Warning : T rate, typos, dan bahasa labil
No Pairing
Genre : Famili/Friendship/Humour
Disclaimer : Punya Masashi Kishimoto
Konoha Masuk Islam
Chapter 8
( Muslims are in danger, call for help Kimichi )
.
.
Di markas Orocimaru
Anko sudah tidak ada di dalam markas Orocimaru. Yang tersisa hanya Kabuto dan Orocimaru sendiri.
"Apakah tuan ingin membantunya?" Tanya Kabuto.
"Tentu saja. Dengan cara ini, aku bisa menguasai Konoha," jawab Orocimaru.
"Lalu, apa rencana anda?" Tanya Kabuto.
"Aku akan mengirim mereka berenam," jawab Orocimaru.
Tak lama kemudian, terlihat enam orang yang sedang berjalan – jalan di lorong – lorong markas Orocimaru.
"Kenapa tuan Orocimaru memanggil kita?" Tanya seorang pemuda berbadan gendut dengan rambut oranye yang hanya berada di belakang kepalanya.
"Entahlah," jawab seorang pemuda santai. Pemuda tersebut memiliki enam tangan dengan rambut dikucir.
"Kalau kau?" Tanya pemuda gendut itu kepada seorang wanita disampingnya.
"Menurutku, kau harus diam," jawab wanita tersebut. Wanita tersebut memiliki rambut panjang dan membawa seruling.
"Benar itu gendut, kau harus diam," kata seorang pemuda dengan rambut silver dan poninya menutupi mata kanannya.
"Ya itu benar, diamlah," kata seorang pemuda yang memiliki muka sama seperti pumuda berambut silver hanya saja poninya menutupi mata kirinya.
"Apa kalian bilang!" kata pemuda gendut tersebut.
Sudah jangan bertengkar lagi!" kata seorang pemuda berambut panjang berwarna putih.
Tak lama kemudian, mreka masuk ke dalam ruangan Orocimaru. Mereka semua membungkuk hormat kepada Orocimaru.
"Ada apa tuan?" Tanya pemuda berambut panjang berwarna putih.
"Kalian bantulah orang ini. Sekaligus cari tahu tentang apa yang terjadi di Konoha saat ini," jawab Orocimaru sambil menyerahkan foto Anko.
"Baik tuan," kata mereka serempak dan kemudian mereka beranjak pergi dari ruangan tersebut.
Di kediaman Namikaze
Naruto mengajari Konohamaru, Meogi, dan Udon untuk mengaji. Konohamaru dan kedua temannya itu sudah masuk islam setelah mendengarkan Naruto mengaji.
"Huh, selesai juga," kata Konohamaru.
"Huh, setelah selesai mengaji, rasanya berbeda sekali," kata Udon.
"Rasanya tubuhku sangat ringat. Seperti tanpa beban," kata Meogi.
"Ya itulah enaknya kita belajar Al Qur'an. Selain kita tahu apa – apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan larangannya. Kita juga merasa sangat tenang dan rileks," kata Naruto. Sementara Konohamaru, Udon dan Meogi hanya mengangguk.
"Naruto senpai, ayo kita bermain!" kata Konohanaruto mengajak Naruto bermain.
"Aku tidak bisa Konohamaru. Seperti yang kau lihat, aku dikurung disini," kata Naruto. Konohamaru dan yang lain hanya menunduk sedih. "Hmm, bagaimana kalau kalian membantu Kimichi sensei untuk membangun masjid?" Tanya Naruto.
"Maksudmu, tempat beribadah orang islam," kata Udon.
"Oke, kami siap," kata mereka bertiga secara bersamaan.
Kemudian, Konohamaru dan yang lain keluar dari kamar Naruto dan pergi menuju ke tempat pembuatan masjid tersebut.
Malam hari
Anko berada di balkon rumahnya. Tak lama kemudian, Anko melihat sekelebat bayangan di depan rumahnya. Anko mulai melakukan posisi siaga dengan membawa sebuah balok kayu. Saat sekelebat bayangan itu berlari menuju sebuah pohon di pinggir jalan, Anko langsung melempar balok kayu yang dia bawa.
Blak!
Terdengar suara orang terjatuh. Anko langsung berlari keluar menuju ke arah suara tersebut. Setelah Anko sampai ke sumber suara, dia melihat lima orang berdiri didepannya.
"Siapa kalian?" Tanya Anko.
"Wah, lemparanmu ternyata hebat juga, Anko," kata pemuda dengan poni menutupi mata kanannya sambil memegangi kakinya yang bengkak karena lemparan balok kayu dari Anko.
"Siapa kalian sebenarnya?" Tanya Anko dan kali ini dia mengambil sebuah balok kayu.
"Tenang Anko, kami adalah anak buah tuan Orocimaru yang akan membantumu. Perkenalkan, namaku Kimimaru," kata pemuda berambut panjang berwarna putih.
"Namaku Tayuya," kata satu – satunya perempuan disana.
"Aku Sakon," kata pemuda yang poninya menutupi mata kanannya.
"Dan aku Ukon," kata pemuda yang poninya menutupi mata kirinya.
"Namaku Kidoumaru," kata pemuda bertangan enam.
"Namaku Jirobou," kata pemuda berbadan gendut.
"Jadi, kalian adalah anak buah Orocimaru," kata Anko. Anko mulai tenang. Dia menjatuhkan balok kayu yang tadi dia bawa.
"Sekarang aku mau Tanya. Siapa sebenarnya musuhmu itu?" Tanya Jirobou.
Anko menerangkan profil dari Kimichi. Sementara keenam anak buah Orocimaru hanya mengangguk.
"Kalau begitu, kita jebak saja mereka," kata Kidoumaru.
"Menjebak mereka? Maksudmu?" Tanya Anko bingung.
"Kita akan menyebarkan terror di Konoha atas nama Kimichi dan anak buahnya. Dengan begitu, mereka akan terusir dari Konoha. Dan untuk mempermudah kelancaran rencana ini, kau harus menghasut hokage agar cepat mengusir mereka dari sini," jawab Kidoumaru panjang lebar. Mereka semua mengangguk.
Tanpa mereka sadari, Konohamaru dan teman – temannya yang baru pulang setelah membantu Kimichi untuk membangun masjid mendengar pembicaraan Anko dan keenam anak buah Orocimaru tersebut.
"Astaga, tidak aku sangka Anko bisa berbuat sekejam itu kepada Ustad Kimichi," kata Meogi.
"Kalau begitu, kita harus memberitahukan hal ini kepada Naruto senpai," kata Konohamaru. Mereka bertiga bergegas menuju kediaman Namikaze.
Di kediaman Namikaze
"Naruto senpai! Naruto senpai!" kata Konohamaru memanggil nama Naruto dan mengetuk jendela kamar Naruto dengan keras.
"Ada apa Konohamaru?" Tanya Naruto.
"Ini gawat, Anko sensei merencanakan hal buruk untuk mengusir Ustad Kimichi beserta pengikutnya dari Konoha," jawab Konohamaru.
"Astaga, ini benar – benar gawat! Aku harus pergi dari sini! Konohamaru, Meogi, Udon, cepat kalian kemas berang kalian dari rumah kalian dan tunggu aku di Konoha High School!" kata Naruto.
Konohamaru dan teman – temannya langsung bergegas menuju rumah mereka untuk mengemasi berang – berang mereka. Naruto pun juga berkemas.
"Aku harus memberitahukan hal ini kepada teman – teman yang lain," kata Naruto dalam hati.
Naruto langsung mengambil handphonenya dan menghubungi teman – temannya melalui SMS. "Teman – teman, cepat kemasi berang – barang kalian dan aku tunggu di Konoha High School, ini darurat," Dia mengirim SMS tersebut ke semua teamnnya yang telah masuk islam. Tak lama kemudian, dia keluar lewat jendela dan bergegas menuju Konoha High School.
Konoha High School
Waktu sudah menunjuk pukul 21.00, Naruto, Konohamaru, Meogi, Udon dan Iruka sudah berada disana. Mereka sedang menunggu teman – teman Naruto yang lain. Tak lama kemudian, Shikamaru dan yang lain datang.
"Semua sudah berkumpul?" Tanya Naruto.
"Memangnya, ada apa Naruto?" Tanya Shikamaru.
"Anko sensei sedang merencanakan sesuatu hal untuk mengusir Ustad Kimichi dan para pengikutnya dari Konoha. Dia bekerja sama dengan anak buah Orocimaru untuk merencanakan hal tersebut," jawab Naruto.
Shikamaru dan yang lain terkejut mendengar hal tersebut.
"Maka dari itu, aku mengumpulkan kalian untuk membuat rencana untuk menghentikan rencana Anko sensei," kata Nauto.
"Lebih baik kalian pulang ke rumah kalian. Biar hal ini aku yang tangani," kata Kimichi yang tiba – tiba saja sudah duduk di depan pos satpam.
"Eh Ustad Kimichi, Assalamualaikum," kata mereka bersamaan.
"Waalaikum salam," kata Kimichi.
"Maaf Ustad Kimichi, tapi kami ingin membantu untuk menyelesaikan masalah ini bersama – sama," kata Naruto.
"Aku tau kalian memiliki niat yang baik, tapi hal ini akan mengakibatkan kedua orang tua kalian menjadi semakim marah. Apa kalian mau disebut sebagai anak durhaka?" kata Kimichi.
Naruto dan yang lain hanya dapat merunduk sedih. Mereka ingin membantu Kimichi dalam menghadapi hal ini, namun disisi lain mereka juga tidak ingin disebut sebagai anak durhaka karena tidak menuruti perintah kedua orang tua mereka.
Tak lama kemudian, terjadi hembusan angin yang sangat kencang dari arah monument hokage menerpa mereka dan Kimichi merasakan hal buruk akan terjadi.
"Ada apa Ustad Kimichi?" Tanya Ino resah. Dia dapat melihat segurat wajah tidak enak di wajah Kimichi.
"Mereka sudah melancarkan aksi mereka," jawab Kimichi.
"Maksudnya?" Tanya mereka secara bersamaan.
"Mereka akan menghancurkan menumen hokage," jawab Kimichi.
"Kalau begitu tunggu apa lagi! kita cegah mereka!" kata Naruto.
Mereka semua langsung bergegas menuju monument hokage.
Monument hokage
Memang benar apa yang dikatakan Kimichi. Kimimaru dan teman – temannya sedang bersiap – siap untuk menghancurkan monument hokage.
"Hehehe, sejak dulu aku ingin sekali menghancurkan patung – patung yang ada disini," kata Ukon sambil memasang bom untuk meledakkan patung – patung yang ada di monument hokage.
Mereka telah selesai memasang semua bom yang mereka siapkan. Tak lama kemudian, Kimichi, Naruto dan yang lain tiba ditempat tersebut.
"Hei, apa yang kalian lakukan?" Tanya Naruto.
"Kalian terlambat. Semoga lain kali kalian lebih beruntung lagi," kata Kidoumaru. Tak lama kemudian, Kidoumaru menyalakan semua bom yang tdi dipasang. Tak lama kemudian, bom – bom tersebut meledak.
Naruto yang berada paling depan hampir saja terkena pecahan batuan dari patung – patung di monument hokage. Untung saja Kimichi langsung menarik Naruto dari posisinya.
.
.
Sementara itu, di tempat pemantauan CCTV, terlihat Anko sedang mengutak atik komputer yang ada di ruangan itu.
"Kena kau Kimichi," kata Anko sambil memegang sebuah rekaman video.
Keesokan harinya
Seluruh warga Konoha menjadi gempar karena meledaknya patung – patung yang ada di monument hokage. Tsunade menjadi marah besar akibat hal ini.
"Sebenarnya, siapa yang berani melakukan hal ini?" Tanya Tsunade.
"Aku tau siapa yang harus bertanggung jawab atas hal ini," kata Anko yang tiba – tiba saja masuk ke ruangan Tsunade.
"Siapa orang itu Anko?" Tanya Tsunade.
"Kimichi," jawab Anko.
"Bagaimana mungkin? Kita semua tau kalau Kimichi adalah orang yang baik. Dia tidak mungkin melakukan hal ini," kata Kakashi.
"Aku punya buktinya," kata Anko sambil menunjukkan sebuah rekaman video.
Anko berjalan untuk menyalakan rekaman tersebut. Tak lama kemudian, rekaman tersebut memperlihatkan keadaan monument sudah hancur dna terlihat ada Kimichi, Naruto dan yang lain sedang berlari dari monument tersebut.
"Kalian lihat, ini adalah bukti kalau mereka berusaha kabur setelah memasang bom untuk menghancurkan monument hokage," kata Anko. Semua orang yang ada disana menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Kalau begitu, kita temui Kimichi untuk meminta pertanggung jawabannya," kata Tsunade.
"Lebih baik, kita juga kerahkan para tentara untuk menangkapnya," kata anko.
"Kau itu terlalu berlebihan Anko," kata Asuma.
"Apanya yang berlebihan! Dia sudah memberikan terror kepada kita! Itu berarti, dia adalah tahanan negara! Sudah sepatutnya, kita juga mengerahkan para tentara untuk menangkapnya!" kata Anko.
"Sudahlah, aku akan mengerahkan para tentara untuk menangkap Kimichi. Sekarang, kita pergi ke tempat Kimichi," kata Tsunade.
Mereka semua beranjak pergi menuju ke tempat pembuatan masjid.
Di tempat pembuatan masjid
Para umat islam sedang membuat masjid, walaupun terlihat di wajah mereka kalau mereka resah dengan kejadian di monument hokage. Sementara itu di dalam masjid, Naruto dan yang lain tidak pulang ke rumah mereka. Mereka memilih untuk tidur di dalam masjid tersebut.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" kata Ino yang sejak kejadian itu menjadi gelisah.
"Aku juga tidak tau. Tapi, hal ini akan memancing kemarahan Tsunade sama," jawab Shikamaru.
"Mungkin sebentar lagi Tsunade sama akan datang kemari," kata Naruto.
Perkataan Naruto terjadi. Tsunade dan yang lain datang dengan membawa tentara dan para warga. Semua umat islam yang saat itu sedang bekerja menjadi ketakutan.
"Kimichi, keluar kau!" kata Anko teriak – teriak memanggil nama Kimichi.
"Assalamualaikum," kata Kimichi. Umat islam pun menjawab 'waalaikum salam'
"Sudah cukup basa basinya. Sekarang, kau ikut dengan kami untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu," kata Anko.
"Ya betul, betul," kata warga secara serempak.
"Apa maksudmu?" Tanya Kimichi santai.
"Kau yang telah menghancurkan monument hokage dan rekaman video ini telah membuktikan semuanya," kata Anko sambil menjukkan rekaman video.
"Ustad Kimichi tidak bersalah! Kau yang bersalah! Kau bekerja sama dengan Orocimaru dan merencanakan hal ini untuk menjebak Ustad Kimichi!" kata Naruto membela Kimichi.
"Naruto, jangan membela teroris itu atau kau juga akan aku jebloskan ke dalam penjara!" kata Minato.
"Tunggu apa lagi. Tangkap dia!" kata Anko. Semua tentara langsung menangkap Kimichi. Semua orang islam berusaha melindungi Kimichi.
"Berhenti semuanya!" kata Kimichi. "Biarkan aku pergi jika hal ini dapat membuat semua warga bisa tenang," lanjut Kimichi.
"Tapi kami tidak ingin kau pergi. Kau tidak bersalah," kata Naruto yang masih membela Kimichi.
"Tenang, sebentar lagi akan datang orang yang akan membantu kalian untuk membangun islam disini," kata Kimichi.
Kemudian, Kimichi langsung dipaksa untuk ikut bersama para tentara. Semua umat islam berteriak sedih melihat hal itu.
"Naruto, ayo pulang," kata Kushina.
"Tidak ibu, aku ingin membebaskan Ustad Kimichi," kata Naruto.
"Sudah, ayo pulang!" kata Minato. Minato langsung menarik paksa Naruto. Hal yang sama juga terjadi kepada semua teman – temannya.
Di kantor polisi
Terlihat Kimichi sedang duduk sendiri sambil berbicara di depan sebuah laptop. Di layar laptop tersebut terlihat ada sebelas orang memakai pakaian muslim sedang berbicara dengan Kimichi.
"Assalamualaikum," sapa Kimichi.
"Waalaikum salam," balas kesebelas orang tersebut secara serempak.
"Hei Ustad Kimichi, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana misimu untuk mendirikan islam di Konoha?" Tanya seorang pemuda. Dia memakai pakaian muslim berwarna putih dan terdapat sesuatu seperti tumbuhan venus yang mengapit kepalanya.
"Misiku berjalan dengan lancer. Tapi, aku sedang dilanda cobaan," jawab Kimichi.
"Cobaan apa Ustad Kimichi? Apa yang terjadi?" Tanya seorang pemuda. Dia memakai baju muslim berarna putih, berambut panjang warna merah, memakai peci warna hitam dan memiliki mata rinegan.
"Aku difitnah telah menghancurkan monument hokage," jawab Kimichi.
"Siapa yang memfitnahmu Ustad Kimichi?" Tanya seorang pemuda. Dia memakai pakaian muslim berwarna putih, memiliki rambut panjang warna putih,dan memakai peci warna hitam.
"Dia adalah Anko. Kata Naruto, Anko bekerja sama dengan Orocimaru untuk menghalangiku," jawab Kimichi.
"Aku tau siapa dia. Anko adalah mantan anak buah Orocimaru," kata salah seorang pemuda. Dia memakai pakaian muslim berwarna putih, dan memakai topeng.
"Tunggu sebentar, kau bilang tadi Naruto. Apa dia sudah masuk islam?" Tanya seorang pemuda. Dia memakai pakaian muslim warna putih, memakai peci hitan dan memiliki rambut panjang warna kuning dangan poni menutupi mata kirinya.
"Naruto adalah orang pertama yang masuk islam," jawab Kimichi. Pemuda tersebutterlihat lega.
"Bagaimana dengan adikku Sasuke? Apa dia juga masuk islam?' Tanya seorang pemuda. Dia memakai pakaian muslim berwarna putih, berambut panjang berwarna hitam, memakai peci warna hitam dan memiliki mata onyx.
"Dia masih belum mau masuk islam dan mungkin tidak akan pernah mau setelah kejadian ini," jawab Kimichi. Pemuda bermata onyx tersebut terlihat sedih.
"Bagaimana dengan sepupuku, Sakura?" Tanya seorang pemuda. Dia memakai pakaian muslim berwarna putih, berambut pendek warna merah dan memakai peci warna hitam.
"Tenang saja, dia sudah masuk islam," jawab Kimichi.
Beberapa menit kemudian, terjadi keheningan diantara mereka. Mereka semua twerlihat sedang berpikir.
"Kalau begitu, aku akan datang ke Konoha untuk membantumu, Kimichi," kata pemuda bertopeng tersebut.
"Aku juga. Aku ingin melihat sejauh mana Naruto belajar islam," kata pemuda berambut kuning panjang itu. "Bagaimana dengan kalian berdua?" Tanya pemuda tersebut.
"Aku juga ikut. Aku ingin menyadarkan adikku," jawab pemuda bermata onyx. Sedangkan pemuda berambut merah pendek itu hanya mengangguk tanda dia juga ikut.
"Baiklah Kimichi. Kami berempat akan datang ke sana segera," kata pemuda bertopeng.
TBC
Author : Hadeh, akhirnya selesai juga bikin chapter ini. Kelihatannya ini chapter adalah chapter terpanjang yang pernah saia buat. Pegel juga ngetiknya. Udah tau siapa orang – orang yang berbicara dengan Kimichi di laptopnya?
Oke, buat yang mau kirim saran, kritik atau mau tanya soal chapter, silakan review atau PM saia langsung.
Thank udah baca fic saia yang jauh dari kata sempurna.
