Title: Good Guy

Chapter: 9 of ?

Author: HannaNick09

Main cast:

Tan-Jung Zhoumi

~ Jung Henry

~ Jung Yunho

~ Jung Jaejoong

~ Tan Siwon

Warning:YAOI, BL, BoyxBoy, TYPO(S), OOC, CERITA GAJE

Pairing: KrisxTao, HangengxHeehul, KyuhyunxSungmin, SehunxLuhan, YunhoxJaejoong, ?

Rated: T

Genre: Crime, Drama, dan silahkan anda tentukan sendiri

Disclaimer: This is couple, and this is fav. Author

Milik SM, dan milik Family

Summary: Tao dulu adalah murid yang paling nomor satu disekolahnya sebelum anak baru bernama Kris datang dan mengacaukan semuanya.

If you don't like please don't bash

Happy reading

.

.

.

Good Guy Chapter 9 Zhoury Ver.

/|\

/o|o\

.

.

.

TING TONG~~~

"Ya,tunggu sebentar" ucap sang maid yang berjalan agak cepat ke koridor keluarga jung, setelah membuka pintu tersebut telihatlah seorang tamu berperawakan tinggi dengan wajah tertutup oleh tudung jaket dan kacamata hitam gelap yang menggantung dihidung mancungnya.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya maid

"Dimana Jung Yunho?" geretakkan dari tamu didepannya membuat sang maid setengah ketakutan

"A..ada apa ya tuan mencari tuan besar?" tamu itu mendecih, tangan kokohnya menarik pakaian berenda tersebut hingga kaki sang maid kini tidak menapaki lantai.

Maid itu menggerang, kedua tangganya berusaha melepaskan gengaman kuat namja yang mencengkram pakaiannya. "ku-kumohon lepaskan" rontanya

"Kau membuang waktu, lebih baik aku membunuhmu" namja itu menggeluarkan pistol dari balik saku jaketnya, seketika sang maid ketakutan saat ujung pistol menyentuh dahinya.

"ada apa ini?" mereka langsung menoleh kearah sumber suara tersebut, sang maid akhirnya bisa bernafas lega saat namja tersebut melepaskannya kasar hingga terjatuh kelantai yang dingin. Nyonya jung, menatap sengit kearah namja tersebut,

Langkah besar dari namja mencurigakan tersebut membuatnya kini hanya beberapa langkah didepan Jaejoong. Tangan Jaejoong yang sembunyikan disaku memegang erat pistol yang dia jadikan sebagai pelindung, "Dimana Yunho?" tegas namja itu

"Aku tidak tahu" jawab Jaejoong ketus, tanpa banyak waktu namja itu langsung menembakkan beberapa butir peluru kearah Jaejoong namun sayang Jaejoong yang siaga menghindar dengan selamat sedangkan sang maid yang kini entah hilang kemana.

Jaejoong bersembunyi dibalik lemari, mengisi kembali pelurunya yang habis dan kembali menembaki lawannya. Kemampuan lawannya yang hebat membuat Jaejoong makin tersudut, bunyi tembakan membuat kediaman Jung saat itu menjadi tambang petarungan beberapa kaca pecah saat tembakan yang dibidik oleh musuh dihindar Jaejoong.

Dilain pihak, sang musuh masih saja berhasrat menembaki tempat perlindungan Jaejoong seperti lemari, sofa bahkan guci guci tua kesayangan tuan rumah. Tak hanya pistol, revolver pun tak lepas dari bawaanya. Setelah memastikan peluru dari pistolnya habis dia berencana menunggu hinga Jaejoong keluar dari tempat persembunyiannya sebagai kode palsu agar Jaejoong menganggapnya sudah kehabisan peluru.

Beberapa menit kemudian dia bisa melihat Jaejoong mendekat kearahnya, senyum kemenangan menghiasi wajahnya. Segera, dia langsung keluar dari persembunyiannya dan menembaki Jaejoong dengan revolvernya.

Lengah, Jaejoong yang tidak memperhitungkan kejadian tersebut akhirnya terkena tembakan meleset yang melukai bagian luar lenganya. Derap langkah ramai menggelilingi seluruh bagian rumah, sekejap seluruh maid menodongkan pistolnya kearah tamu mencurigakan tersebut. Seringai muncul diwajah cantik Jaejoong "Kau kalah".

Semua maid kini meluncurkan seluruh pelurunya, tak terhitung banyaknya maid yang menggelilingi tempat kejadian tersebut. Maid yang berada diseluruh lantai pun juga ikut menembakkan pelurunya, bahkan beberapa maid juga ada menggunakan snipper. Itulah kehebatan Jung,

Debu dari kekacauan menutupi target mereka, Jaejoong memberi tanda agar para maid untuk berhenti. Menunggu asap tersebut menghilang, otaknya berfikir secara cepat untuk menyusun rencana. Namun sayang, sebuah benda perak berada dilehernya.

Para maid tercekat, selama ini tidak pernah ada yang bisa mengalahkan kehebatan dari maid keluarga Jung yang selama ini. Namun, seseorang. Hanya seorang manusia yang tidak dikenal dapat meruntuhkan ribuan peluru kebanggan mereka.

"jadi siapa yang kalah?" seringai licik dari tamu tersebut, suara tersebut terasa tak asing bagi Jaejoong.

'Kau itu namja lemah, pergi dari hadapanku'

'Kau hanya namja tak berguna, brengsek'

'Berhenti menyogokku dengan donat'

Jaejoong ingat suara itu,

Perlahan dia mendongak kebelakang dan menatap namja beridentitas mencurigakan tersebut,

Beriringan dengan salah satu maid yang menggeluarkan sebuah tembakan yang mengenai bagian tudung jaket hingga merobeknya dan terlihatlah seluruh bentuk kepala namja tersebut, dan rambut coklat kemerahan itu mengingatkan jaejoong akan seseorang yang dia kenal.

"Ada apa ini ribut ribut?" gerutu Yunho yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat dari rambutnya yang basah dengan handuk yang melingkar dilehernya. Seketika dirinya tercekat dengan keadaan menggenaskan dari rumahnya. Kaca yang pecah, barang barang yang sudah tak berbentuk lagi dan apa ini maid yang menodongkan senjatanya, Yunho lebih kaget lagi dengan Jaejoong yang disandera didepan matanya.

"Zhoumi...lepaskan aku!" geram Jaejoong

Tunggu...

Zhoumi, apa dia salah dengar...

Mimi ada disini

"Zhoumi? Benarkah itu kau?" tanya Yunho penuh tanda tanya, namun sayang pisau yang digenggam namja bernama Zhoumi tersebut terlepas bersamaan dengan tubuh besar yang jatuh diatas tubuh mungil Jaejoong. Alangkah terkejutnya lagi saat Jaejoong yang mengangkat tanganya dan menemukan darah yang kini mulai merembes kedalam pakaiannya.

'apa yang terjadi?' batin Jaejoong

Good Guy

/|\

/o|o\

"Bagaimana keadaanya Yun?" Yunho berusaha menenenangkan Jaejoong yang terlihat gelisah tidak karuan. Setelah lampu operasi mati dan pintu terbuka Jaejoong segera mendekat kearah Yunho yang telah keluar dari ruangan tesebut dan menanyainya dengan berbagai pertanyaan.

"Dia baik baik saja walau keadaannya mengenaskan, aku menemukan beberapa peluru ditubuhnya dan dia kehilangan setengah dari darahnya. Kami berusaha sekuat yang kami bisa Jae, kini Zhoumi dalam keadaan koma kumohon mengertilah Jae"

Yunho terus menggelus lembut Jaejoong yang terisak sambil mengumamkan kalimat menenangkan kepada Suaminya, hingga Yunho dapat merasakan seseorang menepuk bahunya hingga mengharuskan dia menoleh,

"Yo Yun, aku pulang Sungmin sudah mengomel padaku" Yunho mengangguk, sosok yang menepuk bahu yunho itu menatap kearah Jaejoong yang kini menangis sendu lalu memasang wajah menyeringai.

"Hoi Jaejoong, wajahmu jelek sekali saat menangis lain kali pasang wajah yang lebih baik" Jaejooong yang berada didekapan Yunho seketika berhenti menangis dan mulai mengucapkan umpatan mengerikan dibalik bibir mungilnya kepada seseorang yang baru saja mengatainya. Yunho mulai merasakan aura yang membuat tubuhnya merinding dan melirik kearah Namja didekapannya.

"Sudahlah Kyuhyun, cepatlah pergi Sungmin pasti menunggumu" Sosok itu mendecih, walau enggan akhirnya dia berjalan pergi setelah melepaskan pakaian hijaunya yang biasa digunakan untuk operasi.

"Brengsek itu! AKKKHH...BISA BISANYA KAU BERTEMAN DENGAN ORANG ITU YUN!" Yunho hanya menggelengkan kepalanya, berusaha bersabar dengan tempramen Jaejoong yang berubah. Suara Jaejoong menggema diseluruh lorong bawah tanah Mansion Jung, bahkan Maid yang sedang membersihkan lantai sampai harus menutup kedua telinganya rapat rapat.

"Biarkan Kyuhyun dan sosoknya, Jae. Lebih baik kau beristirahat setelah kekacauan ini, tenangkan dirimu Mimi kita pasti baik baik saja" Jaejoong mengangguk, Yunho meminta Maid yang berada didekat mereka untuk menggantar Jaejoong kekakamarnya hingga kini hanya Yunho yang masih berada ditempatnya.

Dia terdiam sambil mengingat kejadian saat dirinya berada diruang operasi tadi

'Yun, aku menemukan dua butir peluru didekat jantung dan hatinya'

'Yun, ada tulang rusuknya yang patah empat'

'Yun, sebuah peluru ada ditungkai kaki kanannya'

'Wow, dia kehilangan setengah darahnya hebat dia masih bisa hidup'

'Woah, ada bekas jahitan yang terbuka'

Yunho ingin sekali seperti Kyuhyun yang tenang saat mereka diatas ruang operasi tadi, namun sedari tadi juga dia merasa Kyuhyun menatap tubuh Zhoumi yang sepertinya penasaran, entah kenapa. Kyuhyun berkali kali membantu Yunho dan kini dia harus mengucapkan banyak terima kasih pada makhluk bermulut pedas itu, walau sepertinya jika Jaejoong mengetahuinya yang akan berimbas pada dirinya yang diusir dari rumah beberapa hari.

Yunho menggeleng, ini bukan saatnya memikirkan itu. Dia mengingat kembali seberapa gugupnya dia saat menanggani tubuh Zhoumi yang terluka parah yang anehnya masih bisa bermain main dengan Jaejoong dengan tubuh mengkhawatirkan seperti itu, dia merasa sebagai ayah yang tidak berguna didepan Zhoumi yang tergeletak tak berdaya.

Good Guy

/|\

/o|o\

Hari XXX, pukul 11.20

XXXchat. Com

ChildJung: Hari yang indah

Prince_Sea: Entahlah, hari ini sepertinya akan mendung seolah olah berduka

SCT: Kuharap ucapanmu benar Prince_Sea

Aku menantikan saat dimana hujan datang mengguyur kota dan sebuah tanah

BlackPanter: Sebuah tanah? Seperti kuburan?

SCT: Tepat, kau pintar BlackPanter

Aku sangat meninginkan seseorang didalam sana

BlackPanter: Siapa? Musuhmu? Sainganmu?

Prince_Sea: Mungkin seseorang yang telah merebut pacarnya =_="

SCT: Ya, kau benar dia telah merebut pacarku

Dan dia

Adalah

Hyung-ku

ChildJung: Dia pasti orang yang sangat mempesona, hingga pacarmu direbut oleh Hyungmu sendiri

BlackPanter: Apakah Hyungmu orang yang brengsek?

Prince_Sea: Tidak, mungkin Hyung-nya Playboy!

SCT: Tidak, dia hanyalah Namja yang perkataan dan pikirannya berlawanan

Sudah ya, aku harus pergi

Sampai jumpa

SCT Logout

Good Guy

/|\

/o|o\

Henry menatap seseorang yang tertidur tenang melalui kaca jendela, perhatiannya hanya tertuju pada sesosok makhluk yang tenang dengan beberapa jarum menusuk bagian tangan kirinya.

Dia terus bertanya tanya pada dirinya sendiri, mulai dari siapa orang didepan matanya, dan apa hubungannya dengan kedua orangtuanya hingga kini mereka bergantian berjaga siang-malam bahkan mereka mengabaikan dirinya, dia mendecih lalu memandang kearah lain.

Sudah seminggu lebih dia tertidur dan belum bangun sama sekali, dia hanya khawatir pada Ummanya yang terlihat pucat akibat terlalu memaksakan diri menjaga sosok itu. Seberapa pentingnya sosok itu hingga Ummanya mengabaikan dirinya, bahkan sosok itulah yang sebelumnya membuat teror dan hampir membunuh Ummanya.

Perlahan kakinya melangkah masuk kedalam dan menutup pintu hingga membuat Jaejoong menatap kearah anaknya, Jung Henry. Sosok berkulit putih dengan rambut pirang halus dan bibir merah yang menurun dari dirinya.

Jaejoong tersenyum lesu kearah Henry, "Hai sayang, ada apa kemari?" Henry menaruh nampan yang dibawanya diatas sebuah meja dekat ranjang lalu menatap kearah Ummanya, "makanlah Umma, lebih baik Umma istirahat nanti kesehatan Umma memburuk lagi" Ucap Henry sambil menarik kursi didekat Ummanya

Jaejoong menggeleng, "Aku tidak mau istirahat sebelum Zhoumi bangun" Henry mengerutkan dahinya, Zhoumi...apakah Zhoumi sosok yang kini dielus lembut oleh Ummanya, jadi namanya Zhoumi.

"Umma istirahatlah, biar aku yang menjaganya" Jaejoong menggeleng lemah, matanya terus menatap pada wajah Zhoumi yang tertutup rapat, Henry pun juga terdiam tak berniat berbicara satu kata pun hingga tercipta hening didalam kamar tersebut.

"Umma...kenapa saat itu Appa melarang kita pergi ke Tan Mansion?" hening, Kedua mata Henry menatap penuh tanda tanya kearah Jaejoong yang masih menatap Zhoumi. Beberapa saat keheninggan, hingga akhirnya Jaejoong membuka mulutnya, "Appamu Hangeng meminta kita untuk tetap disini, tak ada seorang pun dari keluarga kita yang ingin kembali kesana bahkan Siwon pun sudah menjawabnya bukan, itu sebabnya Zhoumi memilih meninggalkan rumah setelah Dongsaeng-mu dari Umma Heechul lahir"

"jadi Zhoumi ini anak dari Hangeng Appa?" Henry menatap tidak percaya kearah sosok yang tertidur tak berdaya tersebut, Jaejoong mengangguk.

Jaejoong yang sedaritadi menggengam tangan Zhoumi merasakan adanya gerakan kecil hingga dia dengan cepat menatap cemas kearah Zhoumi sedangkan Henry yang tahu dengan keadaan yang saat ini berlangsung segera menekan bell yang menghubung dengan kamar kedua orangtuanya.

Tak lama kedua kedua mata milik Zhoumi perlahan terbuka walau beberapa kali Zhoumi terlihat menggedipkan matanya berusaha fokus pada penglihatannya yang agak buram, hingga kini terbuka sempurna dan menatap kearah Jaejoong dan Henry.

Pintu kamar terbuka hingga menimbukan bunyi yang keras, Yunho masuk dengan keadaan terengah engah. Kedua kakinya berjalan secepat mungkin mendekat kearah Zhoumi yang sudah sadarkan diri, sedangkan Zhoumi menatap datar kearah Yunho lalu menoleh kearah Jaejoong bahkan melirik kearah seseorang yang berada dibelakang Jaejoong walaupun wajahnya tak terlihat jelas.

"Ini dimana?" Tanya Zhoumi dengan tenggorokannya yang kering sambil berusaha bangun dari tidurnya yang lama hingga pening memenuhi kepalanya, hampir seperti lengguhan namun Yunho dan Jaejoong yang berada didekatnya bisa mendengar walaupun tak terlalu jelas

"Ini dirumahku Mi, bagaimana denganmu? Apa kau butuh sesuatu?" Zhoumi tidak menjawab, matanya melirik kearah segelas air mineral yang berdiri tegak diatas meja disamping tempat tidurnya. Segera dengan tangannya yang bebas dia mengambil gelas tersebut dan meneguknya cepat,

Ketiga orang yang diabaikan Zhoumi hanya terdiam dan memperhatikannya secara seksama hingga suara Yunho menginterupsi keheningan diantara mereka,

"Mi, apa yang terjadi padamu?" Kini sepasang mata yang kosong menatap langsung kearah Yunho lalu membuang nafas berat, "Ceritanya panjang Yunho"

Yunho hanya mengangguk, tangan kanannya yang gatal segera menyentuh pucak kepala Zhoumi dan menggelusnya lembut, "Aku senang kau baik baik saja Mi, aku sangat khawatir padamu"

Zhoumi hanya diam dengan apa yang Yunho lakukan padanya, sepasang matanya kini berfokus pada Jaejoong yang menatapnya dengan perasaan sendu dan bahagia membuat Zhoumi sendiri risih ditatap seperti itu.

Didalam otaknya yang luar biasa, kini memutar kilasan kilasan yang terjadi sebelum dia berakhir diatas kasur putih yang berada dibawah tubuhnya. tak butuh lama hingga akhirnya Zhoumi tahu siapa orang itu, dialah yang melawan Zhoumi saat di Mansion Jung dan seseorang yang hampir saja Zhoumi bunuh dengan tanganya sendiri

Bunuh

Sebuah kata yang dia gunakan untuk orang tidak berguna yang hanya membuang waktunya yang berharga,

Ck... dia mengingatkan dirinya untuk membunuh beberapa maid dan seseorang yang berada didekat Yunho karena telah membuang waktunya.

"Yunho? Dia siapa? Pembantumu? Pecat dia"

Senyum angelic Yunho tidak bisa meredam kemurahan hati Jaejoong, perasaan sayang Jaejoong tergantikan dengan api membara yang menyelimuti hatinya. Sebuah tangan terulur menarik ujung pakaian putih yang Zhoumi kenakan, tidak peduli jika yang ditarik baru saja sadar dari masa kritisnya. Zhoumi hanya menatap Jaejoong dengan wajah datar, tidak merasa gentar dengan apa yang dilakukan Jaejoong.

"Berani sekali kau mengatai Ummamu sendiri dengan pembantu, tuan Tan-Jung Zhoumi brengsek"

Zhoumi tidak perduli dengan kepalan tangan Jaejoong yang ingin meninju wajahnya toh kini Yunho sudah melindunginya dan menyeret paksa Jaejoong pergi dari ruangan Zhoumi hingga kini hanya tingga mereka berdua,

Mereka berdua, 'Zhoumi dan Henry'

"Lalu, kau siapa?" Henry menoleh kearah sumber suara itu, dia segera bersandar ke dinding dan menatap wajah Zhoumi.

"Bagaimana bisa margamu Jung?" Tanya Henry, tak berniat menjawab pertanyaan Zhoumi, dilain pihak Zhoumi sendiri mendengus tak suka dengan apa yang keluar dari bibir Henry.

"Pertanyaan tidak dijawab dengan pertanyaan, bodoh" atmosfer didalam ruangan itu terasa memanas, dengan Zhoumi dan Henry yang keras kepala tidak mau menjawab pertanyaan satu sama lain, apalagi Zhoumi selalu menggunakan kata bodoh yang sepertinya menjurus kearah Henry,

Zhoumi sendiri memang bisa dibilang egois, benci diabaikan dan selalu mengabaikan. Benci ditanyain tentang kehidupannya dan malah mengalihkan pembicaraan.

"Aku tanya sekali lagi, bagaimana bisa kau memiliki marga Jung?"

"Buka urusanmu, Pendek"

Urat tadinya seketika menegang, dan dengan tidak terimanya Henry segera keluar sambil membanting pintu meninggalkan Zhoumi sendirian dan sengaja mengusir Henry secara kasar karena butuh waktu sendirian dan membuat strategi untuk kedepannya,

'Kurang ajar kau, mengataiku pendek' Batin Henry

Beberapa Maid yang melintas akhirnya tidak berani sedikit pun menyapa tuan muda yang berada diambang batas kemarahannya.

Good Guy

/|\

/o|o\

"Selamat pagi, Mochi sayang"

"Pagi Umma"

Henry menarik kursi makan lalu segera mendudukinya, matanya melirik tak bernafsu kearah Sarapan yang dibuat oleh Maid, tak sadar jika Jaejoong meliriknya heran.

"Ada yang salah sayang? Apa kau mau makan yang lain?" Henry hanya menggeleng sesekali menguap, kepalanya meroleh kearah kiri dan kanan mendapati ada yang kurang.

"Appa dimana, Umma?" Tanya Henry

Jaejoong yang berada disamping segera menoleh, "Dia sedang dibawah, sedang membangunkan Mimi"

Henry mengangguk, yang dia ketahui Kamar Zoumi berada dibawah tanah yang dibuat secara rupawan oleh Yunho. Bahkan Kamar operasi yang dulu digunakan Yunho dan sahabatnya Kyuhyun juga berada dibawah tanah. Sebuah kamar operasi, dua buah kamar dan sebuah sauna berada di lantai bawah tanah.

"Memangnya Zhoumi teme tidak bisa bangun pagi hari" Gumam Henry sambil memainkan sarapannya,

Sayangnya Jaejoong mendengar ucapan Henry, dan memasang wajah sedih. "Henry sayang, memangnya kau tidak sayang Hyung-mu itu?"

'Ne ne, tentu saja sayang...sampai sampai mengataiku pendek. Dia sungguh perhatian ha...ha...ha...'Batinnya Henry sambil memasang wajah tersenyum palsu

"Zhoumi pasti membuat masalah lagi... Dasar anak itu" Jaejoong berdecak sebal sambil memainkan sendoknya.

"Yah...tidak heran sih, mungkin Zhoumi baru dapat tidur sekitar jam empat pagi mendengar dari malam teriakkannya menggema dikamarku sampai sampai Yunho bangun dan meninggalkanku" Henry tidak mendengarkan curhatan Jaejoong, pikirannya terfokus pada 'Tadi malam' 'Teriakan' dan 'Tidur'.

"Umma, memangnya tadi malam teriakkannya sangat kencang?" Jaejoong menggelengkan kepalanya sambil berdecak sebal, "Pantas saja tidurmu nyenyak, aku lupa kau adalah anakku yang seperti beruang hibernasi"

Henry diam diam menggerutu dalam hati, "Aku sedang tidak ingin bercanda Umma, memangnya sekeras apa suaranya?"

"Tidak keras sih, mungkin karena saat malam hari rumah ini terasa sunyi sampai terdengar hingga seluruh penjuru Mansion" Henry hanya mengangguk acuh tak acuh, beberapa saat kemudia dia mendapatkan sebuah pertanyaan baru dipikirannya

"Umma tahu penyebab Zhoumi berteriak seperti itu?" Sepasang mata indahnya menatap heran kearah Jaejoong dan yang ditatap juga menatap kearahnya dengan ekspresi jahil seolah mempermainkannya.

"Hooo...kenapa kau berfikir aku tahu penyebabnya?"

"Hanya instusi. Melihat Umma terlihat sangat khawatir saat dia datang secara tidak baik kemari" Henry dapat mendengar helaan nafas berat Jaejoong namun dia tidak perdulikan dan menajamkan pendengarannya saat Jaejoong manjawab kalimatnya.

"Yah, tidak heran sih mengingat diriku sendiri kerabat Heechul, tapi aku baru sadar kehadirannya saat Yunho mengenaliku padanya saat makan malam dikediaman Tan. Dia sungguh menakutkan sampai sampai aku tak ingin mengingatnya" Ujar Jaejoong

"Jadi? Dia punya masalah pada psikisnya?"

Jaejong menggelengkan tangannya, "Yah...dibilang psikis sih tidak, tapi suara itu mememang menganggu. Apalagi saat malam hari dan kau berada didekat Zhoumi, rasanya memang sangat menakutkan"

"Memangnya ada apa?" Henry mulai tertarik dengan arah pembicaraan Jaejoong yang tiba tiba tidak memutar dari arah perbincangan, tidak biasa. Henry menyipit penasaran,

"Aku kurang tahu detailnya, hanya saja setelah Zhoumi menyentuhkan selembar kertas usang itu tiba tiba sebuah suara mengerikan terdengar. Kata Yunho, Hendry yang memberikannya" Henry merasa pembicaraan ini mulai tidak masuk akal,

"Sebuah kertas usang? Suara mengerikan? Dan Hendry? Siapa itu Hendry?"

"Yang penting Zhoumi, Hyungmu punya paranoid atau entah bisa dibilang kutukan dimalam hari. Setiap malam dia mendengar suara suara yang orang lain tidak bisa dengar dan bahkan kau bisa melihat penampakannya. hanya aku, Appamu dan Zhoumi sendiri yang bisa mendengarnya. Jika kau ingin keterangan lebih lanjut tanyakan pada Zhoumi itu pun jika dia percaya padamu"

"Kenapa?" Henry menatap Jaejoong penuh tanda tanya, sedangkan Jaejoong sendiri hanya tersenyum lembut sambil mengelus rambut Henry hingga mengabaikan sarapannya.

"Kenapa apanya?" Dan kata itu diputar balikkan oleh Jaejoong sambil tersenyum jahil yang membuat Henry rasanya ingin sekali melampiaskan kekesalannya secara terang terangan yang namun dia tunda sementara waktu.

"Maksudku, kenapa dia sampai bisa mendengar suara aneh tersebut?"

"Karena dia kesepian"

"AKU. TIDAK. KESEPIAN. JAEJOONG" mereka berdua menoleh kearah sosok yang berjalan santai kearah meja makan. Zhoumi segera menarik kursi dan mendudukinya dengan kedua kakinya menekuk menyentuh dada.

"Zhoumi, turunkan kakimu" Walaupun sedikit menggerutu namun akhirnya Zhoumi menurunkan kedua kakinya menyentuh marmer yang dingin. Henry menatap heran kearah Zhoumi yang merasa tidak kedinginan saat telapak kakinya menyentuh marmer, padahal dirinya yang memakai sendal rumah saja masih bisa merasakan dinginnya lantai.

"Pagi, Jae. Pagi, Mochi" Sesosok lagi datang dengan wajah cerah yang sepertinya baru saja selesai mandi, Yunho segera menarik kursi dan duduk disamping Zhoumi.

"Maaf Mi, tadi malam aku dan Jaejoong tidak bisa langsung menemanimu tidur. Kemarin kami punya pertemuaan penting dengan relasi kami hingga larut malam dan Henry juga baru pulang sekitar tengah malam" Yunho merasa bersalah saat melihat kantung mata Zhoumi,

"Hmmm..." Zhoumi menggumam pada Yunho dengan kedua matanya yang mencari kearah sesuatu yang menurutnya berada diatas meja makan.

"Jaejoong dimana-"

"Tidak ada donat, sebelum kau makan sesuatu yang ada disini. Zhoumi"

"Brengsek. Cepat beritahu dimana kau menyembunyikannya"

"Tidak sebelum kau makan ini"

"Aku. tidak. Mau"

"Zhoumi. aku tidak terima bantahan. Cepat makan atau tidak ada donat sama sekali"

Zhoumi segera berdiri lalu mengeluarkan sebuah pistol dibalik saku celananya dan menodongkannya kearah Jaejoong, namun bukannya takut Jaejoong malah berjalan mendekat kearah Zhoumi dan memeluknya erat.

"Zhoumi sayang, dengarkan Umma. Kau harus makan sesuatu yang sehat lalu aku akan memberikan apa yang kau mau. Paham"

Yunho mengabaikan Jaejoong saat Zhoumi menodong pistol kearah Jaejoong, bukannya tidak perduli terhadap Jaejoong hanya saja satu hal yang pasti.

'Zhoumi tidak akan pernah melukai keluarganya'

Seberapa kasarnya Zhoumi, semua itu hanya geretakkan semata. Dan sampai saat ini pun seberapa kerasnya Jaejoong tetap Zhoumi tidak pernah melukainya secara tepat, atau lebih benarnya sengaja melesetkan tembakannya jika dia sudah menarik pelatuknya,

Zhoumi dan Jaejoong, mereka berdua saling berbisik dan Henry tahu itu. Sedari tadi Henry penasaran seberapa dekatnya kedua orang tuanya terhadap Zhoumi dan perasaan itu membuatnya terus penasaran.

Henry yang terlalu melamunkan sesuatu tidak sadar jika mereka sudah kembali duduk ketempat duduk semula. Zhoumi walau enggan, dia mengambil sesuatu yang ada diatas meja makan walaupun sedikit namun itu mampu membuat Jaejoong senang bukan main,

"Hari ini aku dan Yunho libur. Kami akan menemanimu jalan jalan, kau mau kemana Mi?"

Henry diam diam melirik kearah Zhoumi, penasaran. "Bawa Axcel dan semua barang penting yang ada dirumah. Itu saja"

Yunho segera mengangguk, "Aku akan menyuruh seseorang untuk mengangkut barangmu,"

"Jangan biarkan, mereka menyentuh milikku yang menakutkan"

"Aku mengerti Zhoumi,"

Dan Henry sadari setelah itu kedua orang tuanya segera terdiam dengan pikiran mereka masing masing.

Good Guy

/|\

/o|o\

"Kenapa kau sekesal itu?" Tanya Siwon sambil menandatangani berkas yang dibawa Henry, namun bukannya menjawab Henry malah mengucapkan sumpah serapah secara berurutan dengan bibir mungilnya dan merasa diabaikan Siwon hanya menggeleng namun agak menyungingkan senyumannya.

"Siapa yang membuatmu sekesal itu?" Siwon memutar kursinya berhadapan dengan Henry, dirinya dirundung penasaran yang tinggi namun lagi lagi Henry tidak menjawab tapi Siwon bisa melihat wajah tertekuk dan aura suram yang menyelimuti Henry melihat itu ingin sekali Siwon tertawa namun terpaksa dia tahan agar tidak mendapat tinju gratis dari Henry saat ini.

"Ayolah, beritahu aku nanti aku akan membantu menyelesaikan masalahmu" Setelah membuang nafas berat beberapa kali akhirnya Henry menceritakan semua mulai dari keabsenannya tidak masuk kerja selama seminggu penuh untuk menjaga kesehatan Jaejoong yang memburuk karena terlalu khawatir pada Zhoumi hingga melewatkan jam makannya lalu saat Zhoumi yang secara halus –walaupunDenganKalimatYangSungguhMenyakitkan- sengaja mengusirnya.

"Tunggu sebentar...Zhoumi? maksudmu Tan Zhoumi?" Henry menatap Siwon yang memasang wajah shock, kenapa...memangnya ada yang salah batin Henry.

"Memangnya ada Zhoumi lain yang kau kenal?" Tanya Henry, diam diam dia menatap penuh tanda tanya pada ekspressi yang dikeluarkan Siwon. Kepala yang tertunduk hingga dahinya menenpel pada meja, wajah tampannya kini penuh dengan keringat yang menetes padahal AC yang saat ini dinyalakan sangat dingin.

'Pasti ada yang salah disini' Batin Henry

"Siwon Hyung? Apa ada yang salah?" Tersadar dari lamunannya, Siwon hanya menggeleng lesu sambil mengatakan 'tidak ada' berkali kali namun Henry bisa mencium aroma yang janggal antara Siwon walaupun itu entah apa.

"Menurutmu, bagaimana sifat Zhoumi?" Tanya Henry, Siwon terlihat menjatuhkan tubuhnya membuat posisi duduk yang santai lalu memasang wajah berfikir, "Dia orang yang keras, benci dengan orang yang lemah, tidak mudah dibaca jalan pikirannya, dan mungkin lidahnya harus diperbaiki...jika dia masih hidup"

'Jika dia masih hidup?' Batin Henry lagi

"Umma sangat membenci sekaligus menyayangi Zhoumi, dia selalu jadi anak yang dipercaya oleh Appa sejak kecil dan aku selalu berada persis dibelakangnya hanya untuk mendapat perlindungan"

"Dia sesosok manusia sempurna, bahkan terlampau sempurna. Kecerdasannya, kekuatan fisiknya, bahkan daya pikatnya tidak mampu aku tandingi. Namun sayang dia meninggal sepuluh tahun yang lalu bersama dengan Kibum akibat kecelakaan di jalan raya dan sosoknya tidak akan pernah kulupakan"

Henry menatap Siwon tidak percaya, "Meninggal...sepuluh tahun yang lalu? Tapi dia sekarang ada dirumahku Hyung! Lalu Appa dan Umma juga bilang jika namanya Zhoumi!"

Siwon menggeleng keras lalu berdiri sambil memukul keras keras mejanya hingga menimbulkan bunyi dengan beberapa kertas berhamburan, "Tidak mungkin, kau pasti bohong...kau pasti hanya berkhayal, Zhoumi sudah meninggal karena kelalaiannya sendiri"

Henry yang merasa ada atmosfer yang salah dari Siwon segera membaca situasi dan kondisi untuk segera menyelesaikan pembicaraan dan segera keluar. Dia juga sedikit melirik kearah Siwon yang terlihat kini terlihat seperti manusia gangguan jiwa secara tiba tiba, dan ini pasti berhubungan dengan makhluk yang pernah mengatainya pendek.

CK...,

"Benar, mungkin aku hanya berkhayal. Kalau tidak salah kemarin aku dan Appa membuka buku album dan menemukan sebuah foto seseorang yang Appa bilang namanya Zhoumi, itu saja dan kau benar hyung...mungkin aku yang salah"

Perlahan namun pasti ketegangan pada tubuh Siwon memudar, nafas berat tergantikan dengan deru yang ringan, dengan segera Siwon menyeka keringat yang membasahi wajahnya dengan lengan bajunya lalu memasang wajah normalnya,

"Kalau begitu aku akan ke kebawah dulu, kau ingin menitipkan sesuatu Siwon Hyung?" Siwon menoleh kearahnya lalu kembali memasang senyum ramah yang menurut Henry palsu, "Kalau begitu bisa belikan aku kopi kaleng dan Henry..."

"Ya Hyung?"

"Maafkan yang tadi, aku terlalu emosian jika mengenai Zhoumi Hyung"

Henry mengangguk, segera keluar dari ruangan CEO dan berjalan menuju lift. Satu hal yang dia sadari saat ini, Siwon selalu peduli terhadap tubuhnya dan tidak pernah meminum kopi macam apapun kecuali saat dia sedang frustasi. Dan ini membuat kecurigaannya terhadap kehadiran Zhoumi meningkat,

Good Guy

/|\

/o|o\

Henry kira kira sudah menggelilingi setiap bagian dalam rumahnya namun tidak menemukan seseorang pun, mansion yang besar itu kini terlihat sepi. Jam yang melekat ditanganya sudah menunjukkan pukul delapan malam namun kedua orang tuanya bahkan maid yang tidak terhitung jumlahnya kini menghilang tanpa sebab, dan ini membuat Henry khawatir.

Tanpa sadar dia berjalan melangkah kebagian belakang rumahnya, indra pendengarannya menangkap sebuah suara yang berasal dari arah kolam renang dengan segera dia berlari mendekati arah suara tersebut.

Setelah beberapa menit berlari, akhirnya Henry sampai ditepi kolam renang dan menatap lurus kearah seseorang yang mencelupkan dirinya kedalam air dimalam hari. Sosok itu terlihat tenang dengan mengambang didalam air, kakinya dia ayunkan bergantian.

Karena penasaran Henry pun memanggil sosok itu, walaupun kesal masih ada disudut hatinya, "Zhoumi hyung!"

"Hyung..."

Sosok itu tidak membalas, Henry kesal. Dia mengambil nafas dalam dalam lalu berteriak sebisanya, "BAKA ZHOUMI!"

Henry bisa mendengar sebuah decak kekesalan, Zhoumi pun akhirnya membuka matanya dan segera mengayunkan kakinya kebawah agar menyentuh lantai kolam.

"Berisik! Telingaku tidak tuli, dasar pendek"

Otot wajah Henry menegang, sumpah serapah kini dia utarakan lewat hatinya. Amarahnya dia redakan terlebih dahulu lalu beralih kearah Namja didepannya,

"Kemana semua orang disini?"

"Yunho pergi ke konfrensi pertemuan pemegang saham," Ujar Zhoumi kembali melanjutkan aktivitasnya yang terganggu karena Henry. Secara bergantian kedua kakinya mengayuh dengan tubuh yang mengambang, disisi lain Henry malah memasang posisi yang nyaman lalu menatap penuh takjup pada kolam yang menampilkan cerminan dari langit atas.

"Lalu para maid yang tiba tiba menghilang? Dan juga Umma?"

"Yunho memberikan liburan pada mereka selama seminggu di Villa,"

"Lalu Umma?"

"Kau punya ponsel?" Henry merogoh kedalam saku celananya dan mengeluarkan ponselnya lalu menatap heran kearah Zhoumi,

Dengan sepasang mata yang masih tertutup Zhoumi kembali memberikan instruksi, "Masuka kedalam air"

"Eh? Untuk apa?" walaupun begitu tetap saja, Henry memasukan ponselnya kedalam air walaupun dengan berbagai pertanyaan muncul dibenaknya,

Zhoumi yang menyadari kebodohan Henry segera meraih batu yang berada ditepi kolam dan memukul Henry tepat di dahinya hingga si pemiliknya mengaduh kesakitan.

"BAKA ZHOUMI! kenapa memukulku! Ini menyakitkan" Henry bisa merasakan benjolan kecil didahinya yang terantuk batu melayang. Terlalu lama mengelus dahinya yang terasa sakit, Henry tidak sadar jika Zhoumi kini tepat didepannya dengan tangan kirinya mengenggam sebuah ponsel yang untungnya belum mati total.

Dengan sebelah tanganya yang bebas Zhoumi menarik pakaian Henry hingga kakinya tidak menyentuh tanah, Henry yang baru sadar segera menoleh dan mendapati wajah datar yang didepan matanya.

"Apa kau memang bodoh sampai tidak sadar jika kau sedang dibodohi" Henry mengerjap beberapa kali hingga akhirnya sadar lalu mulai berteriak tidak jelas,

"APA? JADI TADI KAU MEMPERMAINKANKU?" Henry meronta liar, sebelah tanganya yang bebas menjambak rambut Zhoumi dan sebelahnya lagi sedang bersiap untuk melontarkan sebuah batu yang tadi Zhoumi lempar padanya.

"Shhh..." Desis kesakitan akibat tubuhnya ditendang keras oleh kaki Henry dan dahinya yang kini dilempari batu hingga mengeluarkan darah segar, tanpa sadar Zhoumi melepaskan cengkramannya dari Henry lalu berjalan masuk kedalam rumah dalam keadaan pakaian renangnya basah tak lupa menyelipkan ponsel Henry kedalam tas kerjanya tergeletak ditanah.

Beberapa menit setelah itu, Henry segera bangun sambil menenteng tasnya hingga nada dering terdengar dari tasnya. Segera dia mengeluarkan sesuatu yang berbunyi tesebut dan tersenyum bahagia mendapati ponselnya masih bisa menyala dengan normal,

Beberapa teks pesan dari Jaejoong segera membuatnya lemas tidak berdaya,

To: Chibi Mochi

From: Umma Jae

'Mochi sayang...hari ini tolong temani Hyungmu tidur ne ^_-, Umma masih sibuk belanja karena diskon menanti. Mungkin Umma akan menginap di Hotel bersama Appamu.

Jangan buat Hyungmu marah ne,

Umma minta, tolong bantu Zhoumi sebisamu.'

Zhoumi sendiri hanya menghela nafas setelah mendapat sms dari Jaejoong, lalu kembali berkutak pada komputernya namun dengan pikiran yang melayang jauh kemana.

'Aku tidak yakin dia mau Jaejoong' Batin Zhoumi

Sepasang matanya terus berkutak dengan komputer yang berada dikamarnya yang terpencil disudut lantai bawah tanah, lampu kamarnya diganti oleh Yunho yang paling terang dengan jumlah yang banyak, beberapa peralatan komputer tersedia lengkap dengan koneksi tercepat seperti yang dia minta pada Yunho. Selalu Yunho yang memberikan apa yang dia mau.

Uang?

Dia punya dengan jumlah yang tak terhitung, mengingat pekerjaanya yang tidak bisa dibilang sedikit saat dia hidup ditengah kedamaian sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Dan kenapa dia meminta Yunho membelikan semua yang dia inginkan?

Karena Yunho adalah Appanya, karena Yunho selalu ada disisinya, karena Yunho selalu ada disaat dia kebingungan, saat dia melakukan kesalahan, saat dia mendapat kebahagiaan. Yunho selalu ada untuknya,

Dan Yunho mengajarinya menjadi kuat saat Yunho sedang tidak ada disampingnya,

Zhoumi menghela nafas seiring dengan tubuhnya yang lemas tak bertenaga, menghentikan game onlinenya lalu melirik kearah pintu, dan entah merasa kecewa. Walau dia berfikir entah mengapa.

Sebelah tangannya meraih handphone yang tergeletak diatas meja dan menatap layar yang menunjukkan waktu dini. Sepuluh tiga puluh. Saat dimana seseorang tertidur, dia malah berkutak menghabiskan malam dengan hal yang menurutnya bisa mempercepat malam.

Setelah kemarin malam, dia bertekad tidak akan tidur disaat malam hari lagi seperti biasanya. Kemarin adalah malam pertamanya setelah sekian tahun tidur dimalam hari, dan suara itu tidak pernah dia lupakan sampai saat ini.

Seperti saat ini, telinganya seolah bisu atau mungkin terbiasa dengan suara yang seolah olah menarik dirinya untuk mencari perak tajam dan menghabisi nyawanya seketika. Suara gergaji yang seolah olah memotong leher penuh darah, kapak yang memotong tubuh manusia beserta teriakkan psikopat dan juga korbannya, lagu lagu kematian yang mengalun dan membuat bulu kuduk merinding atau mungkin menghinoptismu seketika, bunyi boots seseorang menyeret tubuh tak bernyawa. Dan yang terakhir suara Hendry yang memintanya untuk ikut dengannya, kematian.

Terbiasa bukan berarti tidak terpengaruh, dan itulah adanya Yunho yang selalu ada walaupun akhirnya Yunho harus merelakan waktunya dengan Jaejoong berdua demi dirinya, Ck...dia terlalu berhutang banyak pada Yunho.

Brengsek,

Dan sekali lagi dari sekilan banyak suara, sepatu boots yang berdecak basah...suara benda yang diseret...kapak yang menyentuh lantai...semua suara itu terasa mendekat kearahnya, terus mendekat. Dan secara tiba tiba bunyi kapak yang menebas lehernya, tubuhnya yang tiba tiba tidak bisa bergerak, tawa yang menurutnya menjijikkan, bunyi ceceran darah, kepalanya yang jatuh menggelinding dilantai.

Well...

Ini menakutkan,

Rasanya mati berkali kali...

Dan rasanya selalu sama...

Menakutkan...

Dan dia selalu ingat ini selalu menghantuinya selama ini.

Good Guy

/|\

/o|o\

"...i...i..."

Silau mengisi penglihatannya yang buram

"...mi...z...mi"

"Zhoumi..."

Beberapa kali Zhoumi menggerakkan kelopak matanya hingga penglihatannya menangkap bayangan seorang berkulit putih yang menatapnya dengan sorot khawatir dan membuat Zhoumi jijik ditatap demikian, namun dia urungkan beberapa saat. Tubuhnya terasa kaku hingga akhirnya dia sadar masih duduk diatas kursi dengan sebuah laptop tepat didepan matanya. Zhoumi memberi ceklist bahwa posisinya tidak berubah.

Zhoumi menatap lantai yang terlihat bersih, berbeda dengan ilusinya tadi. Ceklist,

Telapak tanganya menyentuh batang leher dan meraba keadaanya. Ceklist, tidak terjadi apa apa

Dan mungkin kejiwaanya yang perlu diperbaiki. Untuk ini dia menundak bagian ceklist,

"Kau baik baik saja Zhoumi?" Henry menatap khawatir pada Zhoumi yang penuh peluh dan pucat, dia baru saja masuk kekamar Zhoumi setelah beberapa kali diketuknya pintu sang pemilik dan tidak mendapat jawaban. Henry pikir Zhoumi sengaja untuk mempermainkannya, namun setelah mendengar teriakan dari dalam, dengan segera dia masuk kedalam dan segera menyadarkan Zhoumi.

Zhoumi segera menundukkan wajahnya,"Kau mendengar apa saja?"

Henry menghiraukan pertanyaan Zhoumi, dia terlalu khawatir dengan manusia yang berada didepan matanya. Tangannya meraih segelas air minum yang baru saja dibawakan seorang Maid beberapa waktu yang lalu dan menyodorkannya kearah Zhoumi dan diterima walau enggan.

"Kau baik-"

"Aku baik. Dan bisakah kau menjawab pertanyaanku tanpa berdebat" Henry bungkam, tidak mungkin dia mengatakan jika dia mendengar teriakan Zhoumi sangat memekak tertelinganya walau dengan jarak yang rumayan jauh. Mungkin Zhoumi, mengatakannya secara tidak sadar hingga mempertanyakan. Dan nada suaranya terlihat lelah.

Henry melirik kearah Zhoumi yang terdiam kaku. Tidak melakukan apa apa. Dan ini membuat Zhoumi dimata Henry berbeda. Jauh berbeda. Terlihat frustasi, mirip dengan Siwon dengan bulir keringat dingin menyebar diseluruh wajahnya. Hanya saja Zhoumi terlihat menutupinya sedemikian cepatnya agar tak membuat Henry curiga berlebihan. Terlihat dari posturnya yang tiba tiba berdiri tegak, dan ekspresinya yang kembali biasa.

Jangan pasang wajah seperti itu, batin Henry

Henry menarik pakaian Zhoumi dari belakang hingga pemiliknya menoleh, "Kau ada masalah?"

"Kenapa kau berfikir seperti itu?" Tanya balik oleh Zhoumi dengan ketus, namun ekspresi yang datar

Merasa Zhoumi akan pergi keluar saat pakaian yang digenggamnya tertarik, Henry makin keras kepala menarik kembali Zhoumi agar tidak kabur entah kemana, "Lepaskan aku, pendek"

"Tidak, kau harus tidur ini sudah malam. Umma memintaku menemanimu" Henry menatap Zhoumi dengan ekspresi menantang, Zhoumi makin kesal dengan perilaku Henry akhirnya menarik tangan yang bertengger dipakaiannya dan pergi entah kemana meninggalkan Henry.

Good Guy

/|\

/o|o\

"Ada apa lagi, tidak bisakah kau tinggalkan aku beberapa saat"

"Buka pintunya Zhoumi..."

Zhoumi lelah, ketukan pada pintu mobilnya terus saja menganggu dan Henry masih belum menyerah. Beberapa jam yang lalu dia masih damai menepikan mobil milik Yunho didekat sungai, namun hanya beberapa menit yang lalu sosok yang dihindarinya datang dan menganggu waktu damainnya.

GPS sialan, dia lupa Yunho selalu memasang satu disetiap mobil kesayangannya

TOK TOK TOK

"Apa maumu, pendek?" Zhoumi menggeram kesal, akhirnya dia menurutkan kaca mobilnya dan Henry akhirnya bisa bernafas lega saat dia akhirnya mendapat sedikit celah untuk berbicara dengan Zhoumi.

"Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang dan tidur. Lihat, waktu sudah menunjukkan waktu dua belas malam" Zhoumi hanya menatap tak acuh pada Henry dan jam tangannya, penglihatannya kembali berfokus pada PSP merah yang sesuai dengan ujung surai rambutnya.

"ZHOUMI-TEMEEEE! Ini sudah malam! Tidak bisakah kita pulang dan tidur, aku benar benar mengantuk" Diam diam Zhoumi melirik Henry yang sudah merenggek didekat pintu mobilnya sekita tiga puluh menit, kantung matanya sudah terlihat jelas dan raut wajah yang lelah.

Zhoumi langsung mengumpat blak-blakan, "Brengsek, brengsek, brengsek, Damn! Shit! Fuck!"

Akhirnya Zhoumi mempause permainannya dan menoleh kearah Henry, "Kau yakin bisa tahan selama dua jam, pendek?"

Henry menurunkan ego-nya, ngantuk sudah menyebar keseluruh kesadarannya hingga otaknya melambat dan berakhir

"Memangnya kita mau apa selama dua jam?"

Untungnya Zhoumi hanya berbekal sebuah PSP, dompet dan kunci mobil hingga tidak bisa memperbaiki kepintaran seseorang yang diambang batas sadar. Bertubi tubi Zhoumi mengumpat seperti kebiasaanya secara universal dikalangan orang terdekatnya, kecuali Henry yang baru beberapa hari mengenal Zhoumi dan merasa panas dengan kalimat *beep* *beep* *beep* diatas umur tujuh belas tahun keatas.

"Heh, mulutmu itu tidak pantas tahu! Sini kau biar kubersihkan dengan sikat toilet"

"Memangnya kau bisa hah? Dasar bedebah sialan, sana pergi ke jahanam kau bocah pendek!"

Zhoumi keluar lalu membanting pintu mobilnya, dan mulailah cekcok dan saling dorong antara makhluk tinggi dengan makhluk cantik namun bukan yeoja. Zhoumi yang sudah membalas perkataan Henry langsung mendorongnya begitu pula sebaliknya dengan Henry, tak sadar mereka sudah diujung dan terakhir Zhoumi mendorong Henry yang naasnya Henry malah melingkarkan kedua tangannya pada bagian tubuh Zhoumi yang bisa dicapai hingga akhirnya mereka berdua jatuh dengan keadaan basah.

Zhoumi muncul terlebih dahulu dengan Henry yang berada dilingkaran erat lengannya dan langsung menarik diri menuju ketepian. Pakaiannya basah, tubuhnya basah kuyup, Zhoumi melirik kearah Henry dan menggumamkan 'Pembuat masalah digenggamannya, dasar bedebah kubalas kau berkali lipat'.

Dia segera memeras pakaiannya, dan melirik kearah Henry yang masih belum sadarkan diri. Zhoumi mulai curiga, dia pikir Henry hanya mengerjainnya namun setelah beberapa menit kemudia kecurigaannya lenyap terganti dengan khawatir walau tidak terbaca dari raut wajahnya yang tenang.

Daun telingannya dia dekatkan pada posisi letak jantung, untuk ini dia mendengar detak yang lemah. Segera dia menumpukan kedua tangannya menjadi satu dan memompa sesuai dengan pertolongan pertama dalam kedokteran sambil sesekali kembali mendengar bunyi jantung Henry.

"Uhukkk...Uhukkk..." Melirik kearah Henry yang sudah sadar dan akhirnya bisa bernafas lega, berawal dari Henry yang berkeras hati menyuruhnya segera pulang dan berimbas pada Zhoumi dengan pakaian basah. hebat,

Anak Yunho sungguh hebat,

Ingin sekali dia membunuh bocah didepannya tanpa banyak buang waktu, namun mengingat dia anak Yunho dan terlebih Jaejoong dia sangat urungkan walau ingin.

"A-aku dimana?"

Mendadak lupa ingatan, hebat...setelah membuatku seperti ini kau bisa bisanya lupa. Kusumpahi amnesia permanen mati rasa kau bocah

Entah kenapa Zhoumi akhir akhir ini mudah sekali terpengaruh oleh dunia luar, lidahnya harus segera dibawa menuju tempat perbaikan.

"TE-TEMEEE! APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU?!" Zhoumi mengerutkan kening, diam diam amnesia tiba tiba teriak seperti gadis diperkosa dan apa apaan itu 'Teme' sadar diri kau lebih Teme daripada yang kau hina bocah. Memangnya siapa dia bisa mengatainya Teme.

"Hoi bocah, diam atau kurobek mulutmu" Death glare Zhoumi hanya membuat Henry makin gelisah sama seperti seorang yang akan melakukan malam pertama. Setelah perdebatan batin antara Devil(Zhou)Mi dan Angel(Zhou)Mi akhirnya Zhoumi menarik tangan Henry dan membawa mobilnya menuju hotel terdekat.

Mengingat dia juga sudah berkurang kesadarannya dan terlalu lelah mengatasi makhluk amnesia mendadak, gadis diperkosa dan malam pertama.

Meninggalkan mobil yang dibawa Henry tergeletak indah diparkiran disamping mantan lokasi parkir mobil Zhoumi.

Good Guy

/|\

/o|o\

"Enghh...beerat..."

"Hmmm..."

"Hoamm..."

Sosok itu makin meringkuk nyaman didalam dada Namja berbahu lebar,pucuk kepalannya menempel pada dagu Namja yang melingkarkan lengannya pada pinggang rampingnya dan kepalannya menindih nyaman diatas lengan panjang sebagai bantal bulu angsa. Selimut putih tebal membuat mereka makin meringkuk dalam satu sama lain dikarenakan pendingin ruangannya yang hawanya menusuk kulit yang tanpa lapisan benang sedikitpun.

'Drrrr Drrrr'

'Drrrr Drrrr'

"Hmmm...Bunyi apa itu?"

Tangan yang tadinya bertengger indah diantara bahu Namja yang memeluknya kini berusaha mencari benda berbunyi menganggu tersebut. Tangannya meraba kesana kemari hingga menemukan sumber bunyi tersebut.

Tubuhnya segera berbalik agar memudahkannya mengambil ponsel yang menganggu sleeping beautynya tersebut.

Secara refleks, dia menggeser ikon berwarna hijau dan mendekatkannya kedaun telinga tanpa tahu siapa pemilik sang ponsel.

"Halooo..."

"..."

"Halo?"

"...Hyung?"

Sebuah suara asing, terdengar tegas dan berwibawa. Namun juga nada keheranan.

"Kau siapa?"

"Kau barusaja tabrakan maut hingga tidak mengenaliku? Ini aku Kris"

Kris? Seingatnya dia tidak punya kerabat maupun kenalan bernama Kris. Namun logat maupun gema suara ini mirip dengan seseorang yang sepertinya dia kenal.

Tapi siapa?

Kasur tiba tiba terasa bergerak sedikit, tangan yang berada dipinggangnya makin mengerat hingga mendorong tubuh mungilnya makin terperosok dada bidang, sebuah tangan mencuri ponsel yang berada ditangannya dengan sebelah tangan lainnya masih diam dipinggangnya.

Bantal pribadinya terasa mengangkat dan turun namun terasa makin membesar dan suara serak akibat bangun tidur menghiasi paginya.

"Kris? Apa yang kau inginkan pagi buta seperti ini?"

Hening,

Rasanya familiar, tapi dia lupa

"Tidak, memangnya kenapa kau bertanya seperti itu"

Sambungan antara kesadaran dan kenikmatan sebuah kasur masih diambang keresahan, akibatnya dia sadar telah mendengar suara serak pagi yang menawan dan kenikmatan tidur yang mendamaikan.

Tunggu

"Ck, kubilang tidak ada ya tidak ada. Kenapa kau keras sekali bocah pirang."

TUNGGU

TUNGGU SEBENTAR

"Kubilang berkali kali. Aku tidak tidur dengan kucing liar seperti mereka"

C-COTTO MATTE

"Aku sedang dihotel, dan dengan siapa bukan urusanmu. Titik"

Bunyi debumman kecil saat dia menaruh ponselnya kembali diatas meja nakas dan melanjutnya tidurnya tanpa tahu seseorang yang dipelukkannya sudah terbuka lebar kedua matannya. Segera dia mendudukkan dirinya dan menatap sekitar atau lebih tepatnya disampingnya,

Sosok yang tertidur tamvan, rambut acak acakan sexy, bibir merah yang seolah minta dikecup basah, hidup mancung yang ramping, dan tubuh tanpa pakaian yang tertutup hanya dengan selimut,

"Aku dimana?" tanyanya pada diri sendiri sambil meraba tubuhnya yang juga sama tanpa selembar kain

Namja-YangMiripGadis- Amnesia, ceklist

Beberapa menit berlalu, tidak sadar hingga sosok disampingnya juga bangun dan terduduk sama sepertinya, mereka sama sama menoleh.

"Kau sudah bangun rupannya, sial jam berapa sekarang?"

Lawan mainnya tergagap, matanya melotot dan telunjuknya mengarah pada sosok disampingnya namun yang ditunjuk malam mengacak acak rambutnya khas bangun tidur dan meraik jam yang berada diatas nakas.

"Sial sudah jam seg-"

"KYAAAAAAAAAAAA! ZHOOOOUMMMII TEEMMMMEEEEE MESUMMMM! APAAAA YYYYAANGGG KAAAUUULLLAAAKKKKUUUKKKAAANNN PPPPAAADDDAAAKKKKUUUU!"

Namja-YangMiripGadis- diperkosa, ceklist

Semua barang yang didekatnya segera dilemparkan kearah Zhoumi, baik itu kalender yang digunakan sebagai hiasan diatas nakas, jam weker, bahkan isi laci yang berisi remote pendingin ruangan, testpack, kondom, dan juga obat kuat.

"ZZHHOOOUUUMIIII! TTTTEEEMMMEEEE!"

Zhoumi berusaha menghindar dari lemparang ganas Henry, tubuh bagian bawahnya juga dia utamakan ditutupi oleh selimut sampai sampai tak sempat menghindar dari kekejaman sekotak testpack.

"Hentikan hoiiii pendek, kuso gaki! Kau mau membunuhku!"

Henry tidak mendengar atau mengkin berusaha masa bodo dengan Zhoumi, tubuhnya pun dia tutupi dengan selimut hingga bagian atas berusaha menutupi tubuh indahnya dari serigala berselimut hotel.

Tiba tiba saja pintu didobrak, membuat keduanya kaget dan segera menoleh lalu menatap heran serta bingung pada Cleaning sevice berpakaian maid dengan warna hitam-putihnya namun berusia tua. Sudah nenek nenek.

"Astaga cuk, Nenek tahu rasanya pas malam pertama. Rasanya memang sakit, tapi percaya sama nenek rasanya tidak ada duanya. Dulu pas nenek masih muda nenek kuat buat sama pasangan nenek bisa sampai lima ronde. Apalagi kalian yang masih muda, yang satu gantengnya gak ketulungan dan yang satunya lagi manis apalagi body-nya masih mulus. Tadi malam nenek dengar kalian habis main sepuluh ronde...aduh cukkk...nenek kasih salut buat kalian...jempol bergoyang dari nenek, gimana rasanya masih sakit? Maklumin aja tadi malam suara kalian terdengar sampai ke resepsionis..."

Oh...god, Zhoumi menyumpah dalam hati

Namja-YangMiripGadis- malam pertama, ceklist

Seingatnya dia tidak melakukan apapun terhadap Henry, selain...

"Aduhh...itu semenya masih pegang pegang aja, nenek kangen sama kakek dulu...dulu kakek juga sering pegang pegang nenek pas bangun tidur apalagi..."

Oh, Crap...kenapa lagi nenek ini malah mengenang masa lalu dan bagaimana bisa nenek itu membuka pintu kamar hotel yang tentu saja dikunci dari dalam.

Henry diam, tidak berkutik. Bingung mau bilang apa, kabel jaringannya lagi bermasalah. Nenek yang berada didepan pintu terus mengoceh tentang mereka berdua dan masa lalunya tanpa bisa Henry pahami sedangkan Zhoumi kembali mengoceh dalam hati.

Alih alih befikir, dagunya malah ditarik mendekat kearah Zhoumi dan dihisapnya bibir bagian bawahnya. Zhoumi memiringkan kepalanya dan berusaha menperdalam ciumannya, merasa mendapat serangan Henry juga membalas dengan mengigit bibir Zhoumi hingga berdarah.

Merasa taktiknya berhasil, dengan mudah dia mengeluarkan lidahnya dan mengabsen deretan putih indah yang berada didalam. Berapa menit hingga akhirnya Henry kehabisan stok akan udara hingga menyerah dan melemaskan rahangnya hingga lidahnya kini saling bertautan dengan milik Zhoumi. kedua tangannya yang sebelumnya memukul tubuh Zhoumi kini terlihat mendorong lemas tanpa tenaga berharap Zhoumi memberikan waktu untuknya menarik oksigen.

Mengerti isarat tubuh Henry, akhirnya dia melepaskan tautan lidahnya pada Henry hingga benang saliva mereka yang kini malah saling bertautan, dilain tempat nenek tadi terdiam melihat kissing scene secara langsung dan mengingatkannya pada pasangan sehidup sematinya dulu.

"Nenek, kami punya urusan bisakah anda pergi. Sekarang."

Tanpa buang waktu, nenek itu segera pergi meninggalkan mereka namun seseorang yang berada dibelakangnya yang membuat mereka berdua sama sama terdiam.

"Mimi?"

"Yunho?"

"Mo-mo-mochi Sa-sa-sayang..."

"U-umma..."

END

OR

TBC

I DON'T KNOW

Note: Guweh kombek...sori buat update yang lama, tugas pr dan makalah sungguh melelahkan otak dan tenaga kawan,

'Gile lu drong' setahun gak update rasanya kek gak punya ide sama sekali yang makin gue ke blabasan gak nulis fanfic sama sekali...

Gak ada yang PM, GAK ADAKAH YANG KANGEN SAMA GUE T,T...OTL, *PUNDUNG POJOK MASJID

Sori dori spe*dy, gue kek manusia gak punya jejak yang menelantarkan ff buatan gue sendiri...

BTW, lu udah pada nonton Shingeki No Kyojin belum?GIMANA YANG UDAH NONTON? ASIK GAK? NGEFANS SAMA ABANG EREN GAK? NGEFANS SAMA KOPRAL YANG TINGGINYA 160 ITU GAK? NGEFANS SAMA RIVAILLE-EREN GAK? UDAH JADI FUJO RIREN BLOM? KAPAN RIVAILLE NGELAMAR EREN PAKE SASAK TINJU?!

GILE CAPSLOCK-NYA MANTAVV

SORI BUAT UPDATENYA YANG KATANYA! KATANYA! UDAH ENEM BULAN GUE SIA SIAINNN...

BANYAK TUGAS IT YANG NUMPUK MINTA DIKERJAIN –DAN ANIME YANG MINTA DIDOWNLOAD-

Akhir akhir ini gue sering mengunjungi , gue langsung cinta sama Kuroko, Akashi, Aomine, Midorima dan sekutunya –untuk Kuroko no Basuke-.

GILE LU ITU YANG BIRU BIRU MUNGIL SIAPA YANG PUNYA

ADOHHH ITU YANG MERAH MATANYA BEDA SEBELAH MANA UKENYAAA

IYA! YANG BIRU GELAP NAMANYA AOMINE DAKIAN KANN?!

ETO ETO! YANG HEJOOO MANA UKENYAAAA! SHIN-CHANNNN KAPAN NGELAMAR TAKAO! DIE WAITING ELUU BROOO! MANA KAZUNARI? MANA UKE ELUUUU!

Oke, sip gue mulai ngelantur,

Semua review yang kalian buat gue baca semua dan gue terharuh...T,T. REVIEWWW LOEEEE BADAIII, KEK *TEMBAKANNYA ABANG MIDORIMA SHINTAROU...

*TEMBAKAN CINTA* SORI KALO YANG INI KHUSUS BUAT TAKAO

TERIMA KASIH...