Sakura selalu berharap suaminya menikahinya karena memang mencintainya. Bukan hanya untuk mengembalikan klan-nya.
.
.
LOVE ME
Sasuke-Sakura's fic by Mrs. Bastian
Naruto © Kishimoto Mashashi
.
.
"Kau baik-baik saja, Sakura-san?"
Sakura segera mengangkat kepalanya yang terkulai di atas meja kerjanya. Sepertinya kondisi tubuhnya sekarang membuat seluruh inderanya tidak berfungsi seperti biasa. "Ah− Kumori-san. Aku tidak tahu kalau kau datang," ucapnya sedikit parau. Matanya menyipit untuk membiasakan cahaya yang diterima kedua pupil hijaunya.
"Kukira tadi kau sudah mendengar ketukanku, Sakura-san. Gomennasai, aku tidak tahu kalau kau tertidur."
Senyum lemah mengambang di bibir Sakura. "Tak apa, lagipula tadi aku tidak tidur. Kepalaku sedikit pusing, jadi aku ingin beristirahat sebentar," terang Sakura sembari memijit pelan pelipisnya.
Kumori menganggukkan kepalanya setuju. "Beberapa hari ini kau tidak terlihat sehat, Sakura-san. Wajahmu pucat."
Sakura menegakkan punggungnya tanpa membalas perkataan lawan bicaranya. Tangannya meraih sebuah map di bawah laci mejanya. "Ini adalah laporan kesehatan peserta ujian chunnin yang diminta Shizune-senpai. Bisakah kau memberikan ini kepadanya?"
"Tentu." Kumori meraih map yang baru saja diberikan Sakura, dan sebagai gantinya memberi Sakura dengan beberapa lembar kertas yang dijepit di clipboard.
"Apa ini sudah diperiksa Shizune-senpai?"
"Ya. Shizune-senpai cukup terkejut melihat laporan ini dapat kau selesaikan dalam waktu sekejap, Sakura-san."
"Benarkah?" tanya Sakura basa-basi. Matanya meneliti setiap kata yang ada di laporan yang baru saja diberikan Kumori. Senyum tipis terukir di bibirnya yang agak putih.
"Kurasa kau harus pulang, Sakura-san," ucap Kumori memecah keheningan yang sempat tercipta di sana. Wajah wanita itu terlihat sedikit khawatir. "Tidak baik jika kau terus bekerja dalam kondisi seperti itu. Shizune-senpai pasti juga akan memaksamu beristirahat jika melihatmu seperti ini."
Sakura memandang Kumori sejenak. Apa yang dikatakan Kumori memang sudah dipikirkannya sejak ia merasa ada yang tidak beres dengan kesehatannya. "Kau benar, Kumori-san. Sepertinya aku harus istirahat di rumah."
"Kalau begitu kau langsung pulang saja, Sakura-san. Biar aku yang memberikan laporan ini kepada Hokage-sama," ucap Kumori seraya mengulurkan tangannya untuk meraih kembali clipboard yang ada di depan Sakura. Namun belum sampai tangannya berhasil meraih benda itu, Sakura dengan cepat menjauhkan benda itu dari tangannya.
"Tidak perlu. Biar aku saja yang memberikannya." Sakura melepaskan lembaran kertas itu dan memasukkannya dalam sebuah map dengan cekatan.
"Tapi−"
"Rumahku searah dengan kantor Hokage." Sakura beranjak dari kursinya dengan sedikit limbung. "Lagipula ada yang ingin kubicarakan dengannya saat ini," sambungnya cepat begitu melihat Kumori ingin menyangga perkataannya.
.
Sakura berjalan pelan menyusuri jalanan desa yang terlihat tenang sore itu. Seharusnya sejak tadi pagi saja ia memutuskan untuk absen di rumah sakit. Pusing yang ia rasakan sekarang membuatnya susah untuk bergerak cepat. Sesekali Sakura berhenti sejenak ketika merasa pusing di kepalanya terasa sangat berat sehingga membuatnya hampir limbung untuk yang kesekian kalinya.
Kuso!
Sebenarnya bukan hanya Kumori saja orang yang menyuruhnya untuk beristirahat, Gaara adalah orang pertama. Pria itu bahkan sudah menyuruh Sakura untuk beristirahat pada dua hari sebelumnya, saat Sakura mengungkapkan untuk yang pertama kalinya bahwa ia sering merasa pusing. Raut wajah Kazekage yang menunjukkan kekhawatiran kala itu membuat Sakura terkekeh geli. Wajah tampannya yang biasa tenang dan terkesan dingin, langsung berubah bingung dan gegabah. Kalau saja Sakura tidak berbohong dengan berkata itu adalah hal biasa yang dialami wanita saat datang bulan, Gaara tetap akan bersikeras menyuruhnya untuk tidak keluar rumah dan beristirahat di dalamnya.
Mengingat Gaara membuat Sakura tersenyum geli. Ia tidak pernah menyangka bahwa Gaara akan menjadi salah satu orang terdekatnya seperti saat ini. Entah mengapa Sakura merasa bahwa Gaara bisa menjadi teman dekat layaknya Naruto. Walau tanpa lelucon dan tingkah aneh yang biasa dilakukan Hokage yang selalu sibuk itu, Gaara bisa menghibur dan menenangkannya dengan cara pria itu sendiri. Tak jarang pula pria itu membuat kedua pipi Sakura merona dengan segala perkataan dan sikapnya. Dengan adanya Gaara, Sakura bisa merasakan kehadiran sosok Naruto yang selama ini sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Bahkan karena kedekatannya sekarang dengan Gaara, formalitasnya kepada pria itu sudah mulai terkikis.
Namun tak semua hal yang dilakukan Gaara pada Sakura tidak terlihat normal di mata wanita itu. Naruto memang selalu menaruh perhatian lebih pada Sakura, begitu pula yang dilakukan oleh Gaara sekarang. Tapi yang membedakannya adalah tatapan kedua pria itu, jika Naruto selalu menatap Sakura dengan tulus dan ceria, tatapan yang diberikan Gaara padanya terasa lebih dalam dan memiliki ambisi. Tak jarang Sakura merasa kalau Kazekage muda itu selalu berusaha untuk menyentuhnya saat mereka hanya berdua saja.
Tidak.
Sakura menggelengkan kepalanya kuat hingga membuat rasa pusing di kepalanya bertambah hebat.
Bodoh! Berhenti berpikir seperti itu, Sakura!
Tanpa berhenti sejenak hanya untuk sekedar mereda rasa pusingnya, Sakura melangkahkan kakinya lebih cepat untuk mencapai pintu utama gedung kantor Hokage yang sudah di depan mata. Sapaan sopan yang ditujukan untuknya dari beberapa jounin maupun chunnin mengiringi langkahnya menuju ruangan Hokage. Setelah mengetuk pintu dan mendengar suara dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk, Sakura membuka pintu itu perlahan. "Konbanwa, Naruto."
Naruto mengangkat kepalanya dari beberapa gulungan yang tergeletak di atas mejanya untuk melihat pemilik suara yang sudah sangat ia kenali. "Ah, Sakura-chan. Ada yang bisa kubantu?"
Sakura melangkah mendekati Naruto, namun langkahnya terhenti begitu ia melihat seorang pria yang menyandarkan tubuhnya di kusen jendela. Senyum sopan ditujukan Sakura kepada pria itu. "Konbanwa, Kazekage-sama."
"Konbanwa," sahut Gaara singkat. Seperti biasa, sorot mata yang lembut dari pria itu selalu menyenangkan Sakura.
"Apa aku mengganggu pertemuan kalian, Naruto?" tanya Sakura.
"Tidak. Gaara hanya menumpang duduk di sini. Dia bilang pemandangan di sini sangat indah, apalagi saat sore seperti ini." Naruto menghentikan ucapannya untuk menghela napas panjang. "Haaaahhh... karena ada dia, aku jadi susah berkonsentrasi."
"Seperti kau bisa berkonsentrasi saja, Naruto."
"Hei hei, kau ini sebenarnya ada di pihak mana, Sakura-chan?"
Sakura terkekeh pelan. Ia kembali melangkahkan kakinya mendekati Naruto sebelum melempar senyumnya untuk Gaara. "Ini adalah laporan yang kau minta," ucapnya seraya menyerahkan sebuah map yang sedari tadi berada di lengannya. "Semua shinobi yang baru saja kau utus untuk ke Ame tidak teridentifikasi racun yang berbahaya. Mereka semua sehat, jadi kau tidak perlu khawatir."
"Cepat sekali kau mengerjakannya," komentar Naruto sembari memeriksa isi laporan itu.
"Bukankah itu lebih baik?"
Naruto menutup laporan itu dan memandang Sakura tajam. "Tapi kurasa ini tidak baik untuk kesehatanmu."
Sakura diam. Yang dikatakan Naruto memang benar, Sakura mengerjakan laporan itu tanpa sedikitpun memikirkan kesehantannya yang menurun akhir-akhir ini.
"Seharusnya kau lebih mementingkan kesehatanmu, Uchiha Sakura. Aku tidak tahu omelan apa yang diberikan Sasuke padaku jika dia tahu istri tercintanya sakit gara-gara tugas yang kuberi."
Mendengar nama Sasuke, mau tidak mau membuat Sakura merasa bingung untuk sepersekian detik sebelum ia menyunggingkan senyuman di wajahnya−memberitahu Naruto bahwa ia baik-baik saja. "Jangan berlebihan seperti itu, Naruto-sama! Anda bisa lihat kan, kalau saya sekarang baik-baik saja?"
"Aku tidak berlebihan, Sakura-chan. Aku berkata yang sebenarnya. Seharusnya kau lihat sendiri bagaimana pucatnya dirimu sekarang," ucap Naruto dengan nada yang lebih tinggi. Mata samuderanya semakin tajam menatap Sakura. "Kau seorang medic-nin, kan? Kurasa kau lebih paham kesehatanmu sendiri dibandingkan orang lain."
Sakura tahu kalau hal ini akan menjadi sulit. Ia menarik napas panjang dan menatap Naruto seksama. "Aku paham, Naruto. Maaf karena telah membuatmu khawatir."
Naruto beranjak dari kursinya dan mendekati Sakura. "Bagus kalau kau paham," ucapnya seraya meletakkan kedua lengannya di depan dadanya. "Setelah ini pulang dan cobalah untuk beristirahat. Bila perlu jangan bekerja dulu jika kau benar-benar belum merasa baik. Kau pasti tidak ingin membuat Sasuke khawatir dengan keadaanmu sekarang, kan?"
Rasa rindu secara perlahan menyeruak di benak Sakura saat mendengar nama Sasuke kembali disebut Naruto. Seharusnya Sakura lebih bisa mengatasai perasaannya setelah semua yang terjadi padanya. "Ya," sahut Sakura pelan. Sebelum berpamitan, mata hijaunya tak sengaja menangkap ekspresi keras seorang pria lagi yang sedari tadi diam berdiri tak jauh darinya dan Naruto. Ia baru saja akan berpamitan kepada pria itu sebelum suara Naruto membuat perhatiannya teralih.
"Apa kau perlu kuantar, Sakura-chan? Aku khawatir kau akan pingsan di jalan."
"Tidak perlu, aku masih kuat kalau untuk pulang ke rumah," ucapnya seraya tersenyum kecil. "Lebih baik kau mengerjakan tugasmu saja− Ya ampun, kau ini seorang Hokage, seharusnya kau tidak membiarkan tugasmu menumpuk setinggi itu, Naruto."
"Ya ya ya, bilang saja kalau kau tidak ingin kuantar pulang."
Sakura terkekeh pelan. Ia membungkukkan badannya sekali lagi kepada Naruto dan Gaara sebelum benar-benar melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu.
"Apa dia akan baik-baik saja?"
Pertanyaan Gaara setelah beberapa saat terdiam segera membuat perhatian Naruto teralih. "Hm?"
"Sakura," jawab Gaara tenang. Mata jade-nya masih menatap pintu tempat punggung Sakura menghilang.
Naruto mengangkat salah satu alisnya. "Terdengar sedikit aneh ketika kau menanyakan keadaannya−Tapi... entahlah, aku berharap dia akan baik-baik saja."
Hening sesaat menyelimuti ruangan dimana dua orang Kage itu berada, sebelum Gaara ikut melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. "Aku pergi, Naruto."
"Kau mau ke mana?"
Gaara terus saja melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan Naruto.
"Gaara? Hei!"
Suara Naruto dengan perlahan lenyap saat Gaara menutup pintu ruangan itu. Ia berjalan dengan langkah tegap yang pasti, karena menurut hatinya, ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan kali ini.
.
Gaara tak pernah merasakan kelegaan yang luar biasa seperti sekarang, saat ia menemukan sosok yang sedari tadi ia cari. Sosok yang kini tengah duduk di sebuah bangku panjang di pinggir taman, kepalanya yang sedikit tertunduk membuat rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya yang dibanjiri sinar matahari sore.
"Kukira kau tadi mengatakan akan istirahat di rumah. Tapi kenapa kau berada di sini, Sakura?"
Sakura mengangkat wajahnya sembari menyunggingkan senyum ramah di bibirnya yang semakin tampak putih. "Aku hanya ingin duduk sebentar, tadi kepalaku sangat pusing."
Gaara mendekati Sakura dan duduk di sebelah wanita itu. "Apa perlu kuantar ke rumah sakit? Kau sama sekali tidak terlihat sehat," tanyanya khawatir.
Kekehan geli keluar dari mulut Sakura. Ternyata pria ini mulai lagi. "Tidak perlu, Gaara-sama. Duduk di sini sudah sedikit mengobati pusingku."
"Kau yakin?"
Sakura menganggukkan kepalanya. "Lagipula pemandangan di sini indah, aku ingin menikmatinya sebentar."
Angin yang berhembus perlahan membuat atmosfir di sana lebih sejuk. Pantulan cahaya keemasan matahari yang dipantulkan di atas danau, serta suara gelak tawa samar anak-anak yang terdengar tak jauh di sana semakin membuat suasana terasa tenang, terlebih bagi Sakura.
"Sekarang aku paham mengapa anda sangat menyukai suasana sore hari, Gaara-sama." Sakura menutup matanya seraya menarik napas dalam. "Karena ini semua terasa sangat tenang."
"Ya."
Suasana kembali hening selama beberapa menit ketika keduanya lebih memilih untuk meresapi setiap ketenangan yang ada. Sesekali Sakura memejamkan matanya ketika merasakan hembusan angin kembali menerpa wajahnya. Walaupun hembusan kali ini entah mengapa membuat tubuhnya sedikit menggigil, ia tetap bertahan untuk menikmati suasana di sana. Suasana seperti ini mengingatkannya pada momen dimana ia sering duduk berdua dengan suaminya di beranda rumahnya ketika sore hari. Bersama-sama menikmati angin kecil yang berhembus di sana sembari menikmati minuman hangat yang ia buat.
Sial!
Berusaha menghapus pemikiran itu, Sakura tetap memejamkan matanya dan menarik napas sedalam mungkin. Berulang kali ia berusaha untuk tidak memikirkan suaminya, namun hatinya tetap tidak bisa diajak kompromi.
"Sakura?"
"Hm?"
Jeda beberapa detik sebelum Gaara kembali bertanya. "Adakah hal yang mengganggumu?"
Sakura menolehkan kepalanya ke arah Gaara yang kini tengah menatapnya dalam, memberi tatapan penuh tanya pada pria itu.
"Akhir-akhir ini kau terlihat kontras."
"Aku tidak mengerti maksud−"
"Jika beberapa hari yang lalu kau selalu terlihat sedih," Gaara memberi jeda sejenak. "−sekarang kau terlihat lebih ceria."
"Apa itu aneh?" Sakura berusaha untuk tetap tenang di depan Gaara.
Gaara tidak langsung menjawab, tangannya yang terulur untuk membersihkan daun yang gugur di kepala Sakura sedikit membuat tubuh wanita itu tegang. "Entahlah, tapi aku merasa kau menyembunyikan hal lain di balik ceriamu."
Sakura diam, tidak tahu harus berkata apa.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu yang melukai hatimu?" sambung Gaara.
Sakura kembali diam.
"Atau ini semua ada hubungannya dengan saat kau menangis di malam perayaan?"
Hangat yang menjalar di wajah Sakura seolah sedikit mereda suhu dingin yang dirasakan wanita itu. Ia memang selalu malu jika harus mengingat apa yang terjadi pada malam itu, menangis tersedu-sedu dengan memeluk erat pria yang ada di depannya saat ini. Entah mengapa ia merasa sangat kurang ajar melakukannya. "Sama sekali tidak." Sakura menghembuskan napasnya ke udara, seolah-olah ia turut menghembuskan dusta yang keluar dari bibirnya. "Gaara−sama?"
"Apa?"
Sakura menarik napas dalam sebelum kembali menatap Gaara. "Aku tahu sudah sangat terlambat untuk mengatakan ini. Kita bahkan juga telah bertemu beberapa kali setelah kejadian itu, tapi... Terimakasih."
Tanpa penjelasan, Gaara tahu apa yang dimaksud Sakura. "Jangan sungkan. Anggap saja kau menemaniku jalan-jalan saat itu."
"Tidak. Mana bisa itu disebut jalan-jalan? Anda hanya mengantarkanku pulang, kan?" Sakura menundukkan wajahnya, menyembunyikan rona merah dan penyesalan yang ada di sana. "Saat itu aku hanya merepotkan anda. Maaf."
"Tadi kau berterimakasih, sekarang kau meminta maaf." Gaara menahan senyumnya yang semakin membuat rona di wajah Sakura terlihat jelas.
"Aku memang meminta maaf atas kejadian malam itu, tapi aku juga berterimakasih. Jadi−" Sakura merasa kehabisan kata menghadapi Kazekage di depannya ini. "Sudahlah lupakan! Sebagai ucapan terimakasih dan permintaanmaafku, aku berjanji akan menemani anda jalan-jalan lain kali."
"Benarkah?"
"Benar."
Gaara memberikan senyuman paling sumringah yang pernah Sakura lihat. "Arigatou gozaimasu, Sakura."
Sakura mengangguk, senyumnya pun tak kalah sumringah dari senyuman Gaara untuknya. Lagi-lagi, Gaara memberikan ketenangan serta hiburan tersendiri untuknya.
.
Matahari baru saja terbenam setengah jam yang lalu. Sinar terangnya kini digantikan sinar lembut rembulan yang muncul dari gumpalan awan mendung di atas langit Konoha. Jika semua orang akan segera pulang karena ingin makan malam bersama keluarga di rumah, hal itu tidak berlaku untuk Naruto. Pekerjaannya sebagai Hokage mengharuskannya untuk bekerja lebih lama di mejanya ketimbang di luar−walaupun ia sadar ia bukan tipe orang yang bisa bekerja dalam satu titik. Ia beruntung memiliki seorang istri yang penyabar dan penyayang seperti Hinata. Selarut apapun Naruto menginjakkan kakinya di rumah, wanita bermata perak itu akan selalu menyambutnya dengan senyuman. Ah, mengingat Hinata membuat Naruto semakin ingin menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke rumah, namun ketukan pintu yang menurutnya akan menambah pekerjaan yang harus ia lakukan malam ini membuyarkan itu semua. "Masuk," ucapnya ketus.
Suara decitan pintu yang terbuka membuat Naruto mengangkat kepalanya. "Ada ap− Oh, ternyata kau."
"Misi sudah terlaksana. Komplotan nuke-nin itu sudah berhasil kami ringkus."
"Kerja bagus, kawan. Di mana anggotamu?"
"Sudah kusuruh pulang."
"Waaah... kau memang ketua yang baik, Sasuke."
Sasuke diam tanpa ingin menanggapi perkataan teman pirangnya satu ini.
Naruto kembali meraih pena dan bersiap melanjutkan pekerjaannya. "Sekarang pulanglah! Jangan lupa untuk menyerahkan laporan misimu besok pagi."
Baru saja Sasuke melangkahkan kakinya keluar, Naruto kembali memanggilnya. "Hei, Sasuke!"
"Ada apa?"
"Kurasa setelah ini kau akan kuliburkan dari misi untuk beberapa hari."
Sasuke mengangkat salah satu alisnya. "Kenapa?"
Naruto menyandarkan punggungnya ke kursi untuk mencari kenyamanan pada benda empuk itu. "Kau harus lebih memperhatikan istrimu daripada pekerjaanmu."
Perkataan Naruto semakin membuat Sasuke tidak mengerti. "Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu secara jelas, tapi menurutku Sakura-chan sedang tidak sehat. Wajahnya terlihat pucat saat dia menemuiku tadi."
Jika beberapa saat yang lalu Sasuke tidak ingin cepat-cepat bertemu istrinya, kali ini seluruh tubuhnya seperti memerintahkannya untuk cepat pergi dari ruangan itu utnuk memastikan apakah wanita yang ia hindari selama ini dalam keadaan sehat atau tidak.
"Kalau kau begitu mengkhawatirkannya, lebih baik kau cepat pulang dan menuruti perkataanku, kawan," ucap Naruto seolah memahami pemikiran Sasuke.
.
Sasuke melompati beberapa atap bangunan dengan terburu-buru. Rintikan gerimis kecil sama sekali tidak membuatnya memiliki niat untuk memperlambat gerakannya. Jika tergelincir dan jatuh pun, ia akan berdiri dan tetap melanjutkan perjalanannya. Karena prioritas utamanya kali ini adalah menemui Sakura.
Setelah menginjakkan kakinya di rumah, Sasuke langsung membuka pintu dan langsung menuju ke dapur, tempat dimana wanitanya biasa berada di sana. Namun yang ia jumpai adalah kekosongan. Suara langkah kaki yang terdengar seperti menuruni anak tangga entah mengapa membawa kembali keraguan yang tadi sempat Sasuke rasakan. Jika boleh jujur, sebenarnya ia masih belum siap. Egonya tetap menyuruhnya untuk diam di tempat, namun hatinya menyuruhnya untuk berbuat hal lain.
Mengesampingkan egonya sendiri, Sasuke lebih memilih untuk menuruti kata hatinya. Ia segera keluar begitu langkah kaki itu terdengar semakin dekat, namun langkahnya terhenti begitu saja ketika menyadari pemilik langkah kaki itu juga menghentikan langkahnya. "Apa yang kau lakukan di rumahku?" Sasuke benar-benar tidak berniat menyembunyikan nada dinginnya pada pemimpin negara angin yang kini berdiri tepat di depannya.
"Mengantar Sakura pulang. Tadi dia pingsan," jawab Gaara tenang. Namun raut mukanya yang tenang justru memancing emosi Sasuke lebih dalam.
"Hanya itu?"
Gaara menyeringai tipis. Ia melanjutkan langkahnya menuju pintu. "Jangan khawatir, istrimu adalah wanita yang baik. Sedekat apa pun kami, dia selalu sadar akan posisinya sebagai seorang istri."
"Kau sudah tahu kalau dia istriku, tapi kenapa begitu dekat bergaul dengannya, eh?"
Pertanyaan Sasuke kembali menghentikan Gaara. Kazekage itu berbalik dan menatap Sasuke yang kini sudah mengaktifkan sharingan-nya. "Tahukah kau bahwa cinta bisa membuat seseorang bisa menjadi sangat egois untuk mendapatkannya?" Jeda sejenak sebelum Gaara melanjutkan perkataannya. "Tak peduli bagaimana pun statusnya, aku bisa saja merebutnya darimu jika kau menunjukkan kelemahanmu lagi."
"Kau mengancamku?" Perkataan Sasuke terdengar lebih dingin dari sebelumnya di telinga Gaara. Lebih dari itu, Gaara merasa jika Sasuke sekarang bersiap untuk menyerangnya.
Keheningan yang mencekam terjadi hanya beberapa detik di sana sebelum Gaara menjawab pertanyaan sang pemilik rumah dengan tenang. "Jika itu yang ada dalam pikiranmu, maka aku akan mengabulkannya dengan senang hati." Tanpa berkata lagi, Gaara berbalik dan meninggalkan Sasuke dengan senyum kemenangan yang terpatri di wajahnya.
Kembalinya warna mata Sasuke mengiringi kepergian Gaara yang baru saja menutup pintu rumah itu dari depan. Jika saja ia tak ingat perkataan Gaara yang mengatakan bahwa Sakura tadi pingsan, ia akan melemparkan apa pun yang ada di sana sebagai pelampiasan emosi. Tanpa ingin berpikir lebih banyak tentang Kazekage itu lagi, Sasuke bergerak cepat menuju lantai dua di rumahnya.
.
.
Segalanya terasa aneh bagi Sakura. Beberapa saat yang lalu, ia ingat sedang duduk bersama dengan Gaara di sebuah bangku di pinggiran taman Konoha. Meresapi keindahan serta ketenangan yang tercipta di sana. Tapi mengapa sekarang ia berbaring di kamarnya? Ia bahkan sama sekali tidak ingat kapan ia pulang. Apakah karena berkali-kali memejamkan mata sore tadi, ia malah ketiduran?
"Ukh..." Sakura bisa merasakan kepalanya bagai ditindih sesuatu yang sangat berat sehingga membuatnya kesulitan untuk duduk. Dengan memijat kepalanya, Sakura mengedarkan pandangan di sekitar kamarnya. Melalui jendela kaca kamarnya yang berukuran besar, Sakura dapat melihat hari sudah malam. Atau mungkin sudah tengah malam−jika dilihat dari banyaknya bintang di sana−, pikirnya.
Lalu dimana Gaara? Jika Sakura berada di sini, kemungkinan terbesarnya adalah pria itu yang membawanya ke sini. Baru saja Sakura menyingkap selimut untuk turun dari ranjang dan mencari tahu dimana Kazekage muda itu, ia kembali dikejutkan dengan pakaian yang ia kenakan.
Kami-sama...
Siapa yang mengganti pakaiannya dengan yukata tidur yang tebal? Sakura benar-benar tidak merasa mengganti pakaiannya. Tangannya mencengkeram bagian depan yukata-nya. Ia takut, dan ketakutan Sakura membuat rasa pusing di kepalanya bertambah berat. Ia kembali memijat pelipisnya dengan sebelah tangannya yang bebas, mencoba berpikir setenang mungkin.
Tidak mungkin Gaara-sama. Sama sekali tidak mungkin, Sakura!−Sakura menegaskan hal itu dalam kepalanya sendiri. Lalu siapa?
Suara pintu yang terbuka membuat Sakura mengangkat wajahnya.
Itu... Dia−
"Sa-sasuke?" Sakura tak percaya dengan apa yang dilihatnya kali ini. Matanya terpaku pada pria yang saat ini berdiri di depan pintu kamar dengan membawa segelas air putih di tangan kanannya. Pusing yang ia rasakan tadi pun mendadak hilang, dan digantikan dengan rasa lemas di seluruh syaraf tubuhnya. Di dalam hatinya, Sakura berkali-kali bertanya apakah ini sebuah mimpi yang terasa sangat nyata? Sosok yang begitu ia rindukan itu... apakah dia nyata? Apakah Sakura bisa menggapainya? Memeluknya? Apa ia bisa?
Dan apa yang terjadi pada diri Sakura, seolah-olah juga terjadi pada diri Sasuke. Ia begitu terkejut ketika melihat mata hijau itu terbuka dan kini menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. Sasuke tidak beranjak dari tempatnya, dan matanya juga tak beranjak sedikit pun dari tatapan mata hijau itu. Namun ketika mata hijau itu terpejam dan menyembunyikan dirinya, Sasuke tersadar. Dengan membuang semua rasa gugupnya,−Sasuke tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa gugup seperti ini− Sasuke berjalan perlahan mendekati Sakura, dan duduk di sisi pinggir ranjang. Setelah meletakkan gelas yang ia bawa di meja samping ranjang, ia menatap istrinya yang masih menundukkan kepalanya. Posisinya yang sekarang berhadapan dengan Sakura, membuat Sasuke bisa melihat dengan jelas cengkraman tangan wanita itu di depan pakaiannya sendiri. "Aku yang mengganti pakaianmu," ucapnya seolah mengerti apa yang baru saja Sakura pikirkan. "Tadi kau menggigil, kupikir dengan baju itu kau akan merasa lebih hangat."
Suara Sasuke yang begitu dirindukan Sakura seolah menggelitik indera pendengarannya. Bukan masalah Sasuke mengganti pakaiannya yang ia pikirkan saat ini, melainkan jarak diantara mereka berdua. Jika saja Sakura tidak mengalami masa-masa sulit karena Sasuke, ia tidak akan segugup ini ketika berdekatan dengan suaminya. "A−arigatou."
Hening yang berlangsung beberapa saat setelah itu terasa begitu lama bagi Sakura. Ia masih menghindari tatapan Sasuke dengan menundukkan kepalanya semakin dalam. Apa yang ia inginkan tidak terlalu besar, Sakura hanya ingin ini semua mimpi dan bukan kenyataan. Ia akan lebih memilih untuk kembali tidak sadarkan diri dengan konsekuensi rasa pusing yang terasa lebih hebat daripada harus berbicara dengan Sasuke dan menatap mata hitamnya. Namun kali ini, keberuntungan kembali tidak memihaknya.
"Kepalamu masih terasa pusing?"
"Ti−tidak." Ketika mata Sakura dengan ragu menatap wajah suaminya, pria itu ternyata sedang memalingkan muka. Mungkin apa yang ia lakukan telah menyakiti harga diri pria itu, pikirnya. "Kapan kau pulang?" tanya Sakura berusaha setenang mungkin. Kali ini ia mengumpulkan seluruh kemantapan hatinya untuk menatap mata Sasuke.
Sasuke mengambil napas dalam sebelum kembali menolehkan kepalanya. "Petang tadi." Wajahnya kali ini tidak sekaku yang Sakura lihat tadi.
"Begitu," komentar Sakura karena ia tidak tahu harus berkata apa.
Keduanya kembali diam karena tidak tahu harus bagaimana lagi. Sakura memilih untuk menundukkan kepalanya lagi, mengamati ujung selimut yang sedari tadi ia pilin-pilin kecil. Terkadang ia menyembunyikan anak rambut ke belakang telinganya, dan Sasuke bisa membaca kegugupan istrinya lewat hal itu. Sasuke tidak memungkiri bahwa sebenarnya saat ini pun ia juga merasa gugup, namun rasa itu selalu sirna ketika ia mengingat tubuh Sakura yang tergolek lemah beberapa saat yang lalu. Betapa Sasuke sangat ingin memeluk tubuh itu untuk memberi kekuatan, menenangkannya saat ia menggigau di dalam mimpinya, dan memberikan kehangatan saat tubuh itu menggigil.
"Seharusnya kau lebih memperhatikan kesehatanmu."
Sakura mengangkat wajahnya, mungkin sedikit heran dengan apa yang baru saja dikatakan suaminya. Namun yang lebih membuatnya heran adalah sorot mata Sasuke yang menunjukkan banyak keraguan dan penyesalan.
Entah apa yang membuat Sasuke mengulurkan telapak tangannya untuk membelai pipi Sakura, dan tampaknya ia tidak peduli dengan keterkejutan wanitanya. "Jangan memaksakan diri lagi," ucap Sasuke lirih, begitu lirih hingga Sakura merasa itu adalah sebuah bisikan.
Keterkejutan Sakura tidak hanya sampai di situ. Ketika ia merasakan sebuah tarikan dari lengan Sasuke, ia sadar kali ini suaminya memeluknya. Napasnya yang hangat menerpa sebagian bahu Sakura yang tidak tertutupi kain, dan lengan kuatnya membelenggu Sakura dalam sebuah dekapan dalam. "Gomen..." bisiknya lebih lirih dari sebelumnya.
Tidak. Sakura yakin ia sama sekali tidak menginginkan ini. Ia sama sekali tidak menginginkan pelukan atau apa pun dari Sasuke. Ia takut jika semua terulang lagi, semua kebahagiaannya yang akan hancur hanya dalam beberapa detik.
"Sasuke..."
Namun tubuh Sakura sama sekali tidak menuruti perintah otaknya.
Jangan...
Secara perlahan Sakura mengulurkan kedua lengannya untuk membalas pelukan suaminya.
Tidak... Kumohon jangan...
.
.
.
Jangan... jangan seperti ini, Sasuke. Jangan memperlakukanku seperti ini...
Setetes air mata yang keluar dari sepasang mata hijaunya sekaligus menutup mata Sakura dari cahaya apa pun. Kali ini ia memilih untuk menikmati semuanya dalam kegelapan, meresapi sebuah kehangatan hati yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri hingga membuatnya kembali terbawa ke alam mimpi. Dan jika semua ini adalah mimpi, Sakura benar-benar tidak ingin untuk membuka matanya barang sejenak.
.
.
Namun tanpa balasan cinta... apa ia akan tetap sanggup bertahan?
.
.
.
.
Tak ada hal lain yang diinginkan Sasuke selain ini. Bertemu istrinya, membelai pipinya, dan memeluknya. Kini sudah tak ada keraguan lagi di dalam dirinya, masalahnya kini sudah selesai sehingga membuatnya bisa bernapas lega. Namun dibalik kelegaannya, Sasuke menyimpan sebuah tanda tanya. Mengapa sorot mata yang selalu ditujukan istrinya kali ini terlihat berbeda? Mengapa mata hijau itu tidak sehangat sebelumnya? Dan mengapa sorot mata memuja itu... kini sudah tidak ada?
.
.
.
Bersambung.
.
.
.
Jujur ya, saya lebih mengalir pas ngetik interaksi GaaSaku ketimbang SasuSaku :p Hahahahahahahahahahahaha *dijorokin ke got
Bentar lagi kan puasa, fic romance-nya pending dulu yah? #alasan. Soalnya saya mau fokus bentar ke tanggungan fic yang lain :) Tapi kalo ntar tiba-tiba saya pengen ngetik fic ini, saya bakalan ngelanjutin ngetik kok! Dapet satu atau dua paragraf kan lumayan juga :p
Ditunggu yah kritik dan sarannya untuk chap ini ^^
Akhir kata, terimakasih ^^
Oh ya satu lagi, selamat berpuasa bagi yang menjalankannya ^^ Semoga puasa bulan ramadhan ini bisa membawa berkah, amin ^^
Sampai jumpa ^^
