Special Chapter #1 : Bubur.

Sasuke berjalan cepat menyusuri lantai kayu rumahnya tanpa maksud tujuan yang jelas. Yang ia lakukan hanya berbolak-balik arah dan akhirnya memutuskan kembali ke dalam kamar.

Pemuda dua puluh enam tahun itu membuka kamarnya, mengintip Sakura yang terbaring di tempat tidur mereka dengan mata tertutup.

"Sasuke? Apa buburnya sudah selesai?"

Sasuke tersentak pelan, terkejut mendengar suara lemah yang tiba-tiba terdengar itu. Sasuke memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan mendekati istri merah mudanya. Wajah tampannya dihiaskan ekspresi angkuh guna menutupi rona merah yang muncul di kedua pipinya. Lagipula, kenapa harus memasak?! Ia benar-benar tidak ahli di bidang itu!

"A-aku tidak ada waktu untuk membuatnya. Bagaimana jika membelinya di luar saja?" Sakura menaikan satu alisnya kemudian memutar bola matanya jenuh. "Alasan," gerutunya.

Sakura menghela napasnya yang tidak teratur. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Perempuan cantik itu merasakan tenggorokannya terasa kering. Demam yang menyerangnya benar-benar menyusahkan, ditambah lagi ia belum makan apapun sejak tadi. Dan Sasuke, suaminya yang mengaku serba bisa itu tidak bisa memasak apapun, sekalipun itu hanya bubur.

"Baiklah, aku akan masak sendiri. Dasar bodoh, hanya memasak bubur saja kau tak bisa," Sakura menggerutu seraya bangkit dari tempat tidur. Namun pergerakannya tertahan. Sasuke kembali mendudukannya. Kedua pasang mata berwarna hitam itu menatapnya tajam.

"Istirahat! Aku akan membuat buburnya!" serunya lalu segera bergerak menuju dapur.

Sakura mendengus "Semoga aku masih bisa hidup setelah memakan bubur buatannya," gumamnya kemudian tertawa kecil.

Sasuke menatap nanar semangkok beras di depannya seolah ia akan melakukan hal yang menyeramkan. Pemuda bertubuh tegap itu mulai mencuci berasnya, menyiapkan air dan alat-alat lainnya.

Sasuke menuangkan air matang dan beras bersamaan. Menunggu dengan harap-harap cemas sambil melirik apa beras yang direbusnya telah menjadi bubur. Sasuke mengambil sedikit garam, setelah memerhatikan teksturnya dengan jelas agar ia tidak salah memasukan gula. Terakhir, laki-laki tampan itu mengambil selembar daun salam dan memasukannya ke dalam bubur buatannya. Tangannya tak henti-hentinya menaduk bubur buatannya. Dengan senyuman penuh percaya diri, Sasuke yakin jika bubur buatannya pasti enak. Itu pasti.

Sakura tak bisa menahan senyumnya. Sedari tadi ia berdiri di balik dinding, mengintip kegiatan suaminya. Sakura segera bergerak perlahan menuju kamar ketika Sasuke sudah menuangkan bubur buatannya ke dalam mangkok.

Sakura diam memerhatikan bubur yang di suguhkan Sasuke padanya. Bibirnya sedikit terbuka karena terkejut. Sakura mendongak, menatap Sasuke yang juga memandanginya dengan pandangan berharap.

"Sa-sasuke?" panggilnya. Gadis itu menepuk jidatnya "Kau itu benar-benar bodoh ya?"

Sasuke memalingkan wajahnya. Apa yang salah dengan bubur buatannya, buburnya hanya sedikit encer tapi Sasuke yakin jika rasanya sangat enak.

"Kau memberiku kolam ikan," suara kekehan dari Sakura terdengar. Gadis itu menyuapkan satu suapan penuh ke dalam mulutnya. "Ini seperti nasi yang disiram air.." kembali ia tertawa.

"Sudahlah, makan saja. Aku sudah bekerja keras untuk membuatnya,"

"Hanya membuat bubur kau sebut bekerja keras?" Sakura tertawa semakin keras namun ia tetap memasukan suapan demi suapan ke mulutnya. "Tapi ini enak, sungguh.." pujinya tulus. Sasuke menoleh, memerhatikan Sakura yang terus memakan bubur buatannya.

"Benarkah?"

Sebuah anggukan menjawab pertanyaan Sasuke. "Terima kasih.." Sakura tersenyum lalu mengecup sekilas pipi suaminya.

Sasuke tersenyum samar "Cepatlah sembuh," ujarnya. Sebuah kecupan manis mendarat di dahi Sakura. Keduanya sama-sama tersenyum.

"Biar aku saja yang menyuapimu," Sasuke menarik paksa mangkok berisikan bubur itu. "Aaa.." Sakura mendengus geli kemudian membuka mulutnya.

"Kalua begitu besok dan seterusnya biar aku yang memasak,"

"Tidak. Tidak. Kau pasti hanya akan membuat bubur. Aku tidak mau selamanya makan bubur,"

"Hei! Aku bisa memasak yang lainnya!"

"Jangan menambah dosamu, sayang. Jangan berbohong,"

"Sudahlah. Ayo habiskan!"

#1 : Selesai.