Terkadang Sasuke berpikir, apakah cinta memang selalu datang di saat-saat yang tak tepat? Seperti, saat kau menginginkan sesuatu, namun sesuatu itu telah terlanjur dimiliki oleh orang lain. Padahal, saat kau belum menginginkannya dulu, benda itu masih terpajang diam tak tersentuh. Seolah terus-menerus menariknya walau saat itu tak berhasil.

Atau lebih tepatnya, sesuatu yang nyatanya telah pergi dan tak mungkin dapat diraih, akan terlihat lebih berharga.

Keputusannya menunggu Sakura di depan gerbang apartemennya bukanlah sesuatu yang tepat. Tadinya ia hanya berpikir, bahwa ada suatu hal yang harus diluruskannya di malam yang hampir pagi ini. Ada sebuah hal yang harus terselesaikan dari ucapan penuh arti yang belum sempat ia ungkapkan dalam gelapnya apartemen Shikamaru sebelumnya.

Mungkin benar, Eros telah memanahnya. Dan tak ada hal yang dirasa Sasuke salah dalam hal itu. Hanya saja, yang tak ia inginkan adalah panahan Eros yang nantinya bersarang pada Sakura. Ia hanya tak ingin Eros juga memanah Sakura dengan panah racun miliknya, seperti ia memanah Dafne.

Saat ia sudah menyerah pada cinta, ia tak ingin melihat Sakura membencinya.

Namun, bagaimana jika takdir memiliki pilihan ketiga?

Bukan hanya; Sakura yang menjadi sangat membencinya atau Sakura yang menjadi miliknya.

Tetapi, Sakura yang menjadi milik orang lain.

Maka saat angin larut malam yang perlahan menghantar pagi mulai berembus lebih kencang, Sasuke tersadar bahwa bukan hanya Eros yang tengah mengutuknya, namun juga takdir yang tengah mempermainkannya. Dan sekali lagi, memang, keputusannya menunggu Sakura di depan apartemen adalah sebuah keputusan yang sangat sangat tidak tepat. Jadi, Sasuke membiarkan dirinya bangkit perlahan memasuki gedung apartemen. Merasakan segala remuk redam dalam setiap inci rongga dadanya, juga perasaan sesak yang bahkan tak ia mengerti penjabarannya.

Meninggalkan sepasang sejoli yang saling mengecup mesra.

.

.

Two Way Arrows

—dua arah anak panah

©LastMelodya

Disclaimer: all characters belong to Masashi Kishimotoabsolutely

I warn you: AU, miss-typo, miss-OOC(?), a SasuSakuGaa fanfic, DLDR!

.

.

"Someone said; the heart was made to be broken."

.

.

Chapter 9: Broken

"Tadaima."

Sakura membuka pintu apartemen Sasuke dengan duplikasi kunci yang ia simpan. Matanya menjelajahi seluruh ruangan, dan ia menemukan Sasuke tengah terlelap dengan seluruh tubuh tertutup selimut pada sofa di ruang tengah.

Sudah berapa lama Sasuke tertidur?

Sakura menatapnya lama. Perasaannya terasa ringan, tetapi beban di pundaknya justru terasa semakin berat saat menatap wajah itu.

Ia sudah memutuskan untuk melupakan Sasuke dan menerima Gaara sebagai kekasihnya. Ini seharusnya ia manfaatkan untuk benar-benar dapat terlepas dari Sasuke. Tak perlu lagi perasaan menggebu-gebu saat melihatnya. Tak perlu lagi pengharapan penuh sebagaimana keinginannya pada Sasuke saat masa-masa High School dulu.

Lagipula, bukankah Sasuke juga sudah memiliki kekasih? Gadis berambut merah yang ia temui di Konoha Music and Art Academy saat itu. Juga gadis yang Sasuke sebut-sebut sebagai penyebab lebam biru di wajahnya.

Tak ingin lebih lama berpikir lebih jauh, gadis itu meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar tidur Sasuke. Ia butuh istirahat. Ia butuh tidur.

Sesaat setelah Sakura meninggalkan ruangan, gelutan selimut di atas sofa itu merosot perlahan sehingga menampakkan wajah Sasuke yang sama sekali belum terlelap di sana. Ia menegakkan tubuhnya dan menyenderkan punggung pada sandaran kursi. Pandangannya kosong menatap layar televisi yang menghitam, sesekali ia mendengus tanpa alasan, lalu tanpa sadar mengacak-acak rambutnya sendiri.

Apakah begini rasanya mencintai seseorang?

Tidak, tentu saja. Yeah, kecuali kalau seseorang yang kau cintai itu telah lebih dulu menerima cinta laki-laki lain. Bahkan sebelum kau sempat mengatakan apapun.

Poor you, Sasuke.

"Sasuke-kun!"

Sakura.

"Kau tak mendengarku, Sasuke-kun?"

Sakura?

"Ugh, kau melamun, Sasuke, kun!"

Sakura!

Nyut.

"Agh!"

Sasuke meringis kencang merasakan secuil daging di lengannya di cubit seseorang. Ia menoleh, menemukan seorang gadis berambut merah dan berkacamata yang kini tengah menatapnya dengan pandangan nyalak.

"Ada apa, Sasuke-kun?" pandangan gadis itu akhirnya meelmbut seiring dengan ekspresi khawatir yang tercetak jelas pada wajahnya.

Aku melamun di saat mengajar Karin? Batin Sasuke seraya mendengus pelan.

"Tidak. Sampai mana tadi?" balas Sasuke akhirnya. Ia tahu, Karin bisa menjadi seseorang yang sangat cerewet kalau ia mau. Maka, mengalihkan pembicaraan aalah satu-satunya ide yang terbaik.

Gadis itu hanya menatap Sasuke penasaran sekali lagi, sampai akhirnya menyerah dan kembali memetik gitar metalik milik Sasuke (yang merupakan hadiah darinya, by the way), dan meneruskan memecahkan kunci-kunci yang ada pada kertas di hadapannya.

Sasuke memijit pangkal hidungnya perlahan. Pikiran dan badannya seolah melayang entah kemana. Seeprtinya ia tak enak badan, karena sedari tadi terus kehilangan konsentrasi.

Saat ini ia tengah berada di kediaman Karin—muridnya, kalau bisa dibilang seperti itu. Biasanya, hal ini menjadi hal yang sangat menyebalkan bagi Sasuke, karena saat melatih gadis itu, Sasuke pasti akan terus mendengar ocehan-ocehan tidak penting serta sikap agresif Karin padanya. Namun entah mengapa, saat ini ia merasa terasing. Seolah tak sadar dengan sekitar. Bahkan teriakan gadis berambut merah itu tadi tak berhasil mengindari dirinya dari pikiran lamun.

Justru dalam pikirannya, ia merasa seruan Karin tadi adalah suara Sakura yang memanggilnya.

Lagi-lagi ia hanya mendecih kecil. Mengingat bahwa sudah beberapa lama ini Sakura memanggilnya tanpa sufiks. Seolah mereka hanyalah kedua orang teman, yang tak pernah merasa intim sebelumnya. Padahal, Sasuke ingat, bagaimana suara ceria gadis itu saat memanggil namanya dengan akrab.

"Aku tak mengerti kunci yang ini, Sasuke-kun."

Sasuke kembali menoleh dan menangkap iris merah Karin. Gadis itu menunduk untuk menunjukkan bagian kunci mana yang ia tak mengerti. Kemudian dengan sigap menyerahkan gitar di tangannya kepada Sasuke.

Sasuke menerimanya tanpa minat penuh. Ia melirik sekilas pada partitur-partitur nada yang Karin tunjuk, kemudian memainkan gitarnya tanpa kesulitan sedikit pun.

Sesekali ia memetik senar seraya menjelaskan apa-apa saja yang harus gadis itu lakukan dengan kunci itu. Bagaimana posisi tangannya menahan, serta jari-jemarinya yang perlahan memetik dan sesekali melakukan tapping pada tubuh gitar.

Pria itu jadi kembali mengingat Sakura, gadis itu tak pernah sekalipun meminta Sasuke mengajarkannya bermain gitar. Walaupun tangannya sudah terbiasa memegang gitar tua Sasuke, tetapi Sakura tak pernah bisa bermain gitar. Yang gadis itu hasilkan hanyalah sebuah petikan sumbang tanpa nada yang terkadang membuat Sasuke mengernyit mendengarnya. Bunyinya sangat mengganggu, tetapi wajah gadis itu saat memainkannya seolah sangat menikmati.

Hingga akhirnya, lama-kelamaan Sasuke menjadi terbiasa dengan nada sumbang itu. Ada senyum yang ia utarakan, tetapi bukan karena mendengar nadanya, namun karena melihat wajah menikmati Sakura yang menenangkan.

"Kau melamun lagi, Sasuke-kun."

Sasuke tersadar dan lagi-lagi menoleh ke arah Karin. Gadis berkacamata itu tengah tersenyum heran kepadanya.

"Yang tadi itu nada teraneh yang pernah kudengar dari permainan gitarmu." Karin mengangkat alis berukirnya heran seraya menunjuk-nunjuk kunci nada pada kertas di hadapan mereka.

Sekali lagi Sasuke meringis pelan.

Barusan saja, tanpa sadar ia memainkan nada-nada sumbang yang selalu dimainkan oleh Sakura.

"Angkat loyangnya, forehead!"

Sakura mendelik kesal ke arah Ino yang tengah sibuk memunggunginya. Sahabat pirangnya itu tengah sibuk memotong-motong stroberi serta kiwi yang akan dijadikan garnis pada brownies 'belum jadi'-nya.

Dengan berat hati, akhirnya Sakura bangkit dari duduk santainya di bangku makan dapur Ino. Sebelah tangannya masih asyik memegang ponsel yang tertempel di telinganya. Sesekali terdengar sayup-sayup pembicaraannya dengan seseorang di ponsel itu.

"Uhm, seperti bisa. Pukul berapa?"

Sakura melangkah pelan ke arah oven di sudut dapur itu. Gadis itu melirik singkat ino yang seeprtinya masih sibuk dengan buah-buahan di tangannya.

"Iya. Aku tak ada acara apa-apa."

Ia memiringkan kepalanya, menempatkan ponselnya yang masih tersambung dengan panggilan seseorang di antara bahu dan telinganya. Kedua tangannya kini mematikan oven dan mengeluarkan satu loyang besar kue beraroma lezat yang baru saja matang.

Gadis itu mengambil alas berbentuk piring besar datar dan menuangkan kue dalam loyang itu sehingga kini terbentuk di atas piring.

"Baiklah, sampai bertemu, Gaara."

Sakura membawa piring besar berisikan kue brownies itu ke hadapan Ino. Kali ini siap untuk menghiasnya.

"Selamat sore, aku juga merindukanmu."

Ino terusik dengan kalimat terakhir Sakura sebelum akhirnya gadis berambut merah muda itu memutuskan panggilannya. Ia menghentikan pekerjaannya sesaat untuk menoleh dan menatap Sakura lekat-lekat, yang sama sekali tidak ditanggapi gadis itu.

"Apa maksudnya 'aku juga merindukanmu', hm?"

Sakura hanya menoleh sekilas, mengulurkan tangan untuk mengambil beberapa buah yang telah ino iris dan menaburkannya ke atas brownies. "Kurasa kau lebih mengerti artinya, pig." jawabnya tak acuh.

Ino mendelik kesal, kali ini ia sudah tak tertarik dengan buah-buahan yang sedari tadi sempat menyita perhatiannya. Tatapannya lurus dan menuntut kepada Sakura.

"Tapi tidak jika kau mengatakannya untuk Gaara." ucapnya penuh penekanan.

Yang ditatap hanya menghela napas pelan, sebelum akhirnya memberikan senyuman ganjil kepada Ino.

"Aku dan Gaara pacaran. Apa cukup jelas?"

Ada kegetiran yang Ino rasakan dalam setiap kalimat yang diucapkan Sakura itu. Bukan, ia bukannya terkejut atau apa. Ia tahu, bahkan sangat tahu kalau Gaara menyukai Sakura dari setiap gerak-geriknya. Itu sudah terlihat sejak mereka masih berstatus sebagai siswa-siswi High School. Yang menjadi pertanyaannya adalah; mengapa Sakura menerimanya?

"Kenapa … kenapa kau menerimanya?" ino tak tahan untuk tak mengeluarkan segala isi benaknya. Maka dari itu, ia pun menanyakannya secara terang-terangan.

Emerald Sakura menyipit heran. "Mengapa kau bertanya seperti itu? Gaara pria yang baik, pig. Kupikir tidak ada alasan untukku menolaknya."

Benarkah?

Yeah, Ino tahu itu. Gaara memang pria yang baik. Sangat baik malah. Tetapi, bukankah yang Sakura suka adalah…?

"Jangan memandangku seperti kau memandangku di High School dulu, Ino." Sakura berujar pelan, Ino hampir terbelalak mendengar Sakura memanggil namanya dengan benar. "Aku tidak boleh terus-terusan terjebak pada masa lalu."

Ino mengerti apa maksud sahabatnya itu. Ia sangat mengerti. Bagaimana dulu Sakura selalu merasakan perasaan bertepuk sebelah tangan pada … Sasuke. Bagaimana di ujung telepon Sakura menangis semalaman sebelum keberangkatannya ke London saat menceritakan betapa sulitnya ia pergi dari Sasuke.

Tetapi Ino tak tahu kalau ternyata Sakura sedang berusaha membuang perasaannya jauh-jauh hingga saat ini. Karena, ia kira kepulangan Sakura kembali ke sini adalah langkah awal kedua sahabat bodoh itu untuk saling memahami perasaan masing-masing. Bukannya saling menghindar seperti ini.

"Kuharap kau melakukan semua ini dengan jujur, Sakura." balas Ino ikut berujar dengan serius. Ia melihat tatapan Sakura yang sempat kosong, saat tiba-tiba suara seseorang memecah keheningan mereka.

"Ino, aku baru saja akan—Sakura?"

Keduanya menoleh, mendapati Shikamaru tengah berdiri di samping pintu dapur. Wajah Ino berubah kesal, dan Sakura hanya tersenyum lebar pada Shikamaru.

"Ah, sepertinya Shikamaru akan lebih bisa membantumu. Sudah hampir gelap. Aku pulang, ya, pig." seru Sakura seraya mengambil clutch bag tosca yang ia letakan di meja makan. Tanpa menunggu balasan Ino, ia sudah lebih dulu melangkah keluar.

Shikamaru memandang Ino. "Ada apa?"

Ino hanya mengangkat bahu pelan dan meneruskan pekerjaannya. "Entahlah. Dan, ada apa kau ke sini, eh? Rindu padaku?"

Shikamaru hanya mendengus bosan seraya mengeluarkan trademark-nya dan berujar pelan. "Aku baru saja datang ke apartemen Sasuke namun keburu diusir hanya karena ingin menitipkan buku untuk Gaara."

"Mengapa kau tak memberikannya langsung pada Gaara saja, sih?" Ino bertanya seraya memandang kekasihnya itu heran.

"Yeah, kau tahu kalau aku jarang bertemu dengan Gaara. Maka aku berinisiatif menitipkannya pada Sasuke, karena mereka pasti sering bertemu di Konoha Music and Art Academy." jelas Shikamaru santai. "Tetapi sepertinya mereka sedang terlibat masalah. Sasuke seperti sangat kesal saat aku menyebut Gaara…"

"Eh?" Ino melebarkan kedua safirnya.

Shikamaru mengangkat sebelah alisnya tak mengerti, "hm?"

Sebuah potongan-potongan puzzle yang tadinya berserakan, kini seeprti telah tersusun kembali di kepala Ino. Ia menyeringai menyadari sesuatu.

"Sepertinya Sasuke sedang patah hati" ujarnya dengan yakin.

Sedangkan Shikamaru hanya menatap Ino, semakin tak mengerti.

"Shika-honey, Sakura baru saja jadian dengan Gaara. So, you-know-what, yang tengah terjadi pada Sasuke."

Selama beberapa saat Shikamaru terdiam. Otak jeniusnya tengah mencerna ucapan Ino yang entah mengapa sulit dimengerti itu. Hingga akhirnya, sebuah analogi tersusun di dalamnya.

"Maksudmu Sasuke patah hati karena itu? Dan itu alasannya menjadi sangat marah saat aku menyebut nama Gaara?"

"Absolutely." jawab Ino mantap.

"Sasuke bodoh."

Ino hanya tertawa menanggapi ungkapan Shikamaru itu. Namun, tetap saja ia membenarkannya.

Sasuke bodoh. Sakura juga bodoh.

Mereka membiarkan hati mereka masing-masing tersesat dalam kesalahpahaman yang mereka buat sendiri. Hingga tanpa sadar…

they're both have same broken.

.

.

To be Continued

.

.

Author's note:

Thanks for continually support, guys (: maaf kalau mengecewakan. I've trapped with this writer's block :( padahal sedang banyak-banyaknya proyek yang harus kutulis. Dan semoga setelah ini aku menjadi bersemangat untuk menulis lagi. xD

This is for you; Resa, Sakuhime-chan, Luca Marvell, Iqma96, E.S Hatake, hanazono yuri, Aozora Straw, Ai Nekozawa Dark Angel, Pinky Kyukyu, Ricchi, Azuka-nyan, Afrillia Haruno, QRen, Audy Rai, TomatoPrince, lily flower, naluna Osh, Tamii-hayashida, ay, flower sakura-chan, Akiko Rin, Ramen panas, Dypa-chan, Mizuira Kumiko, Chichoru Octobaa, Kiki RyuEunTeuk, playgirl, Guest, Universal playgirl, Guest, Chikia, and Antares (hello! Selamat datang di FNI:))

And all who have read, favorited, and followed. You guys are rock \m/

Lastly, gimme more feedback? RnR, please (:

LastMelodya