Title: Captivated

Genre: Romance, Drama,

Rating: T

Pairing: Yunjae

Disclaimer: Yunho belong to Jae Joong, Jae Joong belong to Yunho. Yang saya miliki hanya ceritanya ^^

Warning: Yaoi, typo(s), yunjae, alur seadanya, DON'T LIKE DON'T READ, NO BASHING.

.

.

Chapter 9

.

.

Jung Yunho, namja itu tetap gigih meminta maaf dari kekasihnya yang tengah ngambek padanya seolah kata menyerah tidak pernah ada dalam kamus besar hidupnya. Dinginnya pagi yang menusuk bukan jadi penghalang bagi namja tampan itu untuk menunggu Jaejoong di depan mansion keluarga Kim hanya untuk meminta maaf pada namja cantik itu.

Pagi-pagi sekali bahkan sebelum matahari naik ke permukaan, ia sudah berdiri tepat didepan pintu gerbang masuk rumah Jaejoong.

Yunho semakin merapatkan coat-nya untuk menahan hawa dingin kota Seoul yang masih belum juga menghangat sambil sesekali menengok ke arah pintu gerbang berlapis baja itu.

Cklek!

Kriieett!

Yunho sontak menolehkan kepalanya begitu ia mendengar suara pintu gerbang berwarna hitam itu terbuka dan menampakkan sosok yang ditunggu-tunggunya sejak daritadi, seketika hatinya menghangat hanya dengan melihat rupa wajah dari orang yang begitu ia cintai itu.

Namja cantik berkulit pucat itu sukses membelalakkan matanya, ia begitu terkejut dan terperangah saat melihat Yunho sudah menyambutnya di pagi-pagi buta begini ketika ia hendak berjogging keluar.

"Sedang apa kau disini?" tanya Jaejoong mengerutkan keningnya sambil menurunkan headphone yang terpasang di kedua telinganya.

"Boo, mianhae. Jinjja mianhae." Ucap Yunho. Yunho sudah tidak tahu kata apa lagi yang dapat mewakili perasaannya saat ini selain kata maaf.

Jaejoong hanya menghela nafas. Ia baru tahu ternyata Yunho sama sepertinya, keras kepala.

"Dasar keras kepala. Apa kau tidak mengerti kata-kataku kemarin?" ucapnya dingin.

"Boo, aku mohon. Tolong maafkan aku, ne? aku tidak bisa berpikir jernih sebelum kau memaafkanku, aku bahkan tidak bisa tidur." Ungkap Yunho dengan wajah memelas lengkap dengan nada memohon.

Jaejoong tahu Yunho tidak bohong karena ia dapat melihat lingkaran hitam di bawah mata Yunho, oh jangan lupakan juga bibir hati Yunho yang juga sudah mulai membiru, membuat Jaejoong bertanya-tanya sejak kapan dan sudah berapa lama Yunho menunggu di depan rumahya seperti ini?.

"Sejak kapan kau sudah berada disini?" tanya Jaejoong dengan nada kesal, namun bukan kesal karena ia masih marah dengan Yunho namun kesal karena ia merasa khawatir dengan Yunho yang sudah mulai kedinginan itu. Lihatlah Jung betapa baiknya kekasihmu ini, disaat ia marah padamu ia masih bisa mengkhawatirkanmu.

"Bukan itu yang jadi masalahnya sekarang Boo..."

"Jung Yunho! Aku bilang, sudah sejak kapan kau berada disini?" tanya Jaejoong dengan nada suara yang mulai meninggi. Kekasihnya itu, selalu saja membuatnya kesal.

"Dari du-dua jam yang lalu" jawab Yunho lemah. Ia begitu tak bisa berkutik melihat Jaejoong naik pitam seperti itu didepannya.

Jaejoong melebarkan matanya, kalau dua jam itu artinya Yunho sudah disini dari jam setengah lima subuh lalu ketika ia masih betah bergelung dengan bantal dan selimutnya.

"Mwo? Dua jam yang lalu? Neo micheosseo?!" rutuk Jaejoong tidak habis pikir. Buat apa Yunho kerumahnya pagi-pagi buta begitu disaat cuaca kota Seoul sudah semakin mendingin? Apa namja tampan itu mau mencoba bagaimana rasanya terserang hipotermia?.

Jaejoong langsung meraih tangan Yunho agak kasar. Astaga, dingin sekali. Bahkan Jaejoong bisa merasakan tangan besar itu tengah menggigil tanpa pemiliknya sadari.

Jaejoong melotot ke arah Yunho dan menghembuskan nafasnya sambil berkata dengan penuh penekanan "Ttarawa!" dan ia pun langsung menarik Yunho ke dalam rumahnya.

"Boo..." gumam Yunho yang menurut saja dirinya ditarik paksa oleh kekasih cantiknya itu ke dalam rumah.

Begitu sampai di dalam rumahnya, Jaejoong mendudukkan Yunho di sofa ruang tamunya yang cukup besar. Mansion keluarga Kim saat itu masih terlihat sepi, hanya ada beberapa maid saja yang sudah mulai bekerja membersihkan rumah itu, sementara orang tua Jaejoong mungkin masih asik dengan mimpi indah mereka.

"Diam disini!" perintah Jaejoong layaknya seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. Pemuda cantik nan menawan itu kembali berjalan meninggalkan Yunho entah kemana. Ah gara-gara Jung muda itu ia harus mengurungkan niatnya yang tadinya mau jogging itu.

Tidak sampai lama Yunho menunggu, Jaejoong sudah kembali dengan membawa selimut tebal di tangannya. Tanpa pikir panjang lagi, Jaejoong mendekat ke arah Yunho dan memakaikan selimut itu hingga menutupi seluruh badan Yunho yang sudah menggigil kedinginan itu.

Sementara itu Yunho hanya dapat memperhatikan gerak-gerik kekasihnya itu tanpa mampu mengeluarkan kata-kata apapun. Ia masih belum bisa mencerna sepenuhnya sikap Jaejoong saat ini padanya.

Begitu Jaejoong selesai memakaikan selimut itu, ia langsung pergi lagi menuju dapur untuk membuatkan coklat panas. Aigoo umma kita tercantik ini benar-benar perhatian sekali ne?.

Begitu selesai, Jaejoong pun kembali ke ruang tamu dan menyerahkan coklat panas itu pada Yunho. Dan dengan agak ragu Yunho pun menerimanya. Saat itu juga Yunho begitu nyaman saat ia menyentuh cangkir yang hangat itu.

Jaejoong yang kini sudah duduk di seberang Yunho hanya menatap setiap gerakan Yunho tanpa mengeluarkan suara apapun. Ia kembali menghela nafas. Jung Yunho, entah apa yang dilakukannya hingga membuat Jaejoong enggan berlama-lama memarahinya.

"Mianhae" lirih Yunho sambil menyesap coklat panasnya dengan menundukkan kepalanya malu menatap Jaejoong.

"Dengan bersikap seperti ini kau justru malah membuatku terlihat seperti orang jahat Yun." Jaejoong menatap lirih ke arah Yunho, saat ini matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ada semacam perasaan rindu yang bergelung di hatinya saat menatap Yunho.

Jaejoong menatap bingung Yunho yang melepaskan selimut darinya, berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekatinya. Yunho duduk disampingnya dan langsung mendekap tubuhnya erat.

Rasanya seperti sudah lama sekali Yunho tak mendekap tubuh kekasih cantiknya ini dan ia benar-benar merindukan Jaejoong. Perasaan hangat pun menjalari ke setiap sendi-sendi tubuhnya hingga sampai ke hatinya.

"Kau selalu begitu baik padaku, tapi aku selalu saja membuat masalah. Mianhae boo, aku mungkin bukan yang terbaik untukmu tapi aku sungguh ingin terus berada disisimu." Ucap Yunho seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jaejoong.

Tangan Jaejoong terangkat membalas pelukan Yunho. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Yunho sambil mengusap surai hitam milik kekasihnya "Dasar bodoh, kau pikir aku juga tidak begitu? karena itu, jangan buat aku meninggalkanmu"

"Gomawo. Gomawo karena telah menerimaku yang masih banyak kekurangan ini" Yunho mengangkat wajahnya dan menatap wajah Jaejoong dari dekat. Tangan Yunho meraih wajah Jaejoong dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong, hingga akhirnya...

Haattcchhii!

Yunho bersin dengan tidak elit.

"Aisshhh...suruh siapa berdiri di rumah orang pagi-pagi sekali seperti itu eoh? Kau itu kedingingan tuan Jung, kau mau mati? Ck." gerutu Jaejoong dengan wajah yang sudah memerah. Jung Yunho sial. Ia tidak tahu apa kalau Jaejoong begitu mati-matian mengendalikan degupan di jatungnya? hampir saja ia terkena serangan jantung.

"Saranghae boo" ucap Yunho sambil memamerkan cengirannya, meksipun begitu ia sangat tulus saat mengucapkannya.

"Arra" jawab Jaejoong ketus dan Yunho hanya terkekeh.

.

.

Terkadang tidak ada salahnya ketika dihadapkan dengan seseorang yang begitu keras kepala, kita memilih untuk mengalah, mengalah bukan berarti kalah justru mengalah itulah yang akan mendamaikan kedua pihak yang sedang bersitegang. Dan pilihan mengalah itulah yang Jaejoong pilih.

Ia tahu jika ia tetap keras kepala dan terus bersikukuh dengan egonya yang memilih untuk tetap marah pada Yunho, sampai kapanpun masalahnya dengan kekasihnya itu tidak akan pernah selesai lagipula jika ia tetap mempertahankan egoismenya ia takut akan kehilangan Yunho nantinya dan ia tidak mau hal itu terjadi. Dan satu lagi, ia tidak betah berlama-lama mendiamkan Yunho seperti itu.

Ah Jung, kau begitu beruntung mendapatkan seseorang seperti Jaejoong disampingmu. Tidakkah kau merasa bersyukur? Karena itu sebaiknya kau memperlakukannya dengan lebih baik dan mempertahankan dia agar tetap disisimu.

Yunho tersenyum melihat punggung kurus Jaejoong yang sedang melangkahkan kakinya riang di depannya itu. Begitu Jaejoong menerima maafnya, ada banyak untaian perasaan lega yang menghinggapinya seolah ia terlepas dari beban berat yang tertahan di punggungnya.

Kim Jaejoong, mahluk cantik itu selalu saja mampu membuat Yunho terpikat berkali-kali dan jatuh cinta padanya berkali-kali pula. Mahluk cantik bak malaikat itu memang benar-benar mengagumkan.

"Yun-ah!" suara merdu Jaejoong memanggil-manggil nama Yunho, membuyarkan namja tampan itu dari lamunannya. Yunho menolehkan kepalanya ke arah Jaejoong yang ada di depannya, ia sedang melambai-lambaikan tangannya menyuruh Yunho untuk mendekat.

"Wae?" sahut Yunho sambil melingkarkan sebelah tangannya di pinggang ramping Jaejoong.

"Aku ingin beli balon yang warnanya merah ini" kata Jaejoong sambil menunjuk salah satu balon berwarna merah diantara banyaknya balon yang dijual di sebuah stand penjual.

Saat ini Yunho dan Jaejoong sedang berada di taman bermain. Setelah kejadian Yunho kedinginan di depan mansion keluarga KIm itu mereka berdua akhirnya kembali akur dan esoknya mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke taman bermain di pusat kota Seoul sebagai ganti acara kencan mereka yang selalu saja gagal.

Yunho terkekeh geli "Hei, berapa umurmu boo? Kenapa kau ingin beli balon hmm?" ucap Yunho sambil mengelus lembut kepala Jaejoong.

"Tapi aku ingin beli itu" Jaejoong pun mempoutkan bibirnya membuat Yunho gemas melihatnya dan tak tahan untuk menciumnya saat itu juga tapi toh ia urungkan mengingat banyak orang disini.

Dan ia pun memilih untuk menggigit kecil hidung bangir Jaejoong saja, membuat kekasihnya itu berjengit kaget dan langsung menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya untuk menyembunyikan semburat merah yang langsung merona di wajahnya.

"Yunnie-ya, memangnya hidungku ini cemilan apa? Kenapa digigit begitu?" kata Jaejoong yang lagi-lagi mempoutkan bibirnya.

"Habisnya kau ini menggemaskan sayang, jangan poutkan bibirmu seperti itu kau membuatku ingin menciummu saat ini juga" ucap Yunho gemas sambil menjawil (lagi) hidung Jaejoong dan ya namja cantik itu mencoba memalingkan wajahnya, ia tidak tahu sudah semerah apa wajahnya saat ini.

Namun melihat balon ada dihadapannya, Jaejoong jadi teringat kembali keinginannya membeli balon. Hampir saja ia lupa.

"Jadi kau tidak mau membelikanku balon ini?"

"Aigoo kau ini kekanak-kanakan sekali" ucapan Yunho membuat Jaejoong mendengus kesal dan memalingkan wajahnya, ujungnya akhirnya namja cantik itu pun pergi meninggalkan Yunho sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Yunho terkikik. Saat marah pun, Jaejoong tetap saja terlihat cantik dan menggemaskan yang tak ubahnya seperti anak kecil, Yunho jadi ingin sekali membawa pulang Jaejoong, memasanginya pita dan memajangnya di kamarnya kekekeke.

"Uri Boojae marah eoh?" teriak Yunho pada Jaejoong yang langsung mengacuhkannya dan tidak menjawabnya.

Yunho tersenyum lalu melihat puluhan balon gas yang berada di stand penjual yang berada tepat disampingnya, ia melihat balon berwarna merah yang tadi diinginkan Jaejoong.

Ia lalu menoleh ke arah si penjual yang sedang tersenyum padanya sambil berkata "Kekasihmu sepertinya marah padamu"

"Ne, tapi meskipun dia marah dia masih tetap imut. Iya kan ahjumma?" ucap Yunho yang langsung dibalas anggukkan penuh semangat oleh sang ahjumma penjual balon itu.

"Jadi kau mau membelikannya balon ini?" tunjuk ahjumma itu kearah balon merah yang diinginkan Jaejoong.

"Ania. Aku beli semuanya saja"

"Ne?" ahjumma itu terkejut saat Yunho bilang akan membeli semua balon jualannya.

"Benarkah tuan?"

"Ne. tolong berikan aku semua balon ini ahjumma" ucap Yunho yang kini sedang merogoh uang dari dalam dompetnya. Hanya membeli balon saja bukanlah hal yang sulit baginya.

Dan ahjumma itu pun memberikan semua balon jualannya yang jumlahnya puluhan itu pada Yunho setelah Yunho menyerahkan beberapa lembar won. Ahjumma itu begitu senang karena dagangannya laku terjual habis dalam sekali waktu. Terima kasih untuk presdir kita ini.

Ahjumma itu tersenyum penuh arti menatap punggung Yunho yang sekarang sudah menggenggam puluhan balon dan mengejar Jaejoong itu. Ahjumma itu menggelengkan kepalanya sambil bergumam "Anak muda jaman sekarang"

Yunho berjalan pelan menghampiri Jaejoong yang kini sedang menyilangkan kedua tangannya dan memunggungi Yunho sambil beberapa kali mendengus kesal.

"Masih marah hmm? " bisik Yunho tepat didepan teliga Jaejoong namun lagi-lagi Jaejoong memalingkah wajahnya acuh.

"Yah padahal aku sudah membelikanmu balon segini banyaknya hanya untukmu, kalau kau tidak mau aku lepas saja deh" Jaejoong mengerutkan keningnya dan langsung memutar kepalanya ke arah Yunho. Namja cantik itu membulatkan matanya sempurna saat Yunho membawakannya puluhan balon di genggamannya.

"Kau membelikan ini semua untukku?" ucap Jaejoong menerima puluhan balon itu dari Yunho.

"Tentu saja, memang untuk siapa lagi? Changmin? Aku baru tahu kalau dia makan balon juga" kelakar Yunho, Jaejoong tertawa mendengarnya. Lucu sekali kalau Changmin makan balon, yang ada tubuh jangkungnya melayang akibat terlalu banyak gas helium di dalam perutnya hahaha.

Jaejoong tersenyum lembut sambil berkata "Gomawo"

Yunho mengacak rambut Jaejoong "Aigoo, jangan marah lagi ne? Aku trauma. Meskipun kau tetap cantik saat marah, tapi tetap saja menakutkan" Yunho bergidik ngeri mengingat bagaimana kemarin-kemarin Jaejoong begitu jutek padanya, aigoo itu seperti mimpi buruk baginya.

"Makanya jangan buat aku marah"

"Iya cantik"

"Tampan Jung! Tampan!" protes mahluk rupawan nyaris sempurna itu.

"Cantik Kim! Cantik!" balas Yunho telak.

"Ck" Jaejoong berdecak kesal namun raut mukanya langsung berubah saat ia berkata "Komawo" dengan manisnya sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Yunho dan mendekapnya erat.

"Hmm, apapun untukmu Boo" sahut Yunho membalas pelukan Jaejoong dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jaejoong sambil menghirup aroma tubuh khas Jaejoong.

"Geurigo saranghae" bisik Jaejoong tepat didepan telinga Yunho membuat hati namja tampan dalam pelukannya itu bergetar.

Yunho tersenyum "Nado" ucapnya sambil mengecup leher Jaejoong. Ah, betapa bahagianya Jung Yunho saat ini.

Adegan mesra pasangan Yunjae itu mengundang beberapa pasang mata yang berlalu lalang di sekitar mereka berdua, membuat siapa saja yang menyaksikan kemesraan itu menjadi begitu iri dengan kedekatan Yunho dan Jaejoong. Pemandangan yang indah sekali. Memang, mereka berdua adalah pasangan yang benar-benar serasi.

.

.

"Ngomong-ngomong, apa yang sebenarnya terjadi pada Ara?" tanya Jaejoong saat ia dan kekasihnya itu memutuskan untuk makan malam bersama di suatu restoran yang masih berada dalam satu area dengan taman bermain yang mereka kunjungi tadi.

"Dia jatuh di tangga rumahku saat dia berkunjung" ungkap Yunho. Saat itu memang kebetulan Yunho sedang berada di rumahnya, bukan di apartemennya. Jadi ia tidak menduga bahwa Ara akan jatuh dari tangga tepat setelah ia meninggalkan rumahnya untuk pergi berkencan dengan Jaejoong.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Jaejoong lagi sambil menyuapkan potongan daging steak kedalam mulutnya.

"Sejauh ini memang baik-baik saja tapi aku tidak bisa membayangkan reaksinya saat mendengar kalau kakinya patah"

Jaejoong mengernyitkan keningnya "Memangnya kenapa?"

"Ara adalah seorang penari balet. Dokter bilang Ara tidak bisa main balet lagi untuk jangka waktu yang cukup lama, padahal ia akan bergabung dengan tim hebat dan melakukan pertunjukkan di Paris seperti yang selalu diimpikannya"

"Dia pasti sangat syok ketika mendengarnya" ucap Jaejoong iba.

Drrrttt ddrrrtttt

Tiba-tiba ponsel Yunho bergetar. Dari eommanya. Namja tampan bermata musang itu pun langsung mengangkatnya.

"Ne eomma?... mwo?... arayo eomma. Ne."

"Wae? Musun irisseo?"

Yunho menghela nafas sambil meraih tangan Jaejoong dan menggenggamnya erat "Pertama tolong jangan salah paham dulu. Aku tidak ingin kita bertengkar lagi gara-gara ini"

"Wae geurae? apa ini tentang Ara lagi?" Yunho mengangguk lemah. Ah kenapa juga masalah lagi-lagi harus datang disaat ia dan Jaejoong sudah akur begini. Ia tidak ingin Jaejoong salah paham lagi.

Jaejoong menghembuskan nafasnya, lagi-lagi Ara, tapi biarlah mungkin untuk saat ini ia akan memakluminya. "Apa yang terjadi dengannya?" tanya Jaejoong lagi.

"Ara mengamuk di rumah sakit."

Jaejoong melotot "Mwo?! Mengamuk?" Yunho mengangguk.

"Boo, kalau kau tidak ingin aku pergi, aku tidak akan pergi. Tidak apa-apa jika kau ingin menahanku"

"Kau ini sedang bicara apa? Eommamu menelpon pasti keadaannya begitu gawat kan? Pergilah, aku tidak apa-apa"

Yunho menggeleng "Ani, aku akan tetap disini saja." Ucapnya sambil meremas tangan Jaejoong. Yunho memalingkan wajahnya. Ia sungguh tidak ingin meninggalkan Jaejoong disini.

Jaejoong mengelus tangan Yunho yang sedang menggenggamnya dan berkata dengan lembut "Yun, tidak apa-apa pergilah, kali ini aku bisa mengerti mungkin disana mereka sangat membutuhkanmu. Jadi pergilah, kali aku berikan dispensasi eoh?. Pergilah."

"Jinjja gwaenchanha?"

Jaejoong mengangguk"Gwaenchanha. Ppalli kka"

"Mianhae" lirih Yunho yang dibalas anggukkan mengerti oleh Jaejoong sambil memberikan senyuman manis.

"Telpon Changmin atau Junsu untuk menjemputmu." Jaejoong kembali mengangguk. Yunho pun meletakkan serbetnya dan berdiri dari kursinya.

"Josimhae"

Kemudian dengan sedikit enggan Yunho pun melangkahkan kakinya meninggalkan Jaejoong.

Namun tepat beberapa langkah, Yunho berhenti dan kembali membalikkan tubuhnya lalu berjalan mendekati Jaejoong.

Jaejoong menatap heran Yunho yang kembali berjalan ke arahnya. Yunho lalu mencondongkan tubuhnya dan menyentuh kedua pipi Jaejoong kemudian...

Cup~

Namja bertubuh tegap itu mengecup bibir cherry Jaejoong. Sementara Jaejoong hanya bisa melebarkan matanya tanpa berkata apa-apa karena terlalu terkejut.

"Kanda" gumam Yunho lalu kembali mengecup singkat bibir Jaejoong sebelum akhirnya ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Jaejoong.

Setelah Yunho menghilang dari pandangannya, Jaejoong menyentuh wajahnya yang memanas. Pasti sekarang wajahnya memerah. Jaejoong melirik ke sekitar dan mendapati orang-orang yang ada direstoran itu tengah memandanginya. Dasar Jung Yunho.

.

.

Begitu Yunho sampai di rumah sakit, begitu terkejutnya ia saat melihat ruang rawat Ara sudah seperti kapal pecah. Orang tua Ara yang berada di luar ruangan sudah kualahan dengan tingkah laku anaknya yang baru saja diberi tahu bahwa gadis itu sudah tidak bisa menari lagi.

"Ara-ya! Geumanhae!" teriak Yunho saat melihat Ara menjerit seperti orang kesurupan dengan membanting apapun yang ada di hadapannya.

"Oppa, aku tidak bisa menari lagi hiks... Aku tidak bisa menunjukkan keahlianku padamu..." ucap Ara sambil menangis meraung-raung, matanya sudah sembab entah sudah berapa lama dia menangis.

"Gwaenchanha. Aku selalu tahu kau berbakat. Tak perlu kau tunjukkan padaku pun aku sudah bangga padamu." Kata Yunho sambil memegang kedua tangan Ara untuk menghentikan aksi brutalnya itu.

Ara menggeleng "Aniya hiks... Aku ingin kau melihat pertunjukanku hiks... Perjuanganku selama ini sia-sia, aku tidak bisa menari lagi oppa hiks... hiks"

"Aniya. Kau gadis hebat Ara-ya. kau hebat" ucap Yunho selembut mungkin dengan maksud agar gadis itu dapat menenangkan dirinya.

"Rasanya...hiks... aku ingin mati saja. Aku... aku sudah berakhir oppa"

Yunho memegang bahu Ara yang bergetar dan meremasnya "Jangan bilang begitu. Kau harus bersyukur Tuhan masih memberikanmu kesempatan. Kau bisa sembuh Ara, dengan terapi, kakimu bisa kembali lagi seperti semula eoh?"

"Aniya. Meskipun kakiku sembuh aku harus mulai lagi dari awal, aku tidak ingin melakukannya"

"Justru mulai lagi dari awal itu adalah hal yang harus kau lakukan"

Ara berteriak kencang "Shireo!. Begitu banyak hal yang membuatku menderita selama aku berjuang mati-matian untuk menjadi seorang ballerina yang akhirnya diakui oleh Julliard, aku tidak sanggup kalau harus melaluinya lagi oppa. aku tidak bisa."

"Ani kau bisa Ara-ya, kau bisa. Ne?"

"Oppa..." gumam Ara sambil menatap lurus ke arah mata musang Yunho

"Wae?" sahut Yunho

Ara langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yunho dan menyandarkan kepalanya di dada bidang namja tampan itu. "Bisakah oppa tetap berada disisiku? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi oppa, aku menggantungkan hidupku pada balet tapi sekarang aku sudah tidak bisa menari lagi. Dulu, aku begitu menyukai oppa dan sampai sekarang pun aku masih tetap masih menyukaimu.

Aku pergi keluar negeri dan melupakan perasaanku padamu untuk meraih impianku, balet sudah jadi separuh hidupku. Kini, ketika aku telah kehilangan hal yang selalu mejadi mimpi besarku, aku tidak punya hal lain untuk bisa menggantungkan hidupku oppa, aku butuh sandaran, aku membutuhkanmu sebagai penyanggaku, pijakanku dan tempatku bersandar. Hanya kau yang kubutuhkan oppa, Ne?"

Meskipun begitu Yunho tidak membalas pelukan Ara sama sekali, ia hanya diam sambil berusaha mengatakan sesuatu "Ara-ya, aku..."

"Tolong jangan tolak aku oppa, saat ini aku sudah cukup menderita. Penolakanmu akan semakin membuatku terpuruk" Ara menggelengkan kepalanya di dada Yunho. Gadis itu selalu saja menyerobot Yunho yang belum selesai menyelesaikan kalimatnya. Sebenarnya gadis ini terlalu takut, takut kalau Yunho akan menyakitinya.

Yunho menghela nafas sambil memejamkan matanya "Ara-ya, dengarkan aku dulu. Aku..." Yunho berusaha melepaskan pelukan Ara.

Namun Ara semakin mengeratkan pelukannya "Oppa menerimaku kan?" kata Ara yang lebih terdengar seperti paksaan dibandingkan permintaan atau pernyataan. Aigoo, anak ini persisten sekali.

"..."

Tanpa disadari oleh Yunho dan Ara, diluar ruangan itu telah berdiri seseorang yang sejak dari tadi telah menguping pembicaraan mereka berdua. Jaejoong.

Ya, Yunho tidak tahu kalau sebenarnya Jaejoong mengikutinya sampai ke rumah sakit. Entah apa yang membuat namja cantik itu berkeinginan untuk mengikuti Yunho, kakinya seolah membawa tubuhnya dengan sendirinya.

'Yun, apakah kau akan menerimanya? Apa kau akan menerimanya lalu meninggalkanku?'. Batin Jaejoong dalam hati. Ia takut kalau ketakutan terbesarnya selama ini akan terjadi padanya. ia takut Yunho meninggalkannya dan lebih memilih berpaling pada Ara.

Tes.

Tanpa ia sadari, butiran bening itu jatuh dari sudut mata bulat nan indahnya, ia mendekap mulutnya dengan tangannya saat tangisnya akhirnya pecah juga. Pemuda cantik nan menawan ini pun membalikkan badannya, melihat Ara memeluk Yunho saja ia sudah merasa sesak dan ia tidak akan sanggup jika harus mendengar kelanjutan percakapan antara Yunho dan Ara. Ia takut itu akan semakin menyakitinya nanti.

Jaejoong mengangkat ponselnya, menekan nomer panggilan cepat dan menempelkannya didepan telinganya.

"Changmin-ah jemput hyung" ucapnya lemah.

.

.

TBC

.

.

Mungkin ceritanya sudah seperti yang para reader tebak ya, Ara memanfaatkan keadaannya untuk menarik simpati Yunho. Tapi tenaaannggg permisa, ini kan ff Yunjae bukan Yunra jadi jangan underestimate dulu sama endingnya yah. Oh iya satu lagi tidak akan ada keterlibatan para orang tua disini, jadi udah tahu bocorannya yaaa ^^

Yunjae momentnya juga udah ada yah hehehe dan mian lagi-lagi masalah muncul tapi kali ini udah masuk klimaks jadi abis ini beres bisa langsung end.

Tolong tetap berikan semangat kalian pada saya dengan review kalian, saya butuh suntikkan semangat agar bisa tetap melanjutkan cerita ini hehehe.

Big thanks to:

kim anna shinotsuke, Vic89, Dewi15, nickeYJcassie, MaxMin, My beauty jeje, YeChun, leeChunnie, aoi ao, missjelek, gwansim84, Taeripark, irengiovanny, YUnjae, rimadsung, Bloody Angel From Hell, antarijoongie, akiko ichie, , Lawliet Jung, boojoongie, nin nina, Sweet Morning91, , MPREG Lovers, bearnya Jung, Yoon HyunWoon, Park Regolas, Youleebitha, Dennis Park, dex indra, Rya, BunnyDevil16, BooJaejoongie is Mine, Shipper89, lolleelf, kim jung chan, lollyglory, , angelhana9, liankim10, chantycassie, EgaEXOkpopers, nabratz, hanasukie, diahmiftachulningtyas, para Guest, para SiDer, followers dan yang masukkin cerita ini jadi favorites-nya.

Khamsahamnida *deep bow*

Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin

Happy Ied Mubarak! ^^