Chapter 8
-Waiting and hoping are the whole of life, and as soon as a dream is realized it is destroyed.--
-Gian Carlo Menotti
Tidak akan pernah ia lupakan kejadian pada hari ini. Semua perasaan dan emosi yang bercampur aduk tidak karuan membuat dirinya tidak lagi terkontrol. Perasaan marah, penyesalan dan kesedihan menjadi satu kesatuan yang menghancurkan hati dan logikanya. Suatu perasaan yang lainpun juga ia rasakan, seperti seseorang didalam dirinya mengantikan dirinya di dalam tubuhnya sendiri. Keterpurukan membuat dirinya tengelam dalam sisi gelap dalam dirinya, membiarkan tubuhnya terhisap dan tengelam dalam kegelapan hatinya sendiri, dan seseorang pun muncul di hadapannya, membelakangi dirinya, berjalan lurus kedepan meningalkan dirinya dan seseorang itu akan mengantikan dirinya.
Setelah permainan Akashi diatas panggung selesai. Membuat sorakan meriah dari para penonton yang tidak mengetahui tujuan Akashi sebenarnya bermain. Mereka hanya berpikir kalau ia bermain hanyalah sebagai penghibur sekaligus menunjukan salah seorang murid di Teiko yang sangat jenius untuk menyambut mereka. Dalam kenyataanya ia bermain bukan untuk menghibur seperti yang mereka bayangkan akan tetapi sebagai serangan untuk para peserta yang mengikuti perlombaan ini. Dipastikan semua yang telah mendengarnya bermain akan merasakan perbedaan dengan para peserta selanjutnya. Para juri akan merasa kecewa tidak bisa melihat teknik permainan sebagusnya, para penonton akan merasa bosan mendengar nada yang tidak seindahnya. Semua itu akan menciptakan sebuah tekanan yang akan menghantam para peserta dengan telak. Tidak ada yang mendengarkan, tidak adanya tepuk tangan, tidak adanya suara dukungan. Yang hanya bisa mereka dengar diatas panggung hanyalah desahan penonton yang bosan, bisikan orang-orang yang membuatnya berpikiran negatif, dan tatapan penonton yang tidak menunjukan kepuasan.
Akashi telah menghancurkan mental para pemain musik lainnya. Itulah kalimat yang tepat untuk mengambarkan situasi tersebut. Midorima dan Kise kecewa melihat peserta selanjutnya yang terlihat tidak percaya diri. Semua permainannya berantakan, semua penampilannya hancur. Menang dengan cara seperti ini sangatlah memalukan seperti melawan hewan kecil yang hanya memilik nyali tanpa kemampuan. Midorima tidak ingin melihatnya dan ia lebih memilik meninggalkan bangku penonton untuk kembali keruang tunggu dimana tidak ada tv yang akan menunjukan penampilan mereka. Sungguh menyedihkan.
-0-
Di tempat yang lain, sebuah tempat pemakaman umum yang cukup jauh dari gedung aula konser itu berada. Akashi dengan membawa sebuah rangkaian bunga lili putih berjalan menelusuri barisan-barisan batu-batu nisan bertuliskan nama orang yang telah meninggal disana. Hingga ia melihat sebuah batu dengan ukuran sedang berbentuk balok yang panjang keatas, di depannya masih tersusun rangkaian-rangkaian beraneka macam jenis bunga yang masih segar. Akashi mendatanginnya, ia memandangi nama yang terukir di atas batu tersebut. bertuliskan nama 'ARISA SHIGANORI'. Tiba-tiba saja dadanya terasa sangat sesak, sebuah ingatan tentang kematian ibunya ketika ia masih kecilpun mulai terbayang. Betapa syoknya dia, betapa sakitnya dia, betapa sedihnya dia. Langit pun seperti melukiskan perasaannya saat ini. Langit tidaklah secerah kelihatannya, awan kelabu mulai bergerak berangsur-angsur tertiup angin membawanya untuk perlahan menutupi langit biru sedikit demi sedikit.
Dengan wajah tertunduk Akashi berdiri didepan makam Arisa dengan tangan yang masih mengenggam rangkaian bunga lili tersebut. Matanya tiba-tiba kehilangan cahayannya ketika melihat nama yang tertera dibatu nisan tersebut, wajahnya hanya bisa mengekspresikan kesedihan dan kehancuran dirinya untuk saat ini.
Jika aku menghilang dari hadapanmu, apa yang akan kamu lakukan?
Sebuah perkataan dari sosok Arisa yang datang diruang musik waktu itu tiba-tiba terlintas dalam ingatan Akashi. Ia masih dapat mengingat dengan jelas apa saja yang dikatakan Arisa selama dua hari lalu diruang itu yang orang-orang menyebutkan bahwa selama dua hari yang lalu Arisa mengalami koma dirumah sakit. Akashi dapat merasakan kehadiran Arisa, dan ia berbicara kepadanya tanpa tau jika Arisa mengalami musibah seperti itu. keanehan yang Akashi rasakan hanya pertanyaan darinya ketika itu. Akashi berlutut di depan makam Arisa menaruh perlahan rangkaian bunga tersebut di atas tumpukan bunga-bunga lain.
"...Apa yang akan aku lakukan, hah?" Akashi menadahkan kepalanya menatap langit yang tak lagi cerah tersinari cahaya matahari seraya menutup matanya dengan rapat seperti ia ingin menahan matanya yang berkaca-kaca untuk meneteskan air matannya. Setelah beberapa detik ia melakukan hal itu, ia kembali menatap lurus kedepan dengan wajah yang tenang akan tetapi sekeliling matanya terlihat memerah. "Sampai sekarang pun aku tidak bisa menemukan jawabannya." Akashi mengepalkan tangan kanannya dengan sangat erat hingga meninggalkan bekas kuku pada telapak tangannya yang memerah.
"Ketika itu aku hanya menjawab itu menyakitiku, aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan menunggumu. Tetapi aku tidak bisa membayangkan bahkan memimpikan jika kamu akan benar-benar pergi. Harapanku seperti kau hancurkan dalam sekejap mata saja, Arisa." Akashi menundukan kepalanya hingga surai merahnya menutupi sebagian wajahnya. "Kenapa kamu datang ketika tubuhmu dalam keadaan sekarat? Kenapa kamu menemuiku padahal tubuhmu berbaring dirumah sakit?"
"UNTUK APA KAMU DATANG JIKA KAMU HANYA INGIN MENGUCAPKAN SELAMAT TINGGAL SEPERTI INI KEPADAKU!" katanya tanpa sadar tubuh Akashi terlungkup dengan tangannya yang memukul ke tanah yang berlapiskan semen putih kering untuk melampiaskan emosinya yang terus meluap-luap dalam pikiran dan dadanya seperti terjangan badai yang maha dahsyat hingga membuatnya lepas kontrol seperti itu. Ia tidak bisa menahannya lagi setetes air mata keluar dari matanya.
Ternyata ucapan yang ia katakan dulu soal menyakiti hatinya lebih dari ketika ibunya meninggal itu benar. Ia tidak menyangka kalau benar-benar merasakannya. Ia tidak bisa menahan emosinya, ia seperti ingin mengutuk tuhan yang telah mengambil kehidupan orang-orang yang ia sayangi. Ia ingin seluruh semesta menghilang bersama hilangnya sosok yang ia cintai. Ia ingin ia tidak pernah dilahirkan dan dipertemukan oleh orang-orang yang membuatnya bahagia. Sampai ia kembali tenang, Akashi terus meratapi kesedihan pada dirinya yang tidak bisa menjaga orang-orang yang ia kasihi. Ia kembali mengangkat kepala dan tubuhnya. Wajahnya tidak terbasahi oleh air mata, hanya setetes saja air mata yang bisa ia keluarkan seperti air matanya telah mengering sejak lama dan bekasnya pun mulai mengering menyisakan hanya samar merah di kantung matanya. Ia menarik nafas dalam-dalam menenangkan dirinya dengan nafasnya yang seperti terisak. Setelah cukup tenang ia kembali berdiri. Menyapu debu pasir yang menempel pada celana dan setelan jas yang ia pakai untuk menghadiri perlombaan itu. ia sudah lupa berapa peserta lagi yang akan tampil dan berapa lama lagi acara itu selesai. Akashi tidak peduli, ia malah berharap acara itu tidak pernah ada.
"Kamu terlihat sangat kacau sekali, Akashi." Tiba-tiba terdengar seseorang menyebut namanya, membuat Akashi menolehkan pandangannya kearah sumber suara tersebut. seorang pemuda berprawakan tinggi dengan rambut dan mata hitam yang sangat familiar.
"Nijimura-san?" jawabnya kepada salah satu senior jurusan Piano dari Teiko yang juga sebagai mantan conducter tim orkestra utama sebelum Akashi. Musim semi ini pun ia akan segera lulus dan berniat merawat ayahnya yang sakit.
Nijimura Shuzo nama lengkapnya. Akashi tidak merasa heran kenapa Nijimura datang kemakam Arisa, menginggat ia adalah senior dijurusan yang sama dengan Arisa tentu saja Nijimura akan mengenalinya terlebih lagi waktu tes Orkestra itu. Nijimura pasti akan menginggat junior yang satu jurusan dengannya. ia berjalan mendekat ke makam Arisa. Di salah satu tangannya ia membawa rangakaian bunga dengan berbagai macam jenis dalam satu genggam. Dan ditangan yang lain ia membawa sebuah koper ukuran kecil panjang yang terlihat agak kusam dengan banyaknya goresan-gorensan hingga kulit koper tersebut mengelupas, dibeberapa bagian pun terlihat penyokan-penyokan seperti bekas hantaman benda yang keras membuat permukaan koper itu cekung, bersama sebuah tas kertas sedang bersamanya. Nijimura berlutut lalu menaruh rangakaian bunga itu diatas tumpukan bunga yang telah menggunung. Ia lalu menyatukan kedua telapak tangannya lalu menutup matanya sejenak untuk berdoa dan lalu berdiri kembali.
"Tadi adalah penampilan paling bodoh untuk ukuran seorang yang jenius sepertimu. Mempermalukan dirimu sebagai kondutor di tim utama yang bukan salah satu peserta konser." Nijimura menatap Akashi tajam. "Kau membuat para peserta lain berantakan."
Akashi tidak menjawab, akan tetapi ia tidak melepas pandangannya dengan Nijimura seakan ia tidak merasa takut ataupun bersalah dengan apa yang ia perbuat.
"Si talenta bekerja, sang jenius yang menciptakan. Jika mereka tidak berbakat lebih baik mereka tidak usah bermain." Ucap Akashi monoton. Nijimura mengernyitkan dahinya.
"Kau tidak seperti biasanya, Akashi..."
Akashi tersenyum, "Seseorang juga berkata hal yang sama kepadaku. Aku tidak mengerti ucapkan kalian."
Nijimura terdiam ia merasakan sesuatu yang aneh pada Akashi. Dulu ia terlihat sangat baik dan ramah akan tetapi yang ada didepannya tersenyum dan berkata dengan nada yang dingin. Nijimura yakin orang-orang dalam satu timnya juga merasakan keanehan pada Akashi ini.
"Jika tidak ada yang mau dibicarakan, aku akan pergi duluan." Kata Akashi yang lalu berjalan melewati Nijimura setelahnya.
"Tunggu, Akashi!" Panggil kembali Nijimura membuat Akashi berhenti dan kembali membalikan badannya menghadap Nijimura. "Ini.." Nijimura memberikan koper tersebut beserta tas kertas yang ia bawa.
"Apa ini? Kamu memberikan ini untuk ku?"
"Bukan aku...tapi Arisa." Mendengar nama gadis itu disebutkan Akashi membuka lebar matannya. Ia perlahan maju untuk mengambil barang tersebut dari tangan Nijimura. "Tidak ada nama pemiliknya, tetapi aku berpikir ini punyamu. Arisa jurusan piano, aneh jika ia memiliki biola."
"Bagaimana—"
"Orang tuanya datang kesekolah untuk memberi tahu kabar putrinya kepada pihak sekolah, dan mereka mengira benda ini milik sekolah dan berniat meminta maaf dan mengembalikannya, kebetulan seorang guru menyuruhku untuk mengurusnya dan aku melihat buku itu. buku tersebut yang sepertinya menunjukan pemilik sebenarnya." Nijimura menunjuk kedalam sebuah tas kertas yang dipengang Akashi. Akashi lalu membuka isi tas tersebut, sebuah buku yang sudah kusam dan kaku seperti tersiram oleh air dan lalu dikeringkan, di pingiran buku tersebut pun terlihat robek-robek. Akashi lalu menaruh semua barang yang ada ditangannya dan hanya mengambil buku tersebut. sebuah buku partitur, dengan judul musiknya Ballade No. 1 in G minor, Op. 23 yang di aransemen oleh Ysaÿe menjadi biola. Ini merupakan judul yang sama dengan musik yang akan dimainkan Arisa di perlombaan hari ini. Ia membuka halaman pertama setelah cover buku tersebut. sebuah tulisan dengan pulpen yang mulai luntur, sebagian katanya pun menghilang akan tetapi ia dapat melihat sebuah tulisan namannya di sana. Dan sebuah kalimat yang kata terakhirnya terhapus.
Akashi Se*******
**d**h ****mak****ku ***** mu
Aku menci******
***** *****n*ri
Kedua tangannya meremas buku partitur itu dengan kuat. Perhatiannya lalu tertarik pada sebuah bercak yang mulai memudar juga karena terembes air tetapi bercak tersebut berwarna cokelat berbeda dengan warna bekas pulpen yang bertinta hitam. Ia lalu menyentuh perlahan bagian tersebut, mengelusnya dengan lembut bagian bercak tersebut.
"Sepertinya ia membawa semua benda itu pada hari ia mengalami kecelakan. Biola itu pun sebenarnya telah patah di busurnya dan ujung kepalanya, beberapa bagianpun terlihat hancur. Tetapi benda itu terlihat baru, rambut busurnya tidak memiliki serabut bukti bahwa biola itu pernah di pakai. Aku menjadi yakin bahwa itu untukmu."
Akashi memeriksa isi koper tersebut juga, benar yang dikatakan oleh Nijimura. Biola tersebut telah patah dan rusak. Akan tetapi untuk membuang biola ini—
"Boleh aku membawanya?"
"Tentu saja, staf menyuruhku untuk membawanya. Aku bisa membawanya kembali tetapi tidak bisa aku simpan."
"Terima kasih, kalau begitu aku permisi." Ujar Akashi yang lalu membawa kedua benda tersebut bersamanya. Meninggalkan Nijimura yang masih berdiri dekat makam Arisa sampai Akashi menghilang dari pandangannya.
"Tidak aku sangka kamu bisa mengubah Akashi hingga seperti ini, Arisa..." Nijimura menoleh kearah makam Arisa, "...dia akan menjadi violinst yang mengerikan."
To be Continue...
P.S. : Menunggu dan berharap adalah keseluruhan hidup, dan segera setelah mimpi diwujudkan itu adalah kehancuran
