A-Z Project
.
Written by kimionjung
Cast: Park Jihoon x Bae Jinyoung. And other member of WANNA-ONE and PD101S2 Boys
.
Disclaimer: all the characters is belongs to God, their parents and themselves. But the story is mine
[H] Helsinki Gift
Entahlah. Sudah berapa jam mereka melintasi perjalanan awan dari Korea ke Finlandia. Jelas teringat kalau mereka bertiga pergi pagi, dan sampai ke Finlandia pun juga pagi hari. Cahaya mentari yang menyingsing di ujung landasan pacu meyakinkan segalanya. Mata kucing Ahn Hyungseob menyipit di balik dinding kaca menjulang Bandar-Udara Helsinki-Vantaa, Finlandia. Ketika cahaya keemasan itu menerpa serpihan salju di dekat jendela, mulutnya berbentuk O sempurna. Wah, jinjja yeppeuda. Tapi rasa kagumnya terinterupsi oleh keadaan di sekitarnya. Errr.. tolong lupakan mengenai Jihoon yang wajahnya sudah hijau ingin muntah dan Guanlin mati-matian menahan rasa jijiknya.
"Jihoonie, kau tak apa?"
"Sudah lama tak bepergian. Maaf jika aku merepot-, eurffhh haishh..."
"Tak apa hyung, itu wajar. Jet lag." Guanlin tersenyum maklum. Hyungseob mengangguk sambil menyodorkan sebuah botol air minum.
"Minumlah. Jika sudah baikan, kita lanjutkan perjalanan."
Pernah mendengar cerita 3 sekawan yang kebingungan lalu tersasar di negeri orang? Jika belum, maka inilah mereka. Park Jihoon yang kebingungan, Ahn Hyungseob yang marah-marah dan Lai Guanlin yang menatap keduanya tak mengerti apa-apa.
"Kau yakin itu alamatnya?"
"Tentu. Paman sendiri yang memberikannya."
"Grand Residence 21. Korkeavuorenkatu 21, 00101 Helsinki, Finlandia." Eja Hyungseob lamban karena kesulitan melafalkan alamat di secarik kertas yang Jihoon bawa. Lalu menatap bangunan mewah nan megah di hadapan mereka. Dan kembali menggeleng keras. Gila, bangunan di depannya ini sebuah kastil! Bukan tempat orang untuk menginap, tidur atau dijadikan rumah. Bangunan kokoh bercitra klasik yang diperkirakan mencakup 5 lantai dengan cat cream di bagian bawah dipadukan warna coral di terusan lantai 3 ke atas. Jendela khas zaman eropa mendominasi seluruh bagian luar dinding gedung. Dan di sampingnya, terdapat pepohonan yang sudah meranggas dipenuhi salju yang berjajar rapih dihiasi aksesoris lampu tumblr penuh warna. Bangunan di sekitar sini pun rata-rata memiliki ciri konstruksi yang sama. Bahkan dipikir toko pun berbentuk serupa. Syukurnya tempat ini masih men-akses bus dan transportasi lainnya. Bagaimana kalau kastilnya ada di dalam hutan? Wah kumohon, jangan.
"Oh c'mon. Kita sudah sejauh ini, tapi tidak menemukan Woojin hyung?" Guanlin kini angkat bicara. Si maknae itu merasakan kebingungan para hyungnya. Ia menghela nafas panjang yang langsung berubah menjadi uap putih di udara. Ini di tengah musim dingin dan sialnya mereka tersesat? Tolong cek suhu udara, ia yakin ini mencapai 5 derajat celcius walau matahari bersinar tepat di atas kepala. Untung ia bisa meng-handle beberapa seperti, berbicara dengan bahasa inggris ke supir taksi untuk mengantarkan mereka dari Bandara ke alamat yang Jihoon hyung tunjukan. Itu pun masih kesulitan karena sang supir kurang mengerti inggris. Ia juga tak bisa membaca tulisan dan banner di jalanan karena semua berbahasa finlandia atau swedia. Parahnya lagi ketika sampai, malah mereka yang kebingungan salah alamat apa bukan.
"Yah, coba masuk saja. Jika ada orang, langsung tanya." Jihoon memberi ide.
"Tanyakan apa?" Balik Hyungseob. Kemudian mereka berdua kompak menatap Guanlin.
"Apa? Aku?" Jihoon dan Hyungseob mengangguk bersamaan.
Menyerah. Satu kata yang terngiang di kepala tiga anak manusia berbeda marga itu. Dimulai dari bertanya sampai membuat keributan, akhirnya diusir secara terang-terangan. Kini 3 visitor asal Korea Selatan itu hanya bisa duduk manis di kursi bawah pohon samping gedung. Dengan wajah lelah dan perut lapar, mereka hanya bisa memandang langit muram. Untung tidak turun salju. Sudah jam 3 sore, tapi suasana seperti sudah memasuki malam hari. Guanlin mengecek suhu udara, dan benar ponselnya menunjukan angka -12 derajat. Gila sudah mencapai minus dengan dua digit angka! Dipikir jaket tebal yang mereka pakai sudah tidak terlalu membantu lagi. Jika iya, entah se-tragis apa nasib mereka. Kelaparan, kedinginan, tersesat, di luar ruangan.
"Aku lapar." Jihoon bergumam.
"Ini sudah sore dan kita belum menemukan Woojin." Ucap Hyungseob. Ia terpikirkan untuk segera menyewa hotel malam ini, jika sampai jam 4 sore tidak menemukan Park Woojin.
"Aku lapar!" Ulang Jihoon lebih keras. Guanlin pun mengangguk mengiyakan seruan Jihoon. Membuat Hyungseob menjadi kesal.
"Yah, kenapa tidak menelfonnya saja?"
"Dia ganti nomor ketika pindah. Ayahnya saja tidak tahu." Balas Jihoon lemas.
"Lalu... jam sekarang biasanya dia ada di sekolahnya. Dia bersekolah dimana?"
"International School of Helsinki. Selkämerenkatu 11, 00180 Helsinki, Finlandia. Itu alamatnya jika kau bertanya..." Jawab Jihoon dengan intonasi merendah di akhir kalimat. Ia khatam sudah dengan alamatnya karena terlalu sering membacanya. Tapi badan Jihoon membeku. Matanya lurus menatap sesuatu di seberang sana. Sedangkan Hyungseob hanya bisa membuang nafas kasar. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengklik aplikasi penunjuk peta. Jika saja Guanlin tidak menepuk bahunya.
"Yah, ada apa Guan?" Hyungseob menengok. Ia melihat Guanlin menatap lurus sesuatu di belakang tubuh Hyungseob. Mengikuti arah pandangnya, Hyungseob pun memutar tubuhnya. Dan... mulutnya jatuh. Pupilnya melebar disusul pekikan sekeras lumba-lumba. Jihoon juga tak jauh berbeda. Hanya saja Hyungseob kini langsung melempar ponselnya lalu berlari ke arah sana.
Di seberang sana, berdirilah Park Woojin. Dengan tas yang di selempangkan di bahu kirinya dan bola basket di tangan kanannya. Ia berjalan santai seperti biasanya jika tidak terusik dengan obrolan berbahasa Korea yang jarang terdengar di Finlandia. Apalagi dengan warna suara yang begitu ia hafal di luar kepala. Ia menengok sumber keributan yang berada di bawah pohon sana, dan mata sipitnya melebar. Tubuhnya membeku dan bola basket yang ia pegang pun jatuh. Menggelinding bebas entah kemana.
Tunggu, apa ia sedang berhalusinasi? Ia melihat Hyungseob, Jihoon bahkan Guanlin sedang duduk di bawah pohon bersama di seberang sana. Jihoon yang pertama menyadari keberadaannya. Disusul Guanlin lalu Hyungseob. Lelaki manis itu menjerit kemudian berlari ke arah Woojin. Dan Woojin tak bisa menahan tawa bahagianya. Apa benar, mereka bertiga datang jauh-jauh ke sini untuk melihatnya? Maka Woojin pun melempar tasnya dan menerima tubuh Hyungseob yang melompat ke arahnya. Mereka berputar lalu berpelukan sangat erat. Layaknya pasangan yang sudah dipisahkan sekian tahun lamanya.
"Woojin-ah, bogoshipda!" Hyungseob mengecup pucuk kepala kecoklatan Woojin.
"Nado bogoshipda."
"Aahhh.. hangatnya.." lega Jihoon, Hyungseob dan Guanlin secara bersamaan. Mereka benar-benar masuk ke kastil yang mereka pikir bukan tempat tinggal Woojin. Ternyata bukan benar-benar kastil. Itu hanya eksteriornya saja. Di dalamnya seperti apartemen biasanya dengan berbagai kamar berjejer di lorong lantai dua ke atas. Kini mereka sudah terselamatkan, dengan selimut hangat dan secangkir coklat panas di tangan mereka. Duduk berjajar di sofa hangat ruang tengah.
"Woojin-ah, kau sangat lama di sekolah. Biasanya kau langganan kabur." Jihoon bersuara. Woojin yang baru saja kembali dari dapur sehabis mencuci alat makan mereka berempat meokbang ramyun, hanya bisa menaikan sebelah alisnya.
"Entah. Mencoba menjadi anak baik?" Jawab Woojin sekenanya.
"Dan ku pikir kau di tempatkan di desa kecil dengan gubuk rami sebagai rumahmu. Ternyata paman masih baik- aww!" Jitakan maut mendarat di kepala fluffly blonde-pinkish Jihoon. Itulah cara manjur untuk menghentikan ocehan aneh si bantet itu. Eh, sejak kapan Jihoon ganti warna rambut? Saat malam sebelum pergi ke Finlandia. Dimana ia meminta backstreet dengan Bae Jinyoung.
"Kadang aku bingung. Kau ini sepupuku atau bukan. Karena bicaramu sadis sekali." Omel Woojin. Ia kemudian duduk di hadapan mereka bertiga.
"Awalnya aku di tempatkan di flat kecil dan sempit. Tapi entah kenapa kemarin ada email dari ayah yang mengirimku ke apartemen mewah ini. Dia mendadak baik. Kira-kira karena apa? Dan lihatlah sekarang kalian semua ada disini. Aku penasaran." Tanya Woojin sambil menatap sahabatnya satu per satu. Mulai Hyungseob, Guanlin di tengah, dan berakhir di Jihoon dimana sepupunya itu malah tersenyum penuh arti.
"Yah, ku pikir kau harus berterimakasih padaku, Park Woojin."
"Ha? Apanya?"
Jihoon meletakan mugnya. Sekilas ia me-wink Hyungseob dan Guanlin seperti memberi kode. Mereka berdua mengerti. Cepat-cepat Hyungseob dan Guanlin ikut meletakan mugnya di meja. Kemudian ia menegakan bahunya dan menarik nafas dalam.
"Selamat hari pindahan ke tempat baru, Park Woojin!" Seru mereka bertiga. Lengkap dengan kedua tangan terangkat ke atas. Woojin sendiri menganga, maksudnya?
"Maaf ini sangat telat. Tapi kami merelakan kau pergi dan tinggal di negeri orang. Kami tak sempat mengatakannya karena kau pergi begitu mendadak. Jadi, semoga betah di Helsinki!" Jelas Jihoon.
Kini Woojin mengangguk paham. "Kalau begitu, mana hadiah pindahannya? Mengucapkan selamat tanpa hadiah itu sama saja bohong." Candanya. Hyungseob menjentikan jarinya. "Tentu, kami punya."
"Nah, hyung. Ada hadiah dariku." Tiba-tiba Guanlin berdiri. Berlari ke arah tasnya yang ia simpan di sudut ruangan, menggeledahnya kemudian kembali. Ia menyerahkan sebuah buku tebal dengan judul "Kamus Besar Lengkap Bahasa Korea-Inggris-Finlandia"
"Apa ini, Guanlin?" Woojin terlihat membolak-balikan buku tersebut.
"Aku tahu kau kesulitan berkomunikasi. Ku yakin itu bisa membantumu." Jelasnya kemudian menampilkan gummysmile-nya. Jika Woojin seorang perempuan, ia pasti akan terpesona dengan senyumnya. Sayangnya ia lelaki dan bawaannya malah ingin memukulnya saja dengan buku tebal ini.
"Heol, ku harap bermanfaat. Terimakasih, maknae." Dan senyum Guanlin makin besar. Kini Woojin menatap Jihoon.
"Hei, tak ada hadiah untukku?"
"Dariku? Kan sudah." Elak Jihoon.
"Hah? Apa?"
"Kau tahu. Aku sudah menjadi saksi atas tindakan bodohmu. Menjadi relawan dengan senang hati, berjuang melepaskanmu dari hukuman pamanku. Maka dari itu beliau menjadi baik. Ku pikir dia akan mengembalikanmu ke Korea, nyatanya tidak. Jadi diringankan saja. Fasilitasmu tak terbatas lagi kan sekarang?" Ucap Jihoon panjang lebar. Ia tersenyum senang dengan dagu yang diangkat. Gaya congklak sok pahlawan yang menyebalkan. Tapi ya, berkat Jihoon yang berbicara dengan ayahnya sih sekarang ia tidak terlalu sulit lagi untuk melanjutkan hidup di negeri orang. Pindah ke tempat nyaman, kartu kreditnya dikembalikan, dan fasilitas enak lainnya.
"Ye, terimakasih atas kemurahan hatimu Park Jihoon." Ucap Woojin dengan nada mengejek.
"Lalu, Hyungseob?" Kini semua menatap lelaki bermarga Ahn itu. Menunggu hadiah apa yang akan ia berikan kepada Woojin. Terlihat lelaki itu tersenyum cerah. Ia berdiri lalu melebarkan tangannya. Semua saling tukar pandang. Maksudnya?
"Errr.. kau ingin memberikan pelukan?" Tanya Jihoon. Hyungseob menggeleng.
"Baju yang kau pakai itu hadiah untuk Woojin hyung?" Ide konyol Guanlin langsung dibalas gelengan keras Hyungseob.
"Lalu?"
"Hadiah untukmu, adalah aku sendiri. Ppyong!" Dan senyum Hyungseob makin lebar plus pose hati di atas kepalanya.
Satu detik.
Tiga detik.
"MWOOO?" Jihoon dan Guanlin terlonjak kaget. Mereka sampai terjungkal dai sofa. Dengan gerakan lambat mereka mengalihkan pandangan ke arah Woojin yang dimana wajah hingga telinganya sudah semerah kepiting rebus. Mata runcingnya melebar dengan mulut yang menganga. Jangan lupakan kalau kepalanya kini sudah berasap. Dia speechless, malu, tersipu, gugup, dan sebagainya.
"Hehehe..." si biang kerok pembuat Woojin memerah malah cengengesan. Ia beralih menuju Woojin lalu memeluknya dari belakang. Tak tahu kalau lelaki bergingsul itu makin merah padam.
"Memang kenapa? Ada yang salah?" Jihoon dan Guanlin menggeleng kompak. Jelas-jelas Woojin suka kok dengan 'hadiah' Hyungseob.
"Begini. Setelah aku tahu Woojin pindah ke Finlandia, maka aku memohon kepada orangtuaku untuk memindahkanku ke sini. Jadi, aku akan bersama dengan Woojin di Helsinki, yeeee!" Hyungseob bersorak.
"T-ta-tapi tapi.." Jihoon dan Guanlin kompak gelagapan.
"Aku menghadiahkan diriku sendiri untuk Woojin, itu karena aku ingin merawatnya. Dia hidup sendirian disini. Dia juga hanya bisa masak ramyun saja. Aku khawatir dengan pencernaannya. Jadi selain teman, maka aku akan jadi partner, koki, pendengar, pembicara, roommate, serta pendampingnya selama Woojin di Finlandia, Korea ataupun dimana pun ia berada." Woah, answer on point. Statement Hyungseob menjawab semua pernyataan yang ada di kepala mereka bertiga dengan sekali tarikan nafas. Memang benar, Hyungseob satulah yang dibutuhkan Woojin kemana-mana.
"Dan kau, Woojin sendiri. Kau menyukai hadiahku tidak?" Hyungseob menengokkan kepalanya. Ia menatap lelaki bermarga Park itu dari samping kepalanya.
"I-iya aku suka sekali. Terimakasih H-hyungseob." Duh, menyebut namanya saja kelu. Payah kau Woojin!
"Eh tunggu, kenapa wajahmu merah? Kau sakit?" Woojin gelagapan. Ia dengan segera menarik diri dan tersenyum kikuk.
"A-aku tak apa. Padahal kau tak perlu merepotkan dirimu sampai seperti itu Hyungseob." Woojin berusaha mengalihkan pembicaraan. Dan Hyungseob mengikuti arahnya.
"Tak apa. Lagipula hanya ini yang bisa aku lakukan disamping apa yang Guanlin atau Jihoon berikan untukmu." Ucap Hyungseob diakhiri senyuman manis nan mematikan. Daripada makin tak karuan, Woojin cepat mengangguk saja.
"Ah, ya. Kalau begitu. Jadi, kau akan tinggal disini? B-be-bersamaku?" Kendalikan suaramu, Woojin.
"Tentu, itu jika boleh agar aku bisa mengawasimu dengan baik." Sialnya Hyungseob menjawab dengan santai dan mudah. Sangat bertentangan sekali.
"Ya, boleh saja. M-mulai kapan?" Woojin mengigit bibirnya. Ia mencoba menahan suaranya yang terus bergelombang.
"Mulai besok pun aku bisa. Aku hanya perlu menelfon Mama agar mengirimkan seluruh barangku kesini. Termasuk surat pindah sekolah dan aku akan mendaftar di sekolah yang sama denganmu, hehe." Woojin menelan ludahnya kelu. Sungguh ia tak pernah berpikiran akan mendapatkan itu semua. Lalu respon apa yang harus ia berikan? Ia hanya bisa menatap jarinya yang bertautan. Ugh.. tolong bantu!
"Wah, aku tak menyangka Hyungseob hyung merencanakan ini dengan sangat detail." Guanlin yang bersuara. Semua menengok kecuali Woojin yang masih mendalami alam pikiran kacaunya. Terimakasih sudah mengambil alih, Linlin.
"Yah, tentu saja. Hyungseob pergi dengan sangat matang. Tidak sepertimu yang mendadak." Elak Jihoon. Guanlin langsung menengok cepat.
"Hah? Aku?" Jihoon mengangguk.
"Kau pergi ke Taiwan tanpa ada pemberitahuan. Aku hanya tahu kau sudah pergi tiga hari setelahnya karena Woojin dan Hyungseob tak mau bercerita." Jihoon merendahkan kalimatnya. Ia jadi kembali sedih jika mengingat masa-masa kecil mereka. Guanlin sendiri siap membuka mulutnya, melakukan pembelaan. Tapi ia melirik tajam Woojin yang masih memerah.
"Yah, tunggu. Apa bedanya aku dengan Woojin hyung? Dia juga sama. Pergi tanpa pemberitahuan." Lelaki jangkung asli Taiwan itu menunjuk Woojin dengan dagunya. Woojin yang namanya dipanggil hanya bisa melirik polos. "Aku?"
Jihoon seakan tersadar. Guanlin ada benarnya juga. Dengan sangat dramatis si cantik Jihoon memutar bola matanya.
"Kau benar juga, Guanlin." Jihoon menjeda kalimatnya.
"Park Woojin. Kenapa kau memilih pergi tanpa memberitahu kami sama sekali?" Ejanya tajam. Dan Woojin hanya bisa menelan ludahnya kelu. Atmosfir makin panas walau di luar jelas-jelas suhu sudah mencapai -25 derajat celcius.
"Hm, entah. Rasanya lebih nyaman ketika aku pergi secara diam-diam. Kalian tidak perlu sibuk melepasku, atau menangisiku. Ini bukan berarti aku 'pergi selamanya' tapi tetap saja ku yakin salah satu dari kalian akan menangis. Maka aku memilih pergi diam-diam. Sebenarnya, sempat aku berharap pada keajaiban kalau kalian akan datang menahanku. Tapi kalian tidak datang." Jelas Woojin sendu. Ketiga sahabatnya hanya bisa diam tersenyum kaku.
"Kurang lebih seperti apa yang Guanlin lakukan 5 tahun silam. Tapi bedanya, dia memberitahuku dan Hyungseob. Sedangkan aku tidak sama sekali. Sekali lagi maaf, karena tidak memberitahu kalian secara personal." Woojin tersenyum. Meminta mereka memakluminya. Dan dengusan samar dari Jihoon, Guanlin, Hyungseob menjadi pertanda bahwa permintaan maaf Woojin diterima. Mana bisa mereka marah kepada Woojin kan.
"Eh eh, aku baru ingat. Ada satu orang yang tahu kalau aku akan pergi. Tidak secara langsung sih, tapi aku memberinya kode akan kepergianku." Ucap Woojin. Ia menatap langit-langit seakan berpikir keras. Jihoon dan Guanlin merapat. "Siapa?"
"Bae Jinyoung." DEG. Hati Jihoon langsung tertohok. Bagai ada tombak yang menusuk dari depan hanya dengan mendengar namanya saja.
"Aku memberinya amanat, agar senantiasa menjagamu, Park Jihoon. Apa dia melaksanakan perintahku dengan baik? Ya walau dia sendiri bilang, tak perlu diperintah pun dia akan lakukan." Kenang Woojin. Ia mengingat bagaimana wajah angkuh dan percaya dirinya Jinyoung ketika berucap demikian. Tapi langsung bingung ketika menatap raut wajah Jihoon yang mendadak murung.
"Eh? Kau kenapa? Apa Jinyoung tidak menjagamu? Si sialan itu?" Jihoon langsung mengangkat wajahnya. Ia tersenyum lalu menggeleng lemah.
"Tidak. Apa kau memintanya demikian? Ku pikir dia memang berniat melindungiku. Tapi nyatanya malah aku yang menyakitinya." Jawab Jihoon lemas. Dengan kompak mereka bertiga langsung mengelilingi Jihoon.
"Kenapa? Ada apa? Katakan!" Hyungseob membombardir Jihoon. Ia menggungcang-guncangkan lengan si cantik. Mendesaknya agar segera bercerita.
"Ah tak apa. Ku pikir ini tak terlalu penting." Elak Jihoon.
"Itu sangat penting. Sepertinya aku tak bisa mempercayai si kepala kecil itu." Geram Woojin dengan tangan mengepal. Niatnya ia ingin memberi lelaki itu pukulan, tapi sulit melayangkan tinju dari Finlandia ke Korea Selatan.
"Yah! Jangan menyebutnya dengan panggilan itu!"
"Atau.. hyung mau, aku buat si kepala kecil itu senasib dengan Jonghyun sunbae dulu?" Guanlin ambil alih. Woojin menjentikan jarinya. Hyungseob mengangguk dan Jihoon menggeram marah.
"YAH! KU BUNUH KALIAN SEBELUM TANGAN KALIAN MENYENTUH JINYOUNG-KU!" Jihoon naik pitam. Ia berdiri dan berteriak keras. Wajahnya memerah dengan nafas terengah. Berlawanan dengan ketiga sahabatnya yang melongo. Wah, Jihoon kalau mengamuk menakutkan!
"A-aniyo. Maafkan yang itu. Aku tidak bermaksud." Maaf Jihoon. Ia menunduk dan kembali duduk. Duh, malu.
"Hahaha.. kami hanya bercanda, Jihoon. Kau sepertinya ada masalah dengannya sampai begitu sensitif. Ceritakanlah, jika mau. Kalau tidak, ya tak apa." Woojin meluruskan. Ia menepuk lutut Jihoon, mencoba menenangkan sepupu satu-satunya itu.
"Sebenarnya, ada satu masalah." Semua mendekat memasang telinga.
"Nilai anak olimpiade semua anjlok. Ditambah dengan kepergianmu, Park Woojin. Kini kami benar-benar dididik sangat keras. Dan Kepala Sekolah tahu aku dan Jinyoung mempunyai hubungan. Maka ia sangat berusaha untuk menjauhkan kami. Bahkan harus sampai melibatkan Daniel dan Minhyun hyung." Jelas Jihoon pelan. Nampak semua ber-oh ria lalu mengangguk paham.
"Si pak tua itu benar-benar memeras otak kita. Lalu bagaimana akhirnya antara kau dan Jinyoung?" Tanya Woojin.
"Aku, memintanya untuk backstreet."
"Hiiik?!" Semua menahan nafas seperti orang yang terkena asma. Kaget bukan main. Sungguh, pasangan mana yang tidak akan marah jika diminta paksa untuk backstreet?
"A-aku tahu aku keterlaluan. Tapi ini untuk kebaikan kita semua. Setidaknya sampai olimpiade selesai, maka semua akan seperti sedia kala." Guanlin menunduk, ia berpikir keras walau ia tak terlalu mengerti percintaan. Woojin sendiri hanya bisa mengusap-usap dagunya, memikirkan sebuah cara yang aman untuk keduanya. Sedangkan Hyungseob, ia memeluk Jihoon, agar ia sedikit merasa baikan.
"Karena itukah kau nampak seperti remaja stress sampai berani mengecat rambut blonde-pinkish seperti itu?" tunjuk Woojin ke kepala Jihoon. Oke, itu warna yang cocok untuk Jihoon, tapi tidak dalam situasi seperti ini. Dan yang ditunjuk hanya bisa mengangguk pelan.
"Apa Jinyoung tahu kau pergi ke sini hari ini?" Dan gelengan Jihoon menjadi jawaban. Membuat Woojin mendengus keras sambil mengusap wajahnya kasar. Ini akan menjadi rumit, sungguh. Mungkin di Korea sana, Jinyoung akan berpikiran kalau Jihoon meninggalkannya. Membuatnya berpikir kalau Jihoon ingin benar-benar berpisah dengannya. Tapi pun jika Jihoon memberi tahu Jinyoung sebelumnya, apa Jinyoung mau mendengarkan? Bung, siapapun yang sedang marah maka telinganya mendadak tuli. Tak mau mendengarkan penjelasan atau saran dari oranglain. Tapi.. ada kemungkinan Jinyoung pikirannya tidak sependek itu. Mungkin ia akan mengerti dan memaklumi jika Jihoon menjelaskan semuanya.
"Hhh.. ini masalah antara kalian berdua. Tak ada yang bisa memperbaiki keadaan selain kalian sendiri. Setelah pulang dari sini, ku sarankan hubungi Jinyoung. Temui langsung, bicara dari hati ke hati. Aku tahu Jinyoung sangat mencintaimu, dia pasti mengerti." Woojin menempatkan tangannya di bahu Jihoon. Mencoba menenangkan dan memberi saran kepada si hati yang sedih. Guanlin dan Hyungseob ikut mengusap punggung Jihoon dan memberinya semangat.
"Jadi, kapan kalian akan pulang?"
"Jadwalnya besok lusa. Tapi sepertinya besok aku akan pulang." Jawab Jihoon.
"Aku ikut Jihoon hyung." Guanlin mengangkat tangannya. Dan Hyungseob mengangguk.
"Kalau begitu cepat hubungi ibumu, Jihoon. Ia pasti mengomel jika ia tak bisa menjemputmu di bandara besok." Dan senyuman Jihoon menjawab perkataan Hyungseob. Baiklah, Bae Jinyoung. Tunggu aku.
Beralih ke Korea Selatan. Taeguk SHS. Kelas 1-A. Bangku tengah. Bae Jinyoung.
Kursi itu kosong. Begitu pun kursi depannya, tempat Lee Daehwi juga bersih. Tak ada tanda-tanda keduanya transit di bangku tersebut. Seisi kelas pun sudah tidak aneh lagi. Palingan si kembar itu sedang sibuk memeras otak di Lab khusus anak fisika sana.
Dan ya, disanalah mereka. Bae Jinyoung yang sibuk memakan es krim coklat di tangan kanan dengan tangan kirinya yang bergelayut manja di lengan Hwang Minhyun. Ketua Hwang sendiri hanya bisa menghela nafas panjang dan berhenti berjalan. Kini mereka sedang berada di lorong kelas 3-A. Koridor sunbae kelas tingkat akhir, dimana Hwang Minhyun belajar di dalam kelas tersebut.
"Bisakah kalian tunggu di Lab saja dan tidak membuntutiku?" Minhyun berbalik. Memarahi orang yang sedari tadi mengikutinya.
"Aniyooo. Aku tidak membuntutimu. Hyung sendiri yang menarikku." Lee Daehwi bersuara. Ia menggoyangkan tangannya yang digenggam Minhyun. Cepat-cepat Minhyun melepasnya. Ia beralih mengurut sisi kepalanya pelan, mengingat apa yang sudah ia lakukan. Ia tadi hanya berjalan ke ruang guru lalu bertemu mereka berdua. Mereka meminta diantar ke kantin untuk membeli es krim dan Minhyun menolak. Orang stress mana yang memakan es krim di pagi hari? Jinyoung memaksa dan menarik tangan Minhyun. Dan tanpa sadar tangannya menarik tangan Daehwi. Setelah dari kantin, mereka berdua masih bersama Minhyun sampai lelaki jangkung itu menuju kelasnya. Menunggunya untuk segera mengambil buku dan tasnya untuk di pindahkan ke Lab sekarang juga.
"Kalau begini jadinya, aku sudah seperti duda anak dua." Lemas Minhyun.
"Dengan anak yang sangat tampan, tentunya." Jawab Jinyoung datar. Daehwi mengangguk.
"Yah—"
TING!
Satu pesan masuk. Pengirimnya adalah Kang Daniel. Minhyun menatap bergantian Jinyoung-Daehwi lalu ponselnya lagi.
"Aku belum selesai mengomeli kalian. Ingatkan nanti."
"Ya ya, tak akan ku ingatkan juga. Memangnya itu pesan dari siapa?" Ku harus berterima kasih padanya karena menjeda omelan ahjummanya Minhyun hyung, lanjut batin Jinyoung.
"Ini dari Daniel." Dan dengan kompak mereka berdua langsung mengerumuni Minhyun. Ikut mengintip isi pesan yang sepertinya 'penting' dari Ketua Kang.
From: Kang Daniel-nim
Kepala Sekolah meminta kita berkumpul di ruangannya. Sekarang juga. Sepertinya ada anak baru yang akan menggantikan posisi Woojin.
Minhyun membeku. Secepat inikah Kepala Sekolah mencari dan menemukan pengganti Park Woojin? Apa tidak gegabah?
"Pengganti Woojin? Dia berarti masuk tim fisika?" komentar Jinyoung.
"Menurut Kwon ssaem, sulit menemukan pengganti Woojin. Jika ada, maka orang itu sangat jenius. Bukankah keren masuk tim fisika dadakan dengan waktu tenggang olimpiadenya seminggu dari sekarang?" Daehwi bersuara yang langsung diberi anggukan setuju dari Jinyoung dan Minhyun.
"Langsung saja. Ku yakin kalian tahu kenapa pagi ini seluruh anggota tim ku kumpulkan disini." Kepala Sekolah bersuara. Benar-benar tanpa basa-basi. Lagipula tak ada juga anak didik yang mau mendengarkan ocehan tak jelasnya kan.
"Anak ini jenius, tentu. Aku bahkan mengenalnya sedari dia masih kecil. Maklum karena dia adalah keponakanku." Kepala Sekolah mulai bercerita dengan suara lantang. Ia berjalan kesana kemari di depan meja kacanya. Kadang ia tiba-tiba tersenyum bangga, membuat para siswa makin ilfeel saja.
"Apa maksudnya? Ini masuk lewat jalan belakang? Benar-benar tidak pantas." Bisik Jisung pelan ke arah telinga Hasung. Dan Hasung langsung menggelengkan kepalanya tak percaya. Dasar kepiting busuk!
"Keponakanku ini lama di Jepang. Tapi jangan sungkan karena dia juga fasih berbahasa Korea. Tentunya dia tampan, sama sepertiku ha ha ha.." Semua siswa membulatkan matanya. Lihat wajah jijik Hasung dan wajah tak percayanya Ong. Benar-benar tak bisa dibayangkan.
"Ku tebak, dia botak." Bisik Hasung.
"Pendek." Balas Ong.
"Kacamata tebal." Tambah Jisung
"Ingus keluar dari mulutnya." Jaehwan tak mau kalah. Tapi komentarnya langsung mendapat delikan menjijikan dari seluruh teman-temannya. "Apa?" tanyanya polos. Jisung langsung menjitaknya.
"Oke, ku persilahkan kau masuk. Keponakanku yang pintar dan tampan, Kim Donghan."
Kemudian atmosfir di dalam ruang Kepala Sekolah mendadak sejuk, seperti mendapat hembusan suci dari angin surga. Entah apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba sudut ruangan seakan terdapat lampu highlight besar yang langsung cahayanya menyoroti pintu masuk. Lantai kayu itu mendadak berubah menjadi red carpet dengan di sampingnya ada gadis-gadis cantik penabur bunga.
Caranya berjalan dari pintu sampai depan meja benar-benar seperti model internasional. Katakan, apa benar lelaki ini memiliki garis darah kotor Kepala Sekolah? Atau katakan saja ini bibit unggul dari sekian pupuk busuknya keturunan mereka. Dan Hasung CS harus menerima tebakannya yang meleset total. Tapi kalau melesetnya seperti ini sih, mau mau saja.
"Kalian semua sudah tahu namaku. Tapi biarkan aku mengulangnya." Lelaki itu langsung melepas mantel bulu panjangnya dan memberikannya tepat ke arah Kepala Sekolah.
"Aku, Kim Donghan." Salamnya sambil mengibaskan rambutnya. Daniel tersedak. Minhyun mengerenyit. Jinyoung menyipit. Sisanya? Terpesona. Wuahhh...
"Aku akan mulai bersekolah disini, di kelas 2-B dan menggantikan posisi Park Woojin di tim fisika. Kalian tidak perlu memperkenalkan diri. Aku tahu nama dan profil kalian semua. Maka dari itu, mulai dari sekarang, mohon bantuannya." Ucapnya lancar lalu membungkukan badannya rendah. Semua siswa ikut membungkuk kepada Donghan. Tapi Bae Jinyoung di belakang sana menatap lelaki bernama Donghan itu tajam. Entah hanya perasaannya saja, atau benar laki-laki itu dari pintu masuk sampai sekarang masih saja menatap ke arahnya. Tatapannya tajam dan seakan tidak suka kepada Jinyoung. Ia tidak terlalu peduli sih, toh bukan se-tim ini. Tapi ketika lelaki itu berkata kalau ia berada di kelas 2-B, itu kelas yang sama dengan Jihoon. Ia pun masuk tim fisika, tim Jihoon. Dan pikirannya langsung melayang ke pacarnya yang sekarang entah dimana. Lelaki cantik itu tidak masuk sekolah selepas kemarin bertengkar kecil dengannya. Hari ini juga ia harus pastikan ada apa dengannya. Ia akan bertanya pada ibunya saja, agar lebih jelas. Tapi sebelum itu, ada apa dengan Kim Donghan? Apa sebelumnya mereka punya masalah? Atau dendam yang belum terselesaikan?
"Hei, kau." Kim Donghan menggusur kopernya. Maklum ia anak baru pindahan, tak membawa tas tapi sekalian dengan koper beserta baju gantinya. Ia berjalan ke lorong Lab tim matematika dan berseru keras. Kebetulan di koridor itu hanya ada Bae Jinyoung. Ia sedang mengotak-atik ponselnya. Mencoba acuh dan tetap mencari nomor ponsel mertua –ekhem- ibunya Jihoon. Posisinya masih sama, menyender diam menatap layar datarnya. Mungkin si Donghan itu menyeru kepada oranglain.
"Yah, Bae Jinyoung!" ulang Donghan yang kini sudah semakin dekat posisinya dengan Jinyoung.
"Apa?" sahut Jinyoung ogah-ogahan. Ternyata benar kepadanya. Kim Donghan sendiri mengangguk. Ia berhenti dan berkacak pinggang. Menatap Jinyoung mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Sungguh aku tak percaya, orang macam ini?"
"Maksudmu? Benar, aku Bae Jinyoung. Dan kau tahu namaku dari mana?"
"Sudah aku jelaskan tadi, kalau aku tahu semua profil kalian. Bahkan sampai orangtua dan kakek nenek kalian." Jinyoung mengangkat sebelah alisnya.
"Wow, menarik."
"Dan aku juga tahu, hubunganmu dengan Jihoon-ku." Jinyoung menengok cepat. Daya tanggapnya langsung aktif ketika mendengar kata 'Jihoon'. Tapi apa-apaan itu, menyebut pacarnya dengan embel-embel kepemilikan?
"Maaf, Ji-hoon-ku?" eja Jinyoung tegas. Donghan sendiri hanya bisa menyunggingkan senyum miringnya.
"Ku pikir aku harus lebih jauh memperkenalkan diriku padamu." Ucap Donghan sambil mengibaskan rambutnya.
"Kenalkan, aku Kim Donghan. Pacarnya Park Jihoon." Ucapnya gagah. Ia menyodorkan tangannya dan menatap Jinyoung rendah.
Sungguh, disini Jinyoung kaget bukan main. Siapa yang mengaku pacar siapa? Apa orang ini sedang sakit? Sakit jiwa? Ku pikir ia salah tempat karena ia harusnya berada di Rumah Sakit Jiwa. Dan apa-apaan itu. Kenapa dia sampai tahu Jihoon? Tapi ia harus biasa saja. Jangan kaget, jangan marah. Bukankah dia diminta backstreet oleh Jihoon? Ia tidak boleh langsung berteriak bahwa Jihoon miliknya. Ia tidak boleh langsung memukul Donghan sekarang juga. Panjang urusannya. Bisa-bisa ia dikeluarkan dari sekolah oleh si Kepiting Busuk itu.
"Oh ya? Setahuku Jihoon tidak memiliki pacar sepertimu..." Ucap Jinyoung tak kalah tajam. Ia memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celananya dan berdiri tegap menghadap Donghan. Merasa tangannya di abaikan, maka Donghan menariknya lagi.
"...lagipula pacar Jihoon itu sangat tampan. Ciri-cirinya, dia memiliki mata yang menawan dengan kepala yang relatif kecil. Tidak sepertimu yang wajahnya pasaran." Lanjut Jinyoung diakhiri senyuman miringnya. Donghan menyipitkan matanya. Apa ia baru saja dihina wajah pasaran?
"Artinya kau menyebutku sangat tampan. Aku memiliki mata yang menawan, tapi sayangnya kepalaku besar karena otakku lebih besar. Benar kan, tuan muda Bae?" Jawab Donghan sengit. Balik Jinyoung yang menyipit sekarang.
"Ku tegaskan, pacar Jihoon itu bukan kau."
"Hahaha, ku pikir kau harus tanyakan lagi padanya. Atau kau belum diberi tahu olehnya?" Perlahan Donghan memajukan kepalanya. Dengan sengaja ia berbisik tepat di sisi kepala kecil Bae Jinyoung.
"Aku ini pacarnya. Dan kau simpanannya. Ingat itu, bung."
Mata Jinyoung melebar. Wajahnya memanas dengan alis yang menukik tajam. Apa-apaan itu? Maksudnya apa? Bagaimana bisa?
"Shhhh... jangan marah dulu..." Dengan perlahan Donghan menepuk-nepuk bahu bidang Jinyoung. Terasa otot bahu itu kaku. Tanda bahwa lelaki di depannya ini sudah tersulut amarah.
"..kau bukan simpanan, tapi selingkuhan."
YIHAAA FINALLY UPDATE H SERIES! Maafin ya, belakangan ini author terkena wabah writer block jadi gak bisa ngetik kelanjutan. Tapi sekarang aku sudah baikan, mhehe. Ku harap para readers gak kabur karena ff ini sudah berlumut huhu TT_TT
Dan JinSeob akhirnya bersatu. Tak kan ku biarkan kalian terpisah lagi nak. Happily ever after okay *hiks nangis bahagia*
Adakah yg biasnya di JBJ itu Kim Donghan? Kalau gitu kita samaa yee *toss* Ingin ku memasukan anak JBJ karena gak adil aja gitu. Castnya: PD101boys tapi gak ada JBJnya huhu.. member lain nyusul yea..
Jangan ada yg ngamuk karena ku jadikan Donghan itu third wheel. Ku gemas sama ending PD101 dimana Donghan dgn santainya narik Jihoon yg lagi ngobrol sama Jinyoung, nyela di tengah lalu perhatian benerin poninya Jihoon yg acak-acakan. Perhatikan ekspresi Jinyoung yg begitu datarnya so liat ke arah lain, tapi di kepalanya itu kek gunung krakatau lagi meledak hiyaaa... tolong selamatkan otak authorku yg ngawur TT_TT
Dan author lagi otw repost ff ini di wattpad. Unamenya tetep kimionjung. Harap banyak yg baca, vote dan komen ya. See you there!
...I Series Still Progressing...
