HONTOU NI GOMENNASAI!
author minta maaf dari lubuk hati author yg terdalam, karena keterlambatan author mem-publish chapter 9 yg merupakan 3 chapter terakhir~

UN, US, UP, ujian", tes masuk SMA, benar" menghambat author untuk mengapdet SSS ini...

author juga tidak mau seperti ini, author berjanji, untuk 2 chapter terakhir, author tidak akan terlambat...

sekali lagi SCUSAMI m(_ _)m

author benar-benar merasa bersalah...

author tidak bisa membalas komen kalian untuk sekarang, apdet dulu, nanti bales komennya belakangan yaa :D

maaf kalau chapter ini agak ngaco

selamat membaca... ^ ^

~Saikyoudai's Side Story~

9th down : That Angel, Wants to Feel Painful

Disclaimer : Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata

Chapter : 9 of 11

Author : Lady Karin Cecillia D. Lewis

Genre : Romance/Tragedy

Pairing : Youichi Hiruma – Mamori Anezaki

Rated : T

Warning : OC, OOC, Mamori yg manggil Hiruma 'Youichi', nd Hiruma yg manggil Mamori 'Mamori', gaje, aneh, karakter Hiruma yg ngaco 185 derajat, dsb. .

Author Alert! : segala yg tidak mungkin terjadi di komik/animenya, sangat lazim terjadi di ff saya! hati-hati sebelum membaca!


Cerita Sebelumnya. . .

Mamori berteriak, namun terlambat. Sesuatu telah terjadi. Spontan Mamori berlari. Dan dia menatap dengan penuh rasa tidak percaya, apa yang terjadi di depan matanya itu adalah nyata. Dia berdiri mematung, menatap orang yang bersimbah darah itu. Orang-orang mulai mengerumuni orang yang bersimbah darah itu. Dia terduduk dengan wajah yang basah oleh air mata. Dia mencoba membelai kepala orang yang bersimbah darah itu. Mengotori tangannya sendiri dengan darah orang itu.

"You.. You.. Youichi... Youichi..." Mamori memanggil nama orang itu namun orang itu tak kunjung bangun. Mamori gemetar. Yamato menghampirinya dan memeluk Mamori. Mamori menatap tangannya yang berlumur darah orang itu dan menangis sejadi-jadinya. Memecah keheningan malam Saitama yang dingin.


"Anezaki..." Yamato memanggil Mamori yang masih terisak di pelukannya. Seumur hidupnya tidak pernah Yamato melihat seorang gadis menangis seperti ini. Ini tangisan yang lebih daripada tangis kehilangan. Yamato melonggarkan pelukannya, memberikan ruang untuk Mamori bernapas.

Yamato mengelus kepala Mamori perlahan. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa, Anezaki. Hiruma akan baik-baik saja, dia kuat, kau tahu itu, dia akan segera sadar." Yamato menatap Mamori dengan pandangan yang berbeda, pandangan yang tidak pernah ia perlihatkan sebelumnya. Yamato membelai rambut coklat panjang Mamori. Seumur hidupnya baru sekali ini ia memeluk gadis seperti ini.

"Yamato! Apa yang terjadi?" tanya Ikkyu begitu ia dan Taka sampai. Sejak tadi mereka sudah pergi duluan ke kantor polisi dan berencana menunggu Hiruma di sana. Karena Hiruma tak kunjung datang, mereka pun kembali.

Dan yang menyambut mereka, adalah pemandangan kelam dan dingin malam Saitama.

"Astaga..."

"Ini… tidak mungkin..."

Ikkyu dan Taka sama-sama terbelalak ketika mereka mendapati sosok bersimbah darah di depan mereka.

"Mustahil… I… ini… Hiruma?" sangsi Taka. Yamato membalas dengan anggukan kecil.

UII UII

Suara sirine terdengar dari kejauhan. Bergema di antara riuhnya suasana persimpangan itu.

"Yamato, sepertinya ambulans yang kupanggil sudah datang," kata Akaba setelah menepuk bahu Yamato.

Tak lama kemudian ambulans datang. Pintu belakangnya terbuka, lalu mengeluarkan beberapa orang berseragam putih yang membawa tandu dari dalamnya.

"Maaf, bisa beri kami jalan?" pinta salah seorang pria yang membawa tandu sopan. Lalu dengan sangat hati-hati dua orang pria menaikkan tubuh Hiruma yang bersimbah darah ke atas tandu putih itu. Lalu mereka menaikkannya ke atas mobil.

"AAAA!"

Mamori menjerit keras di pelukan Yamato. Yamato terkejut, namun ia mengerti, Mamori tidak ingin melepas pandangannya dari Hiruma sedetik pun. Yamato melepas pelukannya.

"Aku mengerti, Anezaki… kita akan ikut dengannya, tenanglah…" Yamato menggenggam bahu Mamori dan membimbingnya masuk ke ambulans.

"Aku duluan, harus ada yang menjaga Anezaki. Kalian segeralah menyusul kami. Ikkyu, telepon orang tua Anezaki, Taka, hubungi mantan anggota Deimon Devil Bats, aku menunggu di rumah sakit," perintah Yamato. Ambulans pun melaju meninggalkan ketiga orang pemuda itu―Taka, Ikkyu, Akaba.


Rumah Sakit Daerah Saitama, 09.44 p.m.

Yamato berjalan mondar-mandir di depan pintu sebuah ruangan. Terpampang jelas di atas pintu metal silver tersebut, papan merah menyala yang bertuliskan ICU. Antara khawatir dan bingung. Sudah 30 menit sejak dokter masuk ke dalam, namun tak ada kabar sama sekali. Seandainya bisa, ia ingin masuk ke dalam dan melihat kondisi Hiruma, seandainya bisa. Sementara itu ia bingung. Sejak sampai di Rumah Sakit tadi Mamori memang berhenti menangis, namun kini ia terdiam, duduk di bangku panjang di depan ruang ICU itu. Hanya duduk dengan tatapan kosong. Seperti patung. Seperti raga tanpa jiwa. Yamato sudah mencoba memberinya minum, namun jangankan minum, Mamori bahkan tak mau menerima ataupun menyentuh botol minuman itu.

"Yamato, bagaimana keadaan Hiruma?" tanya Akaba yang baru sampai bersama Ikkyu dan Taka. Yamato menggeleng.

"Aku tidak tahu, belum ada yang keluar sejak tadi," jawab Yamato.

"Ehm, Yamato…" panggil Taka. Taka menoleh ke arah Mamori. Lagi-lagi Yamato hanya menggeleng lemas.

"Sejak tadi seperti itu, tak mau bicara atau apapun, aku tak tahu lagi harus berbuat apa," ucap Yamato dengan tatapan miris.

Taka melayangkan tatapan yang sama dengan tatapan Yamato. "Jiwanya pasti sangat terguncang. Sekarang Hiruma adalah seseorang yang paling berharga baginya dibanding siapapun juga."

Suasana sedikit hening setelah Taka menyudahi kalimatnya. Yamato pun kembali mengangkat kepalanya. Celingukan seperti mencari sesuatu.

"Oh iya, ngomong-ngomong Agon mana?" tanya Yamato.

"Dia pergi, katanya mau ke rumah Anezaki, menjelaskan semuanya pada ibunya Anezaki," jawab Akaba.

Ikkyu mencoba menggenggam tangan Mamori. "Mamori-chan…" Percuma. Mamori tetap tak bergeming.

Buuumm Buuumm

Tiba-tiba ada gempa?

Bukan. Ternyata itu adalah suara langkah Kurita yang setengah berlari. Di belakangnya Musashi, Monta, Yukimitsu, Taki, Komusubi, Juumonji, Kuroki, Togano, dan Suzuna mengikuti.

"HIRUUMAAA!" jerit Kurita sambil menangis. "Di mana Hiruma? Aku ingin bertemu Hiruma!"

"Yaaa! Tenanglah Kuritan! Ini rumah sakit, sekarang You-nii pasti sedang mendapat perawatan dari dokter!" kata Suzuna optimis. Suzuna menoleh ke arah Yamato dkk. Wajah optimis Suzuna berubah. "Eh? Apa aku salah?" tanya Suzuna ragu.

Yamato―lagi-lagi―menunduk. "Kau benar, tapi sejak tadi pintu ini terus tertutup. Kami sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana."

"Si bodoh itu… Apa sih yang dia lakukan sampai bisa seperti ini?" kata Musashi yang wajahnya jelas-jelas terlihat sangat cemas.

"Benar MAX! Aku sampai tidak percaya saat Taka meneleponku dan memberitahu Kak Hiruma masuk RS!" timpal Monta.

"Itu benar…"

"Rasanya hal seperti ini…"

"Mustahil terjadi padanya…" 3 bersaudara Ha-Ha menimpali.


Rumah Sakit Daerah Saitama, 11.21p.m.

Menit demi menit terus bergulir. Dan orang-orang pun terus berdatangan walau malam semakin larut. Takami, Shin, Sakuraba, Marco, Gaou, Kisaragi, Kid, Tetsuma, Riku, Banba, Unsui, Kakei, Mizumachi, Kotaro, Onihei, Habashira, Chuubou, dan Pak Doburoku pun datang untuk mengetahui kondisi Hiruma. Bahkan Clifford dan Sena yang sedang berada di Amerika untuk mengambil sertifikat Sena dari Notre Dame pun langsung menghubungi lewat telepon. Clifford bilang ia dan Sena akan tiba di Jepang secepatnya.

Sudah 1 jam berlalu sejak tim dokter memasuki ruangan ICU itu. Yamato mulai tak sabar. Ia mendekati pintu metal silver itu, mengangkat tangannya yang terkepal lemas, ingin mengetuknya. Namun belum sempat ia mengetuknya, seseorang berpakaian putih keluar dan melepas sarung tangan karetnya yang samar-samar memancarkan bau darah.

Dokter berkacamata yang baru saja keluar dari ruang ICU itu menghela napas. "Maaf, di antara kalian semua, siapa yang merupakan anggota keluarga Youichi Hiruma? Adakah ayahnya atau ibunya?"

"Hiruma tidak pernah tinggal dengan keluarganya, anggap saja kami semua adalah keluarganya," jawab Musashi. Lalu dokter berkacamata itu menghela napasnya―lagi.

"Baiklah, kami sudah melakukan apa yang kami bisa, namun sekarang Youichi Hiruma masih dalam keadaan kritis. Ia kehilangan banyak darah dan kepalanya mengalami benturan yang hebat. Jujur saja, kami tidak tahu berapa lama ia bisa bertahan dengan menggunakan alat-alat medis. Maaf kalau saya bicara begini, tapi mungkin ini saatnya kita berdoa pada Tuhan, semoga saja Tuhan masih melindunginya," jelas dokter itu. Semuanya terdiam, beberapa terbelalak dan Kurita kembali mencucurkan air matanya.

"Kami mengerti, terima kasih atas bantuan anda," jawab Musashi dengan tenang namun terdengar bergetar.

"Sama-sama, saya permisi dulu," balas dokter itu seraya pergi.

Sesaat kemudian suasana menjadi tegang. Semua orang hanya terdiam dan saling memandangi.

"Ini rasanya seperti mimpi ya, itu menurutku. Kurasa tidak ada seorang pun dari kita yang pernah berpikir seperti ini kan? Itu menurutku." Marco memecah keheningan.

"Itu nggak smart! Bukannya kau yang pertama kali berpikir untuk membunuhnya di pertandingan Deimon-Hakushuu?" timpal Kotaro sembari menyisir rambutnya―yang sebenarnya sama sekali tidak perlu disisir.

"Wah, itu sih beda kasus menurutku…" sangkal Marco dengan keringat dingin.

"Berdiam diri di sini tidak akan mengubah keadaan. Youichi Hiruma akan bertahan jika ia memang ditakdirkan untuk bertahan. Secara logis pun, menurutku ia masih bisa bertahan dengan kekuatannya sendiri," ucap Shin dingin seraya pergi. Sakuraba dan Takami pun mengikutinya dengan hening.

"Yah, menurutku juga setan seperti dia tidak akan menyerahkan nyawanya begitu saja pada Tuhan. Ayo, Tetsuma, Riku," tambah Kid sambil berlalu. Orang-orang yang sudah menunggu sejak tadi pun satu persatu mulai berlalu. Pada akhirnya hanya tersisa para anggota Devil Bats dan anggota klub amefuto Saikyoudai.

Semua berlalu seperti angin musim gugur yang bahkan belum waktunya untuk ambil bagian. Baik yang menegakkan kepala, tertunduk, terdiam, atau menangis dalam hati, semuanya berlalu, hanya untuk mempertahankan kepercayaan mereka bahwa Youichi Hiruma pasti akan bertahan.


Malam semakin larut. Namun mereka masih tetap duduk di sana. Di depan ruangan ICU itu. Menunggu siapapun yang memperbolehkan mereka masuk ke dalam sana dan melihat kondisi sang kapten setan. Suster yang berjaga di dalam sejak tadi terus mengatakan bahwa kondisi Hiruma belum stabil untuk dijenguk.

Keheningan yang memenuhi lorong rumah sakit tempat mereka menunggu mulai membawa memori-memori menyakitkan. Memori-memori tentang masa lalu, tentang kebersamaan mereka dengan sang kapten setan. Tidak cukup. Keheningan itu ingin menampilkan memori yang lebih menyakitkan. Memori yang masih seumur jagung itu mulai menelusup kedalam pikiran seorang pemuda tegap dan seorang gadis berambut coklat. Memori tentang apa yang mereka lihat sendiri, sekitar 2,5 jam yang lalu.

2,5 jam yang lau, persimpangan blok 3 Saitama. Seorang pria berambut blonde spike yang membawa-bawa machinegun berlari liar mengejar tiga orang pemuda yang terlihat sangat ketakutan. Pria itu seperti setan―atau iblis―yang membawa deathscythe dewa kematian. Seakan ia mau menjemput jiwa ketiga pemuda lemah itu. Naasnya, sang setan mendapat hukuman. Lampu penyeberangan bersinar merah saat itu. Sang setan sama sekali tak melihat ke atas, dan… terlalu menyedihkan, sebuah truk dari perusahaan minuman terkemuka terpilih untuk memberikan hukuman pada sang setan. Truk itu menyambar tubuh sang setan, membuatnya terlempar sejauh beberapa meter, membuat darah segar mengalir dari kepalanya, dan mungkin membuat beberapa tulangnya patah. Oh, dan tentu saja, membuatnya terbaring di ruang ICU Rumah Sakit Daerah Saitama.

Memori yang berkelebat, mulai memudar. Tak ada respon dari para korbannya, keheningan pun memutuskan untuk tidak melanjutkan keisengan-nya. Karena mereka hanya terdiam…

Sampai kapan kami akan menunggu?

Mungkin kalimat itu yang sejak tadi tersirat di benak mereka. Dan Suzuna-lah yang paling mengerti perasaan itu. Sejak tadi ia duduk di samping Mamori dan menggenggam tangan Mamori. Suzuna tahu betul. Ekspresi wajah Mamori yang berubah setelah mendengar Hiruma dalam keadaan kritis. Suzuna tahu betul, tangan Mamori yang bergetar menunjukkan bahwa ia ingin menangis dan meraung sekeras-kerasnya. Dan Suzuna tahu betul, Mamori sekarang sedang menghancurkan dirinya sendiri karena memendam semua itu.

Tak lama kemudian seorang suster masuk ke dalam ruang ICU tempat Hiruma berada. Lalu ia keluar dengan membawa baki penuh dengan peralatan bedah yang masih berlumur darah.

Deeggg

Suzuna merasakan hawa yang tidak enak. Tidak seperti biasa. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya bergetar menyesuaikan getaran tangan Mamori yang digenggamnya. Keringat Suzuna mengalir melewati pelipisnya. Suzuna mengangkat kepalanya.

"NA... NANDE?"

Suzuna tersentak kaget. Ia menatap mata di depannya. Mata Mamori. Namun ini mata yang berbeda. Matanya memerah dan menyala. Badanya pun menjadi panas.

PRAAKK

Saat semua sedang menoleh ke arah Suzuna dan Mamori, Mamori dengan cepat bangkit dan mendorong suster yang baru keluar tersebut sehingga baki yang dibawa suster itu jatuh dan isinya tercecer.

"Kyaa! Ke... kenapa ini?" Suster itu menjerit. Mamori mencengkeram bahunya dengan keras.

"Anezaki!" Yamato membentak seraya melepaskan cengkeraman Mamori dari bahu suster itu. Mamori jatuh terduduk masih dengan pandangan yang sama. Matanya yang memerah itu menatap peralatan bedah yang tercecer, lalu ,mulai meneteskan butir-butir air mata.

"Anezaki, ada apa denganmu?" tanya Yamato bingung. Mamori terdiam, lalu tiba-tiba bangkit.

"Aku tak apa, Yamato-kun, jangan khawatir…"

"Anezaki?"

Yamato tersentak. Di depannya berdiri Mamori dengan wajah yang dibasahi oleh air mata. Tangan kanannya menggenggam pisau bedah yang masih bernoda darah. Dan ia mengarahkan mata pisau bedah itu ke pergelangan tangan kirinya sendiri.

"Jangan ada yang mendekat, atau…" kata Mamori dengan suara bergetar. Semuanya diam. Antara terkejut dan bingung.

"Mau apa kau dengan benda itu, Mamori-chan? Letakkan benda itu! Nanti kau bisa terluka!" bentak Ikkyu. Mamori hanya membalas kata-kata Ikkyu dengan melemparkan pandangan dingin padanya.

"Tahu apa kau? Tahu apa kalian? Tahu apa kalian tentang RASA SAKIT? Kalian tidak tahu apa-apa… kalau hanya benda seperti ini, bukan apa-apa. Kalian tahu penderitaannya? Kalian tahu bagaimana sakitnya Youichi? Sejak tadi kita hanya duduk diam di sini dan menunggu, tanpa tahu seperti apa perjuangan Youichi di dalam sana! Aku tidak bisa… biarkan aku merasakan rasa sakit yang sama dengannya…" kata Mamori sambil terisak. Dan ia mulai menggoreskan pisau bedah itu di pergelangan tangan kirinya.

"MAMO-NEE!" Suzuna berteriak.

PLAAAKK

Suara tamparan menggema di lorong rumah sakit tersebut. Harmoni dengan suara darah yang menetes dari sayatan tipis di pergelangan tangan kiri Mamori. Yamato menahan tangan kanan Mamori sehingga luka yang ditimbulkan tidak terlalu dalam. Akaba juga menahan tangan kiri Mamori dan Suzuna memeluk Mamori dari belakang. Lalu yang menampar Mamori... Taka…

"Kau sadar apa yang kau katakan tadi? Mau merasakan rasa sakit yang sama dengan Hiruma katamu? Jangan bodoh! Lihat perban di lehermu! Hiruma jadi begini karena melindungimu! Kalau tadi tak ada Hiruma belum tentu sekarang kau bisa berdiri di sini. Dia bisa marah kalau kau sampai terluka lagi," bentak Taka pada Mamori. Mamori terdiam menatap Taka. Semuanya pun terdiam. Belum pernah, sekalipun, Taka menampar orang dan berbicara dengan nada setinggi itu pada orang lain.

BRUUKK

Mamori terduduk. Air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya. Monta menghampirinya dan menepuk pundaknya.

"Sudahlah, Kak Mamori. Kak Hiruma juga belum tentu senang jika melihat kau menangis begini," kata Monta lembut. *tumben* Mamori pun berusaha menghentikan air matanya, lalu ia membantu suster tadi membereskan alat-alat bedah yang tercecer di lantai. Mamori pun meminta maaf pada suster tersebut.

Mamori menunduk. "Maafkan aku, semuanya, aku lepas kendali…"

"Daijoubu, Mamo-nee. Aku sampai kaget tadi," balas Suzuna sambil memeluk Mamori.


Rumah Sakit Daerah Saitama, 12.13p.m.

Tengah malam Saitama yang dingin menemani mereka yang masih berada di lorong Rumah Sakit tempat ruang ICU yang Hiruma huni berada. Beberapa tertidur dan tak banyak yang masih terjaga. Sampai tiba-tiba...

BRAAKKK

Seorang gadis berpakaian putih membuka pintu dengan kasar seraya berlari dengan wajah pucat. Mereka yang masih terjaga kaget dan bingung, sementara mereka yang tertidur pun menjadi terbangun mendengar suara ribut di tengah malam itu. Yamato mengejar suster itu dan menangkap tangannya.

"Tunggu dulu, Nona! Apa yang terjadi?" tanya Yamato panik.

"Youichi… Youichi Hiruma! Kondisinya tiba-tiba drop dan detak jantungnya pun melemah! Saya tidak tahu kenapa, sekarang saya mau memanggil dokter, maaf Tuan!" jelas suster itu seraya berlalu. Mamori yang terbangun pun mematung saat mendengar ucapan suster itu.

"Tidak mungkin… Youichi…"


-Author's Cuap-cuap :D-

Fanfic kedua saya di ffn ! :D

Alhamdulillahirabbil alamin, akhirnya dipost juga ! :D

udah chapter 9 niih !

Un pun selesai dengan lancaar~

terima kasih untuk dukungannya, minna ^^

saya mengucapkan terimakasih yg sedalam-dalamnya untuk :

Ryuku S. A. J

Unk-gu 'G-jiy-'

RisaLoveHiru

Asuka Nakamura

Machiko Savannah

Uchiha Evans

Risle-coe

YoshiKitty29

Fitria –AlyssYouNightray-

HirumaYouriLoveJumonji

just reader 'Monta'

Magic Meister

KwonSooJin

Micon

Naravina Youichi

AkiraAkira makin males ke FFN

Fitri

Yarai yarai chan

RiikuAyaKaitani

Mashy-Gaara4life

Ririn Cross

Kaede Yuka-chan

youichi_naluw 11

Anggi

Riichan LuvHiru

vhy otome

Yg sudah memberikan review-nya di chapt 8 ^^ terimakasih banyak, sensei ^^

Review terus di chapt selanjutnyaa yaa :D

Maklum amatiran, jadi masih ancur penulisannya . Tpi semoga review dri kalian semua bsa membuatku jadi lbih baik ^^

RnR yaa ! Ditunggu loh, jangan segan-segan mengirim kritik, saran atau pesan apapun ^^ [surat cinta juga boleh asal jangan surat tagihan nd ancaman pembunuhan !XD]

Untuk chapter ini GOMEN, author bener-bener ngga sempet ngebales review kalian satu", HONTOU NI GOMENNASAI!

Yg punya fb nd twitter bsa mengakrabkan diri denganku di :)

-fb : search: Adelheid Suzuki

-twitter : riiadelheid

Thx all, maaf cerewet ! XD

Devil Bat Ghost !