Mian kalau banyak typos_

"Cih! Kau masih mencarinya rupanya? Huh! Gara-gara kau, wajah dan tubuh Jaejoong hyung memar-memar! Sekarang lambung Jaejoong hyung juga semakin lemah gara-gara kau!"

"Mwoh? Yah, dimana Jaejoong sekarang?," Yunho berjalan ke arah pintu kamar mereka dan mendapati Jaejoong sedang tertidur pulas di kasur mereka.

"Istrimu hamil, Yunho ah.. Bisa-bisanya kamu meninggalkannya seperti itu." kata appa Jung.

"Mwoh?! Hamil?!"

.

.

.

.

.

Chapter 9

.

.

.

.

.

Author PoV

Yunho membatu setelah appa Jung memberitahunya berita mengejutkan tersebut. Jaejoong hamil?! Saat ini terlintas berbagai macam hal di benaknya. Siapa appa dari bayi itu? Tentu saja Yunho. Well, itu adalah salah satu dari sekian banyaknya tanya iawab dengan dirinya sendiri. Yunho yang tadinya masih berdiri di ambang pintu kamarnya dan Jaejoong, membalikkan badannya dan berjalan pelan-pelan ke arah namja cantik yang notabene nya adalah istrinya. Yunho duduk di sisi tempat tidur mereka dan mengelus pipi halus Jaejoong dengan permukaan jari telunjuk dan jari tengahnya. Merasa ada yang menyentuhnya, Jaejoong melenguh sedikit dan membuka matanya perlahan.

"Halo, Jae.. Calon umma sudah bangun?" kata Yunho lembut yang sontak membuat mata Jaejoong terbelalak kaget dan langsung merubah posisinya menjadi duduk.

"Hei, pelan-pelan.. Nanti uri aegya kaget kalau kau bangun tiba-tiba seperti itu." Mulut Jaejoong terbuka lebar karena syok dengan apa yang Yunho katakan barusan. Uri aegya? Bahkan semut pun merinding mendengarnya.

"U-Uri aegya?" tanya Jaejoong gelagapan.

"Ne, uri.." Yunho mengecup pipi Jaejoong. "..aegya." dan turun ke perut Jaejoong lalu mengecupnya seperti yang ia lakukan pada pipi Jaejoong.

"EHEM!"

Yunho dan Jaejoong melihat ke arah pintu dan mendapati orang-orang yang telupakan di ambang pintu. Kedua umma dan appa mereka, Junsu, dan Changmin. Keenamnya memasang ekspresi wajah yang berbeda setelah menyaksikan yunjae moments yang mereka saksikan barusan. Para umma berlompat-lompat ria karena terlalu senang, para appa menatap malas pasangan mesra yang menurut mereka bodoh itu, Junsu yang sedang mengelus-elus kedua lengannya karena merinding, dan Changmin yang menahan tawa karena tingkat kegombalan Yunho yang sudah mencapai tingkat dewa.

"Sepertinya kami mengganggu. Kalau begitu kami tinggalkan kalian berdua. Apapun masalah kalian, selesaikanlah." kata appa Kim sambil menyeret kerah belakang Junsu dan Changmin dan diikuti oleh umma Kim, appa Jung dan umma Jung.

Setelah keenamnya pergi, Jaejoong masih dalam keadaan blank sedangkan Yunho? Dia seperti anak kucing yang menyerukkan kepalanya ke leher Jaejoong. Aneh? Tentu saja. Jaejoong malah berpikiran kalau Yunho sedang kerasukan. Jaejoong sepertinya masih clueless dengan sikap Yunho terhadapnya.

"Y-Yah, lepas..!" kata Jaejoong sambil berusaha mendorong tubuh Yunho agar menjauh darinya.

"Hmm.. Shireo. Aku ingin istirahat. Besok sudah hari sekolah jadi kita harus tidur sekarang." sahut Yunho tanpa melepaskan Jaejoong.

"Kalau begitu cepat pindah ke sofa depan." perintah Jaejoong.

"Tidak mau. Aku mau tidur di sini denganmu dan uri aegya." kata Yunho sambil mendorong tubuh Jaejoong hingga keduanya berbaring bersampingan di tempat tidur.

"Yah Jung Yunho! Lepaskan! Kalau mau tidur, sana tidur di sofa!" kata Jaejoong sambil meronta minta dilepaskan.

"Tidur atau kau kuperkosa." gumam Yunho sedikit bergurau. Ia hanya ingin mengerjai Jaejoong.

"..." Jaejoong langsung diam membatu mendengae ancaman Yunho. Bibirnya sedikit membentuk pout karena ia kesal. Kesal karena ia takut dengan ancaman Yunho.

Semalaman itu Yunho tidak mau melepaskan Jaejoong dan semalaman itu juga Jaejoong tidak bisa tidur.

Keesokan paginya, keduanya memulai hari seperti biasa. Bangun tidur, mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Di perjalanan menuju ke sekolah, Yunho terus memperingatkan Jaejoong agar menjauh dari para anak buah Yunho karena Yunho tidak ingin terjadi sesuatu dengan Jaejoong dan janin yang sedang dikandung Jaejoong. Yunho juga memperingatkan Jaejoong agar tidak membuat masalah dan berkelahi.

"Ck.. Jung, kau ini berisik sekali sih." Kata Jaejoong dengan ketus. Sebenarnya Jaejoong tidak bermaksud untuk berkata ketus seperti itu. Itu ia lakukan untuk menutupi ego nya yang senang dengan perhatian Yunho.

"Hah.. Bukan begitu, Jae. Ini semua untuk kebaikanmu dan uri aegya. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kalian." Kata Yunho sambil terus memfokuskan pandangannya pada jalanan.

"Apa pedulimu? Kau bahkan meninggalkanku di bandara dengan yeoja jelek itu." Cibir Jaejoong kesal.

"Dia itu Bae Seulgi, sepupu jauhku. Wae? Apa kau cemburu?" tanya Yunho usil.

"Mwoh?! Pfft! C-Cemburu? Anio! Mana mungkin hal itu terjadi Jung." Sahut Jaejoong dengan gugup.

"Berhentilah memanggilku begitu, Jae." Kata Yunho datar dan dibalas dengan Jaejoong yang membuang muka.

Lima belas menit perjalanan mobil menuju SMA Shinki terasa begitu cepat karena selama perjalanan Yunho terus memperingatkan Jaejoong berbagai hal. Dan bukannya Jaejoong tidak suka, hanya saja, kalian tahu sendiri bagaimana mood orang yang sedang hamil kan..

Setelah Yunho memarkirkan mobilnya, Yunho dan Jaejoong keluar dari mobil. Jaejoong berjalan terlebih dahulu meninggalkan Yunho yang baru saja menutup pintu mobilnya. Jaejoong tidak menghiraukan Yunho yang terus memanggilnya. Lagipula memang sudah kesepakatan mereka untuk menutupi bahwa mereka telah menikah. Yang mengetahui hal ini tentunya hanya Junsu, Changmin, dan Yoochun.

Jaejoong yang sudah berada di dalam gedung sekolah dihadang beberapa yeoja. Ingat kejadian seorang Ahra yang memnyebarkan berita tentang Jaejoong dan Yunho? Masalah itu belum selesai. Setidaknya belum bagi para yeoja fans Yunho. Sekitar 3 atau 4 yeoja menghadang jalan Jaejoong. Jelas hal ini membuat Jaejoong kesal. Pasalnya wajah para yeoja itu bukanlah hal yang indah untuk dilihat di pagi hari.

"Minggir. Aku mau lewat." Kata Jaejoong malas.

"Silahkan saja lewat. Kalau kau bisa~" kata seorang yeoja yang mengenakan nametag di seragamnya. Tiffany Hwang namanya.

"Namja lembek ini? Menikah dengan Yunho oppa? Mana mungkin kan.." kata seorang yeoja yang diketahui bernama Hara dengan nada menyindir.

"Kubilang minggir. Meski kalian adalah yeoja, aku tidak akan segan-segan meratakan hidung bekas operasi kalian." Kata Jaejoong mengancam. Namja cantik ini tidka pernah bermain-main dengan ancamannya jika dia sedang bad mood.

"Yah! Siapa yang operasi?! Hidung kami ini asli!"

Tiffany yang sudah siap untuk menampar Jaejoong berhenti ketika Junsu menangkap tanganya sebelum tangan yeoja tersebut mendarat di pipi Jaejoong. Junsu mendeath glare para yeoja di depannya dan menampik kasar tangan Tiffany. Tak hanya Junsu yang memandang para fans Yunho tersebut dengan pandangan membunuh. Di belakang Jaejoong berdiri menjulang seorang Shim Changmin dengan tatapan membunuhnya yang mengintimidasi itu.

"Kau!" Junsu menunjuk tepat di depan wajah Tiffany. "Hidung plastik!" lanjutnya mengatai.

"Dada implan! Ayam suntik! Muka beton!" Ditunjuknya satu-satu para yeoja di depannya. "Sekali lagi kalian mendekati Jaejoong hyung, akan kuratakan kalian dengan paku bumi! Arasseo?!" Ancam Junsu. Merinding sudah para yeoja centil itu. Merka memutuskan untuk kabur daripada dibunuh oleh Junsu.

"Gomawo, Su." Kata Jaejoong. "Mereka menjengkelkan sekali."

"Hah.. Mereka tidak akan kembali. Bagaimana keadaanmu, hyung? Seharusnya hari ini hyung jangan masuk dulu." Kata Junsu khawatir dan diikuti dengan anggukan dari Changmin.

"Ne, hyung. Seharusnya hyung istirahat dulu di rumah." Kata Changmin.

"Aniya.. Aku tidak apa-apa. Kalian lupa kalau aku ini kuat?" Kata Jaejoong sambil tersenyum meyakinkan. "Kajja, kita masuk kelas."

.

.

.

.

.

Sementara itu, di depan gerbang SMA Shinki, ada seorang yeoja yang berdiri sambil melihat bangunan sekolah tersebut dengan seksama. Yeoja tersebut memakai pakaian yang ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dan jelas bukan baju yang pantas dikenakan di dalam sekolah. Banyak laki-laki yang sedang lewat di depan sekolah tersebut memperhatikan cara berpakaian yeoja ini dengan tatapan yang tidak senonoh dan tidak ia hiraukan.

"Jadi ini sekolahnya Yunho oppa.. Lumayan.." kata yeoja tersebut sambil membuka kacamata hitamnya. "Lihat saja, oppa. Aku, Bae Seulgi, tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu."

Di tempat lain, Yunho tiba-tiba merasa menggigil seperti ada angin dingin yang berhembus di punggungnya.

"Kau kenapa hyung?" tanya Yoochun yang sedang duduk di meja Yunho.

"Entahlah.. Yah! Turun dari mejaku!" kata Yunho.

"Jadi bagaimana hubunganmu dengan Kim Jaejoong?" tanya Yoochun dengan volume suara yang dikecilkan agar tidak ada yang mendengarnya.

"Hah.. entahlah, Chun. Aku sudah berusaha memperlakukannya dengan baik tapi dia masih ketus denganku. Padahal aku sudah mulai menyukainya.."

"MWOH?! KAU MENYU—hmmff!" Yoochun hampir saja akan menyelesaikan kata-katanya. Namja jidat lebar satu ini memang harus disumpal mulutnya jika sedang kaget.

"Yah! Kau mau membuat masalah?! Kecilkan suaramu!" kata Yunho dengan sedikit berbisik.

"J-Jadi kau sudah mulai menyukainya, hyung? Benarkah? Apa kau sedang sakit hari ini?" tanya Yoochun dengan wajah serius.

"Aishh.. Ya, aku sudah mulai menyukainya dan aku tidak sakit. Lagipula memangnya aneh jika aku menyukai istriku sendiri?"

"Anio. Tapi jika itu kau, maka iya. ANEH. Kalian selalu berkelahi dan berselisih, dan sekarang kau mengatakan kau sudah mulai menyukainya? Kau tidak ada niatan untuk mempermainkannya kan?" tanya Yoochun mengintrogasi.

"Mempermainkan siapa? Aku ini bukan playboy cap botol sepertimu, Chun." Balas Yunho.

"Hah.. Terserah apa katamulah hyung. Lalu apa masalahnya? Apa kau sudah mengatakan perasaanmu pada Jaejoong?"

"Belum. Tapi apa caraku memperlakukannya masih belum bisa membuatnya sadar kalau aku menyukainya?"

"Entahlah hyung. Kalau soal itu lebih baik hyung katakan saja yang sebenarnya."

Yunho terlihat ragu untuk menyatakan perasaannya pada Jaejoong. Memang benar apa kata Yoochun. Memang sebaiknya Yunho mengatakan yang sebenarnya pada Jaejoong. Tapi seperti yang kita lihat, tokoh utama kita satu ini masih ragu dengan perasaan Jaejoong. Jika diperhatikan baik-baik, sikap Jaejoong yang ketus terhadap Yunho memang terlihat seperti sedang menutupi perasaannya dan Yunho menyadari hal tersebut.

Selama jam pelajaran berlangsung, Yunho terus memikirkan tentang bagaimana perasaan Jaejoong terhadapnya. Seonsaengnim yang mengajar saja menyerah karena Yunho sama sekali tidak menyahut ketika dipanggil olehnya. Kalau bukan karena nilai Yunho yang selalu sempurna di setiap mata pelajaran, seonsaengnim pasti sudah melemparkan penghapus papan tulisnya tepat ke jidat Yunho. Bahkan para yeoja yang mengerubunginya ketika jam istirahat saja ia tidak hiraukan sama sekali. Biasanya para yeoja tersebut akan ia usir karena suara-suara mereka yang merusak telinga. Yoochun sudah mengajaknya tapi Yunho tidak menghiraukannya.

Di kantin, Jaejoong, Junsu, dan Changmin sedang menikmati makan siangnya. Tidak hanya Yunho yang bersikap aneh. Jaejoong juga menjadi lebih pendiam dari yang biasanya. Biasanya ia akan terlihat ceria di depan Junsu dan Changmin tapi hari ini Jaejoong terlihat seperti sedang melamun. Junsu dan Changmin hanya bisa menghela nafasnya tanda menyerah melihat hyung nya yang bertingkah aneh setelah menikah dengan Yunho.

"Yo, Changmin!" Changmin menengok ke arah asal suara dan mendapati Yoochun sedang berjalan ke arah tempat duduk mereka.

"Oh, hyung.." Changmin membalas panggilan sahabat sepupunya.

"Yah Changmin ah, hyung mu itu.. dia aneh hari ini." Kata Yoochun.

"Eoh? Jaejoong hyung juga aneh hari ini. Lihat saja. Dia melamun terus sejak pagi." Kata Changmin.

"Yunho hyung juga melamun sejak pagi. Sekarang dia sedang ada di kelas. Kuajak makan siang, tapi dia tidak menghiraukanku."

"Yah, seharusnya kau seret saja hyung jelek itu ke sini. Seingatku lambungnya juga memiliki masalah seperti Jaejoong hyung." Kata Changmin.

"Jinjja? Tapi mau bagaimana lagi, orang itu benar-benar mengacuhkanku."

Jaejoong yang tadinya melamun, mendengarkan percakapan antara Yoochun dengan Changmin begitu mendengar nama yang sejak pagi selalu mengganggu pikirannya. Junsu yang menyadari hal itu langsung tahu kalau Jaejoong sebenarnya sedang memikirkan Yunho.

"Jae hyung, kalau kau khawatir, bawakan makanan saja untuknya." Kata Junsu memberi saran.

"Mwo? S-Siapa yang khawatir?" kata Jaejoong mengelak. Junsu, Changmin, dan Yoochun menghela nafasnya.

"Hyung, sampai kapan hyung mau menyangkal perasaan hyung? Kami semua tahu kalau hyung ini sebetulnya juga menyukai Yunho hyung." Kata Junsu mencoba untuk menyadarkan Jaejoong.

"... Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, Su."

"Hyung, jangan berbohong pada dirimu sendiri. Seharusnya kau lebih mengerti dirimu sendiri lebih dari kami." Kata Changmin.

"T-Tapi aku—"

"Jaejoong, kalau kau terus bersikap seperti ini, Yunho hyung akan diambil oleh orang lain, kau tahu itu?" sekarang Yoochun mulai angkat bicara.

"..." Jaejoong tidak menjawab.

"Hyung.. Pergilah. Jangan sampai kau menyesal."

"..."

"Hyung."

"... Aish! Arasseo! Aku akan ke kelasnya! Tapi asal kalian tahu, aku kesana hanya karena ingin membawakannya makanan!" Junsu, Changmin, dan Yoochun terkekeh kecil. Jaejoong benar-benar orang yang mudah terbaca. Dari ekspresi wajahnya saja mereka tahu kalau Jaejoong sebetulnya juga menyukai Yunho. Ia hanya malu saja.

Sementara itu di dalam gedung sekolah, yeoja yang berdiri di depan gerbang SMA Shinki tadi sedang berjalan menyusuri lorong kelas. Seulgi benar-benar menarik perhatian siapa saja yang ia lewati di lorong tersebut. Para namja memandang Seulgi dengan mata penuh nafsu dan para yeoja memandang Seulgi seperti seorang yeoja yang tidak tahu malu. Seulgi berjalan perlahan sambil sesekali melongok dari pintu kelas mencari sosok namja yang ia cari dari tadi. Ia tidak akan menyerah hingga ia menemukan Yunho.

Untuk yang kesekian kalinya Seulgi melihat isi kelas dari ambang pintu, akhirnya Seulgi menemukan Yunho yang sedang melamun dan dikerubungi oleh beberapa yeoja yang berusaha menarik perhatiannya.

"Yunho oppa!" Suara Seulgi mendiamkan para yeoja yang mengerubungi Yunho dan menarik perhatian para namja yang ada di kelas tersebut. Kecuali Yunho tentunya.

Merasa diacuhkan, Seulgi berjalan memasuki kelas tersebut dengan angkuhnya. Disingkirkannya satu persatu yeoja yang menghalanginya. Begitu sampai tepat di depan meja Yunho, Seulgi menangkup wajah Yunho dengan tangannya dan membuatnya melihat ke arahnya.

"Oppa!" Panggilnya dengan suaranya yang melengking itu.

"Seulgi ah?! Sedang apa kau disini?!" tanya Yunho kaget dengan kehadiran Seulgi di sekolahnya.

"Sedang apa? Tentu saja untuk mengajak oppa menemaniku~" katanya santai. Entah yeoja ini bodoh atau memang tidak memiliki otak, dengan santainya ia mengajak Yunho untuk menemaninya padahal ia sedang berada di tengah jam sekolah.

"Seulgi ah, oppa masih sekolah. Setelah ini oppa masih ada kelas lagi." Kata Yunho setengah menahan emosinya. Ingin rasanya ia mengatai yeoja ini bodoh.

"Uungg~ oppa harus menemaniku! Aku mau makan siang dengan oppa!" katanya dengan sok manja.

"Kalau begitu oppa temani makan di kantin sekolah saja." Saran Yunho sambil mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Mwoh? Kantin? Shireo! Aku mau makan di restoran Italia!"

"Seulgi ah.." Yunho benar-benar harus mengerahkan usahanya untuk menahan emosinya saat ini.

"Kajja oppa~ Palli~!" Kata Seulgi sambil menarik lengan Yunho. Ck.. Yunho benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi. Baru saja ia akan meneriaki Seulgi, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menampik kasar tangan Seulgi yang tadinya menarik lengan Yunho.

"J-Jaejoong ah.."

Jaejoong yang baru datang dengan membawa makanan untuk Yunho menarik Yunho ke belakangnya. Jaejoong menatap tajam yeoja di depannya ini. 'Benar-benar tidak tahu malu' Pikir Jaejoong.

"Kau! Cepat pergi! Yunho sudah mengatakan kalau dia tidak mau jadi sebaiknya kau pergi saja sendiri!" kata Jaejoong dengan nada yang mengancam.

"Huh! Memangnya kau siapa?! Aah~ aku ingat~ kau yang kemarin bersama oppa di bandara kan? Yah, memangnya kau siapa hingga melarangku untuk pergi bersama oppa ku?!"

"Siapa? Yang harusnya bertanya itu aku! Kau ini orang luar tapi seenaknya masuk ke dalam gedung sekolah dengan baju seperti wanita penggoda begitu."

"MWO?! Penggoda?! Yah! Yang penggoda itu kau! Kau menghalangiku untuk bersama Yunho oppa!" teriaknya. Seulgi dan Jaejoong benar-benar menarik perhatian para siswa yang ada di dalam kelas maupun yang ada di luar kelas. Bahkan Junsu, Changmin, dan Yoochun yang tadinya sedang ada di kantin pun juga ada disana setelah berlari sprint dari kantin ke kelas Yunho.

"Penggoda? Aku? Hah!" Jaejoong mendengus merendahkan. Jaejoong membalikkan badannya hingga ia sekarang saling berhadapan dengan Yunho yang masih kaget dengan apa yang sedang terjadi. Ditariknya kerah seragam Yunho. Yunho sudah menutup matanya karena ia kira Jaejoong akan memukulnya lagi. Para siswa yang menyaksikan kejadian tersebut pun menahan nafasnya mengira akan terjadi perkelahian antara Yunho dan Jaejoong.

'Eoh? Tidak sakit..' batin Yunho.

Yunho membuka matanya perlahan dan mendapati Jaejoong sedang menciumnya.

Jaejoong bukan memukulnya melainkan menciumnya. Mencium bibir Yunho.

Setelah beberapa detik, Jaejoong melepaskan ciumannya dan kembali membalikkan badannya.

"Namja ini adalah suamiku. Kami sudah menikah. Jadi? Sekarang siapa yang penggoda?" tanya Jaejoong dengan senyum penuh kemenangan.

.;to be continued:.

Akhirnya update lagi~ Mian lama ya? Mood author lagi bagus-bagusnya karena tadi pagi nilai UAS sejarah jepang author akhirnya keluar juga. Untungnya author dapat nilai A jadi ff ini diketik dalam waktu 2 jam saking senangnya.

Author mau minta izin nih.. Author mau publish ff baru.. Bolehkah? Atau sebaiknya selesaikan ff yang ada dulu?

FF ini akan selesai dalam 2 chapter lagi.. Jadi sebaiknya ff barunya dipublish saja kah? Atau nanti saja?

Jangan lupa review nya ya~^^