Segelas susu kocok di atas meja ruang tamu Sasuke menjadi saksi bagaimana senyapnya situasi kakak-beradik Uchiha itu. Di depan Sasuke, kakaknya menatapnya dalam sambil mengerutkan kening tak percaya. Pada kondisi Sasuke saat ini, bukan versi culun, apalagi baru saja mandi, Itachi jelas kalah tampan. Tetapi, tingkah laku adiknya itu jauh lebih buruk daripada dirinya.

"Kyousuke memenangkan taruhannya," kata salah seorang kenalannya. "Aku tak menyangka dia berhasil meniduri Hamasaki Asha dalam waktu kurang dari seminggu."

Asha terkenal memiliki kecantikan mematikan di dunia hiburan Jepang. Wanita itu berasal dari pulau Ame. Dingin dan kasar, begitulah perilakunya, sesuai dengan apa yang selalu diperankannya di drama-drama atau film layar lebar. Salah satu wanita paling cantik yang sulit ditaklukkan, kata para pria.

Kyousuke menerapkan standar tinggi terhadap wanita yang ingin menghabiskan satu malam, atau mungkin lebih, dengannya. Saat Itachi tahu seseorang telah merampas jiwa adiknya, Itachi pikir wanita itu pasti secantik para dewi atau malaikat. Perempuan yang memiliki lekuk tubuh sempurna, kulit tanpa cacat, penurut, lembut, rambut panjang yang indah dan senyum menawan dihiasi gigi-gigi yang putih dan rapih.

"Aku tidak percaya ini!" seru Itachi tiba-tiba. "Kau … astaga kau, Hatake Kyousuke?" Itachi menyapukan pandangannya ke seluruh rumah dengan panik. "Aku salah alamat," katanya, lalu tertawa keras. "Kupikir jiwamu dirampas malaikat," ejek Itachi.

"Terserah apa tanggapanmu," balas Sasuke kesal. "Aku hanya akan mengatakan satu hal. Jangan bilang apapun pada Kaa-san."

"Tidak, tidak, Sasuke," tolak Itachi. "Kau tidak boleh mengatakan itu saja. Aku ingin mendengar cerita panjangnya, mungkin bisa kujadikan bahan untuk menulis novel terbaruku. Jika kau mau cerita, aku janji tidak akan bilang siapa-siapa. Bagaimana?"

Kening Sasuke mengerut dalam. "Oke," katanya pelan. "Tetapi, pertama-tama, sebenarnya apa yang membawamu kemari?"

"Kakakmu ini kan alumni terbaik jurusan seni musik di Hashirama. Aku baru dari sana untuk menghadiri acara penerimaan angkatan baru. Sebenarnya siang tadi aku sudah bisa pulang, tapi juniorku meminta waktu lebih, apalagi para gadis." Sejenak Itachi tertawa mengingat bagaimana semangat para juniornya. Mereka lebih tertarik pada ketampanannya daripada materi yang disampaikannya. "Terlalu malam untuk kembali ke Konoha. Lantaran aku ingat aku punya adik yang tinggal di sini, makanya aku di sini sekarang, mau numpang semalam."

"Pantas," gumam Sasuke. "Zaman sudah berubah. Kakakku yang sekarang tidak mungkin datang hanya untuk menemuiku."

"Sasuke, kita semakin dewasa. Baik aku ataupun kau memiliki jalan masing-masing. Aku akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menemuimu, jadi kita tidak usah membahas masalah itu lagi, atau menyinggungnya."

Itachi paham betul kerenggangan hubungan mereka masih mengganggu pikiran adiknya itu. Dia memang terlalu sibuk, tidak punya banyak waktu untuk memperhatikan adiknya itu, tetapi sejak awal dia berjanji, dia akan berusaha sebisa mungkin untuk sering menemui Sasuke. Kedatangannya malam ini pun salah satu usahanya. Dia bisa saja menginap di hotel yang paling dekat dengan Universitas Hashirama, lebih dekat daripada rumah adiknya itu.


Chapter 9

©Rosetta Halim


Pukul dua dini hari, Hinata bangun untuk mengganti pembalutnya. Itachi duduk di dapur dengan senter di tangannya, sedang membaca buku tebal. Hinata memelankan langkahnya agar tidak mengganggu fokus Itachi.

Ketika Hinata keluar dari kamar mandi, lampu dapur telah menyala. Itachi tersenyum menyambutnya. "Kau mau menemaniku?" tanya Itachi sambil menyodorkan secangkir kopi susu.

Inginnya menolak, tetapi mana mungkin, ini pertama kalinya Itachi meminta sesuatu kepadanya. Dengan ragu Hinata mengulurkan tangannya, menyambut secangkir kopi susu yang dibuatkan Itachi untuknya, kemudian duduk di hadapan Itachi.

"Kau gugup?" kata Itachi. Hinata menganggukkan kepalanya. "Kau tak perlu takut. Aku tidak seperti ibuku." Hinata mendongak, menatap Itachi penuh tanya. "Sasuke sudah menceritakan semuanya padaku saat kau sibuk di dapur tadi. Awalnya sulit kupercaya bahwa kau perempuan yang membuatnya jadi gila."

"Aku … aku tidak mengerti," kata Hinata setengah berbisik. "Tetapi, aku percaya dia tidak main-main." Hinata tersenyum miris. "Lagipula, untuk apa dia main-main denganku sementara dia bisa main-main dengan wanita yang jauh lebih cantik daripada aku."

"Aku mengerti, percayalah, aku tidak berpikir dia sedang mempermainkanmu. Sulit percaya bukan berarti tidak percaya."

Untuk beberapa saat mereka tidak mengatakan apa-apa, hanya menyeruput kopi susu sambil menekuni pemikiran masing-masing.

"Kau tahu," ujar Itachi pelan, setelah dia menghabiskan kopi susunya. "Aku mencintai seorang janda muda yang dicerai suaminya karena tidak bisa melahirkan anak. Sudah hampir tiga tahun kami berkencan." Itachi menarik napas dalam, kemudian mendesah berat. "Ibuku pasti tidak akan menyukai itu."

"Ke-kenapa …" gumam Hinata, "… maksudku, kenapa kakak mengatakan itu padaku?"

"Sebagai jaminan. Aku tahu kau takut aku membeberkan cinta rahasia kalian ini. Sekarang kau sudah menyimpan rahasiaku, itu akan membuatmu yakin. Lagipula, bukankah aku dan adikku menghadapi masalah yang sama?"

Hinata tersenyum lebar, dia menatap Itachi dengan mata berbinar cerah seolah matahari terbit lebih cepat.

Ada satu hal yang membuat dua orang lebih dekat, yaitu berbagi rahasia.


"Sejak kapan kalian berdua menjadi akrab?" tanya Sasuke kurang suka. Kakaknya ikut sarapan bersama mereka, dan Hinata memberikan perlakuan spesial pada kakaknya, lebih spesial daripada dirinya.

"Beberapa jam yang lalu," jawab Itachi enteng.

"Hinata, katakan padaku, apa yang bisa kumakan?" rengek Sasuke manja. Dia ingin Hinata mengambilkan makanan untuknya, seperti yang dilakukan Hinata untuk kakaknya. Supaya kakaknya tidak besar kepala. Sudah menumpang, tidak tahu diri, pikir Sasuke.

"Ambilah apa saja yang kau mau," jawab Hinata pura-pura tidak peka.

"Oke," balas Sasuke kesal. Pria itu mengambil semua makanan yang tersaji di meja, kemudian memakannya dengan rakus.

Itachi bingung, baru saja dia berpikir dia akan makan banyak dan sekarang tidak ada yang tersisa. "Ya, sudahlah," gumamnya.


"Angin apa yang membawamu kemari?" tanya seorang pria tua. Meskipun dia sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya, kedatangan Uchiha Itachi, cucunya, tidak akan dilewatkan mata pekatnya.

Dari semua Uchiha yang dikenalnya, Itachi memang satu-satunya yang selalu bertindak sesuka hati. Tanpa pemberitahuan, pria itu bisa saja tiba-tiba ada di hadapannya, orang paling penting di negeri ini. Ketika dia sedang perjalanan bisnis, entah di mana pun itu, Itachi sangat mungkin tiba-tiba muncul di depannya.

"Aku punya berita bagus," jawab Itachi bersemangat.

Uchiha Madara mengalihkan perhatiannya. Dia menatap Itachi, "Kau mau meninggalkan duniamu dan siap untuk masuk ke dunia bisnis?" tanyanya sedikit berharap. Di usianya yang hampir delapan puluh tahun, satu-satunya yang dibutuhkannya adalah penerus.

Menantunya tidak mau disibukkan dengan urusan bisnisnya. Fugaku memiliki ambisi untuk melampaui kekayaannya, karena itu pula menantu sialannya itu tidak mau terlibat dalam bisnisnya. Anaknya berambisi menciptakan tren mode. Itulah kenapa Madara sangat berharap pada kedua cucunya.

"Bukan. Sampai mati pun, aku akan tetap menjadi seniman. Tetapi, Sasuke pasti mau."

Madara menggeram kesal. "Kita sudah sepakat, dia akan menggeluti bisnis ketika dia berumur tiga puluh tahun. Dia juga sedang mempersiapkan dirinya," kata Madara.

"Percayalah, Kakek bisa menyuruhnya duduk di sini sekarang juga. Dia sudah dua puluh tahun, tandatangannya sudah halal dalam hukum negara kita. Menunggu usianya tiga puluh tahun, itu terlalu lama, aku tidak ingin kakek bekerja keras di usia ini," balas Itachi yakin.


Ibu akan datang ke rumahmu besok malam. Berhati-hatilah.

Sasuke nyaris membaringkan tubuhnya di tempat tidur ketika pesan singkat dari Itachi tiba. Dia baru pulang pemotretan di luar pulau. Sekarang pukul satu dini hari, sudah hari senin dan beberapa jam lagi dia harus kuliah. Sebelum tidur dia harus menerima kabar buruk itu. Padahal kakaknya baru dari sini dua minggu yang lalu. Kenapa nama Uchiha sekarang terdengar buruk di telinganya?

Untuk memperbaiki suasana buruk itu Sasuke mengalihkan perhatiannya ke sebelah di mana Hinata tertidur pulas sambil memeluk boneka kelinci yang cukup besar. Dia tersenyum kecil, kemudian mematikan ponselnya dan memasukkannya ke laci nakas.

Perlahan, Sasuke menarik boneka kelinci itu, lalu melemparnya ke lantai. "Aku sudah di sini, kau tidak membutuhkan boneka jelek itu lagi," bisik Sasuke sambil menarik Hinata ke dalam pelukannya.


Hal pertama yang dilakukan Mikoto setibanya di rumah putranya adalah melihat-melihat sekeliling rumah. Sama halnya dengan Itachi, dia pun heran kenapa putranya membeli kebun sayur. Ya, dia menganggap putranya bukan membeli rumah.

Bagian dalam rumah tertata rapih dan bersih, dapur kelihatan yang paling diperhatikan, isi kulkas penuh. Yang paling mengherankan adalah ada sepotong kue tart di dalam kulkas. Sasuke takut cacing, jadi kebun tidak baik untuknya. Sasuke tidak terlalu suka makanan manis, jadi sepotong kue tart tidak cocok untuknya.

"Ada apa ini semua?" tanya Mikoto pada akhirnya. Sasuke mengikuti ibunya sepanjang wanita itu berkeliling, kalau saja ibunya menemukan barang aneh, dia siap memberikan alasan.

"Perubahan," kata Sasuke singkat, lalu dia tersenyum kecil.

Tanpa curiga lebih jauh, Mikoto meneruskan kegiatannya. Rumah Sasuke hanya memiliki dua kamar tidur. Kini Mikoto sedang berada di kamar, di mana Hinata mengunci barang-barangnya di dalam lemari.

"Di mana kunci lemari ini?" tanya Mikoto.

"Lemari itu sudah begitu sejak aku tiba di sini," jawab Sasuke tenang.

Hanya tinggal satu ruangan lagi yang belum dilihat Mikoto dan itu kamar Sasuke.

"Di sinilah putra kesayanganku tidur. Caramu memperlakukan kamarmu tidak pernah berubah, baunya pun tidak berubah." Mikoto duduk di ranjang, lalu berbaring. "Oh, ya, Kaa-san jadi lupa. Sayang, tolong ambilkan tas yang Kaa-san bawa tadi, ada di ruang tamu."

Tas yang dibawa ibunya itu bukan tas tangan bermode sekaligus bermerk yang biasa dibawa ibunya. Tas itu sama seperti tas kerja ayahnya dan terasa cukup berat. Sasuke tak memperdulikannya.

Mikoto membuka tas itu dan mengeluarkan semua isinya, berkas-berkas yang jumlahnya sangat banyak. "Ini dari kakekmu," kata Mikoto, ia menyerahkannya pada Sasuke. Ketika Sasuke menerimanya, selembar kertas jatuh ke lantai dan nyaris menghilang di kolong tempat tidur. "Biar Kaa-san yang ambil," potong Mikoto ketika Sasuke hendak menunduk.

Sesuatu yang berbulu ada di dekat kertas itu, Mikoto menarik kertas dan benda itu keluar. "Boneka kelinci?" Mikoto menautkan alisnya heran. Boneka kelinci itu berwarna putih dan berbulu halus.

"Itu ulah Naruto, dia sengaja memasukkannya ke dalam ranselku supaya aku terlihat bodoh," jawab Sasuke asal.

"Dia cukup manis, empuk dan halus. Baunya juga enak," kata Mikoto memuji boneka itu. "Ibu akan membawa ini pulang nanti."

"Ide bagus," kata Sasuke.

Sebelum Hinata pergi ke apartemen Ino, gadis itu sempat mengganti seprei, selimut dan sarung bantal. Supaya aroma khasnya hilang dari kamar utama, Hinata pun menyemprotkan parfum Sasuke ke seluruh kamar.

Sasuke-kun, aku lupa boneka kelinciku. Tadi aku tidak melihatnya, jadi tidak sempat kumasukkan ke lemari.

Tepat setelah itu, Hinata mengiriminya pesan itu.

Tidak perlu cemas, aku sudah mengatasi boneka jelekmu itu.

"Baiklah, kau baca semua berkas itu, kaa-san akan membuat sesuatu di dapur. Nanti kalau sudah selesai dibaca, segera telepon kakekmu."

Setengah jam kemudian, berkas-berkas itu berserakkan di atas tempat tidur. Sasuke sering melotot tak percaya. Kakeknya memiliki pulau pribadi, dia tidak tahu itu. Nyaris delapan puluh persen aset kakeknya tidak pernah ia tahu.

Kakeknya hanya menginginkan dia menandatangani berkas-berkas yang perlu ditandatangani untuk mengesahkan pengalihan kekayaan kakeknya. Padahal dia sudah bilang, dia bersedia mengambil alih ketika dia berusia tiga puluh.

Sasuke segera menghubungi Uchiha Madara untuk menanyakan kejelasan semua ini.

"Apa semua ini?" tanya Sasuke langsung ke inti.

"Hanya dua syarat. Kau tidak boleh menjual satu aset pun tanpa persetujuanku sampai usiamu tiga puluh tahun. Kau harus mulai mengambil alih beberapa tugas yang sudah disebutkan di sana. Kau setuju, semua kekayaanku menjadi milikmu."

"Tidak bisa. Jadwalku padat, aku kuliah dan karier modelingku masih berlangsung. Kita sepakat aku berhenti dari dunia hiburan saat usiaku tiga puluh, lalu kenapa sekarang berubah?" tanya Sasuke marah.

"Karena kau membutuhkan semua itu dan aku membutuhkan otakmu," jawab Madara, suaranya terdengar yakin.

"Kakek salah, aku tidak membutuhkannya."

"Ah, jadi aku salah. Padahal kau bisa menggunakan kekayaan itu untuk menundukkan Hyuuga kolot itu, sekaligus membuat ibumu tidak berkutik. Karena kau memacari anak haram pewaris Hyuuga, kupikir kau memerlukannya. Kalau kau tidak …"

"Aku akan membubuhkan tandatanganku," kata Sasuke cepat, memotong perkataan kakeknya. Kemudian Sasuke menutup percakapan sambil menggeram marah. "Itachi sialan itu!"

Tak lama setelah itu, pesan kakeknya datang. Setelah kau menandatanginya, antarkan padaku.

"Sudah selesai?" Ibunya masuk ke kamarnya, masih mengenakan apron. "Kaa-san tidak percaya kau berubah menjadi lebih feminin. Di dapur banyak sekali peralatan yang kegunaannya hanya dipahami para wanita dan mungkin beberapa lelaki yang berminat menjadi koki."

"Bukan begitu. Aku membeli rumah ini bersama semua isinya dari sepasang koki kelas elit. Mereka juga dosen di Hashirama. Sekarang mereka di Prancis, semua peralatan itu milik mereka. Yang kuharapkan dari tempat ini hanya ketenangannya," jelas Sasuke.

"Kaa-san sempat berpikir kau berminat menjadi koki." Mikoto terkikik membayangkan putranya mengenakan topi koki dan apron. "Ayo makan."


"Sasuke-kun, sebenarnya kaa-san ingin mengatakan sesuatu," kata Mikoto perlahan.

Anak dan ibu itu kini sedang bersantai di ruang keluarga sambil makan kacang goreng.

"Hm, apa?" tanya Sasuke, tampak tak berminat. Sedari tadi dia ingin masuk ke kamar, mengunci pintu dan melakukan panggilan video dengan Hinata.

"Bersikap baik lah pada Sakura. Pagi, siang dan malam dia mengirimi pesan padamu, tetapi kenapa tidak pernah dibalas?"

Geraman Sasuke tertahan. Memang iya, semenjak Konoha Fashion Festival waktu itu, Sakura sering merecokinya, bertanya berbagai macam hal, yang tak pernah digubrisnya. Berulang dia memblokir nomor gadis itu, tetapi Sakura terus saja mengganti nomor baru. "Aku tidak suka dia," kata Sasuke terus terang.

"Ayolah, kau bahkan tak pernah mengobrol dengannya. Orangnya asyik dan lucu. Yang paling penting dia cantik."

"Kaa-san,aku mau tidur."

"Putraku sayang, temui Sakura besok, ya. Kaa-san sudah berjanji padanya. Sekali saja."

"Oke," kata Sasuke akhirnya. "Sekali saja, setelah itu jangan libatkan aku lagi dengan kegilaan Haruno itu."

"Percayalah, sekali sudah cukup. Kau pasti akan menyukainya," ujar Mikoto yakin.

"Aku tidur sekarang." Sasuke beranjak. "Selamat malam."

"Mimpi yang indah."

Malam semakin larut. Sekarang sudah lewat pukul sebelas malam, dia merasa kesal karena menghabiskan begitu banyak waktu dengan ibunya. "Apa dia sudah tidur?" gumam Sasuke.

Bunyi ponsel pintarnya seakan menjawab pertanyaan itu. Dan ternyata Hinatanya menelepon. Sasuke langsung menerimanya. "Kebetulan sekali, aku sedang memikirkanmu."

"Aku sampai ketiduran karena menunggu telepon darimu," Hinata terdengar menguap di seberang sana. "Lama sekali."

"Maaf, ya, ibuku mengajakku mengobrol. Banyak sekali topiknya. Bagaimana di sana? Mereka memperlakukanmu dengan baik, 'kan?"

"Mereka gadis-gadis yang seru dan agak gila. Mereka sangat menyukaiku karena aku bisa memasak makanan enak. Bagaimana denganmu? Kau makan apa tadi?"

"Untuk makan malam, ibuku lebih sering makan salad, itulah yang kumakan." Sasuke kembali mendengar Hinata menguap. "Ibuku memintaku menemui Sakura besok, sudah kuiyakan. Tidak apa-apa kan?"

Kalau urusan pekerjaan, Sasuke tak pernah meminta izin dari Hinata untuk menemui siapa saja. Tetapi ini berbeda, menemui Sakura besok tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya.

"Tidak masalah. Sudah, ya, aku mau tidur, besok aku harus cepat bangun untuk mencari ikan segar di pasar. Kau juga, cepatlah tidur."

"Hn."


Semua mata tertuju pada Hatake Kyousuke, terutama mata para gadis. Pria itu memasuki sebuah mal besar di pusat kota Naruto. Sesuai keinginan ibunya, dia harus menemui Haruno Sakura di salah satu cabang Restoran Tanaka, di meja nomor 12.

Ketika Kyou memasuki restoran, pengunjung dan pelayan terdiam, terpana dan terkejut di saat bersamaan. Mereka tidak menyangka Hatake Kyousuke muncul di tempat umum. Beberapa di antara mereka bahkan hendak berlari pada Kyou untuk minta tandatangan. Tetapi, tatapan Kyou yang terkesan kejam mengurungkan niat itu, mereka kemudian hanya berbisik-bisik.

Ada tiga pelayan wanita yang sempat berebut melayani Kyou, percekcokan mereka cukup terdengar. Pada akhirnya, pelayan pria yang datang menghampiri Kyou, lalu menyodorkan daftar menu. "Jus tomat," kata Kyou singkat.

Pelayan itu berdiri agak lama di sana untuk sekadar mengagumi wajah Kyou dan gaya rambut yang terkenal sangat unik itu. "Makanannya?" tanya pelayan itu singkat.

"Nanti."

Lebih tiga puluh menit Kyou di sana, tetapi Sakura belum datang juga. Entah sudah berapa orang yang berdiri agak jauh di depannya, lalu selfie dengan kamera yang diarahkan kepadanya.

Dalam waktu tiga puluh menit itu kehebohan terjadi di media sosial. Lantas restoran pun menjadi ramai karena itu.

Kehebohan semakin menjadi, ketika wanita berambut merah muda menghampiri Kyou, kemudian duduk dengan santainya. Percayalah, sebenarnya dia sangat gugup. Dia terlambat sampai tiga puluh menit. Itu hanya karena dia ingin terlihat cantik di depan Kyou.

Haruno Sakura berhasil terlihat secantik putri raja. Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna merah cabai. Tampak seksi dengan potongan leher yang rendah. Rambutnya ditata sedemikian rupa, sedikit bergelombang dan tanpa poni, agar terlihat seperti wanita dewasa. Riasan wajahnya tidak mencolok, tidak apa pun, kecuali lipgloss sewarna cherry dan blash on merah muda yang pas di kulit wajahnya yang putih bersih.

"Dua puluh tujuh menit lagi," kata Kyou tajam. Sakura menatapnya bingung. "Kau punya waktu dua puluh tujuh menit lagi untuk memandangiku," jelas Kyou.

"Ma … maaf, aku benar-benar minta maaf," ujar Sakura menyesal. "Itu cukup."

Selanjutnya mereka mengobrol sambil makan malam, atau lebih tepatnya hanya Kyou yang mendengar Sakura bicara sambil sesekali bergumam, "Hn," atau mengatakan "Tidak." Selain itu Kyou juga sering memainkan ponselnya.

"Ano … kau tak pernah membicarakan dirimu," kata Sakura takut-takut. "Maksudku, ceritakanlah sedikit tentang dirimu."

"Aku seperti yang digosipkan," balas Kyou acuh tak acuh. "Dan," Kyou mengangkat tangan kirinya, lalu menengok jam tangannya, "waktumu habis." Kyou memanggil pelayan, meminta tagihannya. "Tidak. Dia bayar pesannya sendiri." Begitulah kata Kyou ketika pelayan menanyakan tentang tagihan Sakura. "Aku sudah bilang kan, jangan berharap macam-macam. Daripada kau repot-repot membuat orang lain mencintaimu, lebih baik kau berusaha membuat dirimu jatuh cinta pada seseorang di luar sana yang mencintaimu."

Sakura hanya bisa terpelongo sambil bergumam, "Mengerikan" ketika Kyou meninggalkannya sendiri di sana. Bahunya melemas, pasrah pada takdir cintanya yang buruk. Hanya dua puluh tujuh menit, hanya dia yang berbicara, bayar masing-masing, dan bonus satu nasihat panjang.

Sia-sia dia berdandan, pertemuan mereka berakhir begitu cepat.


Kyousuke memarkir mobilnya di basement gedung apartemen untuk kalangan menengah ke atas. Dia sengaja membeli satu apartemen untuk Kyousuke, agar dia punya tempat persembunyian untuk berganti wujud sebelum pulang ke rumah Sasuke.

Di gedung itu, Kyousuke bertetangga dengan Naruto dan sepupunya, Sai. Biasanya sebelum keluar dari apartemen Kyousuke, Sasuke pasti meminta Naruto berjaga di sepanjang koridor, supaya tetangganya yang lain tidak mencurigainya.

"Wah, bagaimana kencanmu?" tanya Naruto. Pemuda itu sengaja menunggu pasti untuk bertanya tentang pertemuannya dengan Sakura.

"Kita tidak akrab, ingat?" balas Kyou, kemudian dia menghilang di balik pintu apartemennya.

Lima menit kemudian ponsel Naruto berdering, dia langsung mengangkatnya dan mengatakan, "Aman."

Naruto segera menarik Sasuke masuk ke apartemennya. Di ruang duduk, Sai menggeleng-gelengkan kepala sambil komat-kamit. "Kau jangan pulang dulu," kata Naruto memohon. "Ceritakan padaku."

"Dia duduk di depanku, mengoceh entah apa, kemudian aku pulang, selesai."

"Sasuke, berceritalah dengan benar."

"Naruto, sudahlah. Kau bisa membaca lebih banyak cerita di tabloid besok. Media sosial sudah sangat heboh, tidak mungkin tidak ada wartawan yang menulis artikel tentang makan malam romantisnya itu," jelas Sai.

"Baiklah. Pulanglah sana, Uchiha Brandal!"

Sasuke menyeringai, dia mengedipkan mata pada Sai sebagai tanda terimakasih.

Untuk pulang ke rumahnya, Sasuke tidak mengemudikan mobilnya. Mobil itu tetap terparkir di basement sampai dia kembali lagi ke sana. Demi semua drama ini, dia rela pergi sana ke mari telebih dahulu barulah pulang.


Hinata menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, membaca sebuah novel yang ditulis Itachi sambil mendengarkan musik. Wanita itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya, begitulah menurut Sasuke.

"Sasuke-kun, boneka kelinciku di mana? Kuharap kau tidak membuangnya," kata Hinata dengan nada mengancam. Sasuke itu memang suka cemburu pada hal-hal kecil yang terdengar aneh.

"Hinata, terakhir kita bertemu kemarin sore. Kenapa yang kau tanyakan malah boneka kelincimu yang jelek itu?" Sasuke merampas novel kakaknya dan membuangnya asal. Saat ini dia cemburu. Boneka kelinci itu sudah cukup menjengkelkan dan Itachi malah mengirimi novel yang menyita perhatian Hinata.

"Sasuke-kun, itu karya Itachi-nii. Kau tidak boleh jahat padanya." Hinata bangkit, hendak memungut karya Itachi. Tetapi tidak sempat, Sasuke melepas wireless headphone-nya, kemudian menindihnya.

"Biarkan saja," bisik Sasuke sambil melepas kacamata Hinata. "Kau tahu, aku terlihat bodoh gara-gara boneka jelekmu itu. Jadi, kubiarkan ibuku membawanya."

Hinata mendesah lega. Boneka itu hadiah ulang tahun dari kakaknya, jadi tidak boleh dibuang. "Jadi, bagaimana makan malammu?"

"Aku tidak kenyang." jawab Sasuke cepat, lalu mencubit pipi Hinata dengan gemas. "Aku masih sangat lapar," bisik Sasuke menggoda tepat di telinga Hinata.

Godaan itu disambut Hinata dengan senyum nakal. Dua minggu lalu dia sudah berjanji. Mereka belum sempat melakukannya, karena jadwal Sasuke yang padat dan dia pun sibuk dengan kuliahnya yang terbilang sangat keras. "Makanlah sebanyak yang bisa kau makan."


Tiga kali dia mencapai puncak kenikmatan, sementara Hinata dua kali lipat. Wanita itu memadangnya dalam-dalam sambil menetralkan pernapasannya. Bulir-bulir peluh menghias keningnya. Meski terlihat lelah, wajah itu seolah berbisik, "Aku puas," di telinganya.

"Sabtu ini, aku akan pulang ke Konoha," kata Sasuke pelan. "Sebaiknya kau juga pulang." Dia menyeka bulir-bulir keringat di kening Hinata, kemudian mengusap-usap pipi gemuk Hinata dengan jempolnya.

"Apa ibumu yang minta?"

"Tidak, kakekku. Aku harus mengambil senjata yang berguna untuk kita berdua. Dan senjata itu disimpan oleh kakekku," jawab Sasuke penuh arti.

Kening Hinata mengerut. "Senjata?" katanya bingung.

"Kau akan tahu nanti. Yang pasti, senjata itu bukan semacam senjata yang menggantung di bawah perutku."

"Sasuke-kun!" Hinata berteriak sambil menarik selimut sampai menutupi kepalanya.

Sasuke terkekeh.


Tempat yang Hinata kunjungi siang ini sama seperti yang didatangi Kyousuke kemarin malam. Restoran Tanaka di meja 12. Sakura megajaknya makan siang bersama, Ino juga akan datang. Gadis itu akan segera kembali ke Konoha, karena tahun ini Sakura tidak kuliah, dia memilih meniti karier di dunia modeling, belum jelas kapan siap untuk kuliah.

"Sorry, Girls, aku terlambat. Aku tidak bisa berbohong di Fakultas Psikologi," kata Ino menyesal. Gadis pirang itu baru saja tiba. Tidak ada yang mengerti betul bagaimana Ino terjebak di Fakultas Psikologi, padahal semasa SMA gadis itu tak pernah tertarik dengan psikologi.

Sehabis memesan makanan. "Kalian tidak akan bisa membayangkan apa yang kuhadapi kemarin malam." Curahan hati Sakura mulai berhamburan ke telinga kedua temannya. "Dia duduk di depanku, aku berbicara banyak hal, tetapi tanggapannya secuil. Parahnya, kami bayar masing-masing. Sikapnya itu membuatku merasa aku tidak cukup cantik."

"Oh, iya, Kyousuke itu, 'kan. Kabarnya sudah menyebar ke mana-mana. Sikapnya itu cuma berarti dua hal, dia tidak tertarik padamu dan dia pelit," celetuk Ino, kemudian tertawa keras. "Tapi, kok bisa, media memberikan kesan romantis terhadap makan malam kalian?"

"Fans fanatik Kyousuke pasti akan melahap berita itu mentah-mentah. Itulah yang disukai media, menciptakan kontroversi," ujar Sakura marah. Baginya para wartawan yang mengulas makan malam mereka kemarin sama sekali tidak peduli dengan perasaan orang lain, mereka akan membuat berita yang laku keras di pasaran. "Bagaimana menurutmu Hinata?" tanya Sakura.

"Aku …" Hinata mulai gugup, "… aku tidak paham," jawabnya berbohong.

"Kenapa tidak?" tuntut Ino. "Kau dan Sasuke itu pasangan yang unik sekaligus bikin iri sepanjang tahun. Rasanya kok kalian seperti jatuh cinta setiap hari. Padahal hubungan kalian juga sudah dua tahun, 'kan? Pastilah kau lebih paham dengan persoalan cinta."

Hinata melepas sendok yang dipegangnya, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas pangkuan. "Em, mungkin Kyousuke itu tidak suka perempuan," katanya pelan.

Sakura dan Ino melotot tak percaya. "Uso!" teriak mereka berdua kompak.

"Seingatku, Kyousuke itu sering gonta-ganti teman kencan, mereka semua perempuan kok," kata Sakura memberikan argumen untuk membantah pernyataan Hinata.

"Em …" Hinata benci ini. Dia tidak suka berbohong. Dia juga benci tentang berganti-ganti teman kencan. "Entahlah, aku juga tidak kenal dia. Bisa saja dia menyukai perempuan biasa dan menyembunyikan status hubungannya."

"Itu lebih masuk akal," timpal Ino.

"Aku tidak suka itu. Pokoknya, Kyousuke itu belum punya kekasih. Kalau memang ada, media pasti …"

"Sudahlah, Jidat," potong Ino. "Hinata kelaparan gara-gara ocehanmu itu. Kita ke sini untuk makan siang, bukan menggosip."

Ino mengelus-elus perutnya yang sudah penuh. "Aku kenyang sekali. Kalian tunggu di sini, ya, aku ke toilet dulu."

Tak lama setelah Ino pergi, kehebohan terjadi. Ginger Gerard memasuki restoran dengan tampilan modisnya yang berkelas tinggi. Saat dia mendengar Kyousuke muncul di Naruto, wanita itu pun langsung terbang dari Kumo. Seusai Konoha Fashion Festival, keberadaan Kyou menjadi tidak menentu, kemunculannya bisa di mana saja. Padahal niatnya tinggal di negeri matahari terbit ini adalah membuat Hatake Kyousuke bertekuk lutut di bawah pesona kecantikannya.

Wanita berambut merah itu menyapukan pandangan ke seluruh sudut restoran. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Kyou. Tetapi, kedua alisnya terangkat ketika matanya menangkap kepala merah muda milik Haruno Sakura. Gadis tengil sok cantik. Pendatang baru tidak tahu diri yang berani mencuri ciuman Kyou di depan publik.

Dengan mantap, Ginger menghampiri gadis itu.

"Boleh bergabung?" tanya Ginger, lalu melempar senyum palsu kepada Sakura.

Hinata menganga. Dari jauh Ginger Gerard kelihatan cantik, saat dekat semakin cantik. Tidak seperti model-model yang fotogenic, saat dilihat dari dekat, wajahnya berubah jelek. Ginger duduk di depannya, di tempat Ino. "Kenapa? Tidak pernah melihat wanita cantik?" kata Ginger kepada Hinata. Sontak, Hinata mengatupkan bibirnya, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Sakura. Sakura menggedipkan sebelah matanya.

"Sayang sekali, kau datang terlambat," kata Sakura. "Kyousuke sudah pergi pukul sepuluh, kemarin malam," tambahnya senang.

"Benarkah? Bagaimana makan malam kalian?"

"Itu makan malam yang romantis," dusta Sakura.

"Tidak usah membual. Kau seharusnya sadar diri."

"Aku tidak membual. Kyousuke itu jarang muncul di tempat publik karena dia benci keramaian. Dan lihat kemarin malam, dia datang ke sini untuk menemuiku dan bersedia menantiku di sini, tepat di meja ini. Oh, betapa manisnya."

"Kau?" Ginger menggeram, kendali dirinya mulai kacau. "Dengar, seperti yang kukatakan sebelumnya, kau tidak akan menang dariku."

Kedua wanita itu bertengkar, Hinata terjebak di antara mereka berdua. Semakin lama, perkataan mereka semakin menjurus. Cukup. "Ano … Sakura-chan, aku ke toilet, ya." Sakura mengangguk.

"Hati-hati di pintu," cetus Ginger. Hinata memandang wanita itu bingung. "Maksudku, bisa saja pintunya terlalu kecil untukmu." Ginger terkekeh.

"Diam kau!" bentak Sakura. "Pergilah, Hinata, tak usah hiraukan dia."

Sesampainya di toilet, Hinata mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, hendak menghubungi Sasuke.

Nada sambung baru berbunyi sekali, dan Sasuke langsung mengangkatnya. "Hai, Pipi Bakpao!"

"Kau di mana? Kuliahmu sudah selesai?"

"Tunggu dulu, kenapa kau terdengar kesal? Apa Sakura dan Ino mengatakan hal-hal aneh?"

"Ada Ginger Gerard di sini," jawab Hinata, semakin kesal ketika menyebutkan nama Ginger.

"Oh. Tidak usah pedulikan perkataannya. Mulutnya memang kotor. Tapi, apa yang dilakukannya di sana?"

"Entahlah, dia bertengkar dengan Sakura, meributkan tentang siapa yang paling pantas bersama Kyousuke. Aku mau pulang. Kalau kuliahmu sudah selesai, singgahlah ke sini dan bawa aku pulang."

"Sabar. Aku memang sedang ke sana."

Ketika Hinata kembali, suasana meja mereka semakin ramai karena Ino pun ikut berbicara mendukung Sakura.

Sesaat kemudian, Sasuke menghampiri mereka. "Lihat, lihat! Pink, pria ini terlihat sangat pantas untukmu," celetuk Ginger. "Dia pasti datang untuk minta tandatangan darimu," ejek Ginger.

Hinata menyelempangkan tasnya. "Ayo," katanya pada Sasuke.

"Oh, jadi mereka sepasang kekasih. Sangat pantas," puji Ginger.

Ketiga wanita yang ada di sana tidak tahu bahwa orang yang mereka ributkan sedari tadi baru saja ada di dekat mereka. Ginger tidak tahu apa yang dikatakannya ketika dia mengatakan, "Sangat pantas." Baik dia maupun Sakura, terlihat sangat berambisi menjadi bagian penting dalam hidup Kyousuke dan siap melakukan apa saja demi cinta Kyou.

Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya mencengkram lengan bawah Sasuke seolah seseorang hendak merebut Sasuke-nya. "Sasuke-kun, kau tidak boleh dekat-dekat dengan mereka berdua."

Untuk pertama kalinya Hinata menunjukkan sikap posesif.

"Teruslah bersikap begitu. Aku suka saat kau cemburu," kata Sasuke setengah berbisik.