Disclaimer: Harry Potter bukan milkku, tap milik dari J.k Rwlings
Warning: Slash, AU, powerful! Draco, creature! fic, bashing, typo, etc
Pairing: DMHP, THDG, LMNM, BZ?, others
Rating: T dulu, baru M nanti
Genre: Romance, Friendship, Adventure, drama, etc.
AN: Terima kasih buat pembaca yang udah sabar menanti kelanjutan fic ini. Maaf kalau aku lagi-lagi telat update, soalnya kemarin-kemarin aku masih sibuk untuk mempersiapkan UAN, jadinya beberapa fc-ku terbengkalai. Ok, langsung saja, ini adalah lanjutan dari chapter kemarin, selamat membaca!
CHASING LIBERTY
By
Sky
Draco menekankan pedangnya semakin ke dalam pada tubuh Sanguini, ia tahu apa yang ditimbulkan oleh pedangnya bila benda keramat itu dialiri oleh sihir serta ditusukkan tepat ke ulu hati seorang penyihir, maka akan mengakibatkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah mereka akan mati dalam hitungan detik, namun kemungkinan itu bukanlah yang menakutkan, kemungkinan yang kedua dapat dibilang sangat menakutkan, lebih parah daripada tewas. Sihir itu bertindak seperti racun yang akan merambat ke seluruh tubuh mangsanya, menggerogoti sumber sihir dalam tubuh mereka, mereka akan merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa, aliran sihir mereka akan terpotong yang mengakibatkan mereka kehilangan sihir mereka, mengubahnya menjadi seorang Squib. Menjadi seorang Squib adalah kemungkinan terburuk yang pernah dialami oleh seorang penyihir.
Vampire itu menggigit bibir bawahnya dengan keras, mencoba untuk menahan rasa sakit yang begitu luar biasa mulai menjalari tubuhnya, ia tidak berani memandang mata Draco karena ia tahu iris yang berwarna keemasan itu tengah memandangnya dengan geram, menyayat-nyayat jiwanya untuk menghukum Sanguini yang telah berani berbicara buruk tentang Harry. Ia tidak butuh Legilimency untuk menebak apa yang tengah dipikirkan Sanguini, Draco cukup membaca ekspresi orang itu saja ia langsung bisa menemukan apa yang tengah dipikirkannya.
"Kau tahu sebuah kalimat kuno yang kerap sekali dibicarakan oleh orang lain namun juga kerap dilupakan oleh mereka yang mengucapkan itu?" tanya Draco dengan lirih, irisnya masih berwarna keemasan itu tidak pernah meninggalkan ekspresi wajah laki-laki yang ada di hadapannya. "Jangan pernah meremehkan lawanmu meski mereka tengah lengah sedikitpun, dan kau telah membuat sebuah kesalahan yang sangat besar dengan meremehkanku seperti itu, membuatmu terpuruk sendiri dalam keadaan ini. Sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu saat ini seperti yang kukatakan beberapa bulan yang lalu pada pertemuan terakhir kita, akh... aku ingat sekarang, aku pernah mengatakan kalau aku tidak akan pernah mengampuni nyawamu untuk sekali lagi bila kita bertemu untuk kedua kalinya
"Lalu, apa yang kaulakukan? Apa kau mendengarkanku? Tidak, kau terlalu sombong mentang-mentang kau adalah seorang Lord serta berusia jauh lebih tua dariku sehingga kau mengabaikan peringatanku. Sebuah perintah yang mampu menyelamatkan nyawamu sendiri." sebuah senyuman sadis muncul di wajah tampan Draco, membuatnya begitu berbahaya.
Sanguini menatap sosok malaikat maut yang ada di hadapannya dengan penuh ketakutan, ia tidak menyangka kalau rencananya itu akan berantakan seperti ini. Ia tidak menyangka kalau Draconis akan dengan mudah memerangkapnya, dan untuk kedua kalinya... ini sangat memalukan!
"Karena kebodohan dan keangkuhanmu sendiri, Sanguini, kau berada dalam masalah yang aku rasa kau sendiri tidak akan mampu lolos dari sini. Pengkhianatanmu terhadap Tristan itu bisa aku maklumi, tapi bekerja untuk Dumbledore sampai kau berani-beraninya mempunyai pikiran kotor tentang Harry itu yang tidak bisa aku maafkan." kata Draco lagi, "Apa yang akan dikatakan oleh Cassandra bila tahu kalau kekasih tercintanya telah menjadi orang yang sama sekali tidak berguna?"
Draco tersenyum puas saat ia melihat ekspresi terkejut dari lawannya itu, ia akan menikmati hal ini dengan senang hati.
"Oh, aku tidak akan lupa dengan tuan putri itu, Sanguini. Aku masih bisa merasakan darahnya saat kau mengorbankan nyawa dari tuan putri untuk menebus pengkhianatanmu itu, kau tahu... seharusnya kau malu pada dirimu sendiri." ujar Draco lirih, ia menggenggam pedangnya dengan erat. "Aku ingin sekali membunuhmu di tempat ini, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu karena aku sudah berjanji pada Cassandra untuk mengampuni nyawamu. Tapi kau sudah tahu banyak hal yang sangat vital, dan kurasa aku tidak bisa membiarkanmu lari begitu saja, untung saja aku punya sebuah cara untuk mengatasinya."
Draco mencabut pedangnya dari dada Sanguini dengan cepat, ia mundur ke belakang untuk beberapa langkah dengan tatapan yang masih belum meninggalkan sosok Sanguini. Draco melambaikan tangan kirinya, sebuah bayangan yang sedari tadi berada di bawah pijakannya kini melesat dengan cepat menuju ke arah Sanguini. Bayangan itu tidak memberi kesempatan pada sang vampire untuk bergerak apalagi sampai kabur karena pada saat itu juga sang bayangan langsung menggenggam erat kedua lengan Sanguini dan mengikatnya pada puing-puing bangunan yang ada di sana, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Apa yang dilakukan Draco pernah ia lakukan pada Tom, dan ia menemukan cara itu lebih efektif untuk melumpuhkan lawannya. Mengendalikan bayangan itu jauh lebih mudah daripada mengendalikan sihir, karena Draco Malfoy tidak terlahir menjadi penyihir normal pada umumnya, ia terlahir menjadi seorang Shadow Mage sehingga ia mempunyai kemampuan untuk mengendalikan bayangan.
Pemuda itu menjatuhkah pedangnya dan tiba-tiba tersungkur dari posisi berdirinya, lukanya yang ada di tangan kiri terasa begitu luar biasa. Draco meringis pelan menahan sakit, menggigit bibir bawahnya untuk menghentikan erangannya.
Sebuah suara tawa kecil membuat konsentrasi Draco pecah, ia mendongak ke atas dan menemukan vampire yang terperangkap oleh bayangannya itu memberikan seringai padanya.
"Dan aku juga tidak bodoh seperti yang kau kira, Malfoy. Kau bukan satu-satunya orang terlicik di sini, aku juga telah memasukkan racun yang sangat ganas pada sihir itu sebelum menyerangmu." ujar Sanguini dengan senyuman puas di wajahnya.
"Ugh..." erang Draco pelan, dengan perlahan ia meraih tangan kirinya yang berdarah dan merobek lengan kemeja yang ia pakai.
Darah yang keluar dari lukanya tidak berwarna merah normal seperti biasanya, namun berwarna sedikit hitam kecoklatan dengan aroma yang sangat khas. Draco tidak bisa memastikan jenis racun apa itu, namun melihat darahnya yang keluar itu berubah warna serta tangan kirinya yang mulai mati rasa maka Draco dapat menyimpulkan kalau racun yang digunakan oleh Sanguini itu bisa dikatakan sangat berbahaya.
"Rosemary?" tanya Draco lirih, "Kau menggunakan campuran itu untuk membuat racun ini?"
Sanguini mengangguk pelan, ia tidak meragukan kemampuan anak muda yang tersungkur tidak jauh dari hadapannya itu dalam dunia ramuan.
"Kemampuan penciumanmu memang tajam, Malfoy." di sini Sanguini terbatuk untuk sesaat, darah segar keluar dari tenggorokannya. Kelihatannya pedang yang digunakan oleh Draco tadi benar-benar memotong beberapa aliran darahnya, membuatnya terluka parah. Terlebih lagi ikatan bayangan yang ada di lengannya, begitu erat sampai-sampai bergerak sedikit saja ia tidak bisa. "Aku salut kalau kau bisa tahu salah satu tumbuhan yang kugunakan sebagai bahan dasar, tapi tidak akan ada gunanya bila racun itu sudah bekerja pada tubuhmu. Selain racun ini mustahil muncul di zaman sekarang, juga secara perlahan-lahan racun ini membuat syaraf tubuhmu akan lumpuh hingga tidak berfungsi lagi, sari dari rosemary itu akan mengubah darahmu perlahan-lahan menjadi hitam sehingga kandungannya tidak akan bisa mengangkut Oksigen ke dalam tubuh. Kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Draco memberinya glare begitu hebat, ia terbatuk-batuk pelan dan tanpa sadar ia memuntahkan darah ke bawah. Secara pelan tubuhnya mulai kehilangan kontrol kesadaran, ia tidak bisa membiarkan hal ini untuk terjadi. Draco menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan, dengan perlahan ia bangun dari posisinya semula tanpa melepaskan pandangannya dari sosok angkuh Sanguini yang terbelenggu itu.
Pemuda berambut pirang platinum tersebut mengambil tongkat sihirnya dan mengacungkannya pada Sanguini.
"Monre Obliviate." ujar Draco pelan, sebuah cahaya berwarna keperakan sedikit hitam melesat dari ujung tongkat sihirnya dan berlari menuju ke arah Sanguini, menghantam tepat pada kepalanya.
Vampire itu menjerit kesakitan untuk beberapa saat, Draco tahu kalau mantra yang ia gunakan barusan bukanlah mantra penghilang ingatan yang sering digunakan oleh orang, Monre Obliviate adalah mantra Obliviate yang ia modifikasi sendiri dengan menggabungkan dark magic dengan blood magic yang nantinya akan menghasilkan perpaduan yang sangat mematikan. Efeknya permanen, tidak bisa dihilangkan meski dengan penyembuh yang ada di St. Mungo. Draco harap mantranya itu bekerja pada seorang vampire.
Setelah beberapa menit berteriak-teriak kesakitan, akhirnya Sanguini diam dan melihat keadaannya sudah aman, Draco melambaikan tongkat sihirnya untuk melepaskan belenggu bayangan yang mengikat tubuh sang vampire. Pemuda itu mengambil nafas panjang, lega ia tidak harus berduel karena bila melihat kondisinya saat ini maka tidak ada harapan ia bisa menang. Draco mengucapkan sebuah mantra kecil untuk menghentikan pendarahannya, ia tidak ingin mati karena kehabisan darah pada saat ini.
"Shit!" runtuh Draco, rasa sakit itu kembali menerjang tubuhnya.
Dengan tenaganya yang tersisa, ia mengambil sebuah medali kecil berbentuk ular dari dalam saku celananya. Diacungkannya tongkat sihir pada benda itu sambil mengucapkan 'portus' dengan pelan.
Draco memegang benda itu sambil berkata, "Riddle Manor." dan portkey yang barusan ia ciptakan membawanya pergi dari tempat itu untuk menuju Riddle Manor yang terletak cukup jauh dari sana.
Tom terbangun dari tidurnya saat ia merasakan seseorsng tengah menerobos ward manornya, dengan cepat ia mengenakan jubah piamanya dan mengambil tongkat sihirnya yang ia letakkan di bawah bantalnya sebelum bergegas menuju ke ruangan utama. Kelihatannya hanya dia sendiri yang merasakan kehadiran itu sebab ia tidak melihat siapa-siapa di sana, Tom memaklumi hal itu karena saat ini hari masih begitu larut.
Laki-laki yang dijuluki sebagai Dark Lord itu membanting pintu depan manornya, siap menyerang siapa saja yang berada di luar sana, berani-beraninya mereka datang ke kediaman Riddle Manor dan mengganggu istirahatnya. Namun rencana yang dipikirkan oleh Tom langsung terbang begitu saja ketika ia melihat siapa yang berdiri bersandar di tembok sisi depan Manor, Tom melihat Draco yang tengah memegangi lengan kirinya yang berdarah hebat di sana, wajah putra angkatnya itu sedikit pucat namun ekspresinya sama sekali tidak mengisyaratkan rasa sakit sedikitpun. Tom penasaran dengan apa yang terjadi, ia berjalan menghampiri Draco dan memegang bahu putranya. Pada saat itu juga Draco kehilangan kesadaran dan terjatuh ke bawah, untung saja Tom siap memegangnya sebelum ia tersungkur ke lantai.
"Apa yang terjadi denganmu, Draconis?" gumam Tom. "Piper."
Sebuah bunyi pop pelan terdengar di sana, di hadapan Tom kini berdiri seorang peri rumah yang mengenakan pakaian begitu bagus dengan lambang keluarga Riddle berada di dada kirinyam, peri rumah itu terlihat berbeda dari peri rumah lainnya, ia begitu royal. Peri rumah itu sujud di kaki Tom, ia melihat pemuda berambut pirang platinum yang majikannya pegang, seraya itu Piper sang peri rumah merasa begitu khawatir karena pemuda itu adalah young lord dari rumah ini juga.
"Master Riddle memanggil Piper? Apa yang bisa Piper lakukan untuk Master Riddle?" Tanya Piper dengan hormat, sesekali ia melihat Draco dengan kekhawatiran yang terlihat jelas pada mata besarnya.
Tom mengangguk pelan, "Aku ingin kau siapkan tempat tidur untuk Draco di kamarnya, setelah itu panggilkan Perenelle untuk datang ke Riddle Manor. Katakan padanya kalau kita mendapat masalah yang sangat serius!" perintah Tom dengan suara dingin.
Peri rumah kecil itu mengangguk mengerti, ia bersujud di hadapan Tom lagi sebelum pergi dengan suara pop di sana. Dengan segera Tom menggunakan sihirnya untuk me-leviate Draco dan membawa putra angkatnya itu ke kamarnya sendiri.
Kamar pribadi dan ruangan milik Draco terletak di sayap kanan bagian manor, bisa dikatakan ia memiliki ruangan yang sangat mewah seperti seorang pangeran. Tom melihat sebuah piano besar berwarna Ivory yang ada di sudut ruangan, ia tidak pernah tahu kalau putra angkatnya ini sangat tertarik pada musik, bahkan di lemari kaca yang ada di samping perpustakaan kecil milik Draco pun terdapat biola dan beberapa alat musik klasik, mungkin ia memang tidak mengenal Draco seperti Tristan. Kelihatannya Draco yang berhati beku pun mempunyai sisi lembut terhadap musik. Tom tersenyum kecil membayangkan hal itu.
Laki-laki yang dijuluki sebagai Dark Lord itu membaringkan Draco di atas tempat tidurnya. Tom mengayunkan tangan kanannya, mengganti pakaian Draco dengan piama. Tidak lama setelah itu ia mendengar suara pintu kamar terbuka terbuka dan suara seorang wanita yang kelihatannya begitu kesal ditujukan padanya. Derap langkah kaki itu semakin mendekat.
"Apa yang kau inginkan hingga kau memanggilku ke sini pada jam seperti ini, Riddle?" ujar seorang wanita yang penuh dengan authoritas. "Masalah serius apa yang kau maksud? Dan mengapa kita berada di ruangan milim Draco?"
Tom membalikkan tubuhnya dan bertemu dengan glare dari sepasang mata Hazel milik wanita cantik yang ada di hadapannya itu. Perenelle Flamel nee Peverell adalah wanita yang sangat cantik dan menawan, ia terlihat seperti wanita berusia 35 tahunan meski usianya sudah 650 tahunan. Terima kasih akan batu bertuah yang dibuat suaminya sehingga membuat mereka berdua menjadi awet muda seperti ini.
Mata Hazel milik Perenelle terbelalak lebar saat ia melihat keadaan putra baptisnya yang terkolek di atas tempat tidur dari balik tubuh Tom, dengan cepat ia berjalan menghampiri Draco dan memeriksa keadaannya. Meski Perenelle lemah dalam bidang sihir namun ia sangat mahir dalam hal medis, tidak heran pada masanya dulu sebelum ia dan Nicholas memutuskan untuk menghilang Perenelle mendapat sebutan sebagai sang tangan dewa karena kemampuannya yang luar biasa dalam dunia medis.
"Rosemary, biasanya tanaman ini sama sekali tidak berbahaya untuk digunakan tapi..." ujar Perenelle pelan, ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengacungkannya ke arah luka Draco, "Untung saja belum terlambat."
"Apa yang kau katakan?" tanya Tom tidak mengerti, ia memang mahir dalam ramuan tapi ia sedikit tidak mengerti dengan penjelasan wanita itu.
"Thomas, aku heran kalau kau tidak tahu racun apa ini. Hmm... ini jenis yang sangat langka, kukira aku sudah tidak akan menemuinya dalam kurun waktu 200 tahun terakhir tapi ternyata perkiraanku salah. Racun yang berada dalam tubuh Draco bisa dibilang sangat ganas, berasal dari campuran Rosemary dan darah naga api India berusia 400 tahun, campuran inilah yang membuat darahnya berwarna hitam pekat. Untung saja kau segera memanggilku ke sini. Aku tidak tahu kalau salah satu bahan utamanya masih ada hingga zaman sekarang, kukira sudah menghilang." jawab Perenelle. "Aku membutuhkan air hangat dan beberapa bahan ramuan, suruh Piper untuk mengambilnya di rumahku. Oh ya, dan suruh Tristan kemari karena kita membutuhkan darah vampire juga. Kurasa darah Tristan mampu mengobati segalanya dengan cepat."
Tom menghela nafas panjang ketika melihat senyuman wanita itu mengembang, Tristan pasti tidak akan menyukai ini apalagi sudah sejak lama ia membenci Tom. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang baginya. Harapan ingin istirahar sekarang sudah menghilang.
Harry merasakan dirinya melayang di sebuah tempat, ia merasa begitu nyaman apalagi tempat di mana ia berada saat ini benar-benar berbeda dari apa yang ia rasakan selama ini. Kesadaran anak ramaja itu berangsur-angsur pulih, ia membuka kedua kelopak matanya dan mencoba untuk memfokuskan. Ketika kesadarannya sudah pulih ia kembali bertanya-tanya, di manakah ia berada sekarang? Harry berada di atas sebuah tempat tidur yang sangat besar dan mewah, tempat tidur itu memiliki 4 buah tiang penyangga yang begitu kokoh dengan ukiran gambar seekor naga di sana, kamar yang ia tempati juga begitu besar dan mirip sekali dengan kamar-kamar keluarga kerajaan yang sering Harry lihat di TV ketika Harry secara tidak sengaja menontonnya. Benda yang menyelimutinya begitu halus seperti sutera, sampai-sampai Harry enggan untuk bangun.
Sebuah ingatan kemarin malam tiba-tiba langsung Harry ingat, kedua matanya terbelalak lebar ketika ia mengingat Chris menciumnya sebelum menggunakan mantera penidur kepadanya. Berani-berani sekali Chris melakukan itu pada Harry, dia pikir siapa dirinya itu? Harry geram dan marah, ingin sekali ia marah pada mate-nya itu tetapi betapa kerasnya pun Harry mencoba, hasilnya tetap saja ia tidak bisa marah pada Chris.
"Mungkin ini kamarnya?" gumam Harry pada dirinya sendiri, kelihatannya dugaan Harry memang benar karena kamar itu mempunyai aroma khas seperti aroma tubuh Christopher.
Tunggu, sejak kapan Harry bisa tahu aroma tubuh Chris? Memikirkan itu tentu saja membuat wajah Harry merah seperti kepiting rebus, ia membenamkan wajahnya pada bantal yang ia gunakan tadi. Secara tidak sengaja pula aroma vanilla khas dari Chris ia cium juga, membuat wajahnya merah kembali.
Sebuah suara ribut-ribut di luar kamar itu menarik perhatian Harry, remaja manis itu mencoba bangkit dari posisi tidurannya. Ia mengambil sebuah selop dan memakainya, sebelum berjalan menuju ke arah pintu. Suara samar-samar itu terdengar begitu jelas di sana.
"Bagaimana mungkin kau mengatakan aku tidak boleh membuat perhitungan padanya. Ini benar-benar gila." ujar sebuah suara yang Harry temukan adalah suara dari Daphne Greengrass.
"Daphne, tenangkan dirimu. Aku tahu kalau kau mempunyai masalah dengan vampire itu, namun aku juga lebih tahu kalau Draco tidak mencegahmu kemarin maka kau akan bertindak bodoh mengikuti instingmu. Demi Merlin, Daphne, kau itu seorang Slytherin, bukan Gryffindor yang bertindak tanpa berpikir lebih dahulu." kata seorang laki-laki yang dari suaranya sama sekali tidak Harry kenali.
Harry bisa menduga kalau Greengrass kelihatan begitu frustasi, ia bisa melihatnya pada kemarin malam. Mungkin vampire yang mereka bicarakan adalah laki-laki yang Harry dan Chris temui semalam sebelum Chris membuatnya tertidur, tapi ada yang aneh di sini, jadinya Harry menguping pembicaraan mereka lagi.
"Aku bukannya tidak berpikir, tapi apa yang Sanguini lakukan pada keluargaku benar-benar keterlaluan. Ugh... aku ingin menyiksanya sampai dia menginginkan untuk mati kalau aku mengingat apa yang telah ia lakukan." kata Greengrass.
"Daphne, tenangkan dirimu saat ini! Tidak ada gunanya kau emosi pada keadaan saat ini, rupanya Draco memang benar kalau kau itu masih dendam pada Sanguini."
"Draco tahu apa? Dia tidak tahu apa-apa dengan apa yang kurasakan, Tristan. Aku benci untuk mengetahui ini, tapi ia benar kalau aku masih dendam pada laki-laki itu. Orang mana yang tidak dendam kalau mereka tahu..." suara Daphne yang mulai meninggi terpotong begitu saja. "Apa?"
"Kelihatannya si sleeping beauty telah bangun, kemarilah Harry." ujar laki-laki yang bernama Tristan itu.
Harry yang sudah ketahuan mau tidak mau keluar dari tempat persembunyiannya, ia heran bagaimana laki-laki itu bisa tahu ia sudah bangun? Padahal pintu kamar saja tertutup, apakah orang-orang Slytherin itu memang peka ya?
Remaja berwajah manis itu berjalan menghampiri mereka, ia menemukan Daphne Greengrass berdiri di hadapan seorang laki-laki yang menurut Harry sangat tampan. Laki-laki itu memiliki rambut hitam pendek yang tertata rapi, kulit alabaster dan perawakan yang tegas serta terkesan misterius, aura yang menyelimuti laki-laki tampan itu meneriakkan kalau ia bukanlah orang sembarangan. Sepasang mata violet milik laki-laki itu mengawasi Harry sedari tadi, Harry bersumpah ia melihat kilatan penuh humor di sana. Tiba-tiba Harry merasa malu, ia berdiri hanya mengenakan piama tidur dengan penampilan yang acak-acakan di hadapan dua orang yang berpenampilan sangat sempurna itu.
"Potter, kau butuh perbaikan." Ujar Greengrass dengan lembut, "Kau terlihat begitu berantakan, tapi juga imut pada saat yang sama."
Remaja perempuan itu berjalan menghampiri Harry dan mencubit pipinya secara gemas, Harry segera menepisnya. Ia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil.
"Daphne, tinggalkan Harry sendiri." ujar Tristan,
Daphne cemberut namun ia meninggalkan Harry, ia berjalan menghampiri Tristan dan pada saat itu juga laki-laki yang tampan itu memeluk pinggang gadis itu dengan tangan kanannya. Tristan mengamati Harry dari atas dan bawah, pandangannya menyelidik dan membuat Harry sedikit tidak nyaman, bukan karena rasa jijik seperti yang diberikan Sanguini padanya namun Harry merasa seperti berada di ruang interogasi di mana seorang ayah dari kekasihnya tengah menyelidikinya apakah ia cocok untuk anaknya apa itu. Tentu saja pikiran itu sangat konyol melihat laki-laki itu tidak ada hubungannya dengan Chris atau Harry yang belum pernah merasakan pengalaman itu, tapi tetap saja ia merasa kurang nyaman dengan pandangan menyelidik dari laki-laki itu.
"Kurasa dia jauh lebih menarik dari kekasihnya yang lain." gumam Tristan.
"Menurutmu seperti itu?" tanya Daphne pelan
Tristan mengangguk, "Aku harap dia serius mengenai masalah ini. Aku lelah melihatnya bersama orang yang berbeda setiap saat."
Daphne tertawa kecil, "Kalau aku tidak mengenal Draco secara baik, aku pasti akan menjulukinya promiscious boy. Sayangnya bukan dia yang tertarik pada mereka, tapi mereka yang selalu mengejarnya. Aku harap firasatmu memang benar, semoga Potter cocok dengannya."
Lagi-lagi nama 'Draco' yang mereka ucapkan, sebenarnya siapa orang itu? Harry penasaran ingin tahu.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Harry sedikit kesal, "Dan mengapa aku bisa berada di kamar Chris?"
Daphne memberinya senyum kecil, "Potter, semalam kau pingsan di koridor. Kami tidak mungkin untuk membawamu ke menara Gryffindor, jadi karena tidak ada pilihan makanya kami membawamu ke kamar Chris." ujarnya.
"Jangan bohong padaku, jelas-jelas aku ingat kalau Chris menggunakan mantera tidur padaku. Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan padaku?" tanya Harry, ia tidak suka dengan keadaan yang seperti ini.
Tristan dan Daphne saling berpandangan sebelum keduanya menarik kesimpulan kalau Draco tidak menggunakan confundus pada Harry, seharusnya mereka tahu hal ini akan terjadi. Daphne melepaskan dirinya dari Tristan, dengan pelan ia menghampiri Harry dan membimbingnya untuk masuk ke dalam kamar yang Harry yakini adalah milik Chris tadi.
"Apa kau yakin kau tidak bermimpi?" tanya Daphne memastikan.
"Tentu saja tidak." jawab Harry sedikit ketus.
"Mungkin sebaiknya kau mandi dulu sebelum aku menjelaskannya padamu. Kau perlu untuk menenangkan dirimu dulu."
"Tapi..." protes Harry.
"Tidak ada tapi-tapian. Aku janji akan menjelaskan ini semua, Harry. Em.. boleh aku memanggilmu Harry?"
Harry mengangguk dan memberikan senyuman kecil pada gadis yang telah menjadi teman Chris itu, "Tentu, asalkan aku boleh memanggilmu Daphne dan kau mau menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Aku tidak mau terus-terusan dibohongi seperti ini, Dumbledore saja itu sudah cukup."
"Baiklah, tapi sebelum itu kau harus mandi dulu. Aku harap kau bisa mengontrol emosimu setelah ini."
Sebuah kekhawatiran terbesit di ekspresi Harry, "Apakah ini ada hubungannya dengan Chris? Bukankah semalam ia mengatakan kalau ia menerimaku sebagai mate-nya, apa dia berubah pikiran?"
Daphne menggelengkan kepalanya, ia mendorong Harry ke arah kamar mandi di ruangan milik Draco itu.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak." hanya itu perkataan yang keluar dari mulut Daphne sebelum gadis itu memasukkan Harry ke dalam kamar mandi.
Harry merasa bingung dan cemas, ia ingin tahu apa rahasia yang Chris sembunyikan darinya itu. Dia juga ingin tahu siapa orang yang bernama Draco itu? Kenapa ia selalu dikaitkan dengan Chris ataupun Harry? Lalu apa hubungan mereka dengan laki-laki misterius yang bernama Tristan itu? Serta apa yang terjadi dengan sanguini.
Begitu banyak pertanyaan apa dan mengapa terlintas di benak Harry, semuanya menjadi satu dan panas di dalam pikirannya, namun Harry merasa sedikit baikan ketika air dingin dari shower mengalir dan mendinginkan kepalanya. Ia harap penjelasan dari Daphne nanti akan menghapus keraguannya.
AN: Maaf kalau di chapter ini nggak ada romance-nya, aku akan mengusahakannya di chapter selanjutnya. Maaf kalau terlalu pendek. Oh ya, terima kasih pada kalian yang sudah membacanya dan memberi reviews... maaf kalau ada beberapa yang belum aku balas.
Author: Sky
