Pairing : SasuNaru slight Naruto X OC

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Yaoi, Pedophile, OC, OOC, typo. DON'T LIKE, PLEASE DON'T READ!!!

Sequel of Pedophilia : BABY KISS

Special Thank's to

My Futago Sista' MizuKana as the Demonic Angel

My Seme Kuro Kitsune a.k.a Kaito Kishu

Seme Ablay

Gisella 'Maria' Ichigo

Claudia Cha-Ching

Shiroi Kitsune a.k.a Nanami

Naruto-chan, my kawaii otouto

Special present for Zizi Kirahira Hibiki

For All Readers and Reviewers

-

-

Pedophilia : AI NO KOTOBA

Naruto © Masashi Kishimoto

Pedophilia © Akaneko

'Beta-Ed by FBSN'

Special to Chiaki Megumi a.k.a Ange la Nuit

-

-

Naruto : 12 tahun

Sasuke dkk : 27 tahun

Iruka : 25 tahun

Kakashi : 29 tahun

-

-

Di sebuah desa yang bernama Konoha, saat ini tengah dilaksanakan ujian Chuunin yang diadakan setahun sekali. Kali ini Konoha bekerja sama dengan Kazekage Suna untuk membuat ujian kali ini menjadi lebih baik lagi. Karenanya keadaan Konoha saat ini sangat ramai karena kedatangan tamu penting, yaitu sang Kazekage beserta rombongannya yang datang melihat ujian Chuunin babak terakhir ini. Di sepanjang jalan Konoha, banyak orang lalu lalang menuju arena ujian babak terakhir akan diadakan. Babak terakhir ini terbuka untuk umum. Semua warga diperbolehkan untuk menontonnya.

Sebelumnya diadakan penyambutan untuk sang Kazekage yang telah datang ke Konoha pada hari yang cerah ini. Parade, pawai, dan arak-arakan menghiasi jalanan ketika sang Kazekage datang beserta rombongannya. Penyambutan yang sangat meriah. Semua orang-orang yang berada di sepanjang jalan bersorak gembira menyambut tamu kehormatan mereka. Saat sang Kazekage turun dari kereta kuda yang membawanya, semua orang yang melihat sosok tampan sang Kazekage semakin ramai terdengar. Dengan warna rambut merah bata, kulit putih mulus, dan bermata green sea, sang Kazekage berjalan mendekat ke arah sang Hokage yang bersiap menyambutnya.

"Selamat datang di Konoha, Kazekage-dono," sambut sang Hokage sambil mengulurkan tangannya.

"Terima kasih atas sambutannya, Hokage-dono," sahut sang Kazekage sambil menyambut tangan sang Hokage dengan sedikit senyuman menghiasi wajah tampannya.

Para gadis yang ada di sana langsung berteriak histeris ketika melihat dua Kage yang sangat tampan itu saling bersalaman. Sungguh pemandangan yang sangat indah melihat dua orang Kage yang sangat tampan itu terlihat begitu dekat. Bahkan beberapa wanita sampai mengalami pendarahan pada pembuluh darah mereka dan ada pula yang langsung tak sadarkan diri. Berlebihan? Memang.

"Anda pasti sangat lelah telah mengalami perjalanan jauh sampai ke sini. Silahkan beristirahat terlebih dahulu. Kami telah menyiapkan semuanya. Mari," ucap sang Hokage mempersilahkan tamu kehormatannya.

"Terima kasih banyak, Hokage-dono."

Lalu kedua Kage itu berjalan beriringan masuk ke dalam gedung arena pertarungan bersama dengan bawahan mereka. Di dalamnya telah disediakan ruangan khusus untuk tamu istimewa itu agar mereka dapat beristirahat. Ujian terakhir Chuunin ini masih dilaksakan dua jam lagi. Dan sebelum ujian itu benar-benar dimulai, kedua Kage itu harus memberikan dukungan dan pengarahan pada para peserta yang akan bertarung.

"Silahkan Anda beristirahat dulu di sini. Aku masih punya sedikit urusan," ucap sang Hokage.

"Silahkan," sahut sang Kazekage.

Lalu sang Hokage meninggalkan sang Kazekage beserta bawahannya di dalam ruangan itu. Sedangkan dia sendiri harus memantau persiapan dengan baik sebelum dimulai. Dia bisa saja menyuruh semua bawahannya untuk melakukan hal itu. Tapi dialah yang harus mempertanggungjawabkan semuanya dengan baik. Dan tentu saja ditambah dengan sedikit alasan pribadi di dalamnya.

***

"Akai-chan, Kiru, di sini," seru Naruto ketika melihat kedua rekannya yang baru datang ke arena pertemuan sebelum ujian dimulai.

"Eh? Narunaru? Kau sudah datang?" tanya Akai heran.

"Hehe… Iya. Aku terlalu bersemangat sehingga aku bangun terlalu pagi."

"Oh… Aku juga," sahut Akai.

"Kalian janjian datang bersama?" tanya Naruto.

"Tidak!" sanggah Akai langsung. "Kami kebetulan bertemu di jalan!" seru Akai sambil mendekatkan wajahnya pada Naruto.

"O-oh… Be-begitu, ya?" ucap Naruto dengan sebulir keringat dipipinya.

Lalu Akai menjauhkan wajahnya dari Naruto dengan wajah yang kesal. Sedangkan Naruto memandang sikap Akai dengan heran. Jarang baginya melihat rekannya itu tampak kesal seperti itu. Dan Naruto tidak paham tentang itu.

"Err… Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanyanya bingung.

"Iya," sahut Akai langsung. "Sudahlah, lebih baik kita segera masuk saja. Sebentar lagi upacara sebelum pertarungan akan segera dimulai," lanjutnya dengan sedikit ketus.

"O-oou…"

Lalu mereka berjalan memasuki gedung ujian Chuunin babak terakhir akan dilaksanakan. Akai berjalan mendahului kedua rekannya yang berada di belakangnya. Naruto yang melihat sikap Akai yang menurutnya aneh, berbisik pada Kiru.

"Hei, apa menurutmu Akai-chan hari ini tampak aneh? Apa sejak tadi dia seperti itu?"

"…………… Ya," sahut Kiru setelah diam beberapa lama.

"Ooh… Ada apa dengannya, ya?"

Tapi Kiru tak menjawabnya. Mereka terus saja berjalan memasuki gedung hingga sampailah mereka pada sebuah ruangan yang sangat luas. Di sana telah hadir peserta-peserta yang telah lulus melewati ujian-ujian sebelumnya. Total peserta yang lulus hingga ujian terakhir ini ada delapan orang. Dan tim Kakashi adalah satu-satunya tim yang semua anggotanya lulus hingga ujian babak terakhir ini. Orang-orang yang ada di sana pun memandang tim mereka dengan sinis. Mereka berpikir mungkin tim ini bermain curang. Karena sebagian besar orang mengetahui gosip mengenai hubungan antara Naruto dan sang Hokage. Mereka pikir tim ini dibantu secara khusus oleh sang Hokage itu sendiri. Tapi tak satu pun diantara Naruto, Akai, dan Kiru yang memperdulikan hal itu. Kecuali Naruto yang memang tak mengerti apapun mengenainya.

"Akai!"

"Miss Akai."

Ren dan Shuuichi, rekan dari Miruki menyapa Akai dan berjalan mendekatinya. Tapi Akai tak menanggapinya. Dia hanya melirik kedua orang itu sesaat lalu mengalihkan perhatiannya ke arah yang lain. Melihat sikap Akai yang acuh, membuat Ren dan Shuuichi menjadi sedikit sungkan. Tentu saja Naruto menyadari hal itu. Dia tahu bagaimana situasi mereka saat ini. Sejak ujian Chuunin dimulai, Akai selalu acuh pada Shuuichi dan Ren karena telah menghina Naruto saat itu.

"Ah… Hei, bagaimana dengan lawan kalian? Siapa lawan kalian untuk pertandingan pertama ini?" tanya Naruto pada Ren dan Shuuichi.

"Ah… Aku akan melawan shinobi dari Oto. Kalau tidak salah namanya… Karuchi? Entahlah, aku tidak terlalu perduli," sahut Ren.

"Oh… Pertandingan ke berapa?"

"Pertandingan ke 2."

"Jadi kau bertanding setelah aku, ya?"

"Kau akan bertanding di pertarungan pertama?" tanya Ren terkejut.

"Iya. Kalau kita menang, maka kita akan bertemu di semi final, ya?" ucap Naruto sambil tersenyum.

"I… Iya. Benar juga."

'Pertandingan pertama? Bocah ini bertarung di pertandingan pertama? Kudengar bahwa dia memiliki hubungan khusus dengan sang Hokage. Lalu kenapa dia bertarung di pertandingan pertama? Apakah dia begitu lemah sehingga di tempatkan di pertandingan pertama? Jika dia memiliki hubungan dekat dengan sang Hokage, berarti seharusnya dia cukup hebat sehingga tidak perlu di tempatkan di pertandingan pertama yang merupakan pertarungan 'hiburan'. Pertarungan pembuka yang menurut kebanyakan orang merupakan pertarungan 'tak penting',' batin Ren heran.

"Jangan menilai orang sembarangan. Kau tak mengerti bagaimana Naruto yang sesungguhnya," ujar Akai tiba-tiba.

Semua pasang mata yang ada di sana langsung menoleh ke arahnya. Mereka sedikit terkejut melihat Akai yang tiba-tiba berbicara hal yang tak mereka mengerti.

"Akai-chan? Kau bicara pada siapa? Memangnya ada apa denganku? Dan lagi… kau memanggilku tidak seperti biasanya," tanya Naruto heran.

Akai tak langsung menjawabnya. Dia hanya memandang ke arah Ren dalam diam. Ren yang menyadari arti pandangan itu menjadi sedikit takut. Dia menundukan kepalanya dengan grogi. Dia tak lagi berani berbicara hal-hal yang mungkin akan menyinggung Naruto sekaligus Akai. Jika hal itu sampai terjadi, maka habislah sudah hidupnya sampai di situ saja.

"And di pertarungan ketiga ini, I won't lose from you, Kiru!" seru Shuuichi seraya menunjuk tepat di wajah Kiru.

Tapi seperti biasa Kiru tak pernah menanggapinya.

"Ng… Aku tak mengerti artinya," ucap Naruto dengan bulir keringat di keningnya. "Jadi kau akan bertarung dengannya, Kiru?" tanya Naruto pada Kiru.

"Ya."

"Yeah. Aku akan win melawanmu! Because aku lebih strong, lebih smart, and lebih handsome darimu!" seru Shuuichi dengan sombongnya.

Jangan berharap Kiru akan menanggapinya. Bukan berarti dia meremehkan Shuuichi, dia hanya tak ingin merespon saja.

"Lalu, siapa lawanmu, Akai-chan?" tanya Naruto.

Akai tak langsung menjawabnya, tapi matanya melihat ke sekelilingnya.

"Kau lihat orang itu?" tanya Akai sambil menunjuk.

Naruto langsung mengalihkan matanya ke arah yang ditunjuk oleh rekannya. Di sana berdiri seorang pemuda bertubuh kekar dengan tato merah di wajahnya. Rambutnya jabrik pirang gelap pendek. Tangan kirinya tertutupi oleh rantai yang melilit dan tangan kanannya terlilit kain perban. Sekilas orang itu tampak sangat menyeramkan.

"Eh? Kau akan bertarung melawan orang seperti itu?" tanya Naruto terkejut.

Akai hanya tersenyum tanpa merespon lebih jauh. Dan Naruto tidak berkata apapun lagi. Aura Akai saat ini seperti sedang 'menenangkan diri'. Entah karena apa. Dilihat dari karakter Akai, rasanya tidak mungkin dia merasa gugup saat ini. Seperti sedang menahan emosinya saja.

"Jadi urutan pertandingannya, aku melawan shinobi dari Iwa. Lalu Ren di pertandingan kedua melawan shinobi dari Oto. Pertandingan ketiga Kiru dengan Shuuichi. Dan yang terakhir Akai-chan dengan shinobi… entah aku tidak tahu siapa itu," ucap Naruto bingung dengan lawan Akai.

Akai menahan tawa mendengarnya.

"Miss Akai, jika aku win melawan orang weird ini, maka we akan saling berhadapan di semi-final later. Oh… aku tidak sabar," ucap Shuuichi dengan berbunga-bunga.

Naruto memandang ke arah Shuuichi dengan heran, lalu berbisik pada Ren.

"Dia itu mau bertarung, 'kan? Kenapa dia malah berbunga-bunga dengan aneh seperti itu?" tanya Naruto.

"Begini, Naruto, mungkin kau tidak mengerti bagaimana perasaan kami sebagai penggemar sejati Akai. Tapi jika kau bertarung dengan orang yang kau kagumi, idolakan, dan kau jadikan panutanmu, maka itu adalah kebahagiaan yang tiada tara. Seolah-olah mimpimu menjadi nyata," ucap Ren berbunga-bunga juga dengan gaya yang berbeda dari Shuuichi.

Naruto langsung mengambil beberapa langkah mundur untuk menghindari aura aneh yang keluar dari dua orang itu. Di matanya mereka seperti melayang dengan latar pelangi dan peri-peri kecil yang terbang mengelilingi mereka.

"Ng… aku tidak mengerti dengan mereka," gumamnya.

"Tak perlu kau perdulikan mereka, Narunaru. Memang mereka idiot, dan itu tak hanya terlihat dari penampilannya saja," ucap Akai dengan senyuman sinis menghiasi bibirnya.

"Menurutku mereka tidak idiot kok. Buktinya mereka bisa sampai pada ujian babak terakhir ini," ucap Naruto.

"Kau memang baik. Hihi…" ujar Akai tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut pirang Naruto.

"Akai-chan! Hentikan! Aku bukan anak kecil! Jangan perlakukan aku seperti itu!" sungut Naruto sambil menepis tangan Akai yang berada di atas kepalanya.

Tapi Akai masih tetap tertawa kecil. Sedangkan Kiru hanya menatap kedua rekannya dengan wajah stoic-nya. Mereka tak memperdulikan dua orang lainnya yang kini masih melayang-layang dalam mimpi mereka. Kegiatan mereka semua kini terpecah karena suara beberapa panitia penyelenggara Chuunin telah hadir.

"Baiklah, silahkan seluruh peserta untuk berkumpul disini dan berbaris."

Semua peserta ujian Chuunin mulai berbaris dengan rapi menghadap patung besar di depannya. Tak berapa lama, Hokage dan beberapa Jounin dan Anbu yang mengawalnya hadir di dalam dan memberikan sambutan kepada semua peserta itu. Sang Hokage tak terlalu banyak berbicara, hanya memberikan kata-kata dukungan dan beberapa peringatan saja. Lalu mereka membubarkan diri. Kedelapan peserta digiring menuju ruang tunggu peserta. Menunggu hingga dimulainya ujian Chuunin terakhir ini. Mereka dapat melihat para penonton yang ramai telah memenuhi tribun.

"Wah… ramainya," gumam Naruto kagum.

"Ya, ya, aku know bahwa mereka waiting for me. Aku yang handsome ini," ujar Shuuichi bernarsis ria.

Sedangkan Naruto dan Ren memandangnya dengan pandangan jijik. Lalu mereka mengalihkan pandangannya dari Shuuichi dengan wajah menahan ingin muntah.

"Menjijikkaaaann…" ujar mereka bersamaan.

"Kau hebat bisa bertahan dengan orang seperti itu," komentar Naruto.

"Apa boleh buat. Aku kan satu kelompok dengannya," sahut Ren.

Tiba-tiba Naruto dipanggil oleh panitia untuk segera bersiap memulai pertarungan ujian yang pertama.

"Sudah waktunya. Yosh, aku akan berjuang!" seru Naruto semangat.

"Ganbatte ne, Narunaru," ucap Akai tersenyum seraya melambai.

Lambaian Naruto membalasnya ditambah dengan cengiran rubahnya yang khas. Dia berjalan keluar ruang tunggu peserta bersama lawannya dipertarungan Chuunin ini. Mereka berjalan dalam diam. Lawan Naruto itu tampaknya tidak ingin berbicara dengan musuhnya saat ini. Dan Naruto pun tak ingin mencari masalah terlebih dahulu sebelum pertarungan dimulai. Saat di lorong, dia melihat sang Hokage berjalan dengan dikawal oleh beberapa Jounin dan Anbu. Dia bermaksud untuk menyapa Hokage-nya, tapi diurungkan niatnya. Hanya menunduk dalam diam seolah tak melihat sang Hokage.

"Naruto."

Wajah Naruto langsung menengadah dan melihat sang Hokage telah berada tepat di depannya. Dia langsung menghentikan langkahnya karena hampir menabrak sang Hokage.

"Wa-waaaahh… Maafkan aku, Hokage-sama. A-aku tak melihat," ucap Naruto gugup.

Sasuke hanya diam memandang Naruto yang tak berani menatap wajahnya dalam rona merah yang menghiasi pipi kecoklatannya. Sasuke memberi isyarat pada semua Jounin dan Anbu yang mengawalnya untuk segera pergi meninggalkannya.

"Tapi, Hokage-sama…" ucapan seorang Jounin terhenti oleh tepukan dipundaknya oleh Iruka.

"Kalau begitu kami permisi, Hokage-sama," ucap Iruka sopan.

Akhirnya mereka meninggalkan Hokage mereka. Dan seorang Jounin membimbing lawan Naruto untuk segera pergi dari sana. Kini mereka hanya berdua saja di lorong itu. Tak ada seorangpun, tapi mereka dapat mendengar sorak-sorai para penonton yang ada di luar sana.

Tangan putih dan kekar itu mengangkat wajah Naruto agar memandang ke arahnya.

Obsidian dan safir bertemu pandang.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke.

Senyuman manis merekah di bibir merah mudanya. Sasuke membalas senyuman itu dengan lembut lalu menepuk kepala pirang Naruto.

"Berjuanglah," ucap Sasuke sambil mengecup bibir Naruto tiba-tiba.

Sesaat pemilik mata safir itu membelalakan matanya. Tubuhnya menegang sesaat hingga rona merah menyapu pipi kecoklatannya. Begitu sang Hokage melepaskan bibirnya menjauh, Naruto langsung menundukan wajahnya tak berani menatap sang Hokage. Sasuke menatap tingkah Naruto yang menurutnya aneh.

'Apa dia gugup menghadapi ujian ini?' batinnya.

"Terima kasih, Sasuke. Aku pasti akan berjuang," ujarnya sambil memperlihatkan cengiran semangatnya dengan sedikit rona merah masih menghiasi wajahnya.

Sasuke tersenyum mendengarnya. Lalu dia kembali menepuk kepala Naruto dan membiarkan bocah pirang itu pergi menuju arena pertarungan. Memperhatikannya hingga sosok mungil itu menghilang dari pandangannya, barulah dia beranjak dari tempat itu menuju singgasananya bersama sang Kazekage. Menonton semua pertarungan itu bersama kawannya sejak dulu. Sasuke duduk di kursi Hokage miliknya di tribun teratas sehingga dapat melihat pertarungan dengan jelas. Bersama sang Kazekage yang duduk di sebelahnya.

"Maaf, telah membuat Anda menunggu, Kazekage-dono," ucap Sasuke tanpa menoleh.

"Tak apa, Hokage-dono. Apa urusan Anda telah selesai dengan anak itu?" tanya sang Kazekage.

"Hn."

Hubungan sang Hokage dan bocah cilik berambut pirang itu sudah menjadi rahasia umum. Bahkan sang Kazekage yang juga temannya sejak dulu pun mengetahuinya. Tapi sang Hokage tidak pernah merasa ragu dalam menunjukan 'hubungannya' dengan orang lain. Dia tidak pernah perduli gunjingan orang mengenai dirinya. Tak perlu memperdulikan pendapat orang lain mengenai kehidupan pribadinya. Terserah dirinya pada siapa dia mencintai orang lain, asalkan pekerjaannya ini memberikan hasil yang setimpal. Tak ada salahnya bukan?

Pertarungan pertama ujian Chuunin babak terakhir pun dimulai. Sasuke memperhatikan pertarungan Naruto dengan seksama. Tak ingin sedetik pun melewatkan perjuangan seseorang yang berarti dalam hidupnya itu. Mencoba mendukungnya dari atas sana walaupun yang dapat dilakukannya hanya duduk diam dalam singgasananya. Dia cukup khawatir walaupun tak tampak pada wajahnya setiap kali ia menyaksikan Naruto terkena pukulan lawannya. Dia hanya berharap Naruto dapat menang.

"Kau khawatir padanya?"

Suara itu membuyarkan lamunan Sasuke pada pertarungan di depannya. Dia melirik orang yang duduk di sampingnya, melihat ke arah seorang pemuda berambut merah, sang Kazekage Gaara. Kembali bola mata obsidiannya menatap ke arena pertarungan. Lalu bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.

"Memang. Tapi aku tahu bahwa sebenarnya dia kuat," sahut Sasuke.

"Iya. Tapi sepertinya kau begitu mengkhawatirkannya," ucap Gaara lagi.

"Mungkin hanya perasaan khawatirku saja yang terlalu berlebihan."

"Hmm… Kau sangat menyukainya," gumam Gaara.

"Terlihat, ya?"

"Tidak juga. Hanya merasakannya," sahut Gaara dengan sedikit senyuman menghiasi bibirnya.

"Hn. Terima kasih atas perhatianmu, Gaara."

"Tidak apa. Aku ikut senang jika temanku ini memiliki orang yang dicintainya."

"Terima kasih. Lalu bagaiman hubunganmu dengan Neji?" tanya Sasuke.

Tak ada balasan dari sang Kazekage. Lalu mata hitam itu melirik ke arah Gaara yang tengah tersipu malu terlihat dari pipi putihnya yang merona. Sasuke tersenyum kecil melihatnya.

"Apa aku menyinggungmu?"

"Ng… Tidak," sahut Gaara.

"Maaf, aku tidak akan membahas hal yang privasi lagi," ujar Sasuke menahan tawanya.

"Tak apa."

Kembali mereka memperhatikan arena pertarungan Naruto. Memperhatikan bocah pirang hiperaktif itu bertarung dengan sungguh-sungguh. Tampak gigih walaupun beberapa luka telah ada di sekujur tubuhnya. Sasuke memperhatikan sekitarnya, tribun penonton yang sejak tadi meremehkan kemampuan Naruto. Namun apa yang dapat dilakukannya saat ini? Dia seorang Hokage yang hanya dapat melihat semua pertarungan-pertarungan itu hingga selesai. Dia tak bisa bertindak gegabah. Lagipula, orang-orang akan beranggapan lebih buruk lagi mengenai Naruto.

Sasuke sudah cukup kesal dengan warga Konoha yang masih saja belum bisa menerima kehadiran Naruto dengan baik hanya karena Kyuubi yang bersemayam dalam tubuhnya. Tak ada yang salah dalam diri bocah itu. Walaupun dia tampak bodoh, tapi dia selalu berusaha keras seorang diri. Tak pernah dia meminta bantuan padanya seperti yang orang-orang pikirkan mengenai hubungan mereka yang memang 'khusus' itu. Tak sekalipun Sasuke menganak-emaskan Naruto seperti yang disangka orang-orang. Memang dia mencintai bocah pirang itu, tapi perlakuannya pada Naruto biasa saja, ia tak pernah tampak mengistimewakannya. Hanya menunjukan perasaan cintanya layaknya pada kekasihnya. Walaupun mereka memang tidak memiliki hubungan itu, atau tepatnya 'belum' mencapai hingga taraf itu. Sasuke masih mencari kesempatan untuk mendapatkan hati bocah pirang yang kelewat polos itu. Berharap perjalanan cintanya segera dimulai bersama Naruto.

Terdengar riuh suara penonton yang bersorak dengan kerasnya. Pertarungan telah selesai dengan kemenangan berada di pihak Naruto. Walaupun bocah pirang itu tampak penuh luka disekujur tubuhnya, tapi masih sempat-sempatnya dia melompat-lompat dengan girang hanya untuk melambaikan tangan pada para penonton. Sasuke tertawa kecil melihat Naruto yang seperti itu. Tangannyapun bergerak pelan untuk memberikan tepuk tangan yang tak terlalu keras. Tapi dia sangat senang melihat kemenangan yang telah diraih oleh Naruto. Bisa terlihat dari wajahnya yang menyunggingkan senyuman yang dapat melelehkan setiap wanita yang melihatnya.

"Dia sangat hebat," komentar Gaara.

"Hn."

Sorak-sorak para penonton masih tetap ramai walaupun Naruto telah keluar dari arena pertarungan menuju ruang tunggu peserta. Sementara lawannya dibawa menggunakan tandu menuju perawatan karena luka yang dideritanya cukup parah. Kini Sasuke yakin bahwa orang-orang Konoha mulai merubah pandangannya pada Naruto. Walaupun mungkin hanya sedikit karena sepertinya masih banyak orang yang menganggap bahwa Naruto dapat menang karena pengaruh dari sang Hokage. Tapi kenyataannya Naruto dapat menang melawan lawannya dengan usahanya sendiri tanpa bantuan siapapun. Sementara ini hal itu sudah cukup.

***

Naruto berada di ruang rawat untuk para peserta, karena luka yang tengah diobati oleh panitia medis. Tak henti-hentinya cengiran lebar menghiasi wajahnya yang polos. Dan beberapa perawat itu memberinya selamat. Membuat wajahnya semakin cerah saja. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu ruangan rawat itu. Dan masuklah sahabatnya, Akai.

"Narunaru, selamat atas kemenanganmu," ucapnya memberi selamat pada Naruto dengan senyumannya.

"Akai-chan, arigato. Kenapa kau ada di sini? Memangnya kau tidak menonton pertandingan berikutnya?" tanya Naruto.

"Pertandingan kedua belum dimulai. Lagipula siapapun yang bertarung nanti dan menang, aku tidak perduli. Bukan urusanku. Aku tidak tertarik dengan pertandingan kedua ini," sahut Akai menunjukan ekspresi bosan.

"Akai-chan…" desah Naruto dengan sebulir keringat di wajahnya.

"Ya, selesai. Nah, sekarang kau boleh kembali ke ruang tunggu peserta, Naruto," ujar salah satu perawat.

"Domo arigato. Ayo kita kembali, Akai-chan," ajak Naruto.

"Oke."

Lalu mereka berjalan di koridor menuju ruang peserta. Tempat dimana mereka menonton pertandingan selanjutnya. Di luar memang terdengar ramai, tetapi justru di antara mereka yang kini dilanda keheningan. Sesungguhnya Akai merasa ada yang sedikit aneh dengan tingkah Naruto saat ini. Biasanya dia sangat ribut, apalagi setelah kini kemenangan pertama telah diraihnya. Seharusnya begitu, tapi kenapa justru rekannya ini malah menjadi sangat pendiam seperti itu? Akai sekalipun sama sekali tak mengerti.

"Naruna…"

"Akai-chan, ada yang ingin kubicarakan denganmu," potong Naruto.

Akai mengernyitkan dahinya. Memandang wajah Naruto yang menurutnya tampak aneh. Dilihatnya wajah polos itu memandangnya dengan tatapan yang tak dapat dijelaskan. Dan rona merah menghiasi pipinya yang kecoklatan itu. Seperti menyadari sesuatu, seringaian kecil terbentuk di wajah cantik dan licik Akai.

"Tentu, apa itu?" tanyanya.

"Ng… Aku tidak bisa mengatakannya di sini," lirih Naruto dengan ekspresi malu-malu.

Akai tertawa kecil melihatnya.

"Kalau begitu, ayo kita pergi ke lorong sepi di sana," ajak Akai sambil menggandeng tangan Naruto.

***

Sasuke memperhatikan sekelilingnya. Sepertinya pertarungan kedua masih cukup lama untuk dilaksanakan. Jadi dia berniat untuk melihat keadaan Naruto terlebih dahulu. Walaupun dia tahu bahwa Naruto baik-baik saja, dia hanya ingin memastikan dari dekat saja kesehatan Naruto saat ini. Seharusnya dia memang tidak perlu mengkhawatirkan bocah pirang itu, karena Kyuubi akan menyembuhkan luka-lukanya dengan lebih cepat dibandingkan orang kebanyakan. Tapi perasaan egoisnya tetap ingin bertemu dengan Naruto saat ini.

"Maaf, aku permisi dulu, Kazekage-dono," ucap Sasuke permisi dengan sopan.

"Tentu," sahut sang Kazekage.

Jubahnya berkibar terkena angin ketika dia beranjak dari tempatnya. Dia berjalan menuju tangga, tapi langkahnya terhenti ketika seorang Jounin mencoba menghentikannya.

"Hokage-sama, Anda mau kemana?" tanyanya.

"Toilet," sahutnya.

Lalu dia menuruni tangga tanpa memperdulikan Jounin maupun Anbu yang seharusnya mengawalnya. Tapi sepertinya mereka menyadari aura yang dikeluarkan sang Hokage, memperingati mereka agar tidak mengikutinya seperti seorang stalker. Sasuke berjalan melewati koridor. Kakinya terus melangkah dengan santainya menuju ruang rawat peserta. Atau jika tidak menemukannya di sana, dia akan melihatnya di ruang tunggu bagi para peserta.

Saat melewati koridor itu, dia mendengar percakapan seseorang. Entah siapa itu seharusnya dia tidak memperdulikannya. Tapi entah kenapa Sasuke merasa penasaran untuk mendengarnya. Dia seorang Hokage tapi malah mencuri dengar pembicaraan orang? Sungguh, dia sendiripun heran akan hal ini. Mau dikemanakan harga dirinya sebagai seorang Hokage? Tapi dia merasa kenal dengan suara orang yang tengah bercakap-cakap dengan orang lain itu. Seperti dua orang anak kecil yang berbicara di tempat sepi. Dan kini dia tahu siapa yang tengah berbicara itu ketika dia menyembunyikan tubuhnya yang besar di balik dinding putih yang dingin. Mereka adalah Naruto dan Akai.

"A-aku… ternyata aku menyukaimu selama ini!" serunya.

Mata onyx itu terbelalak lebar mendengarnya. Pikirannya melayang ketika dia tahu suara siapa tadi.

'Naruto…' batinnya terkejut bukan main.

Naruto mengatakan suka pada Akai? Dengan jelas dia mendengar kata-kata itu keluar dari seseorang yang diyakininya sebagai suara Naruto. Ingin rasanya dia menyangkal kenyataan yang kini berada di hadapannya. Menyangkal bahwa dia tengah bermimpi, berhalusinasi, atau apapun itu asalkan dia tidak melihat hal yang paling ditakutinya selama ini. Naruto menyukai orang lain.

Bocah pirang yang selama ini dicintainya. Sumber hidup dan cahayanya selama ini. Seorang bocah yang telah menyeretnya kembali dari kegelapan hatinya. Hanya senyuman hangat itu harta yang dimilikinya. Berharap dapat memiliki seluruh jiwa dan raga malaikat itu dalam hatinya. Mendekapnya dengan lembut seorang malaikat yang telah kehilangan sayapnya sejak dia dilahirkan.

Namun semua telah kandas dari hidupnya. Harta yang dimilikinya kini telah terebut dan menjadi milik orang lain. Harta berharganya yang selama ini terus dijaganya, kini terlepas dari genggamannya. Sudah tak tersentuh lagi. Dan kini dia hanya seorang manusia yang kosong. Tak memiliki apapun lagi. Tak ada jiwa dan hati. Perumpamaan lain baginya… mati.

Sasuke merasa pandangannya sedikit mengabur. Bukan, bukan karena air mata. Kepalanya terasa sangat berat. Begitu juga dengan tubuhnya yang sedikit gemetaran. Bola mata onyx yang kelam itu kini semakin tampak gelap. Seolah kegelapan yang pernah ada tak akan bisa menyaingi gelapnya dunia yang kini dilihat oleh mata itu. Merasa kehilangan arah dalam hidupnya dan menjadi buta.

Dia mengambil satu langkah hingga sosoknya terlihat oleh Naruto dan Akai.

"Sa-Sasuke?" Naruto terkejut melihat kehadiran Sasuke.

"Hokage-sama," ucap Akai tak kalah terkejut.

Tapi sang Hokage tak menyahutnya. Hanya memandang kedua bocah itu dengan kelamnya mata onyx miliknya. Tak tampak emosi dalam ekspresinya. Naruto tahu bahwa wajah itu memang selalu menampakan topeng stoic-nya. Tapi kali ini ekspresi itu berbeda dengan biasanya. Itu bukan topeng stoic-nya, tapi ekspresi wajah aslinya yang benar-benar dingin. Sangat dingin. Andaikata salju adalah sesuatu yang terdingin, maka salju sekalipun tidak bisa menyamakan betapa dinginnya sorot mata hitam itu.

"Sasuke, sejak kapan kau berada di situ? Ka-kau mendengar pembicaraan kami, ya?" tanya Naruto dengan wajah yang merona.

Terdapat jeda sesaat.

"Hn."

"Eh? Ja-jadi kau tahu? Anu… itu…" gelagap Naruto panik setengah mati menahan rona merah yang semakin jelas di pipi kecoklatannya.

"Ya."

"Su-su-sungguh? Ja-jadi kau su-su-sudah tahu bahwa aku…"

"Aku tahu. Maaf, kalau aku mengganggu kalian," potong Sasuke dengan nada yang sangat dingin.

Naruto terperangah mendengar penuturan Sasuke. Baru sekali ini dia mendengar nada yang sangat dingin itu keluar dari bibir Sasuke untuknya. Mata biru safir itu memandang heran pada bola mata onyx yang sangat kelam di hadapannya. Bola mata hitam itu seharusnya memandangnya dengan teduh dan ramah. Penuh akan kasih sayang dan perhatian lembut yang hanya diberikan padanya. Tapi kali ini, bukan itu yang didapatkan Naruto dari pandangan Sasuke. Sorot mata itu memandangnya dengan sangat dingin. Begitu dingin. Dia juga dapat merasakan aura yang tak kalah dingin keluar dari tubuh kekar dan wibawa yang selalu mendekapnya dengan hangat itu.

"Sa… Sasu… ke…" lirihnya dengan tubuh yang bergetar.

Sasuke membalikan tubuhnya. Jubah yang dikenakannya berkibar dengan penuh wibawa. Membelakangi dua orang bocah yang menatapnya dengan tatapan tak percaya dengan sosok di hadapan mereka. Sosok sang Hokage yang bukan mereka kenal seperti biasanya.

"Mulai sekarang, lakukanlah apapun yang kau inginkan. Aku tak akan mencampuri urusan kalian lagi."

Punggung yang lebar dengan jubah bertuliskan 'Rokudaime Hokage' itu melangkah menjauh. Meninggalkan Naruto dan Akai yang masih menatap kepergian sang Hokage dengan ekspresi shock yang berat.

"A… apa maksudnya tadi…? A-aku tidak mengerti… kenapa… kenapa dia memandangku seperti itu? Apa aku telah berbuat salah padanya? Kenapa dia memandangku seolah dia membenciku? Apa salahku?" lirihnya dengan tatapan yang menerawang.

"Na-Narunaru…"

"Aku tidak mengerti… aku tidak mengerti… uugh… Sasuke… Sasuke… SASUKEEEEE!!!!!"

Teriakannya yang terdengar miris itu menggema di koridor gedung yang sangat luas. Tapi tertelan oleh riuhnya suara penonton yang ada di luar sana. Sehingga tak terdengar mencapai seseorang yang dipanggil namanya.

Di sudut koridor lain, seorang bocah berambut hitam dan bermata keemasan melihat semua yang telah terjadi. Dia mengetahui semuanya. Semua yang ketiga orang itu tak ketahui. Semua hal yang diketahui hanya olehnya. Diapun bergumam,

"Bodoh. Aku akan menyelesaikan semuanya sendiri."

Dia menatap pada kedua rekannya yang kini tengah dilanda kesedihan.

"Saatnya mengakhiri permainan ini, Akai."

-

-

~TBC~

-

-

BEHIND THE SCENE

Mata onyx itu terbelalak lebar mendengarnya. Pikirannya melayang ketika dia tahu suara siapa tadi.

Sasu : 'Naruto… Naruto… Naruto…'

-shiiiiiiiing-

*5 hours later*

S : mulai lagi deh, lemotnya keluar. CUT!! CUT!! CUUUUUTTT!!!! AYAM IDIOT!!! Harusnya lo keluar dari ngumpet lo!!

Sasu : gue tau harusnya ini cuma ekting. Tp gue tetep sedih ngeliat Naru-chan gue nembak cewek… T^T; *meluk sutradara*

S : yaelah. Lo kebanyakan gaya. Ekting, ekting aja. Ga usah bawa2 perasaan gaje lo, deh.

Naru : WAAAAAAAAA~~~ O////O;;

S & Sasu : *nengok*

Naru : Sa-Sasuke… ka-kau… berpelukan dengan sutradara? JADI KAU BERSELINGKUH DENGANNYA???!!! KURANG AJAR!!! SEME SIALAN!!! *nabok Sasu*

Sasu : Na-Naru… tungguuuuuu… bukan begitu… itu cuma salah paham… salahkan saja sutradara brengsek itu…

S : *ngehajar Sasu* Lo yg brengsek, AYAM TOLOL!!! Najis banget gue mau sama lo! Gue masih NORMAL!!! Udah bagus gue kasih job, lo malah ngelunjak. Mau jadi gelandangan di bawah jembatan lo ya?!!!

Sasu : *sujud2* ampun, baaang…

-

-

Ehem… =_=; *dihajar rame2 sama reader & reviewer*

A-ampun, baaang… T^T *sujud2 minta ampun*

Iya Neko tau kalo Neko kelamaan apet. Sebulan lebih ya? Udah kelamaan apdet, isi ceritanya makin gaje. Segala pake SasuNaru berantem lagi. XP

Nah, kira2 mau dibikin Naru pilih siapa nih? Pilih Sasuke, Kiru, atau Akai? Suruh pilih Neko aja kali ya? XP *dirajam rame2*

Diterima kritikan dalam bentuk apapun. Inget, KRITIKAN lho ya? Bukan 'nyampah'… XP

Masih inget dengan kata2 Neko sebelumnya? XD
Terserah mau menilai bagaimana fict ini, krn org ga bs menilai diri sendiri. Tp tetep aja… Neko bukan manusia… XD

Akaneko as the Demon Queen