Bleach by Tite Kubo
The Miko's Mask and The Girl's Identiy by RiiXHitsuHina
Sekitar beberapa menit lalu gw nge publish yg chapter 8, skarang 9!? Hehehe..
Ya sudahlah! Maafkan segala kekurangan fic ini! Hehehe..
Chapter 9
Aizen's Bad Plan
"Hinamori-kun!" terdengar suara Aizen dari pintu depan gudang.
"A, Aizen-sama?!" Hinamori dan Hitsugaya terkejut. "Bagaimana? Bagaimana Aizen-sama bisa tahu kalau aku ada di sini? Matilah aku!" pikir Momo dengan badan yang mulai bergetar.
"Sedang apa kau di sini Hinamori-kun? Dengan seorang laki-laki?! Kau tahu kan kalau ini melanggar hukum keluargamu!" teriak Aizen. "Kau sudah membocorkan identitasmu pada orang lain!!!!"
"A, aku tahu Aizen-sama. Aku minta maaf,tapi, tapi…" Momo tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia terlalu takut untuk melanjutkannya.
"Siapa dia Momo? Apa yang terjadi?" tanya Hitsugaya yang kebingungan.
"Dia, Aizen Sousuke. Pelatih menariku," jawab Momo. "Kita ketahuan olehnya. Ia akan memberitahukannya pada ibuku, dan, dan.. aku akan dihukum sesuai hukum keluarga Hinamori."
Hitsugaya yang tidak tahan melihat Momo bersedih langsung memberanikan dirinya dan berkata pada Aizen. "Aizen-sama, kenalkan, namaku Hitsugaya Toushiro. Jika kau berkenan, aku ingin kau tidak memberitahukan hal ini pada ibu Momo."
Aizen tentu saja terkejut! Jarang sekali ada anak muda yang sopan sekaligus berbicara dengan lurus, tetapi tampaknya yang paling terkejut adalah Momo.
"Apa kau gila? Tentu saja aku tidak dapat melakukannya! Keluarga Hinamori dan Aizen saling terikat hukum satu sama lain!"
"Kumohon, Aizen-sama," tatapan mata Hitsugaya lurus menatap Aizen. Momo hanya terdiam, hanya mempertaruhkan nasibnya pada Hitsugaya.
Dalam hati, Aizen berpikir. "Pemuda yang berani. Kau ternyata sangat beruntung, Momo. Sayang sekali keberuntunganmu kali ini harus berhenti sampai di sini," dan ia berkata ,"Baiklah, akan kukabulkan permohonanmu, Hitsugaya-kun. Dengan satu syarat."
"Apapun itu akan kulakukan, asalkan Momo bisa lepas dari hukuman keluarga Hinamori yang paling buruk."
Aizen tersenyum licik. "Jangan pernah bertemu dengan Hinamori-kun lagi. Jangan pernah bertemu dengannya lagi meskipun Hinamori-kun sedang menari di festival Desa Soukyouku. Segeralah pergi dari tempat ini. Kembali ke tempat asalmu dan jangan pernah kembali ke tempat ini."
Mata Hitsugaya dan Momo terbelalak. Jika Hitsugaya menaati kata-kata Aizen, berarti kesempatan mereka untuk bertemu lagi setelah sekian tahun tidak bertemu sangatlah keci.
"Tidak! Jangan Aizaen-sama! Biarkan aku dihukum saja!" teriak Momo. "Aku.. Aku, aku tidak bisa jika aku tidak dapat melihat Hitsugaya lagi..!"
Gadis itu mulai menitikkan air mata di pipinya.
"Meskipun hukum itu adalah hukuman mati, Momo? Lebih baik aku menunggu bertahun-tahun untuk bertemu kau lagi daripada harus kehilangan dirimu untuk selamanya," kata Hitsugaya untuk meyakinkan Momo.
"Tapi, tapi Shiro-kun, aku, aku tidak ingin kehilanganmu!"
"Sudahlah, Momo. Akan kuusahakan bagaimana pun caranya agar kita bisa bertemu lagi. Jangan menangis."
Aizen yang menyaksikan pemandangan itu tiba-tiba melangkah pergi. "Kuberikan waktu beberapa saat untuk kalian. Jika kamu sudah selesai, Hinamori-kun, segeralah pulang. Jangan lupa untuk masuk lewat jendelamu," dan Aizen pun meninggalkan gudang itu.
"Dasar bodoh. Meskipun Hitsugaya-kun menepati janjinya padaku, kau akan tetap mendapatkan hukumanmu, Hinamori-kun. Gin seharusnya sudah mengirimkan barang-barang buktinya saat ini," bisik Aizen dengan senyum liciknya. Ia pun buru-buru kembali ke rumah Momo untuk melanjutkan rencananya.
Di saat yang sama, di rumah Momo..
Hinamori Retsu yang sedang berdoa di depan altar mendengar suara ketukan di pintu rumahnya.
"Siapa ya malam-malam begini bertamu ke rumahku?" pikirnya.
Saat ia membuka pintu, tidak mendapati seorang pun, melainkan sebuah tas kecil berwarna hitam yang terbuat dari kulit. Karena penasaran, Retsu pun langsung membuka tas kulit itu saat itu juga.
Ia tersentak, Retsu tidak ingin mempercayai apa yang dilihatnya. "Tidak! Tidak mungkin!" ia melihat foto itu berisi gambar anaknya, Hinamori Momo tanpa memakai topeng, berjalan-jalan di Desa Soukyouku dengan seorang pemuda berambut putih perak. Tertawa bersama, makan takoyaki bersama, dan masih banyak foto yang lainnya.
Refleks, Retsu langsung berlari ke kamar anaknya untuk menanyakan kebenaran dari foto-foto itu. "MOMO!" tapi saat ia membuka kamar anaknya, tidak ada seorang pun di dalam kamar.
"Selamat tinggal, Shiro-kun.." tangis Momo di pundak Hitsugaya.
"Bukan selamat tinggal, Momo. Sampai jumpa," bisik Hitsugaya lembut di telinga Momo.
Momo pun segera melepas genggaman tangannya pada Hitsugaya, begitu pula pemuda itu.
Ia berlari kecil menuju ke rumahnya sambil menangis sedih. Momo pun langsung menghentikan tangisannya saat ia sampai di jendela kamarnya karena tidak ingin membuat suara yang berisik. Tetapi, sepertinya ada sesuatu yang aneh di kamarnya. Ia melihat bayangan seseorang sedang duduk di atas kasurnya karena efek dari lampu kamar Momo yang cukup terang.
"Aneh. Ini sangat aneh. Sepertinya aku tidak menyalakan lampu saat meninggalkan kamarku tadi. Ng? Siapa itu? Jangan-jangan, itu ibu?" pikir Momo khawatir.
Ia pun segera masuk ke kamarnya seperti biasa, melalui jendela yang sama. Tetapi, kali ini ada yang berbeda. Ibu Momo, Hinamori Retsu ternyata sudah menunggu Momo. Dengan Aizen yang berwajah menyesal, tanda maafnya pada Momo karena tidak bisa melindungi rahasia Momo dari ibunya.
"I, ibu?!"
Retsu memberikan tatapan yang tajam ke arah Momo. "Apa yang kau lakukan di luar rumah tanpa mengenakan topengmu tengah malam begini, Momo? Pergi melanggar hukum keluarga Hinamori?" tanyanya dengan suara dingin.
Momo hampir tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun karena terlalu kaget. "Eh, itu… Aku, aku hanya…"
"Tidak perlu berbohong pada ibumu sendiri, Momo. Aku tahu apa yang terjadi. Aku tahu semuanya."
Mata Momo terbelalak. "Oh, tidak! Tamatlah riwayatku! Bagaimana mungkin ibu bisa tahu?"
Tapi Retsu tetap tidak menjawab pertanyaan Momo. "Aku tidak percaya. Apa salahku dalam mendidik anakku sendiri untuk menjadi seorang miko keluarga Hinamori??" tanya Retsu dengan suara yang lantang pada dirinya sendiri. Sementara Momo hanya bisa terdiam, mengeluarkan keringat dingin dan wajahnya memucat.
"Jawab aku, Momo. Apa kurangku dalam mendidikmu, menyiapkanmu untuk menjadi seorang miko penari keluarga Hinamori?"
"Tidak. Ibu tidak melakukan kesalahan apa pun…. Ibu sudah sangat baik padaku. Ibu melahirkanku, membesarkanku, dan menyediakan segala keperluanku. Tapi, tetap saja…" jawab Momo dengan suara yang bergetar.
"Tapi apa, Momo? Apa yang kurang?"
Momo memberanikan dirinya untuk menjawab. "Kebebasan, rasa cinta, perasaan memiliki seorang teman. Aku ingin memiliki hal-hal itu.".
Retsu kini makin geram, ia berteriak, "apakah kamu pikir ibu juga ingin menjadi seperti ini?!?! Dilahirkan hanya untuk menjadi seorang miko, memiliki seorang mukoyoshi yang bahkan tidak bisa kupilih!!! Takdir keluarga Hinamori sudah ditentukan sejak mereka lahir! Mengapa kamu tidak bisa menerima hal itu seperti para leluhur dan ibu!?".
Momo pun hanya bisa terus diam, bahkan saat Retsu berkata, "Tidak ada gunanya aku memarahimu. Hukum keluarga Hinamori harus tetap dijalankan sebagaimana mestinya. Sousuke, pasung Momo di ruangan bawah tanah".
"A, apa? Ibu tidak mungkin melakukan hal itu!" Aizen menahan kedua tangan Momo.
"T, tunggu! Aizen-sama! Kumohon! Jangan lakukan ini padaku!!" pinta Momo sambil berteriak.
Tanpa memperdulikan teriakan Momo, Aizen tetap saja menyeret Momo yang terus memberontak untuk dipasung di ruangan bawah tanah. Ruangan itu sendiri terletak di bawah ruang tamu rumah keluarga Hinamori, tepatnya di bawah meja ruang tamu. Momo sendiri kaget karena selama 15 tahun ia tinggal di rumah itu, ia sama sekali tidak menyadari ada pintu rahasia yang besar di balik meja ruang tamu.
Setelah membuka pintu tersebut, Aizen menuruni beberapa buah anak tangga, tiba di suatu ruang kosong yang agak luas, dan memasukkan Momo ke dalam satu ruangan yang sempit.
Ukuran ruangan itu mungkin hanya 3x3 meter, berisi 1 tempat tidur, 1 buah toilet, dan 1 buah wastafel, dan semuanya tampak sangant tua. Yang memisahkan ruangan itu dengan ruangan kosong yang luas tersebut adalah jeruji besi dan tirai lusuh yang menjadi penghalang pandangan orang dari luar ke dalalm ruanngan sempit itu dan juga sebaliknya.
Lantas, kaki Momo diikat oleh rantai dari besi sepanjang 4 meter yang menghubungkan kaki Momo dengan jeruji besi. Setelah selesai, Aizen pun mengunci penjara tersebut.
"Aizen-sama, kumohon! Jangan lakukan hal ini padaku!" rintih Momo.
"Maafkan aku, Hinamori-kun. Kumohon, mengertilah. Aku sudah mencoba menolongmu sekuat yang bisa kulakukan!" kata Aizen dari luar penjara.
Momo menangis makin keras. "Kalau begitu, cobalah lebih keras lagi!!. Dan juga, mengapa ibu bisa tahu rahasiaku?! Kenapa kau tega membocorkannya Aizen-sama!?!?".
Aizen menghela napasnya, "Bukan aku yang melakukannya, Hinamori-kun. Sepertinya ada seseorang yang sengaja atautidak sengaja mengambil fotomu dan Hitsugaya-kun saat kalian berada di festival."
"A, apa?!"
"Sepertinya kau salah menggunakan kesempatan yang kuberikan padamu, Hinamori-kun. Aku mengijinkanmu ke desa tanpa mengenakan topeng agar kau bisa bersenang-senang seperti halnya remaja lain, tapi kamu sudah kelewatan. Sudah berapa lama kau mengenal pemuda itu?"
"Itu salah paham!! Aku hanya bertemu dengannya di festival!!" kata Momo berbohong untuk mengelak.
"A, benar juga.." Aizen mengingat sesuatu. "Bukankah pemuda dalam foto itu adalah Hitsugaya-kun?" tanya Aizen tajam. Momo terdiam.
"Dan mengapa kamu mengenakan pakaian Miko Kuil Karakura saat bertemu dengannya di gudang tadi?"
"…"
"Apakah kau ingin menunjukkan tarian Miko Kuil Karakura padanya?
"I, itu…"
"Sudah berapa kali kau bertemu dengannya? Di mana? Kapan?"
"Sudah, sudah beberapa kali setelah pertemuan sejak yang pertama kali di festival. Kami selalu bertemu tiap malam di gudang itu," Momo berkata jujur. Menandakan ia menyerah.
Aizen lalu menatap lurus mata Momo yang merah. "Apa saja yang telah kau lakukan dengannya, Hinamori-kun?"
Momo kaget. Ia tidak mengira kalau Aizen memandangnya sebagai gadis yang seperti itu. "Aku tidak melakukan hal-hal seperti yang kau bayangkan, Aizen-sama!! Aku bukan gadis ceroboh dan murahan seperti itu!!" geram Momo.
"Baiklah kalau begitu. Aku memang yakin kau bukan gadis yang seperti itu, Hinamori-kun. Sampai jumpa," Aizen menutup tirai penjara Momo dan melangkah pergi.
"Tidak! Jangan pergi Aizen-sama!! Kumohon keluarkan aku dari sini!! Kumohon!" teriakan Momo menjadi makin keras, tapi sepertinya tidak ada seorang pun yang menjawab, artinya, Aizen sudah tidak ada di ruangan bawah tanah itu. "Kumohon! Tolong… Keluarkan aku dari sini!!! TOLONG!!!"
Meskipun ia tahu tidak akan ada seseorang yang menjawab, tapi tetap saja ia meminta pertolongan. "Tolong aku, Shiro-kun…" dan suaranya makin melemah.
Di luar penjara bawah tanah,..
"Hinamori-kun sudah saya pasung di ruangan bawah tanah, Hinamori-san," kata Aizen pada Retsu. Untuk melengkapi jalannya rencananya, Aizen pura-pura bertanya, "apakah hal itu memang benar-benar diperlukan, Hinamori-san?"
Retsu terdiam sejenak, tampaknya ia bingung menjawab pertanyaan Aizen. Akhirnya ia menjawab juga. "Memang berat sebagai seorang ibu untuk menghukum anaknya dengan hukuman seperti itu, tapi sebagai kepala keluarga keluarga Hinamori, aku harus melakukannya agar anggota keluargaku mematuhi aturan yang berlaku."
Tanpa diketahui oleh Retsu, Aizen tersenyum dingin. "Baiklah, Hinamori-san, aku mengerti."
CHAPTER 9
OWARI
Mukoyoshi : suami yang meneruskan marga dan usaha istri. Aku tau dari wjuliet. Hehehehehe.. Maaf kalo salah.
HITSUHINA FOREVER!
