.
Trouble Maker
Naruto © Masasshi kisimoto
High School DxD © Ichie Ishibumi
WARNING : AU, OOC, OC, Typo (yang selalu ngikut), Semi-Canon, dan sebagainya.
Pair : [ Naruto Uzumaki X Sona Sitri ]
-o0{[ Kembali ]}0o—
.
Chapter 9
.
Deru langkah kaki terdengar dengan sangat jelas di sepanjang koridor Kuoh akademi. Bukan hanya satu orang melainkan dari dua orang perempuan serta satu orang laki-laki. Namun tidak ada yang berani menegur mereka, padahal jelas-jelas jika berlari di koridor itu dilarang. Itu karena yang berlari adalah orang-orang dari osis yang sedang melakukan patroli anak yang membolos. Setidaknya itulah yang mereka pikirkan.
Jadi beberapa siswa yang hendak menegur mereka langsung bungkam saat melihat siapa yang berlarian di koridor itu.
Sona tidak perduli jika yang dia lakukan itu melanggar peraturan, pasalnya perasaannya mulai tidak enak beberapa saat yang lalu. Dan kini dia malah merasakan aura suci yang sangat mengganggu berasal dari bangunan gedung lama Kuoh akademi atau lebih tepatnya di ruang klub milik Rias. Dan yang pasti itu bukanlah hal yang bagus.
Sona terhenti saat melihat bahwa ada seseorang yang tengah berdiri bersandar di depan pintu ruang klub sembari melipat tangannya di dada.
"Kau..."
.
-o0o-
.
"Kami tidak tahu apakah gerangan sehingga utusan gereja seperti kalian mau menemui kami yang jelas-jelas berasal dari bangsa iblis ini, tapi jika kau membutuhkan seseuatu, kami sebagai penguasa daerah ini akan bersedia membantumu," ucap Rias pada dua orang perempuan berpakaian putih itu.
Dan seperti yang Rias katakan tadi, mereka berdua adalah utusan dari gereja yang tengah menyelidiki kasus hilangnya pedang suci Excalibur dari tangan gereja.
"Sebelumnya perkenalkan aku Xenovia dan..."
"Shido Irina dessu!" Sahut perempuan berambut coklat twintail itu dengan ringan.
"Meskipun kalian tidak ada sangkut pautnya atas hal ini, tapi kami hanya ingin mencari ketiga pecahan pedang Excalibur yang dicuri oleh malaikat jatuh, dan sepertinya mereka bersembunyi di daerahmu ini," ucap salah seorang perempuan gereja yang memiliki rambut coklat twintail itu dengan tatapan tajam yang ia tunjukan pada Rias selaku ketua sekaligus penguasa daerah di sana.
"Dicuri, kenapa?" Kaget Issei.
"Aku sendiri juga masih tidak tahu, tapi yang kami miliki saat ini hanya Excalibur Destruction, serta.." ucapan perempuan berambut biru itu berhenti dan menengok pada rekannya yang duduk tepat di sampingnya. "Excalibur Mimic," ujar temannya sembari menunjukan sebuah tali yang mengikat lengannya dengan sebuah senyum cerah di wajahnya.
"Lalu apa yang kalian inginkan dari kami?" tanya Rias.
"Karena ini merupakan masalah antara gereja dengan malaikat jatuh, jadi kami harap kau tidak akan menghalangi kami dalam masalah ini," ujar sang perempuan berambut biru itu pada Rias.
"Maaf saja. tapi apa kalian berpikir jika kami bersekutu dengan malaikat jatuh menyangkut masalah pedang suci ini?" balas Rias dengan tatapan tak kalah tajam. "Bukannya iblis sendiri membenci dengan adanya pedang suci itu?"
"Itu menandakan jika peikiran kalian sejalan dengan malaikat jatuh, bukan." Lanjutnya dengan sebuah senyum miring di wajahnya. Mendengar hal itu membuat pergelangan Rias gemertak, matanya menyala merah yang sangat kontras dengan ranbutnya.
"Dan jika kau ikut campur, kami tidak akan segan untuk menghancurkanmu,"
"Maaf saja, tapi aku tidak akan pernah sudi bekerja sama dengan malaikat koktor seperti mereka, jadi kau tenang saja." ucap Rias dengan tenang meskipun warna merah di matanya masih belum memudar.
"Senang mendengarnya, kalau begitu-" ucapannya terhenti saat dia menyadari seseorang yang dia rasa tidak asing lagi untuknya. Dia menatap lurus pada sosok Asia yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu hal dengan seorang pemuda yang dia tahu adalah Hyoudo Issei.
Dia maju kedepan hingga berdiri tepat di depan Asia. Asia sendiri menjadi gugup karena di tatap begitu tajam oleh perempuan berambut biru itu.
"Kau... Asia Argento, bukan?"
"I-iya,"
Perempuan itu tersenyum miring saat mendengar itu. "Siapa sangaka jika aku akan bertemu lagi dengan sang penyihir," ujarnya dengan sebuah tawa hambar. Mendengar kata penyihir membuat mata Asia melebar, dan badannya bergetar takut.
"Oya... siapa sangka aku dapat bertemu dengan gadis suci seperti u di tempat seperti ini, dan yang lebih mengejutkan lagi kau sekarang..." Irina sengaja menggantungkan ucapannya sejenak.
"..Iblis"
"A-ano.. s-sebenarnya.. a-aku.." Asia terlihat sangat ketakutan, bahkan Issei yang berdiri di sampingnya melihat dengan jelas jika tubuh temannya itu bergetar dengan hebat. "Apa kau masih percaya dengan yang namanya tuhan?"
Asia membeku saat mendengar pertayaan Xenovia, dia bingung dia ragu ingin menjawab apa. Di satu sisi dia memang masih mempercayainya namun di sisi lain dia senang dengan kehidupannya yang sekarang. Mungkin jika dia tidak di bangkitkan menjadi iblis, dia tidak akan pernah dapat bertemu lagi dengan kakanya yang paling dia sayangi. Serta orang-orang baik yang ssekarang ini menjadi keluarga barunya.
"Oi..oi.. Xenovia-chan, dia itu iblis loh,"
"M-meskipun aku menjadi iblis, aku tidak dapat membuang imanku begitu saja," ujar Asia dengan air mata berlinang. Mendengar hal itu membuat sebuah senyum misterius tersungging di bibir Xenovia. Dia mengambil pedang yang masih tegulung kain dari punggungnya. "Kalau begitu ijinkan aku membunuhmu sekarang,"
Semua orang di sana langsung terkejut mendengar pernyataan Xenovia barusan, terutama Issei yang langsung terdiam seribu bahasa.
"Apapun dosa yang telah kau perbuat, tuhan akan selalu mengampuninya," ujar Xenovia dengan tenang namun, tidak ada hal yang baik dari ucapannya itu. "Jadi aku sendiri yang akan menghukummu... atas nama tuhan,"
"JANGAN BERCANDA!"
"Issei?"
"Aku tidak akan membiarkannya apapun yang terjadi, karena selama Naruto tidak ada, akulah yang akan menjaga Asia untuknya, dan itulah janjiku pada Naruto,"
"Naruto?" semuanya bertanya-tanya tentang hal itu, berbeda dengan Xenovia dan Irina yang bertanya-tanya siapa itu Naruto. Seluruh iblis di ruangan itu beserta Asia binung kapan Issei berjanji seperti itu pada sosok yang tempo hari menggemparkan sekolah karena terlibat penangkapan teroris yang membajak pesawat.
"Kalian pikir apa artinya seluruh pukulan yang dia lepaskan padaku waktu itu. Sebuah luapan emosi, atau bahkan kegilaannya dalam bertarung? Namun semua itu salah.." Issei mendongak dan berjalan tepat diantara Asia dan Xenovia dia melemparkan tatapan tajam penuh dengan aura membunuh ke arah Xenovia.
"Dalam setiap pukulannya, Naruto seolah mengatakan, jika aku tidak ada, jagalah Asia untuku," Asia menutup mulutnya saat mendengar penuturan dari Issei. Dia tidak menyangka jika kakaknya akan mengatakan hal itu pada pemuda itu. Meskipun tidak secara langsung namun memiliki makna yang sama.
Xenovia terlihat hendak mengangkat pedangnya sedangkan Issei kini telah berdiri dengan gaunlet yang sudah muncul di tangan kirinya.
Brakk!
Semua pasang mata langsung mengarah pada pintu yang terbuka dengan sangat kasar. Di sana terlihat tiga sosok yang di kenal sebagai pengurus dewan kesiswaan atau biasa di sebut OSIS.
"Bagaimana kalau kita selesaikan ini dalam sebuah pertarungan, karena aku tidak ingin bangunan di daerahku hancur oleh perkelahian kalian," ujar sosok perempuan berkacamata yang tidak lain adalah Sona bersama dua peeragenya.
"Kurasa itu ide yang bagus," kata Rias.
"Kau juga setuju kan, yuuto Kiba-kun," semua orang terkaget dengan ucapan dari sosok yang mereka kenal sebagai ketua osis itu. Di belakang angota osis itu muncul sosok Kiba yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu.
"Kiba? Dari mana saja kau," tanya Issei.
"Itu tidak penting, ayo kita cepat-cepat mulai pertarungannya, karena aku punya rusan tersendiri dengan benda yang kalian pegang itu,"
"Tidak masalah, jika itu maumu,"
.
-o0o-
.
"Ossan, arigatou ne atas tumpangannya," ujar Naruto pada supir truk besar yang memberi dia tumpangan hingga ke Kuoh. Dan tentunya secara gratis. "Tidak masalah. Semangat masa mudamu itu mengingatkan aku pada diriku yang dulu, bocah," ujarnya dengan air mata berlinang. Sepertinya dia sedang mengingat masa dimana dia masih muda. Namun Naruto sangsi jika paman itu pernah muda dulunya.
Dia menengok ke sekolah yang berdiri tepat di depannya. Gerbang tertutup rapat pertanda jika jam pelajaran masih berlangsung. Dan Naruto tidak punya pilihan lain selain lewat jalan rahAsianya, pintu belakang dekat ruang klub dari senpai tomat itu.
"Are... kekkai?" Alis Naruto terangkat sebelah saat menyadari ada yang aneh pada jalan di depannya. Perasaan jalan masuknya ada tepat di depannya sedangkan kini yang terlihat adalah sebuah tembok beton yang terlihat sedikit beriak seperti air.
Dan Naruto tahu jika itu adalah kekkai, sebuah penghalang magis yang membuat orang tidak dapat melihat apa yang ada di baliknya, namun Naruto mengerti akan hal itu, dia sangat paham. Pasalnya seluruh keluarganya dapat menggunakan itu, sekali lagi kecuali dirinya.
Tapi bukan berarti Naruto tidak tahu jika sebuah kekkai terpasang, Naruto dapat melihatnya meskipun samar. Dan yang paling mudah bagi Naruto adalah...
"Pegang.." Naruto berkata dengan tampang polos sembari menyentuhkan tangan kanannya pada kekkai itu, dan alhasil..
Prankkk!
Hancur. Kekkai itu hancur bak kaca yang pecah, dan itu semua di tanggapi Naruto dengan sebuah senyum kecil. Dia merasa jika kekuatannya itu tidaklah terlalu buruk, bahkan berguna di dalam keadaan semacam ini.
Di sana dia langsung di hadapkan dengan beberapa pasang mata yang menatapnya tidak percaya. Naruto tahu jika dia itu memang keren, tapi di tatap seperti itu entah kenapa membuatnya sangat risih. Oke yang itu tadi tidak usah di bahas...
"Naruto? Apa yang kau lakukan di sini? Dan apa-apaan pakaianmu itu," ujar Sona yang kaget dengan kedatangan Naruto yang tiba-tiba sembari menatap penampilan Naruto dari ujung rambut hingga ujung kaki yang dapat di jelaskan dengan satu kata yaitu Gembel. Dengan kemeja putih yang robek di sana-sini serta memamerkan tubuh bagian atasnya, celananya juga tidak bernasip jauh berbeda, yang awalnya adalah celana panjang berwarna hitam, kini yang terlihat adalah celana pendek 3/4 saja.
"Oh ini, ini hanya karena ada sekelompok hiu putih yang mengepungku saat berenang ke daratan kemarin," ujar Naruto yang membuat beberapa orang di sana sweatdrop. Kenapa pemuda itu harus berenang segala. Bukannya dia seharusnya belum kembali dari amerika.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
"Ah.. itu.." Sona tidak tahu harus bilang apa, atas kejadian ini berada di luar kendalinya, dia tidak tahu jika Naruto sudah kembali secepat itu.
"Mereka berdua ingin membunuh Asia,"
Sorot mata Naruto berubah seketika saat mendengar ucapan dari Issei yang tengah terduduk dengan beberapa luka di tubuhnya, dia melihat dua orang yang memaai baju hitam yang menurutnya tidak pantas untuk di tunjukan itu dengan tatapan datar, tanpa ekspresi.
Naruto telah kembali kesifat yang sebelumnya, sifat sebelum Asia kembali. Sifat dingin, cuek, serta gila bertarung. Dan itu bukanlah suatu kabar baik bagi Sona yang telah bersusah payah merubah kepribadian buruk Naruto.
"Hoho.. jadi siapa lagi ini, apa kau juga iblis?" tanya Xenovia, namun sayang dia tidak mendapatkan jawaban sama sekali, yang dia dapat hanya ekspresi datar dengan aksen bosan yang tampil di wajah Naruto. Dia berjalan pelan kedepan, tanpa suara, tanpa ekspresi.
"Kenapa kau ingin membunuhnya?"
Pertanyaan itu keluar bagaikan angin berhembus, tenang namun terasa dingin yang menusuk kulit. Xenovia tidak tahu apa yang dia rasakan kini, tapi dia merasa sesuatu yang aneh pada pemuda pirang di depannya. Seluruh nyali yang dia miliki sesaat yang lalu langsung lenyap tak bersisa.
"I-itu sudah menjadi tugasku sebagai utusan dari gereja," meskipun dia berusaha tenang, namun tenyata dia masih tergagap saat mengucapkannya. Entah kenapa perasaan aneh itu semakin menjadi, serta membuatnya jengkel.
"Utusan, heh?... Aku tidak peduli kau itu utusan dewa kek, iblis kek, atau bahkan tuhan sekalipun. Jika kau berani menyentuh adiku seujung rambut saja... aku akan mengirimu langsung kedalam neraka." Ancam Naruto masih dengan ekpresi datarnya.
"cih. Maaf saja tapi aku tidak punya waktu untuk mendengar ocehanmu, jadi..." Xenovia meloncat sambil mengangkat Excalibur destructionnya keatas untuk menebas Naruto secara vertikal. Sedangkan Naruto msih tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"MATI!"
Ding! Blarr!
Bukan Xenovia yang mengucapkan kata itu melainkan Naruto yang langsung menendang sisi lebar dari Excaliburnya hingga terpental jauh dan menghancurkan pohon yang berada di sana. Xenovia terpaku tidak percaya, ada seseorang yang dapat menendang Excalibur penghancur dengan kaki kosong. Dan bahkan dia sama sekali tidak merasakan sedikitpun energi sihir maupun kekuatan dari tendangan itu, yang berarti itu hanyalah tendangan biasa.
"Ucapanmu tadi seolah berbicara kalau kau pernah membunuh orang saja," ujar Naruto yang memandang Xenovia dengan rendah, sangat rendah seolah dia menunjukan seberapa jauh perbedaan antara mereka. Tatapan dari seorang yang telah berhasil mengambil nyawa dari puluhan orang.
"S-siapa kau sebenarnya?"
"Hanya manusia biasa yang kebetulan lewat," ujar Naruto masih dengan ekspresi sama yang memandang Xenovia yang masih berlutut di bawahnya.
"Ini terakhir kalinya, apa kau masih berniat membunuh-" ucapan Naruto terpotong akibat dia harus menundukan kepalanya saat mengetahui sebuah katana yang hendak melubangi kepalanya dari belakang. Dengan sigap Naruto langsung memegang tangan Irina yang terjulur kedepan dan meraih kerah gadis itu lalu membantingnya dengan sangat keras hingga membuatnya pingsan seketika.
"Maaf tapi aku tidak akan merasa kasihan ataupun mengalah sekalipun lawanku adalah perempuan," semua iblis di sana menatap takjub dengan keahlian bela diri Naruto.
"Kick Boxing dan Judo, ya? Orang jenius memang berbeda cara penanganannya," tawa hambar Kiba yang menyaksikan orang yang menghajarnya habis-habisan dapat tunduk hanya melawan Naruto yang tanpa senjata.
"Ambil pedangmu dan lawan aku," perintahnya. Naruto tidak akan membiarkan orang yang telah memicu amarahnya itu akan kalah hanya dengan sekali tendangan, jujur dia merasa sangat kecewa saat mengetahui jika utusan dari gereja ternyata selemah itu.
Issei dan Kiba kalah karena pedang itu adalah kelemahan bagi mereka, sedangkan Naruto. Benda sihir atau senjata magis macam apapun tidak akan mempan padanya. Yang bisa mengalahkannya adalah orang yang sangat kuat atau yang lebih cerdas darinya.
Dalam sebuah pertarungan tidak hanya di tentukan dari kekuatan yang kau punyai, melainkan juga bagaimana caramu mengambil sebuah keputusan dalam sebuah kejadian yang tidak terduga. Bahkan seorang pembunuh berantai yang sangat hebat dalam membunuh dapat dikalahkan oleh orang paranoid hanya dengan tangan kosong.
Dan itu membuktikan bahwa Naruto bukanlah orang yang kuat, namun Naruto mengetahui setiap seluk-beluk dari kekuatan lawannya. Jika seseorang kuat dalam satu aspek, maka dia akan lemah pada aspek yang berlawanan.
Seperti halnya Xenovia yang kuat dengan pedangnya itu, namun kelemahan terbesarnya adalah kecepatan serta taktiknya sangat buruk, hanya asal tebas selayaknya anak kecil yang bermain dengan pisau.
Dengan ragu Xenovia mengambil pedangnya. Sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Seperti kata pepatah jangan nilai buku dari sampulnya. Meskipun pemuda itu adalah manusia seperti halnya dirinya dan Irina. Namun dia sadar jika mungkin akan sangat sulit melawan orang yang bahkan telah mengetahui apa yang akan dia lakukan sebelum dia berniat melakukannya.
Seperti melawan orang yang dapat melihat masa depan. Manusia yang mengerikan jika dilihat dari sisi yang berbeda. Dengan perlahan dia mengambil pedangnya yang tergeletak bagaikan seonggok sampah tak berguna itu. Dan mengangkatnya dengan ragu kearah pemuda pirang itu.
"Bagus, angkat pedangmu. Tunjukan tekadmu dan lawan aku," ujar Naruto tetap dengan ekspresis kerasnya. Dia terus berpikir meskipun kepalanya terasa seperti ingin pecah, memikirkan segala macam kemungkinan yang akan di ambil oleh gadis gereja di depannya.
Naruto tahu jika perempuan itu telah dilatih dengan baik, namun sayang pelatihnya itu tidak memberikan pelajaran terpenting dalam hidup. Naruto melihat tidak adanya tekad yang kuat dalam diri perempuan itu.
"Hyaaahh.." tebasan secara horizontal dia tebaskan guna memisahkan kepala pemuda pirang itu dari tubuhnya. Namun..
Dinkk!
Pedang itu di pukul Naruto dari bawah sehingga membuatnya berputar beberapa kalu keudara dan berakhir dengan tertancap tepat di depan wajah syok dari Xenovia.
"Tidak mungkin?" tukasnya tidak percaya, dengan ragu dia kembali menatap mata Naruto dan dia mendapati sebuah tatapan merendahkan yang mengatakan jika dia jauh dan jauh lebih kuat ketimbang dirinya.
Gigi Xenovia gemertak. Dia benci, dia tidak akan rela kalah dengan manusia biasa tanpa kekuatan seperti pemuda di depannya. Dia tidak punya pilihan lain, selain menggunakan kartu terakhirnya. Kalah di sini hanya akan membuat pekerjaan mereka terhambat, atau bahkan terhenti.
Dia mengangkat tangan kanannya kesamping, dan perlahan muncul sebuah lingkaran sihir berukuran sedang yang mengeluarkan sebuah gagang pedang yang terantai dengan kuat, seperti menunjukan bahwa kekuatan dari pedang itu benar-benar kuat hingga harus di segel dalam ruang dimensi terpisah.
Tapi bagi Naruto itu tidak ada bedanya dari mainan anak kecil. "Sekuat apapun senjatamu jika kau tidak dapat menggunakannya, itu semua akan sia-sia," ujar Naruto.
Namun karena luapan emosi yang sudah terlalu besar dalam diri Xenovia membuatnya tidak dapat mendengar perkataan Naruto dengan jelas.
"Kau pikir kau akan selamat setelah kau membuatku mengeluarkan Durandal dari dimensi lain, huh? Asal kau tahu saja, bahwa pedang ini bukan hanya pedang suci biasa melainkan sebuah pedang liar yang bahkan dapat membelah apapun." Ujar Xenovia dengan bangga.
Semua orang di sana kecuali Naruto tercengang kembali melihat salah satu pedang suci yang sekuat atau bahkan lebih kuat dari pada Excalibur itu ada di tangan perempuan yang mengaku sebagai utusan gereja itu. Namun saat mereka melihat Naruto ekspresi mereka langsung berubah total saat melihat sebuah senyum d wajah berkumis kucing itu.
"Lalu?" Naruto berujar lengkap dengan seringainya.
Dengan cepat Xenovia kembali menerjang Naruto dengan kedua pedang di tangannya. Durandal di tangan kanannya serta Excalibur di tangan kirinya. Tanpa ampun dia langsung menebas secara brutal dan membabi buta. Tapi bukannya membuat Naruto jungkir balik tak karuan, melainkan Naruto hanya menghindarinya dengan sedikit gerakan yang tidak memakan tenaga.
Kesal karena serangannya tidak ada yang mengenai pemuda pirang itu. Membuat Xenovia memutuskan untuk menebas Naruto bersamaan dari kedua sisi, dan pastinya itu tidak akan dapat di hindarinya... namun semua itu hanya menjadi angan kosong dari Xenovia saja karena Naruto dengan mudah menghindarinya dengan menjatuhkan tubuhnya ke permukaan tanah, lalu menendang kedua pedang itu dengan kaki berbalut sepatu kets kusamnya.
Naruto memutar sedikit kakinya hingga dia dapat meraih kaki dari perempuan itu lalu menjatuhkannya dengan cara mengaitkan kakinya pada persendian lutut Xenovia. Tak mau membuang energi dengan percuma karena pertarungan tak jelas ini Naruto bersiap melancarkan serangan balasan.
Menarik kerah dari pakaian ketat yang Xenovia kenakan, dan tanpa pikir panjang Naruto langsung melepaskan sebuah pukulan sekuat tenaganya kearah wajah Xenovia yang hanya berjarak tak lebih dari 100 senti darinya. Xenovia yang melihat itu langsung menutup rapat-rapat matanya serta bersia menghadapi rasa sakit yang setidaknya tidak akan hilang dalam beberapa minggu.
Namun yang dia rasakan hanya hembusan angin yang cukup kuat menerpa wajahnya. Dengan takut-takut dia membuka perlahan matanya, dan mendapati sebuah kepalan tangan yang hanya tinggal beberapa inchi lagi mengenai wajahnya.
Ctackk!
Xenovia mengeryit kesakita saat sebuah sentilan yang sangat keras yang mengenai dahinya. Dia melihat dengan seksama wajah dari pemuda pirang yang mengaku sebagai orang yang di targetnya. Dan yang dia dapati adalah ekspresi bosan yang entah kenapa sedikit rasa kecewa terlihat di wajahnya. "Bahkan sudah tidak pantas untuk dipukul lagi," itulah kalimat yang dapat telinganya dengar dari mulut pemuda itu.
Dengan kasar Naruto melepaskan genggamannya pada kerah Xenovia dan berjalan pergi kearah sekumpulan iblis di seberang. Mengabaikan Xenovia yang masih berlutut tak berdaya serta Irina yang sudah tak sadarkan diri sejak tadi.
"T-tunggu," teriak Xenovia.
"Pergilah..." Xenovia tersentak saat mendengar nada dingin itu. Naruto yang tadi sempat berfikr jika dia akan sedikit terhibur karena akhirnya dia dapat bertarung dengan seorang utusan gereja yang memegang dua buah pedang legendaris, yang katanya dapat memotong apapun.
"Seorang kesatria seharusnya dapat berpikir selayaknya kesatria, bagaimana caranya bersikap melawan lawan yang belum diketahui kekuatannya, menentukan strategi yang cocok untuk melawan musuh, mencari titik lemah lawan, dan menjaga kontrol emosi. Itu semua adalah syarat wajib yang harus dimiliki, namun... kau tidak memiliki semua itu. Dan yang lebih penting lagi kalian membunuh dengan dalih hukuman tuhan..." terang Naruto pelan. Dia kembali meoleh kearah Xenovia dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.
"Heh, konyol. Asal kau tahu bahwa kematian tidak akan mendatangkan apapun selain rantai kebencian yang tak berujung, jadi buanglah jauh-jauh niatmu itu sebelum aku mendatangimu dan mengambil nyawamu,"
Syuutt!
"Ugh..." Xenovia merintih kesakitan saat sebuah benda tajam yang dilemparkan Naruto secara tiba-tiba itu tepat mengenai bahunya. Melihat apa yang mengenainya itu dan matanya terbelalak saat melihat bahwa sebuah tusuk gigi dari bambu yang tertanam hingga ¾ kebahunya.
"Itu hanya peringatan, jadi ingat itu baik-baik."
Berjalan kearah Sona dan beberapa orang atau lebih tepatnya iblis di sana yang sedang menatapnya dengan mulut terbuka lebar serta tatapan tidak percaya.
Dengan pelan Naruto menutup mulut dari Sona yang sedang terbuka dengan lebarnya, dan sontak saja hal itu membuat kedua pipi Sona merona dengan sangat jelas. "Jika kau bengong dengan mulut terbuka seperti itu, seseorang mungkin akan mencuri ciumanmu loh," bisik Naruto tepat di samping telinga Sona.
"A-apa yang kau lakukan, baka!?" Sona berteriak sembari mendorong Naruto dengan kasar. Deru nafasnya tiba-tiba menjadi cepat tidak karuan. Dan jantungnya berdetak kencang seperti sedang melakukan lari maraton. Sona sungguh tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi namun da merasa jika sikapnya akhir-akhir ini terasa sangat amat aneh.
"Sona,"
"Hooii... Sona,"
"SONA!"
"Ehh... apa?" kaget Sona saat mendengar teriakan dari Naruto barusan.
"Aku tadi bilang apa ada baju pakaian ganti untuku? Aku tahu jika penampilanku saat ini cukup badass tapi jika terlalu lama seperti ini aku bisa masuk angin tahu," ujar Naruto dengan tingkat percaya diri yang tidak dikira-kira oleh siapapun. Padahal Sona yakin jika dia mengadakan voting akan pernyataan Naruto barusan. Yang di dapatnya pasti akan 80% dari mereka mengatakan "gembel" dan 20% sisanya adalah copet yang habis di gebukin warga.
Sona menatap Naruto dengan sebuah alis terangkat. "gembel lebih tepatnya," uajar Sona dengan wajah datar tanpa emosi.
"Bisa tidak hilangkan penekanan pada kata gembelnya?"
"Huh, jika itu yang kau mau baiklah," Sona menghela nafas ringan.
"Menghilangkan kata gebel?"
"Masalah baju bego! Kenapa kau sangat terobsesi dengan kata gembel sih?" sungut Sona.
"Tunggu, jangan menatapku saat mengucapkan kata gembel, teh.. kau dengar tidak sih? Hoy.." Naruto mengejar Sona yang sudah berjalan kearah gedung sekolah dengan gerutuan yang sepertinya tidak ada akhir.
"Dan Kuoh akademi kembali hidup. Setidaknya itu yang kurasa," gumam Saji saat melihat interaksi antara berandalan sekolah itu dengan sosok ketuanya.
Rias yang sudah selesai dari drop aKibat melihat tingkah Naruto dan Sona kini mengalihkan pandangannya pada para utusan gereja atau setidaknya salah satu yang masih sadar di sana. "Xenovia-san kan? Kalian tenang saja. Aku akan menjamin jika tidak akan ada iblis dari budaku maupun milik Sona yang akan mengganggu pencarianmu, jadi jangan khawatir..." ujar Rias dengan sebuah senyum kaku di wajahnya.
"Tapi, jika kau masih berani mengancam ingin membunuh pelayanku yang manis ini, maka siap siaplah untuk merasakan panasnya api neraka." Ancam Rias lalu melenggang pergi dan diikuti oleh seluruh iblis di sana.
.
-o0o-
.
"Hoooaaamm..." Naruto menguap dengan sangat lebar. Rasa ngantuk ini mungkin saja akan membuat hari pertamanya sekolah akan dia habiskan dengan tidur sepanjang hari. Dan mungkin tidur di atap siang ini bukanlah pilihan yang buruk jika...
Dia melirik sosok perempuan yang berkacamata dengan muka datar yang berjalan di sampingnya. Jika saja perempuan itu berhenti mengusiknya, hidupnya pasti akan serasa sempurna.
"Tutup mulutmu saat menguap, bodoh," ujar Sona sembari melirik Naruto.
"Aku tidak mau dengar itu dari perempuan yang sejak pagi sudah berdiri di samping tempat tidur remaja laki-laki yang tinggal sendiri ,"
"Mau bagaimana lagikan, perjanjian kita masih belum usai, jadi aku masih harus mengawasimu hingga beberapa minggu kedepan." Jawab Sona dengan tenang sembari mengangkat bahu acuh.
"Tapi tidak perlu begitu juga kali," sungut Naruto.
"Nah kau sendiri sudah jam segitu masih tidur,"
"Bukankah itu sudah biasa, lagian apa yang kau harapkan dari berandal sepertiku?" gumam Naruto pelan pada akhir kalimatnya.
"Kau bilang apa tadi?"
"Kidak lupakan,"
Hening. Tak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk mengucapkan sepatah katapun, entah itu Naruto maupun Sona. Bukannya tidak ingin memulai, tapi mereka berdua sama-sama bingung ingin berkata apa.
Sona yang terlalu susah untuk bicara sementara Naruto yang pada dasarnya memang orang yang super cuek hingga tak mengenal yang namanya interaksi dengan lawan jenis.
"Baiklah kurasa sampai disini saja, karena aku harus ke ruang osis dulu." Ujar Sona setibanya di depan gedung utama kuoh akademi. "Memangnya siapa yang minta ditemani?" ujar Naruto ketus.
"Urusai," dengan itu Sona berjalan dengan anggun layaknya ojou-sama sejati hingga membuat mata para fansnya berubah menjadi bentuk hati.
"Merepotkan," Naruto bergumam pelan dan berjalan kearah kelasnya.
...
Bel pelajaran berdentang keras yang seakan mengkoando setiap siswa untuk segera menduduki bangkunya masing-masing. Di ikuti dengan pintu geser yang terbuka menampakan sosok guru matematika yang selalu terlibat cekcok dengan Naruto.
"Ohayou.. anak-anak, kabar baik bahwa kali ini kita kedatangan murid pindahan.." ujar guru matematika itu dan sontak saja membuat seluruh kelas bising dengan bisikan-bisikan yang memenuhi seluruh penjuru kelas. Sedangkan Naruto entah kenapa merasa bahwa kasusnya hamir sama dengan game galge maupun anime yang pernah dia tonton.
Dia yaki jika yang akan muncul seelahnya pastilah alah satu kenalan, kerabat, atau bahkan teman semasa kecil.
Dan yang sejenisnya...
"Good morning," suara merdu khas orang Eropa langsung menusuk seluruh pendengaran Naruto. Entah kenapa dia seperti pernah mendengar suara ini.
-!?
Mulutnya langsung jatuh keatas meja saat mengetahui siapa yang datang sebagai murid pindahan itu. Surai pirang sepunggung yang berKibar anggun, mata biru cerah seperti miliknya serta wajah itu. Tidak salah lagi...
"Perkenalkan. Lilith Bristol, semuanya mohon kerja samanya untuk dua tahun kedepan," dia mengakhiri perkenalannya dengan sebuah kedipan mata yang sukses membuat hampir seluruh kelas gaduh. Entah itu perempuan atau laki-laki semuanya berteriak suka cita karena mereka merasa bahwa teah kedatangan artis top.
Lilith mengabaikan seluruh teriakan teman-teman barunya karena matanya kini sibuk menelisik seluruh sudut kelas. Senyumnya langsung melebar saat melihat bahwa orang yang dia cari-cari ternyata duduk di bangku paling belakang nomor dua di dekat jendela.
"Aaahh... Na-"
"Stop! Tunggu jangan lanjutkan dulu."
Semua orang di sana langsung mengalihkan pandangannya pada sosok yang sangat tidak asing bagi mereka semua, siapa lagi kalau tidak sang berandalan nomor satu di sekolah. Uzumaki Naruto. Dan yang lebih penting adalah kenapa murid pindahan itu terlihat sepert mengenal sosok Naruto dan begitupun dengan Naruto . Pertanyaan seperti itulah yang kini mengisi kepala hampir seluruh penghuni kelas.
Naruto memasang pose seolah menyuruh Lilith untuk meneruskan perkataannya, lalu memengang kedua sisi meja dengan erat.
Duakk!
Semua orang tidak percaya dengan apa yang dia lihat, seorang Uzumaki Naruto membenturkan kepalana dengan sangat keras ke mejanya sendiri. Namun rasa terkejut itu tidak berlangsung lama saat Naruto kembali menatap lilith dengan tampang polos seolah tidak tejadi apa-apa.
"Silahkan lanjutkan," tukas Naruto
"Naruto... Lama tak jumpa," ujar lilith dengan sebuah senyum riang yang terlihat sangat cantik bagi siapa saja yang melihatnya.
"Maaf kamu siapa ya?"
"Teh.. amnesia mendadak!?" Semua orang di sana langsung terjatuh dari kursi mereka masing-masing saat mendengar pernyataan Naruto barusan. Karena amnesia karena benturan kepala itu harus mencapai 84.000 hit, dan dapat di bayangkan mungkin perlu sebuah bangku besi yang jatuh dari lantai dua.
"Jangan kau pikir dengan hantaman begitu bisa membuat anesia, bego!" teriak hampir seluruh penghuni kelas. Naruto langsung memasang pose berpikir sejenak.
"Hmm.. kurasa kau ada benarnya, hoy Issei.."
"Ya?"
"Lempar aku dari jendela,"
"Dengan senang hati.."
Dengan itu Issei lansung meraih kerah belakang Naruto lalu melemparnya dari jendela lantai dua kuoh akademi. Serta mengabaikan fakta bahwa tindakannya itu dapat di kategorikan sebagai percobaan pembunuhan.
"Eh.. kenapa aku malah melemparnya,"
"Kau tenang aja, dia itu mempunyai sembilan nyawa, jadi tidak usah dipikirkan,"
Issei sweatdrop saat mendengar perkataan Lilith barusan. "Kau pikir dia itu kucing,"
"Anoo... anak-anak, bukannya lebih baik kita mulai kembali pelajarannya." Saran sang guru yang sepertinya mulai di abaikan akibat kejadia barusan.
"HAI!" mereka semua kembali melanjutkan pelajaran yang tertunda akibat interaksi tidak jelas dari orang-orang yang tidak jelas juga, serta melupakan fakta jika ada seorang siswa yang baru saja di lempar dari lanai dua gedung sekolah.
.
-o0o-
.
Waktu terasa begitu cepat bagi Naruto, kini dia berjalan pelan di trotoar kota Kuoh yang masih saja ramai meskipun jarum jam sudah menunjuk pukul 10 malam. Tidak menghiraukan beberapa orang yang dia tabrak akibat tidak memperhatikan sekitar, karena pada dasarnya itu adalah sikap Naruto yang paling lekat pada dirinya.
"Sial, kenapa dia harus kesini sebagai murid pindahan sih. Bukannya dia itu anggota CIA, dan jika itu benar, bukannya berarti dia itu sudah lulus pendidikan formal, bukan?"
"Hah, memikirkannya saja sudah membuatku pusing,"
"Dan sebentar lagi hari yang merepotkan akan datang," Naruto bergumam pelan, sudah beberapa hari ini dia uring-uringan hanya karena satu hari itu.
Tinjauan orang tua. Ya hari itu, hari yang menurutnya hari paling merepotkan, pasalnya yang datang guna mewakili orang tuanya adalah kepala sekolah. Sumpah, waktu dia datang dengan sebuah senyum lebar di wajahnya dia sangat amat ingin melemparinya dengan kursi yang sedang dia duduki.
'Kurasa membolos tidak ada salahnya,' batin Naruto.
Dia telah memutuskan, jika dia tidak akan masuk pada saat peninjauan kelas dua minggu lagi. Dia tidak kawatir dengan Asia pasalnya, orang tua dari Issei pasti akan lebih memperhatikannya ketimbang anaknya sendiri.
Dan itu sudah jelas.
Menghela nafas pelan, dan membuka pintu rumahnya yang sudah beberapa hari atau bahkan minggu tidak dia kunjungi. Tapi anehnya kenapa halaman depannya begitu bersih untuk ukuran rumah yang tidak di huni untuk waktu selama itu?
Dan perasaannya semakin tidak enak saat melihat cahaya lampu yang menyala dari sela-sela pintu rumah. Dengan tangan gemetar serta seribu satu doa yang dia panjatkan guna mengusir segala imajinasi serta bayangan meyeramkan dalam pikirannya.
Ckleek!
"Okaeri," suara merdu itu menyapu telinga Naruto, namun bukannya tenang malah membuat sebuah keringat menetes dari dahinya. Dan yang didapatinya adalah Sona yang berdiri dengan apron putih yang dia kenakan serta dua buah piring di tangannya yang berisikan beberapa makanan.
"OKAERI GUNDULMU. KENAPA KALIAN SEMUA ADA DI RUMAHKU, HAH!" teriak Naruto.
"Mah.. mah.. tenanglah Uzumaki-chii," ujar Ruruko.
"Siapa yang bisa tenang jika tiba-tiba rumahnya dimasuki oleh sekumpulan iblis," tukas Naruto tidak mau kalah. "Dan juga bagaimana kalian bisa masuk kerumah ini?" lanjutnya.
"Iblis sejati tidak memerlukan pintu, Uzumaki-chii," jawab Ruruko.
"Minta maaflah pada seluruh pembuat pintu di dunia ini,"
"Sudah.. sudah... karena sudah di sini kenapa kau tidak duduk dulu, Uzumaki-kun," kata Tsubaki yang duduk di kursi yang posisinya paling dekat dengan Naruto berdiri. "Tunggu, kenapa kau berkata seolah kau adalah pemilik rumah ini, dan juga, aku harus duduk dimana jika seluruh tempat duduk sudah ada penghuninya!?"
"Tapi jujur aku sedikit terkejut saat melihat ruangan ini lebih berisi ketimbang saat aku pertama kali datang kesini," ujar Sona sembari meletakan makanannya pada meja, pasalnya saat dia berkunjung kesini dulu di sana hanya memiliki dua buah kursi dan beberapa perabot dapur saja, tanpa adanya bahan makanan di dalamnya. Tapi kini kulkas milik pemuda itu setidaknya ada beberapa makanan yang dapat diolah.
"Untuk beberapa alasan, aku tidak dapat menjawab itu. Tapi yang jelas kalian semua pasti sudah tahu jika aku hidup sendiri. Jadi tanpa bertanya kalian pasti sudah tahu alasannya."
"Hah, mumpung semuanya sudah berkumpul, bagaimana kalau kita makan dulu," saran Sona sambil membagikan omelet yang dia buat kepada seluruh orang di sana termasuk Naruto. Naruto terkagum dengan tampilan omelet yang sangat cantik itu.
"Itadakimassu!"
"..."
"jadi, bagaimana?"
"..."
Hening tidak ada jawaban, baru sesuap telur itu masuk kemulut, tekstur renyah yang pastinya bukan dari omelet itu melainkan kulit telur yang masih tersisa itu langsung terasa. Tak ada suara, hening.
"Sona,"
"ya?"
Dan orang yang pertama memecah keheningan adalah Naruto yang menatap Sona dengan tatapan serius. Smentara Sona menatap Naruto dengan wajah antusas dan mata yang berbinar-binar.
"masakanmu..."
"Ya..ya..?"
"Hambar,"
Jleb!
"Tidak ada rasanya,"
Jleb! Jleb!
"Masih terdapat kulit telurnya"
Jleb! Jleb! Jleb!
"Amatir,"
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
"Entah kenapa aku merasa jika aku seperti tertusuk sepuluh tombak cahaya datenshi," gumam Sona yang kini tengah pundung di pojok ruangan. Naruto meletakan piringnya yang sudah kosong keatas meja. Dan jelas saja mendapat tatapan luar biasa dari seluruh iblis di sana.
"Tapi tidak terlalu buruk, kau hanya perlu belajar lagi," ujar Naruto sembari berjalan ke meja dapur. "Uzumaki, kau benar benar pria sejati," ujar Saji yang baru menghabiskan setengah omelet itu namun keringat yang keluar d wajahnya sudah masuk kategori yang tidak wajar.
"Aku akan buat pencuci mulut dulu," lanjut Naruto.
"Tunggu, kau bisa masak?" kaget Yura.
"Memangnya kau pikir aku memiliki cukup uang untuk makan di luar setiap hari, hah?" jawab Naruto.
"Kukira kau makan ramen instan setiap hari?" celetuk Saji. Namun hanya di tanggapi Naruto dengan mengangkat bahu pelan. "Ada alasan tersendiri kenapa aku berhenti memakan ramen instan," lanjut Naruto tanpa memandang Saji, karena dia sedang sibuk dengan masakan yang teah dia buat.
"Apa itu karena penyakitmu?"
Gerakan tangan Naruto terhenti saat mendengar pertanyaan Sona barusan. "Dari mana kau mengetahui hal itu?" tanya Naruto pelan.
Sona terus memperhatikan punggung pemuda pirang itu. "Jadi benar ya?" Tanpa menjawab Naruto kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan mendengar percakapan kedua orang itu membuat suasana di sana kembali hening.
"A-ano.. bagaimana jika kita membahas hal lain saja, entah kenapa suasana jadi terasa agak canggung," usul Saji.
"Oh ya, Uzumaki. Kudengar kelasmu kedatangan murid baru? Cewek apa cowok?" tanya Saji.
"Oh itu. Dia perempuan, memangnya kenapa?" Jawab Naruto sembari membawa satu nampan penuh bubur jagung yang berada dalam mangkuk-mangkuk kecil.
"Chanthik apha thidwak?" ujar Saji dengan mulut penuh makanan. Tak ayal itu membuat beberapa temannya menatapnya dengan jijik. "Telan dulu maananmu kenapa?" ujar Naruto.
"Tapi benar Uzumaki-san, masakamu ini benar-benar luar biasa, baru pertama kalia aku merasakan bubur jagung seenak ini dalam hidupku, seakan aku tidak rela membuka mulut untuk sebentar saja," ujar Tomoe yang sepertinya terlalu tenggelam dalam rasa bubur jagung buatan Naruto. Dan tentu saja hal itu membuat Sona yang masih meringkuk di pojokan semakin bertambah aura hitam di atas kepalanya.
Saji menelan suapan terakhirnya dengan wajah berbinar-binar seolah baru mendapat hikmah dari tuhan, padahal dia adalah iblis. "Jadi?"
"Dia itu... merepotkan,"
"?"
Pernyataan Naruto barusan menimbulkan banyak sekali tanda tanya di kepala iblis-iblis disana. Tidak hanya Saji selaku yang bertanya tapi juga Sona yang sudah kembali dari acara pundungnya. Dia heran dengan Naruto pasalnya tidak biasanya dia menyebut orang dengan kata merepotkan, kecuali diriya tentunya.
"Uzumaki-san, sebenarnya ini sudah menggangguku dari tadi. Apa kau berasal dari keluarga Namikaze?" seluruh pasang mata langsung tertuju pada Tomoe yang mengatakan hal itu.
"Kenapa kau bisa berpikiran begitu?"
"Ya.. soalnya dari segi ciri fisik kau sangat mirip dengan kebanyakan keluarga Namikaze serta hal itu semaki di perkuat dengan dekorasi rumah ini," jawabnya. Naruto mendesah pelan saat mendengar hal tu, dia tidak menyangka bahwa ada teman satu sekolahnya yang tahu perihal keluarga Namikaze.
"Ya, kau benar. Aku adalah angota keluarga Namikaze... yang tersisa,"
"Apa maksudmu? Dan sebenarnya siapa sih keluarga Namikaze itu?" Tanya Saji yang mewakili hampir seluruh pertanyaan yang tengah berkecimpung di benak masing-masing iblis di sana.
"Seperti halnya keluargaku, keluarga Namikaze juga di kenal sebagai klan yang bertugas sebagai pembasmi roh-roh jahat, dan bahkan sejarah keluarganya jauh lebih lama di bandigkan dengan keluargaku. Selain itu seluruh anggota klan Namikaze juga memiliki kekuatan unik masing-masing. Tidak ada yang tahu pasti awal mula kekuatan itu, namun yang pasti kekuatan itu telah mereka bawa semenjak pertama kali membuka mata ke dunia," jelas Tomoe.
"Dan kenapa aku merasa jika kau sangat tahu dengan keluarga Namikaze, Tomoe?" Sona bertanya dengan ekspresi serius di wajahnya. "Karena keluarga Namikaze sudah seperti panutan bagi keluargaku. Dulu.. saat masih kecil, aku pernah di ajak ke kediaman Namikaze satu kali, dan waktu itu adalah saat pelantikan kepala klan yang baru."
"Jadi, itu yang kau maksud bahwa di keluargamu tidak ada yang namanya kata normal? Seperti ayahmu yang dapat berpindah tempat dalam waktu kurang dari satu detik atau bahkan ibumu yang dapat mengeluarkan rantai dari tubuhnya?" Sona memastikan pada Naruto yang kini sudah ikut bergabung dalam pembicaraan. Dan hanya di balas anggukan pelan oleh Naruto.
"Tunggu... bukannya yang memiliki kemampuan teleportasi di keluarga Namikaze cuma Namikaze Minato sang kepala klan yang baru?"
"Ya. Namikaze Minato, dia itu ayahku,"
"heeehh!" Tomoe kaget tidak percaya bahwasanya dia tengah berada di rumah dari anak seorang kepala klan pembasmi roh yang paling tua dan kuat.
"Kenapa kau sampai terkejut seperti itu, Tomoe?" Tanya Momo.
"Soalnya... jika yang di katakan Uzumaki-san benar, berarti bukannya dia seharusnya adalah penerus keluarga Namikaze, dengan kata lain ketua klan selanjutnya?"
Seluruh pasang mata kini teralih pada Naruto yang bersandar di dinding dapur sembari memasukan tangannya kedalam saku celana. Dia menghela nafas pelan dan menatap kearah lain, "Bukan aku kandidat kepala klan, melainkan kakakku," ujar Naruto.
"Kakak?"
"Ya. Dia adalah orang paling kuat dan jenius yang aku ketahui seumur hidupku," terang Naruto yang kini menerawang jauh seolah tengah mengenang masa-masa yang sudah lalu saat bersama kakaknya itu.
"Oh iya, kalau tidak salah sacred gear milikmu itu adalah buatan kakakmu kan?" Sona memastikan. Pasalnya menurut pengamatannya selama ini benda itu bukanlah alat yang dapat di temukan pada saat ini.
"Sacred gear? Dari mana kau menyimpulkan bahwa ini adalah sacred gear? Ini hanyalah alat yang berisi program-progam rumit yang aku yakin tidak ada dari kalian yang paham apa maksudnya." Terang Naruto sembari berkacak pinggang.
"Tapi kan konsepnya sama dengan sacred gear. Jadi tidak akan salah jika di sebut begitu,"
"Terserah saja,"
"Kalu boleh tahu siapa nama kakakmu, Uzumaki-san?"
"Dia-"
Tok! Tok! Tok!
Ucapan Naruto terpotong oleh suara ketukan pintu dari depan. Naruto mengangkat alis bingung perasaan selama ini tidak ada orang yang pernah berkunjung ke rumahnya. Sebagai tanda kutip Sona dan yang lainnya adalah iblis yang tidak akan Naruto hitung sebagai tamu, karena mereka patut di labeli dengan Penyusup, maling, perampok, dan sebagainya.
Dengan pelan Naruto membuka pintu itu guna melihat siapa yang bertamu malam-malam seperti ini. Jika yang datang adalah tukang pos maka dia akan bilang bahwa mereka salah alamat, dan jika yang datang adalah pengamen maka dia pastikan jika pengamen itu akan pulang dengan mulut yang sudah sepanjang belalai gajah.
Namun semua itu hanya bayangan liar yang terlintas di benak Naruto saja. Alis Naruto berkedut kesal saat melihat siapa yang datang malam-malam seperti ini.
"K-kau..."
.
To Be Continue...
.
.
Yohoho what up guys...
Seperti yang sudah saya janjikan, bahwa saya akan meng up Chapter ini jika ada kesempatan. Dan karena kemarin ada waktu senggang jadi aku sempatkan untuk meyelesaikan chapter ini secepat mungkin. Meskipun masih berantakan tapi ya sudahlah :p .
Dan seperti yang kemarin aku katakan, bahwa sekarang saya dan juga teman-teman saya yang tergabung dalam aliansi kelas 3 SMA dan SMK, tengah menghadapi Great War yang sagat sengit, dimulai dari melawan pasukan Edotensei yang tidak bisa mati (Try Out 1), lalu dilanjutkan dengan melawan Obito yang memanggil Juubi (Try Out 2), dan harus muncul Madara yang telah mendapatkan kembali kedua Rinnegannya (Ulangan Semester 6) ditambah dia berhasil mengaktifkan mugen Tsukuyomi (Grahana Matahari Total), dan masih harus menghadapi Kaguya yang memanggil Great Red dari Celah Dimensi (Ujian Sekolah)... tapi yang paling buruk dari yang buruk masih menunggu setelahnya yaitu melawan Koro-sensei yang beraliansi dengan Majin Buu dan juga Saitama (Ujian Nasional).
Mulai ngaco... :v
Re For Guest..
Raihan : kayaknya kagak bisa deh, karena saya akan update jika saya ada waktu senggang buat nulis, dengan kata lain tidak tentu.
damar wulan : entah. Karena belum tentu jika yang di rekrut lilith itu adalah Naruto :v
black legion : maksudnya? Sumpah ane kagak ngerti pak.
Guest :haha... mungkin ini adalah alasan utama kenapa nilai IPSku 42, pengetahuan geografi ane kacau, dan itu kemarin hanya ide gila yang terpintas secara langsung jadi harap maklum :v
Kuroneko : okay.. dan tenang aja endingnya masih jauh kog :v
Andre : haha... itu entah pilotnya yang mabok atau mungkin penulisnya yang mabok. Btw maaf itu tadi Cuma asal ceplos :v
Pendy : siap! Pertemuan 3 fraksi masih lama sedangkan bagian kokabiel nih mulai jalan, tapi saya tidak akan terburu-buru buat langsung Fight. Jadi agak bersabar ya.
Guest : thanks
Serdadu V : siap!
Guest : Oke!
Glang : Ente sendiri reviewnya juga typo vak :v, tapi thanks atas reviewnya.
Ima : dah kejawab di atas.
Uzuki2309 : Thanks dan Oke tunggu saja.
Aaaku : haha thanks, kurasa itu salah tulis bray :v
HerpCage : Emang itu niatnya :v
Imaginer : ditunggu saja
Guest : thanks, dan lanjut sekarang
Name zero : Thanks dan maaf karena lama karena yah... you know what i mean
Name danyz : Thanks
Tapi kuharap Chapter ini sedikit membayar keterlambatan pada bulan ini. Jadi jangan sungkan untuk meninggalkan jejak di kotak review..
Semoga beruntung..
Maaf jika ada kesalahan...
Dan juga Adios...
.
