My Little Family
Chapter 9
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Story by Sora Hinase
Pairing : SasuHina, NaruSaku
Rated : T
Genre : Romance, Family
Warning : OC, OOC, setting Canon, dsb.
Happy Reading ^^
.
.
"Atau jangan-jangan kau takut memiliki anak cacat?"
"Kami-sami, Hinata bagaimana bisa kau berfikiran seperti itu? Aku akan menerima mereka, seperti apapun keadaan mereka karena mereka darah dagingku sendiri, aku hanya mencemaskan kondisimu Hinata," ujarku seraya duduk di tepi ranjang Hinata.
"Aku baik-baik saja Anata, aku ingin mempertahankan mereka," ujar Hinata seraya bangkit dari posisi tidurnya aku membantunya untuk duduk bersandar.
"Kita akan membicarakan hal ini dengan Tsunade-sama."
.
.
.
.
.
Semakin hari kondisi Hinata semakin menurun dan kabar kondisi kesehatan Hinata justru menjadi gosip terhangat, banyak orang yang bilang jika anak kami akan terlahir cacat, ada juga yang menyalahkanku karena jika Hinata bukan mengandung keturunan Uchiha mungkin kondisi Hinata tak akan separah ini, tapi ada juga yang menyalahkan kondisi Hinata yang lemah - hal ini yang paling membuatku geram-.
Ini sudah satu minggu sejak pendarahan yang Hinata alami, pendarahannya memang sudah berhenti tapi kondisi Hinata justru semakin menurun oleh karena itu Tsunade-sama melarang Hinata untuk keluar dari rumah sakit, bahkan semua prosesi pemeriksaan yang dilakukan kepada Hinata dilakukan langsung oleh Tsunade-sama.
"Jika kau tak dapat menerima kehadiran anak yang mempunyai kekurangan, aku tak keberatan menjadikan anak itu sebagai adik Hanabi," ujar Otou-sama yang saat ini sedang berdiri menghadap pemandangan di luar jendela, sementara aku duduk di tepi ranjang Hinata.
"Bagi saya yang terpenting saat ini adalah keadaan Hinata, saya akan menerima apapun kondisi anak kami dan saya berjanji saya tak akan menikah lagi ataupun meminjam rahim perempuan lain karena bagi saya hanya anak yang lahir dari rahim Hinata yang akan menjadi anak kami," ujarku sambil membelai rambut Hinata yang saat ini tengah tertidur pulas.
"Aku percaya padamu, Sasuke," ujar Otou-sama, sebelum pergi meninggalkan ruangan ini Otou-sama sempat menepuk bahuku sekali, yang aku artikan sebagai tanda dukungan.
.
.
.
.
.
"Tadi Sakura bercerita katanya Temari-san sudah melahirkan, Ino-chan juga sekarang sedang hamil. Apa aku bisa ikut melihat generasi Konoha berikutnya?" tanya Hinata, saat ini kami sedang berada di taman rumah sakit Konoha dengan Hinata yang berada di kursi roda dan aku yang mendorongnya.
"Percayalah rencana Kami-sama yang terbaik bagi kita, ayo kembali Tsunade-sama sebentar lagi datang," ucapku seraya mendorong kursi roda Hinata kembali ke ruang inap.
"Jika kau tetap mempertahankan kandunganmu, aku tak menjamin jika nyawamu akan selamat," kata Tsunade-sama kepada Hinata saat pemeriksaan telah selesai, ingin sekali aku menangis saat itu juga tapi aku tak mau menambah beban pikiran bagi Hinata.
"Aku ingin mempertahankannya apapun yang terjadi," ucap Hinata dengan penuh keyakinan walaupun aku melihat ada air mata yang mengalir di pipinya.
"Dengarkan aku Hinata, bagiku yang terpenting adalah aku dapat hidup bersamamu aku tak perduli jika klan Uchiha akan berakhir tapi aku mohon Hinata sayangi nyawamu," ujarku sambil menggenggam kedua tangan Hinata yang saat ini tengah berbaring di ranjang sedangkan Tsunade-sama ada di sampingku.
"Kau tak menyayangi mereka Sasuke?"
"Aku menyayangi mereka, sangat Hinata tapi jika dengan kehadiran mereka aku kehilanganmu, aku lebih memilih untuk tak memiliki mereka."
"Jika kau benar-benar menyayangiku, kau akan mendukungku. Aku mohon Sasuke, izinkan aku melahirkan mereka seandainya aku tak selamat kau bisa menikah dengan perempuan lain, seandainya anak kita tak sempurna jika aku tetap hidup aku, aku akan membesarkan mereka sendiri dan kau bisa menikah lagi."
"Sejujurnya kau anggap aku ini apa, Hinata?" jujur saja aku terluka dengan kata-kata Hinata.
"Begini saja, kita akan coba 2 bulan, usia 7 bulan sudah cukup kuat untuk dilahirkan tapi jika sebelum masuk usia 7 bulan kondisimu semakin memburuk, kita harus mengangkatnya, Hinata."
"Maksud Tsunade-sama, anak kami akan lahir prematur?" tanyaku.
"Iya Sasuke, prematur atau tidak sama sekali. Dan kau harus tinggal di rumah sakit sampai bayi kalian lahir, Hinata."
.
.
.
.
.
Hinata POV
"Aku iri sekali denganmu, Sakura," ucapku pada Sakura yang sedang mengupaskan apel untukku.
"Iri kenapa?" Sakura menghentikan aktifitasnya mengupas apel dan menatapku bingung.
"Hidupmu sempurna Sakura, kau menikah atas dasar cinta, kau telah mempunyai malaikat kecil, keluarga kecilmu bahagia, kau kuat, kau pintar, dan segala kelebihanmu,sedangkan aku? Hanya bisa menjadi beban bagi Sasuke."
"Kamu masih belum bisa mencintai Sasuke, Hinata?"
"Tidak, tentu saja tidak," aku cukup terkejut dengan kesimpulan Sakura," aku sangat mencintai Sasuke, aku hanya merasa akan lebih baik jika sejak awal aku tak pernah hidup."
"Seharusnya kamu bersyukur Hinata, kamu bisa mendapatkan Sasuke yang digilai banyak gadis, dulu kamu selalu bisa membangkitkan semangat Naruto saat bertarung sementara aku tak dapat melakukan apapun, namamu akan tercatat di buku sejarah sebagai Ibu bagi klan Uchiha, kamu pandai mengurus urusan rumah tangga sedangkan aku sampai saat ini aku bahkan belum bisa memasak, terkadang aku juga merasa iri denganmu, Hinata tapi semua orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing," aku terdiam mendengar penuturan Sakura.
"Ini makan dulu apelnya," kata Sakura sambil menyodorkan sepotong apel yang telah dikupas," oh iya nanti malam teman-teman akan datang kemari menjengukmu," lanjutnya.
"Kamu di sini bagaimana dengan Rura, Sakura?"
"Tenang saja Rura sedang bersama orang tuaku," jawab Sakura dengan senyum di bibirnya.
Aku sangat beruntung memiliki keluarga, suami dan teman-teman yang menyayangiku, mereka mendukungku untuk mempertahankan kandunganku. Kami-sama lindungi anak-anakku agar mereka bisa melihat indahnya dunia.
End of Hinata POV
.
.
.
.
.
Aku sedang berada di tempat latihan tim 7 dulu bersama Naruto, kami hanya sedang mengenang masa-masa dulu, kami tak pernah akur, walaupun aku tak pernah mengakuinya secara terang-terangan tapi aku selalu merasa kagum dengan kehebatan Naruto, dia seperti tak mempunyai aura negatif berbeda sekali denganku yang hanya mempunyai aura negatif. Waktu berlalu begitu cepat dan sekarang kami sudah bukan seorang bocah lagi, Naruto telah mencapai semua cita-citanya dan aku ikut berbahagia atas hal itu.
"Naruto bolehkah aku meninta sesuatu?"
"Kenapa kau jadi mellow begini, Teme?" tanya Naruto heran.
"Hinata adalah jiwaku, jika aku kehilangan Hinata, aku tak akan bisa untuk tetap bertahan hidup jika hal itu terjadi maukah kau menjadi wali anak-anakku dan membuat mereka jadi orang hebat sepertimu?"
.
.
.
TBC
Terima kasih buat yang udah ngedukung fic ini ^^
Yg udah review chap kemarin
aindri961, kensuchan, cikiciku, Quinn Agatha Dias, kiiroi, , desuka yorena, dwi2, Hinataholic, Luluk Minam Cullen, chan, Guest, Pochi, Renita Nee-Chan, hana37
hai minna sora update kilat nih ^^
makasih ya buat semua saran namanya, maaf sora ga bisa bikin cerita yang panjang dan masalah pov nikmati saja yang sudah ada hehe...
ikuti terus kelanjutan fic ini y? tinggal 2chap lagi nh :)
review lagi? ^^
