Akatsuki no Yona

Chapter 9.1 – Sacrifice of Love


.

Di tengah perjalanan menuju Fuuga, tak disangka mereka malah bertemu dengan rombongan dari kerajaan Xing yang terdiri dari Kou Ren dan Tao yang dikawal prajurit Lima Bintang (kecuali Mizali yang sengaja ditinggal karena diperkirakan hanya akan membuat keributan oleh Neguro dan Yotaka).

"putri Yona?!" panggil Tao yang berlari menghampirinya "syukurlah kalian baik-baik saja".

"putri Tao? kenapa kalian ada disini?".

"tak perlu waspada begitu, maksud kedatangan kami ke kerajaan Kouka adalah mengunjungi Fuuga, ibukota wilayah suku angin sebelum kami pergi berkunjung ke kastil Hiryuu" ujar Kou Ren yang terlihat sekali kalau ia sedang bad mood.

Ketika Yona dan yang lain menanyakan apa yang terjadi, Tao menceritakan apa yang terjadi.

.


Flashback...


Soo Won memberikan tiga pilihan.

Pertama, tetap biarkan perang berkobar sesuai keinginan Kou Ren.

Kedua, jadikan kerajaan Xing sebagai kerajaan jajahan milik kerajaan Kouka seperti kerajaan Sei.

Ketiga, tandatangani perjanjian damai dan kerja sama di atas kertas untuk membentuk aliansi di antara kedua kerajaan.

"tentu saja kami pilih yang ketiga" ujar Aina dan Tao bersamaan.

"sama dengan adik-adikku, aku juga memilih pilihan yang ketiga, tapi..." ujar Kou Ren melipat tangan dan mendelik pada Soo Won "apa jaminannya kalau kau takkan mengingkari perjanjian kerja sama ini lebih dahulu?".

"izinkan aku mengambil putri Aina sebagai permaisuriku... ini jaminannya..." ujar Soo Won memegang tangan dan mencium punggung tangan Aina.

"...eh?" ujar para hadirin yang mulut dan matanya berbentuk bulat.

"...APA?!" pekik Kou Ren, Neguro dan Yotaka yang mulutnya berbentuk wajik.

"...bisa berikan alasan yang tepat atas permintaanmu barusan?" tanya Aina.

"aku tak akan meminta wanita yang tidak kompeten sebagai ratu untuk menjadi permaisuriku, putri Aina... aku sadar kalau kau tak hanya cantik, cerdas, berani dan kuat, tapi kau juga peduli pada warga kedua kerajaan ini terlepas dari fakta bahwa kau cucu kandung Son Mundok juga putri kerajaan Xing... yang kubutuhkan sebagai permaisuriku adalah wanita sepertimu, karena itu aku ingin kau menjadi permaisuri kerajaan Kouka" ujar Soo Won mengulurkan tangannya.

Aina menghela napas dan meraih tangan Soo Won "...baiklah".


Flashback End...


.

"begitulah ceritanya..." ujar Tao menundukkan kepala.

"perang berhasil dihindarkan, tapi sebagai gantinya salah satu tuan putri harus menikah dengan raja Kouka dan tuan putri Aina yang dipilih olehnya..." gumam Algira.

"setelah itu, putri Aina dibawa oleh tetua Mundok karena putri Aina yang memintanya..." ujar Vold.

"karena perjanjian kerja sama akan ditanda tangani bersamaan dengan hari pernikahan putri Aina dan raja Kouka, kami membawa serta rombongan kami ke Fuuga sebelum pelaksanaan pernikahan yang rencananya akan dilangsungkan minggu depan" ujar Neguro.

"itu namanya Aina dijadikan sandera olehnya, bukannya jaminan" gerutu Kou Ren.

"dan seperti yang terlihat, setelah itu kak Kou Ren jadi uring-uringan sampai sekarang..." ujar Tao menunjuk Kou Ren dengan tangan kanan menengadah ke atas.

"wajar saja, kan? dia putra kandung Yu Hon!? sama-sama diktator yang tak punya perasaan!?".

"tapi Soo Won kan laki-laki juga... menurut Algira dan Vold, bukankah Soo Won awalnya tak bersedia bicara baik-baik, kenapa tahu-tahu dia bersedia? Bagaimana jika Aina menemuinya dan...".

"adikku yang naif, aku tak percaya kalau ia bisa punya perasaan yang tulus pada wanita, aku tak tahu pendapatmu tapi bagiku ucapannya justru lebih terdengar seperti menilai barang?! jika wanita selembut Aina harus mendampinginya sebagai istrinya, dia bisa mati dengan cepat dan kalaupun berumur panjang, Aina hanya akan menderita di sampingnya karena tipe pria macam dia itu musuh semua wanita namanya!? sebelum itu terjadi, akan kuseret dia kembali ke Xing!? aku sama sekali tak habis pikir, kenapa Aina bersedia menikah dengan laki-laki macam itu?!".

"sejak ia genap berusia 16 tahun, meski Aina hanya putri bungsu, tapi dengan kecantikan dan sikapnya yang baik dan lembut, wajar jika banyak laki-laki yang tertarik padanya... Aina selalu didekati beberapa laki-laki dan ayah kami juga sudah beberapa kali mencoba menjodohkan Aina dengan beberapa pria yang baik, tapi dia tak pernah mau menerima semua laki-laki yang mendekatinya... Aina memang pernah bilang bahwa sudah ada laki-laki yang dia cintai, tapi siapa orangnya dan darimana asalnya, kami pun tak tahu karena dia tak pernah mau cerita" ujar Tao sambil menenangkan Kou Ren.

"jangan bilang Soo Won orangnya? Makanya dia tak pernah mau cerita?" gerutu Kou Ren.

"tunggu tunggu tunggu tunggu... siapa sebenarnya wanita bernama Aina itu?" tanya Yona.

"beliau putri ketiga kerajaan Xing, usianya setahun di bawah putri Tao" ujar Vold.

"tepatnya sepupuku karena ibu Aina dan ibu kami bersaudara, ibu Aina adalah kakak ibu kami" tambah Tao yang menceritakan identitas Aina. Tentu saja mereka semua terkejut saat tahu Aina adalah cucu kandung Son Mundok sekaligus putri semata wayang dari mendiang putri Maya.

"jika mengikuti garis darah, seharusnya Aina yang lebih berhak menjadi ratu kerajaan Xing... dan jika Aina serius, dia bisa saja mengambil tahta kerajaan Xing tapi kami tahu, dia bukan anak seperti itu, tahta tak ada apa-apa baginya... ayah kami pun melihat itu, karena itulah ayah memberikan kebebasan pada Aina untuk melakukan apapun yang ia mau, dan kenapa sekarang dia malah turun tangan?" ujar Kou Ren.

Suasana hening sesaat, sehingga Yona memecah keheningan "kebetulan, kami juga ingin pergi ke Fuuga, bagaimana jika kami ikut mengantar kalian pergi kesana?".

Yun, Lily, Tetora, Ayura dan ke-4 ksatria naga melirik Yona dan Hak yang diam seribu bahasa sejak Tao menceritakan perjanjian kerja sama yang terjalin antara kedua kerajaan. Mereka (Yun dan ke-4 ksatria naga) mengira kalau Yona shock akibat berita pernikahan Soo Won. Lily yang tahu pada siapa hati Yona tertambat sekarang, merasa khawatir melihat Yona dan Hak yang sama-sama diam. Tanpa diketahui mereka bahwa apa yang dipikirkan oleh Yona dan Hak adalah soal lain.


.

~ Fuuga ~

.

Hak mengantar mereka semua ke mansion klan suku angin yang menjadi kediaman Mundok. Saat ingin memasuki mansion klan suku angin, terlihat kedua bawahan Aina, Agni dan Yuria bercengkrama dengan Han Dae dan Tae Yeon. Tae Yeon langsung memeluk Hak karena dia sangat merindukan Hak. Han Dae sengaja mengungsikan Tae Yeon keluar rumah karena tak ingin Tae Yeon mendengar pertengkaran orang dewasa dan kedua bawahan Aina, Agni dan Yuria sengaja keluar bersama Han Dae dan Tae Yeon karena diperintah oleh Aina. Karena Tae Yeon meminta Hak membantu Aina (yang dikenal sebagai adik perempuan Hak dan kakak perempuan Tae Yeon di suku angin) sambil menarik baju Hak, Hak meminta Tae Yeon untuk mengantar mereka ke ruangan dimana Aina, Tae Woo dan Mundok tengah bicara. Sementara Tae Yeon menyiapkan teh bersama bibi Ann, rombongan Yona dkk dan Kou Ren dkk diam di sebelah ruangan tempat ketiga orang itu bicara.

"Hak, karena sama-sama cucu tetua Mundok, kau kenal baik dengan Aina, kan?" tanya Kija.

"yah..." ujar Hak mengerutkan kening.

Yona merasa heran saat melihat reaksi Hak, namun ia berusaha tak menghiraukannya.

Sementara itu, di kamar sebelah terdengar dengan sangat jelas suara percakapan mereka bertiga (atau lebih tepatnya pertengkaran) sementara mereka melihat apa yang terjadi di sebelah lewat celah pintu geser. Terlihat Aina mengepang sebagian rambut lurusnya yang berwarna merah keunguan itu dari bahu ke bawah sementara dari bahu ke atas ia biarkan.

Aina menghampiri Tae Woo yang duduk membelakanginya dan mengelus kepala Tae Woo sambil memegang bahu Tae Woo "Tae Woo, dewasalah... kenapa tak kau ambil hal positifnya? Bukankah ini bagus untuk suku kita?".

"aku mengerti... anda hanya ingin menyelamatkan suku angin dan kerajaan Xing tapi apa harus dilakukan dengan cara seperti ini? Menjadi permaisuri kerajaan ini dan menjadikan diri anda sendiri sebagai alat politik dengan melakukan pernikahan politik?" ujar Tae Woo menoleh ke arah Aina, sikapnya yang terlihat jelas kalau ia sangat menentang keputusan Aina membuatnya terlihat seperti seorang adik yang marah karena akan ditinggal kakaknya.

Aina tersenyum, begitu lembut hingga terasa menyesakkan "aku tahu ini pemikiran yang naif, tapi kau tahu, kan? sama sepertinya, hanya disinilah tempat yang bisa kami sebut rumah... di Fuuga inilah tempat keluarga yang telah membesarkan kami berdua yang sebatang kara setelah kami berdua kehilangan semuanya malam itu... bedanya, tuan arogan itu tak jujur pada kalian... kenapa kau jadi begitu keras kepala? Ketularan dia, ya?".

Tae Woo terdiam, menundukkan kepala di depan Aina "sebelum tuan Hak pergi meninggalkan Fuuga untuk menjadi pengawal tuan putri Yona, tuan Hak berkata...".

"Tae Woo, sebagai laki-laki terkuat kedua di suku angin, tolong jaga Aina sebagai gantiku yang tak bisa melakukannya...".

"bukan hanya karena janjiku pada tuan Hak yang memintaku menjaga anda, sama seperti tuan Hak, bagiku nona Aina juga kakakku, karena itu..." ujar Tae Woo menatap Aina, sehingga Aina memeluknya erat karena gemas melihat Tae Woo yang terlihat begitu manis di matanya "oh, Tae Woo~".

"sesak!?" ronta Tae Woo yang kepalanya terbenam di pelukan Aina.

"padahal aku selalu berusaha keras menjagamu... sebenarnya apa yang salah dengan didikanku sampai-sampai kedua cucuku ini meninggalkanku dan pergi jauh dariku? yang pertama Hak... dan sekarang kau" ujar Mundok menghela napas sambil menempelkan kepalanya ke tembok.

Aina tersenyum, memeluk Mundok dari belakang setelah menepuk punggung Mundok "kakek, kaulah yang terbaik... sejak kedua orang tua kandungku meninggal, kau menggantikan peran orang tuaku, bukan hanya sebagai kakekku... aku sangat menyayangimu dan aku tak ingin kau terbebani lebih jauh, sudah banyak beban yang harus kau tanggung... karena itu biarkan aku melakukan apa yang bisa kulakukan untuk meringankan beban yang kalian tanggung di pundak kalian... jika ada yang berani berkata kalau kau menggunakanku sebagai alat politik, beritahu aku agar aku bisa menghajarnya".

"apa aku terlihat seperti sedang mencemaskan hal itu? bukan hal itu yang kucemaskan!?" ujar Mundok menyentil dahi Aina dan memegang kedua bahu Aina "Aina... pikirkanlah baik-baik sebelum kau bertindak, memang benar ini hidupmu sendiri, kaulah yang berhak memutuskan apa yang ingin kau lakukan... tapi aku ingin kau ingat, keputusan apapun yang kau ambil jika berdasarkan emosi sesaat, hasilnya takkan baik... kau sudah harus menanggung banyak derita di usia semuda ini dan kakek hanya tak ingin kau menderita lebih dari ini...".

Aina tak langsung menjawab, hingga akhirnya ia hanya bisa tersenyum "perasaanku sendiri tak lagi penting, kakek... bagiku takkan ada penderitaan yang lebih menyakitkan dibandingkan saat aku harus kehilangan orang yang kusayangi, tak ada kesedihan yang lebih besar dibandingkan saat aku tahu kalau kami tak mungkin bisa bersama lagi... jadi tenang saja, karena aku takkan menderita lebih dari ini...".