Jaejoong mendengus bosan. Sedari tadi ia hanya berguling-guling di atas ranjang tanpa ada keinginan untuk tidur sama sekali. Ia meraih ponselnya (yang baru tadi pagi dibelikan Yunho) kemudian melotot saat melihat jam digital di layar menunjukan hampir pukul dua pagi. Padahal ia sudah masuk ke kamar pukul sepuluh tadi.

Jaejoong memegangi perutnya. Organ itu mengeluarkan bunyi lucu karena lapar. Dengan merapihkan rambut acak-acakannya, ia berjingkat pergi ke dapur.

Lorong-lorong yang ia lewati tidak gelap, namun sangat sepi. Pintu kamar Yunho masih tertutup rapat, namun ia tetap berjalan setenang mungkin agar tidak membangunkannya.

Jaejoong enggan melirik ke salah satu lukisan yang terjajar di dinding, dia takut jika lukisan itu bergerak seperti di film-film horor yang pernah ia baca. Dan terus berjalan lurus seperti boneka kayu.

Ia berbelok pada tikungan lorong, dan hampir bertabrakan dengan seseorang.

"Uwaaaa!"

"Hyaaaaa!"

Tak!

"Sssstt!" Jaejoong menekan jari telunjuknya kedepan bibir, dan mendesis agar pria asing tadi berhenti berteriak.

Ia meringis karena ngilu di lututnya yang terluka kemarin, dan mengaduh saat salah menumpukan berat tubuhnya.

"A-apakah anda baik-baik saja, tuan?" pria berseragam buttler tadi bertanya khawatir.

Jaejoong mengangguk, dan bersandar pada tembok. Ia mengangguk-angguk, dan membuat gerakan mengusir karena keberadaan buttler itu cukup membuatnya takut.

"Pe-permisi." pria tadi mengangguk, dan melesat pergi.

Jaejoong tidak mendengar ketukan kaki dari langkah butler tadi, dan baru menyadari bahwa lantai rumah ini dialasi oleh karpet tebal.

Ia melanjutkan perjalanannya dengan terpincang, dan teringat oleh kata-kata Yunho tentang kenapa seluruh maid dan butler di tempat ini tidak pernah kelihatan jika siang hari.

Jaejoong bergidik karena tebakannya jika Yunho memperkerjakan beberapa lusin vampire.

Ia menyadari lampu dapur yang menyala dan berjingkat untuk mengintip.

"Yunho?" pria itu mendongakan kepalanya yang ia tumpukan diatas kedua lengannya. Kemudian tersenyum meskipun wajahnya kusut.

"Hei." ia berdehem karena suaranya serak, dan mengulangnya dengan lebih keras.

"Hei. Kenapa kau di sini?" Jaejoong beringsut mendekat, dan memeluk tubuhnya sendiri.

"Entah. Insomnia dan lapar, mungkin?" Yunho memeluk perut Jaejoong, dan menguap seperti balita yang lucu.

"Aku juga lapar. Apa kau mau berbagi waffle cokelat yang aku pesan tadi?" ia mendongak, dan menatap Jaejoong dari bawah.

"Hmm, boleh." Jaejoong duduk di atas meja makan di depan Yunho, dan balas memeluk kepala pria itu.

Jari-jari kakinya yang tidak memakai alas terasa dingin terkena udara malam, dan memang malam ini cukup dingin dibandingkan malam yang lalu.

Mereka berdua terdiam, dan Jaejoong bisa mendengar ketukan jarum jam besar yang terpajang di ruang tamu. Yang kemudian berdenting sebanyak dua kali dengan cara yang menyeramkan.

Jaejoong hampir berteriak kaget saat seorang wanita berumur awal dua puluh tahunan berjalan mendekat dari pintu membawa sepiring waffle dengan asap mengepul diatasnya.

Ia membangunkan Yunho yang seolah telah menjalani separuh mimpinya, dan menunjukan keberadaan wanita itu.

"Oh, terima kasih." Yunho menaruh piring besar tadi keatas paha Jaejoong, dan memegangkan garpu ke tangan Jaejoong.

Sementara pemuda itu masih memperhatikan maid berseragam pendek itu hingga ia menghilang dibalik pintu, kemudian mendesah.

"Ada apa?" tanya Yunho.

Ia terlihat benar-benar sudah bangun sekarang. Mungkin karena waffle.

"Hm, dia seksi sekali." ujarnya.

Senyuman Yunho luntur dalam beberapa detik, dan wajahnya berubah masam.

"Apa maksudmu? Kau menyukainya?"

Jaejoong mengedik, kemudian memotong waffle tadi dengan garpunya.

"Aku kira kau yang suka." katanya kemudian menjejalkan paksa potongan waffle itu ke dalam mulut Yunho.

Yunho diam tidak mengerti.

"Kau seperti orang cemburu." ia menelan wafflenya, dan bersiap menerima suapan lagi.

"Menurutmu?!" Jaejoong mendengus, dan membuat pria di depannya terkejut karena nadanya yang sedikit lebih ketus.

Yunho berkedip dengan satu potongan besar waffle di mulutnya. Kemudian menahan senyum sekuat yang ia bisa.

"Tenang saja. Aku hanya menyukaimu." ia suka bagaimana Jaejoong membuatnya senang akhir-akhir ini. Mungkinkah pemuda itu sudah lebih menyukainya sekarang?

Yunho hampir menghabiskan wafflenya saat Jaejoong berujar.

"Apa kau pernah melakukan seks sebelumnya?" pria itu terkejut dan tersedak sampai terbatuk-batuk.

Jaejoong memberinya minum dan memindah piring dari pahanya ke meja.

"Berhati-hatilah, aku bahkan tidak meminta satu potongpun dari wafflemu itu. Kau tidak perlu tergesa-gesa menelannya."

Yunho menegak air mineral dalam gelas hingga benar-benar habis, kemudian menatapi Jaejoong sambil mengambil napas sebanyak yang ia bisa.

"Kenapa tiba-tiba kau mengajukan pertanyaan seperti itu?" dadanya berdegup kencang. Entah karena kehabisan napas atau rasa penasaran yang berlebihan.

Jaejoong mengedikkan bahu, lalu mengambil piring tadi dan menusuk sisa waffle yang tertinggal di sana.

Yunho merebut piring itu dan menaruhnya diatas meja sebelum Jaejoong protes dan berusaha meraihnya kembali.

"Kenapa kau mengambilnya?" protes pemuda itu masih berusaha merebut piring yang terus dijauhkan oleh Yunho.

"Aku tidak mau makan lagi. Jawab dulu pertanyaanku."

"Itu untukku. Bukan untukmu." Jaejoong merebut piring waffle tadi dan melahan potongan yang telah ia siapkan dalam satu gerakan.

"Kau bilang kau tidak akan memintanya." Yunho memberengut.

Jaejoong tertawa dan mengangkat bahunya, menyendok satu potong lagi.

"Aku berubah pikiran." ia menelan potongan terakhir waffle Yunho, dan menjilati sendoknya sebelum menyimpannya secara rapi diatas meja.

"Yunho, berapa umurmu?" Jaejoong memainkan rambut Yunho, menariknya keatas hingga berdiri.

"Hmm... hampir dua kali umurmu?" Yunho diam saja saat Jaejoong bereksperimen dengan rambutnya. Sepertinya ia sudah mengantuk lagi.

"Hah?!" Jaejoong memekik histeris, namun tak membuat Yunho terjaga. Ia hanya mengintip lewat salah satu matanya yang tertutup sebelum kembali terpejam.

"Tiga puluh enam?!" serunya membuat gesture lucu dengan memegang kedua pipinya, menirukan salah satu lukisan terkenal milik Vincent.

"Lebih tepatnya hampir tiga puluh enam." Yunho mengangguk-angguk tanpa membuka matanya.

"Kapan kau berumur genap tiga puluh enam? Itu dua kali umurku."

"Hmm... lusa? Atau besok? Pokoknya tanggal enam bulan ini." Jaejoong mengangguk-angguk mengerti.

Ia kembali memainkan rambut Yunho saat tiba-tiba pria itu terperanjat.

"Tunggu! Kau bilang umurmu masih tujuh belas tahun, sejak kapan itu menjadi delapan belas?"

Jaejoong menutup mulutnya rapat-rapat, lalu memutar kepalanya mencari jam.

"Umm... Tiga jam yang lalu?" tepat setelah itu jarum jam berdenting sebanyak tiga kali.

Yunho memutar bola matanya dan mendengus.

"Baiklah, karena aku belum sempat memberimu kado, dan hari ini adalah hari tengah antara ulang tahunmu dan ulang tahunku. Bagaimana kalau kita bermain sesuatu yang menguntungkan?"

Jaejoong tampak memikirkan tawaran Yunho dengan serius. Lalu mengangguk setuju.

"Baiklah. Kita akan bermain truth or dare dengan cara yang berbeda." Yunho menyeringai. Namun entah kenapa Jaejoonglah yang merasa paling tertantang di permainan kali ini.

"Mulai dari detik ini hingga pukul dua belas malam nanti. Kita harus jujur satu sama lain, dan bersedia melakukan apapun yang masing-masing dari kita minta. Namun kita harus mengajukannya secara bergantian, dan dilarang untuk berbohong maupun melanggar antrian. Bagaimana?"

Jaejoong tersenyum, dan mengangguk antusias.

"Aku setuju jika aku mulai duluan." ujarnya.

Yunho mengangkat bahunya tidak masalah, dan mempersilahkan Jaejoong untuk memulai.

Pemuda itu menaruh jarinya di bibir dan berpikir.

"Apakah kau pernah melakukan seks sebelumnya?" tanya pemuda itu.

Yunho menelan ludahnya lalu mengangguk dengan berat.

"Ya." ia membuang muka. Dan Jaejoong tampak memikirkan sesuatu yang serius sebelum kembali terlihat ceria.

"Sekarang giliranku." Yunho membenarkan duduknya.

"Hmm... apa warna kesukaanmu?"

Jaejoong tampak kaget dan meremehkan pertanyaan Yunho.

"Ah, itu mudah sekali. Merah tentu saja." ia tertawa.

"Aku! Giliranku sekarang! Berapa kali kau melakukan seks sebelumnya?"

Yunho mengerutkan keningnya. Lalu mendengus.

"Entahlah, berkali-kali. Ada saat-saat dimana aku melakukannya tiga kali dalam seminggu dulu."

"Giliranku. Apa kau suka tokoh animasi atau hewan-hewan tertentu?"

"Ada. Aku suka gajah dan hel- ah tidak! Hanya gajah." Jaejoong menggigit bibir bawahnya.

"Aku sekarang. Apa kau melakukan seks hanya dengan orang-orang yang kau suka, atau siapapun?"

"Bisakah kau berhenti menanyakan hal seperti itu?" protes Yunho yang mulai merasa terganggu.

Jaejoong menggeleng.

"Tunggu giliranmu untuk bertanya. Sekarang jawab saja pertanyaanku."

Yunho mendengus.

"Aku melakukannya dengan pacar-pacarku dulu. Atau sekertarisku yang lama jika itu sangat mendesak. Sekarang, bisakah kau berhenti menanyakan hal seperti itu?!"

Jaejoong menggeleng.

"Tidak. Apa sampai sekarang kau masih melakukannya deng-"

Yunho menabrakkan bibirnya ke bibir Jaejoong. Membuat pemuda itu bungkam dan berhenti menanyakan hal-hal bodoh seperti tadi.

Ciuman itu hanya berupa popo dan berlangsung beberapa detik.

Yunholah yang pertama menarik kepalanya. Ia tersentak saat melihat kedua mata Jaejoong yang siap menumpahkan airnya.

"Astaga!"

Pria itu menyembunyikan wajah Jaejoong di dadanya, serta memeluknya.

"Ada apa, Jae? Kau menanyakan hal-hal yang aneh, dan sekarang menangis tanpa sebab."

Jaejoong me-lap air matanya ke kaus Yunho, berharap ia tidak benar-benar menangis. Namun ada sesuatu yang mengganggu dadanya, hingga membuatnya menangis semakin keras.

"Kau tidak mengertiku, bukan? Kau tidak pernah benar-benar mengerti diriku meskipun kau bilang kau mencintaiku."

Jaejoong menahan punggung Yunho agar tetap dekat dengan tangannya.

"Kau pikir apa yang susah dari mencintai seseorang sepertimu? Kau pikir kau sangat sempurna, hingga hanya dalam satu lambaian tangan saja maka semua orang akan langsung tergila-gila padamu." Ia protes disela-sela tangisnya yang semakin keras.

"Apa-"

"Lalu kenapa aku tidak bisa membuka hatiku untukmu?"

Yunho memutuskan untuk bungkam. Akan lebih baik jika Jaejoong mengeluarkan uneg-unegnya secara gamblang seperti ini, daripada menutup diri seperti yang ia lakukan selama ini.

"Gay atau umur hanyalah alasan palsu buatku. Kenapa kau tidak pernah mengertiku, Yunho?"

Jaejoong meracau seperti orang mabuk. Mendadak marah dan protes seperti ini memang agak baru buatnya.

"Aku baru saja berumur delapan belas tahun. Aku belum pernah jatuh cinta sama sekali. Lalu tiba-tiba kau datang dan memintaku jatuh cinta padamu.

"Aku takut Yunho. Aku tidak takut padamu. Kau bilang kau memiliki banyak pacar dulunya. Tidakkah kau sadar betapa gampangnya dirimu? Kau sembarangan memilih pacar dan tidur dengan mereka sesukamu. Kenapa kau tidak bisa melakukan hal itu juga padaku? Aku takut jika kau melakukannya suatu saat nanti."

Yunho mengeratkan pelukannya tanpa sadar.

"Kau mungkin berpikir itu hal sepele. Tapi kau tidak tahu sedalam apa luka yang kau buat. Aku takut terluka, Yunho. Meskipun aku mempersiapkan diriku untuk terluka, tapi aku tetap merasa ketakutan. Meskipun itu hanya satu luka kecil, bagiku sama saja.

"Aku menyukaimu. Sudah sejak lama aku menyukaimu. Aku tahu tanpa sadar aku selalu meminta lebih saat kau menyentuhku. Tapi saat aku sadar, aku ketakutan, Yunho. Aku takut jika kau membuangku begitu saja setelahnya."

Ia memeluk Yunho lebih kuat, hingga wajahnya terbenam di dada bidang pria itu.

Yunho bungkam. Ia seolah disadarkan dengan cara yang menyakitkan. Bagaimana Jaejoong menjelaskan tentang keadaan yang sesungguhnya, malah membuatnya merasa bersalah.

"Apakah kau gay sebelumnya?" tanya Yunho tiba-tiba.

Jaejoong terdiam sejenak, kemudian menggeleng.

"Tidak. Aku tidak pernah menangis di depan orang lain seperti ini sebelumnya."

"Menangis tidak membuktikan bahwa kau gay, Jae. Jika kau tidak bisa menangis karena kau berpikir kau bisa mengatasinya sendiri, itu adalah hal yang normal. Tapi pikirkanlah kenapa kau bisa menangis di depanku?"

Jaejoong melepaskan pelukannya, dan merapikan wajahnya yang basah.

"Kau bisa menangis karena kau menemukan tempat sandaran baru, Jae. Kau berpikir kalau kau bisa berbagi kesedihanmu denganku."

Yunho merapikan rambut Jaejoong, dan tersenyum.

"Kau tidak hanya menyukaiku, Jae. Kau mencintaiku."

Jaejoong tercengang mendengarnya. Yunho meraih tangannya, dan menuntunnya ke depan dada kirinya, hingga ia bisa merasakan degup jantungnya yang bertambah cepat.

"Apapun yang aku lakukan akan menyakitimu, dan kau sadar itu. Jadi dengarkan tantanganku yang pertama.

"Kim Jaejoong, kau harus menjadi nannyku yang baik seharian ini."

.

.

.

.

TBC

sebenernya itu aku punya pertanyaan besar di sini.

aku sudah bikin FF ini sampai belasan chapter sebenernya, tapi kenapa di file ku nama document ini adalah chapter 9 saat aku baru sampe chapter berapa ini? :/

aku telatenin satu satu, kalo ada yg kelewat, tapi gak ada. adakah yg bisa bantu?

Q&A

"Sebenernya gimana sih alur dan penempatan waktu di FF ini?"

Pertama. tolong jangan bunuh saya! ampun mak! T^T

penempatan kejadian atau timming atau alur atau apapunlah itu dalam FF ini memang enggak aku perhatikan. apa kalian bingung?

anggap saja seperti ini.

imajinasi

jaejoong ketemu Yunho pertama kali itu hari Kamis

Yunho nawarin Jaejoong kerjaan Jumat paginya.

jaejoong dateng kerumah Yunho Minggu pagi. dan dia mulai pindah hari Rabu

setelah itu, kalau gak ada keterangan waktu anggap saja itu terjadi seminggu setelahnya. begitu seterusnya kecuali waktu Junsu masuk sekolah.

jadi bayangkan sampai detik ini Jaejoong udah kerja selama sebulan?

bingung?

aku juga T^T

.

.

.

.

ada yang nangkep ya kalau Heechul itu pernah disebut di chapter awal? :3

.

.

.

.

Terima kasih banyak buat yang ngikutin FF abal ini.

karena emang dari awal ini adalah FF percobaan. (apakah aku bisa bikin FF fluff romance gaje begini) dan hasilnya memuaskan gajenya :v

sebenernya aku malu lho tiap kali baca review .

saya bukan siapa siapa memangan. :)

maaf kalo gak bisa balesin satu-satu.

dan tolong yaaaa... log in dong biar aku bisa bales review pake PM kalo-kalo ada yg tanya tanya gituu...

.

.

.

.

FF ini akan selesai beberapa chap lagi.

dan NC mungkin mundur. karena entah kenapa aku sekarang sering ngerasa kalo nulis NC itu tabu hehehe... masih bocah sih =D

udah? apalagi yg kurang?

oh iya...

.

maaf yaaaaaa... SERIBU KALI AKU MAAAFFFFFFF

aku update ini luama banget kan? aku gak mudah puas ama hasilku sebenernya :D

maaf .