Baby, I'm Not A Monster..!
Fandom: Naruto
Disclaimer: masashi kishimoto
Pairing: SasuFemNaru
Genre: Romance& hurt/comfort
Rate: T
Warning: AU, OOC abis, typo, abal,tema dipertanyakan, gaje, don't like don't read. No flame please.
Baby, I'm Not A Monster..!
" Shikamaru..." kalimat Naruto terdengar menggantung. Ia resah.
" Jangan diteruskan. Cukup."
" Shika..." sekali lagi, Naruto memanggil namanya dengan nada penuh rasa penyesalan.
" Aku tahu, jangan bahas sekarang." Shikamaru menghadap Naruto. Ia tersenyum lembut. Entah mengapa Naruto merasa senyum itu penuh rasa sakit. Ia tak berani menatap mata Shikamaru lama. Ia takut jika ia kembali mengingat rasa sakit yang timbul. Ia terlalu takut untuk mengingat apa yang pernah ia rasakan pada Shikamaru.
Semua ini seolah seperti mimpi buruk yang tak henti-hentinya menghantui Naruto. Rasa sakit yang selama bertahun-tahun ia abaikan seolah kembali terkoyak oleh kenangan yang kembali diputar. Mata yang masih sama. Mata malas namun penuh daya. Ia tahu, semua sudah berubah. Semua sudah tak seperti dulu lagi. Ia mencintai Sasuke. Perasaannya tak sama lagi. Perasaannya sudah berubah seiring tetesan kasih yang menghancurkan karang pertahanan rasanya pada Shikamaru.
Ia tak ingin menghianati kepercayaan dan pengorbanan yang Sasuke lakukan. Ia tahu bagaimana kerasnya usaha Sasuke untuk membuatnya tetap hidup. Ia tahu itu. Ia faham bagaimana rasanya terluka. Dan ia tak mau menjadi salah satu orang yang melukai Sasuke. Sekalipun hanya segores. Ia ingin menjaga kepercayaan dan pengorbanan itu. Yang ia tahu, ia hanya harus bertahan dan menjaga hatinya.
Tak tahukah dia jika Shikamaru juga selalu menjaga hatinya untuk Naruto?
" Kau tahu, selama di Hokaido aku tak pernah berpacaran dengan siapapun. Karena aku percaya. Kau selalu ada." Ucap Shikamaru getir. Pahit terasa saat kalimat itu terucap.
Naruto tertegun. Terasa sebuah peluru menembus jantungnya.
Kali ini dia tahu bahwa sebenarnya dia sendiri yang telah menghianati janji yang telah ia buat. Dia yang berhianat pada harapannya. Pada cita-cita yang sudah ia tetapkan.
Seolah berada pada jalan yang buntu, Naruto tersudut. Entah apa yang akan dia ucapkan saat ini. Masih pantaskah ia mendapat cinta dari sang Nara? Masih pantaskah ia dimaafkan? Ia tahu, Shikamaru terluka lebih dari yang ia bayangkan selama ini. Seandainya ia bisa memutar waktu apakah ia akan memilih untuk tidak berjanji? Atau ia memilih untuk tak bertemu dengan Sasuke dan memutuskan untuk mencintainya? Melihat itu, Naruto melenguh, tak ada pilihan yang bisa ia pilih. Karena semua itu bukan pilihan. Itu takdirnya.
Sangat konyol jika semua ini hanya dia balas dengan senyuman penuh paksaan dan dengan kalimat 'maaf Shikamaru, kau tahu kan aku sudah bersuami?'. Itu kebodohan terbesar yang pernah ia lakukan jika ia benar-benar melakukan itu.
Apakah mungkin?
Apakah mungkin Shikamaru benar-benar menjaga hatinya seperti itu? Sedangkan dia sama sekali tidak. Tidak sedikitpun terpikir olehnya jika Shikamaru bisa seperti itu. Dulu, ia pikir Shikamaru akan melupakannya dan memilih gadis Hokaido yang cantik melebihi dia. Tapi dia keliru. Dia keliru menilai Shikamaru. Di mengaku mengenal Shikamaru, tapi sesungguhnya dia sama sekali tak mengenalnya. Shikamaru mencintainya, Shikamaru setia. Kenapa dia tidak? Dan kenapa dia tidak menyesal? Dia tidak menyesal memilih Sasuke sebagai teman hatinya. Dia tidak menyesal Sasuke menikahinya tanpa persetujuannya karena ia tahu, Sasuke melakukan itu karena ia mencintainya. Ia tahu pasti bahwa semua itu demi dia. Tapi, tak tahukah dia jika Shikamaru juga melakukan itu untuknya? Untuk rasa yang selalu ia jaga? Kenapa ia tidak adil? Kenapa ia begitu jahat pada Shikamaru?
Dia merasa kalah.
" Kau tidak bercanda, kan?" suara Naruto terdengar bergetar. Bukan karena ia ingin menertawakan betapa tidak lakunya Shikamaru. Hei, jika Shikamaru mau, ia bisa mendapatkan puluhan wanita Hokaido hanya dengan menjentikkan jarinya. Itu mudah. Tapi bukan itu. Suaranya bergetar karena ia menahan rasa sakit yang perlahan naik ke ulu hatinya. Menohoknya pada kenyataan bahwa ia penghianat.
" Kau tahu, aku tidak memiliki selera humor yang cukup baik Naruto.." Shikamaru mendengus. Terdengar kekehan kecil keluar dari bibirnya yang menurut Naruto seperti lagu kamatian.
" A-aku tidak menyangka saja. Ku rasa kau bisa mendapatkan gadis Hokaido dengan mudah.."
" Kau tidak berfikir bahwa aku tidak laku, kan?"
" Tentu saja tidak." Sergah Naruto cepat. Tidak mungkin Shikamaru tidak laku.
Shikamaru tersenyum. Wajahnya menengadah ke langit. " Karena aku sangat menjaganya."
Empat kata itu seolah memenggal leher Naruto.
Ya, Naruto merasa kata-kata itu seperti petir yang menyambarnya. Sekarang ia tahu siapa yang salah, sekarang ia tahu siapa yang terluka. Bukan dia. Tetapi sebaliknya. Dialah yang melukai, bukan hanya Shikamaru, tetapi juga Sasuke. Sasuke mungkin akan sangat terpukul mengetahui bahwa istri tercintanya telah berjanji pada pemuda lain untuk menjadi pengantinnya. Ironis.
Jadi, siapa yang menjadi tersangka kali ini?
Mencoba berlagak bodoh, Naruto menatap mata Shikamaru takut-takut. " Menjaga apa?"
Shikamaru hanya tersenyum kecil, mungkin dia tahu jika Naruto hanya berpura-pura. " Ini.." Shikamaru menunjuk dadanya. Ia tersenyum getir penuh kepahitan.
Naruto menelan ludahnya paksa. Terbayang betapa sakitnya hati Shikamaru saat ini. Oh, tidak, ia harus bertindak. Tidak mungkin jika ia terus-menerus membiarkan perasaan ini muncul sedangkan kenyataannya sekarang sudah jauh berbeda.
Kepala Naruto tertunduk. Sudah cukup semua ini terjadi. Tak ada yang harus diteruskan. Tak ada sedikitpun.
" Maafkan aku, Shikamaru." Ucap Naruto parau.
" Kenapa kau harus meminta maaf? Kau tak melakukan kesalahan.."
" Aku bersalah padamu.."
" Aku yang salah, aku yang tak memberimu kepastian tentang rasamu." Shikamaru bangkit dan menghela napas panjang. " Dan ini yang harus kuterima. Kupikir kau akan bahagia bersama Sasuke.."
" Sekali lagi maafkan aku. Aku sangat mencintai Sasuke."
" Ya, aku tahu. Tapi..."
" Tapi apa?"
" Ijinkan aku untuk tetap mencintaimu untukku sendiri.."
"Shikamaru..." mata Naruto berkaca-kaca. Dosanya terlalu besar baginya. Membiarkan orang lain mencintainya, tanpa ada rasa sedikitpun di hatinya. " Kau tahu, itu akan menyakitimu..."
" Sekalipun begitu, aku rela menanggung rasa sakit itu. Aku hanya ingin kau menjaga kepercayaan Sasuke padamu. Dia sangat mencintaimu lebih dari dirinya sendiri."
" Terima kasih, Shika..."
" Anything for you.." ucap Shikamaru lirih. Ia berbalik meraih pegangan kursi roda Naruto dan mendorongnya pelan melintasi jalan setapak kecil yang mulai sepi.
Tak ada suara yang tercipta. Hanya ada isak tertahan dari bibir Shikamaru dan bulir-bulir air mata yang jatuh membasahi punggung tangannya.
Ia akan berkorban lagi.
Shikamaru terdiam di balik meja kerjanya. Matanya meneliti tiap lekuk langit-langit yang tampak putih bersih. Ia menghela napas kasar. Terasa amat sangat sesak di ulu hati. Entah rasa sakit seperti apa ini sehingga ia begitu rapuh dan jatuh. Semua itu seolah seperti ribuan jarum yang menghujaninya. Berkali-kali ia coba tegar. Ia coba tersenyum. Toh, pada akhirnya ia sendiri yang terluka. Shikamaru hanya manusia biasa. Tak ada yang istimewa. Ia akan merasa sakit jika terluka. Ia akan marah bila tersakiti. Tapi apakah Naruto pantas mendapatkan kemarahannya? Itu semua kesalahannya yang pergi tanpa kepastian untuk Naruto.
Ia terdiam. Ia datang ke Konoha bukan untuk melihat kenyataan ini. Ia datang untuk menjadikan Naruto sebagai pengantinnya. Berharap ia dapat memberikan kejutan pada Naruto, nyatanya Ia dikejutkan dengan keadaan Naruto yang saat itu koma, dan kenyataanya bahwa Naruto telah menjadi milik Sasuke untuk selamanya.
Ini menggelikan.
" Kau mau pre-wedding kapan, Naru?" Tanya Sasuke sambil meletakkan sebuket bunga lili di vas bunga.
Naruto tak menyahut, dia hanya diam menatap ke luar jendela tanpa bergeming sedikitpun.
" Kau melamun.." Sasuke yang sudah berdiri di belakang kursi roda tiba-tiba bersuara. Membuat Naruto agak berjenggit.
" Tidak..."
" Kenapa kau diam?"
" Kau tadi tanya apa, Sasuke...?"
" Kau benar-benar melamun. Apa ada sesuatu yang menggangggumu?"
" Ti-tidak.." Naruto menggelengkan kepalanya kasar. Mengusir bayangan aneh yang sejak tadi menari-nari di kepalanya.
" Lalu kenapa kau melamun? Akhir-akhir ini kuperhatikan kau selalu melamun. Apa ada sesuatu?" ternyata Sasuke mulai mencium gelagat aneh dalam diri Naruto.
" Tidak Sasuke. Hanya saja aku bosan terus-menerus berada di rumah sakit. Kapan aku sudah boleh pulang?"
" Entahlah, aku akan menemui dokter nanti. Semoga kau bisa cepat pulang.
'ya, semoga. Agar aku tidak terus-menerus merasa bersalah pada Shikamaru.' Batin Naruto.
" Ya," jawab Naruto singkat sebelum Sasuke mengecup bibir Naruto singkat. Membuat wanita cantik itu mengerucutkan bibirnya, tanda merajuk.
Naruto ingin sekali segera pergi. Ia ingin sekali menjauh dari tatapan mata Shikamaru. Ia sangat takut jika semuanya berubah. Ia takut jika ia kembali terjatuh pada rasanya terhadap Shikamaru. Karena jujur, dulu ia menerima Sasuke karena ia marah. Marah pada Shikamaru yang membuatnya terluka. Tapi, semakin lama ia jatuh cinta pada Sasuke. Cinta yang Sasuke berikan padanya begitu besar sehingga ia tergugah untuk memilih memberikan rasanya pada Sasuke. Dan ia telah memilih untuk mengubur impian terbesarnya kala itu.
Pagi-pagi sekali Naruto terbangun. Begitu hendak membuka mata, ia dikejutkan oleh sebuket bunga lili yang cukup besar sudah tergeletak di meja kecil. Ia mengernyit. Siapa yang mengirim bunga sepagi ini? Pikirnya. Matanya tertumbuk pada tulisan yang diselipkan di dalam bunga itu.
'tunggu sampai kita menikah.'
Eh? Menikah? Apa Sasuke yang mengirim bunga ini? Bukankah mereka memang sudah menikah? Lalu siapa?
Naruto menghirup wanginya. Sangat menenangkan. Ia tersenyum. Mungkin Sasuke memang iseng mengirim bunga sebanyak itu tanpa mengantarnya sendiri. Mungkin juga dia sedang sibuk.
Naruto berjalan santai menuju kamar mandi setelah meletakkan bunga itu kembali di atas meja. Tanpa ia sadari, sesosok siluet tengah berdiri tenang di sisi pintu kamarnya dan menyeringai puas.
Naruto tersenyum senang begitu mendapat kabar bahwa ia akan segera pulang dalam dua hari kedepan. Ia ingin segera pergi dari tempat itu dan ingin segera menghindar dari bayang-bayang Shikamaru yang seolah meneriakinya seorang penghianat. Ia tidak sanggup jika harus terus menerus terkungkung dalam pengharapan bahwa semua ini akan segera berakhir. Toh, rasa bersalah itu seolah tak memiliki akhir.
Namun berbeda dengan Naruto, Shikamaru tak ingin Naruto pergi. Ia ingin Naruto tetap ada, sekalipun hanya bisa ia lihat tanpa bisa ia sentuh. Kesimpulannya, Shikamaru bisa saja membuat Naruto dirawat dirumah sakit itu selama ia mau. Ingat! jika ia mau. Tapi Shikamaru tidak, ia seorang yang professional. Ia tak mungkin melakukan langkah bodoh jika ia masih ingin hidup dan tidak mati di tangan Sasuke. Karena ia tahu, Sasuke mulai mencurigainya sebagai penyebab utama seringnya Naruto melamun akhir-akhir ini. Itu tidak lucu.
Ah, Shikamaru tahu ia tak bisa melepaskan Naruto begitu saja. Tapi apa mungkin ia tega merebut kebahagiaan Naruto. Ia hanya ingin melihat Naruto yang ia cintai tersenyum bahagia. Meskipun bukan bersamanya. Meskipun hatinya berkata bertolak belakang. Setidaknya, di kehidupan nyata terlihat bahwa ia orang yang kuat dan dingin. Walaupun pada kenyataannya ia ingin mati saja.
Melankolis.
Sekali lagi, melankolis. Tanpa ia sadari, ia menjadi penghianat bagi hatinya sendiri. Sekaligus menjadi munafik. Bagaimana bisa ia tersenyum seperti itu jika hatinya meronta meneriakinya pengecut. Mengerikan.
Tidak! Shikamaru harus melakukan sesuatu.
Lama ia termenung hingga tak menyadari jika Naruto sudah berada di ruangannya.
" Shikamaru..." sapa Naruto pelan.
" Ah, kau rupanya. Ada apa Naruto?"
" Bisakah kita bicara sebentar? Apa kau sibuk?"
" Tidak. Sama sekali tidak. Mari." Shikamaru membimbing Naruto untuk keluar ruangannya.
Mereka berjalan beriringan. Shikamaru dengan pakaian kedokterannya dan Naruto dengan baju pasiennya. Membuat mereka menjadi pusat perhatian oleh penghuni-penghuni rumah sakit lainnya. Satu pertanyaan mereka-
-sejak kapan pasien dan dokter berjalan beriringan menuju taman belakang rumah sakit?
Jadi, sekarang Naruto dan Shikamaru hanya terdiam sejak lima menit yang lalu tanpa ada satupun yang mau membuka mulut. Naruto lebih memilih bermain dengan ujung kemeja pasiannya dan Shikamaru yang diam sembari menatap langit tanpa berkedip.
Oke, sekarang keduanya mulai muak.
" Ada apa Naru?" Shikamaru akhirnya membuka pembicaraan, takut jika hingga satu jam kedepan Naruto tetap diam.
" Aku ingin membicarakan sesuatu.."
" Ya, silahkan..."
" Kau ingat pertanyaanmu kemarin?" Naruto mulai berbicara.
" Ah itu, jangan di-" belum selesai Shikamaru berbicara, buru-buru Naruto memotong.
" Tidak. Harus kita selesaikan. Kau tahu, aku tidak tenang memikirkan ini. Kau harus tahu, sekarang aku tak tahu harus berbuat apa. Kau datng disaat yang benar-benar tidak tepat, Shika.."
" Jadi kau menyalahkanku?"
" Bukan. Sama sekali bukan seperti itu. Malah aku berterimakasih, dengan begitu, aku akan dapat menyelesaikan masalah yang tak dapat kuselesaikan selama bertahun-tahun." Ucap Naruto mantap. Matanya berkilat tajam.
" Lalu..?"
" Maafkan aku, aku sungguh mencintainya. Sasuke sudah seperti nyawa bagiku. Aku tak mungkin meninggalkannya."
" Ya, aku tahu..." jawab Shikamaru enteng seolah tak ada beban. Meskipun sebenarnya ia sangat sakit.
" Lalu, bagaimana dengan janji yang sudah terlanjur ku ucapkan shika? Aku selalu dihantui oleh janjiku sendiri..."
" Lupakan janji itu. Sekarang yang terpenting kau bisa tersenyum dengan Sasuke. Walaupun bukan denganku. Aku tak apa-apa. Percayalah."
" Kau yakin Shikamaru?"
" Aku tidak suka membuat pernyataan yang hanya berakhir dengan kebohongan."
" Terimakasih. Terimakasih karena kau sudah mengerti." Ucap Naruto lirih tanpa mau menyembunyikan air mata yang tiba-tiba terjatuh. Dia menangis.
" Ya, sudah seharusnya memang begitu.." ucap Shikamaru. Lantas ia berdiri dan seketika diikuti oleh Naruto.
" Kalau begitu aku kembali ke kamar. Esok aku akan pulang. Terimakasih Shika." Naruto berbalik meninggalkan Shikamaru yang membeku.
Entah apa yang membuat Shikamaru tiba-tiba berlari dan memeluk Naruto dari belakang membuat Naruto membeku. Tubuhnya menegang. Namun Naruto segera tahu arti pelukan itu, pelukan tanda perpisahan mungkin? Ia membiarkan Shikamaru mendekap tubuhnya lama. Membiarkan Shikamaru merekam perasaan rindu yang perlahan luruh. Shikamaru memejamkan matanya meredam air mata yang mendesak keluar. Nafasnya tercekat seiring detik-detik yang berlalu dalam diam antara mereka.
" Shikamaru..?" ucapan Naruto terputus saat suara shikamaru menginterupsinya.
" Jangan, sebentar saja. Sebentar..." lirihnya.
Tak sadar jika Sasuke sudah berada tak jauh dari mereka.
Sasuke marah. Sasuke terluka. Bagaimana bisa ia tidak terluka jika seorang wanita yang baru ia nikahi beberapa hari yang lalu sedang dalam dekapan erat pemuda lain. Terlebih dokter itu?
Buakh...!
Satu pukulan keras mendarat di sudut bibir Shikamaru membuatnya terpental dan Naruto turut terjatuh. Shikamaru mengusap sudut bibirnya pelan dan meringis. Bibirnya berdarah.
" Jadi begini? Jadi ini yang kalian lakukan jika aku tak ada? Iya Naruto?"
" Sasuke..."
" Cukup, jangan bicara lagi." Naruto tersentak. Ia tak pernah melihat nada Sasuke yang sesakit ini. " Kalian tahu, kalian membuatku terlihat seperti orang bodoh..!"
" Sasuke, kami tidak melakukan apapun.." ucap Shikamaru berusaha menjelaskan detil kejadiannya.
" Tidak melakukan apapun ya?"
" Lalu kau pikir kau tadi melakukan apa hah?!" Sasuke menununjuk-nunjuk wajah Shikamaru dan Naruto bergantian.
" Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Sasuke.." Naruto angkat bicara.
" Kau pikir aku tidak melihat apa yang kau lakukan, hah?! Lalu apa artinya ini?!" Sasuke memegang cincin yang ia kenakan. Dan mencabutnya paksa.
" Sas...!"
" Diam kau dokter sialan!"
" Sasuke-" terdengar isak tangis Naruto mulai keluar dari bibirnya.
" Lihat ini...lihat!"
Plung!
Cincin itu terlempar masuk ke dalam danau kecil yang ada di taman itu. Sasuke membuang cincinnya. Ia sangat marah pada mereka berdua. Bagaimana bisa mereka bermesraan seperti itu selama ia meninggalkan Naruto? Ini sulit dipercaya. Dan lagi, dokter sialan itu, ia sudah mengerti mengapa dokter itu tak pernah ke kamar pasien lain dan hanya berputar-putar di kamar Naruto. Ia juga faham alasan mengapa dokter itu tak mengijinkan Sasuke melihat pemeriksaan Naruto selama ini. Sial! Ia kecolongan lagi.
" Sasuke! Apa yang kau lakukan?!" pekik Shikamaru begitu melihat cincin itu masuk ke dalam kolam.
" Ini kan yang kalian inginkan?! Brengsek!"
" Sasuke? Kenapa kau buang cincin pernikahan kita?" isak Naruto, tubuhnya bergetar.
" Kita? Bagiku semua tidak ada artinya begitu aku tahu semua itu. Kau menikah denganku sedangkan kau berjanji untuk menjadi pengantin laki-laki ini."
Naruto membeku. Jadi dia sudah mendengar semua itu. Semua percakapannya dengan Shikamaru. Semuanya tanpa terkecuali.
" Maafkan aku..."
" Nikmati kebersamaan kalian. Brengsek!" Sasuke melenggang. Langkahnya terdengar sangat kasar. Hentakan kakinya begitu kasar sehingga Naruto dapat mendengar nada kemarahan dari sana. Naruto tahu, Sasuke benar-benar marah. Sangat marah sehingga ia tidak bisa membayangkan hal apa yang nanti terjadi.
Baik. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Kekonyolan apalagi in? Kemarin Gaara, sekarang Shikamaru, lalu besok siapa lagi? Haah, Sasuke hampir gila. Semua ini gila!
Dia rasa inilah titik kebodohannya benar-benar terlihat. Pecundang!
To be continue
Saya ucapkan terimakasih pada readers yang sudah berkenan review chapter-chapter sebelumnya. Terima kasih. Sudah itu saja...
Akhir kata...wassalam...tunggu chap Sembilan yah...
=review=
