Disclaimer:

J.K Rowling

Pair:

DracoXHarry and Other

Rate:

T+

Warning:

SLASH, Shonun-ai, Gaje, TYPO, Skip Time, Alur cepat, PLOT YANG MENGIKUTI IMAJINASI AUTHOR, OCC, OC, terkadang ada pengulangan kata

.

Don't Read, If You Don't Like

…artinya…

Jangan baca jika kamu tidak suka


Kupersembahkan fic ini untuk Kamiyama Yukii a.k.a Sinta


.

Dian Present:

.

-c.a.n.d.l.e-

"Heart and Blood"

Chapter 9: Never Give Up

-o.c.t-

.

.

.

Chapter 9: Never Give Up


Malfoy Manor

Seseorang dengan jubah hitam dan bertopeng tengkorak putih berjalanan cepat menelusuri lorong ruang bawah tanah. Ia sampai didepan sebuah pintu kayu tanpa ukiran dan mengetuknya 3 kali baru kemudian masuk ke ruangan. Di dalam ruangan tampak rapat sedang berlangsung antar petinggi Pelahap Maut.

"Maaf, saya datang untuk menyampaikan pesan" Serunya sambil membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.

"Katakan" Seru sang pemimpin rapat.

"Harry Potter telah mengikuti Turnamen Triwizard dan tugas pertama adalah melawan Naga"

Sang pemimpin rapat mengangguk mengerti. Lalu ia menoleh pada seseorang yang duduk di sisi kanan meja rapat.

"Sekarang giliranmu Barty Chrouch junior" Serunya sambil memperhatikan penampilan Barty Chrouch junior.

"Atau sebaiknya, sekarang ku panggil Alastor Moody" Lanjutnya sambil menyeringai dan diikuti seringai mengerikan dari orang-orang diruangan itu.

.

-o.c.t-

.

Hogwarts

Draco menatap tajam sosok Ron yang tengah tertunduk di depannya, kedua tangan Draco dilipat ke dada memperlihatkan pose yang mengintimidasi. Sementara Theo berdiri di belakang Ron mencoba memberi semangat dengan menepuk bahu Ron.

"Jadi Ron, sekarang kau sudah menyesal ?" Tanya Draco.

"Maafkan aku, Harry dan kalian semua atas sikapku yang kekanakan. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi" Seru Ron dengan menunduk dalam-dalam.

"Begitukah ?" Seru Draco sambil berjalan mendekati Ron.

Ron hanya mengangguk dan tidak berani menatap lawan bicaranya.

Draco menepuk bahu Ron, membuat Ron memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap Draco. Matanya sudah berkabut karena menahan air mata yang siap keluar.

"Kami memaafkan mu, Ron" Seru Draco dengan senyum lembut tersungging di bibirnya dan di sambut anggukan dari teman-temannya.

Senyum Ron terkembang saat Hermione dan Pansy berhambur memeluknya dan dilihatnya Harry mengangguk serta Blaise tersenyum tulus padanya.

"Terima kasih kalian memaafkanku" Seru Ron, air mata mengalir dari kedua belah matanya, ia tak kuasa membendungnya perasaan harunya.

Namun tak lama tubuh Ron limbung saat seseorang yang menarik tangannya. Dan bertubrukan dengan tubuh seseorang yang sedari tadi dibelakangnya. Theo melingkarkan tangannya di pinggang Ron.

"Hermione, Pansy! Kalian tidak boleh memeluk Ron" Serunya geram.

Semuanya tertawa melihat aksi Theo yang memeluk Ron secara possesif, yah kecuali Ron yang wajahnya merona. Theo semakin erat memeluk tubuh Ron, ia sedikit memajukan wajahnya dan berbisik pada Ron.

"Sudah ku bilangkan, semuanya akan baik-baik saja" Dan di kecupnya mesra pipi Ron.

Semua mata yang ada di sana terbelalak. Well, kecuali Draco dan Harry yang malah saling berpandangan mesra. Ron sendiri wajahnya sudah lebih merah dari rambutnya. Pansy tak tahan lagi, ia gulungkan perkamen yang ada di meja terdekat dan,

BRUG

"Awww, Sakit Pansy" Seru Theo yang kepalanya baru saja di pukul Pansy.

"Jangan bermesraan di depan umum, kau ini" Serunya geram.

Kembali ruangan itu di penuhi gelak tawa dari mereka bertujuh.

"Baiklah teman-teman, aku rasa kita harus kembali latihan" Seru Draco yang diiringi anggukan dari mereka semua. Mereka semua bubar dan kembali ke posisi masing-masing. Namun Theo masih tetap memeluk Ron.

"Theo, lepaskan tanganmu dari pinggangku" Ujar Ron sambil berusaha melepas pelukan Theo. Sayangnya tenaga Theo terlalu kuat untuk di lawan oleh Ron.

"Tidak mau" Seru Theo sambil mengeratkan pelukannya, ia meletakkan dagunya di bahu Ron dan melanjutkan ucapannya,

"Kecuali kau mencium bibirku" Bisiknya mesra.

Ron membelalakan matanya lalu ia menyapukan pandangannya mengelilingi ruangan mencari pertolongan. Ia memelas menatap Harry ,sayangnya dengan cepat Draco menarik tubuh Harry kepelukannya. Ron kembali mengedarkan pandangannya dan kini ia menatap Hermione, baru saja gadis itu melangkah, ia sudah di cegat oleh Blaise yang mengalungkan tangannya ke leher gadis berambut coklat mengembang itu.

"Gadis ini dengan ku, Ron" Serunya kalem, wajah Hermione yang biasanya datar-datar saja. Kini berubah seperti kepiting rebus.

Ron hanya bisa menghela nafas pasrah karena kedua sahabatnya juga mengalami hal yang sama dengannya sekarang. Yeah, sama-sama terjerat Slytherin. Ron memutar badannya dan berhadapan dengan Theo. Tangannya ia kalungkan ke leher pemuda itu dan mendekat wajahnya, benar-benar berniat memenuhi keinginan Theo. Kedua bibir itu pun bertemu, Theo yang merasa kurang puas jika ini hanya berakhir dengan kecupan ringan, semakin memeluk erat tubuh Ron dan memperdalam ciuman mereka dengan berusaha menerobos masuk kedalam mulut Ron. Ron yang terkejut membiarkan saja lidah Theo bermain dirongga mulutnya. Setelah merasa cukup, barulah Theo melepaskan ciumannya. Dan membuat Ron terjatuh lemas kepelukan Theo dengan wajah yang sewarna rambutnya.

"Thanks Ron" Seru Theo berbisik mesra tepat di samping telinga Ron dan Ron hanya mengangguk.

Ehem

Suara deheman Draco membuat Theo menatapnya.

"Sudah kembali kedua nyata ?" Ejeknya pada mereka berdua.

Ron langsung bangkit dan mendorong pelan tubuh Theo lalu berjalan ke arah Harry dengan wajah memerah, Theo sendiri setelah melepas pelukannya pada Ron berjalan mendekati Draco yang entah sejak kapan berpindah posisi di samping perapian dan memukul pelan lengan sahabatnya itu.

"Kau menganggu saja" Serunya pura-pura kesal. Dan di sambut tawa renyah di kamar kebutuhan.

Saat Ron sampai disamping Harry, Harry membisikkan sesuatu yang hanya dapat di dengar mereka berdua.

"Sudah mendapat informasi yang kau butuhkan ?"

"Tentu boss" Serunya.

"Harry, Ron kemari" Panggil Pansy dan membuat mereka berdua ikut berkumpul di dekat perapian.

"Ron, aku ingin tahu apa maksudmu menyuruh Harry menyempurnakan mantra panggil dan memodifikasinya ?" Seru Draco yanga masih belum mengerti pola pikir Ron.

"Benar Ron. Bukankah mantra panggil tergolong mantra dasar yang sudah kita pelajari dari tahun pertama ?" Tanya Pansy .

Ron tersenyum dan menatap mereka semua, "Aku sudah tahu kalau tugas petama adalah melawan Naga walau tidak tahu secara rinci apakah Harry harus berduel atau bagaimana"

Tak ada seorangpun yang benar-benar terkejut dengan tugas pertama Harry karena mereka sudah mengetahuinya dengan cara masing-masing.

"Karena itu mantra panggil akan sangat berguna disini. Apalagi ditambah modifikasi dengan sihir Rune seperti yang kalian berempat biasa lakukan" Serunya sambil menatap Draco, Harry, Hermione dan Blaise. Yang di tatap hanya menganggukkan kepalanya.

"Strategi yang aku punya adalah….."

.

-c.a.n.d.l.e-

.

Lapangan Quiddtich, Hogwarts.

"Ron apa rencanamu akan berhasil?"

Ron hanya memunculkan cengiran khasnya, "Kita lihat saja 'Mione"

Hermione mengangguk, lalu ia edarkan pandangannya mengililingi lapangan Quiddtich yang sudah disihir menjadi lapangan arena duel dengan batu-batu berukuran besar yang di letakkan tidak beraturan. Tribun penonton juga ikut di sihir menjadi jauh lebih besar dan bisa menampung ribuan penonton. Hermione menghela napas berat, baru 5 menit lalu tugas kedua di umumkan panitia, yaitu mengambil telur naga yang akan di jaga Naga betina. Gadis itu khawatir dengan keselamatan sahabatnya.

Ia melihat seekor naga memasuki tengah lapangan dan tak lama kemudian Viktor Krum keluar dari bilik peserta. Ia hanya menatap bosan pada Krum yang dengan bodoh nya langsung menyerang sang Naga tepat didepan hidung sang Naga. Suatu tindakan yang berani tapi tanpa perhitungan.

"Ku kira kau tertarik dengannya Hermione" Seru Ron sambil ikut menatap Viktor.

"Hm"

Ron mengalihkan pandangan dari menatap Viktor ke menatap sahabat perempuannya. Setengah heran kenapa Hermione jadi pendiam begini.

"Kau kenapa ?" Serunya menyuarakan pikirannya.

"Hanya memikirkan perkataan Harry beberapa waktu lalu" Jawab gadis itu.

Ron mengangguk, "Jika hal yang dikatakan Harry benar. Yeah, memang tidak terdengar masuk akal. Tapi aku akan tetap mempercayainya" Dilihatnya Hermione mengangguk tanda pikirannya sama dengan Ron.

"Masalahnya sekarang bagaimana kita dapat membantunya. Aku yakin dia memberitahu kita untuk mencegah kita melakukan tindakan sembrono"

Sekali lagi Ron yang mengangguk, "Khas Harry, selalu memikirnya nyawa orang lain dulu" Ia merengut kesal.

Hermione terkekeh mendengarnya, " Kalau tidak begitu justru bukan Harry Potter namanya"

Ron ikut tertawa dan sekarang ia memandang lapangan. Entah berapa lama mereka mengobrol karena sekarang Fleur sudah dilapangan nyaris berhasil mengambil telur Naga. Akhirnya gadis Prancis itu berhasil mengambil telur Naga walau tubuhnya terkena ayunan ekor naga yang marah dan terbentur dinding pembatas lapangan. Ia pingsan sambil memeluk telur, otomatis dia dianggap telah berhasil menyelesaikan tugas. Peserta selanjutnya adalah Cedric, begitu si jangkung itu masuk lapangan teriakan para fans langsung membahana. Ron memutar bola matanya bosan, ia tidak terlalu tertarik pada peserta lain kecuali Harry. Hermione juga tampak tidak tertarik. Dalam kondisi begini mereka lebih mendukung sahabat mereka yang setengah vampire itu.

"Ngomong-ngomong" Seru Ron yang membuat Hermione mengalihkan pandangannya dari Cedric ke Ron.

"Kau pernah melihat Harry berubah sempurna saat menjadi Vampire ?" Tanyanya penasaran.

"Tidak" Jawab Hermione cepat.

"Hm, menurutmu yang kita lihat di tahun ketiga itu bukan wujud vampire-nya?" Tanyanya sambil mengingat saat Harry menghisap darah Draco didepan mereka.

Hermione menggeleng pelan, "Aku rasa itu belum perubahan sempurna. Aura sihirnya masih seperti penyihir kebanyakan walau lebih gelap. Bukannya kau sekamar dengannya Ron ? Kau tak penah melihatnya berubah ? Atau melihatnya lepas kendali dengan darah ?"

Ron menerawang, "Tidak. Dia melindungi tempat tidurnya dengan pelindung sihir jadi aku tidak bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi dibalik kelambunya"

Hermione mengangguk, "Giliran Harry" Serunya saat melihat Cedric keluar lapangan sambil memeluk telur dan berjalan terpincang-pincang.

Seekor Naga dengan ukuran lebih besar dari ketiga Naga sebelumnya dan tampak mengerikan masuk ke lapangan, Naga itu memiliki duri di sepanjang punggung hingga ujung ekornya. Semua penonton terdiam, Naga ini tampak jauh lebih berbahaya dari Naga-Naga yang dihadapi para peserta sebelumnya. Ron susah payah menelan ludahnya dan Hermione menatap Naga itu dengan wajah pucat.

"Hermione, aku harap Harry dapat melakukannya dengan baik. Karena lawannya adalah Naga dengan spesies terganas saat ini"

Hermione hanya mengangguk lemah, "Aku harap juga begitu Ron"

Sementara diseberang lapangan tempat para Slytherin duduk. Draco menatap Naga Ekor Berduri -yang telah dirantai di tengah lapangan- dengan tatapan horror.

"Kenapa Harry malah harus menghadapi Naga ini?" Serunya parau.

Blaise tertawa miris, "Sepertinya kesialan memang senang mendekatinya" Perkataannya membuat dirinya mendapat tatapan membunuh dari pangeran es Slytherin.

Harry melangkahkan kakinya memasuki lapangan. Naga Ekor Berduri telah berada disana dan melindungi telurnya dengan possesif. Harry menggelengkan kepalanya pelan. Ia peserta gelap sekaligus berumur termuda dan menghadapi naga berspesies terganas. "Sungguh Merepotkan" keluhnya.

Pemuda itu melangkah pelan menuju lapangan dan bersembunyi diantara batu-batu.

"Accio Topaz" Serunya sambil mengayunkan tongkat sihir. Ia berharap sihir modifikasinya berhasil. Sambil berusaha menyembunyikan keberadaan diri, Harry berjalan mendekati telur sang naga.

Sayangnya sang Naga memiliki penciuman sensitive dan mampu mendeteksi keberadaan Harry yang mencoba memasuki daerah teritorialnya. Ia langsung menyemburkan api dan nyaris mengenai Harry.

"Aku lupa jenis ini bisa menyemburkan api" Seru Harry frustasi.

Severus dari tribun khusus staff memandang Harry dengan datar tampak tidak perduli, sementara di hati ia setengah mati berdoa berharap anak kesayangannya itu baik-baik saja"

Tak lama sesuatu terbang dari atas dan jatuh vertikal kebawah, menembus begitu saja pelindung yang dipasang pihak panitia.

Harry menyeringai, "Ini akan menyenangkan" Serunya sambil mengangkat tangan.

Dan Benda yang semula tertancap ditanah itu menyeruak keluar dan terbang ke arah Harry. Saat benda yang ternyata sapu terbang itu melesat cepat kearah Harry, dengan refleks seeker Harry menangkapnya dan memutar tubuhnya menaiki sapu lalu dengan cepat melesat sambil mengendarai sapu terbangnya. Ia melayang di udara dengan tinggi yang menyamai mata Naga. Sang Naga mengeram marah dan menyemburkan api. Harry dengan mudah menghindari api itu. Membuat sang Naga murka dan mengamuk. Harry menyunggingkan senyumnya dan mengelus sapu terbangnya.

"Topaz" Serunya lagi dan sapu terbang miliknya bertransfigurasi mejadi Naga yang sama besar dengan Naga Ekor Berduri. Penonton yang menyaksikan hasil transfigurasi Harry, hanya bisa terpana. Bahkan professor McGonagall hanya bisa cengok menatap Naga yang tampak seperti asli itu. Diam-diam guru yang mengajar transfigurasi itu berniat memberi poin plus untuk Harry jika ia berhasil memenangkan tugas pertama ini dengan hasil transfigurasinya.

"Timing yang bagusk" Cengir Ron.

"Seperti biasa, strategi yang sempurna Ron. Topaz, sang Naga transfigurasi sapu terbang dapat berubah dalam waktu kurang dari 1 menit"

Hermione mengatakan hal itu bukan tanpa alasan. Sebelumnya mereka harus mengerahkan hampir seluruh energy sihir untuk menstransfigurasi sapu menjadi naga dan itupun berhasil setelah 2 jam penuh berkontrasi dengan cacatan percobaan 57 kali gagal. Namun Harry sekarang telah berhasil menyempurnakannya, terima kasih pada Ron yang membuat jadwal latihan dan membuat cacatan perkembangan dengan rinci. Hasil transfigurasi istimewa karena menggabungkan sihir Rune, mantra panggil-accio-, dan transfigurasi. Ron dengan otak jenius strateginya yang merancang hal ini. Kenyataannya, tidak mungkin mentransfigurasi suatu benda menjadi makhluk hidup sebesar naga hanya dalam waktu singkat. Untuk itu pemuda berambut merah itu meminta Hermione untuk mempelajari sihir Rune yang dapat menyimpan energy. Harry yang tak kalah jeniusnya langsung paham maksud Ron, walaupun prakteknya tidak semudah teori. Energy sihir Harry yang besar di transfer pada sapu terbang yang di beri nama topaz . Dan ketika mantra 'accio Topaz' di ucapkan, sapu terbang itu akan melesat menuju Harry dan mulai mentrasfigurasi dirinya menjadi Naga. Saat kata Topaz diucapkan sekali lagi maka yang muncul adalah sosok sang Naga, hasil transfigurasi sempurna milik Harry.

"Sekarang kita lihat. Apakah kemampuan istimewanya akan muncul" Seru Ron menatap lapangan dengan sangat tertarik.

"Sihir yang memukau" Seru Blaise sambil menatap naga yang ditunggangi Harry.

"Naga yang cantik ya" Seru Pansy kagum.

Draco hanya terdiam, dia berkontrasi menatap Mate-nya yang sekarang terbang menghindari serangan semburan api dari Naga Ekor Berduri.

Harry yang berada diatas Naganya tersenyum meremehkan pada Naga lawannya.

"Ini akan menyenangkan Topaz" Sang Naga Transfigurasi itu mengangguk menyetujui ucapan masternya dan menatap Naga rivalnya dengan tatapan meremehkan.

Terang saja hal itu membuat Naga Ekor Berduri murka. Ia menggeram marah dan menyemburkan api kesembarang arah. Untungnya tribun penonton telah dilapisi pelindung sihir sehingga para penonton tetap aman. Dengan sekuat tenaga naga itu meronta dan mencoba melepaskan dirinya dari rantai yang membelenggunya. Saat akhirnya naga itu berhasil memutuskan rantainya, penonton yang sebagian besar adalah murid menjerit tertahan. Sedangkan para guru dan panitia langsung bersiaga.

Naga Ekor Berduri mengepakkan sayapnya kuat-kuat, dan menciptakan angin kencang di sekitar lapangan. Dengan sekali hentakan, ia terbang ke angkasa dan merusak begitu saja pelindung sihir yang ada. Naga itu melambung tinggi lalu berhenti dan menatap Harry serta Naganya dengan tatapan yang seakan mengajak duel. Harry menyeringgai kala Naga Ekor Berduri itu menyemburkan api ke arahnya.

"Topaz" Seru Harry dan Naga itu terbang kesamping menghindari serangan api yang menyerangnya. Naga ekor berduri terbang menukik ke bawah, tepat ke arah dimana Topaz berada. Kembali Topaz mengepakkan sayapnya dan terbang menghindari serangan sang lawan.

Penonton yang berada di tribun penonton hampir semua ternganga menyaksikan petarungan menakjubkan itu. Sayangnya kebanyakan dari meraka lupa pelindung di tribun itu sudah dihancurkan oleh Naga Ekor Berduri. Kapanpun mereka bisa saja terkena serangan Naga itu.

"Topaz, sebaiknya kita akhiri ini segera"

Topaz mengangguk ia mengerahkan seluruh energy sihirnya dan mengumpulkan partikel es di depan mulutnya yang ternganga lebar, lalu menyerang Naga Ekor Berduri dengan semburan es-nya, membuat Naga Ekor Berduri Terpental cukup Jauh. Naga itu murka, ia menggeram marah kemudian terbang tinggi ke angkasa lalu berhenti dan menatap ke arah bawah dengan mata berkilat-kilat dan tanpa di sangka-sangka, ia menyemburkan api dalam frekuensi besar kearah tribun penonton. Harry yang menyadari hal itu langsung memerintah Topaz untuk terbang ke arah tribun penonton dan menjadikan mereka sebagai objek telak serangan Naga Ekor Berduri. Tubuh Topaz terhembas ketanah begitu juga dengan Harry, ia terpental jauh dan punggungnya menabrak batu, para penonton hanya bisa terdiam melihat kematian yang tadi sempat didepan mata tapi terlindung oleh Harry. Mereka semua pucat dan berkerigat dingin.

"Harry" Seru Draco dengan nada khawatir.

Naga Ekor Berduri mengaum keras membuat semua mata mendongkak dan menatapnya ngeri. Naga itu menyemburkan api ke sembarang arah di udara. Merasa senang karena telah berhasil melumpuhkan lawannya. Naga itu mengepakkan sayapnya lalu menukik turun dengan kecepatan yang luar biasa cepat ke arah Topaz. Semua mata yang memandang itu hanya bisa memandang Topaz dengan tatapan ngeri, bagaimanapun tubuh Topaz akan remuk jika di hantam dengan kecepatan yang luar biasa cepat seperti itu. Namun nyaris ketika sang Naga Ekor Berduri akan menghantam tubuh Topaz, Tubuh naga itu tiba-tiba menghilang. Membuat Tubuh Naga Ekor Berduri terhantam keras ke tanah, menghasilkan guncangan keras di lapangan itu dan akhirnya Naga Ekor Berduri tergeletak tak berdaya dan tak sadarkan diri di tengah lapangan.

Semua mata terpana menatapnya, masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba seseorang bertepuk tangan. Mereka semua mengalihkan pandangan dan menatap kursi Gryffindor asal suara tepukan berasal dan mendapati Ron tengah bertepuk tangan dengan keras.

"KAU HEBAT HARRY!" Teriaknya dan membuat semua mata kembali menatap ke lapangan dan mendapati Harry dengan gagah berdiri di atas batu dan mengancungkan tinggi-tinggi telur Naga Ekor Berduri. Akhirnya lapangan itu dipenuhi oleh tepuk tangan dan sorakan kagum akan penampilan peserta yang di pastikan menjadi pemenang dalam tugas pertama di Turnamen Triwizard ini.

.

-c.a.n.d.l.e-

.

"Harry !" Panggil pemuda jangkung dengan rambut merah mencoloknya sambil berlari mengejar sahabatnya.

"Ron" Seru Harry sambil menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sahabatnya.

"Tunggu aku" Serunya terengah-engah, karena kelelahan berlari. Ia kemudian berdiri tegap dan celigukan seakan mencari sesatu.

"Hermione mana ?" Tanyanya

"Sudah duluan" Seru Harry sambil kembali melangkan menuju kelas PTIH dan Ron mengikutinya.

"Kau kan sudah jadi pemenang tugas pertama Harry. Kenapa reaksimu tampak tidak senang sama sekali ?"

Harry menghela napasnya, "Bagaimana mungkin aku bisa senang kalau tahu tugas kedua sama atau bahkan lebih berbahaya lagi Ron"

Tepat saat Harry dan Ron duduk dibangkunya, Remus Lupin memasuki ruang kelas.

"Selamat pagi anak-anak. Tutup buku kalian semua karena hari ini kita akan praktek duel"

Semua murid menutup bukanya dan menyimpan dalam tas dan segera saja Remus menyihir ruang kelas menjadi arena duel.

"Hari ini kita juga kedatangan tamu istimewa yang akan menjadi lawan duel. Salah seorang dari kalian yang beruntung akan menjadi lawan tandingnya sebagai contoh bagi yang lain"

Kelas menjadi ribut, rata-rata mereka sibuk membicarakan kemungkinan siapa yang akan menjadi tamu dikelas ini.

"Ada yang mengenal Alastor Moody ?"

Hermione seperti biasa yang cepat mengangkat tangannya.

"Ya, Hermione"

"Dia adalah seorang teladan para Auror. Salah satu Auror yang dikabarkan terkuat dan kemampuannya dianggap setara denga sihir Dumbledore, walaupun sekarang dia sudah pensiun dari Auror" Seru gadis itu bersemangat.

Remus mengangguk lalu ia menganyunkan tongkatnya dan pintu kelasnya terbuka. Masuk seseorang dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi, rambut berantakan, dan kaki terpincang-pincang. Yang menyeramkan dari penampilannya adalah mata palsunya. Mata itu dapat bergerak-gerak sendiri dan pandangannya seakan tak terbatas.

"Tamu kita adalah Alastor Moody, mantan Auror yang melagenda dan sekarang sedang berada di Hogwarts sebagai juri untuk tugas kedua dan ketiga"

Semua mata menatap Auror senior itu dengan pandangan berbeda. Walaupun yang dominan adalah pandangan kagum.

"Jadi ada yang berkenan berduel dengan Alastor Moody ?"

Semua murid tahun keempat asrama Slytherin dan Gryffindor terdiam dan tak ada yang mengacungkan tangan. Entah karena takut atau karena malas ikut ambil bagian.

"Bagaimana kalau aku saja yang memilih" Suara berat dan parau keluar dari mulut Moody membuatnya terdengar mengerikan. Remus hanya mengangguk mengiyakan.

"Kau" Tunjuk Moody pada Draco.

Theo berusaha menahan tertawanya.

"Kau sial sekali Draco"

Draco mendesah pasrah, "Entah kenapa aku merasa pernah mengalami hal serupa" Keluhnya sambil melangkah ke tengah kelas yang telah menjadi arena duel.

"Siapa namamu ?"

"Draco Malfoy"

"Kalian siap ? Silakan mulai sekarang" Seru Remus membuat Moody dan Draco saling melangkah menjauh 3 langkah kedepan dan langsung berbalik badan dan melempar mantra. Dan membuat semua mata terpusat hanya pada mereka.

.

-c.a.n.d.l.e-

.

Harry Potter berjalan cepat sambil menenteng telurnya. Ia hanya memiliki waktu 2 minggu lagi untuk memecahkan misteri telur naga. Karena telur ini adalah petunjuk tugas kedua dari Turnamen Triwizard. Harry sudah membuka telur itu bebrapa kali tapi tetap saja yang terdengar adalah teriakan memekakkan telinga. Ia merasa pusing dan frustasi, bukan maunya terlibat turnamen gila ini. Tapi kerepotan mengenai turnamen malah semakin menganggunya. Ia berjalan tak tentu arah. Jujur saja sebenarnya Harry hanya berusaha mencari inspirasi mengenai telur ini, teman-temannya pun sama saja pusingnya.

Harry memperlambat langkahnya saat ia melihat seorang gadis jatuh tersungkur, dan dilihatnya seseorang yang sepertinya ia kenal mengulurkan tangannya pada gadis itu, membantu gadis itu berdiri dan ikut merapikan buu-buku yang terjatuh. Tanpa sadar ujung bibir Harry tertarik dan membentuk seukir senyuman indah.

"Gentleman" Pikir Harry.

Harry berjalan semakin mendekat dan ia terpana dengan senyum indah Cedric –salah satu peserta turnamen-. Sekali lagi Harry tersenyum, walau tak seperti senyuman Draco yang langsung memerangkap hatinya, senyum Cedric mampu membuatnya merasa damai.

Gadis tadi pergi dengan wajah merona dan meninggalkan Cedric yang sekarang menatap Harry. Ia tersenyum ramah.

"Siang Harry" Sapanya.

Mau tak mau Harry kembali tersenyum kala ia mendengar Cedric memanggil nama depannya.

"Selamat siang, Diggory"

"Panggil aku Cedric saja, Harry" Seru Cedric sambil meraih tangan Harry, mengecup punggung tangannya dan berlalu pergi.

Wajah Harry merona, ia berdehem pelan berusaha menenangkan debar jantungnya yang terpacu cepat. Lalu melangkah pergi menuju asramanya.

Cedric berhenti berjalan dan menoleh kearah Harry yang berjalan berlawanan arah dengannya.

"Seperti biasa, dia memang manis" Serunya sambil menatap punggung Harry yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya. Ia melanjutkan langkahnya sambil bersiul-siul dan entah kenapa terlihat sangat bahagia.

Tiba-tiba ia berhenti dan mengaduk-aduk isi tas yang terselempang di bahunya. Di keluarkannya telur yang sama dengan yang dipeluk Harry tadi -walau dengan motif yang berbeda-. Ia bersandar pada pilar koridor dan mengamatinya. Sudah berbagai cara ia lakukan tapi hasilnya nihil. Ia masih belum dapat menemukan jawaban tentang tugas turnamen kedua.

Ia berhenti memandang telurnya kala indra pendengarannya menangkap kehadiran seseorang tak jauh dari tempatnya bersandar. Ia melihat Alastor Moody atau Mad Eyes –julukannya- berjalan mendekatinya dengan langkah terpincang.

Cedric menegakkan tubuhnya dan menunduk hormat.

"Sir" Sapanya.

Moody memandang Cedric dengan tajam, mata palsunya seakan meyelidiki setiap inci tubuh Cedric. Sementara Cedric tidak merasa takut seperti kebanyakan murid ketika menatap Moody. Ia tersenyum hormat pada sosok Auror yang diseganinya itu.

"Cobalah berendam, itu akan mendinginkan kepalamu" Serunya dan kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkan Cedric yang berusaha mencerna perkataan salah satu juri dalam tugas kedua dan ketiga ini. Untungnya dia merupakan salah satu murid terpintar diangkatannya, pemuda berambut pirang itu mengamati telur yang baru dipeluknya itu.

"Thanks, Sir" Serunya sambil memikirkan kamar mandi mana yang bisa dipakainya untuk berendam.

.

-c.a.n.d.l.e-

.

Waktu terus berjalan mundur. Membuat Harry semakin gelisah karena tidak menemukan apa tugas kedua. Capek Karena tidak mendapat jawaban. Harry memutuskan berjalan ke menara yang berfungsi sebagai rumah burung hantu.. Baru ia meraih ganggang pintu untuk dibuka. Seseorang telah menarik ganggang pintu itu dan membuat mereka bertatapan.

"Hai, Harry" Seru Cedric.

"Hai" Seru Harry sambil tersenyum.

"Kau tampak kusut ?"

"Hum, yeah. Aku masih belum mendapat jawaban tugas kedua"

Cedric mengangguk mengerti dan mengelus rambut hitam berantakan Harry.

"Kau tahu kamar mandi Prefek kan ?" Tanya Cedric dengan tatapan mata yang entah kenapa sangat lembut menurut Harry.

Harry hanya mengangguk ragu.

"Berendamlah dan jangan lupa bawa telurmu"

Harry hanya menatap Cedric dengan pandangan bertanya. Sementara Cedric hanya tersenyum lembut lalu berbisik ditelinga Harry.

"Selamat berjuang, Harry"

.

-o.c.t-

.

Harry berjalan cepat di koridor. Jam malam telah lama lewat, sebisa mungkin ia ingin cepat sampai ke asramanya. Tangannya memeluk telur Naga dan tampak tetes-tetes air yang membasahi rambutnya. Ia baru saja mencoba saran Cedric dan ya, ia berhasil mendapat jawaban tugas kedua. Masalahnya sekarang, ia tidak tahu bagaimana caranya bernapas dalam air selama 1 jam lebih. Harry sampai didepan lukisan nyonya gemuk, mengucap password dan tanpa memperdulikan omelan lukisan itu ia masuk ke ruang rekreasi Gryffindor.

Seseorang dengan rambut pirang menatap Harry,

"K-kau d-dari mana Harry ? Su-sudah lewat tengah ma-malam sekarang" Seru Neville dengan gugup seperti biasanya dan di tambah pandangan mata heran.

Harry mendesah pelan, lalu duduk di sofa tunggal tepat didepan sofa yang di duduki Neville. Hanya mereka berdua yang berada di ruang rekreasi asrama Gryffindor, hal wajar mengingat sekarang sudah lewat tengah malam.

"Kau belum tidur Neville ?" Tanya Harry, sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Neville tadi.

Neville tersenyum, "Ja-jangan me-mengalihkan pembicaraan, Harry"

Harry ikut tersenyum, "Jangan berpura-pura di depanku kalau begitu" Serunya yang berlanjut menjadi seringgai.

Neville terkekeh dan ikut menyungingkan seringai, yang jarang bahkan tidak pernah ia tampilkan di depan umum. Terkecuali untuk orang-orang tertentu, Harry misalnya.

"Kau tahu rupanya" Serunya dengan lancar tanpa nada gugup seperti sebelumnya.

"Aku bukan 100% manusia, sama sepertimu" Seru Harry dengan nada ramah. Karena Harry tahu Neville bukan musuh baginya.

Neville mengangguk lalu mengulurkan tangannya pada Harry, "Kita belum berkenalan secara resmi sejak tahun pertama. Perkenalkan, aku Neville Longbottom, Penyihir Pureblood dan mewarisi ½ darah elf"

Harry menyambut uluran tangan Neville dan bersalaman, "Harry Potter, memangnya siapa yang tak tahu namaku ?" Serunya dengan kilat mata bercanda, membuat Neville kembali terkekeh.

"Penyihir Pureblood dan Vampire Pureblood" Lanjut Harry dan melepas jabat tangan mereka.

Neville mengangguk, "Jadi, dari mana kau tadi ?"

Harry tampak berpikir sebentar mempertimbangkan akan menanyai masalahnya atau tidak, "Aku habis berendam"

Neville tersenyum jahil, "Aku tak tahu Vampire punya hoby berendam tengah malam ? Aku kira kau punya hoby menghisap darah"

"Aku mencari cara memecahkan tugas kedua Turnamen Triwizard, dan dalam tugas itu aku butuh kemampuan bernapas sekitar 1 jam di dalam air"

Neville mengangguk, lalu ia mengambil salah satu buku dari tumpukan bukunya diatas meja. Membuat Harry berpikir seharusnya anak ini masuk Ravenclaw.

"Ada satu tumbuhan yang bisa kau gunakan untuk itu. Gillyweed nama tumbuhan itu. Dengan memakannya akan membuatmu mampu bernapas dalam air selama 1 jam dan kebetulan aku memeliharanya di laboratorium bersama professor Sprout"

Senyum bahagia tampak di wajah manis Harry, "Kau memang jenius Herbology, Neville "Serunya senang.

Neville hanya mengangguk, kemudian melanjutkan bicara dengan mimik wajah serius, "Berhati-hatilah dengan Alastor Moody, ia yang memberi tanaman ini padaku. Aku tidak bermaksud menuduhnya atau apa, hanya saja aura sihirnya membuatku selalu waspada"

Harry menganggu, "Aku juga merasakannya, aura sihirnya dominan ke Dark. Ngomong-ngomong kenapa ia memberikan tanaman itu padamu ?"

"Ia tahu aku jenius di Herbilogy. Dengan karakterku yang polos dan tampan serta mencintai tanaman ini, sepertinya ia yakin aku akan bercerita tentang tanaman itu pada seseorang di asrama dan lalu di dengar olehmu yang membutuhkan seseuatu untuk tugas kedua"

"Kesimpulan yang bagus Neville tapi aku baru tahu kalau kau narsis" Seru Harry sambil memutar kedua bola matanya.

"Harry" Seru Neville saat Harry menaiki tangga menuju asrama laki-laki.

"Ya ?" Harry menatap Neville yang tadi memanggilnya.

"Aku berada di pihakmu" Seru Neville dengan tegas dan tanpa sedikitpun nada ragu.

Harry tersenyum, "Terima Kasih Neville" Seru Harry dengan suara yang berwibawa, membuat Neville tersenyum dan menundukkan kepala tanda penghormatan.

.

-c.a.n.d.l.e-

.

Harry berlari terburu-buru, sejak semalam kedua sahabatnya yang di panggil oleh professor McGonagall tidak kunjung ia lihat. Padahal 1 jam lagi tugas kedua akan dilaksanakan. Setelah merasa lelah mencari, Harry menyerah dan berjalan gontai menuju Danau Hitam.

"Nih" Seru seseorang sambil menyerahkan segengam tumbuhan berbentuk mirip rumput laut ke depan Harry.

"Thanks Neville. Ngomong-ngomong kau melihat Hermione dan Ron ? Sejak semalam mereka menghilang"

Neville menggeleng pertanda ia sama sekali tidak tahu. Harry mengangguk dan melanjutkan perjalanan menuju Danau Hitam.

Dumbledore mengamati ketiga peserta yang sudah berbaris berbanjar rapi di depannya. Ia tampak cukup tegang, Barulah ketika Harry datang dan ikut berbaris, kepala sekolah itu tampak lebih rileks.

"Anak-anak ku, sekarang kalian akan melaksanakan tugas kedua. Kalian dberi waktu satu jam untuk mencari benda berharga yang tersembunyi di dalam danau hitam"

Semua peserta mengangguk dan mempersiapkan diri untuk menyelam ke Danau hitam yang penuh dengan makhluk sihir yang berbahaya.

"Bersedia, siap dan mulai !"

Mendengar aba-aba sang komentator, keempat peserta langsung terjun dan menyelam dalam dinginkan air di Danau Hitam.

"Dimana Hermione dan Ron" Seru Theo yang celigukan mencari dua Gryffindor itu diantara kerumunan penonton turnamen.

"Entahlah Theo, aku tidak melihat mereka sejak pagi" Seru Pansy yang ikut-ikutan mencari kedua sahabat dekat Harry itu.

Draco hanya diam, pandangannya terkunci pada permukaan Danau HItam. Dan berharap-harap cemas tentang keadaan Harry di dalam sana.

"Draco"

Draco memalingkan wajah ke arah suara yang memanggilnya, dan terlihat gadis berambut hitam sebahu yang cukup cantik walau masih kalah jauh dengan kecantikan Harry dalam wujud Vampire. Entah sejak kapan gadis itu berada di sebelah Draco.

"Ada apa Astoria ?"

Astoria menatap mata Draco lurus-lurus dan di balas Draco dengan tatapan tajam menusuk.

"Uncle Lucius ingin menemuimu"

"Setelah pertandingan kedua selesai aku akan segera menemui Dad"

Astoria mengangguk dan berlalu pergi.

"Adik Daphine ?" Tanya Blaise sambil menatap kepergian Astoria.

"Iya" Jawabku sambil kembali menatap permukaan Danau Hitam.

Sudah 40 menit berlalu, tiba-tiba muncul Fleur yang mangap-magap dan kecipak kecipuk tidak jelas. Dari kejauhan dapat terlihat ia menangis dan memeluk tubuhnya yang tampak mengigil meski sudah diberi handuk dan mantra penghangat. Berikutnya Viktor Krum muncul dengan Hermione yang ikut muncul ke permukaan.

"Hermione ?" Seru Blaise terkejut.

Tinggal 5 menit lagi waktu yang tersisa tapi belum tampak tanda-tanda muncul Harry. Tepat tersisa 3 menit lagi, Ron muncul ke permukaan bersama seorang gadis keci berambut pirang.

Wajah Theo memucat menatap Ron yang tampak bersusah payah menepi dengan menarik gadis pirang di sebelahnya. Draco kembali memfokuskan padangan ke Danau Hitam berusaha mencari sosok Harry yang tak kunjung mucul. Pansy melipat kedua tangannya dan sibuk komat kamit berdoa.

Tiba-tiba sesosok tubuh terlempar keluar danau dan menghantam kayu panggung dengan bunyi patahan yang terdengar jelas. Lalu ia tersungkur jatuh dengan luka di sekujur tubuhnya. Semua orang membisu menatap keadaan Harry. Ia tak sadarkan diri, sebelum kemudian seorang dengan rambut sebahu dan bertampang dingin menghampiri Harry dan tanpa banyak kata langsung membawa pergi Harry ke Hospital Wing.

Para murid dengan terpaksa membubarkan diri saat Dumbledore memerintahkan mereka kembali ke kamar. Bagaimana pun keadaan ini di luar perkiraan.

Wajah Draco memucat dan tidak berkomentar apa-apa meski tubuh Harry sudah di bopong Severus.

"Draco, kita harus pergi" Seru Theo dengan ekspresi datar, tangannya ia kepalkan kuat-kuat. Karena berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak menemui Ron dan memeluk pemuda itu.

Draco mengangguk mengikuti ketiga sahabatnya yang telah berjalan terlebih dahulu. Meninggalkan panggung tanpa kejelasan pemenang turnamen kedua ini.

.

-c.a.n.d.l.e-

.

Sesosok pemuda dengan rambut pirang nyaris putih berjalan cepat menyelusuri koridor Hogwart. Iris mata silver-nya berkilat terang di tengah redupnya penerangan di koridor yang mengarah menuju Hospital Wing. Draco Malfoy ia baru akan mengunjungi Harry setelah seharian harus bersama ayahnya yang mendapat undangan khusus menjadi tamu dalam Turnamen Triwizard. Draco membuka pintu Hospital Wing dengan hati-hati takut suara pintu itu dapat membangunkan siapapun yang berada di dalam. Sedikit tidak sabaran Draco langsung berlari menuju ruang perawatan khusus yag menjadi tempat langganan Harry. Ia terkejut saat membuka pintu itu yang di lihatnya bukan lah pemuda manis berambut hitam berantakan tetapi pria dewasa dengan rambut coklat madu tengah duduk di samping tempat tidur pasien yang kosong sambil membaca Daily Propet.

"Professor Lupin. Sedang apa anda di sini" Seru Draco yang nada bicara terdengar bukan maunya bicara begitu hanya saja ia begitu kecewa tidak menemukan sosok Mate-nya.

Remus tersenyum simpul mendengar nada bicara muridnya itu.

"Harry menemui Dumbledore dan tampaknya ia tak kan kembali ke sini hingga besok"

Draco melipat kedua tangannya di dada.

"Yang benar tadi siang keadaanya sekarat"

Remus tampak menghembuskan napas keras, "Itu yang dari tadi aku coba katakan padanya, tapi dia terlalu keras kepala. Seandainya Severus tidak mendapat panggilan mendadak di kementerian aku yakin dia bisa memaksa Harry untuk istirahat"

Draco memijit keningnya yang mendadak merasa pusing. Tingkah laku Harry yang di perkiraannya itu benar-benar membuatnya sakit kepala.


TBC...


A/N Halo semua…. Lambai-lambai tangan

Lagi-lagi dian ngepanjangin chap.. Ahahahahaha.. YB-nya ku buat setelah Tugas kedua jadi chap depan. Kalau mw protes diterima kok. Tapi perlu di ingat, berhubung yang jadi authornya aku, jadi ceritanya ku rombak sesuai imajinasiku:D Oh ya dian terima flame kok… Tapi yang membangun, OK ?

Balasan Review:

Sora92: Hehehe.. kasian Theo tuh *Nunjuk Theo yang jongkok di pojokkan. Yap! Mereka memang menyembunyi sesuatu dari Harry dkk, misinya rahasia dung. Apalagi soal Harry mengatakan apa pada Ron dan Hermione itu juga rahasia. Ehehehehe… Makasih sudah review

Devil eye's: Jujur saja, aku bingung dengan seleramu.. WkwkwkXD. Ohoho.. Itu memang mantra sederhana, tapi kalau di modifikasi jadi keren kok *Hm.. menurutku sih. Dian hanya menyesuaikan plot, dimana Harry dan Draco banyak bahagianya dan banyak pula menderitanya. Tapi akhirnya bahagia kok *Mungkin…

Keylacortez: Ahahahaha.. Nasipmu apes Theo. Itu ramuan penyembuh yang dibuat Severus dan Draco di chap 7. Pas liburan musim panas Harry sebelum masuk ajaran tahun keempat.

Futari chan: Mau review kapan saja boleh kok XD. Oup, semoga chap ini jauh lebih baik susunan kalimatnya:) Ehehehe maklum saja, Tak ada mata kuliah di jurusanku.. *Alasan:p

Meg chan: Sudah Update. Makasih berkenan Review

Fawwaz Hakim: Khu-khu-khu.. aku masih belum mutusin *Plin plan

Ccloveruki: *Ditendang balik ama Theo yang kelewat badmood.. wkwkwk.. Setelah mereka tahu kalau yang punya Harry Draco mereka pada bungkam tuh

Ai Hinatalawliet: *Dijitak balik ama theo yang super badmood:p Ada deh… ehehe…

Keiraluna: Hohoho… Makasih, makasihXD..

Hatakehanahungry: He… masih rahasia ya… Hum mainin sih ngak tapi… Maaf sosok Vampire Harry belum di munculin lagi…

Aihsire Atha: "Sejak Author-nya mutusin gitu!" Seru Ron sambil menunjuk Apdian. Yang di tunjuk cuma nyegir

RedElanor: Yap ini dalam rangka mencari suasana baru nih. Ehehehe

Alma Blue: Yoa.. Diusakan secepat yang dian bisaXD

Rose: Hm.. ada masalah entar tapi bukan di chap ini:D

Terima kasih buat yang berkenan baca. Semoga saja kalian tetap suka dengan fic ku ini... Tolong Review-nya ya..

Salam hangat,

Apdian Laruku