Disclaimer : Detektif Conan merupakan milik Aoyama Gosho.
Sisi Gelap
Akhir Mimpi Buruk
By Enji86
Di suatu tempat terdapat seorang wanita dan seorang laki-laki yang sedang bercakap-cakap. Lingkungan sekitar mereka diselimuti kegelapan seperti terpengaruh dengan kedua sosok tersebut.
"Bagaimana menurutmu, Vermouth?" tanya laki-laki tersebut.
"Kau sudah tahu kalau aku memihak Angel karena kita sudah merencanakan ini sejak lama" jawab Vermouth.
"Kau terlalu terbawa perasaan Vermouth. Aku tahu kau tidak suka pada Sherry" ucap laki-laki itu.
"Terserah apa katamu, Boss. Tapi menurutku Angel lebih sesuai. Angel akan selalu bisa menenangkan hatinya dan memberinya dukungan walaupun dia tidak tahu apa-apa. Angel akan selalu percaya dan setia padanya. Kau juga hidup bahagia dengan Queen. Keberadaan Queen memberimu keseimbangan dan menutupi aura gelapmu, begitu juga dengan Angel jika dia bersamanya. Sherry hanya kebetulan berada di sana. Dia seharusnya sudah dilenyapkan dari dulu karena berkhianat" ucap Vermouth.
"Kebetulan? Kau tahu Vermouth, kalau kau tidak mempertemukanku dengan Queen terlebih dulu sehingga aku jatuh cinta padanya, aku pikir aku akan menikah dengan Hell Angel" ucap Boss.
"Apa kau menyesal?" tanya Vermouth.
"Tidak. Aku bahagia bersama Queen. Tapi kau salah jika menurutmu Sherry tidak bisa melakukan apa yang kaupikir bisa Angel lakukan. Sherry akan mampu mendukungnya dengan caranya sendiri. Sherry tidak akan bisa menutupi aura gelapnya tapi malah akan menyerapnya. Kau akan melihatnya sendiri Vermouth" ucap Boss.
"Tapi mereka saling mencintai" ucap Vermouth.
"Cinta, huh? Mana yang lebih kuat, cinta yang kita rencanakan atau cinta yang direncanakan takdir?" tanya Boss.
"Apa maksudmu?" seru Vermouth.
Boss hanya tersenyum dan tidak menjawab.
XXX
Sesampainya di rumah, Shinichi langsung menuju kamarnya. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan apa yang terjadi antara Shiho dan Saguru sehingga dia sama sekali lupa dengan mimpi buruknya. Dia berbaring di kasurnya dan sibuk mengira-ngira apa yang terjadi dengan mereka berdua sampai akhirnya dia tertidur.
Mimpi buruknya datang lagi. Dia melihat dirinya membunuh orang-orang dengan wajah gembira. Kemudian dirinya yang dilihatnya membunuhi orang-orang itu menyeringai kepadanya dan dia merasa ada yang menyeretnya dalam kegelapan. Dia menggigil karena ketakutan dan kedinginan. Dia mulai berteriak-teriak minta tolong tapi tidak ada yang menjawabnya selain kegelapan.
Keesokan paginya Shinichi terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah. Keringat membasahi badan dan bajunya. Dia menunduk dan memegang dahinya dengan telapak tangannya. Beberapa saat kemudian dia menyadari dia tidak sendirian di kamarnya. Dia menoleh dan menemukan seseorang berdiri membelakanginya karena memandang keluar jendela.
"Kudo, maukah kau menemaniku ke pantai?" ucap orang itu.
Mata Shinichi membelalak karena terkejut dengan ucapan orang itu. "Miyano?" hanya itu yang bisa diucapkannya.
XXX
Shinichi dan Shiho naik bis menuju pantai dan baru tiba di pantai tersebut saat jam makan siang karena pantai tersebut memang sangat jauh. Setelah turun dari bis, mereka makan siang di satu-satunya warung yang ada di dekat pantai. Pantai itu memang sangat sepi sehingga warung-warung yang lain sudah tidak beroperasi lagi.
Setelah makan siang, mereka berdua berjalan di sepanjang pantai sambil bergandengan tangan. Setelah puas berjalan-jalan, mereka bermain air sambil tertawa-tawa. Kemudian mereka duduk menghadap ke arah laut menikmati pemandangan.
"Hei Miyano" ucap Shinichi.
"Hmm?" sahut Shiho.
"Kenapa tiba-tiba kau mengajakku ke pantai?" tanya Shinichi.
"Hanya ingin saja" jawab Shiho. "Hei Kudo, bagaimana kalau kita merencanakan masa depanmu" ucap Shiho.
"Kenapa begitu?" tanya Shinichi.
"Hanya ingin saja" jawab Shiho.
"Hei! Hei! Kenapa dari tadi alasannya cuma 'hanya ingin saja'? Apa sih yang terjadi antara kau dan Hakuba? Apa dia membuatmu patah hati?" tanya Shinichi.
"Pertama kau harus menyatakan cinta pada Mouri" ucap Shiho.
"Dia benar-benar seenaknya sendiri" gumam Shinichi.
"Bagaimana kalau akhir pekan ini? Katanya musim panas adalah musim cinta sehingga banyak pasangan baru muncul setelah liburan musim panas. Minggu depan sudah waktunya masuk sekolah" ucap Shiho.
"Ide bagus" ucap Shinichi cuek.
"Ayolah Kudo. Serius sedikit. Kau bisa membawanya ke restoran yang waktu itu" ucap Shiho.
"Ya, ya. Baiklah" ucap Shinichi. Dia merasa lebih baik dia ikuti saja kemauan Shiho.
"Setelah lulus SMA, kau bisa melanjutkan pendidikanmu ke universitas" ucap Shiho.
"Hmm. Kelihatannya bagus" ucap Shinichi.
"Lalu setelah lulus, kau akan bekerja kemudian menikah dan punya anak. Kau mau punya anak berapa?" ucap Shiho.
"Bagaimana kalau kita hentikan semua pembicaraan ini" ucap Shinichi.
"Hah? Sepuluh? Banyak juga ya" ucap Shiho.
"Kau tidak mau berhenti ya" ucap Shinichi kesal.
"Kemudian keluarga besar kalian akan hidup bahagia selama-lamanya seperti akhir kisah dongeng" ucap Shiho.
"Kalau begitu sekarang giliranmu" ucap Shinichi.
"Hei, sudah jam segini. Kita harus pulang sekarang agar tidak terlalu larut ketika sampai rumah" ucap Shiho kemudian berdiri namun Shinichi menariknya duduk kembali.
"Usaha yang bagus tapi aku tidak akan jatuh ke dalam trikmu. Pertama kita harus mencari seseorang yang cocok untukmu. Hmm" ucap Shinichi sambil mulai berpikir. Dia membayangkan beberapa orang tapi kemudian mencoret mereka dalam pikirannya sambil geleng-geleng kepala. Beberapa saat kemudian dia menyadari sesuatu. Dalam pikirannya tidak ada seorang pria pun yang cocok dengan Shiho atau lebih tepatnya dia tidak mau Shiho bersama pria lain. Hal ini membuatnya tertegun.
"Baru rencana pertama dan kau sudah kebingungan" ucap Shiho sinis sehingga membuyarkan semua lamunan Shinichi.
"Aku tidak kebingungan kok. Aku hanya..." ucap Shinichi.
"Lebih baik kita pulang" ucap Shiho.
Shinichi menghela nafas.
"Baiklah, kita pulang sekarang" ucap Shinichi menyerah.
Sejak naik bis, mereka berdua tidak saling bicara. Shiho yang duduk di dekat jendela selalu memandang keluar jendela sedangkan Shinichi yang duduk di sebelahnya memandang ke depan. Ketika hari sudah gelap, Shinichi menoleh dan menemukan Shiho tertidur dengan kepala tertunduk. Shinichi tersenyum melihatnya. Dia menyandarkan kepala Shiho ke bahunya dengan lembut agar Shiho tidak terbangun lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
XXX
Sesampainya di rumah, Shinichi merasa capek sekali. Meskipun begitu dia tetap berusaha untuk tidak tertidur. Namun akhirnya usahanya sia-sia. Dua jam kemudian dia sudah jatuh tertidur.
Mimpi buruknya datang lagi. Tapi kali ini ada yang berbeda dari biasanya. Bahkan bisa dibilang sangat jauh berbeda. Ketika Shinichi berada dalam kegelapan yang membuatnya kedinginan dan ketakutan, tiba-tiba ada yang memeluknya. Kedinginan dan ketakutan yang dirasakannya berubah menjadi kehangatan dan ketenangan. Dia tahu orang yang memeluknya tapi dia tidak bisa mengenalinya. Dia tidak bisa melihatnya karena semuanya gelap. Kemudian orang itu menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan menuju suatu titik cahaya yang baru bisa dilihatnya sekarang. Shinichi merasa dia sudah berjalan cukup lama sampai akhirnya sampai pada titik yang ternyata adalah sebuah celah yang bisa dilewatinya. Ketika melihat ke dalam celah tersebut, dia melihat taman bunga dan beberapa saat kemudian dia melihat Ran. Shinichi memanggilnya dan Ran datang menghampirinya. Setelah sampai di depannya, Ran mengulurkan tangannya dan Shinichi menyambut uluran tangannya. Begitu dia menggenggam tangan Ran, tangan yang menggandengnya di dalam kegelapan pelan tapi pasti mulai melepaskan diri dari genggamannya. Shinichi menjadi panik. Dia lebih takut tangan itu lepas dari genggamannya daripada selama berada di dalam kegelapan. Dia mulai berteriak-teriak.
Shinichi terbangun, lagi-lagi dengan nafas terengah-engah dan banjir keringat. Dia mulai mengira-ngira arti dari mimpinya barusan tapi tidak menemukan ide bagus.
"Aku harus menceritakannya pada seseorang atau aku akan jadi gila" gumam Shinichi.
Kemudian dia bangkit dari tempat tidurnya.
XXX
"Profesor, apa Miyano ada?" tanya Shinichi saat melihat profesor di ruang tamu. Kemudian dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. "Profesor, apa kau baik-baik saja?"
"Shiho sudah pergi" ucap profesor Agasa.
"Pergi? Apa maksudmu?" seru Shinichi.
"Beberapa hari yang lalu, ayahmu bilang padaku bahwa dia menawari Shiho tinggal di Amerika untuk melanjutkan pendidikannya dan Shiho setuju. Dan tadi malam, ayahmu menjemputnya dan mereka pergi. Aku sangat sedih Shiho pergi tapi ini adalah keinginannya" ucap profesor Agasa.
"Tidak mungkin. Dia tidak bilang padaku. Ayah juga tidak bilang apa-apa padaku. Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu" gumam Shinichi tidak percaya.
"Benarkah mereka tidak bilang padamu?" tanya profesor Agasa.
"Mereka tidak bilang apa-apa" jawab Shinichi. "Aku harus menelepon ayahku"
Shinichi bergegas keluar dari rumah profesor Agasa untuk kembali ke rumahnya tapi sebuah suara menghentikan langkahnya di depan pagar rumah profesor Agasa.
"Apa kau tahu apa yang ditawarkan Sherry sehingga Boss melepaskanmu?" tanya sebuah suara ketika Shinichi keluar dari pagar rumah profesor Agasa.
Shinichi menoleh dan menemukan Vermouth bersandar di dinding pagar rumah profesor Agasa.
"Vermouth? Bagaimana bisa... Kau kan sudah..." ucap Shinichi.
"Keabadian. Jadi dia tidak membutuhkanmu lagi sebagai penerusnya" ucap Vermouth.
"A-apa?" ucap Shinichi.
"Aku datang ke sini untuk menyampaikan pesan dari Sherry" ucap Vermouth sambil menyerahkan secarik kertas.
Shinichi mengambil kertas yang berisi tulisan tangan Shiho dan membaca isinya. "Kau punya Angel di sisimu. Kau akan baik-baik saja"
Selesai membaca, berbagai flashback muncul di kepalanya. Mimpi-mimpinya, ucapan-ucapan Shiho saat dia demam, setelah Shiho makan malam dengan Saguru, saat mereka berdua di pantai, semua puzzle sudah tersusun di tempatnya masing-masing.
"Jadi aku... dia... demi aku..." ucap Shinichi terbata-bata.
Shinichi kembali menatap Vermouth tapi Vermouth tidak menatap ke arahnya tapi pada sesuatu di balik punggungnya.
"Sepertinya Angel-mu sudah datang. Aku harus pergi" ucap Vermouth.
Shinichi menoleh dan melihat Ran berlari ke arahnya.
"Ran?" gumam Shinichi.
"Dan ini pesan dari Boss" ucap Vermouth menyodorkan secarik kertas lain. Shinichi menoleh kembali ke arah Vermouth dan mengambil kertas itu. Kemudian Vermouth bergegas pergi.
Shinichi membuka kertas yang berisi tulisan tangan ayahnya dan membaca isinya. "Apa kau akan lari dari takdirmu dan melepaskan Sherry?"
Selesai membaca, Shinichi sudah akan berlari mengejar Vermouth tapi Ran memeluknya dari belakang sehingga dia membeku di tempat.
"Shinichi! Jangan pergi. Miyano bilang padaku, kalau aku membiarkanmu pergi sekarang, kau tidak akan pernah kembali. Aku tidak mau itu terjadi. Jangan tinggalkan aku lagi, Shinichi. Aku... aku..." ucap Ran.
"Ran... Maaf... Tolong lepaskan aku" ucap Shinichi.
Ran terkejut mendengar nada ketegasan pada ucapan Shinichi. Dia refleks melepaskan pelukannya pada Shinichi.
"Shinichi..." ucap Ran.
"Aku... tidak bisa melepaskan tangannya" ucap Shinichi lalu dia berlari mengejar Vermouth.
Catatan penulis :
Menulis chapter terakhir ini merupakan yang paling sulit dari semuanya. Bahkan nulis epilognya lebih gampang daripada ini. Ke-OOC-an dan ke-gaje-an sangat mungkin terjadi. Yah, semoga para pembaca semua tidak kecewa. Jangan lupa komen ya!
