SHIKIGAMI TWINS

Disclaimer:
Vocaloid bukan punya saya, tapi fanfiction ini milik saya!

Rating: T

Genre: Romance, Supernatural, Tragedy, Friendship, Action

Warning: GAJE, ALAY, OOC, ANEH, TYPO, DLL.

Note: DON'T LIKE? DON'T READ! Tidak menerima flame yang hanya bermaksud untuk menjatuhkan.

Summary:
"Kertas-kertas itu sangatlah berarti bagiku. Tapi ada yang jauh lebih berarti daripada kertas-kertas itu. Apakah itu?"

Author: Back~ Saya lupa, mestinya ada genre action di fic ini!

Rin: Author-nya pikun, sih.

Len: Dia nggak kebiasa buat fic action, sih.

Author: Tambahin aja~ Susah banget.

Rin: Oke... Mulai di chappie kali ini, ditambahin genre action.

Len: Readers udah nunggu lama, ya?

Rin: Si author soalnya udah fic numpuk, bukannya diselesain dulu, udah main buat fic baru, sih!

Author: Jadi sekarang ada berapa fic yang nunggu, ya... Triangle Love, fic ini, Darkness, Aishiteru!, sama Neko World...

Rin: Buset... Banyak banget =.=

Len: Si author payah, nih.

Author: Udah! Udah! Nggak usah dibahas. Kita mulai aja, ya.


Rin's POV

Itu, kan...

Pernyataan cinta?

"E-Eh? Apa?" tanyaku sambil melepaskan pelukan Len. Wajah Len semerah tomat sekarang.

"A-Aku suka sama Rin. Aku nggak maksa Rin untuk pacaran sama aku, tapi..."

"Aku juga suka sama Len."

"Eh?"


Normal POV

"Aku juga suka sama Len." Begitulah cara Rin untuk memutuskan ucapan Len.

"Eh?" Len kaget.

"Ya." Rin melihat ke arah lain. Wajahnya sudah sangat merah sekarang.

Len menatap gadis itu dengan wajah yang berseri-seri. Kemudian ia langsung memeluk Rin dengan erat. Rin sangat kaget akan itu.

"Aku suka sama Rin," kata Len lagi. "Nggak ada di dunia ini yang aku lebih suka daripada Rin."

Wajah Rin merona hebat. Tapi ia senang sekali. Ia tak menyangka perasaannya akan terbalaskan. Kemudian ia membalas pelukan Len.

.

.

"APA? KAU DAN LEN-KUN JADIAN?" seru Miku kaget begitu mendengar Rin bercerita padanya pada keesokan harinya.

Rin panik sekali mendengar Miku yang berteriak seperti itu. Dengan cepat ia menaruh jari telunjuk di dekat bibir untuk menyuruh Miku diam. Miku hanya menutup mulut dengan kedua tangannya. Kemudian ia tertawa pelan.

"Ohayou," sapa seseorang di belakang Rin. Rin menengok dan mendapati seorang pemuda dengan tampang yang mirip dengannya.

"O-Ohayou," balas Rin tergagap. Mukanya memerah mengingat kejadian semalam.

"Len-kun! Selamat, ya!" teriak Miku tiba-tiba.

Wajah Len langsung memerah. "Um... Ya... Terima kasih," jawabnya.

"Miku, aku ke kelas dulu, ya." Rin berpamitan. Miku hanya mengangguk.

Rin berjalan ke kelas dengan Len. Sambil tertawa dan bercanda. Miku menghela napas melihat mereka itu.

Aku juga ingin menyatakan perasaanku pada Kaito dengan jujur, pikirnya dalam hati.

.

.

"Len, kau yakin nggak apa kita gandengan gini?" tanya Rin ketika pulang sekolah. Ia merasa risih dilihat banyak orang ketika berjalan berduaan dengan Len. Bergandengan pula!

Len hanya tersenyum menatap Rin yang juga menatapnya itu. Kemudian Len mengangguk dan memperkeras genggamannya.

"Rin..." Rin mendengar seseorang memanggilnya dengan nada putus asa. Dengan segera Rin menengok ke belakang. Ia melepaskan genggaman tangan Len dan mengeluarkan beberapa lembar kertas shikigami-nya.

"Rin! Jangan gila!" seru Len. Ia menahan tangan Rin untuk mengeluarkan shikigami.

"Heh... Kau pacaran sama Len, ya?" Orang itu, Rinto bertanya dengan sinis. Rin membalas tatapannya dengan tatapan mata melotot.

"Kalau iya, ada urusannya denganmu?" serunya.

Rinto hanya mendengus kesal. Kemudian Rin melihat adik kembarnya, Lenka berlari ke arahnya.

"Rinto! Rinto! Tei sudah datang!" seru Lenka sambil menepuk pundak Rinto, tak menyadari bahwa kakak kembarnya itu sedang berbicara atau lebih tepatnya berdebat dengan Rin dan Len.

Rinto menengok ke arah Lenka sambil tersenyum manis. "Apa? Tei sudah datang?" ujarnya.

Lenka mengangguk kuat-kuat. Kemudian ia menarik tangan kakaknya. "Ayo! Tei ingin bertemu denganmu!" teriaknya.

Rinto menatap sinis kepada Rin dan Len. "Kita masih punya urusan dengan kalian, ya. Kutunggu nanti jam tiga di lapangan basket. Mau?"

Kemudian ia menarik Lenka pergi.

.

.

"Rinto, kau sedang berurusan dengan Rin dan Len?" tanya Lenka. Rinto terus berjalan sambil menarik Lenka. Kemudian ia menjawab.

"Ya. Mereka pacaran. Aku keberatan," ujarnya kesal.

Lenka menatapnya dengan pandangan bingung.

"Hah? Kau masih suka sama Rin? Payah, ah!" dengus adik kembar Rinto itu.

Rinto menatap tajam adiknya.

"Apa maksudmu dari arti kata 'payah' itu?" serunya setengah berteriak. Lenka cemberut.

"Dia sudah mencampakanmu! Masih suka sama dia? Aneh!" teriak Lenka sambil memutar bola matanya. Rinto menyerah. Adiknya nggak pernah merasakan cinta. Jelas saja ia tidak tahu bagaimana perasaan "cinta pada pandangan pertama".

"Tei?" panggil Rinto. Gadis yang dipanggilnya, Sukone Tei menengok. Gadis dengan rambut berwarna putih berkilau dengan matanya yang merah darah menatap Rinto tajam.

"Oh, Rinto?" balasnya.

Rinto hanya mengangguk. Kemudian ia bertanya pada Tei.

"Kau bersekolah di sini?"

"Ya. Mulai besok."

"Oh, senangnya kita mendapat teman."

"Jangan lupa. Aku ini yokai."


Rin's POV

"Len, kau yakin mau berurusan dengan mereka nanti?" tanyaku khawatir ketika pulang sekolah.

Len hanya mengangguk.

"Aku ikut, ya?" pintaku.

Len menatapku dengan pandangan kaget. Lalu ia menggeleng.

"Nggak. Kau nggak boleh ikut," jawabnya.

"Kenapa? Aku juga berurusan dengan mereka, kan?" seruku membantah. Len hanya mendengus. Ia mengacak rambutku.

"Anak pintar diam di rumah saja. Aku nggak mau kau terluka," tolaknya lagi.

Aku hanya tertawa kecil.

"Aku bukan anak-anak," cetusku.

Len hanya diam.

"Lagian kalau kau sendiri, aku yakin kau terluka. Aku nggak bisa tinggal diam, dong?" lanjutku lagi.

Len hanya diam. Berpikir, mungkin. Kemudian ia menengok ke arahku dengan tersenyum.

"Ah, nggak usah khawatirin aku. Yang aku khawatirin itu cuma Rin. Asal Rin selamat, aku nggak apa-apa meskipun harus mati sekalipun," jawabnya sambil tersenyum lembut ke arahku.

Aku menyadari wajahku memerah.

"BAKA! Nggak usah bicara yang aneh-aneh!" seruku sambil memukul lengannya pelan. Len hanya tertawa-tawa.

"Pokoknya nanti aku ikut," ujarku lagi. Len hanya mengangguk dan tersenyum.

"Terserah kau, hime-sama," jawabnya.

Aku memalingkan wajah. Mungkin kalian pikir aku memalingkan wajah karena ngambek atau semacamnya. Tapi bukan karena itu. Aku hanya menyembunyikan wajahku yang sudah sangat merah ini.


Len's POV

Aku melihat jam. Jam dua lebih dua puluh menit. Aku siap-siap saja. Rinto mengajak bertarung, kan? Ya sudah. Aku siapkan shikigami saja. Tapi aku menyisakan satu shikigami di rumahku. Shikigami jati diri. Kemudian aku siap.

.

.

Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekati lapangan. Sekarang aku berada di lapangan basket sekolah. Semoga Rinto nggak macam-macam, deh. Nanti lapangan ini rusak, apes aku.

Aku melihat Rinto yang muncul dengan wajahnya yang santai. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

"Sendirian? Biasa bareng Lenka," ejekku. Rinto hanya menghembuskan napas. Kemudian ia tersenyum licik.

"Mana Rin-chan? Kau memperbolehkan dia ikut? Dasar pengecut." Rinto balas mengejek.

Wah, dia mau rusuh kayaknya, deh. Apa? Aku pengecut? Rin memang belum datang. Yah, aku harap dia tidak datang. Aku tak mau melibatkannya dalam perang-perang seperti ini.

"Rin itu..." Aku berusaha membantah. Ucapanku terhenti ketika aku mendengar suara yang familiar di telingaku.

Aku menengok. Dan dugaanku benar. Itu adalah Rin. Kenapa kau harus datang? Seharusnya kau tidak datang! Keadaan di sini sudah cukup tidak mengenakkan!

"R-" Aku menghampiri Rin. Tapi aku terlambat. Rinto sudah menghampiri Rin terlebih dahulu. Ia menghadang gadis itu.

"Oh, kau datang?" sapanya pada Rin dengan sinis. Kemudian ia mengeluarkan sebuah pisau tajam yang kecil dan menerbangkannya ke arah Rin.

"Aduh!" Aku dapat mendengar dengan jelas jeritan Rin. Rupanya pisau kecil itu mengenai pipi Rin sehingga mengeluarkan darah.

Aku cepat-cepat berlari padanya dan menarik Rin.

"Kau jangan macam-macam dengan Rin!" teriakku marah pada Rinto.

Rinto hanya senyum-senyum saja. Kemudian ia bertepuk tangan satu kali. Seorang gadis yang tak kukenal langsung meloncat turun dari tempat persembunyiannya.


Normal POV

Gadis berambut putih berkilau dengan mata merah darah muncul di hadapan Rin dan Len. Ia berdiri beberapa senti di depan Rinto.

"Tei! Pertemuan yang menyenangkan, bukan?" ujar Rinto sinis. Gadis bernama Tei itu hanya tersenyum licik. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah Rin dan Len. Tei memisahkan keduanya dengan kasar sehingga Rin jatuh tersungkur ke tanah. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada Len dan memegang bahunya.

"Gimana kalau kau tinggalkan saja dia dan bersamaku saja?" ujarnya licik.

Rin yang melihat akan hal itu menjadi marah. Emosinya menjadi-jadi. Spontan Rin langsung melempar sebuah shikigami kecil yang tajam ke arah Tei. Tei berhasil menghindarinya. Ia menatap Rin dengan tajam.

"Apa? Kau keberatan kalau aku bersamanya?" serunya.

Rin berdiri dan menatap Tei tajam.

"Tentu saja aku keberatan! Karena dia... dia..." Rin membantah dengan tergagap. Ingin sekali Rin bilang, "karena dia pacarku!" Namun entah kenapa itu sulit sekali diucapkan olehnya.

"Dia pacarku," kata Len langsung sambil menyingkirkan tangan Tei dari bahunya kemudian berdiri. "Jangan ganggu kami." Len berjalan menuju Rin.

Wajah Tei berubah menjadi merah. Rambutnya seakan berdiri karena marah. Matanya menjadi tambah merah dan emosinya naik.

"L-Len..." Rin mencengkeram lengan Len ketika melihat Tei yang berubah seperti itu. Len sendiri kaget melihat perubahan ekspresi di wajah Tei.

Tanpa segan-segan, Tei melempar pisau tajam ke arah Rin. Rin yang melihatnya hanya menatapnya dengan kaget, sementara tubuhnya kaku.

"Rin! Awas!" teriak Len. Kemudian dengan cepat ia memeluk Rin dan melemparnya ke arah lain.

"I-Itai..." Rin mengaduh kesakitan. Ia mendapati Len sedang memeluknya. Wajahnya langsung merona.

"L-Len... Bangun," seru Rin. Ia membebaskan diri dari pelukan Len. Len pun terbangun dengan terhuyung.

"Apa, sih, maumu?" teriak Len pada Tei.

Tei tersenyum sinis. "Apa, ya..." Tei pura-pura berpikir.

"Besok saja, deh! Di sekolah. Sampai ketemu lagi!" seru Tei sinis. Ia terbang melayang hingga tak terlihat lagi.

"Nah, sekarang kalian akan berurusan denganku," ujar Rinto sinis.

"NGGAK USAH! HARI INI CUKUP DAH! GUE UDAH CAPEK!" teriak Rin dan Len serempak. Rinto kaget dan cemberut. Kemudian ia pulang dengan gaya yang sama sekali tidak bisa dibilang cool.

"Kau nggak apa-apa, Rin?" tanya Len cemas ketika kedua yokai itu sudah pulang. Rin hanya mengangguk kecil. Ia memegang pipinya yang berdarah tadi.

"E-Eh... Jangan dipegang. Nanti keluar darahnya lagi." Len menahan tangan Rin yang akan mengusap pipinya itu. Kemudian Len mengeluarkan saputangannya dan membersihkan luka Rin.

Wajah Rin memerah. Sekali-kali ia mengaduh kesakitan karena lukanya itu.

"Nah. Sudah selesai," ujar Len. Ia tersenyum pada Rin.

Rin mengangguk. Kemudian mereka berdiri.

"A-Arigatou," kata Rin pelan. Len hanya tersenyum.

"Tadi maksudnya apa. Sampai jumpa besok?" tanya Rin tiba-tiba. Kening Len berkerut. Tak ada yang tahu apa yang dikatakan Tei itu.

"Nggak tahu," jawab Len seadanya.

"Masa dia mau masuk sekolah kita?" tanya Rin ragu.

Len hanya diam. Gawat kalau begitu! Kemudian ia mengelus rambut Rin.

"Jangan mikir yang aneh-aneh. Sudah, biarkan saja dia. Dia mau masuk, juga nggak akan mengganggu kita, kan?" balas Len ramah.

Rin hanya mendengus.

"Tentu saja dia mengganggu! Tadi kan-" Rin tak bisa menyelesaikan ucapannya. Wajahnya memerah.

"Kenapa?" tanya Len dengan nada menggoda.

"U-Urusai! Lupakan saja!" seru Rin sambil melipat tangan. Ia memalingkan wajahnya. Len hanya tertawa kemudian mengelus rambutnya.

"Kita pulang, yuk?" ajaknya. Rin hanya mengangguk pelan.

Mereka tidak sadar tragedi baru akan menghadang pada keesokan harinya.

.

.

TO BE CONTINUED


Author: Chappie kali ini agak aneh. Gomenasai, Minna :|

Rin: Si author nggak ada ide ._.

Author: Masalahnya saya fokus ke Rin Len. Tapi mereka udah pacaran, gimana dong? ._.

Len: Lupakan omongan si author. Yang penting, review ya. Supaya fic ini bisa berlanjut.

Author: Stop! Stop! Sebelum diututup chappie kali ini, saya minta Rin bacain balasan review dari readers yang nggak online!

Rin: Oh, ya? Tumben dapet review dari readers yang nggak online. Tapi oke, deh. Aku kan, baik, jadi kubacain. Jangan lupa tambahan jeruk!

Author: Iya :3

Rin: *megang kertas* *baca*

Kagamine Suki Ri-chan

Wakaka. Masa, sih?

What? Ditolak? Terima, dong! #slap

Apa? Len itu punyaku tauuu!

Len: Stop stop! Ngapain balesin review kayak gitu =.=

Author: Suka suka saya :3

Rin: RnR, Minna ._.