There's Christmas Cake although It's Not Christmas Day

Chapter 9: Don't Make a

Warning: Happily Ever After!AC(?) OkiKagu. Slight!KamuSoyo. 25 y.o!Okita Sougo. 21 y.o!Kagura. Quick typing as usual. Lack of description. Too quick/slow pace? Super OOC. Typo(s)? Cliche plot. Abal.

Disclaimer: Characters belong to Sorachi Hideaki. Shaun have the plot, nothing else. Don't get any profit from making this fic.

Keterangan: Kamui menyembunyikan sifat kekanakannya (lemah) dari hadapan Kagura. Seorang kakak harus tetap terlihat kuat apapun yang terjadi, bukan begitu ...?

.

.

"Sampai bertemu lagi, tuan polisi. Aku akan menyusul kalian setelah mengantar Soyo," Ucapan Kamui masih berputar di kepala Sougo. Ia mendecakkan lidahnya tanpa sadar, tidak seharusnya ia memikirkan hal tersebut.

Tetapi ... Ada perasaan yang mengganjal.

(Ini masih fic straight kok, tidak melenceng.)

Secara tak sengaja, matanya menangkap sepasang kakak beradik yang tengah bermain dan sang kakak selalu berusaha menjaga adiknya agar tidak kenapa-kenapa.

Ia punya satu firasat yang cukup buruk jika harus jujur.

"Baiklah, sampai nanti, Sadis," suara kekasihnya membuatnya tersadar dari lamunannya dan ternyata mereka sudah sampai di ruang tamu Yorozuya. Belum sempat membalas salam perpisahan, Kagura sudah langsung memasuki kamar tidurnya.

"Oi, oi, Souichiro-kun, daritadi wajahmu kusut sekali seperti dalamannya Patsu-an, ada apa?" langsung saja kepala cokelat pasir itu bergerak ke arah sumber suara.

"Kenapa harus dalamanku, Gin-san? Bukannya milikmu lebih kusut?" keluh anggota Yorozuya yang lain sambil meletakkan teh di depan Sougo.

Si penerima segera mengucapkan terima kasih dengan singkat dan memutuskan untuk meneruskan kebiasaannya yang sudah ada sejak dulu kala, "Namaku Sougo, Danna," meralat namanya yang salah disebut.

"Jadi, Okita-kun~" samurai bersurai perak itu mengabaikan kalimat terakhir dan langsung membiarkan dagunya bertumpu pada kedua tangannya, "Kagura bilang kau butuh bertemu denganku. Ada apa?" suara Gintoki mulai menjad serius.

"Jadi ..."

"Kakak bodohnya belum mau menerimamu sebagai adik ipar? Sepertinya dia juga ingin menantangmu bertarung dulu sebelum boleh menjadi adik iparnya yang resmi?"

Iris merah darah itu menatap malas yang berbicara, "Untuk apa kau bertanya jika sudah tahu apa yang ingin kuceritakan, Danna?" Gintoki hanya memberikan senyuman kecilnya.

"Bukankah itu wajar, Souichirou-kun? Seperti Mitsuba yang memperhatikanmu, Kagura selalu memperhatikan kakak bodohnya itu," lalu, ia meminum susu stroberinya. Sougo mendengus, ia tidak terima ia disamakan dengan preman Sheeta itu.

Apalagi masalah namanya yang tidak pernah benar disebut.

"Sebenarnya aku punya firasat buruk, Dan-"

"DUAAAAAAK!" Sebuah suara keras terdengar dari genkan Yorozuya dan memotong kalimat kapten divisi satu Shinsengumi itu. Dengan panik, samurai pengguna bokuto itu turun dari kursinya dan berlari ke sumber suara.

Dan menemukan kejutan spesial.

"OIIIIIIIII!" pekik pria itu, "PINTU ITU BARU SAJA DIPERBAIKI! ANAK BAPAK SAMA SAJAAA! BAYAR BIAYA GANTI RUGINYA OIIIII!" Gintoki langsung mengamuk lagi ketika melihat pintu depannya diterjang oleh anak pemburu alien ternama itu.

Ia menatap Gintoki dengan senyum khasnya, "Eh? Padahal aku mengetuknya dengan pelan," ucap Kamui sambil menatap kepalan tangannya.

"KETUKAN PELAN YANG KAUMAKSUD SEPERTI APA, KAMUI-SAN?!" Shinpachi yang ikutan melihat ada yang terjadi segera melakukan tugasnya sebagai pelontar tsukkomi.

"Arara, tempat ini sangat kacau," suara langkah kaki terdengar di genkan itu, "aku dapat meringkusmu karena sudah merusak properti milik orang lain, penjahat luar angkasa," Sougo memberikan senyumannya. Lebih tepatnya sebuah seringai sadis khasnya.

"Hee, begitukah ..." mata yang daritadi tertutup itu segera terbuka, memperlihatkan sepasang iris berwarna batu aquamarine, "Tapi, ada hal yang salah, pak polisi."

Hawa di sekitar mereka segera menjadi berat sekali. Insting setiap samurai di sana sangat tajam, mereka sudah berjaga-jaga. Entah baru berapa detik setelah Kamui menyelesaikan kalimatnya, dengan cepat kakinya sudah bergerak dan mengayukan payung ungunya. Sayangnya, payung tersebut sudah ditangkal oleh target Kamui, "Sepertinya kau semakin baik daripada yang dulu, Tuan Polisi," payung ungu itu diangkat dan diayunkan lagi, dengan harapan dapat didaratkan ke arah pundak Sougo tetapi meleset.

"Wa-wa-wah!" samurai kacamata bermanusia itu segera panik melihat akibat dari pukulan yang meleset, lantai kayu genkan jebol.

"KALIAN BERDUA HENTIKAAAAAN! RUMAHKU! RUMAHKU!" samurai pemilik Yorozuya itu segera panik dan berusaha mendekati kedua laki-laki yang tengah bertarung, "Bertarung di luar sajalah kaliaaaaaan!" pekik Gintoki dengan pasrah.

Tanpa menjawab keluhan Gintoki, mereka berdua segera keluar dari situ. Gintoki dan Shinpachi hanya menatap kekacauan ini dengan berat hati. Ke mana Sougo dan Kamui? Mereka berpindah ke atas Yorozuya, ke atap rumah lain, dan entahlah ... Ke mana pun dan mereka berakhir di Taman Edo lagi.

Kasihan sekali tamannya.

"Aku memang kuat dari dulu atau mungkin kau yang semakin lemah, penjahat luar angkasa," jawab Sougo sambil tetap mengayunkan pedangnya dengan cepat.

Si kepala Jingga terkekeh dan memberikan senyuman normalnya, "Sayangnya panggilan itu sudah tidak berlaku untukku. Bukankah secara tidak langsung aku tetap sejenis denganmu, polisi?"

Kapten divisi satu Shinsengumi itu berdecih, "Polisi luar angkasa sangat tidak cocok untukmu,"

"Polisi bumi juga tidak cocok untukmu," ungkap Kamui dengan santai.

Satu waktu mereka berhasil menemukan celah untuk melukai satu sama lain dan sebelum dapat mengenai bagian vital mereka ... Sebuah siluet segera muncul di antara mereka, "Yep, cukup sampai di situ kalian berdua!" gadis bercepol dua itu segera menengahi kedua laki-laki yang tengah bertarung itu, "Kalian benar-benar menyusahkan!" lalu dengan kesal Kagura segera membenturkan dua kepala itu.

"I-imouto-chan ... Itu bukan hal yang sepantasnya kaulakukan kepada onii-chan-mu ..." Kamui sedikit kesakitan tapi dengan cepat rasa sakitnya itu bisa menghilang.

"Oh? Bukankah itu hal yang sepantasnya kulakukan jika kakakku berbuat hal bodoh?"

Si kepala cokelat pasir itu segera memegangi jidatnya yang memerah, lalu sedikit mengumpat, "China! Kau sialan ...!"

"Kau lebih sialan lagi, dasar Sadis sialan."

"Tidak bisakah kau berhenti mengurusi orang lain? Kau sudah sering kali menginterupsi pertarunganku!"

"Tidak bisakah kau bersikap seperti polisi pada umumnya?! Kau menghancurkan semuanya!"

Kemudian perang mulut antara si gadis Yorozuya dan anggota termuda Shinsengumi terjadi seakan mereka berada di dunianya mereka sendiri. Kamui menatap kejadian itu dengan tenang.

Mungkin, ia memang orang yang tepat untuk adik tercintanya?

"Baiklah, kau lulus tes, Polisi," ujar Kamui sambil bertepuk tangan, "jika aku mengetahui kau melakukan hal yang aneh-aneh, aku tidak akan segan menghancurkanmu~"

"Lulus tes? Tes apa?" tanya adiknya.

"Oh, begitukah?" samurai itu tertawa kecil, "Kalau begitu, aku harap kau bisa mendapatkannya. Gadismu itu memang terlihat mudah didapatkan tapi kenyataannya kautahu sendiri, bukan?" Sougo segera mengindikasikan sesuatu hal yang dapat kalian tebak setelah membaca chapter sebelumnya.

Ekspresi anak sulung Umibozu itu melembut saat mengerti maksud calon adik iparnya itu. Ia terkekeh perlahan selanjutnya ia segera membalikkan badannya, membuka payung ungunya, dan melambaikan tangannya.

"KALIAN MENGABAIKANKU!" amuk Kagura.

"Diamlah China, kau ribut," adik Mitsuba itu segera menutup telinga dengan kedua tangannya, pandangan matanya masih menatap punggung salah satu mantan penjahat luar angkasa itu.

"Padahal, aku sudah membawa semua perban dan obat, huh! Kamui malah pergi! Lihatlah dirimu! Seperti onggokan kain pel yang dekil, ih!" iris cokelat kemerahan melirik gadis yang tengah membuka kain perban dari kotak obat.

"Kenapa juga kau ke sini?"

"Gin-chan dan Shinpachi membangunkanku tadi. Kalian benar-benar mengganggu tidur siang cantikku!" keluhnya sambil berkacak pinggang, "Lagipula, kalian tipikal petarung yang akan mengalahkan musuhnya dengan membunuh."

"Kau mencemaskan kami? Dasar tsundere," sindir Sougo. Tapi, kali ini Kagura tidak membalas apa-apa dan segera menarik kekasihnya ke kursi taman terdekat. Sougo akhirnya mulai merasakan sakit dari luka yang diakibatkan pertarungan tadi.

"Dasar kakak bodoh, apa sih yang ia pikirkan?!" lirih Kagura sambil membersihkan luka Sougo dengan alkohol.

Alkohol yang mengenai lukanya cukup membuatnya merintih kesakitan, demi mengalihkan perhatiannya, Sougo langsung bertanya, "Kau tidak sering menceritakan tentang keluargamu sendiri. Memangnya kakakmu itu orang yang seperti apa?"

Kagura terdiam dan menghentikan kegiatannya, lalu ia tertawa, "Hahaha," ia mengambil perban dan mulai melilitkan perban ke tangan Sougo yang terluka, "Kautahu ... Meski ia selalu tersenyum seperti itu, sebenarnya ia hanya menggunakan topengnya. Meski ia selalu tersenyum seperti itu, jauh di dalam hatinya sebenarnya ia selalu menangis. Sebenarnya ia tidak banyak berubah kautahu. Ia dari dulu memang pengidap sister complex yang cukup parah."

Sougo menatap gadis itu, iris birunya segera melembut ketika membicarakan tentang keluarganya, mendadak Kagura mengangkat kepalanya dan menyebabkan merah bertemu dengan biru. Jarinya segera menunjuk wajah pria di depannya, "Seperti kau, Sou-chan," ejeknya.

"Jangan samakan aku dengan kakak bodohmu, China."

.

Kamui pergi ke mana?

Kamui kembali ke istana Shogun untuk menemui sang Tuan Putri Soyo. Dengan telaten, adik perempuan Shigeshige itu mengobati luka kakak dari sahabatnya.

"Sepertinya polisi itu sangat menyukai Kagura ..."

"Ya ..."

"Sepertinya mereka adalah pasangan yang cocok ..."

"Mmm ..."

"Bahkan si Botak itu sudah memberikan restu ..."

"Sepertinya Okita-san pernah menceritakan itu."

"Aku masih tidak rela adikku yang imut dan polos itu jatuh ke tangan polisi sadis macam dia!"

"Tenanglah, Kamui-san, Okita-san pasti akan menjaga Kagura-chan baik-baik. Kau bisa tenang, hehe."

Kamui menghabiskan waktunya untuk mencurahkan seluruh isi hatinya ke gadis Tokugawa itu. Di dalam hatinya, ia benar-benar menangis.

Awas saja jika polisi itu mengapa-apakan adiknya yang tercinta ...

.

o.o.o.o.o.o.o

.

Balasan review anonim

Konata Izumi: Ini sudah ada pair lain wkwkwk~ Update-nya sudah lama sekali, LOL.

istri takasugi: Sa-salam balik Yaranaika? XDDD

Kyousuke Iori: Selamat berhasil memberi review! Yeeey~ Wah, makas banyak! Terima kasih sudah mau membaca dan berhasil meninggalkan jejak hehe.

I'm sadist too: Ululululululu /dzig. Yah, terlanjurnya seperti ini huhuhu, maaf ya. Sepertinya digabung sama yang kemarin Cuma jadi 2k, LOL. Thankies~

Salza Sonochiru: Hai, pas sekali anda beri review untuk yang sebelumnya dan saya update huehe. Wkwk, hanya menambah sensasi kok /jangan. Diusahakan? Wkwk.

.

A/N: Hai, semuanya. Kebetulan saya sedang penat dengan kuliah dan berusaha mengetik di waktu yang sangat sedikit ini. Jikalau ada banyak fic yang belum dibaca dan di-review, maafkanlaaaaah~ Silakan beri kritik dan saran, jangan malu-malu. Makasi sudah mau baca!

Have a nice weekend,

Shaun.