STUN OF LOVE
Warning: OOC, TYPOS, CRACKED- PAIR, etc
Pair : SASUHINA
Rate: T+/M
Genre : Romance, Hurt/comfort
Disclaimer: Naruto © Belonging Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T FLAME
DON'T LIKE DON'T READ
DON'T LIKE DON'T COMMENT
Eight
"Kita akan ke mana, Anata?" tanya Mikoto sambil menggenggam tangan Fugaku yang berada di sampingnya. Rencanya hari ini Mikoto dan Fugaku akan berjalan-jalan -kencan- ke sebuah danau, seperti saat masih remaja dulu. Namun tiba-tiba saja Fugaku memutar arah.
"Apartemen Sasuke," jawab Fugaku datar.
"Ada apa?" tanya Mikoto khawatir.
"Aku baru saja menelepon salah satu staf di kantor presiden, mereka mengatakan jika Sasuke pergi meninggalkan acara penandatangan PPA."
Mikoto mengerutkan kedua alisnya. "Tadi pagi, Sasuke mengabariku dia berada di kantor presiden."
Fugaku menggedigkan bahunya. "Aku hanya ingin memastikan jika Sasuke mengerjakan tugas dengan baik."
"Mengapa harus apartemen Sasuke? Mungkin saja dia sedang di luar, Anata."
"Kakashi sudah memberi tahuku sejak kemarin jika jadwal Sasuke hari ini hanya menandatangani PPA. Dan petugas valet di apartemen Sasuke mengatakan jika Sasuke baru saja sampai di apartemennya."
Mikoto menghela napas sambil menggelengkan kepalanya, namun seulas senyum menempel pada wajahnya yang tetap awet muda meskipun mulai memasuki kepala lima. Meskipun terlihat tidak menyukai Sasuke, sebenarnya Fugaku lebih menyayangi Sasuke dibandingkan Itachi.
Sasuke yang liar, keras kepala, sulit diatur, dan berani mengambil jalan sendiri persis seperti Fugaku saat masih muda. Sedangkan Itachi anak penurut yang enggan menentang perintah Fugaku.
"Jangan berlebihan ya, Anata."
Fugaku tersenyum kecil. "Tidak akan."
STUN OF LOVE
Sasuke masuk ke adalam apartemennya dan menemukan Hinata tengah duduk di atas kasurnya dengan ekspresi awkward. Ia pun memberikan bungkusan yang berisi pembalut dan pakaian pada Hinata.
"Aku tidak tahu ukuranmu, aku hanya asal menebak," ujar Sasuke sambil menggedigkan bahu dan mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
Hinata mengerutkan alisnya, seingatnya semua ukuran pembalut sama saja, tidak ada urusannya dengan ukuran tubuhnya. Namun saat ia mengecek isi bungkusan yang berisi pakaian, wajahnya memerah. Hinata menatap Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sasuke melirik Hinata. "Apa?"
"Bukan apa-apa," jawab Hinata canggung.
"Aku akan membeli makanan di cafetaria." Sasuke keluar dari kamar tanpa menunggu persetujuan Hinata.
Hinata menghela napas, ia memang membutuhkan underwear dan pakaian kerja bersih karena akan kembali ke kantor. Tapi ia tidak menyangka Sasuke akan benar-benar membelikannya, mau membelikan pembalut saja sudah hal yang luar biasa sekaligus memalukan ditambah membelikan underwear.
Hinata tidak memiliki waktu untuk memikirkan itu, saat ini ia harus membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Ia juga harus membersihkan noda darah di atas seprai. Hinata pun kembali masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Sasuke memasang wajah datar sepanjang lorong, setiap lantai di apartemen ini memiliki cafetaria yang menyajikan menu dari berbagai belahan dunia. Entah mengapa ia merasa canggung saat memberikan barang-barang yang dibelinya pada Hinata, padahal saat tadi membelinya ia merasa biasa saja. Bukan kah saat membeli benada-benda itu ia seharusnya merasa canggung karena orang-orang memperhatikannya.
Sasuke mengacak rambutnya kesal. "Apa yang kau lakukan padaku, Hinata?" Sasuke menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya. Beruntunglah kawasan apartemennya privat, tidak akan ada fans ataupun paparazi yang mengikutinya.
STUN OF LOVE
Fugaku membuka pintu apartemen Sasuke tanpa memasukan sandi, perkiraannya tidak salah, Sasuke ada di apartmennya karena Sasuke tidak mungkin meninggalkan apartemennya dalam keadaan tidak terkunci.
"Sasuke," panggil Fugaku sesaat setelah masuk ke dalam apartemen. Tidak ada sahutan dari dalam apartemen. Fugaku dan Mikoto pun berkeliling apartemen mencari Sasuke. Tepat saat Mikoto membuka kamar Sasuke, Hinata muncul dari kamar mandi sambil membawa bungkusan pada tanganya dan sebuah handuk di tangan lainnya.
"Hinata," ujar Mikoto dengan wajah tak percaya ditambah saat melihat noda darah di atas seperai.
Ini di luar perkiraanku, batin Hinata. "Baa-san," Hinata berusaha menampilkan sebuah senyum ramah namun yang terlihat malah sebuah senyuman bersalah.
"Ada apa?" tanya Fugaku sambil menyelinap di antara Mikoto dan pintu. "Kau... bukankah kau kekasih Itachi? Mengapa kau berada di apartemen Sasuke?"
Mikoto menyikut perut Fugaku. "Hinata bukan kekasih Itachi! Dia bujangan lapuk!"
"Hinata," panggil Sasuke dari pintu depan. "Siapa yang datang?"
Perhatian Fugaku dan Mikoto teralih pada Sasuke, sebelumnya Fugaku sempat melihat noda darah di atas seprai. Terdengar suara sandal rumahan yang diseret di atas lantai marmer. Sasuke kaget dengan kehadiran kedua orang tuanya di apartemen namun yang lebih mengagetkan posisi mereka berdiri di depan kamarnya.
"Kaa-san, tou-san..." suara Sasuke masih terdengar tenang, namun nyaris tenggelam. "Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu jika kalian akan kemari?"
Fugaku menatap tajam pada Sasuke. "Kau harus memberikan penjelasan pada tou-san tentang semua ini!" perintah Fugaku.
Wajah Sasuke persis seperti anak sekolah yang baru saja pulang dari sekolah dan pihak sekolah menelepon kedua orang tuanya saat ia sedang berada di jalan, mereka memberitahu kedua orang tuanya jika Sasuke berbuat nakal saat berada di sekolah. Sasuke pernah memerankan peran seperti itu di salah satu dorama beberapa tahun yang lalu. Namun ekspresinya saat itu tidak begitu menghayati seperti saat ini.
Sasuke sempat melihat kepala Hinata menyembul di belakang ibunya, Hinata terlihat meringis kecil pada Sasuke. Sasuke menaruh makanan yang baru saja dibelinya dan mengikuti orang tuanyake ruang tengah.
STUN OF LOVE
Hinata menunduk, enggan menatap anggota keluarga uchiha. Ia duduk di samping Sasuke, berhadapan langsung dengan Fugaku dan Mikoto. Ini benar-benar sudah lebih dari memalukan. Ayolah, Kami-sama sepertinya sedang senang membuat Hinata malu.
"Jadi, kenapa kau meninggalkan kantor presiden sebelum penandatanganan PPA selesai?" tanya Fugaku datar dan dingin.
"Aku pergi setelah penandatanganan selesai, tou-san. Aku dan Hinata hanya tidak ikut makan siang di sana." Merasa namanya disebut, Hinata pun mengangkat kepalanya dan hal yang pertama Hinata lihat adalah senyuman lebar dari Mikoto.
Fugaku menyilangkan kedua lengannya di depan dada. "Alasan mendesak apa yang membuat kalian pergi dari sana? Untuk bercinta, hah?!" Fugaku menaikan intonasinya. "Di mana akal sehatmu Sasuke? Membawa kekasih Itachi ke apartemenmu dan menidurinya?!"
Mikoto mengusap pelan lengan Fugaku. "Anata, sudah. Kau tadi sudah berjanji bukan?" Fugaku hanya menghela napas menunggu penjelasan Sasuke dan Hinata. Perempat siku tak kasat mata muncul pada pelipis Sasuke.
"Kami tidak melakukan itu, jii-san!" jerit Hinata, "ini salah paham." Otak Hinata mulai berpikir keras, ia harus menyusun kata sebaik mungkin agar ia tidak semakin malu.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan bercak darah di atas tempat tidur Sasuke?"
Hinata terdiam, ia harus memikirkan kata-kata yang tepat agar Fugaku bisa mempercayai ucapannya dan tidak membuatnya semakin malu, apalagi di depan keluarga Uchiha. Sasuke berdecak pelan karena Hinata belum juga menjawab.
"Hinata sedang datang bulan dan darahnya merembes di atas tempat tidurku." Sasuke menggedigkan bahu, wajahnya tetap datar. Sedangkan Hinata menggigit bibir bawahnya agak keras karena ia benar-benar merasa malu saat ini.
"Benarkah?" tanya Fugaku penuh selidik.
"Tou-san bisa mengeceknya di portal berita online, beberapa menit yang lalu aku pergi ke minimarket di bawah untuk membelikan Hinata pembalut."
"Kau... membelikan Hinata pembalut?" tanya Mikoto tak percaya.
"Aku juga membelikan pakaian kerja dan pakaian dalam... Awww!" Sasuke meringis saat merasakan cubitan dari Hinata pada lengannya. Meskipun masih berbalut jas, Sasuke masih bisa merasa sakit. Sasuke benar-benar membuat Hinata malu seharian ini.
Mikoto segera mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sesuatu, saat sudah menemukannya ia menunjukannya pada Fugaku. Keduanya pun mengangguk serempak.
"Baiklah, tou-san percaya." Sasuke dan Hinata pun bernapas lega. "Tetapi, itu belum menjelaskan kenapa kalian meninggalkan tempat penandatanganan PPA sebelum waktunya," lanjut Fugaku.
"Hinata tidak suka keramaian, jadi kami makan siang di luar. Dan saat di jalan darah Hinata merembes pada roknya, jadi aku mampir kemari agar Hinata bisa mengganti pakaiannya."
Dalam hati Hinata bertepuk tangan karen Sasuke benar-benar jago berakting, tidak sedikitpun terlihat bahwa ia sedang berbohong, ia bisa menutupi semua kejadian sebelumnya dengan baik.
"Kau berselingkuh dari Itachi?" tanya Fugaku pada Hinata.
"Anata, sudah kukatakan, Hinata bukan kekasih Itachi. Dia memang sering bersama Itachi saat di Berkeley, tapi mereka hanya berteman. Bukan 'kah begitu Hinata?" Mikoto melemparkan sebuah senyuman pada Hinata.
Hinata mengangguk. "Itu benar, Jii-san. Aku dan Itachi hanya berteman."
"Bagaimana dengan Sasuke? Kau berkencan dengannya?"
"Kami dalam proses pendekatan," jawab Sasuke cepat sambil menyandarkan punggungnya. Ia sudah merasa agak rileks saat ini.
"Aku pikir kau akan menikah dengan Itachi, aku masih ingat jika kau selalu ada di apartemen Itachi saat kami menengoknya, kau juga selalu berjalan-jalan dengan Itachi." Fugaku mengatakannya dengan datar, tanpa tahu ucapannya melukai hati Sasuke.
"Aku tidak tahu kau sedekat itu dengan baka aniki," ujar Sasuke sambil melirik Hinata dari sudut matanya.
Mikoto tersenyum lebar, ini waktu yang tepat untuk menggoda anak bungsunya itu. "Salah kau sendiri tidak pernah ikut menengok kakakmu di Berkeley."
Sasuke mencebikkan bibirnya, menurutnya daripada ia harus jauh-jauh pergi ke California hanya untuk menengok baka anikinya, lebih baik ia melakukan pemotretan atau bercinta dengan artis-artis cantik yang tidak dikenalnya. Tapi tingkahnya yang tak acuh pada keluarganya itu, menjadi bumerang baginya. Mungkin saja jika saat itu ia lebih memilih mengikuti orang tuanya ke California, ia akan lebih mengenal Hinata, begitupun sebaliknya. Dan mungkin ia bisa sedikit mengurangi track recordnya yang benar-benar buruk.
Tapi, tidak ada gunanya menyesali itu, yang terpenting saat ini adalah memperbaiki reputasinya dan membuat Hinata jatuh cinta padanya.
"Jadi, apa tou-san dan kaa-san ada maksud lain kemari? Selain untuk menceramahiku?" tanya Sasuke ketus, meskipun dalam hatinya ia merasa senang karena ornag tuanya mau mengunjunginya meskipun bukan di waktu yang tepat. Frekuensi keluarganya bertemu dan berkumpul sangat jarang, bahkan bisa dihitung jari dalam sebulan. Namun belakangan saat Itachi sakit, mereka pun jadi sering bertemu dan berkumpul di rumah sakit.
"Tidak, tou-san hanya ingin memastikan jika penandatanganan PPA yang kalian lakukan berjalan dengan lancar."
"Tou-san tidak perlu khawatir, aku melakukannya dengan baik."
"Karena ada Hinata di sampingmu," ujar Mikoto seolah Hinata tidak ada di sana.
TBC
Aku gak bakal bahas tentang chapter ini, aku tau kacau banget. Kalian nggak mau ikutan give away nih? Seriusan lho ini belum ada peserta satupun. Padahal hadiahnya ada notes dengan cover cerita-ceritaku (SasuHina ada 5 bahkan) ada juga novel Muara Rasa dan Love is The End. Masih bingung cara ikutannya? Coba cek deh work yang Himekazeera's Give Away di akun Wattpadku. Yang aktif di ffn tapi pengen ikutan, kuy bikin akun wattpad!
