DOCTOR (FOR LIFE )
HUNSOO VERSION
.
.
.
Original story by CHANSEKYUU
.
.
.
CAST : OH SEHUN
DO KYUNGSOO
Other cast
.
.
GENRE : MEDICAL, FAMILY, HURT, ROMANCE
RATE : M
.
.
AWAS TYPO
.
.
HAPPY READING
.
.
Malam itu Sehun pulang ke apartementnya bersama Luhan. Setelah pulang dari rumah orang tuanya, Sehun menjemput Luhan untuk mengerjakan tugas bersama sambil menikmati waktu mereka bersama. Meski saat di kampus mereka selalu bersama, tidak menampik jika mereka sering menghabiskan waktu berdua tidak hanya di apartement Sehun, tapi juga terkadang di apartement Luhan. Bahkan jika dipikir-pikir semenjak Sehun menyandang gelar sebagai mahasiswa, laki-laki itu sangat jarang sekali meluangkan waktunya untuk sang kekasih Do Kyungsoo. Jika di bentuk dalam sebuah presentase waktunya bersama Luhan dan Kyungsoo adalah 60% : 20% lebih dominan bersama Luhan. Padahal Kyungsoo adalah kekasihya, namun entah kenapa Sehun lebih nyaman menghabiskan waktunya bersama Luhan. Contohnya saja hari ini, Sehun meluangkan waktunya hanya beberapa jam saja untuk Kyungsoo, padahal dirinya tidak melakukan kencan bersama Kyungsoo hampir selama tiga minggu dan itu hanya ditebus dengan beberapa jam saja. Itupun tidak seintens dulu.
Alasan yang membuat Sehun lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Luhan, disamping dia teman kuliahnya adalah karena Kyungsoo sedang sibuk mempersiapkan diri untuk melakukan ujian tengah semesternya. Selain itu jarak sekolah dan kampus mereka yang jauh dan beda arah menambah mereka berdua sulit untuk meluangkan waktu untuk bersama. Tapi apakah itu alasan yang sebenarnya? Mungkin tidak...
Sehun laki-laki itu menyukai Luhan sejak beberpa bulan mereka dekat, keperibadian Luhan yang dewasa dan bisa mengerti dirinya adalah alasan utama kenapa laki-laki itu bisa dengan mudahnya berpaling dari gadis mungil yang sudah setahun lebih dia kencani. Seperti gayung bersambut, ternyata Luhan diam-diam juga menyimpan perasaan pada Sehun, hal itu jugalah yang membuat Sehun tanpa pikir panjang menjadikan Luhan kekasihnya. Lalu dengan tega mengkhianati Kyungsoo yang jelas-jelas sangat mencintainya. Sehun pikir semuanya telah berubah karena bagaimanapun Ia adalah seorang laki-laki yang tidak tahan jika harus berjauhan dan terabaikan meski itu demi masa depan sang kekasih. Pemikiran bodoh bukan?
Sejak pernyataan cintanya itulah hubungan Sehun dan Luhan lebih intens dari biasanya. Mereka akan menghabiskan waktu berdua setelah pulang kuliah. Saling bertukar ciuman satu sama lain, memeluk untuk menghangatkan tubuh masing-masing. Hingga tanpa sadar hal itu membuat hubungannya dengan Kyungsoo semakin menjauh, bahkan Sehun sering mengabaikan panggilan atau pesan dari Kyungsoo, lalu lebih memilih untuk bercumbu dengan seorang wanita yang berada didekapannya.
Seperti saat ini, setelah melepas sepatu, seperti biasa Luhan langsung mendudukkan diri di sofa ruang TV di apartement Sehun. Memejamkan matanya sejanak, namun hal itu terusik saat dengan tiba-tiba Sehun mencium bibir Luhan dengan sangat panas. Luhan yang mengertipun hanya bisa membalas perbuatan Sehun dengan tidak kalah panasnya. Lengkuhan-lengkuhan panas yang lolos dari bibir Luhan menambah semangat Sehun untuk memperdalam ciuman mereka.
Dan entah siapa yang memulai terlebih dahulu, yang pasti tubuh mereka kini dalam keadaan setengah telanjang. Baju Luhan dan Sehun tercecer di lantai tak beraturan karena sang empunya yang membuangnya begitu saja. Ciuman mereka terlepas, Sehun memandang Luhan dengan intens sambil mengusap bibir yang terlihat membengkak. Sedangkan Luhan sendiri masih mengatur nafasnya pasca ciuman panas mereka dengan duduk di pangkuan Sehun serta kedua tangan yang mengalung apik dileher Sehun.
"kau cantik" puji Sehun, tanganya mengusap dahi Luhan yang berpeluh.
Wanita itu tersenyum kecil lalu menghadiahi kecupan manis dibibir Sehun. Tidak mensia-siakan hal itu, Sehun dengan lahap melumat bibir Luhan tidak kalah panas dari ciuman pertama mereka. Bagi Sehun, bibir Luhan kini tengah menjadi candunya setelah bibir Kyungsoo.
Tangan kanan Sehun menekan tengkuk Luhan untuk memperdalam ciuman tersebut, sedang tangan kirinya dengan bebas meremas buah dada Luhan yang hanya terbalut bra berwarna merah. Namun bra tersebut tidak bertahan lama karena dengan lihainya Sehun melepas serta membuangnya begitu saja.
"eeuuungghhh..." sebuah lengkuhan lolos dari bibir Luhan disela-sela ciuman mereka saat tangan Sehun dengan kasar meremas buah dadanya. Menghadirkan gelenyar panas dan geli yang menjalar keseluruh tubuhnya.
Merasa sofa ruang TV tidak memungkinkan untuk melanjutkan aksi mereka, Sehun dengan pelan memboyong tubuh Luhan menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Membiarkan pakaian mereka berserakan begitu saja. Luhanpun tanpa protes, malah mengalungkan kedua kakinya dipinggang Sehun layaknya koala agar tidak terjatuh. Dua sejoli itu terus berjalan tanpa melepas sejenak ciuman panas mereka.
Setelah sampai di kamar, Sehun membaringkan Luhan dengan sedikit kasar. Melepas tautan bibir mereka, dengan tidak sabar Sehun melepas satu-satunya kain yang menujuti tubuhnya begitupun juga dengan kain yang menutup tubuh Luhan. Dengan sekali tarik kain tipis penutup area intim Luhan itupun terlepas dan menampakkan surga dunia yang sudah terlihat mengkilat basah.
"ooouuhhhh Sehuuunnnn uuuhhh" rancau Luhan saat tiba-tiba tangan Sehun masuk kedalam lubangnya.
Ini adalah hal pertama yang mereka lakukan semenjak menjalin menjadi sepasang kekasih. Kerena sebelum-sebelumnya mereka hanya melakukan sebatas ciuman panas tidak sampai pada tahap adegan ranjang seperti yang mereka lakukan sekarang. Yang membuat mereka lupa dengan tujuan awal jika mereka ingin mengerjakan tugas.
"aku akan masuk Lu..." ucap Sehun dengan suara beratnya.
Wanita itu hanya bisa menganggukkan kepalnya saja, karena Luhan tidak sanggup untuk berbicara ditengah kenikmatan yang tengah melandanya saat ini. Yang Luhan ingin, Sehun segera memasukinya dan memuaskan nafsu mereka bersama dalam kegiatan panas yang penuh gairah.
"fasshhhhteerrr seehhhuunnn oouuhhhh" tubuh Luhan yang mengkilat terhentak-hentak seiring dengan hujaman-hujaman yang dilakukan Sehun dibawah sana.
Laki-laki itu menggeram dan menambah tempo hentakannya. Kejantanannya terasa dipijat-pijat didalam sana, hingga membuat Sehun mengumpat dalam hati saking sempitnya lubang Luhan. Hal itu membuatnya terasa gila, hingga awalnya yang ingin bermain lembutpun berubah bermain kasar. Namun hal itulah yang membuat kenikmatan diantara mereka bertambah. Hingga membuat keduanya mencapai puncaknya dengan sangat dasyat.
Setelah kegiatan panas mereka berlalu hingga beberapa hari, hubungan Sehun dan Luhan masih berjalan seperti biasanya. Namun ada yang berbeda dengan yang Sehun rasakan. Tidak ada hubungannya dengan Luhan, akan tetapi dengan Kyungsoo. Gadis itu sama sekali tidak mengiriminya pesan ataupun menghubunginya. Dan itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Meski terkadang pesan atau telvon dari Kyungsoo tidak Ia angkat, namun gadis itu sama sekali tidak menyerah. Tapi tidak dengan sekarang, Sehun baru sadar jika sudah satu minggu Kyungsoo sama sekali tidak menghubunginya. Merasa khawatir, Sehun mencoba menghubungi nomor Kyungsoo namun hasilnya nihil. Nomor Kyungsoo tidak aktif. Hingga Sehun memutuskan untuk menunggu beberapa hari, berharap Kyungsoo menghubunginya seperti hari-hari biasanya. Mengucapkan selamat pagi, siang, dan malam. Mengingatkannya untuk makan. Namun hal itu tidak pernah terjadi.
Seiring dengan berjalannya waktu, hubungan Sehun dan Luhan semakin tidak menentu dan mereka memutuskan untuk mengakhirinya dengan cara baik-baik. Baik Sehun maupun Luhan sadar jika hubungan mereka hanya sebatas kesenangan sesaat saja. Namun meski mereka memutuskan untuk putus, tidak menghalangi mereka untuk menjadi teman baik untuk saling bertukar cerita. Seiring berakhirnya hubungannya dengan Luhan, Sehun memilih untuk menyembunyikan semuanya dari Kyungsoo dan memilih untuk fokus pada hubungannya dengan gadis bermata bulat tersebut. Namun siapa sangka jika semua tidak berjalan seperti yang Sehun harapkan. Karena kekasih mungilnya itu tiba-tiba saja menghilang tanpa sepatah kata yang di ucapkan padanya.
Suasana di kediaman keluarga DO tidak seperti biasanya. Jika biasanya meja makan itu akan banyak candaan dan tawa kini hanya ada keterdiaman, meski sesekali Eun Kyun bercanda dengan Wonho namun hal itu tidak bisa membuat suasana meja makan tersebut berubah menghangat. Apalagi terdapat satu kursi kosong di sebelah Wonho yang biasanya akan ditempati oleh Kyungsoo. Baekhyun yang biasanya cerewetpun juga tidak berani membuka suaranya.
Joong Ki berdeham lalu membuka suara karena merasa tidak nyaman dengan suasana saat ini. Terlebih ada ibu mertua yang baru saja datang tadi pagi. "kenapa Kyungsoo tidak ikut makan?" ucapnya. Karena memang sedari tadi Ia tidak melihat anak perempuannya tersebut bergabung dengan mereka.
"dia ada di kamarnya, biarkan saja dia. Kalau lapar pasti juga turun..." jawab Hye Kyo dengan ketus yang membuat Joong Ki mengeryit heran, karena tidak biasanya istrinya tersebut berbicara seketus itu jika menyangkut dengan Kyungsoo atau anaknya yang lain.
"apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya dengan nada bingung.
Hye Kyo menghela nafas pelan, lalu beranjak dari duduknya. "aku selesai" ucapnya lalu meninggalkan meja makan begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari sang suami.
"susullah dia Joong Ki-ya... biar Eomma mengurus Kyungsoo." Ujar wanita yang sudah terlihat menua yang tak lain adalah —sang mertua— Lee Chae Woon.
Joong Kipun mengangguk dan dengan sopan meminta ijin undur diri untuk menyusul sang istri ke kamar mereka.
"cha... lebih baik kita makan dengan nyaman, nenek tidak tahan jika harus diam terus. Jadi Baekhyun bagaiman kandunganmu?" tanya Chae Woon mengalihakan pandangannya pada wanita mungil yang sedang disuapi oleh Chanyeol.
Baehyunpun menelan makananya dengan pelan. "baik haelmoni, dia juga sehat di dalam sini" Baekyun tersenyum cerah sambil mengelus perut yang sedikit terlihat berisi.
Chae Woonpun mengangguk. "jangan terlalu lelah dan makan-makanlah makanan yang bergizi, jangan lupa melakukan olahraga ringan untuk menjaga daya tahan tubuhmu agar tidak mudah sakit" nasehatnya dengan ucapan lembut.
"ne Haelmoni..." Baekhyun menjawab dengan semangat.
Suasana meja makan itupun menghangat dengan obrolan ringan mereka serta celotehan Eun Kyun dengan Wonho yang saling berselisih tentang hal-hal sepele, yang hanya mereka berdualah yang mengerti.
Kyungsoo mengurung diri di dalam kamar, tidak ada niatan untuk bergabung makan malam dengan orang rumah. Padahal Ia sangat merindukan makan malam bersama neneknya. Namun karena di meja makan ada sang Ibu, Ia memilih untuk menahan diri. Ia masih kesal dengan sang Ibu, dan bisa dipastikan jika Ibunya itu juga masih kesal dengannya. Di tambah lagi dengan Eun Kyun yang tidak mau berbicara padanya setelah kejadian tadi siang di rumah sakit. Anaknya itu sama sekali tidak mau menyapa barang satu katapun.
Hatinya sakit saat Eun Kyun tidak menganggapnya, namun balik lagi itu karena kesalahhannya sendiri yang berbuat kasar pada anak yang tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar walaupun hanya sekali. Dan sudah dipastikan jika Eun Kyun sangat terkejut akan hal itu. Rasa emosinya yang berlebihan membuatnya bertindak tanpa berpikir panjang, dan sekarang Ia sangat menyesal akan hal itu.
Kyungsoo mengeratkan baju hangatnya, memandangi langit yang bertabur bintang dari balkon kamarnya. Pikirannya menerawang jauh tentang apa saja hal yang sudah banyak Ia lewati sejauh ini. Adakah rasa menyesal dalal dirinya? Jawabannya tentu saja tidak. Meski hatinya sakit namun Ia tidak pernah menyesal mencintai Sehun, begitupun dengan kehadiran Eun Kyun. Dari pada memiliki penyesalan Kyungsoo lebih menganggap Eun Kyun adalah anugrah baginya meski hadirnya Eun Kyun di luar ikatan yang di sebut sebuah pernikahan. Malah kehadiran Eun Kyunlah yang membuat Kyungsoo bisa bangkit kembali seperti sekarang ini.
Flashback
.
.
Tubuh ganis mungil itu tergeletak begitu saja di trotoar ditengah derasnya hujan yang tengah melanda kota Seoul. Matanya tertutup rapat dengan bibir yang mulai membiru karena kedinginan. Sungguh memprihatinkan, jalan yang sepi karena hujan membuat daerah tersebut sepi dan tidak ada satu orangpun yang lewat. Sedang tubuh Kyungsoo semakin terlihat pucat. Beberapa menit berlalu tanpa ada orang yang menolongnya.
Hingga Tuhan berbaik hati mengirim sang penyelamat untuk Kyungsoo. Seorang wanita dengan baju hangat, membawa payung dan juga kantung belanja menemukannya.
"astaga... agassi kau tidak apa-apa?" wanita paruh baya tersebut mengguncang pelan tubuh dingin Kyungsoo, berharap gadis itu sadar. Namun nihil, Kyungsoo sama sekali tidak merespont. Hingga wanita tersebut memilih menghubungi ambulance karena Ia tidak berani membawa orang asing ke rumahnya.
Setelah beberapa saat tubuh Kyungsoo, diangkat menggunakan tandu lalu di masukkan kedalam mobil ambulance oleh petugas medis dan langsung mendapatkan petolongan. Tubuh mungil itu dibalut dengan selimut tebal serta selang infus yang sudah terpasang rapi di tangan kirinya. Segera setelahnya ambulance tersebut melaju membelah derasnya hujan untuk menuju rumah sakit.
.
.
Kyungsoo mulai mengerjapkan matanya dengan pelan menyesuaikan cahaya matahari yang masuk kedalam retina matanya. Kepalanya terasa pening serta tubuhnya terasa sakit dan Ia yakin jika dirinya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Saat setelah menyadari jika dirinya berada dirumah sakit, ingatan tentang hal yang Ia lihat semalampun terputar kembali diotaknya. Membuat Kyungsoo kembali menangis dalam diamnya. Rasa hatinya sangat sakit melebihi apapun. Ia rasanya tidak percaya jika Sehun tega menyakitinya. Ia baru sadar jika selama ini Ia menjalin hubungan yang penuh dengan kebohongan dan penghianatan. Sedungu itukah dirinya hingga dengan mudahnya dipermainkan oleh dua orang yang dianggap penting dalam hidupnya. Dan sekarang pertanyaannya hanya satu, masihkah Ia akan diam saja, ataukah lebih baik Ia menghilang?
Kyungsoo buru-buru menghapus air matanya saat mendegar pintu ruang rawatnya dibuka. Dan tak lama masuklah Ayah, Ibu, dan juga kakaknya dengan wajah yang terlihat sangat khawatir. Namun dibalik itu Kyungsoo menangkap ekpresi yang tidak dapat Ia baca tersirat dari ketiga wajah orang yang saat ini berjalan mendekat kearah ranjangnya. Kyungsoo juga tidak tahu kapan kedua orang tuanya kembali dari luar kota. Namun Ia tidak terlalu perlu mempermasalahkannya. Karena yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya Ia mencari alasan pada orang tuannya jika ayah atau ibunya bertanya tentang apa yang terjadi hingga Ia masuk rumah sakit. Meski Ia sangsi, pasti pihak rumah sakit atau yang menemukannya sudah terlebih dahulu memberi tahu kedua orang tuannya.
"kau sudah bangun?" tanya sang Ibu dengan nada yang bergetar, lalu dengan tiba-tiba menghambur, memeluk tubuh Kyungsoo dengan erat sambil menangis.
Kyungsoopun membalas pelukan sang Ibu —tangannya mengusap punggung ibunya— berusaha menenangkan sang Ibu dari rasa khawatirnya. "Eomma... aku baik-baik saja, berhentilah menangis" tutur Kyungsoo dengan rasa bersalah karena membuat ibunya khawatir padanya.
Hye Kyo mengeratkan pelukannya, Ia tidak tahu apa yang harus Ia lakukan pada sang anak. Apakah Ia harus marah ataukah bagaimana. Berita dari dokter sungguh mengejutkannya. Anaknya tengah hamil, dan sebagai seorang Ibu, Hye Kyo merasa gagal menjaga anaknya. Begitupun juga Joong Ki dan Chanyeol.
Hye Kyo melepas pelukannya dengan pelan lalu menghapus lelehan air matanya. "apa selama ini tengah terjadi sesuatu yang tidak kau ceritakan pada Eomma, appa dan oppamu sayang?" Hye Kyo sebisa mungkin menjaga intonasi suaranya agar tidak terlihat aneh di telinga sang anak.
Kyungsoo memandang ibunya dengan pandangan penuh kebingungan. "tidak ada eomma..." jawab Kyungsoo lirih.
"benarkah?" Hye Kyo mencoba memastikan.
Kyungsoo memandang ibunya dengan seksama, karena Ia merasa ibunya tengah menyembunyikan sesuatu. "benar Eomma, aku tidak menyembunyikan hal apapun." Ucapnya.
Hye Kyo menghela nafas dengan kasar, merasa kesal dengan sang anak yang tak kunjung berkata jujur padanya. "jangan mencoba berbohong pada Ibu, Kyungsoo..." desak Hye Kyo. " kau tahu... (Hye Kyo menghela nafas dalam-dalam sedikit ragu dengan apa yang akan Ia sampaikan) kau hamil Kyungsooo... astaga kau menyembunyikan hal besar ini dari kami semua, apa ini kau sebut dengan jujur?" emosi Hye Kyo akhirnya meledak juga.
Tubuh Kyungsoo menegang mendengar penuturan sang Ibu. Pandangannya kosong, pikirannyapun blank. Bahkan Kyungsoo tidak merespon saat ibunya mengguncang tubuhnya meminta penjelasan tentang semuanya.
"demi Tuhan Kyungsoo jawab eomma..." pekik Hye Kyo.
Joong Ki mendekat ke ranjang Kyungsoo, lalu menepuk bahu sang Istri untuk menenangkannya. "biarkan Kyungsoo istirahat dulu yeobo, kita bicarakan nanti saat di rumah." Tuturnya. Sebenarnya Joong Ki sendiri teramat sangat terkejut dengan berita yang disampai oleh dokter. Namun Ia harus bisa berbikiran jernih dan tetap tenang, meski hatinya tidak bisa tenang. Tapi paling tidak, Ia sebagai kepala rumah tanggah harus bisa membimbing istrinya untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Cairan bening itu mulai keluar dari kedua mata Kyungsoo dan membasahi pipinya. Ia bingung akan apa yang harus diutarakan pada kedua orang tuanya. Kyungsoo tahu betul siapa ayah dari janin yang dikandungnya saat ini, tapi mengingat hal yang terjadi semalam Kyungsoo tidak yakin bisa mengatakan yang sejujurnya kepada kedua orang tua serta kakaknya.
Tangan Kyungsoo dengan bergetar mengusap perut ratanya dengan air mata yang tidak berhenti keluar. Chanyeol yang melihat itupun duduk dipinggir ranjang Kyungsoo —yang tadi sempat di duduki oleh ibunya— lalu membawa tubuh Kyungsoo dalam dekapannya sambil mengusap rambut Kyungsoo dengan pelan. Mencoba menenangkan sang adik. "apakah dia?" bisiknya tepat di telinga Kyungsoo agar tidak terdengar oleh kedua orang tuanya yang saat ini sedang berbicara berdua di sofa ruangan tersebut.
Kyungsoo mengangguk pelan, kedua tangannya meremas hoodie Chanyeol dengan sangat kuat.
"aku akan memberi tahu dia jika kau..." ucapan Chanyeol terputus saat Kyungsoo menggelengkan kepalanya lalu dengan sangat lirih berkata pada Chanyeol jika Sehun tidak perlu tahu soal itu. Chanyeol ingin protes dengan permintaan Kyungsoo, namun melihat sang adik itu memasang wajah memahon akhirnya mau tidak mau Chanyeol menurutinya. Dan saat lelaki itu ingin menanyakan alasannya, Kyungsoo berkata akan menceritakan semua, lagi-lagi dengan syarat untuk tidak menceritakan hal ini dengan siapapun termasuk orang tuanya terlebih Sehun.
Hari itu juga Kyungsoo keluar dari rumah sakit. Sampainya di rumah gadis yang masih duduk di tingkat akhir itu di introgasi oleh kedua orang tuanya. Mereka bertanya soal siapa ayah dari janin yang ada di perutnya, dan Kyungsoo dengan tegas menjawab jika Ia tidak tahu. Gadis itu membuat alasan jika hal itu terjadi saat pesta ulang tahun Baekhyun yang diadakan di jeju satu bulan yang lalu. Dan Kyungsoo menjawab jika waktu itu Ia tidak sengaja meminum, minuman beralkohol hingga membuatnya mabuk dan tidak ingat apapun. Hingga paginya Ia tengah sadar diatas tempat tidur sudah tanpa pakaian, tanpa ada orang lain di kamar tersebut. Kyungsoo tidak sepenuhnya berbohong, karena memang benar ulang tahun baekhyun di rayakan di Jeju, dan gadis itu mengundang teman sekelas, serta orang-orang yang dikenalnya. Yang sebagian tidak Kyungsoo kenal. Bagian bohongnya adalah tentang Ia yang terbangun tanpa orang disisinya, karena sudah sangat jelas jika waktu itu Sehunlah yang Ia lihat saat pertama kali membuka mata. Tentang apa yang mereka perbuat, mereka melakukannya dengan sangat sadar tanpa ada pengaruh alkohol setetespun.
Alasan yang dilontarkan oleh Kyungsoo sempat menyulut emosi Joong Ki, karena Kyungsoo tidak bisa membedakan minuman alkohol atau bukan. Dan mereka masih di bawah umur untuk menyentuh minuman yang mengandung alkohol. lagi-lagi Kyungsoo menjawab jika ada yang salah memesan minuman, dan diantara gadis tidak tahu jika minuman tersebut adalah minuman beralkohol.
Bukan hanya Kyungsoo yang kena amukan oleh sang ayah dan ibunya, Chanyeol selaku kakaknya juga tidak habisnya diceramahi oleh kedua orang tuanya yang tidak bisa menjaga adiknya dengan baik. Karena Chanyeol juga termasuk yang menghadiri pesta ulang tahun Baekhyun.
Terlepas dari masalah di Jeju, orang tua Kyungsoo meminta dirinya untuk mencari siapa ayah dari anak yang di kandungnya, siapa tahu ada yang melihat seseorang yang malam itu tidur dengannya. Namun Kyunsoo dengan keras menolak. Dan lebih memilih memohon kepada kedua orang tuanya untuk berhenti membahas hal itu. Lalu gadis itu juga meminta kepada ayah dan juga ibunya jika Ia ingin pergi dari korea besok paginya dengan alasan tidak ingin membuat kedua orang tuanya malu.
Awalnya Hye Kyo dan Joong Ki tidak menyetujui permintaan Kyungsoo. Namun dengan segala bujuk rayu yang dilakukannya, akhirnya ayah dan ibunya tersebut mau mengabulkan permintaan Kyungsoo, dengan syarat jika Kyungsoo harus menjadi seorang dokter, profesi yang tidak di inginkan oleh Kyungsoo. Karena gadis itu ingin sekali menjadi seorang penyanyi seperti Ailee idolanya yang memiliki suara emas. Dengan adanya hal ini praktis Kyungsoo harus merelakan cita-citanya dan menuruti kedua orang tuanya sebagai dokter.
Malam itu juga Kyungsoo mulai membereskan semua baju dan juga barang-barangnya untuk dibawa ke Amerika sambil menceritakan semuanya kepada Chanyeol. Lelaki jangkung itu sangat marah ketika mendengar semua cerita yang dilontarkan oleh Kyungsoo. Bahkan Chanyeol sudah bergerak ingin keluar dari kamar Kyungsoo untuk menemui Sehun membuat perhitungan dengan laki-laki albino tersebut. Namun Kyungsoo dengan keras mencegahnya, karena Ia tidak ingin masalahnya semakin rumit, selain itu Sehun bisa mengetahuinya jika saat ini Ia tengah mengandung anaknya. Dan Kyungsoo tidak mau hal itu sampai terjadi. Maka dengan berat hati Chanyeol meredam emosinya lalu memeluk sang adik untuk menguatkan Kyungsoo. Seorang adik yang sangat Ia sayangi tersebut.
Masalah sekolah, Kyungsoo tidak perlu memikirkannya lagi. Karena Ayahnyalah yang akan mengurus semuanya. oleh karena itu Kyungsoo hanya perlu meninggalkan Korea saja. Tiket dan pasporpun sudah di tangan, tinggal menunggu hari berganti pagi yang akan merubah semuanya.
Kyungsoo menghela nafas pelan saat pikirannya kembali pada dunia nyatanya. Jika mengingat hal itu Ia sangat bersyukur, karena disaat dirinya terpuruk kedua orang tuanya tidak pernah menuntut Kyungsoo untuk mengugurkan anaknya, atau seperti orang tua kolot di luaran sana yang akan menjodohkan putrinya untuk menutupi aib keluarganya. Kedua orang tuanya malah semakin overprotektive padanya, meski Ia hidup di Amerika namun baik ayah ataupun ibunya selalu menceramahi Kyunsoo untuk tidak melakukan hal-hal berat yang bisa membahayakan kandungannya. Dilain itu sang nenek juga tidak kalah overperotiktive dari kedua orang tuanya. Meski sudah tua sang nenek selalu menyediakan apa saja yang Kyungsoo inginkan di saat Ia mulai merasakan ngidam seperti ibu hamil pada umunya. Bahkan neneknya itu merawatnya dengan sangat baik.
Kyungsoo melangkah memasuki kamar saat udara semakin terasa dingin. Dengan pelan Ia menutup pintu dan tirai, lalu berniat merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur. Namun hal itu urung saat ponselnya tiba-tiba saja berdering. Dengan sangat malas Kyungsoo meraih benda persegi panjang itu dan melihat nama Jongin tertera pada layar ponselnya.
"iya oppa ada apa?" tanya Kyungsoo setelah mengeser tombol warna hijau.
Jongin menyelimuti Lyu In dengan ponsel ditelinga dan diapit oleh bahunya. " ooh Kyungsoo, maaf mengganggumu, bisakah kau kerumah? Lyu In sakit dan muntah sedari tadi, aku takut terjadi apa-apa padanya." Tutur Jongin dengan khawatir.
"baiklah aku akan segera kesana."jawab Kyungsoo lalu menutup panggilan mereka setelah Jongin mengucapkan terimakasih.
Kyungsoo menuruni tangga sambil membawa kotak peralatan dokternya yang selalu Ia sediakan dirumah, untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba saja ada yang sakit dirumah atau ada yang membutuhkan dirinya seperti saat ini.
"Kyungsoo kau mau pergi kemana? Tidak makan malam dulu?"tanya sang nenek.
Kyungsoo berhenti sebentar di ruang TV. "tidak haelmoni, aku akan kerumah Jongin. Lyu In sakit dan Jongin memintaku untuk memeriksanya." Nenek Kyungsoo mengangguk mengerti, karena dia juga mengenal Jongin dengan sangat baik, bahkan menganggap Lyu In sudah seperti Eun Kyun sebagai cucunya.
"ooohhh Lyu In Hyung sakit..? Mom... bolehkah aku ikut?" untuk pertama kalinya Eun Kyun berbicara pada Kyungsoo setelah seharian ini mendiamkan ibunya.
Kyungsoo melihat ke arah Eun Kyun sekilas, terlihat sekali anak itu sedang memasang wajah memohon untuk ikut, lalu Kyungsoo beralih memandang sang nenek. Neneknya yang mengertipun menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan tak tersirat Kyungsoo.
"baiklah... tunggu sebentar." Kyungsoo meletakkan tas dokternya di sofa dekat Wonho, lalu berjalan kembali ke lantai atas menuju kamar Eun Kyun untuk mengambilkan baju hangat sang anak.
Tak lama Kyungsoo sudah turun kembali sambil membawa baju hangat Eun Kyun, lalu memakaikan baju tersebut pada sang anak yang sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan Lyu In, anak Jongin yang umurnya lebih tua darinya.
"kami berangkat..." pamit Kyungsoo pada semua sambil menggandeng Eun Kyun.
"hati-hati di jalan jangan mengebut.." pesan sang nenek, yang diangguki oleh Kyungsoo.
"aahhhhh nyamannya..." ucap Wonho sambil merebahkan kepalanya dipaha sang nenek setelah Kyungsoo dan Eun Kyun menghilang di balik pintu.
Chanyeol dan Baekhyunpun hanya bisa menggeleng, lalu meminta ijin pada nenek mereka untuk pergi kekamar. Jadi tinggalah sang nenek dan juga Wonho yang mulai saat ini tinggal di rumah keluarga DO.
"dasar kau ini..." cibir sang nenek pada Wonho dengan senyum di bibirnya.
Wonho beringsut menghadap perut sang nenek sambil memeluk pinggangnya. "haahh akukan merindukanmu, haelmoni"jawab Wonho.
Wanita tua tersebut hanya terkekeh dan memfokuskan matanya pada layar TV , tangannya sambil mengusap kepala Wonho dengan sangat lembut. Hal yang sangat Wonho sukai.
Dilain sisi tepatnya di sebuah kamar, pasangan suami istri yang tak lain adalah —kedua orang tua Chanyeol dan Kyungsoo— Hye Kyo dan Joong Ki tengah berbicara. Atau lebih tepatnya Joong Ki lah yang saat ini sedang berbicara membujuk sang istri untuk bercerita dengan apa yang tengah terjadi antara dirinya dan juga Kyungsoo. Namun Hye Kyo tetap bungkam, wanita paruh baya tersebut malah semakin mengeratkan selimutnya dan pura-pura memejamkan mata agar dikira suaminya jika sudah tertidur. Namun Joong Ki tahu jika sang istri hanya pura-pura untuk menghindari pembicaraan atau pertanyaan yang Ia lontarkan.
Joong Ki menarik nafas kuat-kuat lalu menghembuskannya dengan pelan, meredakan emosi yang tiba-tiba saja menyeruak saat merasa jengkel dengan sikap sang istri. "Song Hye Kyo..."panggil Joong Ki dengan suara berat sarat akan ketegasan yang tiba-tiba saja menguar dari aura sekitaran tubuhnya. Yang membuat Hye Kyo sedikit menciut dari balik selimutnya, Ia tahu jika nada suara sang suami sudah berubah itu bertanda jika saat itulah suaminya tersebut benar-benar sudah merasa jengkel dengan dirinya. Namun Hye Kyo masih enggan untuk berbicara, karena jujur saja dirinya sendiripun belum tahu bagaimana caranya menjelaskan pada sang suami tentang jalan yang Ia ambil tanpa membahas terlebih dulu dengan sang suami terlebi menyangkut tentang Kyungsoo dan juga sang cucu.
"jangan biarkan aku sendiri yang mencari tahu dengan apa yang sedang terjadi" ucap Joong Ki sekali lagi.
Dan kini ucapan lelaki itu berhasil membuat Hye Kyo dengan kasar membuka selimutnya, lalu mendudukkan dirinya di hadapan sang suami yang kini tengah menatapnya dengan tatapan tajam menghakimi. Ia mengatur nafasnya sejenak lalu mulai membuka suara menceritakan semuanya pada sang suami tanpa ada yang di kurang atau ditambahkan. Mulai dari tentang ayah Eun Kyun yang sebenarnya lalu dengan rencananya yang akan menikahkan Kyungsoo dengan Sehun. Ia juga menjelaskan jika dirinya sudah membicarakan soal pernikahan Kyungsoo dan Sehun dengan kedua orang tua Sehun. Bukan hal sulit untuk melakukan itu, karena sejatinya keluarga DO dan OH sangat dekat.
Joong Ki sangat terkejut dengan penuturan sang istri, karena dari awal Ayah Kyungsoo tersebut memang tidak mengetahu tentang siapa Ayah kandung dari sang cucu. Sejak Kyungsoo tidak mau mengungkit-ungkit lagi tentang hal itu, praktis Joong Ki juga tidak lagi bertanya Ia juga tidak pernah untuk sekedar mencari kebenaran dari cerita yang dilontarkan anak-anaknya. Namun bukan hal itu saja yang sangat membuatnya terkejut, tapi juga tentang rencana sang istri dan keluarga OH yang ingin menikahkan Kyungsoo dan Sehun tanpa meminta pendapat dari dirinya dan juga kedua orang yang bersangkutan atau lebih tepatnya dua orang yang menjadi tokoh utama dari rencana mereka semua.
Joong Ki memijat pelipisnya sejenak, pantas jika Kyungsoo merasa jengkel dengan sang Ibu. Bahkan Joong Ki sendiri tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran sang istri yang begitu mudahnya mengambil keputusan sepihak seperti itu, tanpa memikirkan perasaan Kyungsoo selaku sang anak. "Kyungsoo pasti memiliki alasan kenapa Ia sangat menolak Sehun untuk menjadi suami dan Ayah Eun Kyun secara sah, harusnya kau bicara baik-baik terlebih dahulu dengan Kyungsoo. Bukan malah mengambil keputusan yang bahkan tidak kau bicarakan terlebih dahulu padaku suamimu sendiri." Joong Ki mencoba membuat sang istri mengerti dengan Kyungsoo.
Hye Kyo mendongak dan membalas tatapan sang suami. "aku melakukan ini juga tanpa alasan, Eun Kyun sangat membutuhkan figur sosok Ayah, sama seperti anak-anak lain seusiannya. Dan masalah pernikahan mereka, bukankah lebih baik Kyungsoo menikah dengan laki-laki yang sudah jelas berstatus Ayah kandung Eun Kyun? Apa kau mau Kyungsoo menikah dengan laki-laki yang bukan ayah kandung Eun Kyun dan memperlakukan Eun Kyun dengan tidak baik?" tanya Hye Kyo mencoba membela diri.
Joong Ki mengerti dengan apa yang diutarakan oleh sang istri dan dia sangat paham dengan hal itu. Karena semua yang dikatakan sang istri tidak ada yang salah. Ia juga tahu maksud baik dari istri tercintanya tersebut, akan kekhawatirannya pada sang cucu jika mendapatkan sosok ayah yang tidak sesuai dengan harapan. Namun dimatanya istrinya tetap saja salah, karena mengambil keputusan tanpa dipikir dulu secara matang dan tanpa meminta persetujuan darinya yang jelas-jelas adalah kepala keluarga. Dan keputusannyalah yang seharusnya paling utama di keluarganya.
Kyungsoo baru saja sampai di rumah Jongin, lalu langsung menuju kamar Jongin dimana Lyu In berada. Sedangkan Eun Kyun sudah berlari mendahuluinya. Kyungsoo hanya bisa menggelengkan kapala melihat kelakuan sang anak. Eun Kyun dan Lyu In adalah dua orang anak yang dekat satu sama lain. Tidak jarang saat di Amerika Eun Kyun akan menginap di rumah Jongin begitupun sebaliknya. Namun lebih banyak Lyu In lah yang main ke rumah karena saat di tinggal Jongin kerja otomatis di rumah Jongin hanya ada maid yang dipekerjakannya untuk mengurus rumah. Dan itu membuat Lyu In bosan karena tidak ada yang diajaknya untuk bermain. Kyungsoo sangat memaklumi hal itu, baik dirinya ataupun nenek dan Wonho tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka semua malah senang, apalagi neneknya dia sangat senang sekali jika dirumahnya banyak anak kecil.
Kyungsoo memasukkan kembali peralatan kedokterannya kedalam tas jinjing, lalu menatap kedua makhluk mungil yang sedang tidur saling memuluk, ah tidak Eun Kyunlah yang memeluk tubuh Lyu In. Ya sejak kedatangannya beberapa menit yang lalu Eun Kyun langsung berbaring di samping tubuh Lyu In yang sedang tertidur. Wajah anak Kyungsoo itu terlihat sangat khawatir, bahkan sebelum benar-benar ikut mengarungi mimpi, Eun Kyun tidak henti-hentinya bertanya pada Lyu In tentang bagian mana yang terasa sakit, tangan mungilnya juga mengusap pipi Lyu In dengan sayang. Ya... begitulah hubungan Eun Kyun dan Lyu In, mereka sangat dekat dan saling meyayangi, saling mengkhawatirkan satu sama lain jika salah satu dari mereka sedang sakit. Perasaan sayang dan khawatir ketulusan yang hadir dari hati anak kecil yang saling mengasihi.
"dia hanya kelelahan oppa, dan sepertinya Ia juga belum makan, apa benar?" pandangan Kyungsoo beralih pada Jongin yang saat ini memparhatikan dua makhluk yang sedang terlelap di atas ranjangnya. Tangan mungil Eun Kyun berada di perut Lyu In, sedang Lyu In berbaring dengan selang infus terpasang di tangan kananya.
Jongin menoleh, "ya... dia tidak mau makan seharian ini, bahkan bujukan eomma yang biasanya selalu berhasilpun tidak mempan." Jongin melihat ke arah ranjang kembali dengan tatapan sendu.
"apa terjadi sesuatu?" tanya Kyungsoo dengan hati-hati.
Jongin mengangguk sekilas lalu memberi kode pada Kyungsoo untuk mengikutinya. Kyungsoo yang mengertipun mengikuti Jongin dari belakang meninggalkan kamar Jongin. Kyungsoo tidak perlu mendesak Jongin untuk berbicara karena seperti itulah hubungan mereka yang akan selalu berbagi cerita tanpa perlu diminta jika masing-masing tidak bisa lagi menanggungnya sendiri.
Dan disinilah Jongin dan Kyungsoo sekarang. Duduk di teras belakang rumah Jongin, sambil memegang cangkir coklat panas yang beberapa saat lalu diantarkan oleh maid di rumah Jongin.
"jadi?" Kyungsoo membuka percakapan diantara mereka.
Jongin menghela nafas sejenak sebelum membuka suara. " Luhan kemarin menemui Lyu In, (Kyungsoo langsung menoleh ke arah Jongin saat mendengar nama Luhan disebut) dia bahkan sempat memeluknya. Luhan meminta padaku untuk memberinya satu kesempatan." Tuturnya sambil menerawang jauh, lalu meminum coklat panasnya.
Kyungsoo merasa tidak terkejut cerita tentang Luhan, karena Kyungsoo telah mengetahui semuanya. tentang hubungan Jongin dan Luhan. Awal mulanya Ia tidak mengetahui tentang hal ini, namun pada suatu hari Ia tidak sengaja melihat selembar foto Jongin dan Luhan yang terjatuh dari buku yang dibawa Jongin. Merasa penasaran akhirnya Kyungsoo memberanikan diri untuk menayakannya. Dan tanpa disangka cerita itupun mengalir begitu saja dari bibir Jongin. Lelaki itu menceritakan semuanya padanya. Bukankah dunia ini begitu sempit, hingga kita tidak sengaja dipertemukan dengan orang yang senasip dengannya dan lebih mirisnya lagi mereka berdua adalah korban dari dua orang yang sangat mereka sayang.
"apa kau menerimanya?"
Jongin menggeleng. "aku meninggalkannya begitu saja saat dia memohon. Kau tahu sendiri Soo semua itu tidak mudah, aku rasa kau juga merasakannya." Jongin menoleh ke arah Kyungsoo sekilas.
"kau tahu... Lyu In kemarin malam sempat bertanya padaku apakah Luhan adalah ibunya. Lebih parahnya lagi Lyu In yang selama ini aku tahu adalah anak yang ceria tiba-tiba saja menagis dan bercerita jika dia ingin sekali memiliki seorang ibu. Agar dia bisa membanggakan sosok ibu seperti yang teman-teman sekolahnya lakukan. (Jongin menaruh cangkirnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar) demi Tuhan Kyungsoo aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."
Kyungsoo menghela nafas kasar, bagaimana hal ini bisa terjadi hampir secara bersamaan seperti sebuah takdir tidak pernah habis untuk mempermainkan mereka berdua. Dalam konteks ini posisi Eun Kyun dan Lyu In bisa dibilang sama yang membedakannya adalah mereka tumbuh tanpa sosok ayah bagi Eun Kyun dan tanpa sosok Ibu bagi Lyu In. "haruskah kita kembali pada mereka demi Eun Kyu dan Lyu In?" tanpa Kyungsoo.
Jongin menatap Kyungsoo dengan kening berkerut. "jangan bilang dia..."
"ya" potong Kyungsoo, karena Ia bisa menebak dengan apa yang akan dikatakan oleh Jongin. "hampir sama denganmu tapi bedanya, Sehun tidak sengaja bertemu dengan Eun Kyun pagi tadi di rumah sakit. Dia juga menggendong Eun Kyun, yang membuatku terkejut Eun Kyun memanggilnya Daddy. Panggilan yang membuatku bertindak bodoh dan hampir saja...ah tidak... tidak bahkan aku sudah membuat Eun Kyun takut padaku. Bahkan anak itu mendiamkanku, dia baru bicara saat aku bilang ingin kesini." Kyungsoo menghentikan ucapannya sejenak, sedangkan Jongin masih setia menunggu kelanjutannya. "saat aku memaksa Eun Kyu dari gendongan Sehun itulah, tiba-tiba saja ibu datang. Oppa tahu apa yang dikatakannya?"
Jelas saja Jongin menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala.
"entah Eomma mengetahuinya dari mana, yang jelas dia terlihat sangat senang saat tahu Sehun adalah ayah kandung Eun Kyun. Bahkan eomma memaksaku untuk menikah dengan Sehun." Lanjutnya.
"kau bercanda?" pekik Jongin.
Kyungsoo menggeleng. "aku tidak bercanda oppa, bahkan sampai sekarang aku dan eomma masih marahan. kau lebih beruntung Oppa" Jawabnya.
"dari segi apa yang kau sebut beruntung, bahkan nasipku tak jauh beda denganmu"
Kyungsoo tersenyum kecut, "paling tidak kau masih bisa mengambil keputusan sendiri, tidak sepertiku"
Jongin dan Kyungsoo sama-sama menghela nafas. "apakah kita menikah saja?" tanya Jongin tiba-tiba yang sukses membuat Kyungsoo tersedak saat meminum coklat yang untungnya sudah tidak sepanas tadi. Kyungsoo langsung menatap Jongin dengan tatapan horor, sedangkan laki-laki berkulit tan tersebut hanya bisa menyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Obrolan mereka berlanjut hingga larut malam. Dengan saling mengibur sama lain, dan tidak lupa mereka juga membahas usulan Jongin yang tadi hampir saja membuat Kyungsoo mati tersedak (berlebihan :P). Setelah percakapan mereka selesai, Kyungsoo pamit pada Jongin untuk pulang, namun laki-laki berkulit tan tersebut melarangnya. Dengan alasan hari sudah larut dan juga kasian Eun Kyun yang sudah terlelap dalam tidurnya dan meminta Kyungsoo untuk menginap. Dengan segala pertimbangannya Kyungsoo akhirnya menyetujui permintaan Jongin, menginap di rumah Jongin dengan menempati kamar tamu yang berada di lantai satu. Tidak mungkin kan Kyungsoo tidur dikamar Jongin dengan anak-anak mereka?.
Sebelum memposisikan tubuhnya dengan nyaman, Kyungsoo mengirimi pesan pada sang kakak. Mengatakan jika Ia sedang menginap di rumah Jongin karena Eun Kyun sudah tidur bersama Lyu In. Kyungsoo juga berpesan pada sang kakak agar tidak khawatir.
Sehun mengendarai mobilnya dengan tidak sabaran. Tangan kekarnya dengan lihai menggerakkan kemudi secara zic zac untuk menyalip kendaraan yang ada di depannya. Tak pelak aksinya itupun menghadirkan suara clakson yang bersahut-sahutan di tengah ramainya kendaraan yang memadati jalan. Namun hal itu sama sekali tidak membuat Sehun memelankan mobilnya. Yang ada laki-laki albino tersebut malah mengucapkan sumpah serapah, menggerutu akan padatnya jalanan. Padahal Sehun ingin sekali cepat-cepat sampai rumah sakit bertemu dengan Kyungsoo dan mengajak wanita itu untuk berbicara hal yang membuat pikirannya tidak tenang sedari tadi malam.
"sial" umpat Sehun sambil memukul setir kemudi saat pikirannya mengingat kembali ucapan kedua orang tuanya.
Bagaimana tidak, ketika Ia baru saja pulang dari rumah sakit dengan keadaan yang sangat kacau. Kedua orang tuanya tiba-tiba saja memintanya untuk duduk di ruang TV untuk membicarakan hal penting. Hal penting yang menambah pikiran Sehun semakin kalut.
Keduan orang tua Sehun secara to the point berkata soal pernikahannya bersama Kyungsoo. Mereka juga membahas tentang Eun Kyun. Sehun tidak pernah mengira jika ucapan ibu Kyungsoo hanya ucapan semata. Kerena pada nyatanya kedua orang tuanya sudah mengetahui semuanya, tentang apa yang tengah diperbuat di saat masa-masa sekolahnya dulu bersama Kyungsoo. Lebih mencengangkan lagi, ternyata kedua orang tuanya tersebut lebih banyak tahu dari yang Ia kira. Termasuk soal Luhan.
Itulah yang membuat ayahnya terlihat sangat murka, karena Ayahnya selalu mendidiknya untuk menjadi seorang pria yang selalu bertanggung jawab dengan hal kecil yang selalu Ia lakukan. Tapi pada nyatanya didikan itu gagal karena Sehun tidak bisa melaksanakan tanggung jawabnya terhadap Kyungsoo. Ia malah mengabaikan dan memilih untuk membuat kesalahan lain yang berimbas pada kehilangan akan Kyungsoo dan anak yang tidak Ia ketahui kehadirannya sejak awal.
Sehun memasuki ruang dokter dengan tergesa, dan saat matanya menangkap tubuh mungil Kyungsoo —yang sedang serius dengan kertas-kertas yang di pegangnya— Ia semakin mempercepat langkahnya.
Kyungsoo sedang memeriksa berkas-berkas tentang data kesehatan pasien saat tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik paksa oleh seseorang. Kyungsoo yang terkejutpun langsung mendongak dan reflek berdiri dari kursinya, saat itulah mata bulatnya manangkap sosok yang tidak ingin sekali Ia temui. Oh Sehun dengan wajah seriusnya kini tengah mencengkeram pergelangan tangannya sedikit kuat.
Melihat hal itu Kyungsoo dengan kasar menghempaskan cengkeraman Sehun hingga genggaman itu terlepas. "kenapa kau selalu seenaknya saja Sehun-ssi apa kau tidak melihat jika aku sedang sibuk?" Kyungsoo berbicara dengan nada ketus.
Sehun menghela nafas, mencoba untuk tidak terpancing emosinya. "ikut aku Kyungsoo... kita harus bicara sekarang juga." Tegas Sehun.
"tidak ada yang perlu dibicarakan." Kyungsoo mendudukkan kembali tubuhnya di kursi kerjanya, lalu matanya kembali fokus dengan kertas-kerta yang sedari tadi Ia pegang. sesekali Ia menulis sesuatu di kertas tersebut, menghiraukan Sehun yang masih tetap berdiri di dekat meja kerjanya dengan tatapan frustasi.
"banyak, tentang kita dan anak kita"
Kyungsoo kembali berdiri lalu memandang Sehun dengan penuh kemarahan. "anak kita? Siapa yang kau sebut anak kita, aku merasa tidak pernah memiliki anak denganmu Oh Sehun. Dan ingat ini rumah sakit tidak sepantasnya kau membicarakan hal pribadi disini." Balas Kyungsoo.
"tidak bisakah kau berhenti bersikap keras kepala dan egois." Sehun mencoba berbicara lembut pada Kyungsoo.
"egois? (Kyungsoo memincingkan matanya) kau sebut aku egois? Waahhh... apa kau tidak pernah berkaca, jika dirimu sendiri juga sangat egois?" cibir Kyungsoo.
Sehun memejamkan matanya sejenak "YA AKU MEMANG EGOIS, EGOIS KARENA TIDAK PERNAH BERHENTI MENGHARAPKANMU, EGOIS KARENA AKU INGIN KAU KEMBALI PADAKU, EGOIS KARENA AKU MASIH MENCINTAIMU" teriak Sehun dengan satu kali tarikan nafas, yang membuat tubuh Kyungsoo membeku.
Hening itulah yang terjadi di ruang dokter sekarang. Banyak dokter muda dan perawat yang tidak sengaja mendengar perdebatan mereka mengatupkan bibir rapat-rapat karena merasa sangat terkejut dengan ucapan Sehun yang sangat lantang dan tegas tersebut.
.
.
.
T. B. C
Chapter gak jelas lagi, sekali lagi maaf kalau chapter ini sangat tidak memuaskan. akhir-akhir ini aku kesulitan banget untuk menungakan semuanya kedalam tulisan. Krisis ide adalah faktor utama yang membuat tidak bisa membuat cerita ini update tepat wakyu seperti yang diharapkan. Apa yang harus aku lakukan untuk menemukan ide itu muncul kembali? Ditambah jaringan yang tidak bersahabat membuat tidak bisa menonton drama untuk bahan cerita T.T
But terimakasih untuk kalian yang udah follow, favorit dan juga review cerita ini. Dan terimakasih banyak untuk yang sudah setia baca dan juga menunggu. Gak ada kata selain terimakasih buat kalian semua.
Nb : mau tanya ASAP itu apa sih? Hhhh beneran gw gak tahu, ketahuan kan kudet banget :P
See you next chap chu~~~
