Je t'aime
Genre : Drama, Hurt/Comfort
Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun and other
Rate : T
Warning : Genderswitch, OOC, bad diction, miss typing, RE-PUBLISH, RE-EDIT, RENAME
Disclimer : Fict ini sudah pernah di-publish sebelumnya dengan judul yang berbeda. I just borrow their name as the cast of this story. All belongs to God and this story is absolutely mine. Please don't read if you don't like this story
Chapter 8 : Too Late
Sungmin membiarkan kaki telanjangnya terus tersapu oleh gelombang ombak kecil yang saling berkejaran. Gadis itu memejamkan matanya yang terlihat sedikit membengkak. Tangannya bergerak memeluk tubuhnya kala angin darat mulai berhembus kencang. Menerbangkan helaian rambut hitam panjangnya yang halus.
Hari mulai beranjak senja, namun Sungmin tak menghiraukannya. Gadis itu bahkan tak mempedulikan sudah berapa lama ia berada di pantai di pinggir kota Seoul itu. Usai meninggalkan kantor Kyuhyun tadi siang, Sungmin tidak kembali lagi ke kantornya. Ia meminta ijin kepada Kibum untuk pulang lebih awal. Sungmin tidak bisa bekerja dengan keadaan kacau seperti tadi Siang. Ia juga tidak mau Kibum bertanya macam-macam saat melihatnya kembali ke kantor dengan mata sembab. Jadi Sungmin memilih untuk melarikan diri ke pantai. Menenangkan dirinya di sana.
'Ya Tuhan…tolong yakinkan hatiku bahwa inilah yang terbaik,' bisiknya dalam hati.
Kedua mata indah yang sudah cukup lama terpejam itu akhirnya terbuka. Sungmin menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Mencoba membunuh rasa sesak yang sejak tadi menggerogoti dadanya. Sekarang perasaannya jauh lebih tenang. Keadaan pantai yang tenang cukup membantu Sungmin untuk menenangkan hatinya.
Gadis itu beranjak dari posisinya. Ia merendahkan tubuhnya, mengambil sepasang heels hitam yang tergeletak beberapa inchi dari kakinya. Kemudian berjalan pelan ke arah sedan merahnya dengan menenteng sepasang heels hitam itu. Sungmin memutuskan untuk pulang ke apartemennya.
Pukul enam petang tepat Sungmin sampai di apartemennya. Pintu apartemen itu terbuka setelah sistem sukses mengeksekusi password yang dimasukkan oleh Sungmin. Sungmin menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan pelan ketika rasa sesak di dadanya kembali muncul. Gadis itu kembali teringat oleh Kyuhyun.
"Gwaenchana…gwaenchana…" bisiknya pelan saat air matanya kembali mendesak keluar dari kedua sudut matanya. Sungmin akhirnya membuka pintu apartemennya dan melangkah masuk ke dalamnya.
"Minnie-ya…" sebuah suara lembut menyapanya ketika Sungmin sampai di depan ruang tamu apartemennya.
Sungmin mengenali suara lembut itu. Ia hafal betul siapa pemilik suara itu, suara seseorang yang sejujurnya sangat dirindukannya.
"Eomma…" lirihnya kala mata beningnya menangkap sosok Leeteuk— ibunya— yang tampak duduk bersama Kangin di sofa ruang tamu apartemennya. Sungmin senang sekaligus terkejut melihat kedua orang tuanya tiba-tiba berada di apartemennya.
Leeteuk tersenyum lembut melihat reaksi Sungmin. Ia paham jika putrinya tengah terkejut dengan kehadirannya dan Kangin yang tiba-tiba muncul di apartemen Sungmin. Wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya lalu menghampiri Sungmin yang tampak mematung di depan ruang tamu.
"Kau baru pulang, sayang? Maaf jika kami masuk terlebih dahulu. Kami sudah menunggumu di lobi selama tiga jam, tapi kau tidak muncul juga. Jadi kami terpaksa masuk lebih dulu," Leeteuk mengusap lembut pipi Sungmin. Kangin dan Leeteuk memang mengetahui password apartemen Sungmin.
Sungmin tidak menjawab Leeteuk. Bibir merah gadis itu mengatup rapat, namun mata beningnya perlahan berair. Melihat ibunya yang kini berada di hadapannya, membuat Sungmin bahagia sekaligus rapuh. Rasanya ia tidak mampu menyembunyikan lagi luka yang sudah menganga lebar di hatinya. Dan Sungmin ingin menumpahkan segala rasa sakit itu kepada ibunya.
"Eomma…" Sungmin akhirnya menghambur memeluk Leeteuk dengan erat. Menangis terisak di pelukan ibunya. Sungmin sudah tidak kuat menanggung semua luka itu sendiri.
Leeteuk tidak berniat bertanya kenapa Sungmin bisa menangis seperti ini. Naluri keibuannya menuntunnya untuk mendekap hangat putrinya sembari mengelus punggung yang tengah bergetar itu. Berharap itu bisa mengurangi kesedihan putrinya.
Leeteuk membawa Sungmin ke kamarnya. Sepasang ibu dan anak itu kini duduk berpelukan di atas ranjang. Sampai sekarang gadis itu masih betah menangis di pelukan ibunya.
"Sayang, apa kau ingin menceritakan sesuatu?" Leeteuk mencoba membujuk Sungmin agar putri cantiknya mau bercerita. Melihat Sungmin menangis seperti ini membuat dadanya sesak.
Sungmin membisu, tidak menjawab Leeteuk. Hanya suara isakan lirih yang keluar dari bibir merahnya. Leeteuk mendesah pelan, sepertinya putrinya itu tidak mau bercerita kepadanya. "Baiklah, jika kau tidak mau bercerita. Tidak ap—"
"Eomma…" ucapan Leeteuk terputus ketika Sungmin memotongnya. "Apakah begini rasanya mencintai seseorang yang sama sekali tidak melihat kita? Apakah memang sesakit ini?" Sungmin berujar pelan dengan suara paraunya yang menyerupai sebuah bisikan.
Sungmin kembali terisak, dan kali ini isakan itu terdengar memilukan di telinga Leeteuk. Leeteuk mengusap lembut punggung Sungmin sambil mencium puncak kepalanya. Wanita itu tidak tahu jika putrinya menanggung luka sesakit ini. Leeteuk bahkan bisa merasakan sakit yang dialami putrinya.
"Apa salah jika aku menyerah, eomma? Aku sudah berusaha sekeras yang aku bisa untuk meraihnnya, tapi tetap saja aku tidak mampu meraihnya. Aku sudah lelah, eomma…apa salah jika aku menyerah?"
"Kyuhyun…dia masih sangat mencintai Ryeowook eonnie…dan tidak akan pernah ada seorang gadis pun yang bisa menggantikan posisi eonnie di hatinya."
Ya Tuhan…Leeteuk merasa menjadi ibu yang tidak berguna. Ia bahkan tidak tahu jika putrinya tersakiti seperti ini. Terlebih orang yang menyakiti putrinya adalah putra dari sahabatnya sendiri— Cho Kyuhyun. Apa salah putrinya sehingga harus mengalami luka seperti ini?
Ternyata apa yang menjadi prasangka Kangin selama ini semuanya benar. Kangin memang sangat menyayangi Sungmin. Suaminya itu bahkan lebih peka daripada dirinya. Kangin selalu bisa merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan putri cantik mereka. Dan entah mengapa, apa yang menjadi prasangkanya mengenai Sungmin hampir semuanya selalu benar.
"Tidak…kau tidak salah, sayang. Semua perjuangan ada akhirnya. Dan mungkin ini saatnya perjuangan itu berakhir," Leeteuk mengeratkan pelukannya di tubuh Sungmin. Sekali lagi Leeteuk mengusap lembut punggung putrinya.
Kangin mengintip dari celah pintu kamar Sungmin yang sedikit terbuka. Kedua tangannya mengepal kuat. Sungmin-nya, putri kecilnya belum pernah menangis sehebat ini. Di depan matanya. Dan itu semua karena Cho Kyuhyun. Dalam hati ia bersumpah akan menjauhkan Kyuhyun dari kehidupan putrinya.
"Minnie sudah tidur?"
Suara berat Kangin sedikit mengejutkan Leeteuk yang tengah membenarkan posisi tidur Sungmin. Leeteuk menoleh ke belakang setelah menyelimuti Sungmin sebatas dada. Sungmin yang terlalu lelah menangis akhirnya jatuh tertidur dalam dekapan Leeteuk.
"Hm," Leeteuk mengangguk lalu berjalan menghampiri Kangin yang berdiri di samping meja rias Sungmin.
"Mianhaeyo, yeobo. Ternyata apa yang kau khawatirkan tentang Minnie selama ini semuanya benar," ia memandang Kangin sendu. "Ternyata putra Heechul-ie tidak sama seperti Hangeng," Leeteuk mendesah kecewa. "Terima kasih sudah mengawasi putri kita selama ini."
Kangin membawa Leeteuk ke dalam dekapannya. "Sudahlah. Semuanya sudah terjadi. Sekarang saatnya kita membuat putri kita bahagia."
"Hm," Leeteuk mengangguk kecil dalam dekapan Kangin.
"Jadi, apa sekarang kau menerima rencana perjodohan putri kita dengan putra tuan Choi?" Kangin menatap Leeteuk yang bersandar nyaman di dadanya yang masih bidang di usia yang sudah tidak muda lagi.
Leeteuk berdiam sejenak sebelum akhirnya mengukir senyum tipis di bibirnya. "Baiklah. Tapi kita harus bicara pada Heechul-ie tentang hal ini."
"Keurom," Kangin tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. "Kita akan berbicara pada Heechul-ie setelah kita menyampaikan hal ini pada putri kita."
"Hm," Leeteuk kembali mengangguk dalam dekapan Kangin.
Tujuan Kangin dan Leeteuk kembali ke Korea memang untuk menjodohkan Sungmin dengan putra tuan Choi, salah satu relasi bisnisnya. Orang-orang kepercayaan Kangin bekerja dengan sangat baik mengawasi Sungmin. Setelah mendapati putrinya begitu tersakiti oleh Kyuhyun, Kangin dan Leeteuk segera terbang ke Korea. Ia tidak ingin Sungmin tersakiti lebih dalam lagi, dan tidak ada salahnya ia menerima rencana perjodohan itu. Kangin justru berharap putrinya bisa bahagia dengan putra tuan Choi yang sudah cukup lama dikenalnya.
Sungmin terbangun dengan sedikit rasa pusing di kepalanya. Mungkin ini efek dari menangis seharian kemarin.
"Sudah bangun?"
Sungmin menoleh ke arah pintu kamarnya. Bibirnya tersenyum tipis mendapati Leeteuk dan Kangin yang tengah melangkah menuju ranjangnya. Leeteuk membawa setangkup roti panggang dan segelas susu di tangannya.
"Bagaimana kabarmu, sayang?" Kangin mendudukkan tubuhnya di sisi kanan ranjang Sungmin, kemudian mengecup puncak kepala Sungmin yang sudah terduduk di atas ranjangnya.
"Tidak pernah sebaik saat ada appa dan eomma di sini," Sungmin kembali mengulas senyumnya.
"Hari ini kau akan menjadi tuan putri kami. Jja, igeo!" Leeteuk menyodorkan roti panggang ditangannya kepada Sungmin setelah meletakkan segelas susu yang dibawanya ke atas nakas. "Kami akan menemanimu makan di sini, tuan putri."
"Aaaa…gomawo, eomma," Sungmin berucap lucu. Ia menerima roti panggang itu dengan senang hati.
Leeteuk tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Tangannya bergerak perlahan di kepala Sungmin, mengusap lembut surai panjangnya.
"Apa kau tidak makan dengan baik? Kau terlihat kurus, Minnie-ya." Sungmin tidak menjawab Leeteuk. Gadis itu lebih memilih untuk memakan roti panggang di tangannya.
Kangin tersenyum menatap Sungmin yang tampak menikmati setangkup roti panggangnya, lalu beralih menatap Leeteuk yang juga tengah menatapnya. Leeteuk akhirnya mengangguk setelah sejenak mereka bertukar pandang. Ia memahami jika Kangin tengah meminta pendapatnya lewat kontak matanya.
"Sayang, ada yang ingin appa sampaikan padamu," Kangin menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Hm? Wae gurae, appa?" Sungmin menatap Kangin setelah menggigit roti panggangnya.
"Appa ingin...menjodohkanmu dengan putra rekan bisnis appa."
"Ne?" Sungmin benar-benar terkejut. Aktivitas makannya terhenti seketika. Beruntung gadis itu sudah menelan roti panggangnya. Jika tidak, mungkin saja ia sudah tersedak. Ia menatap Kangin dengan raut terkejutnya.
"Appa sudah tahu semuanya, sayang. Tentang Cho Kyuhyun. Laki-laki itu sudah terlalu banyak menyakitimu," Kangin sedikit menggeram dalam ucapannya.
Sungmin menunduk. Mata beningnya memanas begitu mendengar Kangin menyebut nama Kyuhyun. Gadis itu terdiam, menggigit kuat bibir bawahnya saat air mata yang perlahan mengumpul di pelupuk matanya mendesak ingin keluar.
"Appa hanya ingin kau bahagia. Appa tidak ingin kau menangis lagi karena laki-laki itu."
'Aku juga tidak ingin menangis lagi karena Kyuhyun, appa,' Sungmin membatin perih.
"Jadi, apa kau mau menerimanya, sayang?" Kangin berusaha membujuk Sungmin.
Sungmin masih mengunci bibirnya dengan gigitan itu, tidak langsung menjawab Kangin. Sungmin berpikir tidak ada salahnya jika ia menerima perjodohan itu. Lagipula, Kangin sangat menyayanginya. Ia yakin bahwa pilihan ayahnya tidak mungkin salah karena Kangin selalu memberikan yang terbaik untuknya. Dan ia juga bisa belajar untuk melupakan Kyuhyun. Meski mungkin rasanya akan sulit, tapi setidaknya ia bisa mengalihkan hati dan pikirannya dari Kyuhyun.
"Ne," Sungmin akhirnya mengangguk. "Aku mau, appa," air matanya jatuh perlahan bersamaan saat ia melontarkan jawaban itu.
Kangin tersenyum lega lalu membawa Sungmin dalam dekapannya. "Terima kasih, Minnie-ya. Appa menyayangimu," ucapnya seraya mengecup kepala Sungmin. Sungmin hanya mampu mengangguk kecil dalam dekapan Kangin. Lidahnya terlalu kelu untuk sekedar mengucapkan kata 'iya'. Ia tidak mau Kangin dan Leeteuk tahu jika ia tengah menangis saat ini.
'Aku juga menyayangimu, appa,' balasnya dalam hati. Detik itu juga Sungmin berjanji akan belajar menerima laki-laki sudah yang menjadi pilihan Kangin.
Tiga hari kemudian…
Kyuhyun melirik resah ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul dua belas lewat sepuluh menit, namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Sungmin. Biasanya gadis itu sudah datang ke kantornya saat ini.
Apakah Sungmin tidak akan datang ke kantornya lagi? Seperti dua hari kemarin? Kyuhyun membatin gundah. Ya, sudah dua hari ini Sungmin tidak mengantarkan makan siang maupun makan malam untuknya. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu? Apakah ia sesibuk itu sehingga tidak bisa meluangkan sedikit waktunya untuk mengantarkan makanan untuknya?
Kyuhyun beranjak dari posisi duduknya. Laki-laki itu berjalan mondar mandir di depan meja kerjanya. Ia ingin menghubungi Sungmin, namun ego-nya menahannya untuk tidak melakukannya. Jujur saja, Kyuhyun sedikit mencemaskan gadis itu.
Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. Ia berhenti sejenak. Manik tajamnya menatap telepon di mejanya. Haruskah ia melakukannya? Menanyakan tentang Sungmin kepada Eunhyuk? Setelah cukup lama berpikir akhirnya dengan ragu Kyuhyun menekan tombol satu yang menghubungkannya dengan telepon di meja Eunhyuk.
"Eunhyuk-ah," Kyuhyunberucap ragu ketika Eunhyuk menerima panggilannya. "Apakah…Lee Sungmin menitipkan bekal padamu?"
"Aniyo, Sajangnim. Sungmin-ssi tidak menitipkan bekal kepada saya. Sungmin-ssi bahkan sudah tidak datang ke kantor sejak dua hari kemarin," Eunhyuk berujar formal dari seberang sana.
"Lalu…apakah dia menitipkan pesan padamu?" Kyuhyun berharap Eunhyuk akan mengatakan 'iya'.
"Aniyo. Sungmin-ssi juga tidak menitipkan pesan kepada saya."
Pupus sudah harapan Kyuhyun. Ternyata gadis itu juga tidak menitipkan pesan untuknya.
"Baiklah. Terima kasih, Hyuk," Kyuhyun memutuskan line telepon secara sepihak. Sebelum Eunhyuk sempat membalas ucapannya.
Kyuhyun mengusap wajahnya kasar. 'Sebenarnya ada apa denganmu, Lee Sungmin? Kenapa kau tiba-tiba menghilang tanpa pesan?' Kyuhyun membatin frustasi.
Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang hilang saat Sungmin tidak datang ke kantor dan apartemennya untuk mengantarkan makanan untuknya. Sebenarnya bukan karena itu. Ia merasa kehilangan ketika tidak melihat wajah cantik Sungmin yang selalu muncul dihadapannya.
18.50 PM
Sungmin menatap pantulan wajahnya di cermin. Gadis itu tampil sangat cantik dengan riasan natural di wajahnya. Sungmin mengubah rambut hitam lurus sepunggungnya menjadi coklat madu dan menatanya dengan sedikit aksen curly. Sungmin cukup puas dengan perubahannya saat ini. Gadis itu merubah penampilannya bukan tanpa alasan. Ia sudah memutuskan akan benar-benar melupakan Kyuhyun. Sungmin berharap ia bisa mengikis semua kenangan menyakitkannya bersama Kyuhyun dengan dirinya yang 'baru'.
"Minnie-ya," Leeteuk membuka pintu kamar Sungmin. Sungmin menoleh ke arah Leeteuk lalu memberikan senyum termanisnya.
Leeteuk menghampiri Sungmin dengan raut kagumnya. Ia begitu terkesima dengan penampilan baru putrinya. Sungmin tampak sederhana, cantik dan elegan pada saat yang bersamaan— dalam balutan strapless dress hitam sedikit di atas lutut dan ankle strap pump shoes berwarna senada.
"Ya Tuhan…kau cantik sekali, sayang," Leeteuk tidak bisa menahan untuk tidak memuji putrinya.
"Gomawo, eomma," Sungmin berucap tulus.
"Baiklah. Ayo kita berangkat, sayang. Appa sudah menunggu kita di basement. Kau tidak mau membuat keluarga tuan Choi menunggu, bukan?" Leeteuk mengerling, bermaksud menggoda putrinya. Malam ini tuan Choi mengundang Kangin untuk makan malam sekaligus membicarakan tentang rencana perjodohan itu.
Sungmin terkekeh kecil, "Geuraeyo, eomma."
Kangin, Leeteuk dan Sungmin tiba di sebuah restoran mewah di kawasan Apgujeong setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam dari apartemen Sungmin. Keluarga kecil itu melangkah beringingan menuju pintu masuk restoran mewah yang menyatu dengan bar itu. Kangin yang tampak gagah malam itu membimbing istri dan putri kesayangannya ke sebuah meja di dekat area bar yang sudah dipesan untuk enam orang.
"Apakah kami terlambat?" Kangin tersenyum menyapa tuan dan nyonya Choi yang sudah menunggu mereka di meja itu. Leeteuk tampak menyapa nyonya Choi yang sudah beberapa kali ditemuinya, diikuti Sungmin yang memberi salam kepada nyonya Choi.
Tuan dan nyonya Choi berdiri menyambut kedatangan Kangin. "Sama sekali tidak, tuan Lee," tuan Choi ikut melempar senyum kepada Kangin. "Silakan duduk," tuan Choi berucap ramah dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Jadi, ini yang bernama Lee Sungmin?" nyonya Choi membuka pembicaraan setelah mereka duduk bersama di meja itu. "Ya Tuhan…cantik sekali," ia berujar sumringah yang ditanggapi dengan tawa ringan dari tuan Choi serta Kangin dan Leeteuk.
Sungmin tersenyum malu mendapati pujian dari nyonya Choi. "Terima kasih, nyonya Choi. Anda terlalu memuji," Sungmin berucap sopan.
"Ya. Kurasa Siwon juga akan mengatakan hal yang sama jika bertemu dengan nona Lee," tuan Choi ikut membenarkan. "Sayang sekali anak itu datang terlambat. Seharusnya dia menunda pertemuannya dengan klien malam ini," ucapan tuan Choi seakan menjawab pertanyaan Kangin tentang keberadaan Choi Siwon— putra tuan Choi.
Suasana menghangat setelah makanan yang dipesan tuan Choi datang. Leeteuk dan nyonya Choi tampak bercengkrama dengan akrab, sementara Kangin dan tuan Choi berbincang mengenai bisnis. Sedangkan Sungmin? Tidak ada yang bisa dikerjakan oleh gadis itu. Sungmin akhirnya meminta ijin kepada empat orang paruh baya itu untuk pergi ke restroom.
Sungmin mematikan keran air setelah mencuci kedua tangannya yang sama sekali tidak kotor. Mata beningnya menatap lurus ke arah cermin yang memantulkan bayangan cantik dirinya.
'Ya Tuhan…apakah yang kulakukan sudah benar?' Sungmin menatap dalam bayangan dirinya di cermin. 'Kumohon yakinkan dan bantulah aku untuk menjalani semuanya.'
Desahan nafas berat terdengar mengalun dari bibir tipis Sungmin. Sudah cukup lama Sungmin berada di dalam restroom yang tampak lengang itu tanpa melakukan apapun. Hanya terdiam di depan wastafel seraya meyakinkan dirinya. Meyakinkan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar, dengan menerima perjodohan itu dan benar-benar akan menghapus Kyuhyun dari ingatannya. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari restroom.
Sungmin berjalan pelan sambil sedikit merapikan dress-nya yang agak kusut. Kepalanya tertunduk, tidak memperhatikan jalan dengan benar. Sampai akhirnya ketika berbelok di sebuah tikungan di lorong restroom, ia menabrak seseorang dengan cukup keras. Sungmin mungkin saja sudah terjatuh jika lengan kuat laki-laki yang ditabraknya tidak menahannya.
"Nona, anda baik-baik saja?" suara berat laki-laki itu menyapa pendengarannya namun Sungmin tidak merespon karena masih terkejut. Mata beningnya hanya mengerjap pelan memandang laki-laki yang tengah menahan berat tubuhnya.
"Nona?" sekali lagi laki-laki itu menyapanya. "Anda baik-baik saja?"
Suara laki-laki itu akhirnya memulihkan kesadarannya. Sungmin bergegas melepaskan tangan laki-laki itu dari pinggangnya. "Ah, ya. Maaf, saya tidak melihat jalan dengan benar," Sungmin membungkuk meminta maaf.
Laki-laki itu tersenyum, menampakkan lesung pipinya. "Tidak apa-apa. Saya permisi dulu," ucap laki-laki itu sebelum berlalu dan menghilang di balik restroom pria.
Sungmin kembali melangkah ke meja makan sambil tersenyum kecil. "Babo!" ia bergumam pelan. Sungmin malu mengingat sudah menabrak laki-laki tadi.
Sungmin sudah kembali duduk di meja dimana orang tuanya dan keluarga Choi berkumpul. Gadis itu lebih memilih duduk diam di tempatnya karena memang ia tidak terlalu mengerti tentang topik yang tengah dibicarakan oleh dua pasang orang tua itu. Sesekali mata beningnya bergerak menyapu sekeliling restoran mewah bergaya eropa itu.
"Maaf, apakah saya sangat terlambat?"
Suara berat itu berhasil menarik pandangan Sungmin yang tengah asyik menelisik sekeliling bar. Kedua pupil indahnya sedikit melebar saat menatap sang pemilik suara. Ia sedikit terkejut mendapati pria yang beberapa saat lalu tidak sengaja ditabraknya kini tengah berdiri tepat di hadapannya. Berbeda dengan Siwon— pemilik suara berat itu. Laki-laki itu justru tersenyum menatap Sungmin.
"Kami rasa tidak. Duduklah, kami justru sangat menunggumu," Kangin menyambut hangat kedatangan Siwon mewakili Leteeuk serta tuan dan nyonya Choi.
Siwon tersenyum lalu mendudukkan tubuhnya tepat di depan Sungmin. "Kita bertemu lagi, nona," sapanya kepada Sungmin kemudian dengan senyum merekahnya.
Sungmin tidak tahu harus menjawab apa. Gadis itu hanya mampu tersenyum kikuk, "Ne."
"Kalian sudah pernah bertemu?" Kangin cukup terkejut mendengar pembicaraan Siwon dan Sungmin, begitu juga Leeteuk serta tuan dan nyonya Choi.
"Ne. Kami tidak sengaja bertabrakan di restroom tadi," Siwon menjawab dengan gamblang dan juga jujur. Membuat pipi Sungmin sedikit memerah.
Tuan Choi tertawa ringan, tersenyum bahagia melihat Siwon dan Sungmin bisa dipertemukan. "Sepertinya ini awal yang baik untuk kalian," ucapnya. "Siwon-ah, kalau begitu perkenalkan dirimu kepada nona Lee."
Siwon menangguk lalu menatap Sungmin dengan senyum dan lesung pipinya. "Choi Siwon," ujarnya ramah.
"Lee Sungmin," Sungmin membalas senyum tulus Siwon.
Alunan musik klasik mengalun merdu memenuhi restoran mewah itu, membuat suasana semakin romantis. Seperti suasana yang terbangun di antara Sungmin dan Siwon. Keduanya tengah berdansa mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh live band di restoran itu.
Setelah acara makan malam usai, kedua orang tua mereka sedikit memaksa mereka untuk berdansa di lantai dansa yang terdapat di area bar— alih-alih untuk mengakrabkan Siwon dan Sungmin, sementara mereka membicarakan tentang perjodohan itu. Karena tidak bisa menolaknya, Siwon dan Sungmin akhirnya berdansa.
Siwon cukup piawai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama lagu. Ia membimbing Sungmin untuk mengikuti gerakannya. Ia merangkul pinggang ramping Sungmin erat dan Sungmin mengalungkan kedua lengannya di bahu Siwon. Keduanya berdansa seraya saling menatap satu sama lain sambil sesekali melempar senyum kecil.
"Mianhae, Siwon-ssi," Sungmin menunduk malu ketika ia kembali tidak sengaja menginjak kaki Siwon untuk kesekian kali. Ini pertama kalinya Sungmin berdansa dengan seorang pria, dan Siwon mengajarinya dengan cukup baik.
Siwon tersenyum menatap Sungmin yang tengah menunduk. "Gwaenchana. Kau sudah semakin mahir berdansa," ia justru memuji Sungmin.
"Bisakah kau memanggilku dengan sebutan oppa saja? Kita tidak perlu seformal ini, Minnie-ya," ucapan Siwon membuat Sungmin mendongak menatapnya. Siwon kembali tersenyum, membuat Sungmin ikut tersenyum.
"Geuraeyo…oppa," Sungmin sedikit malu memanggil Siwon denga sebutan itu. Siwon memang empat tahun lebih tua darinya. Keduanya kembali bertatapan dan kembali melanjutkan dansa mereka.
Senyum seolah tidak pernah lepas dari bibir Siwon, laki-laki itu kembali mengurai senyumnya. "Kau tidak keberatan menerima perjodohan ini?" tanyanya.
Sungmin kembali menunduk lalu menggeleng pelan. "Ani. Aku yakin appa selalu memberikan yang terbaik untukku," ia menjawab pelan.
'Aku memang tidak menolaknya, aku hanya sedang mencoba menjalaninya,' Sungmin membatin dalam hati— mencoba menghapus keraguan yang perlahan menyusup di hatinya.
Siwon pria yang baik, tampan dan berkharisma. Ia juga memiliki tubuh yang tegap, seperti Kyuhyun. Hanya saja Siwon lebih atletis dan lebih tinggi. Sosok pria sempurna yang menjadi idaman setiap wanita. Apalagi dengan sikap lembutnya. Jika Sungmin tidak terjerat oleh cinta Kyuhyun, mungkin saja ia akan langsung jatuh cinta kepadanya.
"Bagaimana dengan oppa?" ia kembali menegakkan kepalanya menatap Siwon.
"Hm, aku juga berpikiran sama sepertimu. Dan sepertinya aku akan juga akan menyesal jika menolak gadis secantik dirimu," Siwon terkekeh pelan.
"Oppa sedang mencoba merayuku?" Sungmin ikut terkekeh.
"Aniyo. Aku berkata yang sebenarnya. Kau memang sangat cantik, Minnie-ya. Hanya pria bodoh yang akan menolak dan menyia-nyiakan gadis secantik dirimu."
Tawa Sungmin pudar seketika. Ucapan Siwon seolah mengejeknya, membuatnya tersenyum miris. Kalimat Siwon mengingatkannya kepada Kyuhyun yang telah menolaknya bahkan menyakitinya, dan itu membuat dadanya kembali sesak.
'Berarti selama ini aku jauh lebih bodoh karena telah mencintai pria bodoh seperti Kyuhyun,' ia membatin miris.
"Minnie-ya," Siwon mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipi Sungmin ketika mendapati gadis itu melamun.
"Ne?" Sungmin sedikit terkesiap.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" Siwon merasa tak enak hati kepada Sungmin.
Sungmin tersenyum tipis lalu menggeleng. "Aniyo."
"Syukurlah," Siwon berucap lega. Sungmin kembali tersenyum lalu menatap Siwon. Ia tidak mau merusak suasana hangat yang sudah terbangun di antara mereka. Jadi, ia lebih memilih untuk melumpuhkan pikirannya tentang Kyuhyun dan kembali berdansa dengan Siwon.
Dua minggu sudah berlalu sejak pertemuan dengan keluarga Choi. Sungmin dan Siwon menjadi lebih dekat. Sudah beberapa hari ini Siwon rajin menemui Sungmin di apartemennya. Kangin maupun Leeteuk tidak keberatan dengan kunjungan Siwon ke apartemen putrinya. Mereka justru senang melihat kedekatan mereka. Siwon pria yang sangat baik, itu sebabnya mereka mempercayainya.
"Sayang," Kangin ditemani Leeteuk menghampiri Sungmin yang baru saja menutup pintu. Gadis itu baru saja mengantar Siwon sampai ke basement apartemennya. Siwon kembali berkunjung malam ini setelah menjemput Sungmin di kantornya. Sudah beberapa hari ini Siwon mengantar-jemput Sungmin ke kantornya.
"Ne, appa?" Sungmin tersenyum menatap Kangin.
"Bisakah kita berbicara sebentar? Ada yang ingin appa dan eomma sampaikan padamu," tanyanya.
Sungmin memandang Kangin dan Leeteuk bergantian, lalu mengangguk pelan. "Keuromyeon."
Sungmin duduk di apit oleh Kangin dan Leetuk di sofa ruang tamu. Kangin menatap Leeteuk sejenak, kemudian beralih menatap putrinya.
"Appa, wae geurae?" Sungmin bertanya sedikit penasaran. Ia menebak-nebak apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tuanya.
Kangin tersenyum sekilas lalu mengelus rambut Sungmin sayang. "Kami sudah memutuskan untuk menetap di Seoul," ucapnya.
Mata Sungmin membola. Ia terkejut mendengar orang tuanya akan menetap di Seoul. "Jeongmalyo?" ujarnya tak percaya.
"Ne," Kangin mengangguk. "Appa dan eomma sudah membeli sebuah mansion di Apgujeong. Lusa kita akan pindah ke sana, dan kau harus ikut bersama kami."
Sungmin tidak tahu harus mengatakan apa. Ia sangat senang dan terkejut bersamaan. "Lalu…bagaimana dengan perusahaan appa di Jepang?"
"Kau tidak perlu mencemaskannya, sayang. Appa akan menyerahkannya kepada orang kepercayaan appa. Appa dan eomma berencana membuka cabang perusahaan di Seoul," terang Kangin.
"Kita akan tinggal bersama, sayang." Leeteuk merangkul pundak Sungmin. "Apa kau senang?"
"Ne," Sungmin sangat senang sampai rasanya ingin menangis. "Aku sangat senang bisa tinggal bersama appa dan eomma lagi. Gomawo, appa, eomma…" ia menatap kedua orang tuanya bergantian. Leeteuk mencium pipinya dan memeluknya erat. Sungmin tersenyum lalu menghambur memeluk Leeteuk. Menjatuhkan kepalanya di dada hangat ibunya.
Kangin tersenyum haru melihat interaksi Sungmin dan Leeteuk. Ia sangat bahagia melihat putrinya kembali tersenyum. Setelah cukup lama terdiam, ia kembali membelai kepala Sungmin dalam dekapan istrinya. Ada satu hal lagi yang harus ia sampaikan kepada putri cantiknya.
"Sayang," panggilnya kepada Sungmin. "Ada satu hal lagi yang akan kami sampaikan kepadamu." Sungmin menoleh lalu bangkit dari dekapan Leeteuk.
Kangin menghela nafas sejenak sebelum berucap. "Appa, eomma dan keluarga Choi sudah membicarakan hal ini secara matang. Kami juga sudah melihat bagaimana kedekatan kalian."
Dahi Sungmin sedikit mengerut mendengar nada serius dari ucapan ayahnya, terlebih Kangin menggantungkan ucapannya. 'Ada apa?' batinnya bingung.
"Kami sudah sepakat untuk menggelar acara pertunangan kalian. Dua minggu lagi," Kangin akhirnya menyelesaikan ucapannya.
"Ne?" Sungmin benar-benar terkejut mendengar ucapan Kangin. Ia tahu acara pertunangan itu akan dilakasanakan setelah ia dan Siwon menyetujui acara perjodohan itu. Tapi kenapa secepat ini?
"Appa, apa ini tidak terlalu cepat?" Sungmin bertanya masih dalam keterkejutannya.
"Awalnya kami juga berpikir itu terlalu cepat. Tapi kami sudah mempertimbangkan dengan matang dan menyiapkan semuanya. Kami rasa akan lebih baik jika kalian segera bertunangan," ucap Kangin.
"Semuanya akan baik-baik saja, sayang," Leeteuk mencoba menenangkan putrinya. "Siwon pria yang baik, bukan?"
"Ne," Sungmin mengangguk pelan.
Gadis itu berpikir sejenak. Siwon memperlakukannya dengan sangat baik. Laki-laki itu selalu membuatnya merasa nyaman saat sedang bersamanya. Siwon juga perlahan membuatnya bisa melupakan Kyuhyun, namun belum sepenuhnya ia bisa melupakan Kyuhyun. Bagaimana pun juga, Kyuhyun adalah cinta pertamanya. Meski laki-laki itu sudah melukainya begitu dalam. Kyuhyun benar-benar sudah membuatnya jatuh terperosok dalam cinta satu sisinya kepada laki-laki angkuh yang menawan itu.
"Baiklah. Aku tidak keberatan, appa," ucap Sungmin kemudian. Tidak ada salahnya jika pertunangan itu dilaksanakan secepat ini. Ia selalu percaya jika Kangin akan memberikan yang terbaik untuknya.
I think I love you
But it must be so, cause I miss you
Without you
I cannot do anything
And you are always on my mind
So seeing this, it must be,
I was unaware
But now I can see that
Your presence have delved deeply into my heart
Pukul delapan malam. Apartemen Kyuhyun tampak gelap karena hanya lampu hias dengan cahaya redup di ruang tamu yang menyala. Kyuhyun membiarkan tenggorokannya terbakar oleh cairan kekuningan dengan alkohol berkadar tinggi di tangannya. Entah sudah gelas yang keberapa, yang jelas Kyuhyun terus mengisi gelas di tangannya dengan whiskey lalu menenggaknya sekali teguk.
Ia merasa benar-benar kacau akhir-akhir ini. Bukan karena masalah pekerjaannya, melainkan karena Sungmin. Sudah terhitung tiga minggu sejak Sungmin meninggalkan bekal untuknya begitu saja di depan pintu ruang kerjanya. Dan gadis itu tidak pernah muncul lagi.
Sungmin terus menghantui pikirannya, membuatnya tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Senyuman manis gadis itu, tangis gadis itu serta wajah tidur gadis itu yang seperti malaikat membuatnya gila. Kyuhyun benar-benar merasa ada sesuatu yang kosong ketika gadis itu mendadak sirna dari pandangannya.
Kyuhyun memandangi tas bekal Sungmin yang berisi kotak makan kosong di dalamnya yang tersimpan rapi di atas meja. Ia meletakkan gelas yang sudah kesekian kali kosong itu ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Ada apa denganku? Kenapa aku seperti ini?" gumamnya frustasi. "Aku…tidak mungkin merindukan Lee Sungmin, 'kan?"
Kyuhyun tidak mengerti kenapa ia seperti ini. Ia seperti pernah merasakan hal seperti ini ketika ia jatuh cinta kepada Ryeowook. Namun perasaan rindunya kepada Ryeowook dulu berbeda dengan perasaannya sekarang. Kyuhyun tidak pernah merasakan yang perasaan rindu yang membuatnya hampir gila seperti ini, hingga membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
Sekarang Kyuhyun tidak memungkiri bahwa itu adalah sebuah perasaan rindu. Sungmin benar-benar telah menyandera pikirannya. Ia bahkan hampir tidak bisa memikirkan hal lain selain gadis itu. Bahkan memikirkan tentang Ryeowook sekalipun. Kyuhyun merasa kehadiran Sungmin selama ini telah merasuk ke dalam hatinya. Sepertinya kebaikan dan ketulusan gadis itu sudah meluluhkan hatinya yang sekeras batu. Dan ada satu hal lain yang kini mengusik pikiran Kyuhyun.
Apakah ia mulai mencintai Sungmin?
"Aku pasti sudah gila," ujarnya kembali berujar frustasi. Memikirkan hal itu membuat Kyuhyun semakin gila. Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk memejamkan kedua matanya dengan sebelah lengan yang bertumpu pada kedua matanya. Berharap ia bisa mengusir banyangin Sungmin yang terus memenuhi kepalanya.
Sungmin segera keluar dari kamar mandi begitu mendengar suara ponselnya berbunyi. Gadis itu baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Ia melangkah ke sisi ranjang dan meraih ponsel yang terus berdering itu.
Bibirnya tersenyum tipis melihat nama pemanggil yang menghiasi layar ponselnya. Jemari lentiknya bergerak menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.
"Ne, oppa," ucapnya begitu telepon itu terhubung.
"Kau belum tidur? Maaf jika mengganggumu selarut ini," suara Siwon terdengar menyesal dari ujung sana.
Sungmin melirik jam digital di atas nakas. Pukul sebelas malam. Ia bergerak duduk di tepi ranjang. "Ne. Gwaenchanayo. Wae geurae, oppa?"
Terdengar suara tarikan nafas dari ujung sana. "Minnie-ya…tentang rencana pertunangan kita. Apa kau sudah mendengarnya?"
"Ne. Appa sudah mengatakannya."
"Oh." Siwon terdiam sejenak. "Bagaimana menurutmu? Apa kau keberatan?"
Sungmin ikut terdiam sejenak, mencoba meyakinkan dirinya. "Kurasa itu tidak masalah, oppa. Cepat atau lambat kita memang akan melakukannya. Jadi…aku tidak keberatan."
"Jeongmal?"
"Ne," Sungmin menjawab cepat.
"Gomawo, Minnie-ya," suara Siwon terdengar senang dari ujung sana. Sungmin yakin pria itu sedang tersenyum sekarang.
"Ne," kedua sudut bibir Sungmin ikut tertarik membentuk senyuman mendengar suara Siwon.
"Mmm…baiklah. Selamat malam."
"Selamat malam, oppa." Sungmin menjawab sebelum Siwon menutup teleponnya.
Senyuman Sungmin pudar setelah Siwon mengakhiri teleponnya. Gadis itu mendesah berat. Ia merasa sedikit bersalah kepada Siwon. Meski bibirnya mengatakan tidak keberatan dengan pertunangan itu, namun hatinya masih bimbang. Ia hanya sedang mencoba menjalaninya.
'Mianhae, oppa. Aku akan mencoba belajar untuk menerimamu, dan…mencintaimu.'
Seminggu kemudian…
Guangzhou, China, 07.30 AM
"Nyonya," Hong ahjumma menghampiri Heechul yang tengah meminum teh hijaunya. Wanita itu baru saja menyelesaikan sarapannya.
Heechul meletakkan cangkir teh yang baru saja diminumnya ke atas meja. Ia menoleh ke arah Hong ahjumma yang sudah berdiri di sisi kanannya.
"Ada apa, ahjumma?" tanyanya.
"Ada telepon untuk nyonya," ucapnya menyerahkan telepon rumah kepada Heechul.
Heechul tersenyum menerima telepon itu. "Kamsahamnida, ahjumma." Hong ahjumma hanya tersenyum lalu membungkuk sopan sebelum berlalu dari hadapan Heechul.
"Yeoboseo," sapanya ramah.
"Heechul-ie, na-ya," ucap seorang pria dari ujung sana.
"Oh, Kangin-ah," ujarnya setelah dapat mengenali pemilik suara itu.
"Apa aku mengganggumu? Ada yang ingin kubicarakan denganmu," suara Kangin terdengar serius.
"Oh, aniya," Heechul berujar cepat. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
Kangin terdiam cukup lama, membuat Heechul sedikit penasaran. Kenapa sepertinya serius sekali?
"Aku dan juga Leeteuk-ie ingin meminta maaf kepadamu sebelumnya…"
"Ne? Kenapa harus minta maaf?" Heechul bertanya bingung sekaligus heran. Kenapa Kangin menjadi berbasa-basi seperti ini? Setahunya pria itu tidak terlalu suka berbasa-basi.
"Heechul-ie…kami ingin membatalkan rencana perjodohan Minnie dengan putramu."
Mata Heechul membesar mendengar ucapan Kangin, "Mwo?" ia benar-benar terkejut.
"Eonnie, bappa?"
Kibum mengalihkan pandangannya dari selembar undangan fashion show di tangannya ketika pintu ruangannya diketuk, dan seseorang masuk ke ruangannya. Ia tersenyum melihat Sungmin yang kini tengah berjalan ke arahnya.
"Aniyo," ucapnya menggeleng. Ia meletakkan undangan yang tadi dipegangnya ke atas meja lalu menatap Sungmin yang telah duduk di depannya. Wajah gadis itu tampak lebih berseri akhir-akhir ini.
"Wae?" tanyanya kemudian. "Apa aku melewatkan sesuatu? Belakangan ini kau tampak lebih baik, Minnie-ya."
Sungmin tersenyum malu, "Jinjjayo?"
Kibum terkekeh kecil, "Ne. Apa ini karena calon tunanganmu?"
"Aniyo. Tidak seperti itu, eonnie," Sungmin menggeleng malu dengan pipi memerah. Sekali lagi Kibum terkekeh melihat tingkah malu-malu gadis itu.
Sehari sebelum Sungmin bertemu dengan Siwon dan keluarganya, gadis itu menceritakan jika ia sudah menyerah terhadap Kyuhyun. Ia akan memberikan kesempatan kepada pria pilihan ayahnya dengan menerima rencana perjodohan dan pertunangan itu. Dan Kibum sangat bersyukur karena pria itu mampu mengembalikan senyuman dan wajah cerita Sungmin.
"Igeo, eonnie," Sungmin menyodorkan sebuah undangan berwarna peach ke hadapan Kibum. Kibum meraih undangan itu lalu membaca sampulnya sekilas.
"Kau akan bertunangan?" ujar Kibum terkejut sekaligus senang.
Sekali lagi Sungmin mengangguk malu. "Ne."
Kibum membuka undangan itu dan membacanya isinya sekilas, tepat pada tanggal pertunangan itu dilaksanakan.
"Tanggal tujuh Oktober? Tiga hari lagi?" Kali ini Kibum benar-benar terkejut.
"Ne. Apa eonnie bisa datang?" tanya Sungmin.
Kibum mendesah pelan. "Mianhae. Aku tidak bisa datang, Minnie-ya. Aku harus berangkat ke Paris untuk menghadiri sebuah undangan fashion show," ucapnya penuh sesal.
"Gwaenchana, eonnie. Lagipula undangan itu lebih penting," Sungmin menggenggam sebelah tangan Kibum yang bebas di atas meja seraya tersenyum. Mencoba meyakinkan Kibum bahwa ia baik-baik saja.
"Mianhada, Minnie-ya," sekali lagi Kibum meminta maaf dengan nada sedih dan penuh sesal.
Sungmin tersenyum, "Ne. Eonnie tidak perlu meminta maaf seperti ini."
Kibum tersenyum lalu berbalik menggenggam tangan Sungmin. "Selamat, Minnie-ya. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu," ucapnya tulus.
"Gomapda, eonnie," Sungmin ikut berucap tulus.
"Hm," Kibum mengangguk. "Tapi kau harus memperkenalkannya padaku, Minnie-ya. Kau tahu, aku sangat penasaran seperti apa pria yang bisa membuatmu tersenyum seperti ini," ujarnya sedikit menggoda.
Sungmin tertawa kecil, "Geuraeyo. Aku akan memperkenalkannya kepada eonnie."
"Joha! Aku aku akan menagihnya setelah kembali dari Paris," Kibum ikut terkekeh.
"Arasseo," jawab Sungmin masih dengan tawa kecilnya. "Sepertinya aku harus melanjutkan pekerjaanku. Aku permisi, eonnie," ucapnya berpamitan setelah tawanya mereda.
"Ne," ucapnya sebelum Sungmin berlalu dari ruangannya.
Kibum menatap Sungmin hingga gadis itu menutup pintu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah undangan pertunangan Sungmin di tangannya. Kibum membuka undangan dengan desain cantik itu, kemudian membaca isinya. Kali ini Kibum membaca keseluruhan isinya, tidak seperti tadi.
Kedua manik Kibum yang semula bergerak membaca satu persatu kata yang tertera di undangan itu tiba-tiba berhenti bergerak ketika membaca sebuah nama yang tercantum di sana. Ia merasa tidak asing dengan nama itu.
'Choi Siwon?' batinnya.
Nama itu benar-benar mirip dengan nama pria yang dikenalnya. Pria itu bahkan dulu sangat dekat dengannya.
'Mungkinkah?' batinnya kembali bertanya.
Tidak. Kibum menggelengkan kepalanya pelan. Mungkin saja hanya namanya saja yang mirip dengan nama calon tunangan Sungmin. Bukankah di Korea bahkan di seluruh dunia ada beberapa nama yang sama dengan marga yang sama pula? Kibum kemudian cepat-cepat menepis pemikirannya tentang calon tunangan Sungmin.
BRAAAKKK!
Kyuhyun yang tengah memegang dokumen terkejut hingga dokumen itu jatuh ke lantai ketika seseorang dengan kasar membuka dan menutup pintu ruangannya. Ia berniat memarahi seseorang yang sudah tidak sopan masuk ke ruangannya tanpa permisi, namun urung ketika ia melihat wajah ibunya.
"Eomma! Seharusnya eomma mengetuk pintu terlebih dulu. Eomma benar-benar membuatku terkejut," ucapnya kepada Heechul.
"Kapan eomma kembali dari China?" tanyanya kemudian.
Heechul tidak menggubris ucapan maupun pertanyaan Kyuhyun. Wanita paruh baya itu justru melangkah menghampiri Kyuhyun dengan wajah merah menahan amarah. Membuat Kyuhyun mengernyit bingung karenanya.
"Apa kau puas sekarang?!" Heechul melempar sebuah undangan ke atas meja Kyuhyun. Ia sudah tidak mampu menahan amarahnya lagi. Wanita itu meledak dan akhirnya berteriak marah bercampur kesal kepada Kyuhyun.
"Apa maksud eomma?" Kyuhyun bertanya tak mengerti. Ia benar-benar tak mengerti kenapa ibunya tiba-tiba pulang, datang ke kantornya dan berteriak marah kepadanya.
Heechul mengatur nafasnya yang cukup tersengal setelah berteriak tadi. "Kau bertanya apa maksud eomma?!" Sekali lagi ia berteriak, namun tidak sekeras tadi. "Kupikir undangan itu cukup untuk menjawabnya, Cho!"
Kyuhyun akhirnya menatap ke arah undangan yang tadi dilemparkan oleh Heechul. Ia meraih undangan itu kemudian membaca isinya. Kedua obsidiannya melebar setelah membaca apa isi undangan itu.
"Apa? Lee Sungmin akan bertunangan?!" Kyuhyun tanpa sadar berteriak tak percaya.
"Ne. Minnie akan bertunangan dengan orang lain. Apa kau puas sekarang?!" Heechul berujar penuh penekanan. Seolah menegaskan jika Kyuhyun akan benar-benar kehilangan Sungmin setelah ini.
Kyuhyun tidak mampu berkata-kata. Ia terlalu terkejut menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa Lee Sungmin akan bertunangan dengan pria lain.
"Eomma benar-benar kecewa padamu, Kyu," Heechul yang semula menatap Kyuhyun penuh amarah kini menatap putranya dengan tatapan terluka. "Eomma begitu menyayangimu, tapi kenapa kau melakukan semua ini?" suara Heechul kian melemah di ujung kalimatnya.
"Eomma…" Kyuhyun tertegun melihat wajah Heechul kini dipenuhi oleh bulir air mata. Ibunya menangis. Kyuhyun bahkan hampir tidak pernah melihat Heechul menangis. Terakhir kali saat Hangeng— ayahnya meninggal.
"Eomma sangat menyayangi Sungmin. Eomma bahkan sudah menganggap Sungmin seperti anak eomma sendiri. Sungmin begitu tulus mencintaimu, kenapa kau tega menyakitinya?" Heechul berteriak lirih dalam tangisnya.
"Eomma benar-benar ingin Sungmin menjadi istrimu kelak, Kyu. Dia benar-benar sosok istri yang sempurna untukmu. Tapi sepertinya sekarang itu sudah tidak mungkin lagi," Heechul menyeka air matanya.
"Jika saja kau mau membuka hatimu dan mencoba mencintai Sungmin, mungkin saja kau yang akan bertunangan dengan Sungmin. Bukan pria itu. Karena eomma dan kedua orang tua Sungmin sudah berencana akan menjodohkanmu dengan Sungmin," Heechul menjeda ucapannya.
"Tapi saat ayah Sungmin mengetahui jika kau sudah menyakiti putrinya, mereka membatalkan rencana perjodohan itu. Dan sekarang kau lihat, Sungmin akan ditunangkan dengan pria lain," Heechul mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum miris.
Kyuhyun benar-benar terpaku, diam tak bergerak setelah mendengar penjelasan Heechul. Lidahnya bahkan terasa beku untuk digerakkan. Seluruh syaraf dan persendiannya juga terasa ikut membeku. Hanya jantungnya yang berdetak cepat, seolah akan melompat dari tempatnya. Namun itu justru membuat dadanya terasa sakit. Seperti disayat oleh sebilah pisau tepat di hatinya.
"Eomma harap kau tidak akan pernah menyesal karena telah menyia-nyiakan gadis sebaik Sungmin yang sudah begitu tulus mencintaimu," Heechul berujar lirih. "Dan eomma harap besok kau menghadiri undangan pertunangan itu. Tunjukkan bahwa kau benar-benar tidak menyesal karena telah membuat Sungmin menyerah untuk mencintaimu," ucapnya sebelum berlalu keluar dari ruangan Kyuhyun.
Kyuhyun benar-benar merasa hancur setelah Heechul meninggalkan ruangannya. Undangan yang sedari tadi berada di genggamannya terjatuh begitu saja. Kyuhyun merasa ia tidak mampu menghirup udara, rasanya benar-benar sesak. Ini bahkan jauh lebih menyesakkan daripada saat ia mendengar berita kematian Ryeowook dulu.
"Lee Sungmin…ini semua tidak benar, 'kan? Kau tidak mungkin akan bertunangan dengan pria lain, 'kan?" Kyuhyun berujar lirih dengan dada yang bergerumuh sesak.
"Katakan bahwa ini hanya sebuah gurauan, Lee Sungmin! Katakan!" ia berteriak. Sebulir air mata mengalir dari sudut matanya. Dadanya terlampau sesak sehingga membuatnya mengeluarkan air mata.
"AAARRGGHH!"
Teriakan keras Kyuhyun terdengar bersamaan dengan bunyi terlemparnya undangan pertunangan Sungmin. Kyuhyun melempar dan membanting undangan itu hingga undangan itu jatuh membentur pintu ruangannya.
Kyuhyun mencengkeram kedua sisi kepalanya kuat dan menghempaskan tubuhnya ke punggung kursi, dengan bulir yang terus berjatuhan dari sudut matanya.
Hari pertunangan Sungmin akhirnya tiba. Sungmin tampak sangat cantik dengan sleeveless long formal dress berwarna putih yang melekat indah di tubuhnya. Rambut coklat madunya dibirakan terurai ke samping, dengan sebuah tiara kecil menghiasi sisi satunya. Sepasang anting mutiara yang terpasang di kedua telinganya semakin mempercantik penampilannya.
Berbanding terbalik dengan penampilannya yang sempurna, hatinya justru tampak kacau. Entah sudah terhitung berapa kali Sungmin berdiri dari duduknya kemudian berjalan mondar mandir di depan sisi ranjangnya. Tangannya meremas-meras kecil kedua sisi gaunnya.
Sungmin sudah membulatkan niatnya untuk bertunangan dengan Siwon, mecoba belajar untuk menerima dan mencintai pria itu— seperti Siwon yang sudah menerimanya— dan melupakan Kyuhyun. Namun kenyataannya itu benar-benar sangat sulit. Hati Sungmin tetap saja berpihak kepada Kyuhyun. Lagi dan lagi. Dan itu membuatnya tersiksa.
"Kumohon…pergilah dari pikiranku. Aku tidak mau mengecewakan Siwon oppa…" Sungmin jatuh terduduk di atas ranjang dengan mata memerah. Kedua tangannya menutup kedua sisi telinganya. Dan akhirnya bulir bening yang sedari tadi ditahannya mengalir turun membasahi pipinya. Gadis itu terisak kecil.
"Sayang, kau sudah si—" ucapan Leeteuk terhenti saat ia mendengar isakan Sungmin. Wanita paruh baya dengan riasan formal yang cantik itu segera melangkah menghampiri putrinya.
"Minnie-ya, wae gurae?" Leeteuk duduk di samping Sungmin sembari menangkup kedua pipi basah putrinya. Bertanya dengan cemas.
"Eomma…" bukannya menjawab, Sungmin justru memeluk Leeteuk kuat.
Leeteuk mengusap punggung Sungmin kembut. "Sayang, ada apa?"
Sungmin menggeleng di pundak Leeteuk. "Aniyo, eomma. Aku hanya terlalu gugup saja," dustanya.
'Mianhaeyo, eomma,' Sungmin membatin sambil menangis. Ia terpaksa berbohong kepada ibunya.
Leeteuk tersenyum mendengar ucapan Sungmin. "Gwaenchana. Semua akan baik-baik saja, sayang," ucapnya seraya terus mengusap punggung Sungmin.
Sungmin mengangguk pelan, "Ne."
"Nah, sekarang kita rapikan riasamu," Leeteuk melepas pelukan Sungmin di tubuhnya. "Semuanya sudah menunggumu. Terutama Siwon," wanita itu sedikit menggoda putrinya.
"Ne. Jwesonghaeyo, eomma," Sungmin sedikit merasa bersalah.
Leeteuk tersenyum lalu melangkah mengambil peralatan make up di meja rias Sungmin.
"Dwaesseo," ucapnya. "Putri eomma tidak boleh menangis lagi. Aratji?" ia menyeka air mata Sungmin dengan tisu lalu menyapukan bedak untuk memperbaiki riasan Sungmin. Sungmin hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kyuhyun menatap kosong ke arah undangan Sungmin yang berada di tangannya. Ia merasakan berjuta sesak setiap kali ia menatap undangan itu.
Laki-laki itu menarik nafas panjang lalu meletakkan undangan itu ke atas meja, berharap rasa sesak itu akan perlahan meredam. Namun kenyataannya rasa sesak itu justru semakin menjadi.
Klik!
Ponsel Kyuhyun yang tersimpan di atas meja menyala. Ada sebuah pesan masuk. Kyuhyun sama sekali tidak ingin membuka pesan itu. Namun saat ia melihat nama ibunya menghiasi layar ponselnya, Kyuhyun meraih ponselnya dan membuka pesan itu.
Bibirnya tersenyum miris setelah membaca pesan itu. Heechul menyuruhnya untuk segera berangkat ke acara pertunangan Sungmin. Wanita itu sudah berangkat setengah jam yang lalu ke acara pertunangan Sungmin.
Kyuhyun melirik jam di layar ponselnya. Pukul tujuh malam lebih dua puluh lima menit. Lima menit lagi acara pertunangan Sungmin akan dilangsungkan di mansion baru keluarga Lee di kawasan Apgujeong. Kyuhyun benar-benar bertambah kacau mendapati hal ini.
"Eomma harap kau tidak akan pernah menyesal karena telah menyia-nyiakan gadis sebaik Sungmin yang sudah begitu tulus mencintaimu."
Ucapan Heechul tiba-tiba melayang dan berputar memenuhi pikirannya.
Tidak akan pernah menyesal…
Tidak akan pernah menyesal…
Tidak akan pernah menyesal…
Tidak akan pernah menyesal karena telah menyia-nyiakan gadis sebaik Sungmin yang sudah begitu tulus mencintaimu…
"AAARRGGHH!" Kyuhyun akhirnya berteriak kencang karena tidak kuat mendengar kata-kata ibunya yang terus berputar bagaikan kaset rusak. Dan itu begitu menyiksa batinnya.
"Geurae! Aku menyesal, eomma…sekarang aku benar-benar menyesal!" ia kembali berteriak dengan frustasi. Matanya tanpa sadar sudah mengeluarkan air mata.
Kyuhyun bergegas meraih ponsel dan kunci mobilnya di atas meja, lalu melangkah keluar dari apartemennya seperti orang kesetanan. Laki-laki itu bahkan menutup asal pintu apartemennya. Persetan dengan hal itu. Yang ia pedulikan sekarang hanya satu. Ia harus cepat sampai sebelum acara pertunangan itu di mulai, untuk melakukan satu hal tergila yang pernah dipikirkannya. Ia ingin mencegah pertunangan Sungmin. Ia benar-benar tidak rela jika Sungmin bertunangan dengan orang lain. Karena ia mencintai Sungmin. Ya, sekarang Kyuhyun mengakui jika ia mencintai Sungmin.
Ruang tamu mansion keluarga Lee telah dipenuhi oleh para tamu undangan. Sungmin turun dari kamarnya bersama Leeteuk. Sekarang ia benar-benar gugup melihat begitu banyak tamu undangan yang memenuhi ruang tamu, terlebih semua mata mereka tertuju padanya. Menatapnya dengan takjub. Tak terkecuali Siwon. Laki-laki itu bahkan nyaris tak berkedip.
Di antara para tamu undangan itu, ia melihat Heechul berdiri di tengah ruangan. Wanita itu tersenyum kepadanya, meski matanya memancarkan kesedihan.
"Ommonim…" ucapnya tanpa suara. Melihat Heechul berdiri di sana, membuat Sungmin ingin kembali menangis. Akan lebih baik jika wanita itu tidak datang, sehingga ia tidak akan merasa mengkhianati kepercayaan wanita yang sangat di sayanginya setelah kedua orang tuanya itu.
Sungmin kembali menatap ke sekeliling. Kedua manik beningnya bergerak mencari-cari seseorang. Seseorang yang sangat diharapkannya untuk tidak menghadiri acara pertunangannya. Kyuhyun. Gadis itu menghembuskan nafas lega setelah ia tidak mendapati Kyuhyun di manapun. Dengan demikian ia bisa memantapkan hatinya untuk bertunangan dengan Siwon. Tanpa ada bayang-bayang Kyuhyun yang akan menyiksanya.
Acara pertunangan Sungmin dan Siwon berjalan setengah jam yang lalu, dengan lancar. Dan sekarang saatnya acara inti dari pertunangan itu sendiri— acara tukar cincin.
Siwon meraih kotak cincin pertunangan mereka, lalu mengeluarkan cincin Sungmin dari dalam kotak beludru berwarna merah itu. Ia meraih tangan kiri Sungmin, lalu menyematkan cincin pertunangan mereka di jari manis Sungmin.
Mata Sungmin memanas ketika Siwon menyematkan cincin sederhana dengan hiasan permata kecil ditengahnya ke dalam jari manisnya. Artinya detik ini juga ia harus benar-benar membuang Kyuhyun dari pikirannya dan mengubur semua perasaan cintanya untuk laki-laki itu. Ia sudah terikat dengan Siwon. Ia tidak boleh menjadi gadis jahat dengan masih menyimpan rasa cinta itu untuk Kyuhyun dan memikirkan laki-laki itu. Mulai sekarang ia harus menerima Siwon dan belajar mencintai pria baik itu.
Siwon tersenyum lembut kepada Sungmin setelah cincin itu terpasang sempurna di jari manis gadis itu. Ia benar-benar bahagia karena sudah terikat dengan gadis yang sudah mulai dicintainya. Sungmin tidak mampu melakukan apa-apa lagi selain membalas senyuman Siwon dengan senyum terbaiknya, meski sedikit dipaksakan.
Sekarang giliran Sungmin. Dengan tangan bergetar, gadis itu meraih cincin milik Siwon. Perlahan ia meraih tangan kiri Siwon, lalu menyematkan cincin itu ke jari manis Siwon. Sungmin sempat beberapa kali gagal memasukkan cincin itu ke jari Siwon, namun akhirnya cincin itu sudah terpasang di jari manis pria itu. Para tamu undangan bertepuk tangan setelah acara tukar cincin itu selesai.
Siwon tersenyum bahagia menyambut tepuk tangan para tamu undangan, tapi tidak dengan Sungmin. Gadis itu justru menitikkan air matanya. Bukan karena terlalu bahagia atas pertunangannya, melainkan karena melihat seorang pria yang kini tengah menatapnya dengan terluka di ambang pintu ruang tamunya.
'Aku terlambat.'
Kyuhyun, pria yang berdiri di ambang pintu itu membatin perih. Hatinya terasa remuk menjadi kepingan-kepingan kecil. Ia datang bertepatan saat Sungmin sudah memasukkan cincin ke jari manis Siwon. Ia benar-benar terlambat. Terlambat untuk menyadari bahwa ia mencintai Sungmin dan juga terlambat untuk mencegah pertunangan itu. Sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa gadis yang telah disia-siakannya sudah terikat dengan pria lain. Dan hatinya semakin hancur ketika melihat Siwon mencium kening Sungmin dengan sayang dan memeluk gadis itu erat.
TBC
Terima kasih karena teman-teman masih mau mendukung fict ini. Terima kasih untuk review teman-teman, review teman-teman benar-benar memberikan semangat untuk saya. Dan selamat datang untuk para readers baru :) Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca bahkan me-review. Terima kasih juga untuk kritik dan masukannya, itu membuat saya berpikir untuk membuat tulisan yang lebih baik lagi.
Hmm, sebelumnya saya mau minta maaf dulu karena sudah membuat chapter yang sangaaaaatt panjang. Pasti pada bosen 'kan bacanya? Oke, saya tahu :( Chapter ini mengecewakan. Mianhae. Silahkan kalau teman-teman mau mengkritik chapter yang hancur ini. Tapi saya berharap teman-teman tidak kecewa dengan chapter ini. Dan untuk Passive Aggressive Love-nya maaf, belum ada waktu untuk melanjutkannya.
Sekali lagi terima kasih sudah mau membaca :) dan see you next month or maybe infinite months. Karena saya akan kembali hiatus, menyelesaikan kewajiban kuliah yang menuntut untuk cepat diselesaikan.
Special Thanks to:
sjkms137, sitara1083, Kang Dong Jae, IYou, Cho Sungkyu, Sera Lee, paprikapumpkin, 137Line, hyuniemin, Heldamagnae, keroro. r. kero, alitomondh, miss leeanna, tyrhyeee, abilhikmah, Chika sparkyu, YunJaeee Shipper, Kyurin Minnie, babychoi137, Guest, KyuMinHyuk1019, Puput Kyuminshipper, 143 is 137, imAlfera, thiafumings, younchanzai. dvjewelselfsuju, donghaeayu, chakm137, Maximumelf, ouhji, Guest, Imtwins, Guest, dessykyumin, L. s, KyuMing, mayasiwonest. everlastingfriends, Aey raa kms, icha. likepachulsaklawasenoother, chu, LittleMing137, dhinarizki, sry, via. elf. 1, KobayashiAde, camomile137, I am E. L. F and JOYer, cloudswan, cho. love. 94, Cho MeiHwa, kyumin1001, Cywelf, aprilbunny9, LiveLoveKyumin, kyumin, kyumin023, santyFishy, kyuwie, Guest, melee, Ria, ika budi, BluelfRose, PandaPandaTaoris, endah. kyumin137, kyukyu, Helda Cho, Arevi. are. vikink, Shallow Lin, leechoimnida, BluePink137, Kim Ae Rin, Shin, PaboGirl, jouley. peetz, rini. first, nanayukeroo, fuji, nurganevi, zyln, guest, 1004hoteuk, bunnykyu, JOYELPEU137, Lee Anta, airi. tokieda, nhia yemeo, adekgaemgyu, shippo. chan. 7, Lova9irl, Nayoung, Guest martia elfishyekyuminhyuk, Alunaa, AJoyers, Santiyani. febby, haegvrl, prfvckgyu, Violetta, Minhyunni1318, Tika137, ajolbada, reiasia95, dirachan824, fivah, hanifaaf, skjinie, teukiangle, MingKyuMingKyu, kyumin joyer ChoLee, JT, minoru, byun, kimteechul, KikyWP16
See you next chapter
Mind to review again? :)
