Title : Twilight (HunHan Remake)

Ditulis oleh : Stephenie Meyer

Re-write by ; Runnisa

Main Cast

Oh Sehun

Xi Luhan

Wu Yi Fan

And Other members too

GS!

8. PORT ANGELES

Jess mengemudi lebih cepat daripada Chen—maksudku daddy, jadi kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Sudah lama aku tidak kumpul-kumpul dan nongkrong dengan teman teman cewekku, hingga aliran estrogen membuatku bersemangat.

Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Seoul.

"Apa kau tak pernah berkencan atau apa?" Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko.

"Sungguh," aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami bila berdansa. "Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar."

"Kenapa?" tanya Jessica.

"Tidak ada yang mengajakku," jawabku jujur.

Ia tampak ragu. "Di sini orang-orang mengajakmu berkencan," ia mengingatkanku, "dan kau menolaknya."

Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun.

"Well, kecuali Tyler," ralat Angela.

"Maaf?" aku menahan napas. "Apa katamu?"

"Tyler bilang ke semua orang dia akan mengajakmu ke pesta prom," Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga.

"Dia bilang apa?" aku kedengaran seperti tersedak.

"Sudah kubilang itu tidak benar, kan," Angela bergumam kepada Jessica.

Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan.

"Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu," Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih. Dengan geram aku berkata,

"Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kecelakaan itu? Apakah dia akan berhenti berusaha membayar semuanya dan menganggapnya impas?"

"Mungkin," Jess nyengir. "Kalau memang itulah alasannya mengajakmu."

Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek di kamar pas, di depan cermin tiga arah, berusaha mengendalikan amarahku.

Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama Ibuku- Xiumin sewaktu masih di Seoul. Kurasa karena pilihan di sini lebih terbatas. Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macam-macam, aku hanya memerhatikan dan mengkritik.

Aku sedang tidak ingin belanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler. dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan.

"Angela?" ujarku ragu-ragu.

sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink—ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori tinggal aku dan Angela sendirian.

"Ya?" Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda.

Lalu aku mendadak takut. "Aku suka yang itu."

"Kurasa aku akan membelinya—meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini," ia melamun.

"Beli saja—sedang diskon kok," dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis.

Aku mencoba lagi. "Mmm, Angela..." Ia menatap penasaran.

"Apakah anak-anak... Cullen"—aku terus memandangi sepatu—"memang sering membolos sekolah?" Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja.

"Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah— bahkan ayah mereka juga. Mereka benar benar pencinta alam sejati," ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya.

Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela.

"Oh." Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya.

Kukatakan akan menemui mereka di restoran satu jam lagi—aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang—mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess.

Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata itu bukan toko buku yang kucari. Jendelanya penuh kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual.

Aku bahkan tidak masuk kedalam sana.

Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menunjuk arah utara, dan sepertinya bangunan-bangunan di sini kebanyakan gudang. Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak terlalu jauh dariku. Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka.

"Hei, kau!" panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel di atas Tshirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku.

"Halo," gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku.

"Hei, tunggu!" salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega.

Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong.

Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku.

Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Aku tidak membawa banyak uang, hanya selembar dua puluh dolar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri.

Aku mendengarkan langkah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat langkah ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Luhan, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang sekarang tinggal beberapa meter.

Aku sampai di sudut, tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. Aku setengah berbalik dengan siaga; aku harus bergegas berian menyeberangi gang sempit itu, kembali ke trotoar. Jalanannya berakhir di sudut berikut, di sana ada rambu stop. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku, memutuskan akan lari atau tidak.

Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang, dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. Aku yakin bakal tersandung dan jatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. Aku memberanikan diri menoleh sekilas, dan dengan lega melihat mereka kurang-lebih dua belas meter di belakangku.

Tapi kedua cowok itu sedang memandangiku. Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. Langkahku tetap stabil, dan kedua cowok di belakangku semakin jauh tertinggal. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. Aku melihat dua mobil yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju, dan aku menghela napas lega. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar jari jalanan sepi ini. Aku membelok dengan helaan napas lega.

Lalu menghentikan langkah. Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan, lampu jalan, mobil-mobil, dan lebih banyak pejalan kaki, tapi mereka terlalu jauh. Karena terhalang bangunan di sebelah barat, di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. Mereka menatapku sambil tersenyum puas, sementara aku berdiri membeku di trotoar. Aku pun tersadar, aku tidak sedang diikuti.

Aku dijebak.

Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang.

"Di situ kau rupanya!" Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. Dalam kegelapan yang menyelimuti, ia seolah-olah memandang ke belakangku.

Aku menghirup napas dalam-dalam, bersiap-siap berteriak. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak. Dengan cepat aku meloloskan tali tasku dari kepala, menggenggamnya, siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hari hari. dan berjalan pelan ke jalan.

"Jangan dekati aku." aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. Tapi aku benar tentang tenggorokkan yang kering-tak ada suara yang keluar.

"Jangan begitu, Manis," seru cowok itu, dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku.

Lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar, memaksanya melompat ke trotoar. Aku berlari ke tengah jalan—mobil ini akan berhenti, atau menabrakku.

Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik, lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku.

"Masuk," terdengar suara gusar memerintahku.

Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap, mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku – bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan – hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. Aku melompat masuk, membanting pintu hingga tertutup.

"Pakai sabuk pengamanmu," perintahnya, dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat erat.

Aku langsung mematuhinya

Tapi aku merasa sangat aman, dan sejenak aku sama sekali tak peduli ke mana tujuan kami. Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas, menunggu napasku kembali normal, hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku, terkejut mendengar betapa parau suaraku.

"Tidak," katanya kasar, nada suaranya marah.

Aku duduk diam, memerhatikan wajah Sehun sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan, sampai mobilnya tiba-tiba berhenti. Aku memandang berkeliling, tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan. Kami sudah meninggalkan kota.

"Luhan?" ujarnya, suaranya tegang tapi terkendali.

"Ya?" suaraku masih parau. Diam-diam aku berusaha berdeham.

"Kau baik-baik saja?" Ia masih tidak memandang ke arah ku tapi amarah tampak jelas di wajahnya.

"Ya," jawabku lembut.

"Tolong alihkan perhatianku," perintahnya.

"Maaf, apa katamu?" Ia menghela napas keras-keras.

"Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang," ia menjelaskan. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk.

"Mmm." Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh. "Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?"

Ia masih memejamkan mata dengan susah payah, tapi sudut bibirnya menegang.

"Kenapa?" Tanya Sehun

"Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom—entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo... Well, kau pasti ingat, dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya, berarti kedudukan kami seri, dan dia tidak perlu terus-menerus memperbaiki hubungan. Aku tidak memerlukan musuh, dan barangkali Lauren akan kembali bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. Meski begitu aku mungkin perlu menghancurkan mobil Sentra-nya. Kalau tidak punya kendaraan, berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom...," Ugh, itu kalimat yang panjang.

"Aku sudah dengar." Ia terdengar lebih tenang.

"Oh ya?' tanyaku tidak percaya, kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang. "Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah, dia juga tidak bisa pergi ke prom," gumamku, menjelaskan rencanaku.

Sehun menghela napas, akhirnya membuka mata.

"Lebih baik?"

"Tidak juga."

Aku menunggu, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menyandarkan kepala ke kursi, menatap langit-langit mobil.

Wajahnya kaku.

"Apa yang terjadi?" bisikku.

"Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku, Luhan." Ia juga berbisik, memandang ke luar jendela.

"Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu..." Ia tidak menyelesaikan kata-katanya, memalingkan wajah, beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi. "Setidaknya," lanjutnya, "itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri."

"Oh." Kata itu sepertinya tidak cukup, tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik. Kami duduk diam lagi. Aku melihat jam di dasbor. Sudah lewat 18.30.

"Jessica dan Angela pasti khawatir," gumamku. "Aku seharusnya menemui mereka."

Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa, berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan, mobilnya masih ngebut, dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di jalur boardwalk. Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya, tapi ia melakukannya dengan mudah.

Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia. Jess dan Angela tampak baru saja meninggalkan meja. berjalan waswas menjauhi kami.

"Bagaimana kau tahu di mana..." aku memulai, tapi lalu aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dari mobil.

"Apa yang kaulakukan?" tanyaku.

"Mengajakmu makan malam," katanya sedikit tersenyum, tapi sorot matanya tetap tajam. Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya. Kulepaskan sabuk pengamanku, kemudian bergegas keluar dari mobil. Ia menungguku di trotoar.

Ia berbicara mendahuluiku. "Pergilah, hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu 'teman temanmu' yang tadi itu lagi."

Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya.

"Jess! Angela!" seruku mengejar mereka, melambai ketika mereka menoleh. Mereka bergegas menghampiriku. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. Mereka ragu, enggan mendekat.

"Kau dari mana saja?" suara Jessica terdengar curiga.

"Aku tersesat," aku mengaku malu-malu. "Kemudian aku berpapasan dengan Sehun," kataku sambil menunjuknya.

"Boleh aku bergabung dengan kalian?" Sehun bertanya, suaranya lembut dan menggoda. Dari ekspresi mereka yang terkejut, aku tahu Sehun belum pernah bicara seperti itu pada mereka.

"Mmm... tentu saja," dengus Jessica.

"Mmm, sebenarnya, Luhan, kami sudah makan ketika menunggumu tadi—maaf," aku Angela.

"Tidak apa-apa—lagi pula aku tidak lapar." Aku mengangkat bahu.

"Kurasa kau harus makan sesuatu." Suara Sehun pelan, tapi bernada memerintah. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras,

"Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Luhan pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan." Sehun memberikan angelic smile nya pada Jess, oh sialan. Ia semakin tampan saja!

"Eehh, tidak masalah, kurasa..." Jessica menggigit bibir, berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. Aku mengedip padanya. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja.

"Oke." Angela mendahului Jessica.

"Sampai besok. Luhan... Sehun." Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil, yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street.

"Sejujurnya, aku tidak lapar," aku berkeras, mengamati wajahnya. Ekspresinya tak bisa ditebak.

"Kalau begitu, hibur aku." Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala. Jelas sekali ia tak ingin didebat. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah.

Restorannya tidak ramai—saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung. Kami disambut seorang cewek, dan aku memahami sorot matanya ketika ia menilai Sehun. Ia menyambutnya dengan kehangatan lebih daripada seharusnya. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku, dan rambutnya dicat pirang.

"Untuk dua orang?" suara Sehun terdengar menawan, entah disengaja atau tidak. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi, puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Sehun berdiri tidak terlalu dekat denganku.

Aku hendak duduk, tapi Sehun menggeleng.

"Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?" desaknya lembut. Aku tak yakin, tapi sepertinya Sehun menyelipkan tip ke tangan si cewek. Aku tak pernah melihat ada orang yang menolak tawaran meja kecuali di film-film lama.

"Tentu." Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan booth, semua kursinya kosong. "Bagaimana dengan yang ini?"

"Sempurna." Sehun memamerkan senyumnya yang memukau, membuat cewek itu sesaat terpana.

"Mmm"—ia menggeleng, matanya mengerjap—"pelayan kalian akan segera datang." Ia berlalu dengan langkah sempoyongan.

"Kau seharusnya tidak melakukan itu pada orang-orang," aku mengkritiknya. "Tidak adil."

"Melakukan apa?"

"Membuat mereka terpesona seperti itu—barangkali sekarang dia sedang sesak napas di dapur." Ia tampak bingung.

"Oh, ayolah," aku berkata ragu. "Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu."

Ia memiringkan kepala, sorot matanya penasaran. "Aku membuat orang terpesona?"

"Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?" Ia mengabaikan pertanyaanku.

"Apakah aku membuatmu terpesona?" Ekspresi Sehun terlihat penasaran

"Sering kali," aku mengakuinya. Pelayan datang, wajahnya penuh harap. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang, dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa

"Hai. Namaku Amber, dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini. Kalian mau minum apa?' Tentu saja aku menyadari ia hanya bertanya kepada Sehun.

Sehun memandangku.

"Aku mau Coke." Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya.

"Dua," kata Sehun

"Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian," ia meyakinkan Sehun sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat. Tapi Sehun tidak memandangnya. Ia sedang memerhatikanku.

"Kenapa?" tanyaku ketika si pelayan berlalu. Pandangannya terpaku di wajahku. "Bagaimana perasaanmu?"

"Aku baik-baik saja," jawabku, terkejut karena kesungguhan hatinya.

"Kau tidak merasa pusing, sakit, kedinginan...?"

"Apakah harusnya aku merasa seperti itu?" Ia tergelak mendengar kebingunganku.

"Well, sebenarnya aku menunggumu syok." Senyum lebar mengembang di wajahnya.

"Kupikir itu tidak bakal terjadi," kataku setelah bisa bernapas lagi. "Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal tidak menyenangkan."

"Sama, aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis."

Lalu si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja.

"Kau sudah mau memesan?" tanya si pelayan pada Sehun.

"Luhan?" tanya Sehun. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku. Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu.

"Mmm... aku mau mushroom ravioli."

"Kau?" ia berbalik lagi sambil tersenyum.

"Aku tidak pesan." kata Sehun. Tentu saja.

"Panggil aku kalau kau berubah pikiran." Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya, tapi Sehun tidak melihatnya, dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa.

"Minum," ia menyuruhku. Kusesap sodanya dengan paruh, lalu minum lagi lebih banyak. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. Aku

baru sadar telah menenggak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya ke arahku.

"Terima kasih," gumamku, masih haus. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku, membuatku gemetaran.

"Kau kedinginan?"

"Tidak, hanya Coke yang kuminum," aku menjelaskan, kembali gemetaran.

"Kau tidak punya jaket?" suaranya tidak puas dengan penjelasanku.

"Punya." Aku memandang kursi kosong di sebelahku.

"Oh—ketinggalan di mobil Jessica," aku tersadar. Sehun menanggalkan jaketnya. Tiba-tiba aku menyadari tak sekali pun aku pernah memerhatikan pakaian yang dikenakannya—bukan hanya malam ini, tapi sejak awal. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya.

Namun sekarang aku melihatnya, benar-benar memerhatikannya. Ia menanggalkan jaket kulit warna krem muda; di balik jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. Sweter itu amat pas di tubuhnya, memperjelas bentuk dadanya yang kekar. Ia memberikan jaketnya padaku, mengalihkan kerlingan mataku.

"Terima kasih," kataku lagi, sambil mengenakan jaketnya. Rasanya sejuk—seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari. Aku kembali gemetaran.

Aromanya menyenangkan. Aku menghirupnya, mencoba mengenali aroma seorang Oh Sehun

Lengannya kelewat panjang; aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan.

"Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu," katanya memerhatikan. Aku terkejut; lalu menunduk, wajahku memerah tentu saja.

Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku.

"Sungguh, aku tidak merasa syok," protesku.

"Kau seharusnya syok—seperti umumnya orang normal. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran." Ia tampak khawatir.

Ia menatap ke dalam mataku, dan aku melihat betapa matanya terang, lebih terang daripada yang pernah kulihat, cokelat keemasan.

"Aku merasa sangat aman denganmu," ujarku, begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi.

Perkataanku membuatnya tidak nyaman; alisnya yang berwarna pualam mengerut. Ia menggeleng, wajahnya cemberut.

Ia sangat lucu.

"Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan." gumamnya pada diri sendiri.

Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya, sambil menebak ekspresinya. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya.

"Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang." ujarku, mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung.

Ia menatapku, terkesima. "Apa?"

"Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam—tadi kupikir matamu berubah kelam," lanjutku. Aku punya teori tentang itu.

Matanya menyipit. "Teori lagi?"

"Mm-hm." Aku mengunyah sepotong kecil roti, berusaha terlihat cuek.

"Kuharap kau lebih kreatif kali ini... atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?" Senyumnya mengejek, namun tatapannya masih tegang.

"Well, tidak, aku tidak mendapatkannya dari komik, tapi aku juga tidak menduga-duganya sendiri," aku mengakui.

"Dan?" sambarnya.

Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh kami ke tengah, karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang. Ia menaruh makanan itu di depanku—sepertinya lumayan enak—dan langsung berbalik menghadap Sehun.

"Apakah kau berubah pikiran?" tanyanya. "Kau tak ingin kubawakan sesuatu?" Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya.

"Tidak, terima kasih, tapi kau boleh membawakan soda lagi." Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong.

"Tentu." Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu.

"Apa katamu tadi?" tanya Sehun

"Aku akan menceritakannya di mobil. Kalau..." aku berhenti.

"Ada syaratnya?" Ia mengangkat satu alisnya, suaranya terdengar waswas.

"Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan."

"Tidak masalah."

Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke. Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara, lalu pergi.

Aku menyesapnya.

"Well, ayo mulai," ia mendesakku, suaranya masih tegang.

Aku memulai dengan yang paling sederhana. Atau begitulah menurutku. "Kenapa kau berada di Port Angeles?"

Ia menunduk, perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. Meski menunduk, bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya, menandakan ia mengejekku.

"Berikutnya."

"Tapi itu yang paling mudah," ujarku keberatan.

"Berikutnya," ia mengulangi perkataannya.

Aku menunduk, kesal. Kuambil garpu dan dengan hatihati membelah ravioli-nya. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut, masih menunduk, mengunyah sambil berpikir. Jamurnya enak. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak.

"Oke, kalau begitu." Aku memandangnya marah, dan perlahan melanjutkan pertanyaan. "Katakan saja, secara hipotesis tentu saja, seseorang... bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, membaca pikiran, kau tahu—dengan beberapa pengecualian."

"Hanya satu pengecualian," ia meralatku, "secara hipotesis."

"Baik kalau begitu, dengan satu pengecualian" Aku senang ia bersedia meladeniku. tapi aku berusaha terlihat kasual "Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasanbatasannya? Bagaimana bisa... seseorang... menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bagaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?" Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti.

"Secara hipotetis?" tanyanya.

"Tentu saja."

"Well, kalau... seseorang itu..."

"Sebut saja dia Joe," aku mengusulkan.

Ia tersenyum ironis. "Ya sudah. Kalau Joe memerhatikan, pemilihan waktunya tak perlu setepat itu. Ia menggeleng, memutar bola matanya. "Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. Kau bisa membuat angka tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade, kau tahu itu."

"Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis," aku mengingatkannya dengan nada dingin. tertawa, matanya hangat.

"Betul juga," sahurnya menyetujui. "Bisakah kita memanggilmu Jane?"

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku, tak mampu membendung rasa penasaranku. Aku menyadar telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi.

Sepertinya ia bergidik, disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya. Kami bertatapan, dan kurasa ia sedang membuat keputusan, mengatakan yang sejujurnya atau tidak.

"Kau tahu, kau bisa memercayaiku," gumamku. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat, tapi ia langsung menariknya, begitu juga aku.

"Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan." Suaranya nyaris seperti bisikan. "Aku salah – kau lebih teliti daripada yang kukira."

"Kupikir kau selalu benar."

"Biasanya begitu." Ia kembali menggeleng. "Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan—penggolongan itu tidak cukup luas. Kau daya tarik terhadap masalah. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil, masalah itu selalu bisa menemukanmu."

"Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?" tebakku. Raut wajahnya berubah dingin, tanpa ekspresi. "Tak salah lagi."

Kuulurkan tanganku sekali lagi—mengabaikan ketika ia mencoba menariknya—dan dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya. Kulitnya dingin dan keras, seperti batu.

"Terima kasih." Suaraku benar-benar tulus. "Sudah dua kali kau menyelamatkanku."

Ketegangan di wajahnya mencair. "Jangan ada yang ketiga kali, oke?"

Aku cemberut, tapi mengangguk. Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja. Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Aku membuntutimu ke Port Angeles," akunya terburuburu.

"Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya, dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hati tanpa mengalami begitu banyak bencana." Ia berhenti. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku: tapi sebaliknya aku malah senang. Ia menatapku, barangkali bertanya-tanya mengapa aku tibatiba tersenyum.

"Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama, pada insiden van itu, dan kau malah mencampurinya?" tanyaku berspekulasi, mengalihkan kecurigaanku.

"Itu bukan yang pertama," katanya, suaranya sulit didengar. Aku menatapnya terpana, tapi ia menundukkan kepala. "Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu." Aku merasakan sekelumit perasaan ngeri mendengar kata-katanya, ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu... tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku, tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya.

"Kau ingat?" tanyanya, wajahnya yang tampan berubah serius.

"Ya," sahutku tenang.

"Tapi toh sekarang kau duduk di sini." Ada secercah keraguan dalam suaranya, salah satu alisnya terangkat.

"Ya, di sinilah aku duduk... berkat dirimu." Aku terdiam sebentar. "Karena entah bagaimana kau tahu bagaimana menemukanku hari ini...?" semburku.

Ia mengatupkan bibirnya erat-erat, matanya yang menyipit menatapku, kembali menimbang-nimbang. Ia memandangi piringku yang masih penuh, lalu menatapku lagi.

"Kau makan, aku bicara," usulnya. Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya.

"Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya. Biasanya, setelah pernah mendengar pikiran seseorang, aku bisa dengan mudah menemukannya." Ia menatapku

waswas, dan aku menyadari tubuhku mematung. Kupaksa menelan makananku, lalu menusuk ravioli nya lagi dan menyuapnya.

"Secara tidak hati-hati aku mengikuti Jessica—seperti kataku, hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles – dan awalnya aku tidak memerhatikan ketika kau pergi sendirian. Lalu, ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi, aku pergi mencarimu di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Aku tahu kau tidak masuk ke sana, dan kau pergi ke arah selatan... dan aku tahu kau toh harus kembali. Jadi, aku hanya menunggumu, sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan—melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu d mana kau berada. Aku tak punya alasan untuk khawatir... tapi anehnya aku toh khawatir juga." Ia melamun, tatapannya menembusku, melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan.

"Aku mulai bermobil berputar-putar, masih sambil... mendengarkan. Matahari akhirnya terbenam, dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Dan lalu—" la berhenti, menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Lalu apa?" bisikku. Pandangannya tetap menerawang.

"Aku mendengar apa yang mereka pikirkan," geramnya, bibir atasnya menyelip masuk di antara giginya. "Aku melihat wajahmu dalam pikirannya." Tiba-tiba Sehun mencondongkan tubuh, satu siku bertengger di meja,

tangan menutupi mata. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung.

"Sulit... sekali—kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya—hanya pergi menyelamatkanmu, dan membiarkan mereka... tetap hidup." Suaranya tidak jelas, tertutup lengannya.

"Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian, aku akan pergi mencari mereka," ia mengakui dalam bisikan. Aku duduk diam. kepalaku pening, pikiranku campur aduk. Tanganku terlipat di pangkuan, dan aku bersandar
lemah di kursi. Tangannya masih menutupi wajah, dan ia masih tak bergerak, bagai patung batu.
Akhirnya ia mendongak, matanya mencari-cari mataku, penuh dengan pertanyaannya sendiri.

"Kau sudah siap pulang?" tanyanya.

"Ya, aku siap," aku mengiyakan, amat sangat bersyukur dapat pulang bersamanya. Aku belum siap berpisah dengannya.

Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. Atau memerhatikan.

"Jadi bagaimana?" ia bertanya kepada Sehun.

"Kami mau bayar, terima kasih." Suaranya tenang, agak serak, masih tegang oleh obrolan tadi Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. Sehun mendongak, menunggu.

"T-tentu," ujar pelayan itu terbata-bata. "Ini dia." Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Sehun.

Ternyata Sehun sudah menyiapkan uangnya. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan.

"Simpan saja kembaliannya." Sehun tersenyum, lalu bangkit. Aku ikut berdiri dengan susah payah. Ia tersenyum menggoda lagi kepada Sehun. "Semoga malammu menyenangkan."

Sehun tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima padanya. Aku menyembunyikan senyumku. Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu, masih berhatihati agar tidak menyentuhku. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Woohyun, bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. Aku menghela napas.

Sehun sepertinya mendengar, dan ia menunduk penasaran. Aku memandang trotoar, bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan. Ia membukakan pintu untukku dan menunggu sampai aku masuk, lalu menutupnya dengan lembut. Aku memerhatikannya memutar ke depan, masih mengagumi keanggunannya. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang—tapi nyatanya belum. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Sehun.

Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. Udara dingin sekali, dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya, menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat.

Sehun mengeluarkan mobilnya dari parkiran, sepertinya tanpa melirik, berputar menuju jalan tol.

"Sekarang," katanya, "giliranmu."[]

Hi! Hoho im back ;3 /gandeng sehun

Jadi, ini chapy yang menyenangkan atau membosankan? Huh.

Tolong review nya teman-teman ;3

SasmithaArtha : Baca terus yaa hoho

Meilisa oh : hoho sip^^

KiWay91SL : Dr cullen disini diganti jadi Lay hoho. Thankseuu udh sempetin review^^

Taijongin : calon istrinya D.O kan emg harus ramah/? .gg haha^^ thankseuuu uy;3

Oh Juna93 : iya sih ya wkwk, karena dia item eksotis cem jacob/? Tp kan kai udh punya Kyungsoo jd gaboleh .gg haha

hunhandeep : Bakalan banyak hunhan moment hbs ini^^

luhannieka : ini kayaknya bakalan sama kayak yg novelnya, aku Cuma ubah beberapa doang kkk~ iya nih hunhan x kriseuu;33 reviewnya panjanggg /kasih hadiah. Makasi udh review whoho^^

selukr : iyaa^^ hehe

fangirl lu han : iya Luhan phobia darah huhu;33