Final Chapter Updated!
Terima kasih ditujukan kepada para pembaca setia dan bagi teman – teman yang telah memberikan review yang luar biasa, serta bagi para visitor fic saya yang masih amatir ini.
Thank you guys ^_^
Kuharap saya tidak mengecewakan kalian. Hehe
Selamat membaca…. /
Warning : Not suitable for children under 15.
My Heart Knows What I'm Feeling
Disclaimer: I don't own Captain Tsubasa. It belongs to Mr. Yoichi Takahashi
Chapter 9 ( Final Chapter )
~ I Don't Wanna Lose You ~
( Misugi and Yayoi's POV )
Misugi's POV-
Tak pernah kusadari sebelumnya….
Hariku tanpamu begitu sepi. Begitu membosankan.
Tak pernah kusadari….
Kau masuk ke dalam hidupku begitu banyak.
Tak pernah kusadari….
Kau memberiku banyak keajaiban.
Tak pernah kusadari….
Betapa bergantungnya aku padamu.
Sekarang aku menyadari….
Aku tidak bisa sedetik pun lepas darimu.
Karena kau adalah bagian dari hidupku.
####
Namaku Jun Misugi. Seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama berusia 15 tahun. Penderita penyakit jantung.
Jangan bertanya kenapa aku berlari.
Saat ini aku sedang ingin menuju ke tempat seorang gadis. Gadis yang selama bertahun – tahun dekat denganku. Seorang gadis manis yang selalu membantuku. Selalu menemaniku. Gadis yang tidak pernah lepas dariku.
Lagi – lagi…. Jangan tanya kenapa aku berlari.
Ini semua kulakukan…. Karena aku ingin cepat sampai kepadanya.
Aku ingin meminta maaf. Aku ingin katakan bahwa aku menyesal. Aku ingin mengatakan yang sejujurnya kepadanya.
Aku berlari cukup kencang, dan akhirnya sampai di depan rumahnya. Dengan napas masih tersengal – sengal, aku memencet bel rumahnya. Sesaat kemudian seseorang membuka pintu.
Tante Ayako!
Dia melihatku, kemudian berjalan ke arahku dan membuka pintu pagar. Aku mengatur napasku, mencoba untuk rileks.
"Ada perlu apa?" tanya Tante Ayako dingin.
Aku mengambil napas dalam.
"Maaf mengganggu. Saya ingin bertemu Yayoi. Kudengar ia sedang sakit. Itu benar?" jelasku.
Tante Ayako terdiam. Namun, kulihat wajahnya sedikit terkejut.
"Apa maksudmu? Putriku tidak sakit," tegasnya.
"Eh?" Sekarang aku terkejut.
"Kau jangan mencari – cari alasan! Ada urusan apa dengan putriku?" tegasnya lagi.
Aku tersentak. Kenapa? Tante Ayako bilang Yayoi tidak sakit. Sedangkan Yoshida….
Ah!
Sial.
Yoshida membohongi aku!
"Maaf. Kurasa ada kesalahan informasi dari teman," ujarku menunduk.
Yoshida sialan. Kenapa berbohong padaku? Membuatku khawatir. Dan kini membuatku menjadi seperti orang bodoh di hadapan ibu Yayoi.
Sigh.
Baiklah, karena sudah sampai kemari…. Aku harus bertemu dengan Yayoi dan menjelaskan semuanya.
"Maaf, apa Yayoi ada di dalam?" tanyaku.
Tante Ayako menatapku. Masih diam. Sesaat kemudian aku mendengar suara seseorang berseru keluar dari rumah.
"Mama!" teriaknya. Aku dan Tante segera menoleh ke arah orang itu.
"Si ceroboh itu lupa membawa ponselnya!" serunya.
Kak Naoki?
Kak Naoki adalah kakak laki – laki Yayoi. Saat ini keluar rumah, menghampiri kami dan menyerukan kalimat yang tidak kumengerti.
"Eeeh? Bagaimana bisa?" tanya Tante. Kak Naoki melirik ke arahku.
"Kutemukan ini di kasurnya. Anak itu ceroboh sekali. Meninggalkan barang yang begini penting!" ujar Kak Naoki.
Tunggu…. Aku tidak mengerti….
Sebenarnya apa yang terjadi?
"Maaf, Yayoi…. Di mana?" tanyaku, sedikit cemas. Kemudian mereka berdua menoleh ke arahku.
"Eh, kau tidak tahu?" tanya Kak Naoki padaku.
"Eh?" Aku benar – benar tidak mengerti.
"Yayoi baru saja berangkat ke Shizuoka," jelasnya.
Apa?
Aku terkejut.
"Shizuoka?" tanyaku. Masih tidak percaya.
"Iya. Bersama Tsubasa," tegasnya.
Eeeeeeeeeeh?
Yayoi pergi ke Shizuoka bersama Tsubasa? Dan aku tidak tahu.
"Kenapa? Bahkan ini belum musim liburan, kan?," tanyaku.
"Hmmm…. Entahlah. Mungkin sekalian mengantar Tsubasa pulang, Yayoi berlibur di sana untuk beberapa hari," jawabnya.
"Untuk berapa lama?" tanyaku kemudian.
"Entahlah. Mungkin seminggu," jawab Kak Naoki. Tante Ayako masih saja diam.
Aku tersentak.
Seminggu? Itu…. Lama sekali.
Dan bersama Tsubasa?
Celaka!
"Kapan mereka meninggalkan rumah?" tanyaku lagi. Aku sudah sangat cemas.
"Hmm.… Mungkin seperempat jam yang lalu," jawabnya.
Aku terdiam.
"Uh, kuharap dia masih ada di stasiun. Bagaimana pun juga aku harus mengantarkan ponsel Yayoi ini. Dasar. Anak itu benar – benar merepotkan," ujar Kak Naoki menghela napas.
"Iya, Naoki. Cepat kejar adikmu! Mama akan coba hubungi ponsel Tsubasa," balas Tante Ayako hendak menuju ke dalam rumah.
"Baiklah," sahut Kak Naoki.
"Biar aku saja."
Aku berdiri tegak di hadapan Kak Naoki, mengulurkan tangan kananku kepadanya.
"Eh?" Kak Naoki tampaknya heran.
"Biar aku saja yang memberikan ponsel ini pada Yayoi," tegasku sambil mengambil ponsel Yayoi dari tangan Kak Naoki.
"Eh, tapi…." ucap Kak Naoki.
"Maaf. Permisi." Aku membungkukkan badan di depan mereka berdua, menaruh ponsel Yayoi di saku kemudian berlalu pergi.
####
Sial! Kenapa mendadak seperti ini? Kenapa pergi tanpa bicara dulu denganku? Kenapa tiba – tiba memutuskan hal semacam ini? Meninggalkan aku.
Memang. Aku sadar. Bahkan aku tidak punya hak untuk melarangnya pergi. Aku bukan siapa – siapa untuk Yayoi. Tapi….
Aku tidak bisa membiarkannya. Aku tidak akan mungkin bisa bertahan.
Seminggu…. Bahkan itu waktu yang sangat lama. Seminggu tidak melihatnya. Seminggu membiarkannya bersama cowok lain. Aku tidak akan tahan. Karena sedetik pun….
Aku ingin dia terus bersamaku.
####
Hujan deras kembali mengguyur wilayah Tokyo. Kali ini diselingi oleh petir yang menyambar.
Kenapa harus hujan di saat seperti ini?
Aku sedang berada di dalam taksi. Jarakku dengan stasiun kurang lebih berselang sepuluh menit perjalanan mobil. Itu pun jika lalulintas lancar. Tapi…. Hari ini aku sungguh sial. Kenapa harus terjadi kemacetan lalulintas? Di saat seperti ini? Ya, Tuhan. Apa yang harus kulakukan. Jika terus begini, pasti tidak akan bisa keburu.
Sudah tidak ada waktu lagi!
Aku keluar dari taksi. Segera berlari menyusuri jalanan kota Tokyo. Berlari di tengah hujan. Yah, kupikir inilah satu – satunya jalan yang tersisa. Berlari bahkan lebih cepat sampai, pikirku.
Aku berlari, berlari, dan terus berlari.
Pertama kali dalam hidupku, aku berlari bukan demi ambisiku terhadap sepakbola. Bukan demi menggiring bola, mengoper, dan mencetak gol. Namun….
Pertama kali dalam hidupku…. Aku berlari demi seorang gadis. Gadis yang sangat baik. Gadis yang sangat dekat denganku. Gadis yang berarti bagiku. Gadis yang hendak melangkah menjauhiku. Hendak pergi meninggalkanku.
Aku tahu betul ini salahku. Karena aku terlalu bodoh. Terlalu bodoh karena tidak pernah menyadari perasaanku pada Yayoi yang sebenarnya. Terlalu bodoh karena membuatnya terluka begitu banyak. Terlalu bodoh untuk memberinya kesempatan pergi bersama cowok lain.
Aku terus berlari. Aku harus berlari. Tidak peduli seberapa jauh jarak kutempuh. Walau hujan ini telah memberatkan tubuhku sekali pun. Aku akan tetap berlari. Aku mampu berlari kencang di tengah hujan saat bertanding melawan Tsubasa tiga tahun silam. Dan aku masih hidup sampai sekarang. Oleh karena itu, saat ini pun juga. Aku pasti bisa.
Aku harus berlari secepat mungkin.
Berlari!
Jika Yayoi melihatku saat ini, ia pasti akan marah padaku. Karena aku berlari begini gila. Pasti akan marah. Bahkan aku sudah capek. Jantungku sudah memberiku isyarat bahwa aku harus segera berhenti.
Tapi, aku tidak akan berhenti. Aku sudah tidak bisa berhenti. Karena jika aku berhenti…. Aku tidak akan bisa lagi meraihnya.
Tuhan…. Semoga aku belum terlambat.
Jantungku…. Kali ini kau harus bekerjasama denganku.
Kumohon…. Sedikit lagi.
End of Misugi's POV
Yayoi's POV
Hujan turun lagi. Untuk kedua kalinya di hari ini, hujan turun begitu deras. Suara petir yang saling menyambar terdengar menakutkan. Aku sedang berada di stasiun kereta, hendak berangkat menuju Shizuoka. Namun, entah kenapa ada yang mengganjal pikiranku saat ini. Hujan ini rasanya membuat hatiku tidak tenang.
Padahal sudah kuputuskan sejak semalam, saat Tsubasa menawarkan padaku berlibur ke Shizuoka. Aku sudah memutuskan…. Aku akan meninggalkan Tokyo untuk sementara. Aku akan ikut bersama Tsubasa. Paling tidak, di Shizuoka nanti hatiku bisa lebih tenang, pikirku.
Aku sudah gila. Gila karena memuja seorang cowok yang bahkan sama sekali tidak menganggapku penting. Aku bodoh. Bodoh karena bertahun – tahun dibutakan oleh cinta yang tidak akan pernah terbalas. Aku yang sejak lama berada di sampingnya, bahkan tidak ia pedulikan. Kemudian dia telah sukses membuatku terluka. Oleh karenanya, aku ingin untuk sementara waktu menghilang dari hadapannya. Aku ingin bisa melupakannya.
Tapi….
Apa yang membuatku bimbang dan resah saat ini?
Pintu kereta hanya berjarak beberapa meter di depanku. Aku hanya butuh berjalan beberapa langkah untuk sampai ke dalamnya. Namun, entah kenapa tubuhku seakan membatu di tempatku berdiri saat ini. Kakiku serasa berat untuk melangkah.
Yayoi, ini hanya satu minggu. Setelah itu kau akan kembali lagi ke Tokyo. Ini tidak lama. Pikirku.
Namun, jika aku benar – benar pergi…. Aku merasa….
Aku akan sangat banyak merindukan dia. Aku akan merindukan Jun lebih banyak dari sebelumnya. Bagaimana ini?
"Yayoi, tunggu apa lagi? Ayo cepat," Tidak tahan melihatku bengong, Tsubasa cepat – cepat menarik tanganku. Segera dibawanya menuju pintu masuk kereta.
Aku menghentikan langkahku. Membuat Tsubasa tersentak.
"Tu – tunggu, Tsubasa," ucapku. Sekarang aku mulai ragu untuk pergi.
"Ada apa? Kereta sudah mau berangkat," sahut Tsubasa.
Aku terdiam. Kenapa aku ragu? Kenapa pikiran tentang Jun selalu mengganggu aku?
"Aku…."
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, aku mendengar suara seseorang berteriak dari kejauhan. Berteriak memanggil namaku.
"Yayoi!"
Aku pun menoleh.
Kemudian, betapa terkejutnya diriku ketika melihat sosok seorang cowok berambut cokelat berlari menghampiriku.
Itu Jun!
"Yayoi!" teriaknya.
Aku berdiri membatu.
Tuhan…. Apa saat ini aku sedang bermimpi? Apa aku salah lihat? Apa aku sedang berhalusinasi? Kenapa saat ini aku bisa melihat Jun di depan mataku? Kenapa aku melihat Jun berlari ke arahku? Masih memakai seragam sekolah. Sekujur tubuhnya basah. Terlihat begitu kacau.
Aku tidak sedang bermimpi, kan?
Apa Jun telah berlari di tengah hujan deras?
Jantungku berdetak semakin kencang. Sosok Jun yang sedang berlari mendekat semakin jelas terlihat. Kemudian benar – benar jelas. Ini memang Jun. Saat ini dia berada persis di depan mataku. Seluruh tubuhnya basah oleh air hujan. Padahal ia hanya mengenakan kemeja sekolah lengan pendek dan celana panjang seperti biasa. Semuanya basah. Di udara sedingin ini. Membungkuk di depanku dengan napas yang tersengal – sengal. Bahkan, suara tarikan napasnya dengan jelas terdengar olehku. Ini tidak baik.
"Jun….?" tanyaku cemas.
Dia masih diam. Kemudian perlahan mendongakkan kepala, dengan badan masih membungkuk. Dia kini melihatku. Dan aku pun bisa melihat wajahnya yang tampak sedikit pucat. Pasti karena berlari kemari. Kenapa berlari? Dasar bodoh!
"Kau baik – baik sa-"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tiba – tiba Jun meraih tubuhku. Memelukku begitu erat. Memelukku dengan tubuhnya yang basah dan dingin. Tidak berkata apa pun. Hanya memelukku. Menyembunyikan wajahnya di belakang bahuku.
Kenapa tiba – tiba? Kenapa bisa pergi ke tempat ini di tengah hujan deras seperti itu? Jun aneh. Berbeda dari biasanya. Dan aku mulai mencemaskannya. Walau begitu, normal jika aku berdebar – debar saat ini. Wajahku panas. Dan merah.
"Jun…. Apa yang terjadi?" tanyaku.
Jun masih diam. Entah apa yang ada di benaknya saat ini. Aku menepuk punggungnya pelan. Melalui jariku, aku merasakan punggung Jun. Dingin. Suara detak jantungnya semakin terdengar jelas olehku. Badum badum badum. Sangat kencang.
"Jun, baik – baik saja?" tanyaku cemas.
Jun masih terdiam. Aku merasakan lengannya bergetar, meremas tubuhku semakin kuat.
"Eeeh? Jun…. Sakit…." ucapku malu.
Jun menyadarinya, kemudian segera melepaskan pelukannya.
"Maaf…." balasnya. Jun berdiri tegap, sedikit memalingkan pandangannya dariku. Menggaruk kepalanya. Wajahnya merah. Dan terlihat kacau.
Aku menggelengkan kepala sambil menunduk malu. Wajahku pun telah memerah sedari tadi.
Aku mulai mengangkat kepala. Melihat Jun. Tampaknya ia baik – baik saja.
"Kupikir aku sudah terlambat," sahut Jun.
"Eh?"
"Kupikir kau benar – benar pergi meninggalkan aku," tambahnya. Kali ini ia menatapku. Wajahnya memerah.
"Eeeeh?" reaksiku.
"Hei hei, kalian telah melupakan seseorang," Tsubasa berkata. Wajahnya cemberut.
"Ah. Tsubasa! Maafkan aku!" sahutku kelabakan.
Aku mulai melangkah ke tempat Tsubasa, namun terhenti karena Jun menarik tanganku. Tangannya dingin. Aku pun menoleh padanya. Wajahnya tampak masam. Sorot matanya tajam ditujukan langsung kepada Tsubasa.
"Aaaah. Jadi bagaimana, Yayoi? Jadi pergi tidak? Aku butuh keputusanmu sekarang," tanya Tsubasa.
Aku terdiam. Terus terang aku sangat bingung. Jika aku memilih, maka salah satu di antara mereka akan terluka. Bagaimana ini? Sejujurnya aku tidak ingin pergi.
Tangan Jun menggenggam tanganku semakin erat. Jun benar – benar aneh sekarang.
"Yayoi?" tanya Tsubasa.
Aku tahu. Aku tahu bahwa aku harus memutuskan sekarang juga!
Aku tahu di mana aku akan bahagia. Aku yakin.
Aku membungkuk. Lurus di hadapan Tsubasa.
"Maaf," ucapku.
"Aku akan tinggal. Aku tidak bisa jauh dari orang yang kusuka," tambahku, kemudian bangkit berdiri tegap.
Tsubasa tersenyum.
"Baiklah. Jika memang keputusan Yayoi begitu. Kuterima," sahut Tsubasa.
"Kau memang keras kepala," tambahnya sambil menepuk kepalaku pelan. Aku tersenyum.
"Terima kasih, Tsubasa," sahutku.
Tsubasa kini menghampiri Jun. Tersenyum.
"Misugi… Jika kau buat Yayoi terluka, aku tidak akan memaafkanmu," ucap Tsubasa.
Jun memasang wajah masih masam. "Aku tahu. Tidak usah menggurui aku! Sana pergi!" balas Jun.
"Haha. Baiklah, aku pergi. Yayoi, jaga dirimu," ujar Tsubasa tersenyum.
"Baik," balasku. Tersenyum gembira.
Begitulah. Dan akhirnya Tsubasa kembali ke Shizuoka. Seorang diri.
Aku kembali menoleh ke arah Jun. Namun, kali ini ia merosot. Sudah melepaskan genggaman tangannya. Tiba – tiba ia duduk berjongkok dari posisinya berdiri. Menutupi wajahnya dengan kedua lengan dan lututnya. Ia seperti gelisah. Suara napasnya yang tersengal – sengal terdengar olehku. Ini gawat!
Aku pun mengambil posisi jongkok di depannya. Aku mencoba menyingkirkan lengan yang saat ini menutupi wajahnya. Ya Tuhan! Tangannya bertambah dingin. Dan sekarang aku sudah bisa melihat wajah Jun. Sesuai dugaanku, ia pucat. Jun semakin terlihat gelisah.
"Jun…. Apa angina lagi?" tanyaku pelan.
[ Angina is severe chest pain due to ischemia (a lack of blood, hence a lack of oxygen supply) of the heart muscle, generally due to obstruction or spasm of the coronary arteries ]
Jun mengangguk. Bahkan berbicara saja saat ini mungkin sangat sulit dilakukannya.
Aku mencoba tenang. Tenangkan diri. Pasti akan baik – baik saja. Ini bukan pertama kalinya aku melihat Jun seperti ini. Aku pasti bisa mengatasi kondisi seperti ini, pikirku.
"Jun…. masih kuat berjalan?" tanyaku lagi.
Jun mengangguk.
"Syukurlah." Aku menempatkan diri di sebelah kirinya, kemudian bersiap untuk memapah. Aku membawa Jun ke sebuah kursi tak jauh dari posisiku tadi. Aku memilih tempat yang cukup sepi. Di tempat tadi terlalu banyak orang, sehingga oksigen pun berkurang. Sedangkan Jun harus mendapat oksigen dalam jumlah yang cukup dan harus ditempatkan pada posisi senyaman mungkin.
Aku menempatkan Jun di bangku kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Wajahnya masih sedikit pucat. Aku melepaskan ikatan dasi yang melingkar di lehernya kemudian membuka kancing atas kemeja Jun. Tak lupa, ikat pinggang juga kulepas. Jujur, aku malu sekali melakukan ini. Tapi, di saat seperti ini, tidak boleh ada benda apa – pun yang mengganggu jalan napas Jun. Aku tahu mengenai hal itu.
"Tubuhmu dingin sekali. Kau harus segera ganti baju," perintahku.
"Tidak usah. Aku baik – baik saja," jawabnya.
"Oh, baiklah." Aku mengeluarkan handuk kering dari dalam koperku. Kemudian segera mengusapkan ke wajah Jun yang masih agak basah. Dilanjutkan mengeringkan rambut dan tangan. Jun menatapku. Setiap gerakan yang kulakukan, ia perhatikan. Ia menatapku dengan mata yang begitu sendu. Dan ini membuatku sangat malu. Kemudian aku duduk di sampingnya. Di sebelah kanan Jun. Kami duduk sangat dekat.
"Sudah baikan, sekarang?" tanyaku tersenyum.
Jun mengangguk. Masih terdiam. Kami berdua membisu untuk beberapa saat. Kemudian perlahan, Jun menyandarkan kepalanya di atas bahuku. Aku spontan terkejut. Dan malu. Wajahku pasti sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Terima kasih," ucap Jun.
"Eh?" aku menoleh ke arahnya. Kemudian tersenyum.
"Terima kasih kembali," balasku.
"Aku kaget, kau tiba – tiba datang kemari. Dari mana kau tahu aku akan pergi?" tanyaku.
"Kau tidak tahu betapa kacaunya aku?" balas Jun.
Aku menoleh ke arah Jun.
"Eh? Apa yang terjadi?" tanyaku lagi.
"Semua karena Yoshida cerewet itu!" sahut Jun.
"Haruka? Kenapa?" tanyaku heran.
"Dia bohong padaku. Bilang kau sakit. Lalu aku pergi ke rumahmu, kemudian Kak Naoki bilang kau pergi ke Shizuoka bersama Tsubasa," jelas Jun.
Jadi begitu. Haruka…. Melakukannya untukku rupanya. Sengaja membuat Jun mencemaskan aku.
"Lalu kau mengejarku sampai kemari? Di tengah hujan?" tanyaku.
Jun mengangguk. Wajahnya mulai memerah lagi. Aku tersenyum.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
Jun bangkit dari posisi bersandar, kemudian duduk seperti biasa. Matanya lurus ke depan. Sepertinya malu menatapku.
"Karena aku tidak mau kau pergi," jawabnya menunduk.
"Eh?" aku mendekatkan wajahku padanya. Kudongakkan kepalaku, memandang wajahnya yang tampak merah dan kacau.
"Kenapa tidak mau aku pergi?" tanyaku lagi.
Jun terdiam. Mengangkat kedua lengannya setinggi dada. Kedua telapak tangannya kini menutupi wajahnya. Jari – jarinya meremas rambut cokelatnya cukup kuat. Benar – benar terlihat kacau.
"Karena aku membutuhkanmu," jawabnya singkat.
Eeeeeeh?
Aku terkejut. Tidak salah? Barusan yang kudengar…. Itu benar?
Apa Jun…. Terhadapku….
Jun beranjak berdiri. Kini ia berdiri persis di depanku yang masih duduk. Kudongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya. Aku masih menatap Jun dengan wajah bingung.
Kemudian Jun membungkuk. Persis di depanku, ia membungkukkan badannya. Masih belum berkata apa pun.
"Jun….?" tanyaku.
"Maafkan aku," ucapnya. Sayangnya aku tidak bisa melihat wajahnya saat ini. Jun masih saja membungkuk.
"Eh?"
"Maaf. Aku memang bukan orang yang kuat secara fisik. Aku bisa kambuh dan roboh kapan saja. Aku ini lemah. Aku sok kuat. Kadang, aku kekanakan. Aku keras kepala. aku bodoh. Aku jahat. Banyak merepotkanmu. Banyak membuatmu cemas. Aku banyak membuatmu menangis. Banyak membuatmu terluka. Terlalu banyak kejelekan dalam diriku. Maaf," ujarnya.
"Eh? Apa yang kau bicarakan?" tanyaku heran melihat sikap Jun yang berubah seperti ini.
"Aku tahu aku bisa mati kapan saja. Aku tahu keterbatasanku. Aku tahu ada banyak hal yang mustahil kulakukan namun orang lain dapat lakukan sesuka mereka. Aku tahu bahwa sebenarnya aku tidak pantas untuk siapa pun juga. Aku bahkan tidak pantas mengatakan hal ini." Ujarnya lagi. Masih membungkuk. Terlihat serius.
"Jun…."
"Tapi…. Aku…."lanjutnya.
Jantungku berdebar – debar. Menanti kata demi kata yang ia utarakan.
"Kini aku menyadari sesuatu yang sangat penting. sekarang aku benar – benar yakin," ucapnya.
Jantungku berdebar semakin kencang. Ya Tuhan, apa kata – kata yang paling ingin kudengar di dunia ini akan Jun sampaikan? Apakah impianku akan menjadi nyata?
"Bahwa aku sangat membutuhkanmu di sisiku jauh lebih besar dari yang pernah kubayangkan. Bahwa aku sangat bergantung padamu. Bahwa aku bisa mengandalkanmu begitu banyak. Bahwa kau sangat berharga bagiku. Aku sungguh yakin atas hal ini," jelasnya.
Jun masih membungkuk. Dia berbicara padaku seolah – olah sedang mengakui dosa. Seolah – olah dia telah bersalah padaku begitu banyak. Kemudian, dengan bahasa tubuhnya yang seperti memohon padaku…. Jun benar – benar berbeda. Namun, ia tidak meninggalkan kelembutan sikap yang terpancar dari setiap kata yang diucapkannya.
Kini, air mata mulai mengintip di balik kelopak mataku. Jantungku terus berpacu.
"Aku menyukaimu, Yayoi," ucapnya kemudian.
Suasana menjadi sangat hening. Mungkin ramai di luar sana. Di luar lingkaran kami berdua. Namun, saat ini aku tidak bisa mendengar apa pun kecuali Jun. Aku tidak bisa melepaskan pandangan mataku sedetik pun darinya. Tubuhku membatu. Bibirku, seakan tidak bisa lagi bersuara. Sekujur tubuhku lemas. Apa yang kudengar barusan…. Itu benar?
Jun masih membungkukkan badan di depanku. Praktis aku tidak bisa melihat wajahnya saat ini. Kemudian aku berdiri. Berjalan mendekat kepadanya. Berdiri persis di depannya.
"Jun, angkat kepalamu," perintahku.
Sesaat kemudian jun mengangkat kepalanya. Berdiri tegap di depanku. Menatapku. Wajahnya merah. Tidak berbeda denganku. Aku tersenyum.
"Bisa kau ulangi, kata – katamu barusan?" pintaku malu. "Dan tolong lihat aku," tambahku.
Jun tersentak. Ia terdiam untuk beberapa saat. Menggaruk – garuk kepala. kemudian akhirnya matanya terfokus padaku. Mengambil napas dalam kemudian menghembuskannya.
"Aku menyukaimu," ucapnya.
Aku menyukaimu? Aku menyukaimu? Aku menyukaimu?
Kuharap aku sedang tidak bermimpi sekarang. Aku mendengarnya. Aku mendengar Jun mengatakan kata – kata yang paling ingin kudengar. Kata – kata paling indah di dunia ini. Aku telah mendengarnya.
Dan ini nyata!
Air mataku meluncur. Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku. Wajahku panas. Masih tidak percaya hal ini akhirnya terjadi padaku.
Ini benar terjadi.
"Yayoi?" Jun bertanya padaku lembut.
Aku…. Ingin menangis. Aku benar – benar ingin menangis. Aku ini cengeng kan? Air mataku meluncur semakin deras. Tanganku masih menahan mulutku bersuara. Aku…. Sepertinya…. Akan menangis kencang. Aku tidak bisa menahannya.
Jun mendekat padaku. Meraih tanganku.
"Hei, kenapa?" dia bilang.
Akhirnya meledak. Tangisanku sudah pecah. Aku menangis dengan kencangnya di hadapan Jun. Aku menangis layaknya anak kecil. Tubuhku masih gemetar. Jun melihatku dengan wajah bingung. Kumohon, kau jangan marah padaku, Jun. Saat ini aku menangis bahagia, kau tahu?
"Hei, Yayoi tidak suka aku?" tanya Jun.
Aku kaget. Kemudian dengan cepat menggeleng.
"Tuh kan. Tidak suka aku," tambahnya. Memasang wajah cemberut.
Aku menggeleng semakin kencang. Masih menangis sesenggukan.
"Aku suka. Aku suka. Sangat suka. Aku menyukaimu begitu banyak," ucapku. Aku telah meledak dalam tangis dan malu.
Jun terdiam. Tersenyum. Matanya memerah. Kemudian segera mendekap tubuhku dengan kedua lengannya. Mendekapku ke dadanya. Begitu erat.
"Iya. Aku mengerti," katanya.
Jun mengelus rambutku lembut. Mendekapku. Rasanya…. Nyaman dan berdebar – debar. Serta hangat. Sejenak, aku bisa melupakan tangisku. Aku pun membalas pelukan Jun.
"Maaf. Padahal Jun tidak suka aku menangis. Tapi…. Aku sudah tidak bisa menahannya," ujarku.
Jun menggeleng. "Tidak semuanya benar. Menurutku, Yayoi begitu manis saat sedang menangis. Bukannya tidak suka. Aku hanya tidak mau kau sering menangis karena aku. Aku jadi merasa bersalah," ujarnya.
"Aku baik – baik saja. Jangan merasa bersalah padaku," ucapku.
"Aku juga baik – baik saja. Jangan sedikit – sedikit menangis di depanku seakan – akan aku mau pergi meninggalkanmu sendirian di dunia ini," balasnya.
"Kau tidak boleh mati meninggalkan aku!" sahutku. Kami pun saling melepaskan diri.
"Ah, aku juga tidak mau mati muda, kau tahu?" ucap Jun.
"Eh?"
"Jalan hidupku masih panjang. Aku tidak akan menyerah karena penyakit ini. Tapi, aku membutuhkan seseorang yang selalu di sampingku. Aku membutuhkan bantuanmu, Yayoi," katanya tersenyum lembut.
Aku mengangguk. Malu.
"Dasar, kau!" ucapku.
Jun menatapku dengan bola mata cokelatnya yang indah. Dengan tangannya, mulai membelai pipiku. Kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku. Jantungku dipacu lagi. Seperti mau meloncat keluar. Wajah Jun semakin dekat. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Kemudian perlahan, bibirnya menyentuh bibirku. Lembut. Aku memejamkan mata. Jiwaku sepertinya sedang melayang terbang. Ini seperti mimpi. Tidak! Ini bahkan lebih indah dari mimpi. Jun sedang menciumku. Kali ini berbeda dengan ciuman tempo hari. Saat ini, ciumannya begitu lembut dan manis. Tubuhku seakan meleleh. Dan panas. Wajahku pasti sudah memerah dengan suksesnya. Dan tanpa sadar, aku pun membalas ciuman Jun. Aku mencengkeram kemeja Jun. Menuntut ciuman lebih dan lebih.
Aku pasti…. Sudah gila sekarang.
Akhirnya setelah beberapa saat, bibir kami berpisah. Aku sangat malu. Hampir tidak sanggup melihat Jun.
"Ah, gawat!" tiba – tiba Jun bersuara. Aku pun segera melihatnya. Jun yang sama merahnya denganku.
"Jantungku…." Katanya.
"Eh?" aku mulai cemas sekarang.
Kemudian Jun menarik telapak tanganku. Ia tempatkan di dada kirinya.
Ah! Pertama kali dalam hidupku, aku menyentuh dada seorang cowok. Dan ini…. Cowok yang kusukai.
"Dengar sesuatu?" tanyanya dengan wajah yang masih memerah.
"Eh?"
"Tu – tunggu," pintaku. Tangan Jun masih memegang tanganku. Aku mencoba berkonsentrasi. Memejamkan mata. Sial! Yang terdengar hanya suara jantungku yang berisik. Ayo Yayoi, konsentrasi. Berkonsentrasi pada aliran darah dan degup jantungnya.
Ah! Dapat!
"Bagaimana?" tanyanya.
"Cepat sekali. Kau yakin baik – baik saja?" tanyaku cemas.
Jun merosot kembali. Jongkok. Sepertinya telah capek berdiri.
"Aku tidak baik. Angina lagi, huh," ucapnya. Mencoba menarik napas sebanyak – banyaknya. Wajahnya mulai pucat kembali.
Aku pun ikut jongkok di depannya.
"Kupanggilkan kakek Hideki ya. Kau harus segera pulang dan minum obat," ujarku.
Jun menggeleng. "Tidak usah, aku ba-"
"Ah, Yayoi. Sejak kapan kau ambil ponselmu?" tanya Jun.
"Jangan protes. Aku akan telepon rumahmu, meminta kakek Hideki menjemput," kataku tersenyum.
"Uh…. Padahal aku masih ingin berlama – lama di sini," ucap Jun sedikit cemberut.
"Bodoh. Ayo! Duduk di kursi seperti tadi akan lebih baik untukmu," kataku sambil berdiri dan mengulurkan tangan padanya.
"Baiklah," balasnya. Meraih tanganku.
Aku tersenyum.
Begitulah. Akhirnya kami terus berpegangan tangan. Di salah satu sudut stasiun ini yang telah menjadi saksi terbentuknya awal kisah cinta kami. Aku dan Jun duduk saling bersandar satu sama lain dan berpegangan tangan.
Saat ini aku merasa….
Bahwa aku adalah wanita paling bahagia di dunia.
Tidak!
Seterusnya juga….
Aku akan merasa bahagia.
Karena dia sekarang, tidak akan pernah lepas lagi dariku.
Karena dia ada….
Aku pun ada.
End of Yayoi's POV-
Misugi's POV-
Hidupku kini begitu lengkap.
Akhirnya aku mengerti apa itu cinta. Apa definisi cinta yang sesungguhnya. Karena Yayoi. Karena ia yang telah membuatku bertanya – tanya. Kemudian dia pun adalah jawabannya. Cinta memang rumit. Namun juga indah.
Akan kucatat semua yang terjadi hari ini dalam buku yang kusebut hidupku. Aku mungkin mempunyai kehidupan yang unik. Sedikit berbeda dari anak laki – laki lain seusiaku. Namun, untuk cinta…. Aku sama dengan mereka. Aku pun berhak memilikinya. Begitu pun dengan impian.
Tentu saja aku akan terus bermimpi. Aku tidak akan menyerah mengenai sepakbola. Namun, aku pun harus siap dengan apa pun yang terjadi di kemudian hari.
Jika suatu saat nanti, sepakbola benar – benar harus menghilang dari hidupku, aku bersumpah bahwa aku tidak akan jatuh. Mungkin, aku tidak sepenuhnya menyesal jika hal itu terjadi padaku. Asalkan….
Asalkan gadis ini tetap bersamaku. Aku pasti akan jatuh dan terpuruk jika gadis ini menghilang dari hidupku. Karena ia telah merebut hidupku begitu banyak. Karena hanya dengannya aku merasa nyaman. Karena dia adalah hartaku yang paling berharga. Hartaku yang tak bisa tergantikan oleh apa pun.
"Yayoi, aku baru tahu kalau…." ucapku. Aku bersandar di pundaknya, menggenggam tangannya erat.
"Eh? Apa?" tanya Yayoi.
"Aku baru tahu kalau tanganmu…." lanjutku.
"Apa sih?" tanyanya begitu penasaran. Mendorong tubuhku.
"Ah, tidak. Bukan apa – apa," ucapku tersenyum.
"Apa? Jun, katakan padaku?"pintanya. Tidak meyerah.
"Tidak jadi. Haha." Aku tertawa.
"Eeeh. Curang…." Ucapnya, menarik lengan bajuku.
"Ah, Hideki!" seruku. Melihat Hideki berjalan menghampiri kami. Aku pun segera beranjak.
"Eh, Jun. jangan kabur kau!" sahut Yayoi. Ikut beranjak. Melihat kedua telapak tangannya dengan wajah bingung. Aku tersenyum.
"Kubilang…. Tanganmu bisa menggantikan nitroglycerin, digoxin, atau sejenisnya," jelasku.
"Eh? Kau samakan aku dengan obat jantungmu?" protesnya.
Aku tersenyum. "Yah, dari segi efeknya terhadapku."
Yayoi terdiam.
"Karena mereka begitu manjur. Sekarang aku tidak perlu khawatir jika aku kambuh. Asalkan ada Yayoi, aku pasti baik – baik saja," ujarku.
Yayoi memerah malu. Dan terdiam.
Aku menggandeng tangannya lagi. Berjalan keluar tempat ini. Pulang ke rumah.
Aku sadar, setelah ini akan ada banyak hal yang berubah. Dunia sekitar kami pasti akan berubah. Menjadi sangat indah dan penuh warna. Karena kisah cinta kami baru saja dimulai. Karena dia adalah gadisku. Saat ini…. Dan seterusnya.
Tuhan….
Terima kasih telah mendatangkan dia ke dalam hidupku. Terima kasih telah mengirimkan malaikat pelindung untukku yang begitu cantik dan baik hati.
Aku berjanji….
Tidak akan membuatnya terluka lagi.
Aku akan membuatnya bahagia, seperti yang telah banyak ia lakukan untukku.
Aku, Jun Misugi. Berjanji akan menjaga gadis ini sekuat tenagaku. Aku tidak akan membiarkannya lari.
Karena, walau bagaimana pun juga….
Gadis ini akan selalu berada di sampingku.
Selamanya.
~ End ~
Akhirnya selesai juga fic pertamaku ini.
Chapter ini adalah chapter yang paling panjang dari semuanya. Kuharap endingnya tidak membosankan. ^_^
Begitulah, akhirnya mereka bahagia. Kuucapkan selamat kepada pasangan baru CT kita….
Baiklah, terakhir…. Kuucapkan terima kasih banyak kepada para reader and reviewer. Tanpa kalian, saya tidak akan mampu menyelesaikan fic yang lumayan panjang ini sampai selesai.
Jangan lupa review ya…. ^_^
See you next time with my new story. I plan to publish a new CT story in English. Wish me luck.
Regards. ^_^
