桜の花びら (Sakura no Hanabira)

Sae Kiyomi

[Rin.K, Len.K]

All Rin's POV

Warning: gaje, aneh, abal, typo, OOC, alur cepat, bad summary, dll

Disclaimer: Vocaloid bukan milik Sae, namun cerita ini punya Sae!

Memenuhi request dari Kiriko Alicia-senpai.

Aku melamun, menatap ke luar jendela. Hari ini sekolah libur, karena para guru sedang rapat. Besok masuk.

"Rin! Ibu panggil dari tadi, kamu kok bengong?" tegur Ibu.

"Benarkah?" kataku mengingat-ingat.

"Rin, kok muka kamu merah?" kata Ibu sambil menatapku khawatir.

"Enggak apa-apa kok."

"Jangan-jangan kamu sakit?"

"Enggak lah. Baru sembuh radang dingin, sekarang masa sakit lagi?" ucapku.

"Sumpah, Rin. Tubuhmu berkeringat," ucap Ibu sambil mengelus dahiku. "Tunggu ya."

Semenit aku menunggu, Ibu datang sambil membawa thermometer. Dipaksanya aku mengapit thermometer di ketiakku. Lima menit kemudian, Ibu mencabutnya kembali.

"38,9 derajat Celcius. Rin, kamu demam."

"Ap- tidak!" kataku menghindar.

"Kamu harus istirahat. Hari ini tidurlah. Ibu akan memasak untukmu."

"Ibu ngomong apa sih? Ibu masih sakit, kondisi badan Ibu masih lemah. Ibu aja yang tiduran, aku yang masak," kataku bangkit berdiri.

"Kamu susah sekali dibilangin, ya. Tidur."

"Ibu! Aku bisa sendiri," kataku kesal. Segera aku ke dapur, membuka lemari es mini. Setelah mengamati isi lemari itu, aku menutupnya lagi, dan mengambil payung.

"Mau ke mana, Rin?"

"Mau beli kentang sama wortel. Di depan rumah," kataku sambil memakai sepatuku.

"Rin! Nanti kamu sakit radang dingin lagi!" ucap Ibu. "Biar Ibu saja!"

Oke, sebelum aku emosi, aku menghiraukan kata-kata Ibu, dan pergi ke luar. "Aku pergi!"

"Rin-"

Aku langsung berlari sambil membawa payung ke mini market. Hujan angin, dingin. Namun, aku membawa payung, sehingga dapat menghadang hujan itu. Segera aku masuk mini market, dan mengambil wortel local dan kentang.

Usai membayar, hujanpun makin mendahsyat.

"Kazura?"

"Shion? Sedang apa kamu ke sini?" kataku melihatnya.

"Engg… beli tissue," katanya. Aku manggut-manggut.

Namun, mataku cepat sekali lelah. Ngantuk… capek…

"Ka-kazuraaa!"


Gelap. Seram. Berat. Di mana ini? Dingin. Tidak ada kehangatan. Ibu? Ibu di mana? Ah, ada cahaya kecil. Mungkin aku dapat mengintip dari lubang itu. Cahayanya makin membesar. Tunggu, semua terlalu cepat! Si-silau!

"KAZURA! Kamu sudah sadar!" kata sebuah suara. Aku membuka kelopak mataku.

"Shion?"

"Syukurlah, Rin!"

"Ibu?" kataku menoleh ke samping. "Ada apa?"

"Sakitmu makin parah, dan Shion membawamu ke sini," kata Ibu sambil membelai rambutku.

"Kazura sakit?" kata Shion kepada Ibu.

"Iya. Badannya demam. Kayaknya efek samping dari obat radang dinginnya. Sebentar juga sembuh," kata Ibu.

"Ibu…"

"Ya?"

"Ngantuk."

"Ya sudah, Rin tidur aja. Ibu buatkan makanan, ya?"

"Jangan…"

"Shion, temani Rin di sini, ya," kata Ibu tidak mendengarkan suara kecilku. Ibu meninggalkanku, dan pergi ke dapur.

Aku memejamkan mata, dan tertidur. Terasa kain dingin ada di atas dahiku. Tapi sudahlah. Ah, aku lupa bilang kepadamu, Shion. Terima kasih atas semuanya…

Saat aku tengah terlelap, terdengar sayup-sayup suara seseorang, dan membelai rambutku. Lembut… nyaman…

"Aku harus mengatakannya. Tapi, aku takut dia akan marah. Jika aku tidak mengatakannya, apa dia akan toleransi?"


Sekarang jam berapa, ya? Aku membuka mataku.

"Selamat pagi, ratu tidur," kata seseorang cekikikan.

"Ibu? Sekarang jam berapa?" ucapku. Aku mengambil kacamataku.

"Jam… lima sore," ucap Ibu melirik jam.

"Shion?"

"Kalau dia, tadi saat kamu tidur, pulang. Katanya ada urusan," kata Ibu.

"Aku lupa berterima kasih kepadanya," gumamku. Namun, Ibu menangkap perkataanku.

"Besok saja di sekolah, gimana?" kata Ibu tersenyum.

"Benar juga," ucapku pelan. Bagaimanapun juga, Shionlah yang sudah membantuku sejauh ini.

"Ah, tadi juga, Ayah… menelepon," kata Ibu pelan.

"Apa yang dikatakannya?" ucapku merangkak dari ranjang, mendekati Ibu.

"Dia tahu kondisimu dari Shion Len. Dan… dia sangat khawatir, cemas akan keadaanmu," ucap Ibu. Aku menyentuh lembut punggung tangan Ibu.

"Ibu, Ayah yang membiayai rumah sakit Ibu, juga aku. Ayah juga yang menemani Ibu operasi. Sejujurnya, dia orang baik. Selama ini… aku salah menilainya. Aku selalu menilainya menjadi orang yang buruk sikapnya, yang melalaikan kita. Namun, ternyata Beliau begitu baik hati, dan sabar," ucapku.

"Ya, dia orang baik," ucap Ibu tersenyum.

"Dan… hei! Ibu tahu tidak, kalau saat bertemu dengannya, ada perang di rumah sakit? Aku sibuk memaki-makinya, dan Ayahpun membalasku. Memang sikap orang tua menempel erat kepada anaknya, ya. Kami berdua sama-sama keras kepala, dan emosian," ucapku tertawa. "Aku senang kepada Ayah, dan mengakuinya sebagai 'Ayah'ku lagi. Yaaah… walaupun gara-gara dia, aku menjauhi semua laki-laki dari umurku sembilan sampai seumur ini. Yah, lima tahun itu makan waktu banyak," kataku bercerita. "Shion juga, orang pertama yang mau berteman denganku. penghuni kelasku yang lain, hanya lihat tampang. Mereka tidak mau bergaul dengan orang menjijikan seperti aku."

Ibu tersenyum, dan berkata dengan lembut. "Syukurlah."

"Apa?"

"Bukan apa-apa."


Hari ini Shion tidak masuk sekolah. Aku bingung karena akhir-akhir ini dia susah sekali ditemui. Namun saat pulang, aku melihatnya ada di depan rumah.

"Shion?" ucapku. "Kenapa kamu tidak sekolah? Ada apa ke rumahku?"

"Yo! Kazura," kata Shion. "Hari ini aku ada urusan. Aku hendak mengajakmu ke festival besok malam. Bagaimana?"

"Terserah."

"Jam enam malam, ya?"

"Terserah. Tapi kamu buat aku cemas, tahu!" omelku.

"Maaf, maaf," ucap Shion tertawa. "Dan… kenapa kamu masih pakai kacamata?"

"Aku belum terbiasa pakai lensa kontak," ucapku.

"Baiklah. Dan ini, oleh-oleh," kata Shion memberikan sebungkus makanan kepadaku.

"Apa ini?"

"Ini kerang, enak lho," kata Shion memamerkan sederet gigi putihnya.

"Ah, terima kasih," kataku tersenyum. Akhir-akhir ini, aku jadi mudah tersenyum dan mudah memaafkan.

"Baiklah, sampai jumpa, nanti, besok pagi!"

"Sampai jumpa," ucapku melambaikan tangan. Shion berlari pergi. Dasar…


Esoknya, Shion terlambat masuk. Ia masuk kelas saat jam pelajaran ke 3, dan pulang saat memasuki jam pelajaran ke 6. Aneh… kenapa akhir-akhir ini dia susah dijumpai?

Namun malamnya, aku bersiap-siap pergi ke festival, dengan memakai kaus dan celana panjang. Yaaah… kalian tahu sendiri kan masalah keuangan keluargaku? Jadi aku tidak punya yukata. Tapi toh tidak penting. Yang penting pakai baju. Tidak masalah jika tidak memiliki yukata, baju khas Jepang, yang harganya mahal banget itu.

Aku menunggu di teras rumah, menunggu Shion. Sudah lima puluh menit aku menunggu, dan aku kepanasan. Bagus, emosiku sudah sampai puncak.

"Kazura! Sorry, la-"

"Heh, Shion! Kamu pikir aku sudah nugguin kamu dari jam berapa!? Kamu yang menentukan waktunya, dan kamu yang terlambat! Aku pikir aku bisa mati kepanasan di sini nungguin kamu!" bentakku kesal.

"Sorry. Kamu enggak pakai baju pendek?"

"Ngapain," kataku melipat tangan di dada. Sepertinya aku akhir-akhir ini menjadi gadis yang keras kepala dan egois. Oke, selama ini aku egois dan egois, tapi aku tidak pernah egois kepada orang lain seperti saat ini. Ini… pertama kalinya.

"Tunggu, Kazura," kata Shion mengejarku. Aku tidak peduli, dan sudah sampai duluan di tempat itu. Aku menghentikan langkahku, dan melihat ke seluruh penjuru tempat itu.

"Lihat! Shion! Tempat ini bagus banget!" kataku gembira. Tiba-tiba, sesuatu seperti selimut menutup wajahku. "Eh?"

"Syukurlah," terdengar suara Shion. Aku menyingkirkan selimut itu dari wajahku.

"Hoodie-ku?"

"Syukurlah kamu ceria lagi," kata Shion tersenyum. Aku memalingkan wajahku yang memerah. Segera aku pakai hood putihku dan berjalan mendahuluinya.

Shion terdiam, menunduk. Aku menoleh. "Hei, kenapa kamu terdiam?"

"Kazura, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu. Aku sebenarnya ha-"

Suara kembang api mengagetkanku, membuat suara Shion tidak terdengar, sejak dia berkata "Kazura, ada yang…"

"Cantiknya!" kataku melihat kembang api itu. Agak seram sih, karena bunyinya beruntut. Tapi cantik, berwarna-warni. "Maafkan aku, Shion. Ada apa?" ucapku mengusap mataku.

"Tidak," kata Shion tersenyum. "Tidak apa-apa."

"Eh?" kataku. "Benar?"

"Iya," ucap Shion tersenyum sambil mengelus kepalaku. Mukaku memerah, malu.

"IIIHH!" ucapku malu. Kutarik ujung kepala hoodie milikku, menyembunyikan mukaku yang merah.

Shion tersenyum. "Maaf, tapi sekarang tanggal berapa, ya?"

"Hmm… 17 Mei," kataku mengingat-ingat. "Kenapa?"

"Tidak," ucap Shion tersenyum. Aku mengangkat bahu.

Terdengar samar-samar suara yang kecil sekali, sampai aku tidak bisa mendengarnya. "Empat hari lagi."

"Empat hari lagi? Ada apa?" ucapku bingung.

"Empat hari lagi kita lulus dari kelas 2 SMP ini, dan masuk ke kelas 3 SMP," ucap Shion menunduk sedih.

"Hei, kenapa sedih?"

"Habisnya nanti tidak bertemu dengan Kazura lagi," kata Shion. Aku tertawa.

"Baka. Nanti kan bakal bertemu lagi," ucapku tersenyum.

"… Ya."


To Be Continued


SaeSite

Sae: minna~! Senang bertemu dengan kalian lagi! Sae senang~~

Lemon: Sae-san, kenapa kamu senang banget?

Sae: Sae udah selesai ujiaaan! Dan mau masuk semester baru~!

Rinka: norak.

Miya: Sae-san, silakan lanjutkan fict yang lain. Nao, ambil cambuk.

Nao: baik.

Miya: Lemon, ambil tali. Mitsu-chan, bangunkan pria-pria pemalas itu. Ann, gembok kulkas.

Nori: kenapa kulkasnya digemboook!? TT_TT

Rinka: biar kamu enggak bolak-balik makan. Pokoknya yang boleh ngambil makanan, hanya Ann dan Mitsu-chan, karena mereka yang masak makanan.

Nori: NOOOOOO! TT3TT

Lemon: RnR?