(Republish chap 7, tidak ada perubahan yang signifikan. Kalo yg uda baca, silakan lanjut ke chap selanjutnya :D)
Ada yang nunggu kemunculan saya?
#Hahahak…di gebukin satu RT XD
Haloow Minna…apa kabaar? Lama sekali author geblek satu ini ngga muncul-muncul,
Dan setelah telur netes semua, akhirnya saya turun kandang #gakgakgak
Pertama, saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan update, XO
Kedua, balesan review yang sudah masuk akan saya balas besok (karena saya lelah sekali, jadi Cuma bisa publish fic dulu, gomene minna ). Tapi saya uda menyiapkan balesannya dan tinggal kirim doang kook…
Dan yang ketiga, sesuai janji saya, pada chapter ini berisikan lemon, kata-kata yang vulgar dan semacam itulah yang berbau mature #senyum-senyum ngga jelas
Oke, jadi silakan…jika berkenan untuk membacanya…XD
.
.
.
Watch in Time
.
.
.
Original Chara: Tite Kubo
Story: Ayra el Irista
.
.
WARNING:
OOC, AU, GAJE, TYPO(S), Abal, Kacau, Membosankan, Bahasa ngawur, Tanpa Pemeriksaan Ulang dan Dan seterus nya dan seterusnya...
(Kemungkinan mata sakit, sedikit bergeser, atau rabun mendadak,
silakan hubungi rumah sakit terdekat XD #Nyahaha)
Rated : M
Pairing: IchiRuki
Don't like Don't read.
(^_^)
Last…Enjoy reading!
.
.
.
Bab 9
Hujan, Ichigo dan Rukia
Desahan lolos ketika bibir Rukia terbuka untuk bernafas. Air hujan yang menghujam dari atas menjalar turun membasahi bibir Ichigo yang terasa asin dan semakin mencium dalam.
Bunyi air berkecipuk kala dua kaki putih mengambang nyaris ke permukaan karena terdorong menuju tepi. Merasakan goyangan lembut menerpa permukaan betis yang telanjang dan dinding keras menghantam punggung Sang Kuchiki begituterjepit di pinggiran kolam. Lelaki itu bilang butuh berada di dalam Rukia dan apa itu maksudanya mereka akan melakukannya di dalam kolam?
Sambil terus menciumi leher kecil yang samar menguar harum lily, lengan besar Ichigo melingkar erat dan mengangkat tubuh Si Mungil hingga ia terduduk di tepi kolam yang lebih tinggi. Dengan tak sabar melepas jas sekolah—nyaris merobeknya.
Bra hitam di balik kemeja putih transparan menyambangi mata gelapnya. Memojokkan fokus ke bagian dada yang berkali lipat menggoda hingga ia menelan ludah. Mengamati urat di leher Rukia yang menegang dan yang ingin Ichigo lakukan kemudian adalah membuang semua penghalang dari tubuh sedingin es itu secepat mungkin kemudian menjalankan lidahnya yang sudah tertekuk gatal.
Penguasa Tertinggi, istrinya ini begitu menggiurkan untuk di jelajahi.
"Aku tak ingin ini sebuah kesalahan."
Tiba-tiba Panglima Karakura berambut lepek itu bicara dan menatap lurus hingga ke lubang terdalam pupil Rukia. Kelabat lapar yang terus terpancar di kedua hazel yang tajam melecut seluruh syaraf Nyonya Kurosaki hingga gadis itu mengeratkan rahang.
"Ku tanya sekali lagi, Rukia." bisiknya kepayahan mengontrol diri. Ia akan menggelamkan Rukia jika wanita itu menolaknya setelah membuat semua hasratnya bangun begini. "Aku ingin melakukannya dan apa kau tidak keberatan?"
Tentu saja tidak.
Andai suara hati bisa bergema layaknya terpantul dari pengeras suara, mungkin Ichigo akan tuli karena teriakan Rukia. Ia begitu antusias namun lidahnya mendadak kaku karena tatapan panas yang mendamba dan akhirnya hanya bisa mengangguk keras. Berharap ia tidak akan merusak suasana lagi sekarang.
Melihat hela nafas—hanya pendek sekali karena tangan besar nan kasar kemudian sudah kembali memenjara wajah Rukia, belia itu menangkap senyum lega yang begitu kecil namun sangat hangat. Telapak yang membungkus pipinya terasa gemetar dan kening yang biasanya penuh kerutan itu, tertekuk masuk dalam sisi berbeda.
Apakah Ichigo benar-benar bersabar dan menunggu dirinya hingga siap selama ini?
"Akan ku lakukan." ucapnya mengecup sudut bibir yang merah hingga Rukia nyaris melonjak kaget. "Dan akan ku buat kau berteriak memanggil namaku begitu keras malam ini."janjinya membuat pipi serupa manjuberubah menyala.
Lalu sentuhan bermula dari balik punggung yang kini di susupi oleh jemari besar yang merangkak naik. Mengusap-usap pelan seolah menenangkan namun efek geli yang di timbulkan justru berdampak sebaliknya.
"Ichigo—"
"Kau gemetaran, Putri." tandas Si Lelaki menguburkan diri di dada Si Wanita yang mulai kembang-kempis. Dia memang belum pernah tidur dengan wanita selain istrinya, tapi pengalamannya tentang wanita sudah sangat cukup banyak tersimpan dalam kepalanya. Wanitanya itu kini tengah gugup setengah mati dan menjadi tugas Ichigo untuk membuat pengalaman kedua Rukia terasa menyenangkan.
"Kau tahu aku tidak akan pernah menyakitimu bukan?"
Si kecil mengangguk seraya memejamkan mata. Membiarkan seluruh kancing kemeja sekolahnya terbuka satu per satu. Semakin ke bawah dan Rukia bisa merasakan detak jantungnya bertalu semakin cepat. Ia menggigit bibir kala hidung Sang Pangeran bergerak di belahan dadanya begitu anggun, mengendus wangi alami Rukia yang berasal dari perpaduan air hujan dan bra di bahunya mulai melorot ketika kemeja di tarik hingga ke lengan dan menampilkan dadanya yang mungil keluar. Tergolong kecil namun mampu menarik hasrat Ichigo setegang mungkin.
Kuncup yang ingin ia mekarkan lagi. Meresahkan organ dalam mulut Ichigo yang sudah meminta untuk di pekerjakan.
Rintihan tertahan tenggelam di rambut jeruk yang tidak berdiri lagi karena Sang Nona Kuchiki menarik kepala orange itu dalam ketika puncak dadanya terhisap. Begitu kuat, seolah seluruh jiwanya bagai tersedot masuk ke dalam sebuah lubangbundar penuh gerigi yang mengigigit. Sesekali ia merasa pangkal payudaranya terjepit gigi tajam yang menggesek. Merajalela secara liar.
"Ichi—tunggu—"
"Tidak, Rukia—" desis Ichigo masih memuaskan mulutnya dengan kekenyalan gundukan daging yang begitu kencang. Jangan harap dia mau menurut saat hasratnya mencapai ubun-ubun. Penantian selama berbulan-bulan sudah cukup menumpuk gedoran birahi menyerupai gunung berapi. "Jangan memintaku untuk menunggu lagi. Aku menginginkan dirimu, semuanya."
"Nnggh!" Remasan jemari mencengkram bahu kokoh Pangeran Kedua dan Rukia rasanya ingin meledak. Dia ingin bersuara namun yang keluar hanyalah erangan-erangan erotis yang menimbulkan serangan membabi buta. Seperti suara Rukia adalah pemicu bagi Ichigo untuk semakin mengaktifkan area-area yang semula terkubur.
Dan dengan begitu susah payah, Gadis Pembawa Pesan menarik seluruh sisa kesadarannya untuk menyatu. "Senna—"
Satu kata. Yang akhirnya menghentikan semua dan Rukia kembali melanjutkan dengan mata tak fokus. "Dia—di be—lakang—"
.
.
.
Terlalu lama.
Sungguh terlalu lama bagi Senna untuk mendapatkan kembali kekuatannya setelah melihat lelaki yang memiliki janji dengannya, tengah bercumbu panasdengan seorang gadis yang kini sudah setengah telanjang. Ia terkejut. Dan sekarang tanpa sadar kakinya sudah menghentak keluar menerobos hujan. Tak peduli jika gaun ungunya akan basah atau tak indah lagi.
Bunyi high heels kian dekat namun kegiatan mereka bahkan tak terganggu sedikitpun. Malah semakin liar karena Ichigo menarik kemeja yang sepertinya mengganggunya dan bermain seolah kehadiran Senna tak terlihat oleh mata.
Mata Senna tak bisa lepas dari jemari yang bermain lincah di dada kecil Putri Hueco Mundo. Meremas, memijatnya atau memilin ujungnya hingga desahan berdengung di telinga Putri Soul Society sampai membuat muak.
"Ichigo Kurosaki!" Ia berteriak lantang dengan wajah memerah. Bukan karena malu. Tapi menahan amarah karena terhina. "Kau sudah berjanji untuk makan malam denganku!"hardiknya tanpa di gubris. Ichigo bahkan tak melirik sedikitpun dan justru menjilat dagu istrinya hingga ia menengadah penuh. Menyesap lidahnya yang keluarkarena terdobrak oleh pikatan yang tak mampu tertolak.
"Ichigo—"
"Aku akan menepati janjiku setelah selesai mengeluarkannya di dalam Rukia, Senna." Ichigo berhenti untuk menelan ludahnya yang manis dan terdiam sejenak. Melirik sosok tercengang di belakangnya yang megap-megap karena perkatannya barusan dan susah payah tak terpaku pada semu menggemaskan istrinya yang ingin ia buat lebih. "Itu pun jika kau ingin menunggu."Suaranya yang sejelas gemuruh menggetarkan kaki Senna yang terasa lemas. Mengundang irisnya untuk bertolak ke sepasang mata terpejam yang sedang menikmati sebuah ciuman seperti pertandingan ketat yang saling tarik-menarik dan begitu bergairah.
Dari perkataan Ichigo saja, seharusnya Senna sudah tahu ia adalah mahluk yang tak di inginkan kehadirannya disana.
Lalu pemikiran Rukia?
Sepatutnya dia malu untuk memperlihatkan dirinya yang di sentuh laki-laki di depan orang seperti wanita murahan. Mendengar bahasa tak seronok yang rasanya menimbun jutaan sel darah merah ke wajahnya karena membayangkan sesuatu akan tertinggal dalam dirinya. Dia pintar, ayolah. Nilai sempurna ia peroleh ketika mempelajari materi reproduksi manusia dan belum lagi pembekalan seks usia remaja yang kerap ia ikuti sebagai wakil generasi muda Jepang. Perkataan Ichigo bisa sangat ia mengerti akan berakhir dimana. Dan meskipun pikiran akan mengandung anak Ichigo di usia belasan berikut berbuat mesum di tempat terbukabisa mencoreng nama baik Kuchiki, bahkan tenaga untuk bergerak itu seperti telah di atur oleh suaminya hingga hanya diam dan terengah yang mampu dia lakukan. Otak Rukia rusak mendadak.
"Hah—hhah—Ngh!"
Pekikan kecil menghambur keluar. Rasa dingin yang tadi menyerang Rukia kini meleleh oleh hawa panas yang di sebarkan Ichigo di bagian pahanya dan menerbangkan seluruh hiruk-pikuk tentang 'coreng-mencoreng' nama baik. Secara perlahan dan begitu sensual, kecupan-kecupan singkat yang meninggalkan bekas merah mengaduk-aduk jantungnya. Sekujur tubuhnya meremang—menerima sentuhan demi sentuhan yang kian mengaburkan nafas.
Rukia menggenggam udara kosong di jemarinya. Matanya terpejam nikmat. Rintik-rintik air hujan seolah datang untuk menghias pipi bersemunya yang manis. Perlakuan dua sejoli yang saling mencintai layaknya cengkrama penuh kebutuhan yang begitu berkilau. Dan seperti menabur bubuk cabai yang pedas ke mata Senna.
Ia tahu, Ichigo tak pernah menatap dirinya seperti ia menatap Putri Hueco Mundo. Sinar mendamba lelaki itu baru pertama kali ia lihat sejak Senna mengenalnya. Dia sudah berubah sepenuhnya. Bukan lagi Ichigo yang dingin pada wanita, tapi menjelma menjadi seseorang yang sangat mengerti apa itu cinta. Pria dewasa itu kini memiliki sinar yang hidup yang tak mampu Senna bangkitkan.
Ia kalah telak.
Pada seorang penyihir bodoh yang bahkan tak bisa mendeteksi reiatsu.
Gadis itu berbalik, merasa tak di pedulikan. Memahami ia hanya akan menjadi pihak yang gigit jari jika tetap bertahan seperti orang idiot. Kakinya memerintah untuk pergi. Menjejak keramik basah dengan wajah terisak. Tak mau tamparan itu terasa lagi di pipinya yang sekarang berubah dingin.
Lewat ekor mata yang sudah menyipit karena tersiksa oleh perlakuan manis Ichigo, Rukia menatap punggung mungil yang hilang di balik pintu. Ia tak habis pikir, menolak wanita begitu mudah di lakukan oleh Pangeran Labu saat ia sedang menyentuhnya. Begitu gamblang, cara lelaki itu. Seperti penolakan pada perempuan lain ketika berada di sebuah bar karena sedang asyik dengan perempuan satu.
"Kau…menyebalkan…"
"Hm?"
Ichigo tak berhenti menelusurkan ujung hidungnya yang runcing di permukaan kaki sehalus sutera yang sekarang terangkat semua ke bahunya. Kembali memberi kissmark di paha kanan gadisnya yang mengerutkan jemari kaki karena geli. Ia harus menginganya, setiap bagian sensitifyang sebelumnya tak bisa di lakukan karena bertindak terburu-buru dan sekarang menjadi sebuah daftar penting.
"Kau…menyakiti...nya… "
Rukia tahu ada seringai yang terbentuk di bibir tipis lelaki itu karena mendadak berhenti dan menengadahkan wajah. Membelai pipi Rukia yang pucat dengan memberikan sedikit penekanan.
"Kau kedinginan."ucapnya.
Aneh. Suaranya begitu normal. Tak terdengar merintih seperti lawan mainnya yang bahkan harus menarik nafas panjang sebelum berkata.
"Ingin aku melakukan sesuatu?" tanyanya menelusupkan tangan ke dalam paha. Lelaki itu mengontrol diri setenang mungkin dan menyelipkan jemarinya ke balik celana dalam berenda. Menariknya perlahan dan Rukia sudah terbakar begitu besar dalam api yang di buat suaminya sendiri. "Jangan memikirkan yang lain, Putri. Hari ini kau milikku. Semua yang ada padamu adalah milikku dan akan ku miliki sepenuhnya" Ichigo berbisik dan hembusan nafas hangatnya menerpa kulit paha Rukia—nyaris ke miliknya yang mulai berkedut. Dan gadis itu bahkan tak sempat berpikir yang lain kecuali ingin segera memeluk keliaran.
Ia tak perlu meminta. Tak perlu bicara karena sepertinya Ichigo tahu betul apa yang wanitanya butuhkan.
Sebuah kenikmatan bercinta.
"Ichigo…!"
Sentuhan geli menggeliat di milik Rukia. Lidah Ichigo yang mulai menjilat. Semakin dalam ketika kedua tangannya merenggangkan paha kian lebar dan mencari manis itu. Liang penuh lendir yang semakin mengencang kala di goda oleh kepiawaian Sang Penakluk dalam meliukkan lidahnya. Menggunakan ujungnyayang kaku untuk menyusup masuk, mengobrak-abrik milik istrinya yang begitu basah, menjepit dengan bibir atau menariknya berulang seperti makan es krim. Mengecap rasa Rukia yang belum pernah tersentuh lelaki lain.
"Oh…Ichigooh…!"
Sekarang Rukia menyesal karena menunda aktivitas bergairah yang—Ya, Tuhan, sangat menggetarkan. Apa yang ia pikirkan untuk tidak melakukannya dengan lelaki semenggoda Ichigo? Dia bahkan bisa kelepasan sebelum milik Ichigo beraksi dalam dirinya.
Saat sekali lagi miliknya di susupi kekenyalan yang sangat memabukkan, Rukia ingin mengatupkan kembali kakinya karena tak kuasa. Ada rasa malu yang terselip mengingat sekarang ada seorang lelaki yang sedang menjilat-jilat miliknya dengan bebasnya. Ichigo sengaja membuka Rukia lebih lebar hingga bagian yang paling tersembunyi dari miliknya sukses ia klaim. Menjadi yang pertama membuat daerah itu merekah sempurna dan mengeluarkan begitu banyak lendir yang menyaingi rasa nektar bunga.
"Ichiiih!"
"Kau ingin mengeluarkannya sekarang?" sela Ichigo menelan cairan kental yang di dapat dan menjilat bibir tipisnya yang terlumuri lendir. Sangat seksi. Membuat wanita berambut raven memerah sampai ke daging mata terlebih ketika mendengar pertanyannya yang begitu vulgar.
Lelaki itu lantas menarik tubuh seringan boneka agar bergelayut padanya hingga Rukia memekik kecil. Membuat Ichigo lebih mudah menjalankan sentuhan lain yang akan di munculkan dan Rukia menunduk, menggigit bibirnya seraya meringis saat emosinya terpusat pada jemari Ichigo di bawah sana.
Ichigo tahu gadisnya sudah tak sabar. Dia juga. Amukan di balik celananya sangat parah. Kian meronta di tiap menyentuh inci demi inci tubuh istrinya yang memikat. Tapi demi kepuasaan Rukia yang memang menjadi tujuan utamanya, lelaki itu masih bersabar. Ingin sang kekasih bisa merasakan pengalaman tak terlupakan yang bisa membuatnya ketagihan. Sedikit bekal yang di susupkan agar nantinya Ichigo tak akan tersiksa seorang diri.
"Mhhhmm…"
Rukia menarik wajah Ichigo. Memberanikan diri menciumnya seperti orang sekarat saat jari tengah menekan klitorisnya tepat dan geram tertahan keluar di sela ciuman—dari Ichigo. Mana sanggup serigala sepertinya berdiam diri jika terus di undang seperti ini. Vasto Lorde, ini harus cepat di selesaikan dan mengganti giliran ke sesuatu di antara pangkal pahanya yang sudah mengeras.
Pijatan dengan irama teratur membuat Nyonya Kurosaki begitu tak berdaya untuk tidak menggoyangkan pinggulnya yang terhentak sendiri. Begitu nikmat, rasa jemari Pangeran Labu yang memanjakannya.
Air kolam pun menghangat. Bahkan terasa seperti berada dalam pemandian air panas. Hujan yang jatuh terlihat buram. Seperti kristal kaca yang meresap ke pori-pori kulit. Gelembung-gelembung air naik ke permukaan mengikuti tiap gerakan sekecil apapun yang terjadi, menemani lenguhan kritis yang menuntut.
Ini tak terbayangkan. Penafsiran Rukia tentang seks jelas jauh berbeda. Pengalaman pertama yang pernah ia rasakan memang gila, tapi kali ini, semua seolah berjalan terprosedur—sangat membangkitkan gairah dan rasanya tak sabar untuk di ulang.
"Ichigo…ahh…! Ahhhh!"
Bahu pria berumur itu tertancap kuku ketika sang wanita meresapi gesekan pada miliknya yang di masuki tiga jari. Keluar-masuk dengan cepat dan hembusan air membuatnya semakin terasa di belai. Meretas gelora yang sulit di pahami.
"Tunggu, Ichigo…aku…"
Mengetahui dengan pasti, di tariknya rambut Rukia hingga wanita itu mendongak dan melumat dalam seraya menjepit klitoris Sang Putri yang sudah mengerang dengan kedua jari dan menariknya panjang untuk mencapai akhir.
"Aaaaaahhh!"
Klimaks pertama.
Yang di lakukan Rukia setelah terakhir ia melakukannya saat bersama Ichigo dulu dan ini menakjubkan. Dia mengaggumi bagaimana cara seorang lelaki sepemarah dan seangkuh Kurosaki Ichigo memperlakukannya begitu lembut dan perlahan. Terlihat jelas, sentuhan yang mendarat pada Rukia adalah sebuah kesabaran yang sangat tinggi seolah dirinya adalah ciptaan paling indah yang pernah Ichigo genggam hingga ia harus berhati-hati.
Dia jatuh semakin dalam—Ya, Tuhan. Tak ada kata menyesal dalam kamus Rukia karena sudah memiliki Ichigo dalam hidupnya.
Ia terengah, mengendurkan kaitan jemarinya pada bahu berkemeja yang mengaku dan lelaki itu, dengan sklera sekelam bulan tertutup gelap, melantak denyut jantung Rukia yang begitu gugup.
"Apa yang kau pikirkan, Putri?" ucapnya, kini dengan sedikit teredam dan justru terdengar memancing. "Bagaimana? Ingin melakukan lebih?"
Rukia tak mungkin menolak. Jelas sekali dia mengetahui penyiksaan yang akan melanda Ichigo jika sampai menunda lagi, meskipun ia yakin seratus persen pria dengan dahi tertutupi poni itu tak akan memaksa jika ia menolak. Tapi membuatnya merasakan apa yang dia rasakan beberapa detik lalu bukanlah sebuah tuntutan, melainkan keinginan.
Kepala bersurai hitam lantas mengangguk. Persetujuan abstrak yang lawan mainnya dapat dan setelahnya pun, Keturunan Kurosaki yakin kali ini mereka akan melakukannya.
"Lakukan, Ichigo." bisiknya malu-malu dan ia memejamkan mata saat bibir Pangeran Labu mendekat. Begitu perlahan. Membawanya tak sadar kala sudah bersentuhan dan tenggelam dalam kepasrahan.
.
.
.
Tubuh Rukia terhempas ke atas ranjang yang empuk. Nafasnya memburu seiring dalamnya pagutan yang kian memanas. Selimut ungu pucat miliknya teremas sebelum tersisih ke sisi tempat tidur berkat tangan Ichigo yang tak sabar. Lampu yang semula terang, perlahan meredup terkena sihir hingga meremang. Suara hujan yang menderas menjadi simfoni utama dalam kamar yang mendekati gelap.
Kemeja terlepas. Bra hitam sudah di singkirkan. Rok abu yang menjadi pertahanan terakhir tertarik dan menyuguhkan tubuh semanis kue krim yang begitu cantik. Menatap lekat seseorang yang kini tengah terlentang dengan pipi kemerahan tanpa penutup apapun, Rukia tetap perempuan yang paling memikat sampai Dunia Sihir runtuh.
Dan kapan terakhir Ichigo memimpikan ini? Bisa menyentuh istrinya lalu menghabiskan malam bersama? Hampir setiap hari.
"Kau menakjubkan, Rukia." bisiknya melepas semua yang ada pada tubuhnya satu per satu. Memborgol pupil Rukia untuk tak beralih, berujung menelan ludah saat melihat tubuh kencang dan kekar berdiri di depannya. Sekokoh gedung pencakar langit yang menohok mata. Kuat dan menakutkan.
Tubuh itu perlahan bergerak naik. Memposisikan sosok mungil tepat di bawahnya hingga tertutupi sepenuhnya. Kilatan emas dari mata Ichigo berbicara. Sentuhan yang beristirahat pada wajah Rukia seolah meminta izin sekali lagi untuk hinggap di sana.
"Ini akan terasa sakit, kau yakin ingin aku melakukannya?"
Rukia tersenyum. Mengelus pelan wajah tirus yang cemas bercampur hasrat. Mengangguk sebelum ia mendengar helaan nafas dan bunyi jantungnya yang meledak saatIchigo mendorong kaki sebersih pualam untuk segera terbuka. Memulai rasa perih yang kembali menjalar pada milik Rukia persis seperti saat pertama dulu.
Bibir tergigit keras dengan mata terpejam penuh ringisan. Jemari menguat untuk membentuk remasan pada seprai seolah rasa sakit itu bisa tersalur dan cepat-cepat hilang. Nafas tertahan berat meski Rukia ingin menghirup udara sebanyak mungkin.
"Maaf…maaf, Rukia." bisik Ichigo mengecup bekas kristal bening yang menurun di pelupuk mata yang terkerut rapat. Ia tahu betul milik istrinya sangat sulit di terobos dan menyakitkan. Pengalaman sekali lalu tak pernah terulang dalam jangka waktu lama adalah—nyaris kembali seperti perawan. Butuh kesabaran dan langkah yang tepat untuk membuatnya nyaman.
"Tidak apa-apa, Ichigo…lakukan saja." Ia tersendat. Mencoba tersenyum dan kakinya kian melebar ketika bibir mereka bertemu. Saling menenangkan dengan sebuah tenggat yang mulai memicu adrenalin.
Rukia mendesah kala miliknya seolah terjejali penuh oleh Ichigo. Air mata yang tadi terjatuh karena sakit, kini bergulir oleh kenikmatan. Gerakan lambat yang nyatanya berbeda sama sekali dengan jemari Ichigo, meluncur penuh keintiman.
"Selalu terasa nyaman…milikmu, Rukia." ucap Sang Pangeran terengah dan meremas pinggul mungilketika mereka berdua sudah merasakan satu sama lain hingga cengkraman membalas di lengannya yang menegang karena menahan berat tubuh.
Milik Rukia begitu sempit. Terasa menjepit miliknya meski hanya bergerak pelan. Membuat kepala Ichigo berdentum hebat menerima desakan yang menggulung-gulung. Rasanya ia bisa menerjang kasar jika tak mengontrol diri.
Tiba-tiba gadis itu merentangkan tangannya, meminta berhenti. Mengalungkan kedua tangan pada pinggang suaminya yang keras dan sebelum laki-laki itu sempat bertanya, ia memberanikan diri mendorong ke atas. Hentakan kuat dan tajam hingga Ichigo langsung mengerang frutasi. Meremas bantal yang ada di sampingnya dengan mata terpejam. Tertunduk seraya mendesis karena tak berdaya melawan permainan istrinya.
Wanitanya benar-benar tak bisa di anggap remeh!
"Kau…menantangku, Putri?" ucapnya tertahan dan Rukia tersipu.
"Aku…hanya ingin…uh…mem..hhh..membuatmu…se..naang…"
Oh, berhenti bersuara begitu atau Ichigo akan melahap tanpa ampun!
Di tariknya punggung Sang Putri hingga mereka terduduk dan menarik kepalanya mendekat. Mencium sementara miliknya terus di manjakan oleh pinggul Rukia yang semakin bergerak kencang. Mengirim getaran impulsif yang menekan kesabaran terlebih ketika tubuh polos mereka bertemu.
Di alihkannya bibir menuju puncak dada yang mengeras dan membuat lenguhan berdesakan keluar dari bibir mungil istrinya. Gesekan yang kian terpacu seiring maraknya Ichigo melahap pangkal dada semerah daging muda ke dalam mulutnya.
"AH…ICHIGOO! ICHIGO!"
Seperti janji yang laki-laki itu buat, Rukia sungguhan berteriak di antara suara hujan yang mengeras di luar. Meredam jeritan atau rintihan yang keluar sebagai bukti kenikmatan penyatuan tubuh yang terpoles nafsu. Terlebih di titik yang membuat Sang Putri hilang kesadaran.
Rukia terhempas ke belakang, tak kuat menahan tarikan-tarikan kencang yang merangsang seluruh syarafnya. Membiarkan Ichigo mengangkat pinggulnya dan menghentak dengan tempo yang bisa membuatnya gila.
"OH—Ichi…ini…Uhh…lebih cepat!"
Penguasa Tertinggi, penggal leher Ichigo sekarang juga. Sejak kapan istrinya menjadi penggoda ulung yang bisa membuat seluruh diri Ichigo bangkit sepenuhnya?
Dan setelah persetujuan di dapat, jangan harap Ichigo Kurosaki akan mengurangi keliarannya karena sekarang ia sudah sepenuhnya merusak rantai yang semula masih mengekang. Putus seutuhnya.
"Ahh…Rukiiahh…"
Ranjang berderit dan bergoyang kuat. Menggerakkan juntaian seprai di ketiga sisi yang sudah tertarik meninggalkan kerapian. Berkumpul di pusat ranjang dimana dua sejoli sedang bergumul dengan lenguhan.
Keringat menjalar pada dada bidang dengan lukisan magnolia yang nyaris memenuhi hingga turun ke paha. Menjalar hidup seperti liukan ular untuk kembali memekarkan sebuah kelopak lebar di lengan kiri yang di ikuti sinar keemasan. Keajaiban yang juga merambat pada tubuh Rukia, dimana pasir bercahaya itu mengelilingi tubuhnya bak angin topan kecil yang menggulung. Membuka satu per satu rekahan cantik bunga merah di seluruh permukaan kulit yang menarik iris jeruk untuk terkesima—hasil karya terakhir yang paling lama ia nanti agar janjinya terpenuhi.
"Akhirnya—aku memilikimu seutuhnya, Rukia Kurosaki."
Dan senyum kepuasaan Ichigo adalah hal terakhir yang Rukia ingat sebelum ia kembali di buat berteriak kencang memanggil seseorang yang ada di pikirannya seperti sebuah lirik lagu.
Dia tak sanggup lagi. Dadanya melonjak-lonjak keras seiring bertambahnya ritme permainan dan miliknya tak bisa di tahan. Ia mencengkram bahu Ichigo kuat yang juga sedikit lagi mencapai batas dan keduanyasaling memejamkan mata. Mendesah keras kala menyatu secara bersamaan.
"Ahhh…"
"Ichigoooh!"
Seperti bergulung dalam ombak besar, itu yang Nona Kuchiki rasakan setelah pelepasannya yang seperti baru saja mengelilingi kebun Kuchiki yang berhektar-hektar sampai nyaris memutus pernafasannya. Tubuhnya penuh peluh. Tergeletak dengan senyum terukir dan ia mengerjap saat membuka mata. Menatap pria yang ada di atasnya kinitengah meneleng. Dengan rambut berantakan dan nafas yang juga memburu, seolah menunjukkan secara nyata aktivitas panas yang baru saja di lakukan dan Rukia entah bagaimana baru tersipu.
Ichigo terkekeh. Memperhatikangurat malu dari wajah yang berpaling darinya yang mati-matian di tutupi menggunakan kedua tangan. "Kau yakin tak mau melihatku?" bisiknya kecil, merasa ada sengatan saat menarik dirinya dari dalam Rukia dan ia meringis kecil.
"A…aku malu…" jawaban yang gemetar dan Rukia nyaris menggigit lidahnya sendiri. Ia melirik dari celah jemari yang terbuka sedikit, Ichigo yang tersenyum di sela kelelahannya. Mengingat bagaimana lantangnya ia memanggil nama Ichigo dan perlakukan-perlakuan beraninya, rasanya Rukia ingin menghilang seperti jin.
"Bagaimana kau bisa malu setelah selesai melakukannya, hng?" ucapnya geli karena mendengar hal aneh lalu mengecup punggung tangan Rukia. Tepat dimana bibirnya tersembunyi dan gadis mungil itu merapatkan jemari lebih kencang seperti tempurung kura-kura, jika bisa.
"Jangan berkata…begitu…kau…Pangeran Me..sum…" gerutunya terbata seolah baru belajar membaca, yang sesungguhnya ingin Ichigo tertawai. Namun karena kekuatannya yang sepertinya terkuras habis, ia hanya bisa terkikik. Memilih untuk menenggelamkan diri di lekuk leher yang masih berbau lily dengan harumnya. Mengadu tubuh yang sama-sama basah di tempat yang basah pula.
"Aku mencintaimu."
Rukia terbelalak. Menyentak wajahnya hingga bersitatap dengan amber gelap yang begitu menusuk. Belaian punggung jemari menyusuri sisi wajahnya yang tak tertutupi lagidan terkesan tegang. Bukan karena takut, tapi begitu berdebar.
"Kau melihatku sekarang." aku Sang Pangeran meluruhkan kristal bening membentuk kaca-kaca indah di viola yang cantik dan pelukan erat menyambutnya hangat. Mencium aroma lily yang sedikit bercampur citrus. "Maaf sudah membentakmu kemarin. Itu salahku."
Rukia menampakkan ekspresi terkejut pada permintaan maaf yang tiba-tiba. Teman-temannyabilang semua lelaki sangat sulit untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan karena ego mereka yang tinggi. Tapi sekarang Rukia menyanggah pendapat itu setegas mungkin. Tidak semua laki-laki seperti itu karena Ichigo terbukti tidak. Atau mungkin teman-temanlah yang mengatakan itu di saat mereka sedang kesal saja.
"Tentang Senna juga Unohana. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka berdua." Ichigo mengerjap sekali untuk membasahi matanya dan tetap mengurung Rukia di bawahnya yang serius mendengarkan tanpa bicara. "Senna…kau tahu? Kami dulu di jodohkan tapi aku membatalkannya setelah menikah denganmu dan aku tidak tahu jika dia datang ke dunia manusia."
Jadi perempuan itu sudah berbohong padaku? Dia bilang Ichigo yang memintanya datang untuk menemuinya.
"Lalu Unohana—" Rukia menaikkan sebelah alisnya dengan mimik penasaran seperti menunggu jawaban yang di cari begitu lama. "Apa yang harus ku katakan tentang dia. Dia mengambil pendidikan sebagai pelayan anggota kerajaan dan sekolah kami bersebelahan. Kaien menyukainya dan kami berteman cukup dekat sebelum berpisah di hari kelulusan."
"Kaien?"
Rukia mengernyit kaget. Begitu tak menyangka jika Kepala Maidnya pernah di berikan perhatian khusus oleh seorang pangeran. Dan bukan sembarang pangeran, dia calon Raja Karakura. Apakah mereka sempat berpacaran?
Ichigo mengangguk lalu ambruk menyamping. Seolah memotong pertanyaan yang akan Rukia ajukan karena tangannya sudah menyibak selimut dan menarik sosok mungil itu ke dalam rengkuhannya. Mengecup puncak kepalanya singkat dan membiarkan suaranya mengambil alih.
"Dan aku tak punya hubungan apa-apa dengannya. Bagaimana? Sekarang semuanya sudah jelas?"
Memilih untuk tidak melanjutkan keingintahuannya tentang Unohana dan Kaien, kepala yang masih setengah basah itu mencari celah untuk bisa keluar dari kurungannya dan berhasil menidurkan diri di lengan Ichigo. Ia bertatapan. Dalam gelap yang tersamar berkat cahaya dari lampu taman di luar jendela, Rukia menggagumi—masih mengagumi bagaimana sempurnanya wajah suaminya yang tetap terlihat tampan meski di jatuhi bayangan petang. Bulu matanya lentik, baru dia sadari karena sedang berada sedekat ini. Kulit pipinya halus ketika tersentuh oleh jemari Sang Putri.
"Maafkan aku."
Bukannya menjawab pertanyaan Ichigo dengan jawaban 'ya' atau 'tidak', Rukia justru mulai mengutarakan kegundahannya. Sesuatu yang harus ia sampaikan jika tak mau menyesal.
"Itu sifat yang sangat buruk, menurutku. Selalu berkelit dari perasaanku sendiri dan akhirnya menimbulkan perselisihan yang tak perlu terjadi. Aku minta maaf untuk yang di perpustakaan waktu itu, aku bilang kau mengecewakan. Itu bohong."
Ichigo memiringkan kepalanya saat Rukia menghela nafas.
"Aku…aku hanya…cem…buru." akunya berusaha bicara sepelan mungkin dan meredamnya pada dada Ichigo. Bisa mengatakan itu adalah tantangan terberat dalam hidup Rukia dan bahkan ia ingin menarik kata-kata itu kembali. Tapi tidak tuntas itu akan menimbulkan kesalahan baru nantinya. "Tapi…aku tidak bisa bilang."
"Terima kasih." Ichigo tersenyum senang. "Itu yang ingin ku dengar sejak dulu. Kau mengatakan isi hatimu, keinginanmu. Berhentilah menutupinya dan katakan padaku. Aku tidak ingin kau mengalami kesulitan karena kebodohanku yang tidakbisa mengerti keadaanmu."
Sebagai sebuah tanda setuju, Rukia mengeratkan dirinya lebih dalam dan menerima belaian lembut di kepalanya seraya memejamkan mata.
"Aku…juga mencintaimu, Ichigo." balas Rukia terlambat, teredam oleh rusuk suaminya meski lelaki itu masih bisa mendengar cukup jelas hingga ia mengangguk. Mengecup dahi istrinya sayang dan terpejam. Membiarkan lengannya menjaga tubuh mungil di atas dadanya posesif dan larut dalam kesunyian.
"Kau lelah?"
Ichigo menggumam serak menerima pertanyaan Rukia setelah lama terdiam. Ia tak bersuara dan hanya menggeleng pelan, padahal ia bisa jamin engsel tubuhnya bergoyang semua. Ngilu menggerus tiap persendiannya tapi ia berani bersumpah tidak kapok untuk melakukannya lagi. Semua kelelahan itu tak sebanding dengan apa yang di capai, sebuah kepuasaan. Kepuasaan untuk berhasil menyentuh istrinya yang begitu ia inginkan sejak lama. Benar-benar menegaskan bahwa gadis itu hanya miliknya seorang. Dan juga pemaparan perasaan mereka yang akhirnya tersampaikan dengan benar.
Tak ada yang bicara lagi berarti sebuah keheningan. Saat dimana semuanya terasa tenang dan anehnya, Rukia menyukai itu. Sepertinya dia mempunyai sebuah kata yang cocok untuk mendeskripsikan situasi yang tengah di alaminya sekarang—kedamaian.
Inikah saat dimana merasa terbebas dari beban? batin Rukia memperhatikan perut berlekuk Ichigo yang naik turun dengan teratur. Begitu halus dan nyaman sekali seolah terkubur dalam dunia yang menentramkan.
Lelaki itu sama sekali tak bergerak. Bunyi jantungnya teritme pelan dan konsisten. Pertanda ia menyelami istirahatnya dengan baik dan hampir tertidur jika tangan Rukia tak usil meraba perut kerasnya.
Ichigo mau tak mau membuka mata. Mengamati jemari putih nan kecil yang meliuk mengikuti salur tato yang terus merambat naik hingga ke dada. Menimbulkan rangsangan bergidik namun ia tetap diam saja. Hingga akhirnya mata Rukia bertemu dengan sepasang sklera musim gugurmiliknya, barulah wanita itu tersentak. Dan mungkin lelaki itu bisa salah mengartikan tindakan Rukia barusan sebagai sebuah 'undangan' jika tidak melihat gurat malu di raut istrinya.
"Ku kira kau sedang tidur." gumam Rukia langsung dan Ichigo tersenyum, selembut yang pernah ia bisa. Menautkan jemarinya dan mengangkat tangan Rukia. Empat bunga telah mekar seutuhnya dan bahkan warnanya jauh lebih cantik dari sebelumnya. Membuat Ichigo ingin mengecupnya berulang kali.
"Aku memang sedang dalam usaha untuk tidur. Tapi langsung hilang begitu merasakan jemarimu disana." Ia menunjuk perutnya lewat pandangan dan Rukia tahu ia tertangkap basah.
"Aku tidak bermaksud mesum. Hanya melihat tato yang ada di perutmu."
Ichigo menyeringai seperti iblis kecil. "Mesum pun aku tidak akan keberatan." godanya dan balasan Rukia sungguh lain dari biasanya. Yang sudah-sudah, dia akan menghadiahkan Ichigo sebuah bentakan, makian atau umpatan. Jika sedang tak beruntung, ada sebuah pukulan yang menimpali. Tapi sekarang, semburat sewarna sakura mendarat di pipi mangkoknya. Membuat Ichigo…Ichigo…terkesima dalam beberapa detik lengkap dengan perdebatan hebat dalam kepala.
Oh, jangan-jangan. Tolong jangan sekarang, ia berteriak dalam hati sekencang mungkin. Menekan dorongan untuk memeluk tubuh mungil itu lagi semampu yang ia bisa. Tapi, sungguh ia memang ketagihan luar biasa. Pengalaman sekali tidaklah cukup untuk menutupi lubang-lubang hidup yang selama ini tersarang padanya dan mendadak terbuka lebar karena di beri makan
Siapa yang salah saat tergoda melihat istri yang begitu manis-tanpa busana-dan saling menempelkan kulit bertemu kulit?
Salahkan aku saja setelah selesai satu putaran lagi, geram Ichigo akhirnya melompat bangun hingga selimut tersingkap ganas dan langsung terposisi di atas Rukia yang membelalak karena terkejut.
"Aku tak tahan melihatmu." bisiknya dengan suara kacau yang Rukia tahu tak stabil. Kedua tangannya menahan dada panas yang berangsur menjepitnya. Panik karena ia tak terbiasa dengan situasi intim yang wajar di lakukan pasangan menikah.
"I…Ichigo…"
Mata bulat Rukia mengerjap cepat dan meringis saat desahan berduri menusuk telinganya. Belum lagi lidah Ichigo yang tanpa sengaja atau memang SENGAJA menyentuh sudut sensitif disana yang langsung merespon tunduk. "Keberatan jika aku memintanya lagi?"
Satu pertanyaan yang bahkan sudah tak bisa Rukia tancapkan di benaknya untuk difokuskan. Masalahnya seluruh tubuhnya sudah meneriakkan nama Ichigo agar mendekap kembali. Oh—lelaki ini benar-benar pintar sekali menaklukan wanita untuk mengikuti semua keinginannya.
Dan jangan bertanya.
Bercinta yang selanjutnya pun akhirnya kembali di mulai.
.
.
.
(to be continue)
Oke, sekian…#authoru nyumpel idung yang mimisan
Saya ngga tahu ini kurang asem atau ngga lemonnya =D
Tapi tetep…untuk fic berate M…adegan ini yang paling menguras otak, hahaha
Silakan jika ada yang mau memberi komen…#author bener-bener ngga bisa ngomong
Terus ini balesan review yang ngga login:
Ayuu:
Hahaha…awas putus nafas Ayuu-san =D
Dia memang seperti itu…malu-malu tapi mau #di jambak Rukia
Senna? Abaikan dia…hhaaaa #melas banget
Enggak kok…saya ngga hiatus…Cuma lama update #nyaris mirip sih (-_-)
Gomene karena ternyata saya lama update untuk chap 9 nya…
Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
Uzumakisanti:
Sudah saya update Uzumaki-saan…
Gomene karena ternyata saya lama update untuk chap 9 nya…
Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
IRL:
Haloooooo IRL-saaan XD…iyah lama yah #toyor-toyor bahu
Ih…ilangnya lama banget, kemana aja? Huh, #pundung di pojokan
Heeee? Sudah sibukkah? Yah, baiklah apa boleh buat…ku maafkan setelah kasi review di chap terbaruku #ngancem, hahahakkk
Araaaa….gomeeen XD kebiasaaan bangett yah…
Habiis…kan itu uda panjang #kyunggg
Gomene karena ternyata saya lama update untuk chap 9 nya IRL-san (-_-)
Iya, nih…sibuk sampe butuh waktu lama banget Cuma buat satu chap #nangis terus peluk IRL-san
Eiyh…makasih…besok kalo uda sukses aku beliik balon spongebob buat kamu #senyum manis anak kecil yang tulus pake banget
Oke…semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne IRL-san…(^_^)
PS: awas kalo ngga review #kasi death glare
UL:
Hey…kamu! #nunjuk pintu
Eh, salah…UL-channn (panggil gitu boleh) #peluuk dulu
Jangan lama-lama tahan nafasnya (-_-) saya ngeri
Iya ini uda ganbatte pake NOS,
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Tapii semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^) #hug
Mikyo:
Uddddiinnn niiih…udin di lanjuuttt
Maaf lama updatenya….semoga suka suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne Mikyo-san…(^_^)
Fuuchi:
Ayayayay….aku datang lagiii XD!
Kikik…iya ya lama banget #kayak ngomongin orang lain
Ahahahak…saya sejutrongg! XD kalo saya punya suami kayak Ichigo, sya simpen di lemari kaca biar bisa di liatin tiap hari #sadis
Iya seperti biasa tiap chap emang panjang, pokoknya target sih 30 lembaran =D #author edan
Tapi untuk chap baru Cuma sedikit kok hhehe
Aigoo…senengnya ada yang kangen sama fic saya, buahaha #besok saya teraktir bakso tusuk deh di perempatan #pftt
Emm…Grim masih jadi anak baik, BACA:masih jadi anak baik, hakahak
Iya betul sekali…makanya Senna ngga tau kalo Rukia itu Pembawa Pesan, meskipun dia uda tahu pernikahan pura-puranya sama Kaien sih…
Aku jg kangen sama kamu Fuuchi-san #suara Kaien
Sumpaa…author sebenernya suka loh sama Kenpachi #gakgakgak
Rambutnya itu yang kagak nahan, berasa pengen nancepin balon XD
Sejauh ini dy author buat baik(karena dia senyum pas liat Ichigo pake shunpo pas di lap voli, otomatis dy juga seorang penyihir). Shirayuki author buat masuk ke dalam pesan…tp belum di putuskan mau jd apa (-_-) #maafkan saya
Gomeneee XD…sepertinya banyak yang bakal mengutuk saya gegara adegan potong-memotong yang kurang oke, hhhaaakk
Jangan di bayangin! #mimisan
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Tapii semoga suka dengan kelanjutan ceritanya (saya uda peres keringet untuk menghasilkan chap ini)
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview Fuuchi-saaan #:*
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
Cagali:
Haii…Cagali-saan…saya sungguh ingin sekali untuk update kilat, tapi apa daya nasi telah menjadi nasi goreng #what?!
Gomen saya lama wsekali update untuk chap 9 nya…
Baru bisa update sekarang…semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
Wakamiya Hikaru:
Hahaa…pukpukpuk, aku tahu, aku tahu…bahagia karena mereka akhirnya bersatu kaan…#author nangis Bombay
Memang itu tujuan saya. Membuat Hikaru-san mewek (*_*) #cling
Gomene gomen…XD, janji kok chap yg baru ngga pake di potong-potong lagi hhaa
Dan full IR tanpa ada yang lain,
Oke uda saya update Hikaru-saan,
Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya XD
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
Andy:
Haloow…Andy-san bacanya Cuma chap 1 yah? Uda terupdate sampai chap 8 loh sebelum saya rilis yg baru, hehehee
Kelanjutannya ada 8 chap lagi =D
Terima kasih banyak sudah membaca dan meninggalkan review…
Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
Han:
Maaafkan sayaaaaaa #lari ke tengah ujan
Saya potong di situ…biar penasaran aja #di timpuk pisang
Kayak adonan, dong (-_-)
Iya itu juga salah satu fave game saya XD, hahakkk…jadi di masukin deeh #modus promosi
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview Han-saaan…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^) #hug
Ella Mabby Chan:
Ampuuun…. (_ _) #berojigi
Hahaha…maaaf XD, saya butuh satu chap penuh untuk mengeluarkan kemesuman saya juga #nyengir
Ngga kok…karena sepertinya uda kelamaan tarik-ulur…nanti reader pada bosen kok ngga nyatu2…
Senna? Emmm…itu sebutan saya rasa pas XD
Jadi kacang goring karena di cuekin, hahaha…
Okeh… Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Tapii semoga Mabby-chan suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^) #hug
Flavia:
Haiii…haloow…holaaa =D
Ara…terima kasih banyak karena sudah mewek, hehehe
Maaf saya lama untuk update chap selanjutnya…
Butuh sebulan ya kira-kira untuk menyelesaikan satu chap ini…
Semoga Flavia-san suka dengan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^) #hug
Ichigo:
Halo Ichigo (T_T) #pundung
Itu hanyalah alasanmu saja. Mengakulah! Huh…kau selalu saja menyebalkan, Ichigo. Lebih baik kau berakhir saja di dalam panci sup ku (*_*)
A…aku tidak mengatakan apa-apa. Dan…dan…Hei Kau kan sudah punya Rukia! #tunjuk sambil blushing
Ichigo bodoh! Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu #tutup pintu, eh, salah…tutup muka pake ember. Dan tidak ada apa-apa pada wajahku! Sudah berhentilah menatapku, bodoh!
Ara~kenapa kau tahu apa yang ku inginkan (T_T)
Padahal aku sudah berusaha menyembunyikannya.
Kau mengakuinya sebagai adik? #kaget
Hahahaa…sekarang kau senang kaan? Aku membuatkan sebuah chapter khusus untukmu dan Rukia. Ya, Tuhan…aku bahkan tidak bisa membayangkannya #pingsan karena kebanyakan mimisan
Game itu kan sangat bagus sekali, Ichigo #kyunggg, pandangan mata memelas
Kapan aku bilang begitu? Aku tidak pernah mengatakannya! Kau saja yang salah dengar! Aku tidak patah…ah! #tutup mulut kceplosan
Kau sungguhan ingin mati di tangan ayah mertuamu sendiri ya? Ckckck #geleng-geleng
He…hei, apa yang sedang kau rencanakan!? #curiga.
Lagipula kau kan memang jeruk bodoh :P. Kau menabrak tembok hanya karena Rukia di antar oleh Kaien #pfttt
Oh, tidak. Apa yang kau rencanakan? Wajahmu mengerikan. Ku bilang rahasia ya rahasia. Bersabarlah sampai aku beri tahu nanti.
Termasuk apa? #pengen tahu mode on. Katakan padaku.
…. #speechless
Me…memang apa bagusnya melihatmu memasak!? Jeruk mesuum! #langsung ngibrit
Itu salahmu. Rukia kan masih muda…dia belum bisa mengerti kehidupan yang seperti itu. Seharusnya kau bisa lebih sabar, Ichigo #mendesah lelah
Kalian berdua! Hentikan adegan penuh taburan bunga-bunga itu! Ini sedang tidak dalam cerita!
Benarkah? Tapi aku bisa membuatmu berselingkuh nanti #author cekikikan ala devil, ffufufu
Ah…dia. Sudah jangan hiraukan. Seharusnya kau kasihan padanya. Kau membuatnya patah hati dan menyakitinya. Kau ini benar-benar Ichigo…jahat sekali.
Sekarang aku sudah membuatnya lengkap tanpa ada pemotongan. Kau puas? Sekali lagi aku minta kau buatkan ramen untukku! Kalian sudah ku buat bersama dan akhirnya…akhirnya….#blush, memerah
Ara~aku tidak keberatan kok…hahakk…
Tenang saja Ichigo…aku punya dua puluh jari untuk mengetik #kok bisa?
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Tapii semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview hey Ichigooo…#huug pake banget
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
A.F:
Hai…saya sudah update looh XD
Mekipun lama banget…semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview A.F-san…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
Ichirukiholic:
Hahaa…gomeeen…gomeeeen pake banget daaah pokoknya XD
Selanjutnya saya khususkan kok satu chap IR aja…
Ara…saya terima kasih sekali karena sudah terus membaca fic ini #hug
Maaf ya…tapi ini sudah saya update kokkk #kedip manis
Makasiihhh XD…saya senanggg…tapi, tapi yah…kasian juga sih Senna…#maaf ya Senna kamu jadi di benci banyak orang, hahaa
Tenanggg…akan saya enyahkan langsung #cling, buang Senna ke asalnya
Owowowow…terima kasih sekali sudah mendoakan kesehatan saya #auhtor menitikkan air mata
Ya Tuhan…Saya senang sekali sampe speechless…
Pokoknya terima kasih banyak yaaa Ichirukiholic-san XD
Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya
Makasih uda review juga…dan sampe jumpa di chap selanjutnya…
Ja neee :*
Guest:
Anda suka? Saya juga #kikikkk
Hitsugaya bakal ada kook…Cuma belum muncul aja…
Sudah ngerayu dia buat di ajak maen bareng, huh
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Tapii semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
Lawlietsft:
Percaya ngga? Dulu sewaktu saya nulis balesan review, ribet banget untuk nulis nama 'Lawlietsft' sampe bolak-balik liat papan review biar ngga salah. Dan sekarang, saya ngga perlu liat lagi #bangga bener, hahahakkkk XD
Saya uda hafal di luar kepala….
Oke…saya malah curhat.
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Semoga Lawlietsft-san suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^) #hug
Kanami:
Asekkk…selamat menempuh jenjang baru XD.
Finally yaa…Rukia merubah sedikit sifat dy yg malu-malu…
Haha…iya bener banget. Kan pas ujan lagi ya…pasti dingin deeh #author ikutan di bekep
Aiyayahhh…makasih…syukur deh kalo seru XD #tebar bunga
Shirayuki nanti ya…aka nada bagiannya…sekarang masih belum bisa di kasi tau…
Mau buat doorprize…#surprise kale (-_-)
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Tapii semoga suka dengan kelanjutan ceritanya Kanami-saaan…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^) #lambai-lambai semangat
Asukasouryu:
Haiyah…benarkah? Awawaawaw…saya tersipu sekali XD
Ara…saya juga suka nganclong kesana kok, heheehe…fandom itu juga oke banget author-authornya…
Nee…Yoroshiku Higurashi-san XD (gileee panjang banget itu nama, hahakkk)
Tidak apa-apa…saya sama sekali ngga keberatan kok…bawa badai juga ngga papa XD #plokh
Ehhh…silent reader? Aiyah…terima kasih sudah membaca fic ini…
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya Asuka-san…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^) #lambai-lambai semangat
Ichiruki lovers:
Makasiihhh…tapi maaf saya lama banget updatenya niih, hehee
Ara…benarkah? Huwaa…terima kasih sudah membaca fic ini XD
Yang pertama di kasi komen juga…#bungkuk dalem
Uda saya update nih…semoga suka dengan ceritanya…
Terus terima kasih karena uda review
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
Mi-chan:
Hai, Mi-chan…maaf sekali saya updatenya lama bangeet, hhaaa
Setelah sekian lama baru bisa bertelur ini chap 9
Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya Kanami-saaan…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
A.F: Haloo…saya baru update XO…maaf lamaaa
Silakannn semoga suka ceritanya…sampe komen dua kali #maaf banget ya lamaa
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
CiElAnGeL:
Ara…terima kasih banyak XD #author tersipu
Angel-san…itu sungguh buat saya tersipu…
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Tapii semoga suka dengan kelanjutan ceritanya …
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
Rembulan:
Uwoo…nama ini manis sekali XD
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya Rembulan-saan…
Dan nooo! Jangan mati penasaran. Nanti yang baca fic saya siapa (-_-)
Ara…terima kasih banyaakk…ada yang mendoakan saya lagi #sujud sukur
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne Rembulan-san…(^_^)
Ichiruki's:
Ayyyhhh…saya terharu sekali…ada yg nungguin fic saya XD
Saya lama banget ni updatenya…tapi uda sy update #ngomongnya berbelit-belit saking bahagia
Moga suka yaaaa…:*
Makasih uda review Ichiruki-saannn…
Ketemu di chap depan yah…
Guest:
Gomen ya saya lama update untuk chap 9 nya…
Tapii semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…
Terus terus terima kasih banyak karena sudah mereview…
Ketemu lagi di chap selanjutnya yaa…ja ne…(^_^)
Terima kasih minna-minna sekalian atas reviewnya. Juga yang sudah alert, fave dan suka sama fic ini #peluk satu-satu
Dan sampai jumpa di chap 10th minna…
(^_^)
Byeee….
