!"
Ekspresi Zabuza mengeras, matanya menatap lurus gadis berambut merah setinggi dadanya itu. Dia benar-benar gadis yang menyebalkan. "Aku tidak ingat dibayar untuk menangkap seorang gadis yang akan dibakar. Sekarang kontrak bisnis kita sudah selesai dan apapun itu..." tiap kata membawa Zabuza lebih dekat pada Karin, mengintimidasi dengan gerakan mengancam. Karin tersentak akan hal ini, ia melangkah mundur untuk memberi ruang antara mereka namun Zabuza selalu selangkah lebih maju. "...jika aku tidak suka, aku bisa melakukan apa saja yang kumau padanya."
Cklek. Api dari lighter mati ketika tutup lighter menutup. "Dengan kata lain, aku tidak akan membiarkanmu mencelakai gadis itu lebih jauh lagi."
Hahh...hh...
'Kenapa?'
Tenten sangat ingin beranjak dari tempatnya tersungkur dan pergi dari sini. Apa daya, tenaganya sudah terkuras habis selepas menghadapi anak buah Zabuza tadi. Dalam hati ia bertanya-tanya kenapa orang yang sama yang dibayar untuk menghabisinya justru menyelamatkannya. Atau...dia punya maksud lain?
Hh...hh..
'Kepalaku seperti berkabut...gawat...'
Gerombolan gadis di barisan belakang juga merasa terpojok oleh sosok Zabuza. Ada apa ini sebenarnya, kenapa ia membela Tenten?
Karin menghela napas. Ia berkacak pinggang sembari memejamkan mata, satu tangannya bersandar di dahi lalu ia menggeleng dramatis. "Ck ck. Zabuza, kalau kau mau bayaran lebih, kau hanya perlu bilang." tangan Karin menadah ke belakang, meminta para gadis untuk memberinya sesuatu. "Nih. Sekarang kau puas? Ini uang yang kau mau."
Mata Zabuza melirik jumlah uang di tangan Karin.
Karin memutar bola matanya tidak sabaran. Ia raih tangan Zabuza, menengadahkannya keatas kemudian ia beri setumpuk lembaran uang. "Kalian semua sama saja. Miskin tapi berlagak seolah tidak butuh uang. Memuakkan."
Tenten dapat menangkap maksud dari 'kalian' disana. Karin rupanya memasukkan dirinya dalam kategori yang sama dengan Zabuza. Dan mengetahui ia adalah Karin binti Gato yang terkenal itu, penghinaan verbal darinya berpotensi tinggi meninggalkan bekas luka alias trauma. Zabuza? Tenten tidak tahu apa efek penghinaan ini padanya.
"Uang?" Zabuza berucap lirih, suaranya terlalu rendah Tenten nyaris tidak dapat menangkap perkataannya diantara desiran suara hujan.
Karin merengut. "Lighter-nya, Zabuza. Kau membuang waktuku!"
Srak!
Semua orang di tempat kejadian perkara terpana. Di pelupuk mata mereka pantulan benda berbentuk persegi panjang terproyeksi. Dan mereka dalam jumlah banyak.
"Uang apa?"
Deg.
"Aku memang bekerja untuk uang, tapi kau..."
Tenten masih tidak bisa percaya yang dia lihat. Uang-uang tadi tersebar di udara.
'Ada apa dengannya?'
Karin tetap bertahan dengan angkuh meski ketakutan tampak jelas di wajahnya. "Aku apa?"
Zabuza memperhatikan gadis di depannya itu. Posturnya mulai rileks. "Kau tidak memberitahuku manusia serendah apa kau sebenarnya sampai mencoba membunuh orang yang sudah tidak berdaya."
Greb!
Zabuza menangkap tangan Karin yang hendak menamparnya. Gadis itu sungguh keras kepala.
"Kau tidak berhak mengadiliku begitu!" jerit Karin.
Tenten berkesimpulan Zabuza mengeratkan genggamannya ketika Karin meringis. "Kau tidak punya hak untuk mengakhiri hidup seseorang tanpa memberinya kesempatan mempertahankannya."
"Dia sudah cukup kuberi kesempatan untuk melawanmu dan dia kalah! Berhentilah ikut campur!"
"Tidak jika kau masih bersikeras untuk membakarnya hidup-hidup. Setidaknya lawan dia sendiri. Atau...kau memang tidak selevel dengannya."
Karin menggeram mendengarnya, wajahnya penuh kebencian. Otaknya penuh dengan keinginan membakar habis dua orang di hadapannya. Mereka berdua sama saja.
"Kuanggap itu 'tidak'." Zabuza menanggapi.
Perlahan senyum beribu makna menghapus ekspresi benci Karin. Dia akhirnya mengerti. "Baiklah. Aku paham. Kau bisa melepaskan tanganku sekarang."
Zabuza ragu Karin mengerti benar tapi ia tetap melepas tangan kecil gadis itu.
"Kalau kau mau, kau boleh melepas ikatan Tenten. Dia harus bisa bergerak bebas saat dia dan aku bertarung."
"!"
'Karin...dia sudah gila?'
"Kenapa? Aku memang tidak sekuat itu untuk melawan Tenten, kok. Itu sebabnya dia tidak hanya akan melawanku, tapi kami semua."
Tatapan Zabuza berubah jadi tatapan curiga. "Kau tahu dia mengalahkan hampir seluruh anak buahku, kan? Apa yang kau rencanakan sebenarnya?"
Karin mendengus. "Apa maksudmu? Kan kau yang bilang aku tidak selevel dengannya? Bukankah akan lebih adil kalau kami mengumpulkan kekuatan bersama?"
Gadis-gadis di belakangnya tertawa kecil. Mereka tampaknya tahu apa maksud Karin. Di tangan mereka bermunculan benda-benda yang seharusnya tidak ada. Bat pemukul, sapu, lembing dari perlengkapan olah raga, dan masih banyak lagi. Karin sendiri memilih bat, ia sengaja menimang-nimang beratnya, menunjukkan betapa sakit luka yang harus diderita jika terpukul. Kabar buruknya, bat Karin terbuat dari logam dan dia terkenal sebagai batter handal klub softball KHS. Perempuan? Tak ada yang berani protes karena jabatan ayahnya dan ia sudah terbukti jagoan.
"They don't call me softball's ace for nothing." ia tersenyum penuh kemenangan.
Fokus Tenten tersita ke leher Karin. Pendant kalung miliknya tampak familiar.
Karin yang menyadarinya menarik kalungnya keluar dari kerah baju. "Indah, bukan? Kalung berbentuk kunci. Aku mengambilnya dari lokermu."
"! Mmph!" Tenten mengerang.
"Oh, ya. Aku sampai lupa." Karin mengelus dahinya sambil tertawa. "Ini alasan kenapa kau disini sekarang. Kau menginginkannya kembali?"
"Mmmph! Mngm!"
'Kubunuh kau!'
"Heh." Karin belum juga bosan mengenakan sengirannya itu. "Seharusnya kau berterima kasih aku tidak membakarnya bersama barangmu yang lain."
Tenten mencoba menenangkan diri, setidaknya Karin ada benarnya juga. Meski tetap saja...melempari orang bermandikan spiritus dengan lighter itu melewati batas. Andai pihak berwenang tahu, Karin bisa didakwa pasal tindak percobaan pembunuhan. Atau tidak. Uang punya cukup pengaruh untuk membeli hukum. Tidak terkecuali uang Karin.
Zabuza memandangi Tenten dalam diam. Gadis itu sudah cukup kepayahan, batinnya. Mampukah dia melawan final boss si dalang dari ini semua, yang sebenarnya tidak sepadan?
"Hei! Apa lagi yang kau tunggu? Cepat lepaskan ikatannya!" teriak salah satu gadis angkuh di belakang Karin. Dia adalah salah satu anggota klub tombak sekolah. Di tangannya so pasti ada tombak panjang andalan. Tenten benci mengakuinya tapi dengan adanya tombak itu gadis berambut silver disana tampak kuat.
Silver...
Tenten memejamkan mata, nafasnya masih agak memburu. Kakashi-sensei. Dari semua orang yang ada, Tenten meneriakkan namanya. Kakashi-sensei mulai mempengaruhi orientasi Tenten akan bermacam hal. Hanya karena orang itu sering berada di sekitarnya, otak Tenten bekerja cepat dan nama Kakashi muncul entah dari mana.
'Konyol...bahkan dia nggak ada disaat aku butuh.'
Tenten berkedip, pikirannya mendadak blank. Sejak kapan dirinya jadi membutuhkan pria yang membuatnya susah itu? Kerjanya hanya merayu saja. Dan lagi, dia mesum! Tawa yang terdengar kala ia membaca Icha Icha Paradise itu creepy banget. Tenten pernah mencuri baca sesekali di toko buku karena penasaran, dan hasilnya dia nyaris mimisan dan harus mencuci tangan dari rasa bersalah pernah menyentuh benda yang mengandung dosa serta detil terlalu merinci 'adegan ranjang' tersebut. Literatur Jiraiya-sama sungguh mengerikan. Mengerikaaaaan.
Tapi...dia baik. Meski jahat saat pelajaran Kakashi sangat lembut padanya di luar jam pelajaran; pasca kejadian dia 'nembak' Tenten pastinya. Dia orang pertama yang membuat dirinya mengerti bagaimana rasanya disukai. Banyak menyebalkannya, sih. Tapi kalau dipikir-pikir, andai saja Iruka-sensei tidak kecelakaan dan harus diganti Kakashi, mungkin Tenten tetap akan memandang ke arah Neji. Mengetahui ada orang lain menyukainya telah membuka matanya. Tidak selamanya seseorang yang kita inginkan...akan membalas perasaan kita.
Tenten tersenyum kecil, tidak sampai Karin mengetahuinya. 'Kenapa jadi Kakashi yang memadati pikiranku, sih?'
.
"Achoo!"
"God bless you." kata Sasuke.
Kakashi mengusap hidungnya gatal. "Thanks."
Anko berkacak pinggang. "Jadi..." matanya menyapu permukaan tanah berlumpur di sekitarnya. Anak buah Zabuza kembali bergeletakan di sana, merintih. Mata Anko menyipit. "...mana Tenten?"
Tulang bergemeretakan terdengar dari arah Sasuke yang meremas tangan gemas. Mata onyx-nya menjadi lebih gelap karena terselubung amarah. Lucunya, Uchiha adik itu justru makin tampan saat kelihatan marah nan misterius. "Siapa bos kalian?"
Kakashi bungkam. Daripada kedua orang itu dialah yang paling tidak senang. Bagaimana tidak, Tenten miliknya berada entah dimana sekarang. Apalagi, mengetahui fan girls dalang dibalik semua ini, firasatnya mengatakan untuk membawa semua anjing peliharaan miliknya agar melacak gadis itu. Cepat, ia harus cepat menemukan Tenten. Karena Kakashi tahu, baik dirinya maupun Tenten, berada di jarak kurang dari lima meter dari fan girls...
"Achoo!"
...membuat mereka alergi.
.
Zabuza menghampiri Tenten yang terduduk di tanah. Matanya menatap lurus, mencoba membaca pikiran gadis itu. Dua bola mata coklat berkedip menatap balik. Kali ini kebencian itu tidak ada.
"Jangan menatapku polos seperti itu. Aku bisa saja menghabisimu tanpa harus mengulur waktu seperti ini."
Alis Tenten bertaut, bukan karena kebencian yang datang kembali, melainkan munculnya kebingungan. 'Mengulur waktu? Apa perlunya melakukan hal semacam itu?'
Kain yang membekap Tenten dilepas, memberi kesempatan baginya untuk bernafas lega dan bicara.
"Dia pikir kau pasti kehabisan tenaga setelah melawanku. Apa kau mau membiarkannya melukaimu lebih jauh lagi?" kata Zabuza yang memunggungi Karin dkk. Pria itu menyisir rambutnya dengan jari. "Akupun melakukan ini bukan karena aku mau."
Tenten memindahkan pandangannya dari Karin ke Zabuza. "Aku tidak harus mempercayaimu setelah kau menyelamatkan hidupku, kan?"
Zabuza menatap Tenten, tersenyum dalam diam sambil mengangguk. "Jangan pernah percaya kata-kata orang yang menyakitimu meski ia telah menyelamatkanmu. Memang benar tidak ada yang mengharuskanmu untuk percaya."
Mata Tenten terpejam. Batinnya sudah lelah akan permainan yang dimulai Karin ini. "Kalau begitu kenapa kau lakukan?"
Badan besar Zabuza condong ke arah Tenten, kedua tangannya sibuk melepaskan ikatan yang ia ikat kencang beberapa waktu sebelumnya. "Jangan salah paham. Kau mirip Haku."
"Haku?" Tenten membayangkan wajah tertutup topeng anak buah Zabuza. Mungkin orang itu tangan kanannya.
"Orangtuanya dibunuh di depan dua mata kepalanya sendiri; itu sebelum dia sadar dirinya juga diincar."
Tenten mengangkat kepalanya. "Apa?"
"Aku kebetulan lewat ketika Haku menghabisi penyerang orangtuanya. Hatiku sedang baik, jadi aku membawanya serta sebagai anak buahku. Dia beruntung karena memiliki potensi. Tidak akan ada kesempatan bagi orang yang tidak bisa apa-apa."
"Jadi...kau menolongku karena ada potensi dalam diriku?"
Zabuza melirik gadis kecil di hadapannya. "Kau boleh menganggapnya begitu."
Tanpa alasan yang jelas pandangan Tenten melembut terhadap Zabuza. Bibirnya mencuat keatas membentuk senyum tulus penuh hormat. "Arigato. Zabuza-san."
Mata Zabuza melarikan diri ke samping, seolah menghindari tatapan itu. "Berterimakasihlah pada Haku. Dia yang memintaku melakukan ini."
"Kalau begitu titipkan rasa terima kasihku padanya." ucap Tenten cepat. "Aku benar-benar phobia api." menilik ke belakang, Karin melempar lighter menyala padanya. Efek berantai dari rasa kasihan Haku yang meminta Zabuza menyelamatkan Tenten sukses menggagalkan terulangnya kebakaran tiga belas tahun silam.
"Jangan buat usahaku ini sia-sia. Aku percaya padamu."
Karin memutar bat di tangannya bak baton hanya untuk menggenggamnya kembali. Kesabarannya menipis dan Zabuza belum juga selesai curhat dengan Tenten. Dapat dirasakannya kawan-kawannya ikut merasa tidak sabar. "Tidak bisakah kau cepat sedikit, Zabuza? Contohlah Haku! Dia langsung pergi ke HQ ayah setelah kuperintah untuk enyah. Sekarang tinggalkan Tenten sendiri dan susul Haku! Kau hanya mengganggu pemandangan!"
Tenten mendapati kedua bola mata kelam Zabuza menyipit fokus. Alisnya bertaut kesal. Whew, nyatanya tidak semua orang suka Karin. "Kau harus. Keluar. Hidup-hidup."
Tenten tersenyum canggung. "Baiklah."
Berdiri tegak, Zabuza menghentakkan kaki diatas salah satu kayu panjang yang tergeletak di antara lebat rerumputan. Tenten terkesima menyaksikan bagaimana kayu itu terangkat ke udara, menunggu tangan untuk menangkapnya. Zabuza, kayu di tangan ia putar bagai propeller sebelum ditangkap menggunakan satu tangan. "Sebenci-bencinya aku mengatakan ini padamu, Karin-sama." ia memberi penekanan pada kata 'sama'. "Tenten berhak memegang senjata pertahanan diri. Kau tidak akan membiarkanku membantunya, bukan? Kurasa tongkat kayu ini cukup untuk sekedar defense."
Tenten bangkit dari duduknya, ia meringis beberapa saat akibat luka di tubuh. Tangannya mengusap mulut dan hidung dari spiritus. "Kau tahu, aku tidak keberatan bare-handed."
Para fan girls bergidik. Tatapan Tenten menyerupai predator. Gerak matanya mengkalkulasi probabilitas offense damage beberapa cewek yang memang menonjol di klub olah raga masing-masing. "Bagaimana?"
Kecuali Karin gerombolan di belakangnya mundur. The weapon mistress has made her point and no one dared to object.
"How confident of you." Karin membenarkan tata letak kacamatanya.
"Hell yeah I am." balas Tenten tak kalah mantap.
"Jadi sudah diputuskan." tanpa kesulitan Zabuza mengoper tongkat kayu kepada Tenten. Betapa kagetnya si panda begitu kayu berpindah tangan ia hampir kehilangan keseimbangan. Ternyata kayunya berat.
Zabuza yang menyadari kekagetan Tenten hanya tersenyum mengejek. "Lawanlah mereka dengan kayu itu."
Tenten merintih ketika kepalanya ditekan kebawah kuat-kuat. "Aku percaya kau punya bakat di seni bela diri. Jangan kalah. Kalau kau menang kita akan bertemu lagi."
Komentar Zabuza yang serampangan membuat Tenten tersenyum dan merengut sekaligus. Oke, dia punya potensi. Zabuza terang-terangan menyatakan dia melihat itu. Tapi sekejap kemudian dia meminta agar jangan kalah. Sebenarnya Zabuza ini percaya atau tidak, sih?
"Aduh!" keluhnya, rambutnya kali ini diacak-acak.
"Tugasku hanya sampai sini. Berjuanglah, panda."
Tenten semerta-merta mendongak. Barusan...rasanya seperti de ja vu. Mata coklatnya menatap lekat. "Kita...akan bertemu lagi, kan?"
Mata Zabuza melebar, tapi tidak bertahan lama. "Entahlah. Kenapa?"
Tenten menurunkan pandangannya ke lantai berlumpur tempat ia berpijak. "Kau mengingatkanku pada seorang ayah yang tidak pernah kumiliki."
Karin memutar bola mata, merasa mual.
Zabuza menjepit batang hidungnya, mencoba melawan migrain. Tenten menyengir nakal, kembali menatap Zabuza. "Kidding! Aku tidak berharap sedikitpun supaya bisa bertemu lagi denganmu, kok! Kan kau yang menghajarku dari awal!" celotehnya sembari tertawa.
Bruk!
Jemari Tenten menari diatas temali ikat rambut, merampas tali pengekang bakpau kepalanya. Ditarik gravitasi, helaian rambut Tenten tergerai di udara dengan anggun, bersanding gemulai bersama gerak cepat tangan yang menyilang-nyilang ikat rambut diantara sela helai dan molekul udara bebas. Tebasan kencang terdengar bersandingan ikatan yang mengerat jerami eboni Tenten.
Dak!
Kayu ditanah kembali berputar beradegan semu menentang gravitasi, meniup pangkal poni Tenten melalui atraksi propeller. Kelima jari kecil namun kuat meremas tongkat kayu tebal itu pada presisi waktu yang tepat, mengarahkan kepalan Tenten ke semuanya tak terkecuali Zabuza.
"Yosh. Yoroshiku, Zabuza-san. Eto...arigato gozaimasu. Jaa ne!"
Semua mata terpana ke arah gadis belia berambut coklat di hadapan mereka. Semangat api weapon mistress KHS sudah kembali. Ia jauh lebih tegar dari sebelumnya. Senyum penuh percaya diri memenuhi wajah dibubuhi darah setengah kering, kedua alisnya turun menambah kesan delinquent. Ah, tidak lupa ia menjilat bagian bibir yang robek.
"Karin, show me what you've got."
Melihatnya Zabuza berbalik, berlalu menyembunyikan senyuman.
Drap!
Karin berlari maju, bat logam di tangan. Matanya menyipit tertekan kerut alis. Murni kebencian memantul di pelupuk matanya. Rombongannya menyusul tapi dengan setengah semangat dibanding Karin sendiri. Bagi mereka sebenarnya konfrontasi begini tidak perlu, tapi sekuat apa sih satu lawan banyak?
Tenten menaikkan ujung mulut. Menganggap remeh itu kesalahan mereka yang kedua.
Tampak jelas niat mereka telah berubah dari mem-bully Tenten jadi cepat-cepat keluar dari sini. Ketakutan.
Tenten memasang kuda-kuda. Rasa takut yang jelas itu kesalahan pertama mereka.
Mata Karin membelalak sedikit saat ujung logam bat melaju ke arah Tenten. Dia rela melakukan apapun demi melihat Tenten terluka.
Trak!
Lapisan kayu tongkat melepas suara gemeretak menubruk logam. Meski kayu, tidak gampang baginya untuk patah. Tenten berputar, membawa serta tongkat kayunya menuju Karin. Gadis rambut merah itu mundur mengambil jarak beberapa langkah. Terlambat sedikit, ia dapat terkena ayunan kayu menuju tanah. Sulit dipercaya tapi Karin memiliki reflek tubuh yang bagus.
"I definitely won't lose to you." ujar Karin.
Tenten membalas tatapannya acuh tak acuh. Rasa sakit yang menjalar di kepalanya tak ia hiraukan. Fokusnya tersita ke deret fan girls di sisi lain tanah kosong sekolah. Mereka berlari ke arah Tenten membawa senjata keahlian masing-masing, berteriak menerjang tirai transparan deru hujan. Tenten bersiaga. Dia terpaksa harus membagi fokusnya jadi dua. Karin, and her gang.
Srrrt...
Damn. Tenten memicing. Matanya kesulitan melihat. Pandangan sekitar jadi kabur...gawat.
Drap!
"!"
Di tengah hantaman hujan bak duri tak pernah berakhir berdiri beberapa lelaki, kehadiran mereka sukses memperlambat gerak fan girls. Salah satu dari mereka berambut merah dan menurut Tenten familiar. Beberapa meter dari pria itu ada pria berambut pirang kuning telur, panjang dan diikat. Di sebelahnya, pria berambut putih, lalu pria berambut hitam dengan banyak jahitan di lengannya. Samar Tenten mengingat siapa saja mereka, tapi sesuatu di otaknya terus mengaburkan fokus daya ingatnya.
"Aku tidak akan maafkan...kalau kalian berani sentuh kohai-ku." Sasori mendesis berbahaya.
Pria berambut kuning yang mengingatkan Tenten pada buah pisang itu menoleh, menimpali peringatan defensif Sasori. "Kalau aku jadi kalian, aku akan mundur un! Sasori-danna tidak pernah main-main pada siapapun, walau itu perempuan."
"Heheheheh! Kesempatan bersenang-senang tiba. Jashin-sama memang top. Perempuan semua? Bring it on, bitches!"
Si badan penuh jahitan mengerutkan alis pada si rambut putih. "Jaga mulutmu, Hidan. Kita disini dalam posisi gentlemen. Bukan mengumpat."
Karin adalah orang pertama yang menyuarakan pikirannya. "Hei! Apa yang anggota osis lakukan disini?"
Sasori berbalik. Ekspresi stoic mantan ketua klub karate itu teramat dingin, Tenten tidak pernah membayangkan wajah itu bisa lebih stoic lagi. "Maaf, aku tidak sadar kau mau kami datang lebih cepat; kami sibuk mengambil bukti visual atas tindak bullying yang kau inisiasikan ini. Atau tepatnya, 'kalian'." ia sengaja melirik ke arah fan girls yang ketakutan melihat anggota osis muncul. "Video berdurasi tiga menit awal permulaan insiden ini cukup sebagai bukti yang bisa memberatkanmu di pengadilan. Kau pasti sadar hukum perdata untuk hal yang satu ini."
Karin tidak bergeming. Matanya menatap kosong. "Aku tidak peduli. Ayahku punya kekuatan absolut di Konoha. Mencabut tuduhan seperti itu mudah untuk dipatahkan. Kalian," Karin menghunuskan ujung bat ke arah anggota osis dan fan girls. "mundur kalau kalian mau. Tapi dia," ujung bat kali ini menuju Tenten. "Bagianku."
Sasori mengerutkan alis. Gadis ini nekad. "Kau-"
Sret!
Sesosok lengan panjang memotong ucapan Sasori. "Biarkan, Sasori."
"Itachi-san?"
Tenten memicingkan mata lebih lagi. 'Itachi-san?'
"Apa yang membuat imouto-ku digilai fan girls tidak waras seperti kalian ini?" tanyanya dingin, tak ada kesan meminta jawaban disana, bahkan nada bicaranya ke arah retorikal, memerintah dan sarkastik. Tidak bermaksud berlebihan tapi Tenten menahan keinginan bergeming. Itachi-san lebih dingin dari es, dibandingkan dengan Sasuke pun tidak pantas. Sekarang Tenten mengerti kenapa ia diserahi kewajiban mengemban peran wakil ketua osis.
Karin agak terguncang melihat Itachi yang ikut turun ke lapangan. Awalnya ia kaget melihat sosok yang mirip Sasuke muncul, tapi setelah yakin itu bukan si objek obsesi; pujaan hatinya ia merasa agak lega. Lagipula inti dari pemojokan Tenten ini adalah menyingkirkan gadis pengganggu itu agar tidak berani mendekati Sasuke kembali. "Kalau kau tanya kenapa...jawabannya jelas, bukan." Karin membalas tatapan Itachi. "Aku mengaguminya."
Itachi diam beberapa saat sebelum menyatakan pendapatnya tentang jalan pikir Karin. "Kau sadar, kalau tindakanmu ini justru membuat Sasuke muak padamu?"
"Sadar. Sepenuhnya."
Sasori berbisik. "Itachi." singkat, namun jelas apa yang diinginkan Sasori; menyingkir dan biarkan aku meringkus psycho berkedok perempuan belia itu. Jelas terlihat ketidakwarasan-nya dari awal ia menyiram Tenten dengan spiritus; namun jika begitupun, maka para fan girls yang menonton tenang pun masuk kategori yang sama. Intinya?
"Mereka sudah kalap. There's nothing more to it than that."
"Sasori." kata Itachi tenang, kepalanya ia tarik menunduk ke bawah sedikit, menunjukkan bahwa fokusnya kini tertuju hanya pada sang puppeteer. "Akan kuhentikan sebelum kohai kesayanganmu terluka."
"Itu yang kukhawatirkan." hela nafas Sasori terdengar. "Kau meremehkan Karin."
"Setelah kupikir, mungkin ada baiknya kita tunggu Sasuke kesini."
Sasori terhenyak mendengar perkataan Itachi. "Itu hanya akan memperparah keadaan."
"We'll see." Itachi meluruskan kepalanya kembali. Mata onyx terkelambu helaian bulu mata basah nan seksi miliknya sesekali berkedip menatap para fan girls datar, seakan tidak tahu pembelotan hati mereka yang dalam saat ini menari penuh dedikasi terhadap sang Uchiha tertua, meninggalkan Sasuke di urutan kedua. Uchiha memang keren...menurut suara hati naif mereka. Tidak menimbulkan keheranan bagi Tenten yang menyaksikan segalanya ketika Itachi menjatuhkan pandangan padanya; memancing amarah fan-girls-dadakan-Itachi akibat hal yang memang di luar kendali juga dugaan Tenten itu. "Tenten. Kemarilah."
"Eh?"
Clik. Mata merah wine Karin bergulir tajam ke samping. Sekecil apapun gerakan tertangkap jelas mata elang Karin. Semuanya terasa begitu lambat dan damai sampai...
Trak!
Seluruh pasang mata mengarah ke adegan sepersekian detik itu. Waktu seolah terhenti kala kaki Tenten menghujam tanah berlumpur mendahului siraman air hujan membasahi bumi. Dentuman ibu pertiwi menjalar hingga ujung sepatu Deidara bermeter jauhnya. Tulang kaki Tenten bergemeretakan menahan beban yang tanpa peringatan menimpa. Bulu matanya menyentuh permukaan pipi dalam ekspresi kewalahan. Kedua lengannya membeku di momen ini seraya membentangkan kayu pemberian Zabuza ke langit. Di atas kepala Tenten sekelebat bayangan berambut panjang merah menebaskan tongkat pemukul kepadanya tepat bersamaan diangkatnya tongkat kayu.
"!"
Zraaak! Tenten terhempas dorongan pemukul Karin. Kakinya memijak lumpur, melemparnya jatuh tersungkur bercipratan lumpur dan rumput basah. Rintihannya terdengar pilu begitu kepalanya menghantam tanah, entah bagaimana lumpur di sela-sela rambut eboni Tenten melumasi ikat rambut hingga terlepas menebar jejaring kecoklatan ke mana saja tidak terkecuali wajahnya. Barulah ia buka matanya ketika ia baru sadar pergelangan kakinya tak dapat digerakkan dan melihat ujung pemukul aluminium Karin berjarak hanya beberapa sentimeter dari dahinya. Sisanya tidak begitu jelas tapi Tenten mengenali warna merah itu.
"Kau tidak boleh kemana-mana."
Deg.
"Kh..." Sasori melangkah maju. Itachi menahannya lagi, membuat Sasori menggeretakkan gigi. "Itachi-san..."
"Kubilang tunggu." tekan Itachi, masih dengan komposur cool ala Uchiha.
"Hoi, kita apakan cewek-cewek ini? Masa Tenten saja yang bersenang-senang?" celetuk Hidan yang tidak bisa membaca keadaan.
Kakuzu merengut. "Kubilang kita perlihatkan saja video bukti aksi merusak mereka kepada orang tuanya, lalu minta uang ganti rugi dan uang tutup mulut. Sekali tepuk dua nyamuk."
Deidara nge-sweatdropped mendengar percakapan sepihak Kakuzu. Dasar bendahara OSIS lintah darat KHS. Ia mengibas-ibaskan tangannya ke arah duo ababil itu. "Ya, ya. Lakukan itu dan giring mereka pergi dari sini. Cepat."
Deru lengking ketakutan fan girls membahana. Mereka serentak memohon Hidan dan Kakuzu agar jangan melapor kepada orang tua mereka, namun nihil. Bak peternak ayam potong menggiring masuk kandang ayam ternaknya untuk dibawa ke rumah jagal esok hari Hidan dan Kakuzu menakut-nakuti fan girls hingga mereka mau mundur dari medan tempur Karin. Satu persatu fan girls mengambil langkah seribu dibawah kerasnya hujaman air hujan beserta senjata masing-masing. Beberapa yang merupakan antek Karin saling bertukar pandang serba salah, memperdebatkan loyalitas dengan yang bersangkutan dalam diam. Mereka tahu mengangkat kaki dari kekacauan yang Karin rintis bisa berakibat fatal.
"Apa yang kalian tunggu? Cepat jalan!" perintah Deidara agak keras melihat beberapa fan girls masih tinggal di tempat melawan arus barisan menuju area teduh sekolah. Mereka terlonjak kaget. Ketakutan, terbata mereka ucapkan kata-kata maaf sebelum tanpa pikir panjang membaur jadi satu bersama lainnya. Si rambut jagung menggeleng tak habis pikir. Belum sanggup hidup tanpa orang tua sudah melakukan percobaan pembunuhan. Bercita-cita jadi kriminal, bu?
Itachi melirik arloji rolex di pergelangan tangannya. Sasuke telat dari jadwal nih. Calon ahli waris Uchiha Group macam apa yang datang di saat kritis saja tidak sanggup? Ia menggelengkan kepala, membawa tangannya menyusuri kelembaban pekat lautan alang-alang onyx basah. "Karin, hentikan sekarang juga. Aku yakin aku tidak perlu mengingatkanmu tentang hukuman skors dari sekolah, bukan?"
Sang empunya nama mengedutkan kelopak mata hampa. "Kau berisik sekali, senpai." desisnya. "Ini sudah menjadi urusan pribadi. Dan kusarankan kalau kau ingin menghentikanku, lakukanlah sekarang juga. Karena…"
Trak!
Tergopoh-gopoh kepayahan, Tenten mengeratkan genggamannya di kayu. Sepersekian detik. Dalam sepersekian detik Karin mematahkan serangan Tenten. Sebenarnya, seberapa jauh kemampuan tersembunyi Karin?
"…aku akan menang." bisiknya. Ada nada misterius melumuri kalimat yang ia tuturkan dan Tenten tidak suka itu. Berusaha keras menjaga keseimbangannya, Tenten tahu Karin tidak akan berhenti sampai disitu; menangkal ayunan kayu dengan pemukul. Sekilas posisi bertahan mereka mengingatkan dirinya akan dua ksatria tengah bertarung. Bedanya, mereka tidak menggunakan pakaian zirah. Mereka juga tidak saling menghunuskan pedang.
Mata coklat brownies Tenten melebar; dan disanalah kesalahan fatal ia lakukan. Gerakan luwes Karin mendadak menjadi terlalu cepat bagi penglihatan si panda. Panik, ia tarik kedua kakinya bergerak bersamaan dengan koordinasi yang sangat kurang sinkron dengan otaknya yang berkabut. Sebenarnya ia tahu kondisinya sekarang isn't the best of all. Tapi jika ingin harga dirinya utuh sebagai wanita, Tenten harus-
Shit!
Bugh!
Kalau bola mata bisa menggelinding keluar dari kantungnya berada, mungkin semacam itulah yang Tenten rasakan menjalari syaraf matanya. Ia berusaha menghindar, tapi Karin membaca gerakan Tenten dan mengambil kesempatan di depan mata…
Gusrak! Sraaaaak!
…untuk menyambar bahu gadis itu menggunakan ujung pemukul baseball dari aluminium kepunyaannya. Mata Tenten terbelalak kalut akibat shock trauma sakit yang tengah melanda otot bahunya. Ia yakin mendengar samar geseran tulang selangka bahu kiri. Tidak sampai dua detik raungan Tenten meletus.
"AAAAAAAAH!"
"Itachi!" Sasori membentak Uchiha kakak di depannya. "Sudah cukup, kan? !"
Itachi menatap datar. Ia tidak hiraukan kegusaran Sasori. "Belum."
Sasori mencoba menerobos paksa barikade Itachi, dadanya membentur lengan sang Uchiha. Rahangnya beradu. "Aku tidak mengerti jalan logikamu…" ia menggeretakkan giginya. "Sekarang dia sudah tersungkur tidak berdaya, Itachi. Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu?" sindir Sasori sembari sengaja menyeret gadis berambut eboni beberapa meter jauhnya dari posisi mereka berdiri menjadi topic 'perbincangan' mereka. Bisa dilihat jelas sarkasmenya? Ya, Sasori memang sebegitu peduli dengan kohai-nya itu. Kohai yang mengerang kesakitan di tengah lapangan berlumpur itu? Yeah. Tragis.
"Kukira kau cukup pandai untuk tidak mempertanyakan kebijakanku, Sasori."
"Aku memang tidak sepintar kau, tapi aku bisa melihat dengan jelas kalau kita harus menghentikan kegilaan ini."
Itachi memejamkan matanya. Sikap sok tenang itu membuat Sasori muak. "Belum."
"Aah…agh…aaah…!" erang Tenten. Tiap erangan selalu lebih keras, lebih pilu dari erangan sebelumnya. Air mata tidak bisa dipungkiri meleleh dari pelupuk matanya. Rasa hambar lumpur dan asin air mata memenuhi mulutnya yang membuka. Seolah ada mike yang membesarkan volume suara tersiksanya, raungan Tenten menjadi semakin melengking hingga batas kapasitas tampung pita suara. Akibatnya suaranya menjadi parau menyayat hati siapapun yang mendengar.
"Itachi." Sasori mendesak.
"Apa kau tuli, Sasori?"
"Aku tidak mau dikatai begitu olehmu." Balasnya sengit. "You're the one who won't see what is before your very own eyes. She's agonizing, for god's sake."
Itachi menggulirkan pandangannya. "I'm aware of that."
Deidara menyaksikan pergumulan antara Tenten dengan lumpur yang memegangi bahunya kesakitan dalam diam. Ia sudah menahan diri sedari tadi dari keinginan impulsif untuk mendatangi Itachi dan memukul wajah tampan itu. Apa yang sebenarnya direncanakan olehnya…? Sejauh ini, Tenten terlihat dominan sebagai korban pertarungan tidak imbang ini. Dari kejauhan ia bisa mendengar Hidan dan Kakuzu berselisih tentang Jashin dan uang. Deidara menghela nafas. Duo zombie yang tidak berguna.
Langkah mendekat kaki Karin terdengar kasar di telinga Tenten. Tapi dia hanya bisa terus berteriak kesakitan dalam penderitaannya tanpa bisa berbuat apapun. Air mata terus mengalir. Sial. Sial, sial, sial, sial! Kenapa dia bisa lengah? Ini kesalahan fatal yang belum pernah ia buat dan paling buruk. Definitely the worst mistake ever. Her pride is hurting. Harga dirinya sebagai wakil ketua klub karate tercoreng. Tubuhnya mati rasa karena rasa sakit yang berpusat di bahu kiri. Sakit…rasanya seperti mau mati saja.
"Aaaah….huwaaaaaah…"
Karin menghunuskan pemukulnya kearah Tenten di tanah, hampir meyentuhnya dengan ujung pemukul. "Checkmate."
"Graaaah…a…h…huaaaaa…!"
Deidara meringis mendengar lengkingan suara Tenten. Jelas sudah, Tenten tidak mampu melanjutkan pertarungan ini. Sasori menatap Itachi. "Itachi. Kumohon."
"Harus berapa kali aku memberitahumu, Sasori?"
"Aku tidak peduli. Cepat singkirkan lenganmu itu atau-"
"Itachi! Apa yang sebenarnya kau pikirkan? !"
Semua kepala menoleh kearah teriakan berasal. Suara itu terdengar dingin namun ada unsur panik serta amarah menyelimuti. Mata onyx identik seperti milik Itachi melotot tidak percaya dari antara helai poni hitam yang jatuh ke bawah karena dibasahi hujan. Alisnya berkerut marah. Keseluruhan penampilannya tidak tampak seperti ia yang biasanya tampil selalu keren di mata para fans-nya. Tapi ia masih memiliki kharisma khas Uchiha padanya. Karin tidak dapat berkata-kata lain melihat sosok itu tiba-tiba muncul entah dari mana selain nama yang terucap dari bibirnya yang kedinginan karena dihujam hujan tanpa henti. "S-sasuke-kun…?"
Tenten memicingkan matanya kearah ia mendengar suara yang juga sangat familiar baginya itu. Raungannya masih terus berkoar. 'Sasuke…?'
Sasuke meruncingkan kedutan matanya penuh benci. "Kau…Karin.'
"Ah." desah Itachi melihat kehadiran adiknya. "Kau terlambat."
Sasuke menoleh dengan kecepatan penuh ke arah Itachi. "Apa maksudmu? ! Kau sendiri sedang apa sementara aku tidak ada? ! Membiarkan psikopat itu menghabisi Tenten? !"
Karin dan hampir semua penonton terkejut melihat reaksi Sasuke. Dia yang biasanya cool, heartless, tidak peduli siapapun itu…sejak kapan memiliki emosi terhadap Tenten? Something is surely up. Sasuke tidak luput menyadari itu tapi ada hal yang lebih penting. Raungan Tenten masih belum berhenti dan justru semakin parah. "Karin, kuminta kau enyah sekarang." perintahnya, mencoba menahan amarah.
Karin menjatuhkan pandangannya ke Tenten di tanah. Emosinya entah kenapa tidak meluap-luap seperti tadi. Ia merasakan perasaan yang berbeda, sesuatu yang baru. Hatinya terasa dingin ditelan perasaan baru itu. "Kau dengar itu?" gumamnya.
Tenten masih terus terisak meraung saat ia mencoba memahami pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. "Sasuke…Sasuke yang kukagumi datang kemari, hanya demi…kau?" ucapnya, lebih seperti pernyataan dibandingkan pertanyaan. Meski setengah tidak fokus karena rasa sakit yang menghujam Tenten bisa mendeteksi rasa jijik tersirat di tutur kata Karin. Dia tidak menyangka Sasuke akan repot-repot datang untuk Tenten dan menyatakan ketidaksukaannya melalui ekspresi wajah cool…dan ucapan singkat seorang Uchiha…semerta demi perempuan di hadapannya ini?
"Gadis itu sudah kehilangan kendali atas rasio dan tindakannya." komentar Anko. Deidara yang berdiri tepat di sebelahnya mengangguk-angguk. "Benar."
"Wuah? !" Deidara terlonjak kaget. "A-anko-sensei? ! Sejak kapan, un? !"
Anko menatap Deidara dengan alis diangkat. "Kau bicara seolah aku mendadak muncul entah dari mana."
Sweatdrop besar melayang di kepala kuning Deidara. "Tapi memang begitu, kan, un…"
Anko menggulirkan pandangannya. 'Kau sebaiknya muncul di saat yang tepat, Kakashi…'
Karin memainkan pemukulnya, menimang-nimang seakan itu benda kesayangannya. "Dia membenciku…karena kau."
"Karin…apa yang akan kau lakukan?" sahut Sasuke.
"Jatuhkan pemukul itu sekarang!" perintah Anko.
"Sasori…dia perempuan. Do you mind?"
"Kh…dari awal kau memang tidak berniat membiarkanku meringkus Karin, kan, Itachi?"
Sret.
Semua orang menangkap gerakan Karin. Di tangan kanannya terhunus pemukul, gerakannya lunglai. Was-was dalam hati, semua berharap Karin akan menyerah dan menjatuhkan senjatanya. Semua terasa begitu lambat sampai Karin berbisik diantara desiran hujan, ia menurunkan volume suara hingga hanya Tenten yang dapat menangkap dengar.
"Semua…gara-gara kamu."
Drap! Sasuke dan Anko berderap maju beriringan. "Dimana Kakashi? !"
"Dia punya alasannya sendiri!"
"He better has a really damn good reason to make us wait!"
"Percayalah, Kakashi selalu punya!"
Genggaman Karin di sekitar pemukul bertambah erat. Tirai dari helai rambut merah yang dialiri air hujan menutupi ekspresi wajahnya. Ia dapat mendengar derap langkah kaki mendekat. Tapi ia tidak menggubrisnya. "Semuanya…"
"Karin!"
'Apa…'
"Hah…kh…huah…" desah Tenten. Mata brownies-nya membuka meski anggota tubuh lainnya tak dapat ia gerakkan. Pandangannya menjadi kabur seperti kaca jendela yang mengembun.
"Tenten! Bangun!" seru Anko.
'Anko…sensei?'
Pikiran Tenten mendadak menjadi gaduh. Firasat buruk melanda. Karin…dimana dia? Jangan-jangan dia-
"Semuanya gara-gara…kamu…"
Jantung Tenten berhenti sekilas. Kemerahan di depannya itu...tidak.
'Aku…tidak bisa bergerak…'
Ujung jemari Tenten perlahan meremas permukaan lumpur. Dia harus melarikan diri-bukan, melawan. Tapi bagaimana caranya kalau berdiri saja ia tidak bisa?
'Suaraku…tidak mau keluar…'
"Semuanya gara-gara kamu!"
Telinga Tenten, meski terganggu oleh syarafnya yang sedang tidak bekerja sebagaimana mestinya hapal betul bunyi pemukul aluminium Karin ketika bilah besi itu merobek udara dengan kecepatan penuh. Protes oleh instingnya yang memerintah Tenten untuk beringsut dari sana tidak bisa lagi ia dengar begitu tubuhnya menanti pasrah apa yang akan menghampiri inderanya;
Pain.
DUAK!
"Tidak!"
.
Zabuza terlonjak dari posisinya terlelap. Matanya terbuka dan firasat buruk menghinggapinya. Mendadak bayangan akan Tenten, gadis yang baru saja ia kenal itu menghantui ingatannya. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat. Apa ada sesuatu yang terjadi?
"Zabuza-san?" tanya Haku khawatir.
.
"Hah…"
Bruk. Pemukul aluminium Karin terjatuh ke tanah. Matanya terbelalak tidak percaya. Dalam interval waktu pemukul sampai ke kepala Tenten, tidak mungkin ada hal yang bisa lebih cepat melebihi…pemukulnya…
"Ka…kau…"
"Are you happy now….Karin?"
Sasuke melambatkan langkahnya sampai ia berhenti sama sekali. "Kakashi…"
"Kakashi-sensei?" Deidara melihat kaget sosok berambut silver yang tiba-tiba muncul.
"The hero's back."
Di tengah lapangan penuh lumpur, sensei berambut silver itu berdiri di hadapan Karin dengan wajah stoic. Darah mengalir dari dahinya membentuk semacam patahan di permukaan kulitnya yang putih. Mata berwarna berbeda miliknya memantulkan kebencian mendalam melihat Tenten tersungkur tak berdaya di tengah lapangan. Dan kebencian itu ia arahkan seutuhnya kepada Karin. Baju kemeja Kakashi basah kuyup sebagaimana semua baju partisipan adegan bullying Tenten. Punuk-punuk jemari tangannya memutih karena mengepal.
"Apa memukulku…memberimu kepuasan yang sama seperti ketika kau memukul Tenten?"
Deg.
'Suara itu…sensei…?'
.
…and they say, a hero is someone who comes late. But when he arrives, he wipes away your doubts, your deepest fear. And what remains is endless faith on what our future might become. And yet, we are unsure of what the future has for us…but you know as long as the hero is near, everything's gonna be alright.
.
A/N: sedikit informasi, quote diatas adalah punya author. No copy, ya. Kalau ada yang mau pakai, put me in as a credit. #digampar hehe, see you in next chapter! And don't forget to review!
