The Moon and The Sun

Naruto Fanfiction

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : Naruto & Sakura

Genre(s) : Romance, Hurt/comfort, Family,Drama

Rate : T

Warning : OOC,AU,Siscon,Typo(s),gaje, nonsense, bosenin, bikin naik darah(maybe?)

Summary :

"Seumur hidup, hanya Kakashi-nii saja yang akan kupanggil Oniichan, Bakaniki! SELAMANYA! " Itu pernyataan sakura terhadap kakak keduanya― Sasori.,yang batas sisconnya sudah hampir melampaui batas normal. Hal itulah yang membuat Sakura agak berjaga jarak dengan kakaknya itu, gara-gara sikap sasori pula Sakura tak bisa mendapatkan kisah cinta yang berkesan sampai ia bertemu seseorang..

Hem.. bales review ya^^

Seiko 'Rye' Heiiran : Waah makasih seiko-chan^^ haha gapapa kok makasih ya udah mau dibaca hehe^o^)V Wah, Sasorinya nyebelin ya? '-' Hahaha akujuga cukup suka kok sama gaara-kun~ Tapi ada alasannya Gaara bersikap begitu lho~ Ah.. Bener juga, ternyata yang itu luput dari mataku-_- Maaf yaaaa. Makasih reviewnya~

Ucy-chan : Iyaa hehehe emang republish~ Garagara ada typo aku ubah deh-_- Taunya masih ada yang luput typonya. Hahahaha susah turun yaa~ Kalo susah jadian nanti fanfic ini nyampe 100 chapter ya\(^^;\ )

Yola-ShikaIno : Ahihi kasian yaa? Bangeet~ Hemm sayang enggak ya? Hahaha ngerti kok;;) Hahaha adegan favoritmu sepertinya *eh Haaaii~ Ganbarimaasu^O^)9

Naruto Uzumaki : Hehehe iyanih. Miu usahain selalu kilat ya hihi^^

Kelinci : Aaah~ Gapapa,terimakasih sudah review^^ Wah,makasih, makin semangat ngetik nih hohoho *ngetik sampe keyboard rusak*

NS : Hahaha siap gan~ *eh* Hahahaha ini udah lanjuut

Viva La Vida : Hai, terima kasih^o^)9 Semangaaat! *Api berkobarkobar*

Nah,Minasan, terima kasih buat review dan ucapan semangatnya, ternyata ngefek loh jadi semangat hehe^w^)v Tapi ternyata kemarin masih ada typo parah-_- Dan jujur aja,Miu malu dan ngakak banget(jadi malu apa ngakak?) waktu nyadar masih ada typo.. Miu malu sama readers, Miu mengecewakan readers garagara typo-,- Maaf yaaa-_- Wah,Miu ngomongnya kebanyakan ya? Ah, baiklah..Here's the story,minasan...

Chapter 9 : The real senpai

Sakura tengah menghembuskan nafasnya dengan perlahan di depan pintu rumahnya sambil meletakkan tangannya didepan dadanya. Raut wajah gadis itu terlihat sangat tegang..

'Yosh.. Semangat,Sakura!' Ia menyemangati dirinya sendiri,sambil sesekali menganggukkan kepalanya..

KRIIEEEETTT

Sakura membuka pintu rumahnya perlahan,menimbulkan suara aneh yang membuat rumah yang tampak sepi itu terkesan horror.

"Ta..Tadaima.." Sakura mengucapkan tadaima dengan sedikit gugup, padahal dia sedang berada di rumahnya sendiri..

Wajah sang ibu (lagi-lagi) terlihat dari balik dinding ruang keluarga Hatake yang hanya terpisahkan oleh dinding. Senyum manis terpasang di wajah sang ibu

"Okaeri, Sakura.."

Mulut Sakura sedikit bergerak dengan keadaan yang masih tertutup, ia menggigit bagian bawah bibirnya seperti menahan tangis, matanya mulai berair, mungkin ia teringat kejadian tadi siang.. Pertengkaran ia dan Sasori―yang seingatnya, baru terjadi satu kali yaitu tadi siang..

"Kaa-saan!" Pelukan Sakura menghambur ke arah Akako. Sakura terisak dan terus menerus menangis,membuat akako khawatir dengan keadaan anaknya

"Sa.. Sakura, ada apa? Apa yang terjadi?" Akako mengelus kepala Sakura dengan lembut, tindakan Akako yang penuh kasih sayang seperti itu membuat tangisan Sakura semakin menjadi-jadi

"Huwaaaa! Kaa-san, maaf.. Maaf.. Sakura tak bermaksud.. Begitu,kaa-san.. Maafkan Sakura.." Akako mengernyit, ia tak mengerti.. Sakura belum menceritakan apapun padanya,tetapi Sakura sudah meminta maaf terlebih dahulu padanya..

"Sa.. Saku, kau jelaskan dulu kenapa..Kaa-san bingung nih, datang-datang langsung menangis..Belum cerita udah minta maaf duluan.. Kaa-san kan bingung jadinya.. Kau kenapa?" Akako memang orang yang agak cuek sebagai seorang wanita.. Makanya kepada anaknya pun ia berbicara layaknya kepada teman sebayanya..

"Ada apa,Kaa-san? Kenapa Sakura menangis?" Sosok Kakashi sudah muncul di belakang Akako, hawanya sungguh tidak terasa.. Akako menoleh ke arah Kakashi sambil tetap mencoba menenangkan tangisan Sakura. Akako menggeleng pada Kakashi,menandakan ia tak tahu penyebab tangisan Sakura..

Kakashi menghembuskan nafasnya, kemudian ia berjalan ke arah Sakura, ia merendahkan tubuhnya agar sepantar dengan Sakura.

"Sakura.. Kenapa menangis?" Kakashi menyentuh kepala Sakura. Sakura menoleh sedikit sambil terus sesenggukan

"Ka.. Kakashi-nii.." Sakura hanya menggumamkan nama Kakashi dengan suara yang pelan

"Sebaiknya kau bercerita padaku.. Kurasa perasaanmu akan lebih tenang jika kau menceritakan masalahmu padaku,Sakura.." Kakashi memberikan senyuman hangat pada Sakura dengan mata yang tertutup..

Sakura hanya menoleh pada ibunya

"Kau cerita dengan nii-chanmu saja.. Tapi ingat, nanti ceritakan ya.. Kaa-san tak mau tahu,pokoknya Saku harus cerita" Ujar Akako sembari tertawa kecil

"Te.. Terimakasih, kaa-san.." Sakura menghampiri Kakashi yang kini merangkulnya dan sesekali mengelus pundaknya untuk menenangkan tangisan Sakura. Kakashi dan Saura pun masuk ke kamar Sakura

-Sakura's room-

"Hemm.. Jadi,Sasori memarahimu?" Komentar Kakashi setelah Sakura menceritakan hal yang terjadi siang tadi

"I-iya.. Aku tak menyangka Sasori akan seperti itu.." Sakura memeluk bantalnya erat,dagunya bertumpu pada bantal yang dipeluknya

"Tapi.. Bukankah kau membenci Sasori? Bukankah hal itu akan lebih memudahkanmu karena akhirnya Sasori menjauhimu seperti yang kau inginkan selama ini,Sakura?" Kakashi menatap Sakura lurus. Hati Sakura mencelos begitu Kakashi memberikan pertanyaan seperti itu..

Sakura tak bergeming,begitu pula Kakashi. Kakashi seakan-akan menginginkan jawaban Sakura atas pertanyaannya― entah pernyataan.

"Aku.." Sakura akhirnya berkomentar setelah kesunyian yang terjadi diantara mereka berdua "Aku.. Aku mengakui bahwa aku memang membenci Sasori. Tapi.." Sakura menghentikan perkataannya. Ia merasa bahwa ia salah jika mengatakan hal ini..

"Tapi..?" Kakashi kembali menatap Sakura dengan serius. Tatapan yang akan membuat teroris sekalipun akan mengakui kesalahannya

"Tapi.. Entah kenapa, jika aku memikirkan bahwa Sasori akan membenciku dan berjaga jarak dariku selamanya.. Hatiku jadi sakit, rasanya aku ingin menangis.. Begitu aku melihat tatapan sinisnya yang tertuju padaku,rasanya.. Sakit sekali.. Aku terkejut. Tak bisa Sasori akan bersikap seperti itu padaku.. Aku menyadari bahwa itu semua kesalahnku, aku tahu aku bersalah pada Kaa-san maupun Sasori, bahkan Too-san.. Mungkin pada Kakashi-nii juga.." Sakura kembali menghentikan ucapannya, kepalanya sedikit tertunduk

'Mungkin aku melakukan banyak kesalahan pada.. Naruto juga..' Pikirnya. Sakura menyunggingkan senyuman pahit. Ia kembali menatap Kakashi. Kakashi bisa melihat tatapan Sakura yang begitu menyiratkan kesedihan

"Tapi.. Entah kenapa aku sangat tidak menginginkan Sasori membenciku.. Itu.. Aku bingung, mengapa aku bisa berpikir seperti itu. Aku mengakui bahwa aku memang menginginkan Sasori menjauh dariku.. Tapi.. Bu-Bukan berarti aku ingin dijauhi olehnya, dibenci olehnya, bahkan tidak dianggap imoutonya lagi!" Sakura agak sedikit gugup ketika ia mengatakan sebuah kalimat terakhir yang ia ucapkan.

Kakashi menyunggingkan senyumannya. Sakura mengernyit, apa yang membuat Kakashi tersenyum seperti itu.. Ia bercerita dengan serius, tak mungkin ada orang yang berani menertawakan kesedihannya.

"Kalau begitu bagus kan?" Ujar Kakashi sambil mendekatkan posisi duduknya kearah Sakura

"Apa.. Maksud Kakashi-nii?" Tanyanya penuh selidik

"Itu berarti dalam lubuk hatimu,kau sangat menyayangi Sasori sebagai kakakmu bukan? Bukankah itu baik? Mungkin saja hubgungan kalian berdua akan membaik.. Aku yakin, Sasori akan memaafkan perbuatanmu. Kau juga tahu sendiri.. Sasori sangat menyayangimu sejak kecil.. Dan juga,itu berarti bahwa kau masih menganggap Sasori sebagai kakamu,bukan?"

Sakura terdiam, ia mencerna kata-kata Kakashi. Sekilas,ia teringat pada kalimat yang Naruto ucapkan.. Serupa dengan ucapan Kakashi malam ini

"Ta..Tapi, Sasori sangat membenciku kali ini.. Aku tak yakin ia akan―"

"Kau tahu? Aku yakin,Sasori akan memaafkanmu.. Kenapa? Karena,kau adiknya, ia sangat menyayangimu.. Dan ia.. Selalu melindungimu sejak dulu.. Tak peduli nyawanya melayang saat itu juga.. Sejak dulu.. " Sakura tertegun akan ucapan Kakashi.. Tapi satu hal yang membuat ia bingung..

'Darimana Kakashi tahu kalau Sasori akan melakukan apapun untukku,walaupun nyawanya akan melayang saat itu juga? Sejak dulu bagaimana? Apakah pernah terjadi sesuatu yang mengakibatkan Sasori sekarat karena menolongku? Apakah Sasori selalu membantuku? Baiklah,aku mengaku Sasori selalu menolongku,tapi.. Aku tak ingat pernah diselamatkan olehnya sampai melibatkan nyawanya'

SRET!

Mata Sakura membelalak, sekilas ia teringat wajah Sasori yang masih lumayan kecil sedang berteriak. Sebuah potongan ingatan masa kecil muncul hanya selewat dalam pikirannya

"Sakura?" Kakashi menyadarkan Sakura dari lamunannya "Ada apa?"

"A.. A-Ahahaha Kakashi-nii.. Tak apa.. Ah, sepertinya sudah malam.. Aku capek, kelihatannya aku sudah agak mengantuk.. Aku ingin tidur.. Ah..Iya, aku harus meminta maaf pada Kaa-san dulu.." Sakura baru saja akan mengusir Nii-channya dengan tindakan yang lembut, dan akan menarik selimutnya.. Tapi ia mengurungkan niatnya begitu ia mengingat bahwa ia belum menceritakan apapun pada Kaa-sannya,ataupun meminta maaf pada Kaa-san nya.

"Baiklah, setelah minta maaf pada Kaa-san, jangan lupa siapkan pelajaran untuk besok dan segeralah pergi tidur,Sakura.." Ucap Kakashi dengan senyum "Ah, iya.. Walaupun tingkat siscon Sasori memang sudah melebihi batas manusia normal, aku yakin ia memaafkanmu walaupun entah dengan cara seheboh apa ia akan memelukmu.. Aku yakin kau bisa mengatasi semuanya,Sakura..Jangan lupa"

"Baiklah,Kakashi-nii.."

Sakura memberanikan diri bertemu ibunya dan menceritakan semuanya pada ibunya.. Sang ibu hanya mendengarkan anaknye bercerita dengan serius.. Tapi tentu saja Sakura tidak menceritakan bahwa ia membenci Sasori dan ia berusaha untuk menjauhi sosok kakaknya selama ini.. Jika Kaa-san tahu, Sakura yakin pasti ibunya akan bertambah kecewa pada Sakura

"Begitulah,Kaa-san.. Sakura minta maaf karena telah membuat bekal yang Kaa-san buat dengan susah payah menjadi hancur berantakan.. Sakura sangat menyesal,Kaa-san.. Sakura berjanji tak akan melakukan hal itu lagi.. Sakura.. Sakura.." Air mata mengalir di pipi Sakura. Sakura menghapusnya dengan tangannya

"Tak apa,Sakura.. Kaa-san tahu,kok kalau Sakura tidak sengaja melakukannya.. Ibu mengerti.. Kau tak usah menangis, yang penting kau sudah menyadari kesalahanmu dan meminta maaf pada orang yang kau maksud.. Sebaiknya kau juga minta maaf pada Sasori.."

Sakura hanya terdiam mendengarkan kata-kata yang diberikan Akako

"Sakura.. Orang yang hebat itu adalah orang yang dapat mengakui kesalahannya dan berani meminta maaf untuk kesalahannya. Orang yang seperti itu patut dihormati dan diberi acungan jempol.." Akako berusaha menghibur Sakura.. Ucapan Akako bukan hanya kata-kata semata yang asal ia ucapkan.. Tapi, hal itu memang benar,dan Akako bukanlah orang yang suka berbicara bohong.

Akako mengelus kepala anaknya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.. Sakura pun memeluk sang ibu dengan rasa kasih sayang yang sama. Akako pun membalas pelukan anaknya itu.. Untuk ukuran seorang wanita, Akako merupakan tipe yang cenderung lebih cuek.. Yah, itu aku sudah mengatakannya. Tapi,untuk ukuran seorang ibu, Akako adalah seorang ibu terbaik yang dapat menenangkan hati anaknya. Ibu yang sangat menyayangi dan disayangi oleh seluruh anggota keluarga..Ibu yang dapat dipercaya,dan seorang ibu yang penuh cinta..

Kakashi hanya tersenyum hangat melihat ibu dan adik perempuannya itu dari kejauhan. Ya, ia melihat dari lantai dua..

Sementara itu, Sakumo baru saja pulang dari kantor. Ia heran,ia mengucapkan tadaima tetapi tak ada seorang pun yang menjawabnya. Penasaran,ia memasuki rumahnya lebih dalam lagi hingga ia melihat ruang keluarga di rumahnya. Adegan pelukan antara anak dan istrinya, ia melihat keduanya saling menangis terharu.

'Apa yang kulewatkan?' Pikirnya sambil tersenyum

Sakumo mendekati sang istri dan anak perempuan satu-satunya itu dan ikut bercengkrama bersama-sama..

"Ohayou, Naruto!" Sapanya dengan wajah yang tidak kalah cerianya dengan matahari berwajah bayi yang selalu tertawa yang ada di serial teletubbies. Sakura baru saja memasuki kelasnya, ia melihat sosok Naruto yang tengah duduk terdiam di bangkunya.

"Ah.. Sakura-chan.. Kau terlihat ceria hari ini... Apakah masalah kemarin sudah selesai?" Tanyanya dengan cengiran khasnya

Sakura menggeleng pelan sembari memperlihatkan senyuman pahit.

"Belum semuanya sih, tapi aku sudah meminta maaf pada Kaa-san, dan kakak pertamaku membantuku dengan cara menyemangatiku.." Jawabnya sambil tersenyum. Tapi kemudian senyuman itu berubah menjadi ekspresi sedih Tapi aku belum melihat Sasori dari kemarin.. Walaupun dirumah sekalipun, aku sama sekali tak melihat keberadaannya dirumah.. Apakah dia benar-benar membenciku?"

"Sudahlah, tak usah khawatir.. Aku yakin ia takkan membencimu.. Percayalah padaku, Sakura.." Sakura menem=puk bahu Sakura

"Terimakasih, Naru―" Belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, teman sekelasnya memanggilnya

"Hatake-san! Ketua OSIS memanggilmu!"

"Eh? Gaara-senpai?" Sakura menghampiri Gaara yang berdiri didepan pintu kelasnya sambil sesekali melirik ke arah Naruto yang juga tengah menatapnya

"Sakura, bisa bicara diluar saja? Ada aura menyebalkan di kelasmu.." Ujarnya ketus

"Ah? Eh.. Baiklah.." Gaara pun melangkah pergi, diikuti dengan langkah kaki Sakura yang mengikutinya dari belakang. Mereka berhenti disebuah tangga yang kelihatannya jarang dilewati banyak orang

"Senpai.. Mau bicara apa?" Tanya Sakura penasaran.. Jika pertanyaannya tidak penting, ia pikir senpainya itu tak perlu membawanya ke tempat yang jarang orang seperti ini, meskipun masih di area sekolah. Gaara masih tidak menatap Sakura, ia membelakangi Sakura

"Sakura.."

"Ya?"
"Apakah.. Kau percaya cinta pada pandangan pertama?"

Pertanyaan Gaara yang seperti itu membuat Sakura sedikit terkejut dengan mulut yang sedikit terbuka

"Hah..?"

"Apakah kau percaya pada cinta pada pandangan pertama?" Gaara menanyakan itu sekali lagi. Dikiranya suaranya terlalu kecil hingga Sakura tak dapat mendengarnya

"Y-Ya.. Mungkin?" Sakura menjawabnya dengan sedikit ragu. Bagaimana tidak? Pacaran saja ia dilarang oleh Sasori.. Ia tertarik dengan lelaki sedikit saja,lelaki itu sudah masuk daftar blacklist Sasori..

Gaara membalikkan tubuhnya ke arah Sakura, Sakura sedikit etrsentak ketika Gaara berjalan perlahan menghampirinya

"Sakura.. Bagaimana menurutmu.. Tentang hal itu?" Tanyaya dengan raut wajah yang tetap straight seperti biasa

"Se-Seperti apa? Ah.. Emm.. Romantis,mungkin?" Sakura menggaruk kepala belakangnya yang sama sekali tidak gatal. Sungguh, ia bingung harus menjawab apa.. Pengalaman cintanya benar-benar berniliai nol besar..

"Begitukah? Baguslah.. Kau tahu, aku mengalami hal itu sekarang" Gaara menyunggingkan senyuman tipisnya.. Sedikit membuat Sakura terdiam karena ketampanannya

"Eh.. Benarkah? Bagus sekali senpai.." Sakura menjawab dengan tawa kecil,walaupun ia sendiri tak tahu untuk apa ia tertawa

"Tapi.. Sakura.."

"Ya?" Tiba-tiba, perasaan Sakura berubah menjadi sangat tidak mengenakkan.. Mendadak, ia teringat pada ucapan Naruto di bus.. Naruto pernah bertanya bagaimana jika Gaara menyukainya..

Tentu saja saat itu Sakura tak mengindahkan ucapan Naruto.. Tapi kali ini.. Berbeda.. Mau tak mau, Sakura menjadi kepikiran dan wajar kan jika ia sempat mengira bahwa ada orang yang menyukainya?

"Apakah kau keberatan.. Jika orang itu adalah kamu?" Gaara mengatakannya. Sakura masih belum bisa mencerna maksud dari ucapan Gaara

"Ah? Eh? Maksud senpai?"

"Aku menyukaimu, Sakura.."

-Tsuzuku-

Waaaiii~ Gaara nembak Sakura lebih dulu dari Naruto ya? Hahaha Yang lebih dewasa memang bergerak lebih cepat yaa*eh?-_- maksudnya?*Chapter 9 beres, lanjut ke chapter 10 enggaaa? Review ya,minasan, terima kasih ^^

With hamburger, Miu

Chuu~