Chapter Eight

I'm The Villain


Dengan raut wajah terkejut, dan bibir bergetar, Antonio berjalan mendekati Lovi,

"Kenapa kau.."

"Hai,"

Lovino Vargas berdiri di hadapannya, hanya ada beberapa centimeter memisahkan mereka.

Jarak yang dulunya tak bisa dijangkau, kini terjangkau tangan, terjangkau dekapan.

Pria Italia itu tersenyum canggung, tangannya meremas secarik surat lusuh di tangannya,

"apa aku mengacau?"

"Si,"

Lovino mendongak, menatap Antonio dengan wajah terkejut.

Kemudian ia kembali menunduk, "Oh.."

"Antonio, aku.."

"Maaf, aku sedang tidak mood bicara,"

Antonio berbalik, tanpa membiarkan Lovino berkata-kata lebih jauh lagi, ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan sedikit bantingan.

Lovino hanya berdiri terpaku,

Ia berdiri di halaman rumah itu, memandangi pintu kayu yang tertutup di hadapannya.

Pria Italia itu mengantongi suratnya, kemudian berbalik dan pergi.

Antonio menatap Lovi pergi dari jendela rumahnya.

Bibirnya terkatup rapat.

Jeritan tertahan di dalam tenggorokannya.

Kakinya terpaku di lantai.

Keinginan berlari dan memanggil orang itu sangat besar.

Ia ingin menggapainya, memeluknya dan menjelaskan segalanya.

Semua surat itu,

Tentang 'jangan mencariku'

Ia ingin Lovino kembali dalam pelukannya, dan mengatakan padanya bahwa ia mencintainya.

Tapi sesuatu mengganjal kaki pria itu.

Memakunya ke lantai kayu yang dingin, membuatnya tak bisa mengejar Lovino vargas.

Di dalam kepalanya, senyum seorang pria albino yang tak dapat ia lihat lagi terus-menerus diputar ulang.

Ia tak bisa memanggil Lovi.

Ia tak bisa berbahagia dengan Lovino Vargas.

Ia tak bisa berbahagia setelah 'membunuh' Gilbert Beilschmidt..


Francis tak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahnya saat ia melihat sosok yang sudah lama tak ia lihat muncul di ambang pintu kafenya yang kosong.

"Lovino,"

Pria Italia itu mengangguk pelan, "hai, Francis,"

"Kau.. kenapa kau di sini? Kupikir kau.. ayahmu.."

"Aku kabur,"

Keterkejutan nampak begiu kentara di wajah Francis,

"Kupikir keluarga mafia besar seperti keluarga Vargas takkan mengijinkanmu menyelinap keluar begitu saja.."

"Well, kurasa punya seorang adik kembar seperti Feliciano kadang ada gunanya.."

Francis terdiam untuk sejenak, "ah.. berapa yang dia bunuh?"

"Beberapa penjaga dan pengawal pribadi, sekitar limabelas? atau mungkin enambelas, entahlah"

"...Tuan Vargas takkan suka itu,"

"Tidak, Tuan Vargas tidak suka,"

Francis Bonnefoy menghela nafas pelan, "jadi? Kenapa kau ke sini?"

"Aku harus kabur lagi, ke suatu tempat, jauh dari Hetatown, luar negri, kalau bisa,"

"Kabur?"

"Aku sudah kabur dari rumah, dan dalam prosesnya aku membuat Feliciano membunuh limabelas pengawal. Angka kecil bagi keluarga Mafia yang sudah membunuh lebih banyak di mana-mana, tapi ayah tak suka kekacauan di dalam rumahnya,"

"Ah, kurasa bila tertangkap lagi, kau takkan melihat matahari pagi untuk selamanya, bukan?"

"Si,"

"Lovi,"

"Ya?"

"Kenapa kau meninggalkan Antonio saat itu?"

Kerutan muncul di wajah Lovino, sebuah keraguan yang besar terlukis jelas di wajahnya. Francis tersenyum tipis,

"Tenang saja, aku tahu cara untuk menjaga diri."

Lovino duduk pada sebuah kursi yang disediakan Francis. I meletakkan tasnya yang kusam di atas meja. Pria itu melirik pintu masuk, kemudian berujar, "cukup satu nyawa yang dibahayakan. Jangan biarkan seseorang berada di tempat yang salah dan mendengar hal yang salah,"

Francis mengangguk, ia berjalan ke arah pintu masuk dan membalik tanda 'open' dan menutup kafenya sementara. Ia menoleh ke arah Lovino, "silakan mulai cerita,"

Lovino menghela nafas, "Tuan Vargas, kepala keluarga mafia Vargas punya dua orang anak lelaki kembar, Feliciano Vargas dan Lovino Vargas,"

"Ya, aku tahu itu,"

"Satu orang adalah mata-mata, ia membaur di lingkungannya dengan sangat baik, hingga tak seorangpun tahu, ia pembunuh handal dalam keluarga Vargas"

"Dia adalah Feliciano,"

"Ya, dan satunya lagi adalah seorang penerus keluarga Vargas, seorang pemberontak yang kabur dari rumah,"

"Kau,"

Lovino mengangguk.

"Semua berawal saat aku menyaksikan ayah membunuh seluruh anggota keluarga musuh kami, waktu itu aku ikut untuk menyaksikan bagaimana ayah dan anak buahnya 'bekerja' Anak dari keluarga itu baru berusia 4 tahun. Ia mati dengan tembakan di kepala,"

"Kau merasa itu kejam?"

"Kejam?" Lovino tersenyum getir, "'kejam' itu tak cukup, Francis! Tidak manusiawi, keji, menjijikan!"

Lovino memendamkan kepalanya dalam kedua telapak tangannya, "Aku bahkan tak bisa makan lagi setelah tahu dari mana makanan keluarga Vargas berasal! Aku ingin muntah bila membayangkannya!"

"Maka kau memutuskan untuk kabur?"

"Ya,"

Lovino menghela nafas,

"Aku pikir aku menulis skenario terbaik yang pernah ada. Membeli sebuah mayat dengan wajah rusak yang memiliki tinggi dan berat sama sepertiku, dan menenggelamkannya bersama mobilku di sungai. Kemudian melarikan diri ke luar negeri. Hetatown adalah tujuanku. Kota kecil yang damai, tidak akan ada yang mengira aku di sini,"

"Tapi ternyata.. Hetatown tidak sedamai yang kau kira,"

Lovino Vargas melirik Francis Bonnefoy dengan tajam, "aku kaget aku menemukanmu, anggota keluarga mafia yang sudah lama bekerja sama dengan keluarga Vargas, dan aku kaget menemukan Feliciano, yang sudah tak kutemui selama 10 tahun, ada di sini dalam misi membunuh tiap kepala mafia musuh keluarga kami yang bersembunyi di balik ketenangan Hetatown"

Francis hanya tersenyum, "ketenangannya sangat sempurna untuk menyembunyikan bau busuk yang ada di bawah tanah, Lovi,"

"Ya, dan seseorang mengenaliku,"

"Siapa dia?"

"Aku lupa namanya, aku menyewa seseorang untuk menghabisinya, tapi ia sudah bicara pada ayah terlebih dahulu sebelum berhasil kubungkam,"

"Ayahmu tahu kau kabur,"

"Ya,"

"Lalu, kenapa kau memutuskan untuk pergi? Apa hubungan ceritamu ini dengan Antonio?"

"Dia mengancam akan membunuh Antonio,"

Kedua iris Francis melebar, "hah?"

"Aku mengira aku bisa melindunginya sendirian, tapi aku tak bisa,"

"Apa maksudmu?"

"Dua kali aku menemukan racun hampir dimasukkan di makanannya saat kami makan malam di luar, dan tiga malam, aku menemukan penyusup bersenjata api,"

"Kiriman Tuan Vargas?"

"Ya,"

Lovino membuka kancing bajunya, dan menunjukkan sebuah luka di bahunya.

"Aku terkena satu tembakan. Salah satu hitman yang dikirim sama sekali bukan profesional, ia bahkan tak tahu mana yang harus dibunuh dan mana yang harus dibawa hidup-hidup,"

"Ouch,"

"Ya. 'Ouch', saat itulah aku sadar aku hanya membahayakannya. Aku harus pergi dan menyerahkan diri"

"Kau pergi.. demi Antonio?"

"Ya,"

Lovino Vargas tertawa pahit, "hah, si tomato bodoh itu, kalau bukan karena dia, aku tak perlu kembali ke keluarga Vargas! Sungguh merepotkan!"

Francis terdiam menatapnya, "...kau terlihat lebih kurus,"

Untuk sesaat, keduanya saling bertatapan. Kesunyian meliputi mereka, selagi Francis menyadari betapa pucatnya wajah Lovino.

"Apa yang membuatmu berpikir ayah akan memberi makan seseorang yang berusaha kabur dan meninggalkan organisasi?"

"Lovino Vargas, kau sudah lama menghilang! Sudah berapa lama kau tidak makan?"

"Bah, jelas aku makan. Roti dan air di pagi hari, lalu semangkuk sup di malam hari. Pada satu minggu pertama setelah aku tertangkap, hanya ada air di pagi hari. Tidak ada obat, tidak ada hal lain,"

Wajah Francis berubah pucat pasi, ngeri mendengar kisah Lovino. Seorang ayah tega melakukan hal seperti itu pada anaknya sendiri. Francis tidak habis pikir.

Lovino melirik Francis, "aku mendengar berita di rumah, bahwa setelah kau mewarisi jabatan, kau ingin melepas kerjasama dengan keluargaku?"

"..."

"Lupakan itu, ingat wajahku hari ini. Ini bisa terjadi padamu, atau bakan lebih buruk,"

Francis menelan ludah, "lupakan masalah itu sekarang, oke? Jadi, Feliciano membebaskanmu, lalu?"

"Bukan dia,"

"Hah?"

"Feliciano takkan bertindak tanpa perintah. Ia bukan tipe yang suka memberontak sepertiku tanpa alasan. Ia sudah 'menyerah' pada keluarga Vargas sejak lama,"

"Lalu?"

"Si Albino itu,"

Kedua iris biru Francis melebar,

"Gilbert?"

"Ya. Feliciano menyerahkan suratnya padaku. Ia tahu semuanya dari adikku, ia ingin aku kembali. Feliciano nampaknya akrab dengannya.. Feliciano juga merupakan kekasih adik Gilbert juga, bukan?"

Lovino membacakan sebagian dari surat pada Francis, "dia bilang, 'kaulah yang diinginkan Antonio dalam hidupnya, dan aku takkan pernah bisa menggantikan itu, aku mohon, kembalilah. Dia membutuhkanmu,"

Francis terdiam, sementara Lovino hanya menunduk, menatap surat di tangannya.

"dasar bodoh, padahal ini kesempatan bagus untuk merebut Antonio dariku, bukan?" ujar Lovi

"orang bodoh yang baik," timpal Francis

Francis menghela nafas, "lalu kenapa kau malah di sini? Temui Antonio!"

Lovino menunduk, "sudah," jawabnya, "dia tidak mau menemuiku,"

"Ah.. pastinya, kau sudah meninggalkannya tanpa bilang apa-apa.."

"Apa dia sudah tidak menyayangiku lagi? Francis, aku harus bagaimana?"

Francis Bonnefoy tertawa, "Antonio? Tidak mencintaimu lagi? Lovino Vargas, Antonio kehilangan hidupnya saat dia kehilanganmu! Kau pikir ia masih bekerja di Heta Corp? Ia mengundurkan diri, bahkan walau Ivan memintanya tinggal! Ia tidak pernah keluar rumah lagi, ia tidak makan dan minum bila Gilbert tidak memberinya! Dia hancur menjadi berkeping-keping, karena ia kehilangan satu kepingan dalam hidupnya,"

Francis menunjuk Lovino, "kaulah kepingan itu, Lovi,"

Rona merah mendominasi wajah Lovino, "hah, tapi nampaknya dia bisa hidup tanpa kepingan itu lagi," ia mengusapkan tangannya pada wajahnya, "dia mengusir kepingan itu pergi,"

"Ia hanya sedang bersedih, kau tahu?" ujar Francis, "Gilbert baru meninggal. Ia menyalahkan dirinya sendiri.

Lovino Vargas menatap Francis dengan wajah kaget, "Gilbert.. apa?"

"Dia meninggal dunia,"

"...oh, ah.. Semoga Tuhan memberkati jiwanya,"

"Dia meninggalkan surat,"

"Surat?"

"Ya, ada satu untukmu, biar kuambilkan,"

Francis pergi ke belakang meja counter, dan mengambil seikat surat dari dalam laci.

Ia duduk di hadapan Lovino, dan menyerahkan sepucuk surat padanya, "Ia menulis puluhan surat untuk semua orang. Kau salah satunya. Ambillah,"

Lovino memandang surat itu untuk sejenak, dan kembali menatap Francis yang tersenyum tipis.

"Apa yang kau takutkan? Kau takut isinya kutukan?"

"Hah? A-apa yang kau bicarakan? Aku tidak takut!"

"Gilbert tidak pernah mengutuk siapapun, mencaci siapapun maupun menyalahkan siapapun atas apa yang ditimpanya. Ia tidak akan menyalahkanmu, Lovi, atas apapun yang terjadi diantaranya dan Antonio,"

Lovino terdiam sejenak,

"Aku antagonisnya, bukan?"

"hah?"

"Aku mengambil Antonio darinya, kemudian meninggalkannya, membuat hidup Antonio hancur, dan seakan-akan memberi mainan bekas, aku melemparkan tanggung jawab untuk selalu ada di sampingnya begitu saja pada Gilbert,"

"Lovi,"

"Aku orang jahatnya.."

Francis berdiri, dan menggebrak meja, mengagetkan Lovino.

"Arrrgh! Aku pusing dengan kalian semua!"

"H-hah? A-apa maksudmu?"

"Gilbert jadi aneh karena ia mencintai Antonio, Antonio jadi terpuruk karena dia mencintaimu, Matthew jadi sedih karena dia mencintai Gilbert, dan kau, kau!"

Francis menunjuk tepat pada wajah Lovino Vargas, "kau sama saja dengan mereka! Cinta seharusnya bukan sesuatu yang membuatmu sedih! Cinta adalah sesuatu yang membuatmu merasa memiliki kupu-kupu di dalam perutmu, membuatmu merasa ada jutaan bintang berkelip di dalam matamu, dan jutaan panah menusuk jantungmu!"

Pria keturunan Perancis itu menghela nafas, dan kembali duduk, "dengarkan aku,"

Ia menatap Lovino lekat-lekat, "seorang penjahat tidak akan pergi ke suatu tempat yang sudah pasti akan membuatnya menderita demi orang yang ia cintai. Seorang penjahat tidak akan menerima sebuah tembakan di bahu atau pergi untuk disiksa dan dibuat kelaparan demi orang lain. Seorang penjahat akan meninggalkannya tanpa alasan,"

Francis tersenyum, "kau, Lovino, yang kau lakukan adalah melindunginya, mencintainya dan mengorbankan dirimu sendiri untuk orang yang kau cintai. Bila itu yang kau sebut sebagai penjahat, maka, semua orang yang jatuh cinta adalah penjahat, Lovi,"

Lovino hanya terdiam. Ia terus menatap meja dengan wajah penuh kerutan.

Pria itu berdiri, dan membuka pintunya, "keluar dari kafeku,"

"Francis, apa-apaan.."

"Keluar dan temui Antonio. Kalau kamu memang menyayanginya, perjuangkan dia. Beberapa orang mendapatkan cinta dengan mudah, namun beberapa perlu berjuang, dan kau, Lovino Vargas, butuh perjuangan ekstra. Kau akan pergi bersamanya, kau tidak akan pergi sendiri. Aku akan menyiapkan akomodasi untuk kalian berdua. Tempat yang akan kau datangi berikutnya benar-benar aman, aku jamin itu,"

Lovino mentap Francis dengan penuh keterkejutan. Ia mengangguk dan berjalan keluar kafe.

Francis hanya menatap sosok itu pergi menjauh, sambil menghela nafas. Ia berjalan ke arah mejanya dan membuka laci. Di dalam laci itu terdapat sebuah ponsel sekali pakai.

"Hai, ini aku. Aku butuh dua tiket kereta dan dua tiket pesawat untuk keberangkatan hari ini juga. Rahasiakan siapa yang akan pergi, buat saja identitas palsu, merci,"

To be continued..


A/N :

Hai semua, Ryuu is here~

Maafkan Ryuu atas keterlambatan update ini ;_; *menunduk sedalam-dalamnya*

Tugas sekolah dan pekerjaan Ryuu yang lain benar-benar menyita waktu Ryuu ;_;

Padahal rencana awalnya Ryuu mau menyelesaikan Wild Grass di pertengahan April, tapi akhirnya sampai hari ini ngga selesai juga, padahal ini sudah Mei, hiks.

Terimakasih bagi yang sudah mau bersabar menunggu cerita ini keluar, Ryuu sayang kalian :')

Anyway, chapter depan adalah chapter terakhir :') Kisah perjalanan cinta Antonio akan berakhir dalam 1 chapter lagi~


Balasan Review :

Nakamizu12

Sudah Ryuu lanjutin kok, maafkan update yang lelet ini :') terimakasih sudah menunggu chapter barunya!

Guest

Waa~ Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca fic Ryuu :') Ryuu doakan ulanganmu sukses! Tabahkan kokoromu, tinggal satu chapter lagi, kok :) lalu tentang Gilbird yang setia, itu sebenarnya Ryuu dapat inspirasi dari suatu komik pendek buatan fans Hetalia tentang Gilbird yang ikut meninggal setelah Gilbert meninggal juga :') Ryuu nangis waktu bacanya.


Lalu, untuk semua pembaca yang sudah mendukung FanFiction ini hingga saat ini, Ryuu ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya, semoga chapter berikutnya bisa di-update lebih cepat dari sebelumnya :') maafkan Ryuu atas keterlambatan ini!

With Love,

Orijama Ryuu, May 2016