Oke, Ini fanfic kedua saya setelah fanfic oneshot 'I will Always Love You Forever Hinata' Dan saya harap, fanfic kedua saya ini bisa lebih memuaskan para Reader-san sekalian ^_^ Oke! R&R minna!
Title : The Story of Naruto Uzumaki
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Author : senNath Uzumaki
Pairing : Naruto X ?
Rated : T
Warning : Gaje ; Abal ; Typo(s) ; Ngaur ; Semi-canon ; OOC ; Action ; Adventure ; Semi-Godlike ; Strong-Naru! ; And many more
Summary : Dunia shinobi ini butuh pendamai. Karena itu, sang penyelamat dunia sudah memilih anak yang akan menyelamatan dunia shinobi ini dari perang. Mampukah ia, sang anak yang dipilih menjadi penyalamat Dunia Shinobi?
Chapter 9 Haku
SEBELUMNYA
"Ya. Kau benar. Jadi menurutku Hunter-nin yang membunuh Zabuza tadi adalah temannya." Kata Kakashi memperjelas penjelasan Naruto. "Kalau begitu mereka akan kembali dan menyerang kita begitu?" tanya Sakura takut-takut.
"Ya. Bisa jadi begitu. Melihat dari luka yang Zabuza derita, mungkin waktu pemulihannya akan sampai seminggu. Dan untuk itu, mulai besok kita akan berlatih." Kata Kakashi yang membuat ketiga muridnya tertegun. 'Akhirnya kita mulai berlatih.' Batin Sakura dan Sasuke. 'Ini akan menyebalkan. Haahhh...' batin Naruto bosan.
"Baiklah, besok Tim 8 akan latihan juga. Kalian mengerti?" tanya Kurenai pada murid-muridnya.
"Ha'i, sensei" kata mereka bertiga serempak.
Dan besoknya, Tim 7 dan Tim 8 dilatih oleh sensei mereka masing-masing.
.
.
.
.
Pagi Hari
Kini terlihat Tim 7 sedang latihan dipinggir hutan dekat rumah Tazuna. Sedangkan Tim 8 sedang menemani Tazuna untuk membangun jembatan. Ya, Tim 7 dan Tim 8 harus bergantian untuk mengawal Tazuna selama Tazuna membangun jembatan. Dan giliran pertama adalah Tim 8 yang mengawal Tazuna.
"Kakashi-sensei, latihan apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya Sakura pada Kakashi. Jelas saja. Ini adalah pertama kalinya Tim 7 dilatih oleh Kakashi. Karena sebelumnya, Kakashi hanya menyuruh mereka untuk berlatih sendiri.
"Hari ini, kita akan berlatih berjalan diatas pohon secara vertikal. Ini juga akan berlaku untuk kita berjalan diatas air." Jawab Kakashi. "Lalu, bagaimana caranya?" tanya Sakura lagi. "Hahh, baiklah. Alirkan chakra ke kaki kalian. Jangan terlalu sedikit, atau kalian akan jatuh. Dan juga jangan terlalu banyak, atau pohon yang kalian pijaki akan hancur." Jelas Kakashi pada murid-murid Geninnya. Sakura dan Sasuke hanya menganggukkan kepala mereka. Sedangkan Naruto? Ia sudah pernah berlatih seperti ini oleh Rikudou sensei di alam bawah sadarnya sendiri.
"Biar aku contohkan." Kata Kakashi. Lalu, kakashi pun mulai berjalan santai diatas pohon dan berhenti pada salah satu batang pohon itu. Kakashi berhenti dengan posisi terbalik, yaitu kepalanya menghadap kebawah. Kakashi pun merogoh kantung senjatanya.
SYUUT!
SYUUT!
SYUUT!
JLEB!
JLEB!
JLEB!
Kakashi melempar tiga kunai yang sekses menancap ditanah tepat didepan satu persatu murid-muridnya. "Gunakan kunai itu untuk menggores pohon in sampai mencapai batas yang kalian bisa sewaktu kalian berjalan di atas pohon ini." Kata Kakashi dari atas sana. Naruto, Sasuke dan Sakura pun segera mengambil kunai yang dilemparkan Kakashi. "Baiklah. Mulai!" kata Kakashi dan mereka pun mulai berlari diatas pohon itu. Sewaktu baru beberapa meter Sasuke berlari, pohon yang dipanjatnya mengeluarkan suara.
KRAK!
Sasuke yang kehilangan keseimbangan pun segera menggoreskan kunainya ditempat ia berdiri tadi dan kemudian Sasuke segera bersalto dan kemudian jatuh dengan posisi berjongkok. 'Jadi benar yang dikatakan Kakashi-sensei. Sepertinya aku terlalu banyak mengeluarkan chakra.' Batin Sasuke dan kemudian bangkit kembali.
Sasuke pun melihat kearah teman-temannya berada tadi. Ia pun tidak menemukan seorang pun disampingnya. Ketika Sasuke melihat keatas, Sasuke pun melihat kedua temannya sudah berada diatas. "SASUKE-KUN!" teriak Sakura dari atas sana. "Ganbatte, Baka-Teme!" teriak Naruto menyemangati Sasuke. Kini, terlihat Sakura sedang duduk disalah satu batang pohon yang lumayan tinggi. Sedangkan Naruto berada tepat disamping Kakashi.
"Kalian hebat juga" kata Sasuke sedikit tersenyum "Tapi aku tidak akan kalah!" kata Sasuke lagi dan kemudian kembali berlari kepuncak pohon besar itu dengan cepat. Tapi lagi-lagi Sasuke pun terjatuh karena mengalirkan chakra nya terlalu sedikit. 'Cih, sulit juga. Tapi aku tidak akan menyerah!' batin Sasuke semangat lalu mencoba lagi.
Kakashi yang melihat murid-muridnya semangat berlatih pun hanya memberikan eye-smile kepada mereka semua. "Naruto, Sakura, tolong bantu Sasuke ya. Aku harus kembali beristirahat." Kata Kakashi dan kemudian turun dari pohon besar tersebut. "Ha'i, Kakashi-sensei." Jawab Naruto dan Sakura kompak.
Lalu, Kakashi pun pergi meninggalkan mereka bertiga. Setelah petang datang, barulah Sasuke bisa sampai pada puncak pohon besar itu. Dan juga sudah dipastikan, kontrol chakra sasuke sudah meningkat. Setelah itu mereka pun pulang kerumah Tazuna dalam hening. Saat ditengah jalan, Naruto pun memecah keheningan.
"Sasuke, Sakura, kalian duluan saja. Aku masih mau berlatih." Kata Naruto memecah keheningan di antara mereka. "Apa tidak apa-apa?" tanya Sakura khawatir. "Hn. Ini sudah malam Dobe." Kata Sasuke datar, tapi terselip nada khawatir juga.
"Hehehe, tidak apa-apa. Lagipula aku kan kuat!" kata Naruto sambil tersenyum senang. Senang karena ada yang mengkhawatirkannya. "Kalau begitu aku pergi dulu ya." kata Naruto lagi dan kemudian melongsong pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hn. Sakura, ayo kita kembali." Kata Sasuke sambil berjalan duluan didepan Sakura. "Ba-baiklah, Sasuke-kun." Kata Sakura memerah kemudian menyusul Sasuke yang berada didepannya.
Dirumah Tazuna
CKLEK!
Pintu rumah Tazuna terbuka dan menampakkan Sasuke dan Sakura, tidak dengan Naruto. Kakashi yang menyadarinyanya pun bertanya pada kedua anak didiknya tersebut. "Sasuke, Sakura, kemana Naruto? Bukankah dia bersama kalian tadi di pinggir hutan?" tanya Kakashi pada mereka berdua.
"Hn. Si Dobe itu ingin berlatih katanya. Dia menyuruh kami pulang duluan." jawab Sasuke pada Kakashi. "Oh, jadi begitu." Kata Kakashi mangut-mangut mengerti. "A-apa tidak apa-apa?" tanya Hinata khawatir. Bagaimana tidak khawatir jika orang yang disukainya berada diluar sendirian? Sudah gelap lagi. Kiba pun mengangguk setuju dengan Hinata. Naruto adalah sahabatnya. Sebagai sahabat yang baik, Kiba tidak ingin terjadi suatu hal yang tidak diinginkan menimpa Naruto.
"Tidak apa-apa. Kalian tenang saja." Kata Kakashi menenangkan mereka. 'Tidak perlu khawatir. Naruto itu kuat. Benar kan, Minato-sensei?' batin Kakashi tersenyum sambil menerawang ke atas. "Baiklah, sebaiknya kita beristirahat untuk besok." Kata Kakashi yang dibalas anggukan semuanya. Mereka pun segera beranjak tidur diruang yang sudah disiapkan oleh Tazuna dan Tsunami.
Sementara dengan Naruto, dia masih sibuk berlatih di dalam Hutan di dekat rumah Tazuna. Naruto pun meloncat tinggi dan kemudian mengambil beberapa kunai dari kantongnya. Naruto pun mulai jatuh dengan posisi kepala menghadap kebawah dan ia mulai menutup matanya, mencoba berkonsentrasi.
SYUUT!
SYUUT!
SYUUT!
TAP!
Semua kunai yang naruto lempar semuanya menancap tepat di tengah masing-masing papan bidikan. Naruto pun mendarat dengan sempurna. Ia membuka matanya dan melihat sekelilingnya, ia pun tersenyum puas, puas akan hasil latihannya kali ini. Tadi adalah latihan terakhirnya hari ini. Sebelumnya, ia sudah melakukan pemanasan melempar shuriken mengayunkan boken secara horizontal dan vertikal. Dan sekarang ia sangat kelelahan sekarang.
"Hahhh, lelahnya. Lebih baik aku istirahat saja disini." Katanya dan kemudian segera menghempaskan dirinya di rerumputan disekitarnya. 'Disini sangat damai. Rasanya aku sangat nyaman berbaring disini.' Batin Naruto. Dan tak berapa lama kemudian, Naruto pun tertidur dengan pulasnya.
Time Skip
Sudah semalaman Naruto tidak pulang kerumah Tazuna. Sampai sekarang, ia pun masih berada ditempat dia berlatih kemarin. Tetapi tidak tertidur, hanya berbaring dan menutup matanya sebentar. Karena ia merasakan chakra yang tidak jauh darinya, meskipun berhasil ditekan sampai sangat kecil
'Hei, Kurama. Kau merasakannya juga kan?' tanya Naruto kepada rubah yang berada di dalam tubuhnya.
'Hn. Chakranya sepertinya familiar bagiku.' Balas Kurama memberi Naruto asumsinya.
'Ya, aku juga sepertinya pernah merasakan pemilik chakra ini.' Batin Naruto yang merasakan hal yang sama seperti Kurama. Tiba-tiba, Naruto ingat pe,milik chakra ini, begitu pula dengan Kurama. Mereka berdua pun tersentak kaget.
'Ini chakra Hunter-nin itu!'
'Ini chakra Hunter-nin itu!'
Batin mereka berdua bersamaan. 'Baiklah Kurama. Mungkin aku ingin berbincang-bincang dengannya sedikit.' Kata Naruto sambil sedikit menyeringai.
'Lakukan sesuka dirimu saja, Gaki.' Jawab Kurama sambil memutuskan telepati mereka.
Sedangkan dengan orang yang dikenal sebagai Hunter-nin itu sedikit terkejut melihat Naruto yang 'tertidur'. Dia pun berjalan mendekati Naruto. Dia meraih leher Naruto hendak mencekiknya. Naruto pun hanya diam saja, pura-pura tertidur. Kemudian, orang itu menjauhkan tangannya dari leher Naruto, dan kemudian mengguncang-guncang lengan Naruto.
"Hei, bangunlah!" kata Orang itu membangunkan Naruto. Merasa tidak masalah, Naruto pun bangun dan berpura-pura layaknya orang yang baru saja bangun tidur. "Hoam! Ah, Ohayou Nee-chan." Sapa Naruto pada Hunter-nin itu sambil tersenyum. "Ohayou." Balas Hunter-nin itu tersenyum.
"Apa yang kau lakukan dihutan ini, Ninja-san?" tanya Hunter-nin itu. "Oh, aku tadi malam berlatih untuk mengalahkan tuanmu dan juga mungkin kau." Kata Naruto sambil tersenyum. Sedangkan Hunter-nin itu pun terbelalak kaget dan segera mengambil posisi siaga. Tapi ia pun segera melonggarkan posisinya tersebut ketika melihat Naruto tidak bergerak sedikitpun.
"Duduklah." Kata Naruto dan Hunter-nin itu mengikuti perintah Naruto. Ia heran, bagaimana mungkin seseorang bisa setenang itu ketika melihat musuhnya ada didepan matanya? "Siapa namamu?" tanya Naruto. "Aku Haku. Dari mana kau tahu kalau aku adalah rekan Zabuza-sama?" jawab sekaligus tanya Haku bingung.
"Itu mudah. Dari prinsip kerja Hunter-nin saja sudah ketahuan. Hunter-nin itu selalu berkelompok, dan hanya membutuhkan kepala sang missing-nin, sedangkan tubuhnya akan dihancurkan. Dan Soal dirimu, aku bisa merasakan chakra mu." Jelas Naruto. Haku pun terkejut atas pengetahuan bocah dihadapannya. Dan lagi, ia bisa merasakan chakranya? Padahal ia sudah menekannya ketitik terendah yang ia bisa. Ia tidak boleh meremahkannya.
"Sudahlah, Haku-chan. Tak perlu bersiaga seperti itu. Aku tidak akan menyerangmu. Anggap saja disini kita adalah kawan, bukan lawan." Kata Naruto enteng. Dan sepertinya berhasil. Haku melepas posisi siaganya. "Aku ini pria." Kata Haku yang membuat Naruto geleng-geleng kepala.
"Seseorang dengan wajah cantik, suara feminim, pakaian merah muda, adalah seorang pria? Yang benar saja. Kau tidak perlu berbohong seperti itu, Haku-chan." Balas Naruto dengan tersenyum kecil. Sedangkan Haku yang ketahuan hanya bisa menunduk malu. "Sedang apa kau disini? Mencari tanaman untuk obat Zabuza?" tanya Naruto sambil melihat kearah keranjang yang penuh akan tanaman di lengan Haku.
"Ya, Begitu lah." Balas Haku sedikit dingin. "Mau kubantu?" tawar Naruto sambil bangkit berdiri. "Untuk apa? Bukankah itu sama saja membuat musuhmu cepat sembuh dan melawanmu lagi?" tanya Haku bingung. "Kan sudah kubilang, disini kita Kawan, bukan lawan." Balas Naruto sambil tersenyum dan kemudian memetik tanaman yang ia ketahui bisa menjadi obat.
Haku yang melihat itu pun bangkit dan melakukan hal yang sama dengan Naruto. Sambil memetik, mereka pun mengobrol tentang hal yang kurang penting. Tak terasa, sudah siang hari. Mereka pun selesai dengan pekerjaan mereka masing-masing. "Terima kasih sudah membantuku, Naruto. Aku senang bisa bertemu denganmu." Kata Haku berterima kasih, ia pun mengeluarkan senyum tulusnya.
"Ya, tidak masalah bukan? Kita kan teman." Balas Naruto sambil tersenyum lebar. Haku yang mendengarnya pun tersentak, kemudian senyum kecil pun tercipta di bibir mungilnya.
"Baiklah, sampai bertemu di pertempuran kita nanti, Naruto." Kata Haku dan segera pergi meninggalkan Naruto. "Ya, kutunggu ya." balas Naruto sambil melambaikan tangannya.
"Baiklah! Aku akan berlatih lagi!" Teriak Naruto penuh semangat. Dan setelah itu, Naruto pun kembali memulai latihan kerasnya.
Naruto sudah selesai berlatih. Sekarang, terlihat tubuhnya yang berkeringat, pertanda bahwa ia sangat lelah. Napasnya pun ngos-ngosan. Hari pun terlihat sudah petang.
"Hah, baiklah, waktunya kembali kerumah Tazuna-san. Mereka pasti mencemaskanku." Kata Naruto dan segera berjalan pulang Kerumah Tazuna.
Time Skip
Naruto pun sampai di rumah Tazuna nyaris sebelum malam. Sesampainya disana, Naruto langsung dihujani pertanyaan oleh Tim 7 dan Tim 8. Tapi Naruto hanya menjawabnya dengan sangat singkat. Lalau setelah itu, mereka pun makan malam. Mereka pun makan sambil diselingi oleh canda tawa dan lelucon yang dibuat Naruto dan Kiba.
Tiba-tiba, Inari pun muncul dengan wajah datarnya. "Kalian tidak akan bisa mengalahkan Gatou. Kembalilah! Atau kalian akan berakhir sama seperti 'dia'. Jangan berlagak sok pahlawan." Kata Inari dingin. Naruto yang mendengarnya pun sedikit panas, tapi kemudian menenangkan dirinya dan membalas perkataan Inari.
"Tahu apa kau tentang pahlawan? Jangan seenaknya kau menghina yang namanya pahlawan. Kau lah yang tidak tahu apa itu pahlawan. Lebih baik jangan bertingkah seakan kau mengerti segalanya, dasar anak cengeng." kata Naruto dingin tapi tenang.
"Aku bukan a-anak cengeng. Sudah kuperingatkan, PERGI ATAU KALIAN AKAN BERAKHIR SEPERTI 'DIA'! HIKS...HIKS..." teriak Inari marah dan diakhiri tangisan. Setelah itu, Inari pun segera pergi kekamarnya.
"Maaf, anakku berlaku seperti itu. Ia begitu semenjak ayahnya dibunuh oleh Gatou. Dia dibu-bunuh di depan banyak orang dilapangan tepat ditengah-tengah desa ini. D-dia dibunuh hiks...hiks... karena menentang Gatou hiks...hiks..." Kata Tsunami yang tangisnya sudah tak tertahankan lagi. Sakura dan Hinata yang melihatnya pun segera berinisiatif untuk menenangkan Tsunami dengan menepuk-nepuk pundaknya.
Kakashi yang melihat suasana yang sangat tidak enak itu pun segera membuka percakapan dengan topik baru. "Baiklah, besok kita semua akan menjaga Tazuna-san yang akan membangun jembatan. Dan kuharap, besok kalian bisa bangun pagi-pagi sekali agar bisa bersiap-siap." Kata Kakashi yang disambut anggukkan mereka semua.
Mereka pun segera pergi kekamar yang sudah disediakan Tazuna untuk tidur dan mengumpulkan tenaga untuk besok. Sebelum Naruto sampai kekamarnya, ia mendengar suara isakan tangis dari salah satu kamar yang pintunya terbuka sedikit. Naruto pun mengintip kedalam dan betapa terkejutnya dia ketika melihat bahwa itu adalah Inari yang sedang menangis sambil memegang sebuah foto.
Naruto pun segera masuk dengan perlahan kekamar Inari. Inari yang sedang menangis pun tidak sadar ada orang yang masuk kekamarnya.
"Seharusnya kau tidak menangis seperti ini, anak cengeng." Kata Naruto pelan, tapi berhasil mengagetkan Inari.
"Tahu apa kau? Kau tidak tahu apa-apa tentang 'dia'." Balas Inari dingin.
"Aku tahu. Kau seharusnya bangga dengan ayahmu. Dia telah gagah berani memperjuangkan kebebasan untuk Nami no Kuni, tapi kau malah bersedih seperti ini. Aku yakin, ayahmu pasti sedih jika melihat kau menangis seperti ini. Aku juga tahu rasanya. Kedua orangtuaku adalah pahlawan di desaku. Aku baru mengetahuinya ketika aku berumur 8 tahun. Mereka malah sudah mati, yang menyebabkan aku menjadi anak yatim piatu. Tapi aku tak pernah sedih. Aku justru bangga dengan mereka, dan aku menganggap mereka sebagai pahlawanku. Jadi, rubahlah sifatmu itu. Kembalilah seperti Inari yang Kakek dan Ibumu kenal. Jangan menjadi anak cengeng seperti ini." Kata Naruto pelan sambil tersenyum.
Perkataan Naruto berhasil membuat Inari terkejut. "Be-benarkah itu? A-apa aku bisa berubah seperti du-dulu lagi?" tanya Inari takut-takut. "Tentu saja. Semua orang boleh mendapat kesempatan kedua bukan?" Jawab Naruto sambil tersenyum. Inari yang melihatnya pun ikut tersenyum. Lalu ia pun memeluk Naruto.
"Arigatou, Nii-san. Arigatou. Hiks...hiks..." Kata Inari sambil menangis.
"Ya." jawab Naruto singkat. Dan tak berapa lama kemudian, Inari pun tertidur dalam pelukan Naruto. Naruto yang melihatnya hanya tersenyum dan kemudian membaringkan tubuh Inari di atas Futonnya. Lalu, ia pergi ke kamarnya. Dengan senyum lembut yang masih setia diwajah tampannya ,tentunya.
.
.
.
.
.
TBC
A/N : Maaf kalau saya updatenya lama dan tidak memuaskan. Saya katakan lagi, meskipun sedang libur begini, saya tetap saja ada latihan. Jadi, terserah kalian kalau mau lanjut atau tidak (meski saya berharap kalian masih mau melihat kelanjutan fic abal ini)
Ya, tapi setidaknya tinggalkan lah jejak kalian dengan mengetik review di bawah. Dan, oh iya. Pairing Naruto dan nasib Haku dan Zabuza masih dibuka!
