Singkat cerita, Itachi dan Sasuke benar-benar menginjakkan kakinya di negeri menara Eiffel tersebut. negeri yang indah dan penuh tempat wisata yang berbau seni dan budaya. Bangunan-bangunan sekitar mereka yang bernuansa neo-klasik, tentunya negeri yang sering dihubung-hubungkan dengan urusan asmara.
Itachi tersenyum tipis melihat adiknya terlihat lebih rileks dan terhibur dengan sesampainya mereka disana. Raut wajah Sasuke melembut dan ringan, beberapa kali pun Sasuke menunjukkan ketakjubannya. Dalam hati, Itachi membathin bahwa ia berterima kasih pada pamannya yang sudah mengirimnya kesini walaupun hanya semata-mata demi pekerjaan. Toh waktu mereka juga banyak untuk melakukan hal lain selama disini.
"Sasuke - aku punya kejutan untukmu nanti, kuharap kau menyukainya…" Ucap Itachi sambil memeluk adiknya dari belakang sambil menciumi belakang telinganya.
Spontan Sasuke menyikut kakaknya dan langsung melihat sekitar. Namun, sekeliling mereka seperti tidak peduli dan menganggap hal seperti ini adalah biasa. Hanya beberapa wanita yang terkikik geli melihat mereka, itu pun karena wanita itu sedang berpapasan atau berjarak hanya beberapa meter saja dari mereka.
"Ini adalah negeri cinta, Sasuke - semakin kita menunjukkan kemesraan kita, mereka akan semakin bangga karena mereka merasa diakui bahwa negeri mereka itu penuh cinta…" Lanjut Itachi.
Akhirnya Sasuke hanya mendengus ringan, yah setidaknya disini mereka bisa sedikit leluasa dan 'bebas' untuk bersenang-senang – bermesraan tepatnya. Ia membalikkan badannya dan merangkul Itachi, bahkan kali ini Sasuke berinisiatif mengecup bibir kakaknya. Itachi sedikit terkejut dengan ulah manis Sasuke. Ini momen langka, dan tentu Itachi sangat senang. Biarlah, tak ada yang tahu bahwa mereka adalah adik-kakak. Orang lain akan melihat mereka hanyalah sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara.
"Kita ke hotel, Sasuke - aku harus menghubungi semua kru untuk lauching produk paman tersebut, agar mereka merapatkan barisan… Hahaha…"
Sasuke tersenyum dan terkekeh kecil lalu mengangguk.
.
.
.
Hari ketiga di Paris, Itachi agak heran melihat perilaku Sasuke, pasalnya adiknya ini selalu memesan makanan dalam porsi besar, hebatnya Sasuke selalu menghabiskan makanannya yang berporsi jumbo tersebut. Ini sangat tidak biasa. Belum lagi, Sasuke jadi punya kebiasaan mengemil. Walaupun hanya satu cup eskrim atau pop corn.
"Sa—Sasuke - ini sudah kelima kalinya kau makan dan sekarang baru jam empat sore…" Akhirnya sang kakak hanya bisa mengkonfirmasi secara halus.
Sasuke menengok dengan mulut masih mengunyah sebuah donat.
"Aku lapar, Nii-san… perutku selalu terasa kosong…" Jawabnya enteng.
Itachi meringis melihat mulut Sasuke yang tak berhenti untuk mengunyah. Hingga Itachi kehilangan nafsu makannya hanya dengan melihat Sasuke yang tak kunjung lelah apalagi kenyang. Sebagai penguatnya, perlu diketahui bahwa Itachi melewati makan siangnya hanya karena ia merasa perutnya mendadak penuh melihat Sasuke makan dengan lahapnya.
"Kau bisa kelebihan berat badan, Otouto…"
Sasuke menggeleng sambil memasukkan satu buah mini-donut bulat ke mulutnya.
"Tak mungkin, selama disini kita kan akan capek karena banyaknya kegiatan, kita juga akan lebih sering jalan dan mondar-mandir, jadi kalori dan lemakku akan lebih mudah terbakar…" Bantahnya ringan.
Itachi hanya menaikkan sebelah alisnya dengan sebulir keringat mengalir dari pelipisnya. Lalu memijat kepalanya dan mendengus berat. Ia berusaha menyusun logika manapun tentang keadaan adiknya. Mungkin karena Sasuke begitu suka tempat ini, mungkin karena tempat ini dingin, mungkin karena Sasuke menemukan makanan baru di negeri asing ini, mungkin karena mereka memang kelelahan.
"Aku hanya berdoa semoga kau tidak sakit perut, Sasuke…"
.
.
.
Mereka menghabiskan hari-hari di Paris dengan berbagai kesibukan yang sudah direncanakan sebelumnya, mulai dari syuting iklan untuk iklan televisi dan media sosial lainnya, spanduk dan baliho di berbagai jalan utama Paris tentang hari dan tempat diselenggarakannya launching parfum limited tersebut.
Bahkan Itachi dan Sasuke pun sedikit terpana melihat reaksi konsumen langganan parfum milik Uchiha Corporation tersebut. Mereka hanya menarik kesimpulan bahwa adalah suatu kewajaran jika pamannya ini berani mengambil langkah besar dan berani untuk mengeluarkan parfum limited edition yang harganya luar biasa mahal dengan rentang waktu penjualan yang singkat. Melihat dari survey mereka hingga saat ini pun, kemungkinan sold out nya mencapai sembilan puluh persen.
"Ternyata aku cukup beruntung dipercaya oleh paman Madara untuk memegang kursi direktur di perusahaannya…" Desah Itachi.
Sasuke pun tak pernah menyangka bahwa paman mereka bisa mempunyai perusahaan raksasa yang begini berhasil, selama ini ia tahu bahwa keluarga ayahnya memang pengusaha sukses semua, tapi untuk Madara, Sasuke sama sekali tidak menyangka. Padahal hanya produk parfum.
"Hn… Dan sepertinya kau akan mewarisi semua kekayaan paman, ia begitu mengandalkanmu…" Jawab Sasuke sambil menyeruput spaghetti dari sumpit yang dipegang oleh tangan kanannya dengan milkshake di tangan kirinya.
Lagi-lagi Itachi merasa mual melihat nafsu makan adiknya. Ia ingin menegurnya lagi, tapi pasti jawaban yang akan didapatkannya akan sama seperti sebelum-sebelumnya. Itachi memang tak kan mempermasalahkan penampilan Sasuke, entah menjadi gemuk atau apapun, ia lebih mengkhawatirkan adiknya sakit.
"Aku hanya berharap semoga baju pengantin yang ku pesan, tidak akan menjadi sempit…"
Tentu saja, Sasuke tersentak dan nyaris menyemburkan makanan yang sedang dimakannya. Beruntung ia hanya tersedak dan buru-buru meminum milkshake yang sedang di pegangnya.
"Ka—kau bercanda, Itachi … Aku tak percaya kau akan benar-benar melakukannya… Kau ingin mempermalukan dirimu sendiri, hm? Ini negara orang, Itachi… Konyol…" Sanggah Sasuke.
Begitulah, adik Uchiha Itachi yang manis dan pemalu ini tetap tidak percaya Itachi akan menikahinya secara sakral dan resmi. Menurutnya ini sama sekali tidak lucu.
"Memangnya kenapa? Kau sudah dua kali membahas tentang berat badanku dan sekarang tentang baju… Kau tak suka jika melihatku gemuk?" Sasuke balik bertanya dengan nada tidak suka.
"Bukan begitu, Sasuke - makan banyak itu memang bagus, tapi kalau kelebihan perutmu akan tidak beres nantinya… ini negeri orang yang iklim dan lingkungannya berbeda dengan Jepang, karena itulah aku mengkhawatirkanmu jika nanti kita kembali ke Jepang, kau akan sakit…" Bantah Itachi sekaligus membeberkan kekhawatirannya.
Sasuke memutar bola matanya dan menghentikan makannya.
"Kau menyebalkan, Itachi – kau menghilangkan nafsu makanku…" Gerutu Sasuke sambil membuang sisa spaghetti nya ke tempat sampah dan segera menghabiskan milkshake nya.
Dengan wajah yang merengut, Sasuke keluar kamar hotel meninggalkan Itachi yang masih memandangnya dengan tatapan antara merasa bersalah namun juga khawatir.
.
.
.
Tengah malam…
"Itachi… Oi…" Panggil Sasuke sambil mengguncang-guncang tubuh Itachi.
"Hmm… Sasuke, aku mencintaimu… Cepat tidur…" Gumam Itachi setengah sadar.
Sasuke tahu kakaknya lelah, dan ia tidur selalu telat, tidak seperti dirinya yang jam sembilan malam lebih lima menit saja sudah terbang ke alam mimpi. Hal ini juga mengherankan Itachi, adiknya tidak biasanya selemah itu.
"Itachi, aku sakit perut…"
Itachi hanya menggeliat malas tanpa membuka matanya.
"Kamar mandi di situ, Sasuke … " Jawabnya sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
Diam sebentar dan tak lama Itachi mendengar ringisan kecil disertai rintihan pelan adiknya. Ia pun membuka matanya. Dilihatnya Sasuke tetap duduk disampingnya dengan menekuk kedua kakinya.
"Kau kenapa, Sasuke?"
Sasuke cemberut dan menundukkan mukanya ke lututnya.
"Aku sembelit…" Jawabnya pelan dan singkat.
Sebenarnya Itachi ingin tertawa terbahak-bahak dan ingin meneriakkan kata-kata 'itulah akibatnya jika kebanyakan makan dan tidak mendengarkan nasihatku' - namun, melihat Sasuke yang sepertinya memang kesakitan, sang kakak hanya mengusap kepalanya lalu beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil obat pencahar supositoria yang memiliki efek instan.
"Pakai ini, Sasuke - karena ini supositoria dan efeknya cepat, kau lakukan di kamar mandi…"
"Apa itu aman?"
Itachi tersenyum dan mengangguk.
"Bahkan untuk bayi sekalipun, aman…" Jawabnya.
"Tapi, aku bukan bayi…"
Adiknya ini cerewetnya luar biasa, dan butuh kesabaran ekstra bagi Itachi untuk menghadapinya.
"Itu hanya perbandingan, Sasuke…"
Agak ragu, Sasuke mengambilnya dan berjalan pelan sambil memegangi perutnya ke kamar mandi. Namun, ia menghentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi.
"Ka—kau jangan tidur dulu…"
"Iya, aku akan menunggumu hingga selesai…"
Begitupun, Sasuke tidak juga masuk masih berdiri disitu.
"Kenapa, Sasuke? Tidak jadi?"
Entah Itachi salah lihat atau memang benar adanya, tapi wajah Sasuke terlihat merona merah.
"Tu-tunggu aku di sini…"
"Aku memang menunggumu disini, Otouto…"
"Maksudku di sini, di tempatku berdiri…"
Sang kakak lagi-lagi keheranan dengan sikap adiknya, selama Sasuke menginjak usia remajanya, dia tidak semanja itu. Dan barusan pun dia bilang bahwa dia bukan bayi. tapi, lihatlah bahkan hanya karena ia sembelit saja, ia sampai meminta kakaknya untuk menemaninya seolah kekhawatiran dan ketakutan akan sakitnya konstipasi itu menyelimuti diri adiknya.
"Nii-san, cepatlah… Perutku sakit…" Akhirnya Sasuke meminta dengan nada sedikit memelas.
Itachi mendengus berat dan menggelengkan kepalanya sambil kembali turun dari tempat tidurnya dan mendekati Sasuke. Sasuke memajukan langkahnya ke kamar mandi dan tempat Sasuke berdiri tadi di gantikan oleh Itachi.
"Jangan kemana-mana…" Bahkan Sasuke masih meninggalkan sepenggal permintaan pada kakak tercintanya sebelum masuk.
Itachi menyenderkan tubuhnya di tembok, ia mulai berfikir lebih dalam lagi tentang perilaku aneh Sasuke. Ditambah kali ini adiknya mengalami sembelit, Sasuke tidak pernah mengalami ini. Mungkin karena terlalu banyak makan. Itachi mengevaluasi apa saja yang sudah masuk ke perut Sasuke, sebenarnya seimbang, antara serat dan lemak atau apapun itu, hanya sedikit lebih banyak saja.
Mendengar Sasuke merintih di dalam kamar mandi sebenarnya Itachi tidak tega dan ingin membantunya. Tapi, membantu apa? Adiknya sudah besar kan? Itachi bertekad dalam hatinya bahwa mulai besok, dia akan mengontrol makan Sasuke. Ia tak ingin tengah malam seperti ini harus terbangun dengan rengekan Sasuke hanya untuk buang air besar atau apapunlah itu.
.
.
.
Esoknya dan esoknya, Sasuke kembali bersikap aneh, setiap pagi ia selalu terlihat kelelahan dan menguap terus menerus. Sekarang ia lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur atau di sofa. Ia jadi jarang keluar, sekalipun keluar, ia hanya membeli makanan dan cemilan. Itachi tak habis pikir mengapa adiknya menjadi begini aneh.
"Sasuke, kau yakin tidak sakit? Aku tak tahan lagi, kau itu aneh… Kita ke dokter saja…"
Sasuke mendelikkan matanya ke arah Itachi.
"Aku tidak apa-apa… Udara dingin di sini membuatku malas untuk keluar dan aku hanya mengantuk karena aku bosan… Kau memang sibuk, tapi aku tak banyak yang bisa kulakukan disini, jadi aku jenuh dan mengantuk…" Bantah Sasuke.
Itachi terpojok. Kata-kata adiknya memang benar. Sebenarnya pun, Itachi menjadi sedikit lebih malas bergerak akibat udara Paris yang sedikit lebih dingin dibandingkan Jepang. Namun, karena memang ia sibuk untuk acara utama minggu depan, ia tak begitu merasakannya. Tapi, tetap saja, ia merasa ada yang tidak beres dengan Sasuke. Ia penasaran.
"Ya sudah, tapi kalau ada apa-apa langsung telepon dokter, aku tak bisa mengawasimu terus, kau jagalah dirimu sendiri…" Nasihat Itachi.
Dan si bungsu hanya merengut tak suka dengan cara Itachi bicara padanya.
"Kau meremehkanku…"
"Aku tak meremehkanmu… Aku mengkhawatirkanmu, Sasuke - kau ini keras kepala…"
Sasuke bangun dari rebahannya dan melempar bantal sofa ke arah Itachi.
"Pergi sana, kau selalu membuat suasana hatiku kacau… Menyebalkan…"
Itachi memutar bola matanya menghadapi sikap Sasuke. Sudah dipastikan bahwa ada yang aneh dengan adiknya ini, dan ia akan langsung memastikannya setelah mereka pulang dan tiba di Jepang.
"Sasuke… Dua hari lagi, kita launching parfum itu secara resmi… Ku harap kau tak kolaps atau sembelit lagi…"
Dan Sasuke sudah bersiap melemparkan gelas ke arah Itachi namun sang kakak sudah lebih dulu keluar dan menutup pintu kamar hotel. Hampir saja Sasuke membanting gelas itu ke lantai.
"Cih, kuso aniki…"
.
.
.
Singkat cerita, kedua kakak beradik ini akhirnya tiba di hari yang ditunggu-tunggu. Dengan persiapan yang begitu mantap, akhirnya mereka menjalani puncak dari acara mereka. Di sebuah ballroom hotel internasional terkenal, mereka mempromosikan produk paling istimewa sepanjang sejarah berdirinya Uchiha Coporation. Parfum berlabel pasar "Uchiha Itachi" dan "Uchiha Sasuke".
Ketika Itachi dan Sasuke memperkenalkan diri mereka sebagai promoter dan perwakilan dari pemimpin perusahaan, hadirin yang rata-rata berjenis kelamin perempuan tersebut sudah histeris dan bertepuk tangan dengan meriahnya. Sasuke terlihat begitu bosan, namun Itachi tak bosan-bosannya mengelus kepala adiknya agar sang adik menyadari posisinya sekarang.
"Demikianlah, kami menjual parfum ini 'berpasangan', dengan kata lain, tidak dijual terpisah. Harga yang dipasarkan itu adalah harga sepasang. Sebentar lagi, kami akan memberikan alasan mengapa kami merencanakan penjualan parfum kali ini secara berpasangan…" Jelas Itachi.
Tak lama, seorang pendeta yang dikawal beberapa kru dari acara tersebut berjalan di tengah-tengah kursi hadirin. Itachi tersenyum dan berdiri sambil mengulurkan tangan pada Sasuke. Sasuke jelas bingung dan tidak mengerti, namun ia tetap menyambut uluran tangan kakaknya. Lalu beranjak dari duduknya dan mendekati pendeta tersebut.
Suasana menjadi tegang, yang tadinya begitu riuh, kini hanya terdengar bisikan dan gumaman penuh kebingungan. Semua mata tertuju pada kedua Uchiha tampan yang sedang bergandengan tangan tersebut.
Sekarang, Itachi dan Sasuke sudah berdiri berhadapan dengan pendeta di samping mereka. Sasuke masih bingung dan kali ini ia mulai menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tidak tenang juga canggung.
"Uchiha Itachi, apakah kau bersedia menerima Uchiha Sasuke sebagai pasangan hidupmu dan akan membahagiakannya hingga ujung nyawamu?" Tanya pendeta tersebut.
Itachi tersenyum ke arah Sasuke yang akhirnya kini mulai mengerti apa yang sedang terjadi. Ia menahan tawanya melihat sang adik tiba-tiba langsung merona padam memandangnya.
"Saya bersedia…" Jawab Itachi.
"Uchiha Sasuke, apakah kau bersedia menerima Uchiha Itachi sebagai pasangan hidupmu dan bersedia mendampinginya dalam suka dan duka, senang maupun susah?" Tanya pendeta itu lagi.
Uchiha bungsu yang manis itu semakin memerah padam rona mukanya. Ia sama sekali tidak menyangka kakaknya akan membuatkan kejutan seperti ini. Ia malu sekali, namun ia begitu senang. Ternyata Itachi sudah merencanakannya dari awal. Ia benar-benar ingin menikahinya secara resmi dan membayar hutang pernikahannya yang dulu sangat tidak sakral dan kekanakkan bahkan pernah terhalang oleh pertunangan konyol yang sempat hampir memisahkan mereka.
Kini, Itachi membayar semuanya, ia membuktikan pada Sasuke betapa ia menyayanginya dan ingin membahagiakannya. Bukan hanya bersaksikan Tuhan, bahkan pernikahan mereka ini disaksikan oleh seluruh dunia mungkin. Karena mereka sedang mengadakan acara live dimana stasiun televisi sedang menayangkan mereka. Mengudara hingga ke kancah internasional.
"A—aku bersedia…" Jawab Sasuke malu.
"Sekarang pakaikan cincin ini dan ciumlah pasangan kalian…"
Sang pendeta memberikan sepasang cincin emas putih yang bertuliskan nama mereka kepada Itachi dan Sasuke dan diminta untuk memakaikannya bertukaran. Itachi memakaikan cincin bertuliskan namanya ke jari Sasuke dan Sasuke memakaikan cincin bertuliskan namanya ke jari Itachi. lalu Itachi meraih dagu Sasuke dan memandangnya lembut.
"Aku mencintaimu, Sasuke…" Bisik Itachi yang kemudian langsung mencium bibir Sasuke di iringi oleh tepuk tangan dan sorak sorai yang meriah..
.
.
.
Sisa hari setelah acara puncak tersebut dihabiskan Itachi dan Sasuke dengan bersenang-senang, sekaligus menunggu hasil dari penjualan mereka selama seminggu yang ditargetkan akan sold out tersebut. Anggap saja mereka sedang berbulan madu sekaligus berbisnis. Tak masalah, Sasuke bahagia. Sesekali ketika Itachi sedang tak di sampingnya atau sedang melihat ke arah lain, ia melihat dan membelai cincin pernikahan yang dipasangkan Itachi hari lalu.
"Sasuke… Belum 'isi' kah?" Tanya Itachi sambil mengusap perut Sasuke setelah mereka melepas lelah seharian berjalan-jalan.
"Ini sudah yang ke dua puluh kalinya kau menanyakan itu, Itachi…" Jawab Sasuke.
Sasuke heran mengapa Itachi begitu menginginkan anak. Sasuke memang ingin, tapi ia tidak sepenasaran Itachi. Sasuke nyaris kehilangan kesabarannya karena hampir setiap hari Itachi selalu menanyakan hal yang sama. Ia juga lelah sudah menjelaskan pada Itachi bahwa proses pembuahan tidak akan terjadi secepat yang ia bayangkan, tapi ada saja alasan Itachi untuk menyanggahnya.
"Habisnya aku ingin segera menggendong bayi, Sasuke…"
"Dan setelah benar aku dinyatakan hamil, kau akan kembali menunggu selama sepuluh bulan…" Sambung Sasuke.
Itachi kembali kehilangan semangatnya. Sasuke selalu membalas dengan kalimat itu setiap kali ia menanyakan tentang anak. Dan itu cukup membuatnya 'down' . Itachi ingin Sasuke segera melahirkan anaknya. Ia penasaran apakah anaknya perempuan atau laki-laki. Seperti apa anak mereka. Itachi frustrasi.
"Sasuke, ayo kita 'bikin' lagi…" Ajak Itachi yang mendapat jawaban jitakan keras dari Sasuke.
"Kau menyebalkan sekali, Itachi - pikiranmu mesum…"
"Kalau tidak mesum, kau tak kan hamil…" Balas Itachi tak mau kalah.
Ia sudah kebal dengan sikap kasar Sasuke setiap kali ia mengajak adiknya bercinta. Ia tetap merengkuh Sasuke ke pelukannya dan menciumi leher Sasuke, mengigit titik-titik sensitive di kulit lehernya.
"Itachi, aku lelah, aku mau tidur…"
"Nanti setelah ini, Sasuke…"
"Kubunuh kau…"
"Setelah ini…"
"Lepas, kuso aniki…"
"Setelah ini…"
"Aku tidak akan hamil, jika terlalu sering melakukan ini…"
"Setidaknya aku sudah berusaha…"
Dan setelah banyak bantahan dan penolakan dari Sasuke, akhirnya si bungsu tersebut menyadari bahwa sekarang dia sudah dibaringkan di atas tempat tidur dengan pakaian atasnya sudah terbang entah kemana. Kemesuman Itachi memang tak pernah bisa dikalahkan. Beruntung, Itachi selalu mempunyai cara yang manis untuk menuntun kemesumannya ini berganti dengan kemesraan.
Tentu sang adik yang baru saja dinikahinya ini - secara resmi, tak bisa melawannya lagi. Itachi tak pernah gagal merayu adiknya dan ia selalu sukses membawa adiknya ke puncak kenikmatan yang pada akhirnya membuat adiknya ketagihan, walaupun sang adik memang tak kan pernah mengakuinya.
.
.
.
TBC
.
.
Iiihhh… DEDEK CACUKE KENAPA TUH? Nah lho, abang bingung pan dedeknya jadi aneh begitu… masa dedek jadi rakus makan? Cepet periksain ke dokter ya, bang…
ABANG ROMANTIS BANGET BUSET DAH! Makhluk mana yang kagak mau dinikahin dengan cara seromantis itu di negara yang romantis pula, OMG! Gue mau bang… kagak nolak beneran dah… 3 3 3 – gue iri ama dedek Cacuke yang pasti bahagia banget ituuu… semua rasa bête akibat abang pernah ditunangin blablabla langsung ilang seketika tuh.. cieee~~ dedek seneng nih yeee…
Nah, dedek~~ abang udah ngebet tuh pingin punya anak, buruan kasih napa… kurangin tsundere lu dek, abang lagi usaha mati-matian bikin anak tuh, elu jangan kebanyakan nolak dek… pan rasanya juga enak *hus ngelantur* LoL
Yaudah gitu aja... maklumin author emang Itachi-holic jadi heboh kalo ngomongin si bulu mata lentik itu.
.
.
Thanks for reading.
Leave your review.
Regards
