Beberapa jam sebelum kejadian.
.
Dua orang dengan gender yang berbeda itu masih berjalan menuju kelasnya, walaupun tidak beriringan karena langkah kaki si pemuda yang memang lebih lebar dari si gadis. Tak ada obrolan berarti antara kedua murid baru itu. Hanya sesekali saja berbicara tentang hal biasa. Yah, basa-basi itu tidak dilarang kan? Walau sebenarnya yang banyak berceloteh gadis itu.
Langkah Shion terhenti kala matanya melihat siluet sosok perempuan yang cukup ia kenal sedang berjalan kesebuah ruangan. Entahlah apa yang sedang dipikirkan Shion sekarang, tapi ia merasa sedikit penasaran dengan apa yang akan dilakukan perempuan yang menjadi 'temannya' itu.
"Kenapa berhenti?" Gaara bertanya saat sadar Shion tak mengikutinya lagi. Gadis berambut pirang itu mengarahkan pandangannya pada Gaara, lalu tersenyum.
"Gaara-kun duluan saja. Aku ingin menyapa 'teman' lama," jawabnya jujur. Awalnya adik dari Temari itu sedikit merasa aneh. Tapi mengingat bahwa gadis ini berteman dengan tiga orang laki-laki yang jadi idola disini. Tidak heran juga kalau ia punya teman walau statusnya masih murid baru.
"Hn, baiklah," ucap Gaara malas sembari membalikkan lagi tubuhnya kearah menuju kelasnya. Shion pun berjalan mengikuti arah 'temannya', sedangkan Gaara kembali menapakan kakinya dan berjalan menuju kelas. Tapi sebelum itu matanya sempat mendelik sebentar ke arah Shion. Tak bisa dipungkiri, walau sedikit ia juga penasaran dengan Shion dan temannya itu. Bahkan ia hendak membelokkan badannya kearah yang sama dengan Shion. Tapi niat itu ia urungkan. Dan dengan memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya, ia kembali melanjutkan perjalanan kekelasnya.
.
"Karin, apa yang kau lakukan?" Shion bertanya kala sudah menemukan 'teman' lama yang dimaksudnya itu, yang kini terlihat sedang berdiri didekat pintu yang didalamnya entah ruangan apa. Karin menoleh. Ia tidak terlihat terkejut dengan adanya Shion di sekolah ini karena sebelumnya ia sudah mendengar berita kedatangan Shion ke-Jepang dari sepupunya. Tapi ia memang sedikit tak menduga Shion ada disini mengikutinya.
"Oh kau," ucap Karin seadanya. Shion memutar matanya bosan. Lalu berjalan mendekati gadis berkaca mata itu.
"Oh ayolah, setidaknya tanyakan kabar untuk 'teman'-mu ini." rajuk Shion manja. Gadis berambut merah itu memutar bola matanya bosan.
"Maksudmu saingan, huuh kau terlihat baik-baik saja, kenapa aku harus bertanya lagi?" Gadis berambut panjang itu hanya tersenyum miring mendengar penuturan Karin. Memang benar, mereka berdua adalah rival yang selalu bersaing untuk memperebutkan atau setidaknya mengambil perhatian seseorang. Walau dalam hal ini, sepertinya Shion lebih unggul karena dia punya sebuah kelebihan yang takan pernah bisa dimiliki Karin. Gadis bermarga Uzumaki itu sendiri tahu akan kelebihan Shion dalam memanfaatkan hal 'itu' untuk lebih dekat dengannya. Tapi yang perlu diketahui adalah, tak peduli dengan langkahnya yang tertinggal dari Shion, ia takkan pernah mundur sampai 'dia' benar-benar memutuskan semuanya.
"Tapi Shion, aku yakin setelah mendengar dan melihat pertunjukan dibalik ruangan ini kau tidak akan baik-baik saja," ucap Karin disertai seringainya. Senyum disudut bibir Shion pun pudar saat mendengar penuturan gadis berkaca mata itu. Kini ekspresinya juga berubah menjadi serius. Ia tahu ini bukan hal baik. Shion cukup mengenal siapa Karin, dan jika ia mengatakan hal seperti ini, dengan alasan menggertak atau mengancam semuanya pasti bukan sekedar candaan.
"Berhubungan dengan 'dia'? tanyanya dan hanya dibalas sebuah anggukan kecil oleh Karin. Tanpa menunggu lagi, gadis itu langsung mendekati pintu untuk mencuri dengar apa yang dibicarakan didalam ruangan. Ia cukup terkejut dengan beberapa kalimat yang dikeluarkan dari pembicaraan didalam yang berasal dari suara yang sangat ia kenal. Hal itu membuat rasa penasarannya lebih bertambah. Perlahan ia membuka pintu dan melihat dibalik celah. Dapat ia lihat seorang gadis sedang dalam 'kurungan' pemuda yang sangat ia kenal. Dibelakanngya Karin juga ikut melihat kegiatan yang ada dalam ruangan itu.
"Kak Sasuke dan Hinata-san," gumamnya pelan tak percaya. Sementara gadis yang menjadi rivalnya hanya diam dan tetap fokus pada pemandangan didepannya. Walau sedikit, tapi tersirat kesedihan yang sama di wajahnya. Dengan perasaan yang mungkin sama, mereka kembali melanjutkan aktifitasnya. Sampai suatu ketika mata keduanya terbelalak melihat sebuah adegan yang menohok hati keduanya. Membuat rasa sakit yang semakin dalam dan tak dapat disembunyikan lagi. Mungkin mereka berharap supaya segera terbangun dari mimpi buruknya, tapi semua ini kenyataan.
Shion mengepalkan tangannya erat, menutup mata lalu menjauhi pintu itu. Saat ia kembali membuka matanya lagi, Karin tahu sorotan mata gadis itu berubah. Dingin dan penuh kebencian.
"Jadi ini hari terakhir untuk taruhannya?" tanyanya dingin.
"Ya," jawab Karin singkat. Shion mendelik tajam.
"Kau benar, aku tidak baik-baik saja..." ucapnya dingin memberi jeda. Ia kembali melanjutkan kalimatnya, kali ini bukan hanya suara dingin, namun disertai dengan seringai misterius.
"... dan aku sangat membencimu, Hyuuga Hinata."
Saat Karin melihat Shion yang sekarang, ia tahu bahwa gadis itu sudah berubah. Tidak ada lagi Shion yang ceria. Tidak ada lagi sosok princes yang anggun dan selalu bersikap santun. Semuanya menghilang akibat rasa benci. Yah kini bukan hanya dirinya yang membenci Hyuuga Hinata karena berhasil merebut Sasuke. Diam-diam ia tersenyum. Disaat-saat terakhir, ternyata dewi Fortuna masih memberinya keberuntungan. Kali ini ia hanya perlu diam dan gadis didepannya ini yang akan melakukan segalanya untuk membatalkan pertunangan itu. Semuanya terlihat lebih mudah, walau ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Well, jika hal buruk terjadi bukan dia yang salahkan?
.
.
My Secret Girl
by
Umie Solihati
Disclaimer: Masashi Kishimoto
WARNING: AU, TYPO, OO, DLL.
happy reading n.n
.
Hinata menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ia masih terduduk sambil bersandar diatas ranjangnya. Enggan meninggalkan tempat itu walau hari sudah terang. Matanya menatap sayu keluar jendela. Seharusnya hari ini ia ikut dengan ayahnya ke Mansion Uchiha. Namun ia beralasan masih sakit dan butuh istirahat. Memang sejak tiga hari lalu setelah kejadian itu ia merasa kondisi fisiknya menurun. Ia tidak masuk sekolah ataupun keluar rumah. Sebenarnya ia juga mengambil kesempatan dari kondisinya karena hal ini setidaknya ia tidak bisa bertemu Sasuke. Mungkin lebih tepatnya belum siap. Untuk kali ini menghindar adalah yang terbaik. Tentang kejadian itu, Hinata sudah membujuk Gaara agar tak mengatakan pada Ayahnya. Dan karena kejadian itu juga, ia harus membatalkan rencana pertunangannya dengan Uchiha Sasuke.
Ia kalah.
Sejak tiga hari yang lalu ia sudah kalah dari permainan ini. Tidak, mungkin sejak awal dia memang sudah kalah. Karena rasa egoisnya ia berusaha untuk menang dari pemuda itu. Ia berusaha membuktikan bahwa ia mampu. Namun ditengah jalan alasan utamanya untuk menerima permainan ini hancur. Pemuda yang ia perjuangkan malah menyukai sahabatnya.
Ironis tapi ia tak berhenti.
Entah untuk alasan apa ia melanjutkan taruhan itu. Sampai akhirnya perasaan aneh muncul dihatinya saat bersama Sasuke. Ia berusaha mengabaikan hal itu namun gagal dan akhirnya terjebak dalam rasa manis yang beracun dan berujung pada luka dihatinya.
Ia tertipu.
Entah Hinata yang bodoh atau memang akting Sasuke yang sangat hebat hingga ia tidak bisa lagi membedakan mana ketulusan dan mana siasat. Semuanya begitu sempurna dan tanpa celah membuatnya terbuai hingga melupakan taruhan yang sedang ia mainkan.
Ia lengah dan terjebak.
Sampai pada hari itu membuktikan serta membukakan matanya pada kenyataan kalau ia kalah dari sang Uchiha. Ia harus melakukan apa yang sudah disepakati. Sangat berat. Awalnya ia pikir karena hal itu akan mengecewakan ayahnya. Setelah ia renungkan kembali ternyata hatinya mengingkari hal itu sebagai alasan utama. Ada sebuah alasan lagi yang masih atau mungkin belum terungkapkan yang membuat semuanya semakin sulit dan itu berhubungan dengan pemuda raven itu. Tapi ia tahu, apapun alasannya, ia tetap harus membatalkan tunangannya dengan Sasuke. Ia tak mungkin mengingkari janjinya. Dua hari waktunya berpikir sampai tadi pagi ia mengatakan pada sang ayah. Terkejut adalah ekspresi yang sudah diduga gadis itu. Namun ia beruntung karena sang ayah mengerti dan dapat menerima alasan yang ia berikan.
Gadis bersurai indigo itu mendesah. Sasuke sangat jahat, licik, tak berperasaan. Kenapa ia melupakannya? Harusnya ia sudah menebak hal paling buruk seperti itu. Tapi jauh di sudut hatinya ada keinginan memberontak akan pernyataan ini. Tapi ia harus sadar akan kenyataan didepan matanya. Ia tidak boleh dibutakan lagi hanya karena perasaan.
Pandangan lavendernya teralihkan dari jendela saat ia mendengar suara ketukan pintu.
"Nona Hinata..." panggil seorang perempuan yang sangat Hinata kenal.
"Yah Ayame-san?" sahut Hinata untuk menjawab panggilan dari asisten rumah tangganya itu.
"Maaf ada seorang pria yang ingin bertemu dengan anda. Sudah saya bilang jika anda sedang beristirahat tapi ia tetap memaksa," ucap Ayame lagi sambil menundukkan kepalanya.
"Gaara-kun?"
"Bukan Nona." Hinata mengernyitkan dahi. Setahunya ia belum mengenal banyak orang di Konoha, apalagi pria. Penasaran dengan orang itu, Hinata pun turun dari ranjangnya dan berjalan mendekati pintu. Perlahan ia buka knop pintu itu. Sosok asisten rumah tangganya yang pertama ia lihat. Lalu matanya mulai melirik ke belakang perempuan itu untuk melihat sosok pria yang dimaksud. Jika ditatap sekilas tidak ada yang aneh. Tapi jika diperhatikan baik-baik pria ini mengingatkannya pada seseorang.
"A-anda?" gumamnya terbata. Namun sulung Hyuuga itu langsung kaget karena pria itu maju kedepan menerjang tubuh mungil Hinata, lalu memeluknya.
"Hinata-chan, akhirnya kita bisa bertemu."
.
Disebuah ruangan yang cukup luas, terlihat seorang pria paruh baya kini telah membungkukan badannya pada sang sahabat beserta anak mereka. Itu ia lakukan sebagai tanda permintaan maaf karena sudah memutuskan hal yang mungkin tak seharusnya ia lakukan. Apa boleh buat, walau hal ini memalukan tapi ia tetap harus melakukannya demi permintaan sang putri. Harga diri yang ia junjung tinggi pun runtuh seketika. Namun ia tidak peduli jika semua itu bisa membuat sang putri senang.
"Sekali lagi saya minta maaf atas keputusan ini, Fugaku," ucapnya sungguh-sungguh. Fugaku menghela nafas, sedangkan sang istri menampakan wajah kecewanya karena hal ini. Pemuda satu-satunya diruangan itu pun hanya diam saja. Namun tangannya terkepal erat dengan semua pemikiran-pemikiran tentang penyebab keputusan ini terjadi. Ia sendiri heran kenapa ia harus repot-repot memikirkan hal itu. Bukankah dari awal dia yang menginginkannya? Bukankah itu alasan kenapa ia membuat taruhan itu? Tapi kenapa ia merasa tidak senang. Dan jika mengingat hal yang terjadi pada Hinata rasanya ia seperti pecundang besar. Padahal kenapa juga ia harus peduli? Ah sial, terlalu banyak pertanyaan dengan awalan kenapa di otaknya sekarang.
"Sudahlah Hiashi, tidak perlu menunduk seperti itu," ujar Fugaku. Hiashi pun mengangkat kepalanya, bertatapan kembali dengan mereka.
"Hiashi-kun bisakah berikan alasan tentang pembatalan pertunangan ini? Dan Hinata-chan kenapa tidak datang? Kau tahu, aku sangat kecewa sekali dengan hal ini." Sang ibu rumah tangga memberikan pertanyaan bertubi-tubi sembari memberikan tatapan menuntut alasan pada kepala keluarga Hyuuga itu.
Hiashi menoleh pada Mikoto.
"Hinata hanya memberi alasan bahwa ia merasa tidak cocok dengan Sasuke. Untuk Hinata yang tak hadir, ia kurang sehat. Sejak tiga hari yang lalu ia tidak keluar kamar," tuturnya memberi alasan. Pernyataan itu cukup membuat Uchiha muda tersentak. Tiga hari yang lalu tepat saat kejadian itu terjadi. Pantas saja ia tidak melihat keberadaan Hinata di Sekolah. Tiba-tiba rasa khawatir akan keadaan gadis itu muncul. Apa dia baik-baik saja? Ah bodoh bukankah tadi ayahnya bilang bahwa dia sedang sakit. Sial, ia ingin cepat-cepat melihatnya dan mungkin ehem-meminta maaf. Uuh memang terdengar sangat aneh jika dibayangkan.
Fugaku sedikit mendelik kearah putranya. Ia tahu ada yang tak beres dengan semua ini. Dari ekspresi Sasuke ia dapat melihat bahwa anaknya yang biasanya cuek ini sedang memikirkan sesuatu yang ia yakin berkaitan dengan hal ini.
"Sasuke," panggilnya datar. Sasuke menoleh kearah ayahnya, lalu menyahut dengan sebuah gumaman kecil.
"Apa kau ingin menjelaskan sesuatu?"
Sasuke mengernyitkan dahi, sementara Mikoto dan Hiashi kini memusatkan pandangannya pada pemuda itu.
"Ungkapkan saja semua. Tentang pembatalan rencana pertunangan ini, dan Hinata." Sasuke tahu, dari nada bicara sang ayah, ia dapat menyimpulkan bahwa ayahnya memang mencurigai ia menyembunyikan sesuatu. Berbohong bukan hal yang tepat sekarang. Sasuke menghela nafas berat.
"Maafkan aku, ayah, ibu, paman," ucap Sasuke sedikit membungkukkan kepalanya. Semua yang ada disana kini benar-benar memusatkan perhatian pada Sasuke. Menuggu pejelasan lebih dari pemuda raven itu. Sasuke kembali berbicara,
"Sebenarnya kami terlibat kesalah-pahaman yang cukup rumit. Hinata mungkin marah dan memutuskan hal ini," ucapnya setengah berbohong. Semua yang ada disana langsung menatap curiga pada Sasuke, terutama ayah dari sang gadis.
"Itu artinya kau menyakiti putriku?" tanya Hiashi sembari memberikan tatapan tajam pada Sasuke. Sasuke sendiri dapat mengerti dengan sikap Hiashi yang seorang ayah. Ia mengerti suara geraman dan arti tatapan menyeramkan itu.
"Untuk itu saya minta maaf paman. Tapi..."
Semua orang disana mengernyitkan dahi, penasaran dengan lanjutan kalimat pemuda berkulit putih itu.
"Tapi?"
Sasuke memejamkan mata lalu menghela nafas lagi.
"Izinkan saya untuk bertemu Hinata dan meminta maaf. Walau pertunangan ini dibatalkan tapi hubungan saya dan Hinata..." Sasuke menghentikan kalimatnya. Tidak tahu kata apa yang cocok atau pantas untuk menggambarkan perasaan seperti apa yang kini ia rasakan pada sulung Hyuuga itu. Melihat keadaan sang putra, Fugaku menghela nafas kembali namun kali ini disertai senyum tipis di bibirnya. Berbeda dengan sang suami, si istri malah sudah mengembangkan senyum kearah sang putra. Ia tahu bahwa putranya itu memang sedang mempunyai perasaan spesial pada Hinata.
"Jika kau salah, tentu saja harus minta maaf," tutur Fugaku santai sambil menenggak kopi hitamnya.
"Setelah itu perbaiki hubunganmu dengan Hinata-chan," timpal Mikoto antusias dengan kedua matanya yang berbinar. Melihat tanggapan positif dari orang tuanya membuat Sasuke lega. Sekarang tinggal satu jawaban lagi dari orang yang paling menentukan. Sasuke terus menatap penuh harap pada Hiashi. Tak peduli bahwa yang ia dapatkan adalah tatapan tajam yang sangat tak menyenangkan. Dilihatnya Hiashi yang sedang mengurut dahinya kebingungan. Namun setelahnya, pria berambut cokelat itu mulai membuka mulutnya.
"Baiklah bocah, kau ikut aku." Sasuke tersenyum tipis.
"Tapi kali ini tidak akan mudah, karena aku akan mengawasimu." Hiashi berujar dengan penuh penekanan, mengisyaratkan sebuah ancaman pada Uchiha Bungsu itu. Sasuke mengerti. Ia langsung mengangguk tegas dan menyetujui hal itu.
Sasuke tahu memang semuanya tidak akan mudah setelah kejadian ini. Tapi setidaknya ia masih punya kesempatan mengetahui perasaan seperti apa yang dia miliki untuk gadis itu. Perasaan yang sangat berbeda dan aahh sulit dijelaskan tentunya.
.
"Ternyata Hinata-chan cantik dan sangat imut yah. Sepertinya aku menyukaimu," ucap pria misterius itu sambil mencubit pelan pipi Hinata. Membuat gadis itu sedikit meringis kesakitan. Melihat ekspresi si gadis, lelaki berambut panjang itu melepaskan tangannya.
"Maaf, aku terlalu senang," ucapnya disertai senyuman innocent. Hinata hanya menggeleng-geleng kepalanya tanda heran dan bingung akan sifat pria yang beberapa menit lalu ada didepan kamarnya. Sekarang mereka berdua sudah ada didalam kamar dan duduk berdampingan di pinggir ranjang sang punya kamar.
"Se-sebenarnya anda siapa dan ada keperluan apa?" tanya Hinata penasaran. Pria itu kembali tersenyum. Tangannya terulur ke arah kepala Hinata lalu mengelusnya perlahan. Membuat sang punya kepala sedikit kaget.
"Nanti kau akan tahu sendiri. Tapi memang ada sesuatu yang ingin ku bicarakan. Tentang Sasuke." Ekspresi Hinata berubah sendu kala nama itu disebutkan.
"A-aku benci Sasuke," ucapnya sambil menurunkan tangan pria itu dari kepalanya.
"Dengarkan dulu."
"Tidak mau!" tolak Hinata tegas sambil menjauhkan jaraknya dengan si pria. Pria itu sendiri hanya menghela nafas melihat si gadis yang bersikap demikian. Ia menggeser tubuhnya untuk mengeliminasi jarak yang sempat jauh tadi. Dengan gerakan mendadak ia kembali memeluk gadis itu. Sedangkan Hinata kembali dibuat kaget karena tingkah aneh yang dibuat lelaki itu.
"Aku tahu semuanya. Tentang pertunanganmu dan Sasuke dan taruhan itu serta kejadian yang menimpamu tiga hari yang lalu." Pernyataan itu cukup membuat Hinata membulatkan matanya kaget. Sebenarnya siapa orang ini? Dalam waktu kurang dari sepuluh menit lelaki ini terus saja membuatnya kaget.
"K-kau..."
"Dengarkan dulu," potongnya lagi. Hinata diam mendengarkan.
"Aku tahu Sasuke itu brengsek, tidak sopan, seenaknya dan kekanakan..." ucapnya memberi jeda. Kemudian ia melanjutkan lagi.
"...Tapi, coba pikirkan lagi. Apa kau yakin Sasuke pelaku dari kejadian tiga hari yang lalu? Menurut hati dan keyakinanmu, apa benar Sasuke akan melakukan hal itu?" Hinata merenung mendengar pertanyaan itu. Otaknya berpikir keras untuk mendapat jawabannya.
"Kenyataanya memang seperti itu kan," lirihnya dengan suara bergetar.
"Terkadang tidak semua yang terlihat dan terdengar itu adalah sebuah kenyataan. Penglihatan dan pendengaran terkadang menipu kita. Tapi keyakinan hati itu berbeda karena itu berhubungan dengan perasaan yang kita rasakan pada orang itu. Jika baik, maka hasilnya akan baik, begitu pula sebaliknya." Hinata kembali merenungkan ucapan pria yang masih memeluknya ini. Keyakinan hati. Hinata memang merasakannya tapi jika memang bukan Sasuke lalu siapa yang melakukannya? Lalu apa alasannya?
Tapi setelah mendengar kata-kata dari pria misterius itu Hinata akan mencoba berpikir jernih.
"Terimakasih atas penjelasannya, aku merasa lebih baik sekarang," ucap Hinata disertai senyuman manis diwajahnya. Walaupun pria ini seenaknya datang dan memeluk dirinya, entah kenapa ia merasakan bahwa pria ini tidak mempunyai niat jahat. Yah itu keyakinan hatinya.
Ckleeek...
Suara pintu mengalihkan pandangan keduanya. Terlihat sosok dibalik pintu itu masuk. Secara otomatis orang itu langsung melihat apa yang sedang terjadi. Ia mengernyitkan dahi melihat lelaki yang bersama Hinata. Tapi sedetik kemudian ia menggeram kesal melihat adegan yang mereka lakukan.
"Itachi!"
.
.
TBC
.
Haah saya bingung mau mulai dari mana. Ok, untuk sebentar saya ingin curhat gaje dulu sama para reader. Maaf jika terkesan berlebihan./lebay.
23 mei 2014, mamah saya meninggal. Di hari jumat itu saya kehilangan orang yang paling saya sayangi untuk selamanya. Saya hancur, tentu saja. Semua ini begitu mendadak, padahal sebelum berangkat kerja saya masih sempat memijat beliau dan beliau pun masih mendoakan saya agar selalu bekerja dengan hati-hati dan mendoakan keselamatan saya dengan sebuah senyuman tulus. Saya benar-benar kacau dan tak bisa berpikir jernih. Kenapa hal ini terjadi begitu cepat? Padahal kita sudah banyak merencanakan banyak hal kedepannya? Saya menangis. Tetesan air mata terus turun dipipi ini, walau tanpa suara pun, tetap saja keluar. Penyesalan dan rasa sakit ini pun masih terasa sangat jelas di hati ini. Bagaimana saya bisa hidup tanpanya? Bagaimana bisa saya bertahan? Rasa sakit ini benar-benar tidak bisa digambarkan walau dengan fic paling sedih sekalipun. Untuk alasan itulah, tanpa pikir panjang saya langsung mendiscontinue fic saya yang masih MC, karena saya takut tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Saya takut mengecewakan kalian jika terus berlanjut. Maafkan saya sudah melakukan hal yang sangat pengecut itu, sungguh maafkan saya karena kini setelah saya melakukan hal itu saya malah berani menulis lagi, uhh saya memang sangat hina. Tapi saya memutuskan kembali hal ini bukan tanpa alasan. Saya menulis lagi karena saya tidak ingin menjadi seorang author yang tidak konsisten. Walaupun keadaan buruk saya meyakinkan hati saya untuk melakukan hal dari awal saya menulis fic ini, saya sudah mengambil prinsip 'sekali kau memulai maka harus kau akhiri' . Jadi saya akan tetap melanjutkan fic ini walau hasilnya buruk dan aneh. Maafkan saya karena itu egois. Saya juga mendapat banyak semangat dari temen duta dan dumay untuk tetap melanjutkan hidup walau sulit. Saya ingin berterimakasih pada mereka yang sudah menyediakan waktu untuk mem-pm/mereview fic saya dan menanyakan kelanjutannya. Untuk yang memberi semangat/kritik/saran/silent reader/dan mungkin flame juga tidak akan saya lewatkan, terimakasih untuk kalian. Saya umie solihati tidak akan meminta kalian mengerti tentang alasan ini, karena saya memang tidak profesional. Kalian juga boleh marah kok, saya akan terima, sungguh :).
Saya mencintai kalian...
US
