"Dia Izumi." Profesor Sarutobi memanggil seorang perawat berambut panjang legam lurus untuk dipertemukan dengan putrinya.

Sebuah anggukan pelan diberikan kala mereka bertemu pandang. Dua pasang intan berbeda warna saling diam dalam tatap. Sakura kemudian menerbitkan senyum tipisnya. Dengan ketidakmengertian, ia putus kontak mata mereka, mengalihkan sorot penuh tanya pada sang Ayah.

"Pemilik Super Chromosome, sama sepertimu." Sang ayah menjawab.

Sakura kembali mengalihkan atensinya pada eksistensi Izumi. Ada banyak emosi dalam adu tatap itu. Berbagai komposisi kesedihan, kekecewaan, serta kemarahan menyatu membentuk sebuah ambisi terpendam. Mungkin Profesor Sarutobi tak mengetahui siratan maknanya. Tapi baik Izumi dan Sakura sama-sama tahu. Seolah jiwa mereka sinkron dalam satu frekuensi yang senada. Ikatan mereka terbentuk begitu saja ketika takdir memilih mereka untuk menjadi sama. Menjadi makhluk yang tertindas di bawah nama penyelamatan dunia yang sudah tak tersekat lagi oleh keadilan.

Sakuralah yang kembali memutus kontak mata mereka. Kini seluruh perhatian ia curahkan dalam fokus penuh tuntutan pada sang ayah. Banyak jawab yang ia akan cari dengan pertanyaan yang berkelidan dalam otaknya.


.

.

.

Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Love Lies Bleeding

Chapter 8

.

.


Izumi melihat Itachi yang tengah menyusuri lorong gua yang gelap. Liukan lentera penerang yang terpasang di dinding gua menerangi sosoknya. Helai rambut legamnya memantulkan cahaya kuning kemerahan. Meskipun wajahnya seperti tak berekspresi, tapi Izumi tahu ia sedang marah lewat sorot emosi di kedua mata kelamnya. Izumi menyapanya ketika badan tegap Itachi telah berada dalam jarak yang cukup dekat dengannya.

"Ada masalah?"

Itachi menggeleng, tapi matanya tak bisa menipu Izumi. Dalam perjalan waktu yang telah mereka tempuh, membuatnya telah begitu mengenal Itachi. Jadi tidak mungkin baginya menelan dusta yang kini disodorkan Itachi padanya. Jemari panjang miliknya meraih lengan Itachi yang terlapisi kaos hitam.

"Ceritakan padaku! Mungkin aku bisa membantu."

Itachi kini menatap Izumi dan menyelam dalam-dalam. Berenang meraih keping-keping memori mereka. Izumi telah banyak membantunya sejauh ini. Seperti Sakura, seharusnya ia tak berada disini. Izumi adalah gadis yang baik.

"Pein meminta Sakura untuk dijadikan sebagai sandera." Suara beratnya yang terkesan monoton itu akhirnya beresonansi di dinding bebatuan gua.

Izumi tersenyum. "Bukankah Menma memang telah membuatnya jadi sandera?"

Itachi memandang Izumi tajam, mata kelamnya menarik Izumi dalam lubang hitam tak berujung. Dilihat dari tatapannya, ia tak menyukai pernyataan Izumi tadi.

Izumi menghela napas panjang. Izumi mengerti maksud Itachi, sangat mengerti malah. Tapi ia coba mencairkan suasana. Mungkin memang candaannya yang salah memilih situasi.

"Mungkin sebaiknya kau menuruti apa yang ketua katakan."

Izumi melancarkan serangannya. Rencananya bersama Sakura kini berputar-putar di otaknya sedang mencari jalan keluar. Tapi sayangnya perkataannya justru membuat Itachi semakin gusar.

"Pikirkan Itachi, ketua bisa langsung membawanya dan menyakitinya. Setidaknya kalau kau menyetujui hal ini, kau bisa mengajukan syarat untuk berada di dekatnya, bersamanya. Dan kau bisa melindunginya jika berada di sekitarnya."

Izumi seperti menelan racun dalam perkataannya sendiri. Begitu menyakitkan untuknya memperdaya Itachi saat ini. Dan juga menyarankan Itachi untuk bersama wanita lain membuatnya kelu.

Itachi memikirkan baik-baik apa yang Izumi coba sampaikan. Terkadang Izumi bisa sangat membantunya di saat yang tidak terduga. Seperti saat ini, saat ia lebih dikuasai emosi daripada logika karena Sakura.

Itachi tak pernah begini sebelumnya. Ia adalah seseorang yang bijak. Ia selalu tenang berpikir saat masalah menghantamnya. Ia tak pernah lepas kendali. Beruntung ia memiliki Izumi yang melengkapi kekurangannya saat ini.

Itachi tersenyum. "Terima kasih." Ungkapan rasa syukurnya terlontar penuh ketulusan.

Izumi melepas cengkeramannya pada lengan Itachi. Membiarkan pria itu berjalan pergi melewatinya. Yang bisa ia lakukan kini menatap punggung kokoh itu bergerak menjauhinya.

Setidaknya satu misinya telah selesai. Ia kini sedang berpacu dengan waktu yang terus berdenyut. Mereka tak punya banyak kesempatan. Jadi baiknya, ia harus pintar-pintar memanfaatkannya.

oOo

Sasuke menatap kosong jendela kamarnya, seperti yang biasa Sakura lakukan. Berdiri di posisi yang sama juga melakukan tindakan yang sama. Namun apa yang Sakura dan Sasuke pikirkan jelas berbeda.

Sakura ingin bebas dan Sasuke yang tak ingin ia bebas. Bagaimanapun, keegoisan telah menerkamnya bulat-bulat, ia tetap tidak rela Sakura pergi. Sakura sudah seperti nadinya. Melekat kuat dan tak bisa dipisahkan. Jadi ia tak mungkin membiarkan Sakura jauh-jauh darinya.

Kamar ini menjadi saksi bisu kisah-kisah mereka. Mungkin bagi Sakura itu tak lebih dari rutinitas sehari-hari. Tapi, bagi Sasuke, segala yang terjadi disini merupakan sesuatu yang indah dan tak mungkin dilupakan.

Kenangan itu perlahan-lahan merangsek masuk menjadi keping-keping memori yang kini menggelinding dalam otaknya. Seperti kenangan dia yang merajuk, Sakura yang merajuk. Atau jika salah satu dari mereka sakit, maka yang lain akan menjaga. Juga tawa Sakura yang berdenting memecah keheningan ruangan ini. Lamat-lamat kenangan itu memenuhi dirinya.

Di antara semuanya, yang paling diingat adalah penyatuan mereka. Sebuah candu yang amat manis baginya. Ketika dirinya menyatu dengan Sakura seolah segalanya menjadi miliknya. Bahwa Sakura tercipta untuknya. Membuat ikatan kokoh yang terasa tak akan pernah patah.

Sakura begitu berpengaruh padanya. Membuatnya begitu memuja istri cantiknya itu. Tak ada daya dan upaya untuk membuatnya lupa pada semua itu.

Tapi hilangnya Sakura kembali mengusiknya. Membuat kemarahan yang tadi sirna kini kembali menggelegak. Matanya yang segelap onyx menatap dingin malam kelam di depannya.

"Aku akan membawamu kembali!" sumpahnya. Dan ia akan memastikan Sakura kembali.

oOo

Itachi mengguncang bahunya pelan. Tak butuh waktu lama untuk membuat Sakura terbangun. Karena dalam upaya pertama, Sakura langsung mengerjapkan matanya dan menatap Itachi.

"Kita harus bergerak lagi," kata Itachi bersama senyumnya yang menenangkan.

"Pakai ini, ini lebih hangat!" Setelan tebal berwarna putih disodorkan Itachi pada Sakura. Khusus kelompok Itachi, mereka diberikan pakaian berwarna putih agar dapat menyaru dengan salju sehingga mereka dapat berkamuflase. Badai dengan kombinasi pakaian mereka dapat mengecoh satelit.

Itachi menyibukkan diri membereskan barang-barang mereka saat Sakura mengganti lapisan bajunya dengan setelan hangat di belakang punggung Itachi. Ransel hitam kini ia sandarkan di bahu tegapnya. Itachi kemudian akan meraih Sakura.

"Mau apa?" Sakura mundur.

"Menggendongmu."

"Kau bercanda? Aku bisa jalan sendiri." Sakura menegaskan perkataanya lewat giok hijau yang menyorot tajam.

Itachi terkekeh, kemudian menepuk puncak kepala Sakura. "Kalau lelah bilang padaku ya."

Dan Sakura mengikuti Itachi. Semua sudah berkumpul di tempat luas kemarin, Sakura menyebutnya aula karena fungsinya. Mereka memakan roti terlebih dahulu seperti kemarin sebelum pergi. Tak butuh waktu lama karena porsinya yang memang sangat sedikit untuk ditelan.

Iris Sakura mengedar menyorot kerumunan, ia mencari Izumi. Saat akhirnya tatapan mereka beradu, Sakura tahu bahwa Izumi sukses menjalankan misinya. Anggukan kecil Izumi telah menjawab semuanya.

Sekarang gilirannya beraksi. Sakura menggores jemarinya pada dinding batuan gua yang tajam. Cairan kental langsung berkumpul di ujung telunjuknya. Ia mengusapkan darah itu ke bajunya dengan gerak mengusap luka. Tapi yang sebenarnya adalah ia sedang menggambar simbol. Sebuah kurva lurus sedikit melengkung dan titik-titik kecil disekitarnya. Sesaat, mungkin tak ada yang spesial. Tapi Sakura dan ayahnya tahu apa yang tergambar disana.

'Love Lies Bleeding'

Simbol pemberontakannya kini terpampang jelas.

"Kenapa?" Tanya Itachi melihat Sakura yang sibuk mengelap luka.

"Tergores bebatuan. Hanya luka kecil."

Itachi dengan segera mencarikan plaster untuk Sakura. Dengan cepat jemarinya kini berbalut plaster dan darah yang sedari tadi menetes telah berhenti.

Terdengar komando Pein menggema dalam gua. Keheningan menyambut suara sang ketua. Membiarkan kata-katanya menyebar tanpa halangan.

"Kita akan kembali ke markas utama. Tapi kita akan membagi pasukan ini menjadi tiga kelompok —"

Sakura sudah tahu kemana dan dimana ia akan di tempatkan. Tapi ia masih memasang telinganya lebar-lebar. Menunggu dan merekam tiap nama dalam kelompoknya.

Setelah pembagian kelompok, mereka bergerak. Ada banyak jalur terjal dalam gua. Bebatuan yang malang melintang serta membuat siapapun harus menjaga langkahnya. Hingga mereka menemukan jalan keluar gua.

Situasi di luar lebih buruk daripada di dalam gua. Medan mereka jauh lebih kejam sekarang. Itachi menawarkan punggungnya pada Sakura, setelah sebelumnya ia letakkan tas menyangkut di dadanya.

"Naiklah!" Ujar Itachi seraya berjongkok.

Dan tidak ada alasan bagi Sakura untuk menolaknya. Sakura meraih bahu Itachi kemudian memeluk lehernya. Kakinya juga mengetat di pinggang Itachi, disambut dengan tangan Itachi yang mencengkramnya.

Salju turun dengan deras, mengaburkan jarak pandang. Sebuah keuntungan, agar tak terlihat lewat udara. Juga salju akan menutup jejak mereka.

Sakura membenamkan wajahnya di leher Itachi. Mencoba menghalau angin dingin yang menerpa. Itachi sendiri sedikit menyipitkan mata saat salju terus menampar mukanya.

Butuh waktu setengah hari untuk sampai di gua lainnya. Mereka beristirahat dua kali dalam perjalanan. Kini gua dan kehangatannya kembali melindungi mereka dari amukan badai di luar sana.

"Kau baik-baik saja?" Ucap Itachi sembari menggosok tangan dingin Sakura.

Sakura menggeleng. "Kau yang menggendongku, harusnya aku yang tanya begitu!" tukas Sakura.

Seseorang menepuk bahu Itachi, Sakura mengenalinya sebagai Bill. Bill memberi isyarat pada Itachi yang di balas dengan anggukan.

Itachi termenung sesaat dengan helaan napas panjang. Mata hitam itu kemudian menangkap mata hutan Sakura. "Sakura aku butuh bantuanmu." Katanya ragu.

Sakura menaikkan alisnya, raut mukanya bertanya. "Hm?"

Itachi menggenggam tangan Sakura. "Aku tidak akan menyakitimu, tapi aku akan berpura-pura melakukannya. Kami akan mengirim pesan pada Golden City."

"Kalian mau mengancam?" Suara lembut Sakura mengalun merambat di udara.

Itachi mengangguk. Semua orang terdiam, menunggu reaksi Sakura. Biar bagaimanapun, mereka sudah tahu jika Sakura berbeda dari orang di Golden City pada umumnya. Sakura orang baik, pikir mereka. Jadi mereka agak segan padanya sekarang.

Tanpa mereka duga, Sakura tertawa kecil. Di sela-sela tawanya sakura berbicara, "Kalian lucu sekali." Ia menghentikan tawanya. Matanya kini menatap Itachi serius.

"Golden City membuangmu, padahal kau adalah Putra Mahkota. Lihat dia!" Sakura menunjuk Menma. " Dia kaum borjuis, dari klan terpandang. Ia juga diasingkan. Tak peduli sebobrok apa keadilan bagi kalian. Tapi hukum di Golden City tentang para Orcha adalah mutlak, mereka absolut.

"Lihat aku! Aku berada disini tanpa proteksi. Bisa saja sekarang aku juga sudah terinfeksi. Dan sudah tidak mungkin lagi aku kembali kesana. Mau mengancam mereka dengan aku? Kalian bergurau? Kenapa membahayakan seisi kota dengan orang tidak berguna sepertiku. Itu sia-sia saja."

Sakura melihat perubahan raut muka Itachi. "Tapi, pasti kalian hanya menjalankan perintah kan? Jadi, aku akan membantu kalian semampuku." Sakura menerbitkan senyum manisnya.

Sakura tengah menanamkan keraguan dalam hati orang-orang di sekitarnya. Dan ia berhasil. Sekarang mereka meragukan perintah pemimpin mereka. Sakura pelan-pelan harus memecah mereka. Dengan keraguan itu, ia juga akan memilah mana saja orang yang bisa ia rekrut.

"Ayo! Kenapa diam saja?" kata Sakura ketika semuanya diam membeku di tempat.

oOo

"Kami sedang bersama ibu negara, kami menuntut keadilan! Sampai keinginan kami dipenuhi, ia akan menjadi tawanan kami!"

Video itu disiarkan setelah semua jaringan komunikasi dibajak untuk satu menit lamanya. Video itu menyebar melalui TV kabel maupun LED yang berada di celah-celah kota. Hanya satu menit, dan hampir seluruh penduduk Golden City melihatnya.

Republik langsung mengambil alih siaran dan kembali memperbaiki sistem dengan cepat. Tapi mereka terlambat karena video berdurasi satu menit itu sudah dilihat ribuan pasang mata. Mereka melacak lokasinya, dan titik dimana video disiarkan pun segera ditandai.

Sasuke meraung marah melihat kondisi Sakura terikat tak berdaya dibawah kuasa para kaum kelas rendah. Ada darah di baju Sakura, membuat Sasuke tidak bisa mengendalikan emosinya. Tidak akan ada ampun setelah ini. Orangnya sudah melacak mereka, tinggal menghabisi mereka saja.

"Bagaimana bisa kita dibajak lagi, hah?! Bagaimana sistem keamanan kita bisa diretas lagi?! Itu menunjukkan bahwa Republik tidak berdaya! Mereka hanya orang penyakitan! Bisa-bisanya kita kebobolan lagi!" Kemurkaan Sasuke tak terbendung lagi. Emosinya meluap-luap membuat seluruh bawahannya terdiam membeku.

Tidak ada yang bersuara. Bahkan orang terdekat Sasuke pun tak bersuara.

"Bagaimana dengan posisi mereka?" tanya Sasuke masih dengan wajah yang keras.

"Di sebelah selatan, Daerah Zatha," jawab Shikamaru.

"Kirim pasukan utama menyisir daerah itu sekarang!"

oOo

Beda Sasuke, beda pula Profesor Sarutobi. Darah dibaju Sakura adalah pertanda bahwa ia sudah harus bergerak sekarang.

Pola garis lengkung dengan titik-titik itu membangkitkan kenangan lama Profesor Sarutobi bersama putrinya.

"Ayah, ini tanaman apa? " tanya Sakura suatu waktu saat mengamati jurnalnya.

Profesor Sarutobi memperhatikan tangan mungil Sakura menunjuk tanaman berjumbai berwarna coral. "Amaranthus caudatus, sejenis tanaman bayam. Tanaman ini berasal dari daratan tropis di Amerika. Di era victoria, tanaman ini dulu sangat populer. Amaranthus caudatus disebut pula sebagai Bunga Velvet, juga Love Lies Bleeding. Love Lies Bleeding memiliki makna keputusasaan. Ada juga makna religius yang melekat pada Love Lies Bleeding, mengacu pada pengorbanan diri Yesus. Ajaran terdalam dari Love-Lies-Bleeding berpusat di seputar makna belas kasih dan pengorbanan. Perwujudan di dalam jiwa ini sering disebut kesadaran Kristus, kemampuan untuk menderita atau berdarah bukan untuk diri kita sendiri tapi untuk seluruh umat manusia dan untuk penebusan bumi itu sendiri."

Profesor Sarutobi berhenti sebentar mengamati Sakura yang diam khidmat mendengarkan penjelasannya. Dari dulu, Sakura selalu membuka telinga lebar-lebar dan menututup mulut rapat-rapat jika seseorang memberinya pengetahuan baru.

"Selama berabad-abad, daun dan bibit spesies Amaranthus telah menjadi sumber makanan untuk orang asli dari Amerika Utara dan Selatan hingga Asia, India, Afrika, Kepulauan Pasifik, Kawasan Karibia, dan Eurasia. Amaranth adalah tanaman gandum utama dari Aztec dan dikenal sebagai 'butir emas para dewa' sampai semua ladang dan benih dihancurkan oleh Conquistador Spanyol.

"Di Quechua, Amaranthus caudatus dalam bahasa kuno Inca yang masih diucapkan di Andes, disebut 'Kiwicha' (diucapkan kee-wee-cha)."

Mata Sakura bersinar seakan terpesona pada penjelasan mengenai bunga velvet yang tadi membuatnya penasaran.

"Tapi arti bunganya sungguh sangat menyedihkan." Katanya sembari melihat kembali gambar Love Lies Bleeding di dalam jurnal.

Dengan kenangan masa kecilnya, Sakura memutuskan untuk memakai simbol Love Lies Bleeding sebagai simbol pemberontakannya. Bunga yang memiliki bahasa pengorbanan dalam sebuah keputusasaan.

"Apakah ayah ingat bunga Amaranthus caudatus?" Kata Sakura tempo hari ketika Ayahnya mengatakan kebenaran tentang Super Chromosome di rumah sakit.

Profesor Sarutobi mengangguk merespon pertanyaan putrinya.

"Love Lies Bleeding," gumam Sakura. Ia melepas IV nya. Darah merembes keluar dari punggung tangannya.

"Apa yang kau lakukan?" Profesor Sarutobi gusar. Ia panik dengan tindakan Sakura yang cukup riskan.

Sakura menggambar sebuah pola abstrak dengan darah dari tangannya yang terluka. "Ingatlah ini ayah! Suatu saat, jika waktu memihakku dan mendukungku, maka lanjutkanlah apa yang sudah kau tinggalkan!"

"Apa maksudmu?"

"Kita memiliki apa yang dibutuhkan banyak orang. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk diam."

"Kau tidak bisa mengkhianati presiden. Itu bukan tindakan yang bijak." Profesor bergidik membayangkan Uchiha Sasuke yang akan murka.

"Sepasang sayap yang membuka berdiam diri dan tidak dapat terbang. Ia bisa merengkuh dunia dibalik langit tapi ia memilih untuk beku dan hanya memandang langit. Bukankah itu kesia-siaan? Kita mungkin akan menghadapi badai yang berhembus melawan arus perjalanan kita. Tapi itu adalah harga yang pantas dengan segala yang akan kita dapatkan."

Sorot mata hijau yang biasanya lembut itu kini penuh dengan keteguhan. Profesor Sarutobi tahu bahwa ia tidak akan bisa digoyahkan lagi.

oOo

Ia langsung menghubungi kenalannya juga beberapa petinggi yang masih berjiwa revolusioner.

"Kau ingat penelitian Super Chromosome yang telah dihentikan? Bisakah kita kembali melakukan penelitian?"

Katanya ketika ponselnya tersambung dengan seseorang di seberang sana.

"Ya memang kita tidak akan melakukannya secara legal. Kita akan melakukan penelitian secara sembunyi-sembunyi. Saat ini Republik disibukkan dengan pemberontakan para orcha. Kita tidak akan menarik atensi untuk sementara waktu."

Setelah mendengar jawaban, Profesor Sarutobi tersenyum puas. Ia segera mematikan sambungannya dan memulai sambungan yang lain.

Penelitian Super Chromosome bukanlah penelitian main-main. Diperlukan peralatan yang memadai dan biaya yang tak sedikit.

Soal peralatan, ia sudah menghubungi hampir separuh peneliti di Laboraturium Utama Golden City. Mereka sudah mau membantu, dan hal ini akan ditutupi dari pengawasan pemerintah. Meski resiko yang diambil cukup besar, tapi para peneliti sudah mengambil keputusan dan sepakat untuk terus melakukan proyek rahasia ini.

oOo

Setelah siaran, semua jejak harus segera dihilangkan. Mereka harus pergi secepat mungkin sebelum anjing-anjing Republik menangkap mereka.

Kali ini mereka tidak lagi melewati badai yang mengamuk. Ada celah kecil di antara bebatuan gua yang terhubung dengan jalur bawah tanah. Itu adalah jalur rahasia para orcha. Tidak ada—belum ada yang mengetahui tempat itu sampai saat ini.

"Kita harus melompat melewati celah ini," ujar Itachi pada Sakura.

"Melompat?"

Itachi mengangguk. "Ada sungai dibawah, sangat aman dan kita tidak akan terluka."

Sakura menatap Itachi kemudian menatap celah bebatuan di bawah kakinya.

"Kita bisa melompat bersama, dan akan kupastikan kau tidak akan tenggelam," janji Itachi. Ia berpikir jika Sakura takut untuk turun ke bawah.

"Aku tidak ragu, hanya saja aku tidak bisa berenang," kata Sakura.

Sebenarnya Sakura bisa berenang, tapi dia mempertimbangkan kondisi pasca melahirkannya. Tapi dia tidak punya banyak pilihan untuk saat ini.

"Aku sudah bilang kau tidak akan tenggelam."

Semua orang melompat satu persatu menyisakan Itachi dan Sakura sebagai pelompat terakhir. Itachi menggenggam tangan Sakura, menariknya jatuh meluncur turun menabrak air tenang di bawah gua. Suara deburan air bergema bersama riak yang bergelombang keseluruh penjuru.

Itachi dengan cepat menarik Sakura menuju permukaan. Helaan napas panjang Sakura lontarkan saat paru-parunya mulai terisi udara.

Sakura meringis, nyeri seketika menghantam tubuh bagian bawahnya. Ia mencoba berekspresi sebiasa mungkin, ia tidak boleh menjadi lemah.

"Lumayan menyenangkan," ungkap Sakura. Ia mengingat-ingat sensasi adrenalinnya yang meningkat saat melompat. Jantungnya seolah akan jatuh ke bawah kakinya saat tubuhnya berangsur turun dari ketinggian setelah lompatan yang ia buat.

Inilah kebebasan yang ia impikan.

Ia tersenyum kecil di sela-sela rasa sakit yang menderanya.

oOo

Laboratorium telah dipenuhi oleh orang-orang berjas putih. Mereka mengarahkan pusat atensinya pada sosok pria tua berkacamata.

"Aku akan mengatakan bahwa penelitian ini illegal. Kita bisa ditangkap jika ketahuan melakukan semua ini. Dan seperti yang kalian tahu, bahwa tidak ada ampun bagi para pengkhianat. Jadi aku akan kembali menanyakan kesanggupan kalian? Tidak ada paksaan, kalian bisa mundur sekarang juga." Profesor Sarutobi memulai pembicaraan. Semua perkataannya disambut keheningan. Tidak ada sanggahan dari para peneliti.

Mereka semua telah setuju mengambil resiko. Sebagian hanya tertarik untuk mengetahui lebih banyak soal Super Chromosome, sebagian lagi ingin mengabdikan diri untuk menemukan antidot untuk para orcha. Apapun alasannya, mereka telah mengambil keputusan untuk mendukung proyek ini.

Profesor Sarutobi menghela napas sambil membenarkan posisi kacamata. "Baiklah, kita tidak punya banyak waktu. Selagi republik disibukkan dengan pemberontakan, disini kita akan memanfaatkan kesempatan itu untuk segera membuat antigen bagi wabah yang menjangkiti para orcha.

"Aku akan mulai kembali menjelaskan dari awal tentang Super Chromosome. Super kromosom adalah susunan genetik yang sangat spesial. Pemiliknya akan memiliki 24 kromosom dengan susunan yang unik. Kita rumuskan Super Chromosome dengan lambang alfa (α). Alfa hanya dimiliki oleh kromosom X, artinya Super Chromosome hanya dimiliki oleh perempuan. Pembawa genetik karier tidak memiliki sifat yang diturunkan Gen pembawa Super Chromosome. Jadi, XαXα adalah Super Chromosome.

"Dengan begitu, hanya akan ada 2 kemungkinan untuk mendapatkan Super Chromosome. Persilangan gen laki-laki karier dan perempuan karier serta persilangan antara laki-laki karier dan pembawa Super Chromosome. Persilangan antara laki-laki dan perempuan karier memiliki perbandingan 25%. Sedangkan persilangan antara pembawa dan laki-laki karier memiliki perbandingan 50%—"

Dan beginilah pertemuan para peneliti dimulai. Agenda awal mereka hanyalah mematangkan pengetahuan kembali mengenai Super Chromosome.

Inilah awal dari revolusi dunia yang akan Sakura ciptakan.


oOo

Catatan :

Maaf ya updatenya lama, dan ini pati mengecewakan karena dikit banget T.T, tapi saya udah gatau lagi ceritanya mau digimanain saat WB menyerang. Ini sudah ada di draft dari dulu, tapi saya gk suka sama plotnya yang terlalu ngedrama di chapter ini, tapi akhirnya di up juga tanpa melakukan banyak perubahan. Saya gak enak bikin kalian nunggu. Hope you still enjoy the story :)

Dan gak bisa balas review satu satu (maaf juga untuk yang ini):'(. Tapi baca semua reviewnya kok, terimakasih banyak saran dan kritiknya. Sangat membantu. :*

Untuk yang merasa ini kok mirip ini ya? Well, saya banyak sekali baca buku, cerita online, nonton film dll, dan ketika menulis mungkin hal itu menperngaruhi saya. Tapi saya yakinkan, ini gk akan mirip 100% sama crita yg lain karena memang original. Tapi untuk inspirasi mungkin sedikit banyak dari 'Hunger Games', sistem kepala negara ini saya inspirasinya dari 'Dune' walaupun beda jauh wkwk, gatau habis baca prolognya dune pengen bikin Sasuke jadi presiden tapi sistemnya kaya anak raja. Gaje banget😂😂 untuk wabah orcha isnpirasinya dari Final Fantasy, untuk romance saya banyak baca buku sama nonton film aja.

Trus menjawab kenapa ini orchanya dibuang dan kenapa malah ambil jarang perang yg bisa nyebabin manusia makin punah. Simple jawabannya, itulah manusia. Mreka egois.

Sakura mary sue ya? Hmm, pas saya baca ulang kayaknya iya, tapi dari awal saya bikin dia lemah cuma dia pinter. Benci banget bikin sakura lemah, :'( tapi saya tutupin pake sifat pejuangnya dan pinternya. Jadi semoga gak terlalu mary sue.

dan Love Lies Bleeding saya cuma nyari artikelnya lewat google dan wikipedia :) tapi berdasar makna dan artinya klop banget buat simbol pemberontakannya nanti.

oOo

Terima kasih para reviewer:

anna, michi-chan, joruri katsushika, wowwoh geegee, AuroraDM, nerd94, QueenKylie, sofi asat, kakikuda, rainacherry, AnggiSa3, miyuki, ceexia, Arisa Ezakiya, Malri McCattly, Bananaris, Guest, sarahachi, williewillydoo, CEKBIOAURORAN, lightflower22, saskey saki, sarada u, Loko, LevoRy, cherry, Desta Soo, teamoily, lacus clyne, TehUchihaSakura1, Dhe Chan, zhaErza, AryaniCentric, Kenma Plisetsky, DeidaraTamvanJualPetasan, MotherKitty Rin, saku chan, walker, mika dafi, cici, SiyuChann, Eltin227, ranisaannisa, uchii erlangga.

Terimakasih juga untuk yang fav fol dan yang membaca cerita ini :)

oOo

Regards:

Kumpulan orang gak waras yang ingin menulis.

Salam suter semuanya.

Corn Tall :*