Yosh! Kembali lagi pada fic SasuSaku~ xD

Entah kenapa aku merindukan fic ini, I love you RAA :* #ciumciumtripleS (Sasuke, Sakura, Sai) terus aku juga kangen CM, tapi dilanjutinnya ntar ya hohoho #ciumciumtripleSlagi (Sasuke, Sakura, Sasori)

Udah ah curcolnya, selamat membaca minna! xD


Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, misstypo?

Genre : Romance/Friendship/Angst

Pairing : SasuSaku, SaiSaku, slight SaiIno

.

.

REVIEW AND ART


CHAPTER 9 : CONFESSION

"Sasuke?" untuk ke sekian kalinya panggilan itu keluar dari bibir mungilnya. Gadis berambut soft pink dan mempunyai bola mata berwarna hijau emerald yang indah itu masih menatap laki-laki di depannya dengan tatapan tidak percaya.

Pemuda berambut raven itu masih diam di tempatnya. Tak berniat untuk meneruskan ucapan bodoh tadi. Bahkan seorang Uchiha Sasuke juga bisa menjadi bodoh, kaku, dan kehilangan ekspresi dingin yang selalu dibanggakannya jika sudah berhadapan dengan gadis itu. Gadis bernama Haruno Sakura adalah pemenang dalam meluluh lantahkan pertahanan pangeran es itu. Jika diibaratkan dongeng, maka Sakura bagai pemenang dalam pertarungan meruntuhkan istana es dan menjajahnya. Membuat pangeran tampan bernama Uchiha Sasuke yang merupakan pemilik istana es itu tunduk dalam pesonanya.

Baiklah, itu hanya dongeng konyol belaka. Sekarang kembali ke dalam pertanyaan dunia nyata : Apa jawaban Sasuke?

Sasuke mengalihkan pandangannya dari mata hijau emerald di depannya. Ke mana saja asal jangan sampai bertabrakan dengan mata beriris indah itu. Sasuke menarik nafasnya sebelum akhirnya memberi jawaban—yang mungkin lebih tepatnya dibilang ngeles, "Tidak," pada akhirnya dia memberi kelakar, "tadi itu cuma salah ngomong,"

"Bohong!" Sakura segera berteriak, "Mana mungkin itu salah ngomong, kalau kau saja mengucapkannya dengan bergetar begitu?" dan kali ini Sakura membentak. Skak mat. Sekarang Sasuke bingung menjawab apa. Lagi.

"Kau Aoi-san kan? Kumohon jawablah," tanya Sakura pelan. Dia mencengkram erat bahu laki-laki yang sedikit lebih tinggi di depannya.

Sekali lagi, bukan Uchiha namanya jika tidak bisa menyembunyikan ekspresi paniknya dan berakting layaknya dia baik-baik saja. Setidaknya Uchiha Sasuke lebih pintar dalam menunjukkan ekspresi coolnya, "Jangan sentuh aku," dengan gerakan kedua tangannya yang menyingkirkan tangan gadis itu, dan sorot mata tajam khas Uchiha.

Sakura sedikit mundur satu langkah karena hentakan tangan Sasuke. Keduanya kembali saling pandang dalam diam, tidak ada yang mau mengalah. Saling menuntut jawaban masing-masing. Sasuke bisa saja mengalah, lagipula bukankah kalau dia menjawab bahwa dia Aoi-san maka Sakura akan mudah dia dapatkan? Tapi...

Sai.

GLEGAR

Suara petir menyambar memecahkan keheningan mereka berdua. Sasuke menolehkan kepalanya keluar sekolah, ah dia hampir lupa kalau sedari tadi mereka tidak bisa pulang karena terjebak hujan lebat. Sasuke manatap hujan itu sesaat lalu menatap Sakura yang masih bertahan di sampingnya. Wajah gadis itu memerah, dari mulutnya keluar seperti asap putih, dan tubuhnya sedikit menggigil. Sepertinya jas yang tadi Sasuke beri masih belum cukup untuk menghangatkan gads itu. Topik pembicaraan baru mulai muncul di kepala Sasuke.

"Kau kedinginan kan?" tanya Sasuke perlahan. Ragu, takut jika Sakura marah karena dia sengaja membelokkan topik. Tak ada jawaban dari Sakura, dia menatap Sasuke sedih dan akhirnya gadis itu memandang jalanan di depannya.

"...ya," jawab gadis itu lirih dan serak. Entah kenapa dia merasa sakit, mendapati Sasuke sama sekali tidak mau menjawab pertanyaannya. Kenapa? Memangnya apa salahnya jika Sakura hanya ingin mengetahui yang sebenarnya?

Sasuke melirik gadis itu dari sudut matanya. Dia memang merasa bersalah, tapi dia harus bertahan. Apapun yang terjadi dia tak ingin Sakura mengetahui kenyataan ini sebelum waktunya. Lagipula dia juga sudah berjanji dengan Sai. Beberapa saat kemudian Sasuke melihat dari kejauhan sebuah mobil sport berwarna hitam memasuki halaman sekolah ini. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, itu kan mobil kakaknya. Kenapa ada di sini?

"Yo Sasu-chan~" sapa seorang laki-laki yang mirip dengan Sasuke hanya saja ada kerutan di bawah matanya dan rambutnya pun lurus panjang. Sasuke hanya menatap orang yang merupakan kakaknya itu tanpa ekspresi.

"Itachi-nii, sedang apa kau di sini?" tanya Sasuke dengan ekspresi yang sulit ditebak. Itachi hanya tersenyum menanggapinya.

"Aku disuruh kaasan untuk menjemputmu," jawab Itachi sambil menjulurkan lidahnya. Itachi mengernyitkan alisnya melihat Sasuke memakai kemeja sekolahnya tanpa memakai jas. Baru Itachi akan bertanya, tiba-tiba dia melihat gadis yang muncul dari belakang Sasuke. Itachi memperhatikan gadis cantik yang memakai jas hitam Sasuke itu dan kemudian mulutnya membentuk huruf O seakan mengerti sesuatu, "hmm, pacarmu cantik juga ya Sasuke,"

Sasuke tersentak, dia langsung menoleh ke belakang melihat Sakura yang menatapnya kebingungan. Sepertinya Sakura tidak mendengar apa yang dibilang Itachi tadi, diam-diam Sasuke menghela nafas lega, "Bukan, dia bukan pacarku," jawab Sasuke sesuai fakta—walau sedikit tersirat rasa kecewa di dadanya.

"Hee, sayang sekali. Ya sudahlah, ayo pulang," ajak Itachi seraya menekan tombol untuk membuka semua pintu mobil. Sasuke mengangguk lalu dia melangkah perlahan menerobos hujan. Tapi saat dia menyentuh pintu mobil, Sasuke menoleh menatap Sakura yang masih memakai jas hitamnya.

Sasuke menarik nafas sebelum dia bertanya, "Kau mau ikut... Sakura?" tanya Sasuke ragu. Mendapat tawaran seperti itu, Sakura menunduk beberapa saat kemudian dia menggeleng pelan.

Pemuda berambut raven itu masih tidak mau menyerah. Dia kembali berlari menghampiri Sakura. Gadis itu bisa melihat Sasuke yang basah kuyup di depannya, namun itu bukan masalah karena justru itu malah menambah kesan keren pada laki-laki itu, "Kau sedang sakit, menunggu di sini hanya akan membuatmu tambah parah," ucap Sasuke berupaya memberi bujukan.

Sakura menunduk, "Tapi, Sai sudah berjanji akan menjemputku," gumamnya.

"Sai juga pasti tidak mau kau sakit lebih dari ini!" potong Sasuke dengan nada sedikit membentak, mendengar itu wajah Sakura langsung berubah kembali sedih. Sasuke menghela nafas, dia menyentuh pipi Sakura dengan tangan kanannya, "Kau lebih panas dari sebelumnya," bisiknya pelan.

Sakura tidak mampu berkata apa-apa. Dia kembali menunduk. Kata-kata Sasuke terlalu baik. Itu membuatnya tenang. Namun, kata-kata Sasuke yang membela hubungannya dengan Sai... entah kenapa rasanya jauh lebih menyakitkan. Sakura menutup matanya, menikmati sentuhan tangan dingin Sasuke di pipinya. Sedingin apapun tangan itu, tetap saja besar dan hangat. Sesuai perasaan Sasuke saat ini. Si bungsu Uchiha itu kembali menarik nafas panjang, dia menaikkan jas di tubuh Sakura hingga jas itu dapat menutupi kepala sang gadis untuk menjaganya dari serangan hujan dari atas.

"Aku akan menelpon Sai kalau kau ada di rumahku," ajak Sasuke dan menarik gadis itu tanpa memindahkan tangannya untuk menahan jas agar tetap melindungi kepala Sakura. Mereka berdua berlari bersamaan menuju mobil sports di depan.

Sasuke membukakan pintu untuk Sakura di jok belakang. Sebelum Sasuke menutup pintu mobil, Sakura menahannya dan bertanya, "Sasuke, berjanjilah padaku. Beri tahu aku siapa itu Aoi-san," pintanya. Pemuda berambut raven itu terdiam menatap wajah gadis di depannya. Akhirnya dia menutup pintu mobil itu setelah mengucapkan...

"Ya, aku berjanji,"

.

#

.

"Sudah mau pergi lagi, Sai?" tanya seorang kakek bernama Danzo tanpa sekalipun mengalihkan pandangan dari koran yang dipegangnya. Sai pun juga sama, dia hanya menjawab tanpa menolehkan wajahnya kepada kakeknya. Dia terlampau sibuk mengatur kertas-kertas tugas yang berjatuhan di bawahnya.

"Begitulah," jawab Sai asal-asalan, "aku pergi dulu kek," beberapa saat setelah mengucapkan itu, Sai segera berlari menuju pintu keluar. Setelah itu terdengar suara mobil dinyalakan dan pergi menjauhi rumah itu.

Sai memaki dirinya di dalam hati. Dia kesal sekali dengan kakeknya yang sudah seenaknya memindahkan tugas-tugas dari mejanya ke dalam lemari. Alhasil, Sai panik mencari dibuatnya dan dia pun terlambat 15 menit dari waktu yang diperkirakan. Seandainya Sakura menunggu dalam keadaan sehat sih mungkin Sai tidak akan sepanik ini, masalahnya sekarang gadis itu sedang dalam keadaan lemah. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya?

Begitu Sai melajukan mobilnya di tengah lebatnya hujan, tiba-tiba Sai merasa melihat siluet seseorang yang dikenalnya berdiri di pinggir jalan tanpa memakai payung. Awalnya Sai tidak peduli, tapi akhirnya dia dicegat lampu merah yang memaksanya untuk berhenti dan tepat di samping orang itu. Sai memperhatikannya dari dalam, dia gadis yang memakai seragam sekolah yang sama dengannya. Melihat gadis yang—sepertinya—dikenal berdiri di pinggir jalan, di tengah hujan lebat tanpa memakai jas hujan ataupun payung. Oke, Sai bukan tipe pria kurang ajar yang cueknya kelewatan seperti salah satu sahabatnya dari kecil.

Dengan sedikit enggan, Sai menurunkan kaca jendela penumpang mobilnya. Melihat gadis berambut pirang dan dikuncir satu, membuat Sai mengangkat sebelah alisnya, "Itu... Yamanaka Ino?" laki-laki berambut hitam kelimis itu mengambil payung di belakangnya dan segera turun dari mobil.

Melihat seseorang turun dari mobil dan mendekatinya, memaksa gadis tadi untuk menoleh. Matanya membulat melihat siapa yang datang, "Sa-Sai?" tanyanya terbata. Bola mata biru saphirenya yang indah sedikit redup, bibir tipisnya pun terlihat bergetar.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sai sedikit keras seraya memindahkan payungnya untuk melindungi kepala Ino. Gadis itu sudah sepenuhnya kebasahan. Sai lumayan mengenal anak pemilik toko bunga itu, karena dia juga salah satu dari banyak penggemar Sai.

Ino menunduk, "Maaf," ucapnya pelan, "orang tuaku bilang, mereka akan menjemputku di sini. Jadi terpaksa aku berdiri tapi mereka tak kunjung..."

Sai terhenyak ketika gadis itu tiba-tiba terjatuh tepat di dadanya. Ino pingsan, dan itu membuatnya panik. Tubuh gadis itu bergetar hebat. Diam-diam Sai mengutuk orang tua yang sudah membiarkan anak gadis mereka menunggu di pinggir jalan di tengah hujan lebat seperti ini. Sai segera menaruh payung di sampingnya dan mengangkat tubuh Ino dengan bridal style. Dibukanya pintu belakang mobilnya dan memasukkan gadis berambut blonde itu ke dalam. Sai memutuskan untuk mengantar gadis itu ke rumahnya. Sedikit perasaan bersalah menelusup ke dalam hatinya karena harus membiarkan Sakura menunggu lagi.

.

#

.

Sesampainya di rumah keluarga Uchiha, Sasuke, Itachi, dan Sakura segera turun dari mobil. Sakura terperangah melihat rumah yang sangat besar bahkan mungkin tiga sampai empat kali lipat lebih besar dari rumahnya. Berlebihan memang, tapi itulah kenyataannya. Dengan ragu, Sakura menuruti perintah Sasuke untuk memasuki rumah mewah itu sementara Sasuke meminta tolong Itachi agar memberi tahu Sai bahwa Sakura ada di sini.

Ketika gadis Haruno itu menikmati pemandangan di sekitarnya, Sakura segera terdiam begitu merasakan ada tekanan di kepalanya lagi. Dia kembali merasa pusing. Saat Sakura menutup matanya untuk menahan sakit itu, Sasuke memegang punggungnya dari belakang, "Tidurlah, keadaanmu belum membaik," laki-laki itu mengajak Sakura untuk berjalan.

Rasanya rumah Sasuke begitu luas. Sampai-sampai seperti berjalan dari rumah menuju sekolahnya. Apalagi begitu Sasuke mengatakan kamarnya ada di pojokan pinggir koridor. Uh, rasanya Sakura benar-benar ingin pingsan sekarang mengingat kakinya mulai gemetaran. Sesampainya di kamar Sasuke, laki-laki itu membuka pintunya dan mendorong tubuh Sakura perlahan untuk masuk. Gadis itu duduk di tepi kasur Sasuke sementara si bungsu Uchiha memanggil pelayan untuk membuatkan semacam teh hangat.

Sasuke menghampiri Sakura yang mulai terlihat goyah untuk menidurkan tubuhnya, dia duduk di samping gadis itu dan memperhatikannya dalam diam. Tak pernah terpikir olehnya bahwa gadis itu akan berada di kamarnya, selalu bisa berada di dekatnya, menjaganya dan menatapnya setiap saat. Sasuke tersenyum kecil, "Tidur saja, jangan memaksakan diri," ucap Sasuke. Sakura membuka matanya dan menatap mata onyx obsidian milik Uchiha Sasuke, "tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam," celetuknya.

"Hmph," Sakura berkedut kecil, menahan tawa, "terima kasih Sasuke," ucapnya.

Sasuke sedikit tertegun, hei ini pertama kalinya gadis itu memberi ucapan 'terima kasih' padanya. Laki-laki itu tersenyum dan dalam hatinya tentu dia merasakan bahagia yang amat sangat, "Sama-sama," jawabnya kemudian dan keheningan kembali melanda mereka.

Sakura segera membaringkan dirinya di atas ranjang. Mata hijau emeraldnya tak henti menatap wajah pria di sampingnya. Inikah sosok Uchiha Sasuke yang sebenarnya? Di balik topeng dinginnya, tersembunyi kehangatan yang belum pernah Sakura rasakan sebelumnya bahkan dari Sai, kekasihnya. Merasa diperhatikan, Sasuke menoleh pada Sakura yang terbaring di sampingnya. Onyx dan emerald kembali bertatapan. Tanpa kata, tanpa ucapan yang berarti. Saling berinteraksi, saling menarik. Sakura membuka mulutnya, "Sa-Sasu..."

"Hn?" Sasuke mengangkat kedua alisnya.

"Aoi-san..." air muka Sasuke langsung menegang, "bolehkah... aku memanggilmu Aoi-san sekalipun kau bukan Aoi-san?" tanya Sakura perlahan, membuat Sasuke terdiam.

#

Setelah mengantar Ino pulang ke rumahnya dan menerima beribu-ribu ucapan terima kasih dari orang tua yang bersangkutan, Sai segera membanting setir menuju sekolah. Setelah memberi tugasnya kepada Kakashi-sensei, Sai kini menuju rumah Sasuke karena ditelpon Itachi. Tidak lama, mengingat rumah Sasuke juga lumayan dekat jika ditempuh dengan mobil dari sekolah.

Begitu sampai di depan rumah Uchiha, Sai disambut dengan Itachi yang kebetulan duduk di ruang tamu. Tapi karena pikirannya terpusat pada Sakura, dia hanya merespon Itachi dengan pertanyaan "Di mana Sakura?" setelah Itachi menjawab ada di kamar Sasuke, Sai segera berlari menelusuri koridor.

Nafas laki-laki berambut hitam itu memburu begitu dia sampai di depan kamar sahabat baiknya dari kecil. Ketika tangannya bergerak untuk menyentuh gagang pintu, dia mendengar suara dua orang di dalam sana.

Sasuke menghela nafas mendengar Sakura yang bertanya dengan wajah tanpa pertahanan seperti itu, "Sakura..." Sasuke menggigit bibir bawahnya, "...maaf, aku tidak mau kau memanggilku Aoi-san,"

Raut muka Sakura berubah mengekspresikan kekecewaan, "Kenapa?" tanyanya perlahan.

"Karena, sekalipun aku adalah Aoi-san," Sasuke memberi jeda, "aku ingin kau melihatku sebagai Uchiha Sasuke, bukan sebagai Aoi-san."

Bola mata Sakura membulat seolah menyadari sesuatu. Melihat wjaah Sasuke yang serius dan terlihat akan membuka sesuatu, jangan-jangan—"Ja-Jadi..."

Menarik nafas dan menganggukan kepala. Sasuke membuka membuka mulutnya, "Hn, Aoi-san itu aku,"

BRAK

"Sai?"

.

To Be Continued


\(=A=)/

Special thanks for :

Rievectha Herbst, Chousamori Aozora, Namichan, LuthRhythm, Imuri Ridan Chara, Kazuma B'tomat, 4ntk4-ch4n, Azuka Kanahara, 7color, SATE AYAM, Shard Vlocasters, R54chanLoverShinRan, Rizkarina, Dara Cinta Sasusaku Shikatema, Winterblossom Concrit Team, MisakyUchiha, Ka Hime Shiseiten, Shisylia-chan, Rin Akari Dai Ichi, Ayano Hatake, Peaphro, Naru-mania, Embun Pagi, Lin Narumi Rutherford, Made kun, Michi-chan, tralalala trililili, Cherry Orihara, Just Ana, Micon, Nanaro Zoacha, Fun-Ny Chan D'JiNcHuUri-Q, Noir Raion, Delasachi luphL, Murasaki Sakura, Kaori a.k.a Yama, Dhevitry Haruno, chiho nanoyuki, Amel Mele, Frozenoqua, Haruchi Nigiyama, Aoi-san, Gymnadenia, khansadk, Rarenza, Kurosaki Naruto-nichan, 2winterthief, OraRi HinaRa, qieqie cullen, BabyALONE

Terima kasih juga untuk yang silent reader :)

Boleh minta review lagi? ._.