Previously…
…
"Baiklah, aku juga terima tawaranmu." putus Hoseok yang membuat Namjoon mengangkat sudut bibirnya membentuk seringai tampan. Ia tidak menyangka dengan satu umpan ia langsung mendapat dua pancingan sekaligus.
'Park Jimin benar-benar mengagumkan. Seokjin yang datang sendiri dan Hoseok yang menerima tawarannya dengan cuma-cuma. Aku baru menyadari jika aku mendapatkan dua orang ini berasal dari dirinya. Dan aku yakin, dia akan mempermudah semua tugasku termasuk untuk membawa sang ace, Min Yoongi. Maaf harus mengatakan ini, tapi—permainan akan dimulai sebentar lagi!'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
ROGUE
Cast : Park Jimin, Min Yoongi, Kim Namjoon, Kim Seokjin, Jung Hoseok, Jeon Jungkook, Kim Taehyung, etc.
Pairing : YoonMin, NamJin, VKook.
Genre : Crime, Drama, Romance.
Rated : M
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"hyung, apa kau serius dengan keputusanmu?" Jimin berbisik pada Hoseok yang duduk di kursi belakang mobil bersama Hoseok. Hoseok tersenyum kecil. Paham betul akan kecemasan Jimin padanya.
"ya, tentu saja. Memangnya kenapa?"
"Kenapa?" Jimin masih membulat tak mengerti. "Kemarin, kau meminta tolong padaku untuk mencari pekerjaan. Benar-benar pekerjaan, dan sekarang?"
"Dengar Park!" pinta Hoseok perhatian. "Aku sudah memikirkan ini semua matang-matang. Lagipula, aku lebih merasa hidup menjadi J-hope dibandingkan Jung Hoseok." Jimin tersenyum menyayangkan. "Selain itu juga, kau adalah alasanku berubah pikiran."
"Aku?" Jimin menunjuk dirinya sendiri. Hoseok mengulas senyum dan mengangguk kecil.
"hm, kau."
"Kenapa aku?"
"Karena aku ingin mempunyai adik kecil yang manis dan menggemaskan sepertimu." jawab Hoseok yang membuat Jimin mencebikkan bibirnya lucu.
"Aku tidak manis! Itu sama sekali tidak keren!" Hoseok terkekeh dan mengusak surai Jimin gemas.
"aigoo~ kau benar-benar menggemaskan."
"hyung~"
"Apa kalian sudah makan?" interupsi Seokjin tiba-tiba yang membuat Jimin dan Hoseok menoleh kompak kearahnya.
"Kami belum makan, hyung. Dan aku sangat merindukan masakanmu. Terutama budae jjigae, sudah lama sekali kau tidak memasakkan itu untukku, hyung." jawab Jimin antusias yanag membuat Namjoon yang sedang menyetir serta Hoseok yang duduk di sampingnya tersenyum kecil, merasa Jimin benar-benar mudah berbaur dan memecah kecanggungan dalam hitungan detik diantara mereka.
"call! Kau mendapatkan yang kau mau. Aku akan memasak budae jjigae sesampai kita di rumah."
"Rumah?" gumam Jimin tak mengerti.
"Kau akan tahu setelah kita sampai." Namjoon yang menjawab seraya mengemudikan Renault Duster-nya membelah lajur jalan padatnya Seoul.
.
.
.
Klik!
Jungkook dan Taehyung menoleh kala mendengar pintu otomatis rumah mewah yang mereka tinggali terbuka.
"Kalian sudah pulang?" sapa Taehyung yang kemudian dibuat mengeryit saat melihat dua sosok asing masuk ke rumah-nya bersama dengan Namjoon dan Seokjin.
"jja, mulai sekarang ini rumah kalian." tutur Namjoon ringan mengabaikan decihan kasar dari Taehyung serta kerutan tak suka di dahi Jungkook.
"cih! Jadi, ini penghuni baru di rumah penampungan sosial ini?" remeh Taehyung yang dihadiahi tatapan tak suka dari Hoseok dan Seokjin dengan Jimin yang memasang wajah datar, terlalu malas untuk meladeni manusia macam Taehyung.
"Aku harap, kalian bisa akrab dan bisa bekerja sama satu sama lain." Namjoon kembali mengabaikan cibiran Taehyung. Taehyung berdecak keras, kesal karena diabaikan.
"Aku baru tahu, jika ada rumah penampungan sosial semewah ini." dan kali ini, Namjoon yang diabaikan dengan Jimin yang membalas cibiran Taehyung. Jimin berjalan mendekat Taehyung dengan tatapan tajamnya yang selalu ia berikan kepada musuh-musuhnya.
"Jimin~" lirih Seokjin memperingati karena tahu benar, bagaimana sifat Jimin ketika dihadapkan dengan orang yang suka berbicara seenaknya, Taehyung salah satunya.
"ya, seharusnya kau tidak perlu heran. Dan katakan—" Taehyung mengangkat sebelah alisnya dan menatap Jimin jijik. "—apa kau jalang yang menggunakan pheromone di bar itu?" Jimin mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya berkilat tajam yang sayangnya justru dibalas seringai keji di sudut bibir Taehyung, merasa puas karena mangsanya telah masuk perangkap.
Jimin tertawa sinis.
"wae? Apa kau keberatan satu rumah dengan jalang yang menggunakan pheromone di bar?" tanya Jimin meladeni ejekan Taehyung. Taehyung mendecih sinis.
"wow~ tidak tentu saja. Hanya saja, jangan salahkan aku jika aku tidak bisa mengontrol hormonku dengan pheromone-mu itu." Seokjin dan Hoseok membulatkan mata mereka mendengar ancaman Taehyung pada Jimin sementara si empunya hanya memasang wajah santainya.
"Jadi, dimana kamar kosongnya?" tanya Jimin menahan diri untuk tidak menghajar Taehyung terlebih lelaki tampan itu memasang wajah bajingan penuh seringai di sudut bibirnya.
Merasa ditanya, Namjoon pun menjawab
"Ada tiga kamar kosong, pintu kamar hijau, biru dan hitam. Kalian berdua bisa memilih salah satunya."
Jimin berbalik dan menatap Hoseok dengan senyuman manisnya.
"Kau pilih kamar mana, hyung?" tanya Jimin. Hoseok berfikir sejenak.
"Apa tidak kau dulu saja yang memilih?" Jimin menggeleng.
"Alangkah baiknya, yang lebih tua yang memilih terlebih dahulu." Hoseok tersenyum tipis. Hatinya menghangat melihat Jimin yang menghormatinya.
"Kalau begitu, aku pilih warna hijau." putus Hoseok. Jimin mengangguk dan ia beralih menatap Namjoon yang berdiri disampingnya.
"Dan aku warna biru." sambung Jimin sebelum kembali mengalihkan pandangannya kearah Taehyung.
"Dan khusus untukmu…" tutur Jimin mengambang. Ia melangkah lebih dekat di depan Taehyung. "Aku harap kau bisa menjaga hormonmu mulai sekarang. Karena, jika tidak—" Jimin menarik sudut bibirnya, menyeringai.
Klek!
"a-argh!" Taehyung meringis sedangkan Namjoon, Hoseok, Seokjin bahkan Jungkook memasang mimik terkejut sekaligus tak menyangka mereka ketika melihat Jimin mencekeram tengkuk Taehyung dengan tangan kirinya sampai menimbulkan suara seperti patahan tulang yang membuat mereka berempat ikut meringis tertahan.
"—kau akan merasakan lebih dari ini," bisik Jimin melepas tangan kirinya dari tengkuk Taehyung. Ia berjalan melewati Taehyung untuk menuju kamar barunya yang sebelumnya menyempatkan diri untuk menepuk pundak lelaki yang tengah mengerang sakit seraya memegang tengkuknya yang keram akibat ulah Jimin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Namjoon tersenyum mengejek. Taehyung mendesis.
"Diamlah!" Namjoon menggelengkan kepalanya yang kemudian berlalu begitu saja diikuti Hoseok yang tampaknya sudah tak sabar untuk menyapa kamar barunya.
Seokjin berjalan mendekat Taeahyung yang masih meringis kesakitan.
"Ada baiknya, jangan meremehkan Jimin hanya karena dia terlihat lugu. Kau tahu? Dia sangat mengerikan jika marah atau ada yang mengusiknya." saran Seokjin iba.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Breaking News…
Pemilik tunggal Wings Group, Min Yoongi-ssi dikabarkan meninggal dunia akibat kecelakaan yang tidak diketahui penyebab, tempat dan waktunya. Hal ini disampaikan oleh asisten kepercayaan beliau, Shim Changmin-ssi bahwa sudah terhitung satu minggu tak ada kabar apapun mengenai keberadaan sosok pengusaha muda terkaya ketiga se-Korea Selatan, hingga dini hari ini Shim Changmin-ssi baru saja mendapat kabar dari orang suruhannya bahwa Min Yoongi-ssi mengalami kecelakaan di sekitar sungai Incheon. Bukti serta penyebab kecelakaan masih ditindak-lanjuti oleh pihak berwajib.
"Ini tidak masuk akal." komentar Seokjin menyaksikan beris yang tertampang di layar televisi di ruang tengah rumahnya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Namjoon yang muncul dari arah dapur pada Hoseok yang juga turut mendengar berita yang sedang hangat-hangatnya saat ini.
Hoseok terdiam sejenak menatap tak kedip kearah layar tv yang masih menayangkan berita tentang Min Yoongi.
"Tidak kusangka dia juga bisa mati." celutuk Taehyung yang juga berada di ruang tengah.
"Min Yoongi bukan orang yang mudah dibunuh," Hoseok menyimpulkan yang diangguki setuju oleh Namjoon.
"Tapi, lihat? Orang kepercayaannya sendiri yang mengatakannya." sambung Taehyung percaya pada opini yang ia dengar dari media barusan.
"Terkadang, orang yang kita percaya bisa menjadi neraka bagi diri kita sendiri, V!" sela Seokjin memanggil nama lain Taehyung yang membuat ketiga pria tampan lainnya terdiam antara merasa tersindir atau membenarkan apa yang dikatakan Seokjin pada mereka.
"Lalu, bagaimana sekarang?" tanya Seokjin setelah dirasa tak ada yang membuka pembicaraan diantara ketiga pria tampan yang berkumpul bersamanya. "Apa kita akan mencari tahu? Memastikan atau membiarkan?"
"Kita akan mencari tahu. Lagipula, bukankah Wings Group sedang mengalami krisis saham saat ini?" tanya Namjoon. Hoseok mengangkat sebelah alisnya.
"Darimana kau tahu?"
"hey man~ itu kabar pasaran!" desis Taehyung remeh.
"Sebenarnya bukan mengalami krisis saham." tutur Hoseok tenang. "Tepatnya ada orang dalam yang berniat untuk mengambil alih kekuasaan Yoongi."
"Jadi, ini garapan musuhnya?" tebak Seokjin. Hoseok mengangguk kecil.
"Aku rasa Yoongi baru mengetahui satu pengkhianat yang berkeliaran di dalam perusahaannya."
"Memangnya ada berapa pengkhianatnya?" tanya Taehyung ingin tahu. Hoseok tersenyum miring.
"Percaya atau tidak—tapi aku tahu jajaran direksi hingga manajer adalah sederet musuh Min Yoongi."
"daebak~" pekik Seokjin dan Taehyung bersamaan.
"Jadi, kita akan mencarinya?" tanya Hoseok menatap Namjoon.
"Setidaknya kita harus memastikan jika dia benar-benar sudah mati." jawab Namjoon berbalik badan untuk berjalan menuju ruang kerja mereka.
.
.
.
"Untuk apa kita harus mencari orang brengsek sepertinya? Kalau sudah mati ya biarkan mati saja. Jangan repot-repot menjadi orang baik untuk bajingan seperti dirinya!" sarkas Jimin setelah ia dipaksa untuk berkumpul di ruang kerja di rumah barunya yang terhitung sudah ia tempati selama satu minggu bersama Namjoon, Seokjin, Hoseok, Taehyung dan juga Jungkook.
"Bisakah kau sedikit menyaring kata-katamu?" sinis Taehyung. Jimin mendecih.
"Jangan sok suci, V-ssi!" cibir Jimin berwajah muram yang tentu saja itu adalah hal biasa bagi Seokjin yang tahu betul bagaimana sikap Jimin jika dihadapkan pada situasi yang tidak dia inginkan.
"Bisakah kalian berhenti bertengkar?" lerai Namjoon yang ajaibnya berhasil membuat Taehyung dan Jimin bungkam.
"Park Jimin, bisa kau bekerja sama dengan Hoseok untuk mencari keberadaan Min Yoongi?" pinta Namjoon. Jimin menarik nafas. Ia berjalan menuju salah satu komputer kerja disusul Hoseok yang juga melakukan yang sama.
Kedua hacker berbeda kemampuan itu, dimana Hoseok yang notabene dapat meretas segala situs resmi hingga terlarang dalam bentuk apapun sesuai informasi yang diinginkannya, ia juga bisa memasuki segala sistem yang ia mau walaupun harus melalui jaringan tersulit apapun. Sedangkan Jimin, ia adalah seorang eye machine yaitu mencari keberadaan seseorang dalam hitungan detik meskipun targetnya sudah lama tak ditemukan oleh pihak berwajib sekalipun, selain itu Jimin juga memiliki kelebihan membuat berbagai macam alat asing yang fungsinya untuk mempermudah pekerjaannya yang sebelumnya harus melalui desain dari komputernya terlebih dahulu untuk mendapat pengembangan lebih lanjut.
Kedua pria itu menghidupkan komputer masing-masing diiringi tatapan ingin tahu dari Namjoon, Seokjin, Taehyung dan Jungkook yang mematai kinerja Hoseok dan Jimin.
"Apa kau tahu ID bajingan itu?" tanya Jimin pada Hoseok tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya yang mulai ia operasikan.
"4371D**." jawab Hoseok santai. Jimin menarik nafas, ia mulai mengotak-atik komputer barunya dan mengabaikan segala tatapan dari empat pasang mata dibelakangnya.
"Kau cari keberadaannya, aku akan cari tahu peristiwa terakhir sebelum ia menghilang." pinta Hoseok meskipun sejujurnya ia belum begitu mengetahui kemampuan hacker apa yang Jimin miliki. Tapi, ia yakin Jimin bisa melakukan apa yang ia minta dengan mudah.
Klik!
Jimin menekan tombol enter dan otomatis keluarlah map dengan latar belakang hijau army di layar komputernya.
"Dia berada di Osan-si, 35km dari Seoul. Tepatnya, di 15km2 dari perbatasan kota. Tak sulit menemukan tempatnya karena titik koordinatnya menunjukkan bahwa itu satu-satunya bangunan yang berada di titik kilometer tersebut." tutur Jimin yang membuat lima pria yang ada disana tercengang mendengarnya, termasuk Seokjin yang sebenarnya sudah tahu kemampuan Jimin dalam menemukan seseorang tak bisa diragukan lagi. Tapi, tetap saja ia selalu takjub dengan skill Jimin yang membuatnya berdecak kagum.
Namjoon melirik arlojinya. Tanpa semua orang sadari, ia menarik sudut bibirnya, menyeringai.
"wow~ kau hanya perlu 32 detik untuk menemukan keberadaan bajingan yang sudah mati?" kagum Namjoon. Jimin mengedikkan bahunya acuh.
"Aku selesai. Jadi—hyung, kau urus pekerjaanmu, okay?" Jimin beranjak dari duduknya tanpa mematikan komputernya, ia menyempatkan menepuk bahu Hoseok sebelum berlalu begitu saja.
"cih! Dasar sombong!" desis Taehyung tak suka. Namjoon tersenyum kecil. Menurutnya, Jimin akan menjadi orang yang paling menarik diantara yang lain.
"Tae, Kook! Kalian cek lokasinya." titah Namjoon. Taehyung dan Jungkook membulat terkejut.
"ayolah~ jangan bercanda, hyung. Osan itu jauh." elak Taehyung. "Dan lagi—kenapa harus bersama bayi besar ini?" Jungkook mendelik tak suka kearah Taehyung.
"Siapa yang kau sebut bayi besar?"
"Tentu saja kau, big baby. Apa kau mengharapkan itu Jin hyung?" Jungkook menghembuskan nafasnya kasar.
"Apa kau punya masalah denganku?" desis Jungkook tertahan.
"Jika tahu kenapa masih bertanya?"
"Kau—"
"hey~ bisa kalian akur? Kalian lupa jika mulai kemarin kalian adalah partner."
"hyung~" rengek Jungkook tak terima. Namjoon mengedikkan bahunya tak peduli.
"Tunggu apa lagi? Pergilah!" usir Namjoon. Jungkook berdecak, ia mendelik tajam kearah Taehyung sebelum memutuskan untuk keluar dan menuruti kemauan Namjoon untuk mengecek lokasi yang berhasil dilacak oleh Jimin.
Namjoon menatap Taehyung memperingati membuat si empunya mendengus pasrah.
"Baiklah~ aku akan menjaga bayi besar-mu."
"Kim-Tae-Hyung…" desis Namjoon. Taehyung menunjukkan cengiran khasnya yang kemudian berlalu menyusul Jungkook dan memenuhi misi pertamanya dengan partner barunya itu.
.
.
.
.
.
"eonnie, kau datang?" sapa Seulgi pada wanita cantik yang tengah melepas mantel yang ia kenakan dan menyampirkannya pada sandaran sofa. Jeany tersenyum kecil dan berjalan mendekati Seulgi.
"Aku cemas padamu, jadi aku meminta Johyeon untuk mengurus pekerjaan di Seoul. Lagipula, akan lebih aman jika tidak meninggalkanmu sendiri. Yah~ meskipun aku sudah berpesan pada Seungri—tapi, kau tahu sendiri bukan, bagaimana anak itu?" Seulgi tersenyum manis dan memeluk sang eonnie.
"eonnie, gomawo…" Jeany terkekeh, ia membalas pelukan Seulgi dan mengelus surai panjang gadis itu.
"jja, sekarang—bisakah kau menyiapkan makan malam juga untukku? Sementara, aku akan memeriksa perkembangannya." Seulgi melepas pelukan Jeany dan mengangguk riang.
"Tentu saja, eon. Aku akan memesan makanan Eropa untukmu." senyum Jeany mengembang puas.
"gomawo, adik cantik~" Jeany mencubit sebelah pipi Seulgi gemas sebelum memutuskan untuk berjalan menuju sebuah ruang dimana di dalamnya terdapat seorang yang tanpa sengaja ditolong oleh mantan kekasihnya.
Setelah masuk dan menutup pintu. Jeany berjalan mendekati ranjang pria tampan yang masih berbaring lemah dengan alat-alat bantu yang ada di sekujur tubuhnya sebagai alat penompang hidup. Jeany mengecek setiap detail perkembangan atas kondisi pria yang di-cap berbahaya oleh seantero negeri yang ditinggalinya.
Wanita cantik itu melamun sesaat, ia mengeryitkan keningnya kala ia melihat sebuah tattoo di balik pinggang pria tampan yang terlihat ketika ia mengyingkap pakaiannya saat ini.
"Aku seperti pernah melihat lambang itu…" gumam Jeany tanpa sadar. Ia berfikir keras seraya menatapi intens wajah damai pasien dadakannya.
"dan… wajahnya tampak familiar untukku." lirih Jeany.
"tidak-tidak…. Aku yakin, aku pernah melihatnya sebelumnya." Jeany menggigit bibirnya kencang dan merutuki kenapa ingatannya begitu buruk.
"oh-tidak… lambang dan wajahnya mengingatkanku pada seseorang."
Jeany tak sengaja memekik ketika ia yakin dengan benar bahwa ia benar-benar pernah melihat wajah pria tampan yang berbaring tak berdaya, yang sekaligus mengingatkannya pada seseorang. Seseorang, yang merupakan teman lamanya, yang sudah tiga tahun tak bertemu dengannya.
"Tidak mungkin Min Yoongi adalah pria yang sama. Tidak, aku yakin pria yang dimaksudnya dulu bukan pria brengsek macam Min Yoongi."
Seketika, Jeany merasa cemas tanpa sebab hanya karena mengingat seorang teman lama yang bahkan kabarnya bagai meluap abu tanpa sisa.
"Tapi, bagaimana jika Min Yoongi adalah orang yang sama?" gumam Jeany semakin meracau tanpa henti. "dan—apakah mereka berdua sudah bertemu satu sama lain?" Jeany mendengus, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini setelah menduga hal yang belum pasti. Bahkan, hanya karena melihat tattoo yang ada di balik punggung pria tampan itu entah hati nurani darimana yang muncul kala dalam benaknya ia mengharapkan jika pria itu untuk segera membuka matanya.
.
.
.
.
.
"Ada banyak orang dalam yang terlibat. Jika disesuaikan dengan cctv yang ada di kantor Yoongi, bisa dipastikan jika pada siang hingga sore hari Yoongi masih berada di ruangannya, karena dia baru keluar pukul enam sore." jelas Hoseok menganalisis setelah berhasil meretas sistem keamanan di kantor Yoongi meskipun berada di lingkup jarak jauh. Namjoon dan Seokjin yang berada di belakang kursi kerjanya, sama-sama berfikir keras dengan kedua mata mereka yang tak pernah lepas dari layar proyektor yang sengaja disambungkan dari monitor komputer Hoseok agar kedua orang itu juga dapat melihat dengan jelas setiap tangkapan cctv yang ia dapatkan.
"Apa ada cctv di ruangannya?" tanya Namjoon.
"Sayangnya tidak ada. Yoongi hyung tidak suka jika ada yang memantaunya. Tapi—di ruangannya ada penyadap suara." Namjoon dan Seokjin menoleh kearah mantan tangan kanan Yoongi itu. "Dan sialnya—alat sadap itu, dipasang secara manual sekaligus rumit. Tidak terhubung melalui sinyal melainkan kabel. Dan, aku yakin pasti ada sesuatu di ruang kerjanya. Kita, pasti akan menemukan sesuatu disana." Namjoon mengangguk paham.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu—hyung, bisakah kau pergi dan mengambil alat sadap itu? Kita membutuhkannya untuk mengetahui situasi yang terjadi." Seokjin mengangguk patuh. "Hobi, bisak kau menemani Jin hyung. Akan lebih cepat, jika kalian pergi bersama." Hoseok mengangguk setuju.
"eoh! Kau tak perlu cemas, aku akan dengan senang hati menemaninya." sahut Hoseok ramah.
"Kabari aku jika terjadi sesuatu. Aku juga akan menyelidiki orang dalam yang kau curigai. Aku yakin, satu satu dari mereka pasti ada yang terlibat dengan pembunuhan ini."
"Kalau begitu, kami pergi dulu." pamit Seokjin bersamaan dengan Hoseok yang beranjak dan berlalu keluar dari rumah mereka, meninggalkan Namjoon bersama Jimin yang masih mendekam di kamarnya.
Sepergian Seokjin dan Hoseok, Namjoon dengan gerak cekatan mendekati komputer yang semula digunakan oleh Hoseok. Ia memasukkan flashdisk pribadinya untuk menyalin setiap data-data yang di dapat Hoseok sebagai bahan laporan awal pada atasannya. Namjoon menyeringai tampan saat tak membutuhkan waktu lama seluruh data yang ia butuhkan sukses tersalin di flasdisk miliknya.
"Saatnya untuk rencana selanjutnya," Namjoon menarik sudut bibirnya sebelum memutuskan untuk keluar dari ruang kerja dan melanjutkan rencana yang sudah ia susun apik sebelumnya.
"Kau lapar?" Namjoon bertanya pada Jimin yang baru saja kembali dari dapur membawa semangkuk sereal serta sekotak yogurt. "Kau memakan sereal siang bolong?" lanjut Namjoon setelah Jimin mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah dan ia sendiri memilih untuk duduk berseberangan dengan pria manis itu.
"Apa ada yang salah makan sereal di siang hari? Ini tidak dosa 'kan?" sarkas Jimin seraya menyendok sereal yang ia ambil dari meja makan serta mengabaikan Namjoon yang masih menatapinya.
"tidak-tidak ada," tutur Namjoon sekenanya dan membiarkan Jimin menghabiskan sereal serta yogurt-nya dengan nikmat tanpa gangguan pertanyaan dari dirinya.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Jimin setelah ia menghabiskan semangkuk sereal dan sekotak yogurtnya. Ia mengalihkan pandangannya kearah Namjoon yang terkekeh kecil dengan kepekaan Jimin. "dan—apa kau mengusir semua orang hanya untuk bicara padaku, hyungnim?" lanjut Jimin formal. Namjoon terkekeh kecil.
"Jika kata 'mengusir' adalah kata yang tepat untuk menunjukkan ketidak-adaannya orang-orang saat ini, maka aku anggap ya sebagai jawaban." Jimin mengedikkan bahunya acuh.
"Katakan!" pintanya tanpa basa-basi. Namjoon memandangi Jimin intens sebelum akhirnya mengatakan rencana yang ia khususkan hanya akan dijalani oleh Jimin seorang.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu, seorang diri." pinta Namjoon penuh penekanan pada dua kata terakhir. Jimin memincingkan matanya heran.
"Dan, kenapa kau yakin aku akan bersedia melakukannya?" Namjoon tersenyum kecil mendengar bukan kalimat tanya yang seharusnya, 'apa yang harus aku lakukan?' melainkan'alasan kenapa harus Jimin yang melakukannya'
"Karena, aku yakin kau akan menyukai hal-hal yang akan kau lakukan." jawab Namjoon yakin. Jimin menghela nafas.
"Dan, kenapa harus aku yang melakukannya?"
"Karena, di antara yang lain, kau adalah satu-satunya yang berlatar belakang hitam."
"Begitukah? Lalu, bagaimana dengan Jin hyung? Kau tahu bukan, aku berasal dari tempat yang sama dengan dirinya." Namjoon tersenyum tampan.
"Kau ingin tahu tentang latar belakang dirinya yang sebenarnya?" Jimin terdiam, menunggu penjelasan Namjoon selanjutnya. "Dia terlahir sebagai anak diluar pernikahan. Ibunya, adalah wanita simpanan dari salah satu Menteri Korea Selatan—dan, ku tebak bukankah itu alasanmu kenapa terus berada di sampingnya, menemaninya?"
"Kenapa kau mengira jika aku sudah mengetahui tentang Jin hyung?"
"Karena, di wajahmu terlihat jelas jika kau sama sekali tidak terkejut atau bahkan sedang berusaha menyembunyikan keterkejutanmu." Jimin tersenyum kecil.
"Anggap saja, Jin hyung tidak lulus kriteria—tapi, bagaimana dengan yang lain?" tuntut Jimin belum puas sementara Namjoon tetap berusaha untuk menyakinkannya.
Namjoon menarik nafas dan menatap Jimin datar.
"Aku tidak mungkin meminta Hoseok yang bahkan sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini yang bahkan penyebab meninggalnya kedua orang tuanya masih berkeliaran di luar sana." Jimin mengeryit, terlihat di wajahnya jika ia sedikit tertarik dengan topik mengenai Hoseok dan Namjoon diam-diam tersenyum puas karena Jimin masuk keperangkapnya. Tidak salah, jika ia mengangkat topik tentang Hoseok setelah membicarakan Seokjin. "Belum lagi, jika dia adalah orang nomor satu yang bersangkutan dengan Min Yoongi."
"Jadi—apa maksudmu meninggalnya kedua orang tua Hobi hyung adalah sebuah kecelakaan?" Jimin mengabaikan topik tentang Yoongi dan kembali membicarakan tentang latar belakang Hoseok. Namjoon mengedikkan bahunya acuh.
"Kita bisa mencari tahu nanti."
"Lalu, sisanya?" tak puas, Jimin masih menuntut yang lain. Namjoon menghela nafas, mencoba untuk bersabar.
"Jangan Taehyung, dia masih seperti bocah labil sejak neneknya meninggal. Mudah emosi karena hal sepele dan masih terlalu liar. Dan, Jeon Jungkook? Sungguh, bocah itu bahkan masih 18 tahun. Dan mereka masih berada di bawah pengawasanku." Jimin mendecih dan menatap Namjoon tak percaya.
"Kau tahu jika bayi besarmu masih di bawah umur, tapi kau tetap mengerjakannya?"
"Aku tidak mengerjakannya, dan tidak mengerjakan siapa-siapa." Jimin tertawa remeh.
"Jadi, kau benar-benar tidak tahu tentangku?" tanya Jimin menantang. Namjoon tertawa kecil.
"Itulah yang aku herankan. Tidak ada sedikitpun informasi tentangmu bahkan Min Yoongi yang tersohor pun masih bisa diketahui latar belakangnya. Tapi, tidak dengan dirimu. Jadi, bisakah aku bertanya baik-baik, siapa dirimu Park Jimin?"
"Apakah itu penting untukmu disaat aku juga tidak mengetahui siapa kau sebenarnya?" serang Jimin telak dan Namjoon tersenyum miring.
"Kau benar. Itu memang tidak penting. Anggap saja, kita sedang berada dalam hubungan simbiosis mutualisme, bukankah begitu?" Jimin mengedikkan bahunya tak peduli.
"Jadi, katakan—apa maumu?" tanya Jimin akhirnya kembali ke topik sebelumnya. Namjoon diam-diam menghela nafas lega.
"Kau tahu Black Prime Otomotif?" Jimin mengangkat sebelah alisnya ketika sepasang telinganya mendengar Namjoon menyebut salah satu perusahaan otomotif terbesar yang berada di Hongkong yang kabarnya sekarang akan membuka cabang di Korea Selatan dan Jepang.
"wae?"
"Kabarnya mereka akan memasuki pasar otomotif di Korea. Tapi, sayang mereka menyimpan beberapa benda illegal di pelabuhan Incheon dan menyogok petugasnya untuk menjaga benda itu."
"Jadi, apa masalahnya."
"Masalahnya adalah benda yang dijaga petugas adalah sesuatu yang harga perunit-nya 5juta USD." Jimin membulatkan kedua matanya terkejut.
"Apa itu adalah mobil?" tebaknya dengan kedua matanya yang berbinar. Namjoon mengangguk kecil dan Jimin tersenyum sumringah.
"Ada berapa mobil?"
"Dua."
"Jadi, totalnya adalah 10juta dollar?" Namjoon mengangguk lagi.
"Itu perkara mudah."
"Tapi, bukan itu bagian terpentingnya."
"hm, katakan!" pinta Jimin tak sabar.
"Di dalam masing-masing mobil terdapat sebuah chip yang berisi segala operasional BPO di Hongkong. Kau tahu apa artinya?"
"chip itu lebih mahal daripada harga mobilnya?"
"yep!" Jimin menyeringai.
"Dua chip itu berisi data-data lengkap perusahaan otomotif terbesar beserta cabang-cabangnya. Bisa di katakan, jika chip itu adalah jantung BPO…" gumam Jimin tak percaya. "woah~ daebak!" pekik Jimin kagum. "Tapi, tunggu—jika dua mobil itu berisi hal yang sangat penting, kenapa mereka menyimpannya di dalam mobil dan mengirim mobil itu ke Korea? Bukan di menyimpannya di Hongkong?"
"Itulah, hal awal yang harus kau cari tahu sebelum mengambil mobil itu."
"Apa aku akan bekerja sendiri?" Namjoon mengangguk.
"Aku akan membantumu ketika akan mengambil mobilnya nanti. Hanya kita berdua. Selebihnya, sebagai langkah awal kau hanya perlu membuntuti setiap pejabat di perusahaan cabang BPO di Seoul."
"Kenapa kau tidak meminta bantuan yang lain, hyung?" tanya Jimin ingin tahu. Namjoon tersenyum.
"Karena, menurut sudut pandangku diantara mereka—kau adalah satu-satunya orang yang bisa melakukan semua ini. Dan memiliki hati yang sesungguhnya." Jimin mengeryit tak mengerti dan Namjoon tersenyum miring. "Bagaimana jika kukatakan—aku memang tidak tahu latar belakangmu, tapi—setidaknya aku tahu jika kau orang yang berpendidikan." wajah Jimin menegang namun dengan pintarnya ia sembunyikan dengan raut datar menuntut.
"Apa maksudmu?!" Namjoon tersenyum kecil.
"Bukankah, menyenangkan jika di rumah ini ada seseorang yang pernah bersekolah di bidang medis meskipun tidak sampai lulus?" Jimin menggigit bibir bawahnya dan Namjoon menang telak. "What's are you doing in Afrika, Park Jimin?" tanyanya dengan nada mengejek. "Bukankah tidak ada seorang kiriminal yang menjadi relawan sebelum ia dipenjara? Jadi, kutebak—bukankah latar belakang hitam-mu penuh tanda tanya besar?"
Jimin menatap Namjoon tajam. Ia mendecih tak percaya dan kemudian tertawa begitu keras.
"Kau benar-benar tahu bagaimana cara menaklukan seseorang, Kim Namjoon-ssi!" sarkas Jimin yang dibalas senyum bangga dari pria tampan itu.
.
.
.
.
.
"woah~ aku benar-benar menyesal menuruti kemauan Namjoon untuk membiarkanmu menemaniku," cibir Seokjin kesal pada pria tampan di depannya. Hoseok terkekeh tak merasa tersinggung sedikitpun dengan cibiran Seokjin yang ditujukan padanya.
"ayolah, hyung~ ini tidak buruk."
"Tidak buruk kepalamu!" Seokjin menahan diri untuk tidak memukul kepala Hoseok. "Hal yang paling buruk dalam hidupku adalah menyusup lewat selokan pipa perusahaan!" Hoseok kembali tertawa, kali ini lebih lantang dari sebelumnya.
"hyung, ini adalah cara aman untuk kita sampai di ruangan Yoongi." Seokjin berdecak.
"Lagipula, darimana kau bisa tahu jalan tikus seperti ini?"
"Aku hacker kau ingat?"
"Jimin juga hacker tapi tidak sepertimu." gumam Seokjin dengan nada kesal. Hoseok yang mendengar nama Jimin disebut pun menjadi teringat akan sesuatu yang membuatnya penasaran, dan melihat bagaimana hubungan Seokjin dengan Jimin sebelumnya membuat ia yakin bahwa ia bertanya pada orang yang tepat.
"em… hyung, omong-omong soal Jimin—sudah berapa lama kau mengenalnya?"
"Sejak dia bayi." jawab Seokjin cepat. Mood-nya berangsur membaik kala Hoseok mengangkat topik mengenai adik kecilnya diantara mereka, mengingat juga sebelumnya bahwa Hoseok sempat menyelamatkan Jimin.
"Bayi?" Seokjin mengangguk meskipun Hoseok tak melihatnya.
"Ketika dia bayi, aku sudah berumur tiga tahun." Hoseok mengangguk paham.
"Apa dia banyak memiliki kenalan."
"ya, Jimin termasuk orang yang supel. Dia tumbuh menjadi pribadi yang riang, lembut, baik, dan begitu sempurna entah hati maupun fisiknya, membuat semua orang tidak ada yang tidak menyukainya."
"Aku dengar, Jimin sempat berada di Afrika." Seokjin mengeryit.
"Jimin yang mengatakannya padamu?" Hoseok mengangguk. "ya, dia menjadi relawan disana. Sebenarnya, dia sempat mendapat beasiswa di sekolah medis."
"jinjja? Daebak!" Seokjin mengulas senyum dengan pekikan kagum yang keluar dari Hoseok.
"Tampaknya, kalian sudah membicarakan banyak hal."
"yap, kami saling bertukar cerita."
"Termasuk tentang keluarganya?" Hoseok mengangguk lagi. "Meskipun dia terlihat riang dan murah senyum. Tapi, dia sangat tertutup. Jimin tahu siapa orang tuanya tapi tidak pernah mengatakan benar siapa itu orang tuanya. Kau tahu, meskipun aku banyak menghabiskan waktu dengannya, terkadang aku merasa bahwa aku tidak cukup mengenalnya. Dia begitu banyak menyembunyikan berbagai hal di belakangku rapat-rapat."
"Kau tidak mencoba mencari tahu, hyung?"
"Selalu. Dan tidak pernah mendapatkan hasil." Seokjin menarik nafas sejenak. "Jika boleh tahu, kenapa kau tampak tertarik dengan latar belakang Jimin?"
"hm~ sebenarnya… sebelum kau dan Namjoon datang, Jimin sempat membawaku pada kenalannya yang mempunyai sebuah minimarket. Aku meminta tolong padanya jika ada kenalan yang membutuhkan lowongan pekerjaan. Tapi, yang aku herankan adalah kenalan Jimin itu tampak posesif padanya." Seokjin mengangguk paham.
"Jimin memiliki pergaulan tanpa batas dan karena itulah banyak orang tertarik padanya. Dari orang yang tidak mempunyai apa-apa sampai orang yang rumahnya menyamai hotel bintang lima. Bahkan, kau tahu ia juga menggeluti salah satu bidang yang masih aku herankan sampai sekarang."
"Apa itu?"
"Racer. Kau percaya bocah tengil sepertinya pandai mengemudi?" Hoseok membulatkan kedua matanya terkejut. "Dia anak yang serba bisa, membuatku kadang iri padanya. Dia begitu mandiri dan selalu mementingkan orang lain. Tidak peduli siapa itu, bahkan pada orang yang baru ia temui sekali. Dan, aku sangat beruntung memilikinya sebagai satu-satunya keluarga yang kupunya."
Hoseok tersenyum manis. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik badan membuat ia dan Seokjin saling berhadapan.
"Kalau begitu, hyung—bolehkah aku juga masuk ke dalam keluargamu? Kau tahu, aku sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini. Jadi, bisakah?" Seokjin tersenyum cantik. Tanpa canggung, ia menarik Hoseok dan memeluk pria tampan itu seraya sesekali menepuk-nepuk punggung Hoseok menenangkan.
"Aku hyungmu." bisik Seokjin yang membuat Hoseok dengan senang hati membalas pelukan hangat seorang kakak yang Seokjin berikan padanya.
.
.
.
.
.
"Aku tidak menyangka akan terdampar di kota kecil ini." Taehyung mengoceh kala mobilnya berhenti tepat di seberang sebuah rumah bertipe modular yang berdiri kokoh di tengah hutan belantara kawasan Osan.
Jungkook yang duduk di samping kemudi tak mengindahkan sedikitpun segala keluhan tak penting yang Taehyung keluarkan. Ia lebih memilih untuk terfokus pada ponsel layar retakya dan melakukan hal yang semestinya dibandingkan meladeni ocehan Taehyung.
"Sungguh, sampai kapan aku harus menunggu seperti ini?"
"Dan, kenapa Namjoon hyung tidak mengatakan setidaknya apa yang harus aku lakukan?"
"Apa aku harus menunggu disini sampai beruban?"
"Lagipula, apa tujuan Namjoon hyung hanya meminta datang kemari tanpa pernyataan apapun?"
"Apa dia—"
"Bisakah kau diam?" sela Jungkook kesal bukan main. Ia menoleh kearah Taehyung dengan mata tajamnya yang dibalas serupa oleh pria tampan di sampingnya.
"Jangan bersikap seolah kau tahu apa yang harus kau lakukan." Jungkook mendecih.
"Tunggu disini sebentar dan jangan kemana-mana." pinta Jungkook, ia membuka pintu Honda Civic hitam metalik yang dikendarai Taehyung.
"Apa yang akan dia lakukan?" gumam Taehyung mematai gerak-gerik Jungkook yang kini dengan langkah ringannya memasuki pekarangan rumah yang sudah selama dua puluh lima menit mereka matai.
Awalnya ketika melihat rumah dengan tipe modular khas Korea itu membuat Jungkook mengira bahwa rumah itu tidak akan dijaga ketat seperti apa yang ia lihat sekarang ini. Ada dua pria berbadan kekar dan besar dengan setelan hitam yang ketat berjaga di depan pintu utama. Tapi, jangan sebut Jeon Jungkook namanya jika menarik perhatian orang saja tidak bisa ia lakukan. Maka dengan segenap tekad yang ia miliki, ia melangkah santai memasuki pekarangan rumah membuat kedua bodyguard itu langsung mengalihkan pandangan mereka serta menatap Jungkook curiga.
"Apa dia gila? Apa yang sedang dia lakukan? aish! Seharusnya, Namjoon hyung tidak mengerjakan bocah di bawah umur," geram Taehyung melihat kenekatan Jungkook yang masuk ke kawasan rumah targetnya tanpa persiapan yang matang-menurutnya.
"Permisi~" Jungkook menyapa sopan. Ia bahkan membungkukkan badannya 90º.
"Ada perlu apa, nak?" tanya salah satu dari dua pria itu, menghampiri Jungkook.
"Maaf jika mengganggu. Saya baru saja datang dari Busan dan berniat untuk berlibur kesini. Tapi, kendaraan kami mogok di km 12. Jika tidak merepotkan, bisakah saya bertanya dimana saya bisa mendapatkan montir?" pinta Jungkook.
"Montir?" Jungkook mengangguk menggemaskan.
"Bengkelnya sangat jauh jika ditempuh dengan jalan kaki, nak." Jungkook tampak merendung kecewa.
"Apa bengkel itu menerima panggilan montir?" tanya Jungkook lagi.
"ya, tentu saja."
"Sebenarnya saya tidak ingin merepotkan lagi, tapi—kami benar-benar membutuhkan bantuan. Apa bisa anda menghubungi montir di bengkel itu? Ponsel saya tidak mendapatkan sinyal di daerah sini."
"Kau benar-benar malang, nak. Jika tuan kami tidak membangun rumah disini, bisa dipastikan kau tidak akan selamat. Kawasan ini memang jauh dari keramaian dan sulit mendapat sinyal. Tapi, kami akan membantu. Tunggu disini sebentar." Jungkook membungkuk senang.
"kamsahamnida, ahjussi… terima kasih, sudah menyelamatkan kami." girang Jungkook yang membuat kedua pria itu tersenyum gemas.
Salah satu pria itu memasuki kawasan rumah sementara yang satu lagi tetap stay bersama Jungkook.
"hm, ahjussi… apa disini ada kran air?" tanya Jungkook seraya mengangkat sebuah botol bekas yang entah ia dapatkan darimana.
"ah~ kau membutuhkan air?" Jungkook mengangguk.
"nde," sahutnya sopan.
"Disamping, dekat kebun ada kran. Kau bisa mengambilnya disana."
"ah-nde, kamsahamnida!" Jungkook membungkuk lagi dan segera berlalu menuju tempat yang ditunjuk satu bodyguard itu. Jungkook sedikit melirik ke sekitarnya, memastikan keadaan. Ia pun sedikit berlari kecil setelah memastikan jika gerak-geriknya tidak dicurigai oleh siapapun serta setelah memastikan jika tidak ada orang maupun kamera cctv yang menangkapnya.
Langkah Jungkook terhenti saat ia sampai di sisi jendela yang terbuka di sisi samping dinding kayu rumah tersebut. Sedikit mengintip ke dalam dan mendapati tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Jungkook mengedikkan bahunya dan dengan mudah ia menempelkan sesuatu yang mirip dengan mata boneka dan menempelkannya pada dinding dalam jendela. Dan untuk kesekian kalinya, Jungkook kembali memastikan keadaan. Setelah semua aman, ia pun segera berlari menuju tempat kran untuk mengisi botol yang ia bawa agar tidak menimbulkan kecurigaan dari bodyguard yang berjaga.
"Sudah?" tanya satu bodyguard itu ketika Jungkook kembali dengan botol yang berisi air penuh. Jungkook mengangguk dan ia menyadari jika pria yang menghubungi montir bengkel belum juga kembali.
"nde, kamsahamnida. Maaf jika merepotkan."
"Tidak, tidak apa. Itu hanya air." Jungkook tersenyum manis.
"Tapi, omong-omong. Kenapa rumah ini terlihat sangat sepi?"
"Nona muda sedang berada di pusat kota."
"ah~ begitu…" Jungkook mengangguk paham dan tak lama seorang pria muncul dari balik pintu utama.
"Montirnya akan datang 45 menit lagi." ujarnya memberitahu. Jungkook tersenyum lega dan membungkuk berkali-kali.
"Terima kasih banyak, ahjussi. Kalian benar-benar sangat baik. Terima kasih sudah membantu kami." haru Jungkook.
"Tidak apa, nak. Anggap saja ini adalah keberuntunganmu." Jungkook tersenyum misterius.
"Nde, ini memang hari keberuntunganku."
.
.
.
.
.
BRAK!
Namjoon, Seokjin dan Hoseok berjengit saat suara gebrakan yang terdengar pertama kali setelah Seokjin dan Hoseok kembali dan berhasil mendapatkan alat penyadap suara yang ada di ruangan Yoongi. Tanpa menunggu waktu lama pun, Namjoon meminta Hoseok untuk menyetel isi dari alat itu yang turut tersambung dengan pengeras suara yang menggema di setiap sudut rumah.
"Aku tidak menyangka akan mendengar suara seperti ini sebagai pembuka." sarkas Seokjin. Hoseok nyengir tanpa dosa.
"mian, hyung. Aku hanya mengambil rekaman setelah dua bulan kepergianku dari sana. Jika kuambil semua, kupastikan kalian akan mendengar hal yang tidak ingin kalian dengar." Namjoon dan Seokjin mengeryit tak mengerti. Keduanya memandang Hoseok penuh tanya yang dibalas helaan nafas melihat kedua teman-nya berwajah polos seolah tak mengerti apa yang ia maksudkan.
"Aku tidak yakin kalian sepolos itu. Apa kalian baru mengenal penjahat kelamin itu, huh?" sinis Hoseok kesal. Namjoon mengangkat sebelah alisnya dan Seokjin membekap mulutnya dengan tangannya sendiri seolah apa yang baru saja Hoseok katakan adalah hal memalukan yang tak pantas dibicarakan, meskipun memang benar.
"oh~ mian… kami tidak tahu." Hoseok menggelengkan kepalanya dan kembali mendengar apa apa saja isi rekaman yang berhasil ia curi.
"BODOH!"
"Bagaimana bisa kalian membiarkan koruptor itu pergi dari perusahaan ini begitu saja setelah menggelapkan semua uangku?!"
"Mulai detik ini—"
"—kalian bukan lagi karyawan di perusahaan ini!"
"Tapi, sajangnim—"
"Maaf. Tapi, kalian semua sudah menyianyiakan kebaikanku selama ini. aku menitah kalian hanya untuk membawa Kim Wonshik dihadapanku. TAPI APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
"Jangan meminta belas kasihku, aku tidak akan memberi uang pesangon pada kalian. Kalian sudah tahu aku orang yang kejam dan tanpa belas kasih, jadi jangan mengharapkan banyak dariku. Setidaknya, kalian masih beruntung aku hanya memecat kalian dan membiarkan kalian tetap hidup!"
"Sekarang, tunggu apa lagi? Enyah dari hadapanku sekarang!"
"Lihat saja, Kim Wonshik—aku akan mendapatkanmu dengan kedua tanganku sendiri!"
Klik!
"sajangnim,"
"Siapa yang datang?" tanya Seokjin kala telinganya mendengar pintu terbuka dan panggilan penuh hormat terlontar untuk pria yang ia ketahui memiliki kekuasaan tertinggi di tempat itu.
"Jika tidak salah dengar, itu asisten kepercayaannya. Shim Changmin." jawab Hoseok.
"Ada apa?"
"Maafkan saya, jika saya mengganggu waktu anda, sajangnim."
"hm, tidak perlu berbasa-basi katakan—apa yang ingin kau sampaikan!"
"Apa benar, anda memecat pegawai terakhir yang masih tinggal, sajangnim?"
"Aku tidak membutuhkan mereka yang tidak becus bekerja!"
"Aku akan menutup perusahaan ini untuk sementara waktu. Dan, kau—urus perusahaanku yang ada di Busan, Daegu, dan Jeju. Aku akan menemukan Kim Wonshik dengan tanganku sendiri."
"Beraninya dia menghancurkan perusahaan utamaku di Seoul!"
"Dan, aku sangat berharap padamu untuk tidak ada lagi kesalahan yang dilakukan oleh seluruh karyawan perusahaan entah perusahaan yang ada di Korea atau pun diluar Korea, kau mengerti?!"
"Jangan menghubungiku jika hanya mengatakan sesuatu yang tidak penting. Tapi, jika masalah ini merembet hingga perusahaan cabang yang lain. Aku yakin, Kim Wonshik itu tidak bekerja seorang diri!"
"Pergilah, lakukan tugasmu dengan benar!"
"Baik, sajangnim. Kalau begitu, saya pergi dulu. Selamat siang!"
"Kenapa tidak ada suara?" tanya Seokjin lagi. Hoseok terdiam sejenak.
"Aku rasa Yoongi hyung sedang merenung."
"Apa yang dia renungkan?" tanya Namjoon.
"Mungkin tentang—"
"hah~ karena masalah ini, aku jadi tidak menyempatkan waktu untuk melakukan rutinitasku!"
Ketiga pria itu terdiam mendengar suara yang tiba-tiba terdengar menghela nafas.
"aigoo~ aku tidak menyangka dia semesum itu. Dalam keadaan genting seperti itu, ia masih sempat untuk mementingkan hasratnya?" gumam Seokjin merinding.
"Percayalah, hyung. Dia lebih mesum dari apa yang kau bayangkan." sahut Hoseok. Seokjin hendak menimpali namun ia kembali mendengar suara dari speaker yang membuatnya harus kembali bungkam.
"Aku rasa dia menerima telepon." lirih Namjoon yang suaranya masih bisa di dengar oleh Seokjin dan Hoseok.
"Kau menemukan sesuatu?"
"…"
"Katakan!"
"…"
"arraseo, kita bertemu di tempat biasa!"
"…"
"Siapa yang menelponnya?" gumam Hoseok tak yakin.
"Apa kau mengenal Kim Wonshik?" tanya Namjoon mengabaikan gumaman Hoseok sebelumnya.
"Aku tidak mengenalnya. Tapi, aku pernah bertemu dengannya. Dia manajer keuangan di kantor pusat."
"Apa kau tahu bagaimana keadaan Wings Corp. saat ini?" tanya Namjoon pada Hoseok dengan Seokjin yang menyimak.
Hoseok meraih tablet kesayangannya untuk membuka mesin pencarian hijau yang memberikan segala informasi yang ia butuhkan.
"Menurut berita yang beredar, Wings Corp. untuk sementara diambil alih oleh Shim Changmin selagi belum ada kabar tentang keberadaan jasad Min Yoongi."
"Jasad?" pekik Seokjin tampak terkejut. Hoseok mengalihkan pandangannya pada Seokjin.
"Menurut berita, kecelakaan besar yang menimpa Min Yoongi membuat tubuhnya masih belum bisa ditemukan sampai sekarang."
"Kecelakaan? Apa mereka menemukan bukti tentang itu?" tanya Namjoon. Hoseok menunjukkan layar tabletnya dan menampilkan sebuah foto mobil ringsek yang tak berbentuk pada Namjoon dan Seokjin.
"Tapi—ini rekayasa." Hoseok meletakkan tabletnya disamping keyboard dan menatap kedua temannya bergantian. "Ini semua sudah direncanakan. Jadi, bukan hal yang mengejutkan jika mereka memutuskan untuk memanfaatkan media sebagai tempat mereka bersembunyi."
"Lalu, pertanyaannya adalah—apa yang sebenarnya terjadi pada Min Yoongi?" tanya Seokjin memecah keheningan diantara mereka bertiga selama 10 menit yang lalu.
"just simple word—dia sedang dikhianati." jawab Namjoon santai.
"Kalian ingat ketika Yoongi mengatakan pada asistennya bahwa Kim Wonshik tidak bekerja sendiri?" tanya Seokjin setelah ia dengan matang-matang menganalisis segala percakapan yang waktu lalu ia dengar bersama Namjoon dan Hoseok.
"ya, lalu?" tanya Hoseok.
"Dan, kau ingat ucapanmu jika seluruh jajaran direksi hingga para manajer adalah musuh Yoongi?" Hoseok mengangguk. "Merekalah yang membantu Kim Wonshik!" yakin Seokjin membuat Namjoon dan Hoseok menatapnya kurang yakin dengan pernyataan gamblang Seokjin yang tanpa didukung oleh bukti apapun.
"Ini tidak semudah asal menunjuk orang, hyung." tutur Hoseok. Seokjin menggeleng cepat.
"Dengar!" lanjut Seokjin antusias. "Setelah mendengar semua ini dan semua berita yang beredar. Menurut kalian, siapa orang terdekat Min Yoongi? Siapa orang yang paling pria itu percaya? Aku yakin, kalian akan secara spontan menyebut satu nama di dalam otak kalian."
"Tapi, itu tidak mungkin, hyung. Shim Changmin—"
"hey~ orang yang paling terpercaya pun bisa menjadi racun paling berbahaya yang harus kita hindar, bukan kita rangkul." Seokjin menyela ucapan Hoseok sementara Namjoon hanya diam mendengar. "Coba dengarkan baik-baik ketika di dalam rekaman itu, seperti apa nada tanya yang Changmin lontarkan pada Yoongi? Ia bertanya 'Apa benar, ia memecat pegawai terakhir yang masih tinggal,' sedangkan yang harus ia tanyakan adalah 'kenapa ia harus memecat semua pegawainya padahal perusahaan sedang mengalami krisis?'. Dan lagi, berita yang baru saja Hoseok katakan, dalam sekejab Shim Changmin sudah mengambil alih semuanya? Wings Group adalah salah satu perusahaan besar di Korea dan tidak semudah itu dipindah tangankan dalam waktu hitungan hari. Dan lagi, siapa itu Shim Changmin sampai-sampai mendapatkan semua harta Yoongi?" jelas Seokjin masuk akal yang membuat Namjoon dan Hoseok saling berpandangan dan bergumam kagum.
"woah~ hyung… aku tidak berfikir sampai sejauh itu." Seokjin mencebikkan bibirnya kesal.
"Maka dari itu, jika menemukan informasi itu dengarkan baik-baik," cibir Seokjin yang membuat Hoseok tertawa keras sementara Namjoon yang tersenyum tampan melihat mimik Seokjin yang benar-benar menggemaskan di matanya.
"Oya, apa Jungkook dan Taehyung belum pulang?" tanya Seokjin setelah Hoseok menghentikan tawa tak pentingnya dan hanya ada keheningan diantara mereka.
"Mereka sedang dalam perjalanan." jawab Namjoon.
"Bagaimana dengan Jimin? Dia dirumah 'kan?" tanya Seokjin lagi. Namjoon mengulas senyum.
"Dia sudah pergi satu jam setelah kalian pergi," jawab Namjoon.
"Kemana?"
"Urusan pribadi katanya." balas Namjoon pada Seokjin yang masih genjar menanyakan keberadaan Jimin yang sebenarnya ia tahu dimana pria manis itu berada.
Namjoon menatap Hoseok intens dan mengatakan,
"Hobi-ya, bisa kau cari tahu tentang latar belakang Kim Wonshik? Dan hyung—" Namjoon mengalihkan pandangannya kearah Seokjin dan menatap pria cantik itu tepat ke dalam kedua manik indahnya, seketika Namjoon merasa terpesona dengan pancaran kepolosan dengan binar cerah dari sana menimbulkan debaran asing yang menderu jantungnya. Oh, sial! Apa dia sedang sakit jantung?
"—bisa kau temani aku besok untuk menemui Shim Changmin?"
.
.
.
.
.
Jimin menghentikan langkahnya tepat di samping lampu lalu lintas saat ia melihat lampu merah pejalan kaki menyala di seberang jalannya. Dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku hoodie kuning-putihnya serta kepalanya yang tertutup kudung hoodie kebesarannya, sekilas membuat Jimin terlihat seperti liliput. Mungil dan menggemaskan.
Jimin menunduk, memperhatikan sepasang sepatu putih yang dipakainya hari ini. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Bahkan, ia tak bergerak sedikitpun dari posisinya meskipun ia tahu lampu merah sudah berganti hijau sampai lampu peringatan lalu lintas itu kembali berwarna merah 20 detik kemudian.
Jimin memejamkan kedua matanya dengan kepala yang masih setia menunduk. Mengabaikan langit yang memang sudah mendung sejak ia pergi tadi dan membiarkan satu persatu rintik hujan turun membasahi tubuhnya. Jimin tetap diam. Bahkan, ketika semua orang berlarian menghindar dari rintikan hujan yang semakin deras, Jimin tetap berada di posisinya, tak bergerak sedikitpun.
"Anda siapa?"
"Aku kakekmu."
"Kakek?"
"Jiminie punya keluarga?"
"Tentu nak,… kau punya keluarga."
"Benarkah? Lalu, kenapa Jiminie berada disini? Jika Jiminie punya keluarga?"
"Karena tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu, nak."
"Omong kosong!" gumam Jimin dengan kedua matanya yang kosong menatap depan.
"Kenapa harus aku?"
"Karena kau keturunan tunggalku, Jimin!"
"Apakah keturunan itu penting untukmu disaat kau membuangku?"
"Aku tidak membuangmu, nak!"
"Berhenti seolah peduli padaku, jika ibuku sendiri tidak mau mengakuiku dan terus mengibarkan bendera permusuhan padaku! Aku juga anaknya, tapi kenapa aku tidak pernah diperlakukan adil seperti anak-anaknya yang lain?!"
"Benarkah aku anaknya?" lirih Jimin menghembuskan nafas lelah.
"Aku tidak pernah berharap berada di dalam keluarga sialan ini. Jadi, berhenti mengikutiku dan ikut campur urusanku. Persetan dengan keturunan atau yang berhubungan dengan itu. Aku tidak membutuhkannya!"
"Tapi, aku membutuhkanmu, Jimin."
"Daebak! Kau membutuhkanku setelah membuangku?"
"Dengar, nak! Tidak seharusnya kau terhasut dengan ucapan wanita itu."
Jimin menggigit bibir bawahnya.
'Tidakkah kau cukup menceritakan semuanya padaku, haraboji? Dengan begitu setidaknya aku tahu dimana sebenarnya tempatku.'
Jimin mendongak, membiarkan rintikan hujan mengenai wajahnya. Ia memejamkan kedua matanya. Menikmati guyuran air hujan yang semakin lama terasa perih karena berlomba turun di wajah manisnya. Tak lama, Jimin menunduk bersamaan dengan sebuah Benz hitam mewah berhenti tepat di depannya.
Jimin mendecih setelah melihat ada empat pria mengenakan setelan hitam keluar dari mobil mewah itu seraya membungkuk penuh hormat padanya. Bahkan, satu dari mereka repot-repot memayunginya yang sayangnya hanya dibalas dengan ekspresi kelewat dingin di wajah Jimin.
Tanpa membalas sapaan hormat dari keempat pria yang tiba-tiba datang dihadapannya, dengan acuh Jimin berjalan memasuki mobil yang pintu bagian belakangnya sudah terbuka, khusus untuknya.
Setelah tuan mudanya sudah duduk manis di belakang kemudi, empat pria yang datang pun segera menyusul masuk ke dalam mobil mengabaikan pakaian basah mereka yang bisa mengotori mobil mewah itu. Tapi, bukan itu yang penting. Fakta bahwa tuan muda sudah berada di tangan adalah hal yang jauh lebih penting dibandingkan menyayangkan mobil mewah yang harganya seperti mobil mainan bagi tuan besar mereka.
.
.
.
Hal yang Jimin benci dalam hidupnya adalah berhadapan dengan pria tua, berkacamata persegi panjang, rambut yang sepenuhnya sudah beruban, dan jangan lupakan tongkat yang selalu berada di tangannya yang digunakannya untuk mempermudah setiap langkah pria tua yang sedang duduk tenang di sofa ruang tamu mansion mewahnya, ditemani sederet jajaran maid serta bodyguard yang jumlahnya tak sempat Jimin hitung karena saking banyaknya.
"Pelayan, tolong siapkan baju hangat untuk tuan muda."
"Tidak perlu!" sela Jimin datar. Ia berdiri menatap tajam kearah pria tua yang hanya tersenyum tenang membalas tatapannya yang kelewat dingin itu.
"Ambilkan handuk untuknya." titah pria tua yang tentu saja tidak bisa dibantah oleh sang pelayan meskipun pada akhirnya akan mendapat penolakan dari sang tuan muda.
"Apa kau sudah makan?" tanya pria tua itu penuh kasih sayang. Jimin tersenyum miring.
"Sudah berapa kali aku harus mengatakan padamu, pak tua?!" sinis Jimin emosinya memuncak di ubun-ubun kepalanya. Pria tua itu mengetuk-etuk jari telunjuknya di pegangan sofa mahalnya seraya memandangi wajah cucu kandungnya yang mulai memucat kedinginan.
"Mandilah. Kita bisa bicara setelah kau mandi." Jimin mengepalkan kedua tangannya. Tubuhnya memang menggigil kedinginan karena seluruh pakaiannya basah belum lagi tetesan air di tubuhnya yang jatuh mengenai ubin mansion yang ia pijaki saat ini.
"Aku tidak perlu menunjukkan tata kramaku padamu karena kau tahu betul, aku tidak pernah diajarkan bagaimana harus bersikap termasuk kepadamu!"
"Aku tidak keberatan jika kau harus bersikap tidak sopan padaku dan terus memanggilku 'pak tua'." Jimin menatap pria tua di depannya tak percaya.
"Jika masih masalah yang sama. Aku pergi!" Jimin berbalik badan bersamaan dengan lima orang bodyguard yang dengan gesit menghalangi jalannya.
"Minggir!" desisnya mengerikan.
"Maafkan kami tuan muda,"
"Aku bilang minggir! Apa kalian tuli, ha?!" bentak Jimin tak sabar dan bersiap untuk mengacau jika saja pria tua itu tidak berseru memanggilnya dan mengatakan hal gila yang membuat Jimin harus kembali merasakan hancur untuk yang kesekian kalinya.
"Tunanganmu sedang dalam masalah, dan kau hanya diam saja?"
Sontak, Jimin berbalik badan dan menatap pria tua itu penuh luka.
"DIA BUKAN TUNANGANKU!" seru Jimin yang membuat suasana di mansion mewah itu terasa mencekam. "Aku mohon jangan pernah menyebutnya lagi."
"Kau tahu, jika kau yang membuatnya hancur dan sekarang—"
"HARABOJI!" seru Jimin memotong ucapan pria tua yang tak lain adalah kakek kandungnya, Park Deukhwa.
"Kau yang membuatku seperti ini. Kau! Kau yang membuatku harus menghancurkannya dan menjadi monster mengerikan yang tak bisa kukenali lagi. Kau, haraboji! KAU! Dan sekarang kau memintaku untuk membantunya? Untuk menemuinya? Dan apa? Mengemis, meminta kembali padannya? Apa kau lupa haraboji, jika dia juga menyakitiku! Dia yang membuatku kecewa padanya."
"Nak~" tanpa sadar, kedua mata Jimin berkaca. Jimin menghela nafas, menenangkan diri.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku mengatakan hal yang kasar padamu. Sampai jumpa." Jimin membungkuk pamit dan berlalu pergi begitu saja yang kali ini tak dicegah oleh siapapun.
'Bukan tunangan sialanku yang sedang kupikirkan sekarang. Tapi, keluarga sialan ini. Sampai kapan kau akan merahasiakan yang sebenarnya dariku, haraboji? Sampai kapan kau akan mengatakan semuanya padaku?'
.
.
.
.
.
"Darimana kau mendapat ide itu?" tanya Taehyung setelah ia mengetahui rencana cerdik Jungkook serta setelah ia mengemudikan Honda Civic-nya keluar dari kawasan Osan.
"Namjoon hyung." jawab Jungkook singkat. "Dia banyak memberiku ujian sebelum kau datang." Taehyung mengeryit tak mengerti. Sesekali, ia melirik kearah Jungkook yang masih fokus pada ponsel layar retaknya.
"ujian?" gumam Taehyung tak paham.
"Aku lebih suka menyebutnya ujian dibandingkan pelajaran." tutur Jungkook tanpa mengalihkan sedikit pandangannya dari ponsel pintarnya.
"Jadi, ujian apa yang Namjoon hyung berikan padamu?" dan ketika pertanyaan ini keluar dari mulut Taehyung, barulah Jungkook menoleh dan menatap tak suka pada pria tampan di sampingnya.
"Dan, kenapa kau ingin tahu?" Jungkook balik bertanya seraya menatap Taehyung selidik. Taehyung berdecak.
"Tidakkah kau merasa bosan jika kita hanya diam selama kurang lebih dua jam perjalanan?"
"Aku akan lebih bosan jika kau terus mengoceh!" sinis Jungkook datar.
"kau~" desis Taehyung geram hingga tanpa sadar mencekeram erat stir kemudinya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku bahkan tidak masalah jika kau ingin membanting stir dan menabrakkan mobil ini di pembatas jalan atau sampai menerobos ke jurang." sarkas Jungkook dengan wajah santai yang membuat Taehyung ingin sekali menendang wajah yang sayangnya imut itu keluar dari mobilnya.
"Aku juga akan dengan senang hati melakukannya jika tak ingat nyawaku lebih berharga dari nyawamu." Jungkook tertawa remeh.
"Pembunuh bayaran sepertimu juga memiliki harga nyawa?" Taehyung mendecih, kesal bukan main.
"Dan, untuk ukuran bocah baru menetas sepertimu sangat wajar jika tidak memiliki harga nyawa." Jungkook mengepalkan kedua tanganya serta mengalihkan pandangannya kearah Taehyung yang tetap fokus pada jalan di depannya.
"Setidaknya jika aku tidak memiliki harga nyawa tapi aku belum pernah menghilangkan nyawa seseorang hanya untuk segelintir uang,"
Tanpa sadar, Taehyung memelankan laju mobilnya. Jungkook yang tersadar hal itu menyadari jika ia sudah salah bicara dengan mengungkit pekerjaan Taehyung sebelumnya. Jungkook menarik nafas dan memilih untuk menjatuhkan pandangannya pada pemandangan luar di balik jendela kaca mobilnya. Mengabaikan wajah murung Taehyung dan berpura-pura tak menyadari jika ada sebulir bening yang mengalir dari sudut ekor mata pria tampan yang tak sengaja ia lihat dari bayang kaca mobilnya.
.
.
.
.
.
Kaca berembun akibat rintikan hujan menjadi pemandangan tersendiri yang entah kenapa bisa menenangkan diri Namjoon. Bulir-bulir air bening yang mengalir menempel pada jendela kaca kamarnya merupakan view menyenangkan yang tak bisa Namjoon berikan alasannya mengapa. Ia hanya merasa tenang memperhatikan bagaimana air-air yang bergemuruh turun membasahi permukaan tempat tinggalnya.
Hah~
Namjoon menarik nafas. Tangan kiri yang ia masukkan ke dalam saku celananya sedangkan tangan kanannya yang memegang secangkir kopi hangat yang dibuatkan Seokjin untuknya beberapa menit yang lalu. Pria itu… entah kenapa memberikan dampak berarti yang tak Namjoon ketahui apa itu. Yang jelas, sesuatu yang tak pernah Namjoon rasakan sebelumnya. Sama sekali belum pernah.
Tapi, jujur saja jika menilik hatinya lebih lanjut ia ingin segera menyelesaikan segala urusannya di tanah kelahirannya agar ia bisa segera kembali ke London. Menjalani hidup seperti sedia kala. Bukan menjalani hidup asing meskipun di ranah tanah kelahirannya sendiri, dengan suasana yang harus ia sesuaikan. Suasana yang tak pernah ia rasakan untuk orang yang tak begitu suka berbaur dengan banyak orang selain rekan kerjanya.
Namjoon menyesap kopi Americano itu sedikit demi sedikit menikmati rasa pahit yang khas di tengah-tengah gemuruh hujan seperti ini. Membuat Namjoon setidaknya bisa rileks sejenak. Terima kasih untuk Seokjin kalau begitu.
Drrt!
Drrt!
Namjoon mengalihkan pandangannya pada meja kerja yang ada di kamarnya kala mendengar getaran bunyi dari ponsel privatnya. Dengan langkah tegasnya ia berjalan mendekati meja kerjanya. Meletakkan cangkir kopinya dan mengambil benda persegi empat tersebut.
Namjoon mengeryit saat mendapati nomor tak dikenal menghubunginya. Dan, yang lebih mengherankan lagi itu adalah nomor lokal yang ia ingat dengan benar bahwa tidak ada seorang pun orang yang tahu nomor di ponsel khususnya itu sejak ia tinggal di Seoul kecuali atasannya di London. Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Namjoon menggeser ikon hijau yang seketika membuatnya tercengang tak mengerti ketika suara bising yang pertama ia dengar dari sambungan tak dikenal itu.
"hallo?"
"…"
"Apa mungkin salah sambung?" gumam Namjoon memperhatikan layar ponselnya bingung.
"hallo…"
"…"
Namjoon menghela nafas. Pasti orang iseng, pikirnya. Ia mengedikkan bahunya acuh berniat untuk memutus salah sambung itu sebelum akhirnya terdengar teriakan dari seberang sana.
"OPPA!"
Namjoon membulat horror kearah layar ponselnya.
Apa tadi dia salah dengar?
Atau ini benar-benar salah sambung?
Tidak, ini pasti salah sambung.
"Salah sambung?" tutur Namjoon to the point.
"Ani-ani-ani… aku yakin, ini nomor yang benar." Namjoon berdecak. Percayalah, siapapun suara gadis di seberang sana jika memang benar menghubungi nomor urgent-nya hanya karena salah sambung, dia benar-benar akan melacak nomor si pemanggil untuk melempar tubuhnya ke laut Busan. Mengganggu saja!
"Aku tutup!" ujar Namjoon datar dan tak peduli si pemilik suara di seberang sana semakin panik.
"Ani-ani… aku tidak salah sambung. Ini benar, aku berbicara dengan Namjoon oppa 'kan?" Namjoon mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. Siapa gerangan di seberang sana? Dan, ada perlu apa dengannya?
"Nugu?" tanya Namjoon tampak bodoh sementara si pemanggil di seberang sana terkekeh senang.
"Bang-nim memintaku untuk menemuimu."
"SIAPA?!" Namjoon memekik tanpa sadar.
"wae-wae-wae? Apa aku salah bicara? Dan—bisakah kita bertemu?"
Namjoon mengacak surainya cemas. Cobaan apa lagi ini, Tuhan…
.
.
.
Namjoon kira, tempat pembuangan sampah, pembuangan limbah bahkan kandang yang berisi penuh kotoran hewan mungkin lebih baik daripada tempat yang sedang ia pijaki saat ini. Bahkan, tak pernah terbesit di bayangan Namjoon akan ada tempat yang—bagaimana penggambarannya? Jika tempat ini adalah tempat terburuk di dunia. Bahkan, jika ada kata yang lebih buruk dari buruk, maka dengan senang hati, Namjoon sematkan kata itu untuk tempat ini.
Mengabaikan rasa jijik dan risih, Namjoon melangkahkan kakinya pada sebuah rumah reyot dengan lampu temaram kuning. Rumah yang diisi penuh oleh kumpulan hawa membuat Namjoon merasa seperti mengumpan diri pada kandang singa. Dia memang pria, tapi tidak lucu jika ia satu-satunya pria yang berada di rumah yang isinya seperti rumah bordil ini. Membuat Namjoon bergidik ngeri sendiri.
"oh-hy oppa! Kau sudah datang?" Namjoon mengeryit horror ketika ia melangkah masuk melewati pintu rumah tak layak huni dan langsung disambut oleh wanita yang tak lebih tinggi darinya. Wajahnya cantik, rambutnya hitam panjang bergelombang yang dikuncir kuda belakang. Ia mengenakan jeans ketat berwarna baby blue yang dipadukan dengan sweater berwarna peach, terlihat sederhana tapi terlihat cocok melekat di tubuh wanita yang Namjoon tebak bukan asli Korea. Aksennya ketika menggunakan bahasa ibunya terdengar aneh dengan lidah yang tampak terbelit.
"Kau yang menelponku tadi?" tanya Namjoon yang disambut anggukan antusias oleh wanita asing itu.
"Senang bertemu denganmu, Namjoon sunbaenim."
Ha?!
Namjoon melongo. Siapa wanita ini? Ia merasa tidak pernah bertemu apalagi mengenalnya. Jadi, bukankah itu lucu jika tiba-tiba saja wanita itu bersikap sok akrab?
"Siapa kau?"
"oh! Aku belum mempersilahkanmu duduk. Duduklah, anggap saja ini rumahmu."
Rumah? Apa dia bercanda?!
Tapi, Namjoon tak bisa menolak untuk mengikuti wanita yang membuatnya datang kemari dengan tampang bodoh di wajah tampannya.
"Kau ingin minum sesuatu?" tawarnya ramah.
"Tidak, terima kasih!" jawab Namjoon cepat. Ia berusaha untuk menyamankan dirinya dari setiap tatapan para wanita di rumah itu. Bahkan, ia merutuki dirinya yang begitu saja mengiyakan permintaan untuk bertemu dari wanita asing di depannya. Dan, bagaimana ia tidak mengiyakan jika wanita itu mengancam bahwa ia tahu identitas Namjoon yang sebenarnya? Identitasnya terlalu cepat untuk dibongkar—disaat ia belum memulai apa-apa. Selain itu, kata gagal dalam setiap misinya, tidak ada dalam kamus seorang Kim Namjoon.
"Siapa kau?" tanya Namjoon tanpa berbasa basi.
Wanita itu tersenyum sekilas. Ia membungkuk di bawah meja untuk mengambil dua botol corona. Satu, ia letakkan di depan Namjoon dan satu ia buka untuk ia minum.
"hah~ ini enak sekali." sengaunya merilekskan tubuh sebelum kedua matanya yang bertemu tatap dengan pria di depannya, menatapnya tajam dan menuntut. Wanita itu terkekeh. Ia mengulurkan tangannya di depan Namjoon.
"Perkenalkan, Hirai Momo. Agen MI6 bagian personal Jepang." Namjoon membulatkan kedua matanya.
"Kau mata-mata MI6 yang ada di Jepang?" wanita itu mengangguk.
"nde." jawabnya ringkas. "Suatu kehormatan bisa menemui senior dari pusat sepertimu."
"Ada apa?" nyatanya, Namjoon bukan anak kemarin sore yang tidak mengetahui maksud kedatangan seseorang yang ternyata juniornya itu. Ia hafal betul, bagaimana agen rahasia terkemuka tempatnya bekerja. Karena, jika sudah mengirim orang untuk menemuinya itu artinya sesuatu telah terjadi.
"Apa kau keberatan jika sebelumnya aku memanggilmu 'oppa'? Apa aku harus bersikap formal?" tanyanya. Namjoon mengedikkan bahunya acuh.
"Tidak perlu terlalu formal. Hanya saja, jangan memanggilku 'oppa', kita baru saja bertemu dan itu terasa aneh untukku. Kita bisa saling memanggil nama." wanita itu mengangguk paham.
"Sebenarnya kedatanganku kesini atas permintaan Sir Walson."
"Apa aku membuat kesalahan?" Momo menggeleng, kali ini memasang wajah yang lebih serius.
"Para petinggi mencemaskan tugasmu." jawab Momo. "Bukannya kami meragukanmu, hanya saja kau tahu benar bagaimana bahayanya para kriminal di Korea. Maka dari itu—"
"Aku tidak membutuhkan bantuan siapapun," sela Namjoon yang tahu benar ujung dari ucapan Momo. Wanita itu terdiam sejenak. "Bukankah Korea sama saja dengan Jepang?"
"Jika dilihat dari sisi tingkat kriminalitas, kedua Negara ini sama. Tapi, setidaknya para pejabat dan aparat di Jepang masih bersedia untuk bekerja sama. Tidak seperti di Korea yang melepas tangan dan hanya mementingkan kepentingan politik."
"Itulah hidup yang sesungguhnya." tutur Namjoon. "Aku sudah mengumpulkan orang-orang pilihan Mr. Bang. Dan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku bisa menghalau semuanya dengan mudah."
"Aku sudah menebak jika kau pasti akan menolak kedatanganku, sunbaenim."
"Maafkan aku, Hirai. Ini adalah tanggung jawabku." Momo mengangguk paham. "Dan, apa kau datang sendiri?"
"ani. Aku datang bersama agen yang baru saja menyelesaikan misinya di China. Ia orang Korea omong-omong."
"Apa dia juga disini?" tanya Namjoon.
"nde. Wanita yang mengenakan dress merah selutut dan rambut panjang berwarna cokelat." Momo menunjuk seseorang yang berada di pojok rumah dan Namjoon dapat melihat satu-satunya orang yang mengenakan dress merah tengah membaca sebuah katalog dengan nyamannya. "Namanya Irene. Bae Joohyun nama aslinya." Momo memberitahu nama partner barunya. "Tapi, kita tidak bisa pulang begitu saja, sunbaenim. Karena, misi kami kali ini adalah membantumu. Kau tahu apa konsekuensinya jika kamu pulang sia-sia."
Namjoon menarik nafas. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah reyot itu. Setelahnya, Namjoon merogoh saku mantelnya dan melempar sebuah kunci kearah Momo.
"Florist Apgujeong, lantai 4 pintu 113. Kau bisa tinggal disana bersama partner-mu." Momo tersenyum sumringah.
"Jika membutuhkan bantuan, kami akan segera membantu." Namjoon tersenyum kecil.
"Aku rasa kau harus mencari pekerjaan sambilan."
"wae?" Namjoon mengedikkan bahunya.
"Kau sudah membaca data orang pilihan Mr. Bang?" Momo mengangguk. "Mereka luar biasa. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk memanfaatkan mereka."
"oya, sunbaenim. Kau mendapat titipan." Momo mengeluarkan sebuah disk dari dalam saku celananya dan memberikannya pada Namjoon.
"Dari?"
"Sir Wilson. Dia ingin kau cepat menyelesaikan semua ini. Kau tahu? Dia tidak ingin kehilangan anak emasnya yang resmi masuk daftar promosi." Namjoon terkekeh.
"Aku akan menghubungimu dalam waktu dekat. Aku rasa, bekerja sama denganmu bukanlah hal buruk." Momo bersorak senang.
"assa! Itulah yang kuharapkan!"
"Tapi, aku hanya akan membahas target agen. Tidak dengan yang lain." Momo mengangguk paham.
"Kami percaya kau bisa mengatasinya, sunbaenim."
"Dan, bisakah aku meminta satu hal padamu?"
"Tentu saja."
"Jika membuat pertemuan—bisakah memilih tempat yang lebih manusiawi?" Namjoon berbisik di akhir kalimat yang direspon kekehan dari wanita Jepang itu.
"I'am Sorry, sunbaenim. But, this place is heaven for us." Namjoon membulat horror. Dia tidak salah dengar 'kan?
.
.
.
.
.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Seokjin pada Taehyung yang baru saja tiba bersama Jungkook. Jungkook yang langsung memilih mendekam di kamar sementara Taehyung yang merebahkan tubuh besarnya di sofa ruang tengah, mengemudi empat jam pulang-pergi benar-benar menguras tenaga dan emosinya—emosi karena harus bersama si bayi besar Namjoon.
"Apakah kau pernah melihat kita akur?" sarkas Taehyung. Seokjin berdecak.
"Tidak. Hanya saja, kenapa wajah Jungkook kembali seperti ketika pertama kali aku datang."
"Wajahnya memang seperti itu. Mau diapakan lagi?"
Tak!
"YAK! HYUNG!" Taehyung memekik dan menatap Seokjin garang yang sayangnya tidak berefek sedikitpun kepada pria cantik itu.
"Berhenti bersikap kekanakan! Kau bahkan sudah biasa mendapat bogem mentah sebelumnya." Taehyung mencebikkan bibirnya, merajuk.
"Tapi tidak sekarang. Apa kau tega jika ada yang melukai wajah tampanku?" Seokjin menoleh kearah Taehyung dan meneliti wajah pria itu lamat-lamat.
"Apa obatmu sudah habis?" Taehyung mengeryit.
"Kau pikir aku sakit?" Seokjin mengangguk samar.
"Kurasa begitu. Bahkan, kupikir kau sedikit kehilangan kewarasanmu," desis Seokjin kejam. Taehyung mendelik kesal.
"Aku rasa kau lupa siapa aku!"
"wae, wae, wae?! Kau mau membunuhku?" tantang Seokjin. Taehyung menyipitkan kedua matanya tajam.
"hey hey hey… ada apa ini?" lerai Hoseok yang muncul dari ruang kerja dan bergabung bersama dengan Seokjin dan Taehyung.
"Ck! Orang asing datang lagi." decak Taehyung membuat Seokjin geram dan tergoda untuk menjitak kepalanya.
"Bisa kau jaga mulutmu baik-baik?" pinta Seokjin kasar yang hanya dibalas tawa derai dari Taehyung. Entah kenapa membuat Seokjin kesal adalah kesenangannya tersendiri.
"hyung, aku lapar. Tidakkah ada makanan untukku?" pinta Taehyung tak tahu malu. Seokjin berdecak. Ia mencibir kelakuan Taehyung namun tak menolak untuk mengambil makanan di dapur untuk bocah menyebalkan itu.
Sepergian Seokjin, hanya ada keheningan antara Taehyung dan Hoseok. Sebenarnya, keduanya ingin memulai percakapan tapi rasanya akan aneh jika dua orang yang sebelumnya hanya orang asing akan memulai percakapan basa-basi, itu bukan gaya mereka sekali.
Hoseok berdehem, memecah kecanggungan.
"Jadi, apa yang kau dapatkan?" tanya Hoseok membuka pembicaraan lebih dulu.
"Entahlah. Bocah itu menempelkan semacam kamera pengintai entah dimana." Hoseok mengangkat sebelah alisnya heran mendengar jawaban acuh Taehyung.
"Kau tampak tidak tahu."
"Bukan tampak. Tapi, aku memang tidak tahu."
"Bagaimana bisa?"
"Apanya yang bisa? Tentu saja bisa. Bocah itu berbuat seenaknya tanpa memberitahu apapun padaku. Kau tahu? Aku merasa seperti sopir pribadinya. Dia pikir, dia siapa?!" seru Taehyung tanpa sadar merengek pada Hoseok. Hoseok terkekeh. Merasa lucu dengan ekspresi Taehyung yang sama sekali jauh dari image-nya yang terlihat dingin dan kejam itu.
"Lalu?"
"aish, apa kau tidak mengerti perasaanku?" Hoseok tertawa kecil.
"Aku mengerti. Sangat mengerti. Hanya saja—ayolah, dia masih 18 tahun. Anggap saja seperti kau menjaga adikmu sendiri."
"Kenapa kau sama saja dengan Seokjin hyung?"
"huh?"
"woah~ apa dunia sudah berputar sekarang?"
"Dunia memang selalu berputar, Kim!" Taehyung mencebikkan bibirnya.
"Sebenarnya, apa istimewanya bocah itu? Dia hanyalah bocah ingusan." Hoseok menatap Taehyung selidik.
"Apa kau 'pemuda' yang baru saja menjadi 'pria'?" Taehyung mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
"Maksudmu?"
"Apa kau tidak pernah mengalami fase yang sama dengan Jeon Jungkook?" tanya Hoseok yang membuat Taehyung terdiam sesaat. "Dia termuda disini jika kau lupa. Dan, apa menurutmu dia lebih beruntung darimu dengan situasi sekarang? Apa kau tidak tahu cerita tentang dirinya dari Namjoon?" lanjut Hoseok beruntun bersamaan dengan kembalinya Seokjin membawa sebuah piring dan segelas air mineral.
"Kalian membicarakan sesuatu yang serius?" tanya Seokjin seraya menyerahkan piring yang berisi nasi goreng Kimchi kepada Taehyung yang langsung diterima pria tampan itu tanpa minat.
"Tidak. Hanya beberapa yang perlu diingat." Hoseok yang menjawab dan Seokjin mengangguk paham.
"Makanlah, Tae." Seokjin tersenyum cantik sementara Taehyung yang melamun entah kenapa.
"Taehyung?" panggil Seokjin namun tak mendapat respon apapun darinya.
"hey,…" Seokjin memegang pundak Taehyung yang membuat si empu tersentak terkejut.
"waeyo?" tanya Seokjin lembut. Taehyung menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena salah tingkah kedapatan melamun oleh Seokjin dan Hoseok yang mematainya selidik.
"Kau baik."
"hm, hyung…" Taehyung menoleh kearah Seokjin yang duduk disampingnya dan menatap pria cantik itu ragu. "Bolehkah, aku bertanya?"
"Tentu saja."
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada Jeon Jungkook?" Seokjin dan Hoseok saling berpandangan.
"Kau tidak tahu?" Taehyung menggeleng polos.
"Yang tidak kuketahui hanya tentang bocah SMA dan adikmu itu, hyung."
"Jimin maksudmu?" tebak Seokjin. Taehyung mengangguk kecil.
"Jadi, apa yang terjadi pada Jungkook?" ulang Taehyung.
"Dia dibuang oleh keluarganya, dikucilkan, dijebak dan difitnah oleh teman sekolahnya, ia mengalami depresi berat dan suka melukai dirinya sendiri, melukis ukiran-ukiran abstrak di kedua lengannya bergantian hingga mengeluarkan tetesan darah. Yah, setidaknya itu yang membuatnya lega."
"Sampai separah itu? ayolah, aku memang bajingan—tapi, itu sama sekali tidak keren. Dan, itu sama saja membunuh diri sendiri dengan perlahan!" balas Taehyung tak habis pikir.
"Apa kau masih memikirkan kata 'keren' jika kau berada di situasinya?" sela Hoseok. Taehyung mengedikkan bahunya acuh.
"Dia sudah mengalami depresi mental sejak kecil." Taehyung membulatkan kedua matanya terkejut. "Kau bisa membayangkannya?" lanjut Seokjin. "Maka dari itu, kau yang dipercaya Namjoon untuk menjaganya, bisakah kau melakukannya? Karena kami juga akan berusaha membuat Jungkook betah berada disini."
Taehyung berfikir sejenak. Kemudian, ia menarik nafas dan dengan ringan mengangguk yakin.
"Tentu saja, aku akan menjaga junior baruku." jawab Taehyung yang membuat Seokjin dan Hoseok tersenyum lega. Setidaknya, Taehyung bisa sedikit mentolelir sikapnya pada Jungkook.
.
.
.
.
.
"Rumahnya bertipe modular dengan seni Hanok sebagai perpaduannya. Aku rasa, si perancang rumah benar-benar pecinta seni," kagum Hoseok pada apa yang tertera di layar monitornya. Seperti biasa, kali ini Namjoon, Seokjin, Taehyung beserta Jungkook berada di ruang kerja mereka tepat setelah Namjoon tiba dan meminta mereka untuk berkumpul di ruang kerja ini. Ia juga menyuruh Hoseok untuk memperlihatkan hasil dari 'scout eye' yang ia berikan pada Jungkook tadi pagi untuk ditempelkan pada salah satu sisi rumah target.
"Bagaimana dengan tata letak ruangannya?" tanya Namjoon. Hoseok mengotak-atik komputernya sebentar hingga muncullah struktur bagian dalam rumah di layar monitornya.
"Hanya ada satu lantai. Empat kamar, dapur, ruang tengah+ruang tamu, dan dua kamar mandi. Ada kebun bagian sisi kanan, kiri dan belakangnya. Rumah ini dipagari tembok yang cukup ketat meskipun hanya sebuah rumah dengan dinding kayu." jelas Hoseok.
"Bagaimana penghuninya?" tanya Namjoon.
"Ada dua bodyguard yang berjaga di depan, dan seorang nona muda." jawab Jungkook datar.
"Rumah sesederhana ini dijaga bodyguard?" gumam Seokjin heran.
"Sudah jelas, jika mereka menyembunyikan sesuatu di rumah itu!" sambung Hoseok yakin.
"Hobi-ya, apa kau bisa mendeteksi makhluk hidup yang ada di rumah itu melalui scout eye?" tanya Namjoon. Hoseok terdiam sejenak.
"Akan ku coba. Beri aku waktu tiga menit." ijin Hoseok kembali mengotak-atik komputernya dengan lincah. Ini keahliannya ingat?
Klik!
Tak sampai tiga menit, di layar komputer Hoseok muncul beberapa foto yang berhasil ia dapat.
"Ada dua orang wanita bernama Kang Seulgi dan Jeany Kim. Kim Wooyoung, Lee Yoonwook, Lee Guangjin, dan Park Suha adalah penjaga di rumah itu. Dan tentu saja—Min Yoongi!"
"Min Yoongi juga terdeteksi?" Hoseok mengangguk ringan.
"yep! Dia berada di kamar empat. Kamar paling ujung dari pintu depan."
"Apa kau bisa melihat keadaannya?" Hoseok menoleh kearah Namjoon menantang.
"Apa kau pikir mereka memasang cctv di kamar?" sinis Hoseok. Namjoon terkekeh kecil.
"Lalu, bagaimana kau bisa mengetahui siapa-siapa saja yang tinggal disana."
"Dengan scout eye dan satelit tentu saja. Sebenarnya, aku hanya mengecek ID Yoongi dan muncullah orang-orang yang berada di sekitarnya. Just simple!"
"ya-ya-ya… itu sangat simpel untuk orang yang mampu membajak satelit bumi." sarkas Taehyung. Hoseok tertawa bangga.
"Terima kasih atas pujiannya, V!"
"Apa kita sudah berteman akrab?" tanya Taehyung konyol. Hoseok terkekeh geli.
"Menurutmu?" balasnya yang dibalas kedikan bahu acuh dari Taehyung.
"Jadi, kapan kita bergerak?" tanya Taehyung tak sabar untuk memulai aksi pertama kalinya sebagai tim, bukan perseorangan.
Namjoon berfikir sejenak. Menimbang berbagai hal sebelum memutuskan,
"Kita—" Namjoon menghentikan ucapannya ketika ponselnya tiba-tiba bergetar nyaring yang membuat keempat lainnya mengalihkan pandangannya padanya serius. Namjoon mencoba mengabaikan mereka dan meraih ponselnya yang berada di saku celananya. Membuka sebuah pesan masuk yang ternyata berisi sesuatu yang membuatnya mengukir senyum miring penuh kepuasan.
"Tiga hari!" ujar Namjoon tiba-tiba yang membuat empat orang disana tersentak terkejut. "Tiga hari lagi, kita akan menjemput Min Yoongi dari sana."
.
.
.
.
.
Blam!
Jungkook menutup pintu merah kamarnya putus asa. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi sampai waktu itu juga Jungkook masih belum bisa berkelana ke alam mimpi. Jungkook mengusak surai hitamnya gemas. Ia mengantuk tapi entah kenapa kedua matanya masih mau terjaga.
Pemuda yang masih duduk di bangku SMA kelas tiga itu berjalan menuju dapur. Sesekali ia menguap dan mendesah kesal. Kenapa ia sulit tidur disaat ia sudah mendapat tempat yang nyaman dan layak? Ini menyebalkan.
Tangan Jungkook terulur membuka lemari pendingin. Diambilnya dua kaleng yogurt sekaligus. Kemudian, ia memilih untuk termenung sejenak di meja makan. Tak masalah jika ia nantinya tertidur di atas meja, toh! Hanya Seokjin yang pasti akan menemukannya mengingat rutinitas pria cantik itu yang selalu bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan.
Jungkook menegak satu kaleng yogurt-nya tanpa semangat. Ia menompang kedagunya dengan sebelah tangan dan melamun sejenak. Memikirkan kelangsungan hidupnya yang dirasa semakin berantakan.
Hah~
Jungkook menghela nafas. Terkadang, ia bertanya-tanya apa tujuannya hidup jika pada akhirnya ia tetap disia-siakan. Tidak adakah yang benar-benar peduli padanya? Katakanlah Jungkook masih terlalu kecil untuk mengetahui bagaimana sulitnya hidup meskipun ia sudah mengalami banyak hal. Tapi, apa mungkin kesempatan untuk merasakan kasih sayang itu ada untuknya? Apa mungkin, ia bisa merasakannya meskipun hanya sehari?
Klik!
Jungkook mengeryit mendengar suara pintu utama terbuka membuatnya seketika langsung menoleh dan mendapati pria mungil yang ia ketahui baru seminggu bergabung dan tinggal bersama di rumah mewah ini.
Pria mungil yang mengenakan hoodie kuning kebesaran itu, berjalan memasuki dapur mengabaikan sosok Jungkook yang mematainya selidik. Oh, ayolah bukankah mencurigakan jika seseorang pulang pukul dua dini hari?
Pria mungil yang tak lain adalah Park Jimin itu mengambil sebotol mineral dari lemari pendingin dan menegaknya rakus. Sedangkan, Jungkook juga turut menganggap angin lalu keberadaan Jimin. Mereka tidak saling kenal, ingat?
Drrt!
Drrt!
Getaran ponsel Jimin memecah keheningan dapur. Sebelah tangannya yang tak membawa botol, meraih benda persegi empat yang berada di saku hoodie-nya. Dahinya mengkerut mendapati nama 'Paman Kang' yang muncul di layar ponselnya.
Jimin menarik nafas. Tanpa memperdulikan Jungkook, ia menggeser ikon hijau dan berlalu begitu saja. Tak menyadari, jika diam-diam Jungkook mendengar percakapannya dengan orang seberang sana.
"…"
"Ada apa lagi?! Bukankah aku sudah menemui pak tua itu?!"
Jungkook mengangkat sebelah alisnya terkejut.
Pak tua?
Menemui?
Bocah SMA itu berfikir keras hingga tanpa sadar muncul berbagai prasangka mengenai pria mungil yang ia akui memiliki pesona yang menawan dan secuil fakta yang ia ketahui tentang pria mungil itu.
Pheromone.
Dan, lengkaplah sudah prasangkanya setelah ia mendengar kata 'pak tua' dan 'menemui' keluar dari belah bibir tebalnya, membuatnya bergidik ngeri.
"Kenapa Namjoon hyung membutuhkan seorang pelacur?"
Tbc
[-] Want next?
[-] Sabar ya... Yoongi-nya yang enggak muncul-muncul. Next chap, udah lengkap semua kok. Dan, masih ada yang ingin lanjutkah?
[-] Thx, buat yang udah suport da sabar menunggu. Makasih yang udah sempetin baca ff abal-abal ini. Thankyou very much.
.
.
See you in next chapter,
Kamsahamnida,...
