Donghae baru bangun tidur ketika ponselnya berbunyi. Sambil menggerutu, tangannya menggapai-gapai ponsel yang terletak di meja disebelah ranjangnya. Suara Arlene langsung terdengar ketika Donghae mengucapkan sapaan pertamanya di ponsel.
"Pasti gara-gara Hyukjae bukan, kau meninggalkanku?"
Donghae langsung mengerutkan keningnya. Suara Arlene tampak aneh... sepertinya perempuan itu sedang mabuk. Apakah karena dirinya? Yah memang ada berbagai macam reaksi perempuan-perempuan yang dihancurkan hatinya oleh Donghae. Ada yang menangis terus menerus, ada yang marah dan mencaci maki, bahkan ada yang mengancam bunuh diri – yang akhirnya hanyalah berupa ancaman kosong.
Arlene sendiri kelihatannya berbeda, perempuan itu tampaknya depresi. Yah dari semua perempuan yang pernah diKekasihinya, Arlene memang yang paling tampak tergila-gila dan sangat posesif kepadanya... mungkin karena dia memang wanita culas yang tamak.
"Bukanlah sudah kubilang tidak ada hubungannya dengan Hyukjae, Arlene? Dan kau mabuk di pagi hari, sungguh memalukan, seperti tidak ada kegiatan lain saja."
"Memalukan?" Arlene tertawa histeris, "Kaulah yang membuatku seperti ini. Hari-hariku selalu dipenuhi penantian saat aku berjumpa denganmu, dan sekarang kau mencampakkan aku begitu saja seperti sampah!"
"Seharusnya kau tahu bahwa itu akan terjadi kepadamu ketika kau memutuskan mengambil resiko untuk memacariku." Donghae bergumam dengan suara dingin, "Perbaiki dirimu dan enyahlah dari hidupku!" Setelah dengan sengaja mengucapkan kata-kata yang cukup kasar tersebut, Donghae memutuskan pembicaraan mereka.
®Embrace The Chord
Arlene menatap ponsel di tangannya dengan tatapan mata nanar. Ini bukan Donghaenya. Kenapa Donghae bersikap begitu kejam kepadanya? Kenapa Donghae berubah begitu cepat? Mencampakkan dan menyakiti-nya? Ditenggaknya minuman berwarna keemasan dari botol kaca di meja riasnya. Minum adalah salah satu pelampiasannya untuk mem-pertahankan dirinya, kalau tidak mungkin dia sudah gila.
Mata Arlene yang kuyu setengah mabuk menatap dirinya sendiri di cermin. Meskipun penampilannya berantakan, tidak mengenakan riasan dan masih mengenakan gaun tidurnya, Arlene tahu dia tetap cantik.
Arlene memang dilahirkan cantik jelita meskipun dia merasa dirinya kurang beruntung karena dilahirkan di keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah, ibunya yang memimpikan anaknya yang cantik bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik, sengaja membanting tulang untuk memasukkannya ke sekolah elite dengan harapan Arlene bisa menggaet salah satu lelaki kaya yang bersekolah disana dan menjadikannya suaminya.
Dan memang kecantikan Arlene membuat para lelaki tertarik kepadanya, sampai akhirnya Arlene memilih mangsa yang paling besar, seorang lelaki yang dua puluh tahun lebih tua darinya dan dijadikannya suaminya.
Suaminya benar-benar membawa Arlene naik dalam kelas sosialnya, karena suaminya sangat kaya dan mempunyai pengaruh yang sangat besar di bidang musik.
Tetapi rupanya pernikahan mereka tidak bertahan lama, kelakuan Arlene yang suka mencari lelaki-lelaki muda untuk memuaskan sikap manjanya rupanya membuat suaminya muak dan menceraikannya. Untungnya Arlene punya pengacara yang cukup handal sehingga bisa menghasilkan banyak uang dari perceraiannya, toh suaminya masih saja kaya meskipun harus membayarnya dengan begitu besar.
Saat ini Arlene hidup bermewah-mewah dengan harta bagian dari perceraian-nya, bergonta-ganti Kekasih sesukanya dan menikmati masa menjanda-nya... sampai kemudian dia bertemu dengan Donghae.
Donghae... ah lelaki itu begitu mempesona, dengan sikap sopan dan senyumnya yang menawan... dan wajahnya itu... kesempurnaan wajahnya mungkin bahkan telah membuat dewa dan dewi menangis karena iri... Reputasi Donghae sudah terkenal, Arlene bahkan mengenal salah satu dari perempuan yang dicampakkan Donghae.
Tetapi sikap Donghae kepadanya sangat baik dan penuh kelembutan, membuat Arlene percaya bahwa Donghae telah berubah, bahwa Donghae telah membuka hati untuknya dan bahwa Donghae benar-benar mencintainya, dan kemudian setelah sekian lama bersama Donghae, Arlene terperosok semakin dalam mencintai lelaki itu, menyerahkan seluruh hatinya tanpa perlindungan sama sekali.
Matanya masih nanar menatap bayangannya di cermin... disentuhnya pipinya, dirasakannya kelembutan disana. Pipinya masih halus bukan? Biasanya Arlene selalu memeriksa setiap inci kulit wajahnya dengan teliti... di usianya yang sudah berkepala tiga, dia sadar bahwa dia harus benar-benar menjaga kecantikannya... makanya setiap dia menemukan sedikit saja keriput, Arlene langsung panik dan meng-hubungi dokter ahli kecantikan langganannya untuk menyuntikkan botox ataupun melakukan apapun untuk menghilangkan keriput itu.
Dia ingin tampak muda, cantik dan menarik, apalagi ketika berjalan berdampingan dengan Donghae yang luar biasa tampan. Dia ingin mereka tampak sebagai pasangan yang serasi. Dan sebenarnya dia sudah berhasil selama ini... sampai kemudian anak perempuan ingusan itu muncul. Anak itu tidak cantik menurut Arlene, masih lebih cantik dirinya. Tetapi kemudaan dan kesegaran Hyukjae terasa mengancam, membuatnya merasa seperti perempuan tua yang sudah layu... apalagi kulit Hyukjae begitu mulus dan halus, memancarkan keranuman masa mudanya, membuat Arlene me-mendam rasa iri luar biasa.
Donghae pasti berpaling kepada Hyukjae karena kemudaan dan keranuman Hyukjae. Perempuan ingusan itu mungkin membuat Donghae tertarik karena berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah diKekasihi Donghae sebelumnya, dan Arlene yakin kalau Donghae meninggalkan dirinya karena Hyukjae. Dia tidak boleh membiarkan Hyukjae memiliki Donghae. Dia akan menghancurkan Hyukjae sebelum itu terjadi.
®Embrace The Chord
Jadi apa yang akan dilakukannya hari ini? Hari ini masih libur panjang dan dengan menyedihkan dia hampir menggunakan seluruh waktunya untuk merenung sendirian di kamar, mempelajari literatur musik klasik yang sebenarnya sudah sangat dikuasainya.
Donghae menatap dirinya di cermin dan menggerutu dalam hati. Baru kali ini dia sadar bahwa dirinya hampir tidak punya teman untuk sekedar menghabiskan hari libur bersama. Teman-temannya sudah berlabuh dan menemukan belahan jiwanya masing-masing sehingga memutuskan menghabiskan hari liburnya bersama pasangannya.
Tinggal Donghae sendirian tanpa pasangan dan tanpa cinta dalam hidup-nya. Bagaimanapun juga ini adalah jalan yang dipilihnya, jalan yang penuh dengan dendam dan kebencian masa lalu, melampiaskannya kepada semua perempuan yang dirasa pantas.
Tetapi entah kenapa hatinya tidak pernah bisa puas? Semakin dia menyakiti perempuan, semakin hatinya haus untuk menyakiti lagi dan lagi. Ternyata pembalasan dendam itu tidak selalu berujung memuaskan, yang ada, jiwanya malahan terasa semakin hampa dan kosong. Tiba-tiba saja Donghae merasa amat sangat kesepian... amat sangat kesepian.
Lelaki itu menghela napas panjang dan kemudian duduk di sofa sambil memilah-milah surat-surat yang masuk untuknya, beberapa hanyalah ucapan selamat atas kesuksesan konsernya di Austria, beberapa surat-surat penting dan kemudian dia menemukan sebuah undangan pesta perjamuan makan malam untuk nanti malam, yang akan dilaksanakan di rumah salah seorang komposer terkenal yang merupakan sahabatnya.
Donghae langsung mendapatkan ide.
®Embrace The Chord
"Kenapa kau tidak pergi bersama Xian Hua?" Meskipun sakit, Hyukjae tetap bertanya kepada Zhoumi. Lelaki itu pagi-pagi sudah datang ke rumahnya dan sarapan bersama, ini sudah hampir jam sepuluh siang dan tidak ada tanda-tanda lelaki itu akan pergi.
Saat ini mereka sedang duduk bersama di bagian belakang rumah Hyukjae, duduk di sofa nyaman dengan bantal-bantal empuk dan membaca buku.
Ibu Hyukjae menyiapkan berbagai makanan kecil di piring dan sepoci limun dingin untuk mereka. Rasanya sudah lama sekali Hyukjae tidak menghabiskan hari dengan bersantai seperti ini bersama Zhoumi. Oh, tentu saja Hyukjae berharap Zhoumi akan tinggal sampai penghujung hari, seperti yang selalu mereka lakukan bersama ketika libur panjang seperti ini.
Tetapi hati kecilnya menyuruhnya bertanya. Hyukjae sudah terlalu sering terbanting harapannya atas Zhoumi, dan dia tidak mau mengalaminya lagi. Xian Hua sepertinya semakin sering menyita waktu Zhoumi akhir-akhir ini hingga Zhoumi jarang punya waktu untuk Hyukjae.
Yah, tetapi Hyukjae tidak bisa menyalahkan Zhoumi, Xian Hua sangat cantik, feminim dan merupakan impian setiap lelaki akan perempuan idamannya, jauh bertolak belakang dengan Hyukjae yang tomboy dan seperti anak lelaki.
Zhoumi mencomot biskuit keju hangat buatan Ibu Hyukjae dan tersenyum, "Aku akan berada di sini sampai sore." Gumamnya, lalu mengangkat bahunya, "Xian Hua harus mengantarkan ayahnya ke acara resmi sampai sore, rencananya kami baru akan bertemu malam ini."
Jantung Hyukjae serasa diremas, jadi Zhoumi menghabiskan waktu bersamanya hanya karena dia tidak bisa menghabiskan waktu bersama Xian Hua? Zhoumi sendiri tampaknya melihat ekspresi Hyukjae yang murung, lelaki itu tertawa, kemudian merangkul Hyukjae ke dalam pelukannya,
"Hei maafkan aku, akhir-akhir ini aku tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersamamu, tapi kuharap kau mau mengerti ya Hyukjae, Xian Hua tidak lama berada di Indonesia, dia akan kembali ke sekolahnya akhir bulan nanti, dan kami terpaksa menjalin hubungan percintaan jarak jauh."
"Percintaan?" satu kata itu langsung menempel di telinga Hyukjae, bagaikan belati yang ditusukkan di sana.
Zhoumi menganggukkan kepalanya, matanya tampak berbinar.
"Sebenarnya aku mau menceritakan kepadamu nanti, tapi aku sudah tidak sabar membagi kebahagiaanku bersamamu." Lelaki itu menggosok-gosokkan kedua jemarinya dengan penuh semangat, "Kemarin aku menyatakan perasaanku kepada Xian Hua, dan dia menerimanya."
Kalau saat itu ada petir menyambar di depan mereka, mungkin Hyukjae tidak akan seterkejut sekarang, mulutnya menganga dan wajahnya pucat pasi.
"Jadi kalian sekarang...?"
"Yap." Zhoumi tertawa, "Akhirnya setelah penantian panjangku sejak dulu, perasaanku berbalas juga. Xian Hua bilang sebenarnya sejak dulu dia sudah tertarik kepadaku, tetapi dia berpikir ulang karena dia akan segera bersekolah di luar negeri. Kemarin ketika pulang ke Korea, dia bertekad akan menemuiku dan menelaah perasaannya sendiri dan ternyata perasaan itu masih sama kuatnya. Kami akhirnya bertekad mencoba menjalani hubungan ini meskipun harus hubungan jarak jauh nantinya..."
"Bukankah Xian Hua dan ayahnya sudah menetap di luar negeri? Mereka kan hanya pulang kemari jika ada liburan panjang dan acara penting menyangkut pekerjaan ayahnya? Akan seperti apa hubungan kalian nanti? Kalian hanya bisa bertemu minimal enam bulan sekali."
Setelah menelan ludah dan menguatkan diri, Hyukjae mencoba memberikan pendapat layaknya seorang sahabat.
"Sekarang teknologi informasi sudah semakin maju, hubungan jarak jauh semakin dimudahkan, mungkin kami akan chatting setiap malam, mengobrol lewat web camera, itu sama saja kami bertemu setiap hari bukan? Lagipula kami bertahan seperti ini tidak akan lama.."
"Maksudmu?" jantung Hyukjae berdesir, selalu begitu ketika dia merasa akan menerima sebuah kabar buruk.
Zhoumi tidak memperhatikan ekspresi Hyukjae yang semakin pucat, matanya bersinar penuh tekad, memandang ke kejauhan, "Aku sudah bilang pada ayah, aku akan menyusul Xian Hua melanjutkan pendidikan-ku di luar negeri." Seketika itu juga, seluruh harapan sesedikit apapun yang masih tersisa di benak Hyukjae, tercabut paksa seluruhnya hingga bersih, sampai ke akar-akarnya.
®Embrace The Chord
Lelaki itu tertidur. Hyukjae mengamati dengan sayang Zhoumi yang tengah tertidur pulas di sofa. Dia sendiri duduk condong di depan Zhoumi, memuaskan diri untuk memandangi lelaki yang dicintainya itu selagi ada kesempatan.
Zhoumi begitu pulasnya sehingga tatatapan memuja Hyukjae ke arahnya tidak akan mengganggu tidurnya. Hyukjae mengamati wajah Zhoumi yang tampan, alis matanya yang tebal, bibirnya yang indah yang selalu digunakannya untuk tersenyum, menceriakan hari-hari Hyukjae.
Sejak dia pindah ke Indonesia, Zhoumi selalu ada untuknya, menjaga-nya sejak kecil sampai sekarang. Zhoumi adalah pusat dunia Hyukjae. Dan sekarang, Zhoumi bilang dia akan pergi ke belahan dunia lain untuk mengejar wanita yang dipujanya, mengejar wanita beruntung itu.
Ah, betapa inginnya Hyukjae mengungkapkan perasaannya kepada Zhoumi, mengungkapkan kepada lelaki itu bahwa dia ada di sini menunggu untuk dilihat, menunggu Zhoumi untuk menyadari cintanya. Tetapi di sisi lain Hyukjae merasa takut, Zhoumi begitu dekat dengannya dan sikapnya seperti menganggap Hyukjae sebagai adiknya sendiri, Hyukjae takut kalau dia mengungkapkan perasaannya, Zhoumi akan berubah sikap dan menjauhinya, apalagi jika Zhoumi memang tidak bisa membalas perasaannya, hubungan mereka pasti akan berubah menjadi kaku dan canggung...
Akan sanggupkah Hyukjae tanpa kehadiran Zhoumi di dekatnya? Tiba-tiba saja dada Hyukjae terasa sesak. Matanya terasa panas... dan kemudian, dengan nekad dan putus asa, Hyukjae menundukkan kepalanya, lalu mengecup dahi Zhoumi dengan lembut. Detik yang sama sekilas sinar blitz menerpanya, membuatnya mengernyitkan kening, menolehkan kepalanya ke arah sinar itu, lalu membelalakkan matanya kaget.
Donghae tengah berdiri di pintu penghubung ruang belakang dengan ruang tengah, lelaki itu bersandar santai di ambang pintu, tersenyum mengejek kepada Hyukjae dan dijemarinya tengah memegang ponsel, ponsel yang tadi dipakainya memotret Hyukjae yang diam-diam sedang mencuri mencium dahi Zhoumi yang tengah tertidur pulas!
Hyukjae langsung berdiri dengan defensif, sebelumnya dia sempat melirik cemas ke arah Zhoumi, dan bersyukur dalam hati karena lelaki itu masih tertidur pulas.
Kemudian dengan langkah lebar, Hyukjae mendatangi Donghae dengan marah, "Apa yang kau lakukan di sini dan kenapa kau mengambil fotoku?"
Senyum miring muncul di bibir Donghae, "Ibumu menyuruhku masuk kebelakang dan mencarimu."
Matanya sengaja melirik ke arah ponsel-nya, "Wah sungguh foto yang menyedihkan, kau dengan penuh cinta mencium diam-diam sahabatmu... cinta bertepuk sebelah tangan, eh?" Kata-kata Donghae langsung menyulut amarah Hyukjae, dia langsung menyerang Donghae, mencoba mengambil ponsel itu dari tangan Donghae.
"Kemarikan ponsel itu!" Hyukjae mendesis, setengah terangah ber-usaha menggapai Donghae yang dengan sengaja mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan ekspresi menahan tawa.
Hyukjae melihat ekspresi Donghae dan merasa jengkel luar biasa, lelaki itu pasti menertawakannya karena tubuhnya pendek seperti anak kecil, dan Donghae bertubuh tinggi, merebut ponsel itu akan percuma bagi Hyukjae, apalagi kalau Donghae mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti itu.
"Kau jahat! Kemarikan ponsel itu!"
"Percuma Hyukjae, kau tidak akan bisa mengambil ponsel itu dariku."
Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya menggoda, "Mungkin aku akan menghapusnya kalau kau mau melakukan sesuatu untukku." Hyukjae membelalakkan matanya, terkejut akan sikap tidak terpuji Donghae, "Kau memerasku?"
"Bisa dibilang begitu." Donghae sama sekali tidak tampak malu, matanya sengaja melirik ke arah sofa tempat Zhoumi masih tertidur pulas, "Dan aku rasa kau tidak ingin Zhoumi melihat foto ini bukan? Disini wajahmu benar-benar penuh cinta, sungguh menyedihkan, mungkin Zhoumi akan kaget karena kau menyimpan perasaan lebih kepadanya, dan mungkin dia akan menjauhimu..."
"Oke." Hyukjae tidak tahan lagi mendengarnya, dia tahu apa yang dikatakan Donghae benar, dan dia takut itu akan terjadi, dijauhi Zhoumi karena perasaan canggung adalah hal terakhir yang diinginkannya, dia butuh bisa dekat dengan Zhoumi, dan kalau satu-satunya jalan adalah dalam posisi seperti saudara atau sahabatnya, maka Hyukjae tidak akan merusaknya.
"Kau ingin aku melakukan apa?" Hyukjae menggertakkan giginya menahan marah, tetapi dia mencoba bersabar. Dia tidak bisa melawan Donghae sekarang, lelaki itu memegang kartu AS untuk mengancam Hyukjae dan sekarang sedang berada di atas angin.
"Aku ingin kau menemaniku datang ke jamuan makan malam yang akan diadakan nanti malam, sebagai pasanganku. Aku akan memperkenalkanmu sebagai murid khususku dan mungkin kita akan berduet sedikit di sana." Donghae tersenyum, "Sebenarnya aku sudah mendapat-kan izin ibumu, tetapi aku tahu kau akan menggunakan segala cara untuk menolak ajakanku, jadi menyenangkan sekali aku bisa me-maksamu melakukan apa yang kumau mulai sekarang."
Tatapannya berubah sedikit menakutkan, "Lakukan apa yang aku mau, Hyukjae, dan mungkin aku akan berbaik hati menghapus foto ini dari ponselku"
To Be Continued. . . .
