A/n: Hai. Update kilat! Sekarang saya masih ngantuk huhu...masih jam 8.40 pagi.


Flashback

Len x Miku

Vocaloid Yamaha © Crypton Future Media.

~ # Tunangan # ~


"OI! Bangun coeg!"Mikuo menyiramku dengan air hangat—Tapi panas.

"KYA! PANAS!"

"Rasain tuh. Cepet mandi sana! Kita mau pergi ke rumahnya Rin," kata Mikuo.

Aku menyeringai, "Cie. 'Kok bilang rumahnya Rin? Kenapa enggak bilang rumahnya Len?"

"Heh! Kamu juga kayak gitu, 'kan! Kamu juga bilang rumah Len. Idih, kena jebakan sendiri! Sebenarnya itu rumahnya keluarga Kagamine. Bukan rumahnya Len atau Rin!" jelas Mikuo. Bah, aku kena jebakan sendiri. Bener juga ya. Itu rumahnya keluarga Kagamine. Bukan rumahnya Len ataupun Rin.

Sudah mandi aku langsung makan. Yah, walaupun ada keseleknya sedikit, aku tetap dengan cepat. Sesudah makan, aku ke kamar sebentar.

Ketika aku melihat ke kamar Mikuo—aku mengintipnya. Dan woaaaahh...dia lagi berdandan. Pake lipstick, blush on, mascara—Tunggu?Masa' dia pake itu, sih?

"Woi! Masa kamu pake make up, sih? Mau jadi banci ya, mas? T-tunggu sebentar! Dari mana kamu dapet make up itu—ah pasti dari kamarku, ya 'kan?"

"Hah? Kalo kamu udah tahu, ngapain nanya lagi," ketusnya seraya masang lipstick.

Kamu enggak usah berdandan lagi deh. Wajahmu dan tingkah lakumu itu sudah mirip dengan banci, batinku sembari menggeleng-geleng sendiri.

/ time skip /

Akhirnya aku pergi menuju kediaman Len—kediaman Kagamine.

Mau tahu aku naik apa?

Pakai kaki! Aku memang enggak punya mobil. Mikuo yang punya—tapi dia lagi berdandan. Daripada aku menunggu lama, mendingan aku pergi terlebih dahulu dengan berjalan kaki.

Ketika di tengah jalan, aku melihat ada kucing dan anjing sedang berpacaran. Ketika di tengah lampu merah—lagi bewarna hijau—aku berjalan yang bukan di zebracross.

Kece?

Miku gituloh.

Ketika aku sedang berjalan memasuki lorong, tiba-tiba ada tiga orang preman yang datang tepat di depanku—lebih tepatnya, mereka menghalangi jalanku.

Aku langsung marah, "Menyingkir dari jalanku, brengsek!"

Mereka malah mendekatiku, "Oh, ternyata ada gadis cantik di sini. Apa yang kau lakukan di sini, cantik?" goda salah satu preman. Sepertinya dia adalah leadernya.

"Rei-san, apa yang akan kau lakukan pada gadis cantik dan ehem ehem ini?" tanya salah satu anak buahnya. Bos yang bernama Rei itu langsung melirik sinis ke arah anak buahnya yang bertanya tadi, "Apa maksud dari ehem ehem itu, Luki-kun?"

"Hah? Ehem ehem apaan, bos? Tadi aku sedang melamun," jawab lelaki yang bernama Luki itu.

"Bodoh!" ketus Rei seraya memukuli Luki. Aku hanya facepalm saja melihat mereka. Bodoh bilang bodoh. Sesama bodoh jangan saling kata.

Setelah mereka selesai berdebat, tatapan mereka langsung berpindah ke arahku.

"Hey, kok diem aja sih, cantik?" gombal satu cowok jelek yang lain.

"Pertama, terima kasih sudah memanggilku cantik..."

" ...Kedua, menyingkir dari jalanku sekarang. Aku sedang terburu-buru!" sambungku dengan suara yang ditekankan.

"Asik! Dia marah," Rei tertawa, diikuti dengan anak buahnya, "Tenang saja, cantik. Kami tidak akan melakukan hal yang bodoh—kami hanya akan bermain sedikit denganmu," sambung Rei dengan sok cool.

Mereka mendekat dan memojokkanku. Ah, kenapa ada pojokan, sih?

Setelah beberapa detik kemudian, tiba-tiba seseorang bersurai blonde yang diikat satu datang menyelamatkanku dari tiga orang preman ini.

Yap.

Ternyata itu Kagamine Len.

Len datang untuk menyelamatkanku. Jujur ya, aku sangat bangga memiliki kekasih seperti Len.

Len memukuli tiga preman itu sampai mati —ralat— sampai pingsan. Lalu ia menghampiriku, "Kamu ngapain ada di lorong yang kayak beginian? 'Kan kamu sendiri tahu kalo di sini berbahaya," suaranya menjadi rendah. Wajahnya yang terlihat marah sekaligus khawatir itu membuatku menjadi takut.

Tiba-tiba ia memelukku dengan erat. Ketakutanku menghilang begitu saja ketika ia memelukku. Tidak lama itu, aku menarik diri dari pelukannya lalu melihat ke arah Len—dia menghilang.

Bling...bling...bling...*

Net...not...nit...*

Suara klakson mobil itu membuat pikiranku menjadi kabur.

Yah, ternyata tadi cuma imajinasiku saja.

Setelah benar-benar sadar, aku langsung berlari menuju kediaman Kagamine.

Setelah sampai di depan kediaman Kagamine, aku tidak masuk ke dalamnya. Kalian ingat di chapter 8; aku tidak ingin datang ke sini? Tujuanku ke sini cuma untuk jalan-jalan, bukan untuk menyelesaikan tentang tunangan itu.

Mampus kalian. Kena tipu author.

Tapi tiba-tiba seseorang keluar dari kediaman Kagamine itu. Aku melihat orang itu—dia juga melihatku. Lalu orang itu langsung menghampiriku.

"Miku-chan! Ada apa ya Miku-chan datang ke sini?" tanya Rin kepadaku.

Haha, Rin. Kok kamu geer, sih? Sudah aku bilang, aku tidak mau datang ke kediaman Kagamine. Ngapain coba? Bahas masalah tunangan itu?

"Hah? Datang? Ke rumah ini? Apa kamu tidak salah, Rin?" tanyaku dengan nada sindiran.

Wajah Rin langsung sedih. Sepertinya dia merasa tersinggung dengan perkataanku tadi. "Yah, aku kira Miku-chan datang ke sini untuk menjenguk Len," jawabnya dengan nada yang begitu sedih.

Ah, aku jadi kasihan melihat keadaan Rin. Lalu aku mengelus rambut blondenya itu, "M-maaf, Rin. Aku tidak bermaksud untuk memarahimu. Tadi kamu bilang menjenguk Len. Emangnya Len kenapa?" tanyaku.

Yah, aku kira Miku-chan datang ke sini untuk menjenguk Len.

Menjenguk. Len.

Wajahku menjadi pucat. Dan Rin tidak menjawab pertanyaanku.

"Rin? Apa yang terjadi pada Len?" tanyaku seraya menggoncang tubuh Rin yang mungil. Tapi Rin masih saja menatap kakinya.

"Rin!" teriakku khawatir. Aku melihat ada tetesan air jatuh ke tanah. Rin menangis. Hal ini membuatku semakin khawatir.

"Rin! Jawab aku! Apa yang terjadi pada Len?" teriakku lagi. Aku merasakan bulir-bulir air mataku mengalir begitu saja ke daguku dan menetes ke tanah.

"K-kak Len..."


To be continue.


Haha. Kalian kesal?

Berhubung tbc, sebaiknya kita berdoa sebelum menunggu untuk chapter berikutnya.

Berdoa mulai...

...

Selesai. Nah, marilah kita mengheningkan cipta. Untuk mengenang jasa para pahlawan. Mengheningkan cipta, mulai...

Dengan seluruh angkasa raya memuji

Pahlawan negara

...

Dan sekarang, mari kita sambutkan, penampilan dari saya yang sangat fabulous ini

Mari kita scroll pelan-pelan untuk melihat penampilan dari saya.

.

.

.

.

.

Scroll lagi... Teruskan!

.

.

.

.

.

Anda hampir sampai

.

.

.

.

.

Aye!

.

.

.

.

.

.

Sedikit lagi...

.

.

.

.

Sudah ya. Sampai jumpa di chapter berikutnya.

Jangan lupa review.

.

.

.

.

.

.

Cie kena tipu.

Kalian kena tipu. Ini bukan ending dari chapter 9! Masih ada di bawah tuh.
Kalau yang merasa tidak kena tipu, saya ucapkan selamat :)


Back to the story.


"K-kak Len..."

"Len kenapa, Rin? Katakan." lama-lama aku menjadi kesal, "Kalau kamu tidak ingin memberitahu, aku akan membatalkan tunangan itu."

"Kak Len...jantungan."

Aku merasa seperti di tusuk oleh petir.

"Haha... Kamu bercanda 'kan, Rin?" aku tertawa tak jelas

"Suwer kok. Rin gak pernah bohong," memang dari penampilan Rin sih, sepertinya dia tidak pernah berbohong. Dia masih terlalu innocent.

"Rin, t-tolong antar aku ke Len."

"H-hai!"

Rin langsung mengeluarkan mobil bewarna putihnya itu lalu masuk ke dalam. Aku juga masuk dan duduk di kursi di samping Rin.

Aku sambil berdo'a untuk Len, Ya-Tuhan. Kenapa dia bisa jantungan gitu? Mudah-mudahan dia selamat.

Tujuanku sama Rin sekarang adalah ke RSJ—eh—RS doang.


Setelah sampai di parkiran rumah sakit, Rin dan aku langsung keluar dari mobil lalu menuju ke toilet (A/n: kok ke toilet, ya?). Rinpun bertanya dengan mbak-mbak penjaga toilet itu.

"Permisi, ruangan Kagamine Len d imana ya?" tanya Rin dengan wajah polosnya itu.

"Kagamine? LEN!? Oh, cowok terkenal itu. Ruangannya berada di nomor 002. Ngomong-ngomong, kalian siapa Kagamine-kun ya?" tanya mbak-mbak itu.

"Saya saudari kembarnya, sedangkan dia—menunjukku—pacarnya, mbak," jelas Rin. Mata mbak-mbak itu langsung membesar.

"Apakah nona bilang pacar? Kagamine-kun sudah punya pacar?" tanyanya sambil masang wajah sedih. Rin langsung mengangguk lalu bilang "permisi". Kemudian Rin langsung menarik lenganku seraya berjalan menuju ruangan Len.


Aku membuka pintu kamar Len. Aku melihat di sana ada Len, dan orang tuanya dan Rin. Mereka sedang menatapku dan Rin. Lennya sedang berbaring di kasur dengan beberapa infus di tangannya.

"M-maaf m-menggangu—" kata-kataku terpotong oleh Rin.

"Mama! Papa! Gimana kondisi Len sekarang?" tanya Rin ke orang tuanya dengan cemas.

"Syukurlah, kondisi Len-kun sekarang membaik. Miku-chan, kemari", jawab mamanya Rin sembari mengajakku masuk ke dalam dan bergabung bersama mereka. Aku melangkahkan kakiku menuju mereka.

"Miku-chan, tolong jagain Len-kun selama kami bertiga pergi, oke? Kami mau membeli makanan buat kita-kita," kali ini papa Rin yang bicara.

"H-hai!" aku membungkuk hormat. Mereka tersenyum lalu pergi meninggalkan ruangan ini. Sekarang cuma ada diriku sama Len. Aku duduk di kursi yang di samping tempat tidur Len.

Wajahnya menggemaskan.

Sementara itu, papa dan mamanya Rin dan juga sekaligus Rin-nya mengintip gerak-gerikku dari jendela.

Lama-kelamaan, aku menjadi mengantuk. Dan akhirnya aku tertidur sembati menaruh kepalaku di samping kepala Len.

Setelah beberapa lama, aku merasakan ada yang menggenggam tanganku. Mataku terbuka perlahan lalu melihat orang yang sedang menggenggam tanganku—Len.

"L-Len?"

"Miku."

Aku langsung duduk lalu melihat ke arah Len, "Len, syukurlah kamu—"

"Miku. Makasih banyak sudah datang."

Sial. Kenapa kata-kataku selalu dipotong?

"Yah, sama-sama. Yang terpenting, kamu sudah baikan—"

"Aku mau bilang sesuatu." baiklah. Dia memotong perkataanku lagi. Lalu aku menatap mata cerulean milik Len.

"Ngomong apa—"

"Apakah kau mau..."


To be continue.


A/n: chapter selanjutnya adalah chapter terakhir (well, saya juga belum pasti).