Gengs, naik rate jadi M ya! Tapi jangan berharap lemon.
Chapter Sebelumnya
"Apakah jiwa, hati, dan pikiranku siap untuk hidup bersama dengan laki-laki aneh yang baru saja kukenal?" tanya Hinata tanpa menatap mata Ino, "aku tidak ingin berakhir dengan perceraian, nee-chan."
"Kau hanya perlu membiasakan diri, seperti saat pertama kau pergi ke Denmark." Ino menggelengkan kepala saat mengatakan jika Sasuke laki-laki aneh. Sebenarnya Sasuke tidak aneh, dia hanya geek. "Menikah tidak harus selalu dengan cinta, jika pasanganmu dapat menerimamu apa adanya, itu sudah lebih dari cukup."
MASUK READINGLIST-DAFTAR BACAAN WAJIB VOTE SEMUA CHAPTER!
-AFTER- DATING ONLINE
Warning: OOC, TYPOS, CRACKED- PAIR, etc
Pair : SASUHINA –Slight Naruhina, Narusaku
Rate: M
Genre : Romance, Slice of Life
Disclaimer: Naruto © Belonging Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T FLAME
DON'T LIKE DON'T READ
DON'T LIKE DON'T COMMENT
8
Hinata termenung di depan cermin, wajahnya dihiashi make up tebal oleh make up artist yang sudah disewa secara khusus oleh Mikoto. Tubuh Hinata dibalut gaun pernikahan bertema internasional berwarna putih. Sebuah veil berwarna putih menutupi separuh wajah Hinata. Sebentar lagi acara pemberkatan di gereja akan dimulai. Pemberkatan akan dilakukan di gereja distrik 10, tidak terlalu jauh dari tempat pesta pernikahan.
"Nona, mobil anda sudah siap." Ujar seorang pelayan keluarga Uchiha dari luar kamar rias Hinata.
Hinata menarik napas perlahan lalu berjalan meninggalkan kamar rias. Di luar kamar Hiashi dan Hikari berdiri dengan wajah bahagia. Mau tidak mau Hinata menampilkan senyum terbaiknya. Neji, Hanabi, dan Tenten muncul dari lantai dua.
"Kekkon omedeto, Hinata." Neji memeluk adik sepupunya itu. "Aku tidak menyangka kau akan menikah dengan Sasuke."
Hinata tersenyum namun senyumannya tidak sampai pada matanya, "Arigatou nii-san, a-aku pun tidak percaya aku akan menikah secepat ini."
Neji melepaskan pelukannya dan membiarkan Tenten memeluk Hinata, "Apa kau tegang?"
"Sedikit."
"Itu wajar, saat aku dan Neji akan melakukan pemberkatan, akupun merasa tegang." Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ayo kita segera berangkat, Sasuke pasti sudah tidak sabar menunggumu." Ujar Hiashi.
-AFTER- DATING ONLINE
Pernikahan Sasuke berlangsung sangat mewah, hampir semewah pernikahan Itachi yang dilakukan beberapa tahun yang lalu. Jalanan di distrik 10 sengaja ditutup saat mobil yang ditumpangi keluarga Hinata melaju menuju gereja. Begitupun saat keluarga Sasuke dan Hinata hendak ke tempat pesta pernikahan.
Hinata merasa menjadi putri kerajaan Inggris selama beberapa jam, apalagi melihat penampilan Sasuke yang biasanya urakan menjadi sangat rapi, meskipun rambutnya tetap mencuat menantang gravitasi.
Namun rasa bangga dan bahagianya sebagai putri kerajaan hanya bertahan sesaat, Hinata merasa gamang saat harus berdiri seharian bersama Sasuke di atas pelaminan. Sasuke tidak banyak bicara, ia bahkan tidak tersenyum pada tamu undangan yang sebagian besar tidak Hinata kenali.
Keluarga Otsutsuki juga datang, namun Hinata tidak melihat kehadiran mantan kekasihnya.
-AFTER- DATING ONLINE
Hinata tengah berbaring dengan Sasuke di atas kasur king size bertabur bunga mawar. Jangan membayangkan mereka saling bercumbu di malam pertama mereka.
Sasuke dan Hinata saling memunggungi dibatasi tumpukan bantal. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun, tubuh Hinata tidak bisa berhenti bergetar, ingatan masa lalunya berputar dengan jelas.
"Hey!" panggil Hinata.
"Hn?"
"Kau belum tidur?"
"Apa menurutmu orang yang sudah tidur bisa menjawab?"
Hinata mengembuskan napas kesal, setidaknya berbicara dengan Sasuke sedikit membantu mengenyahkan bayangan masa lalunya. "Boleh aku bertanya?"
"Itu sudah sebuah pertanyaan." Sasuke masih belum membalikan tubuhnya.
"Kau pernah bercinta sebelumnya?" tanya Hinata dengan datar.
Sasuke langsung membalikan tubuhnya, mendadak rasa kantuknya menghilang. Sepertinya topik ini akan menarik. Well, Sasuke masihlah normal. Sejak tadi dia memunggungi Hinata agar menjaga otaknya tetap berada di tempat seharusnya. Tubuh istri sahnya yang hanya dibalut gaun tidur berbahan satin berwarna merah muda, jelas itu membangkitkan jiwa liar Sasuke.
"Tentu saja, mengapa kau bertanya seperti itu?"
"Kapan?"
"Kenapa kau begitu ingin tahu?"
Hinata membalikan tubuhnya berhadapan dengan Sasuke, "Aku hanya ingin tahu."
Sasuke mengubah sedikit posisinya, ia menjadikan tangannya sebagai tumpuan agar kepalanya bisa sedikit lebih tinggi dan bisa melihat wajah istrinya. "Aku pertama kali melakukannya dengan teman sekelasku saat masih SMA."
"Kekasihmu?"
Sasuke menggeleng, "Teman, hanya teman."
"Kau yang meminta untuk tidur dengannya?"
"Tidak, dia yang menawarkan diri."
Hinata mendesah pelan. Semua laki-laki sama saja, mereka tidak akan menolak sesuatu yang ditawarkan padanya tanpa memikirkan sesuatu yang akan terjadi jika mereka menerima tawaran itu. "Kau melakukannya hanya saat SMA?"
"Tentu saja tidak!" Sasuke terkekeh pelan, "Kau pernah tinggal di Denmark kau pasti tahu bagaimana kehidupan di sana." Sasuke berhenti sejenak, "mungkin jika kau bertemu denganku saat masih di Denmark, kau akan menyebutku Fuck Budy."
Hinata mengumpat dalam hati, wajah Sasuke yang berengsek ternyata sesuai dengan kepribadiannya. Lupakan masalah wajah, Toneri yang memiliki wajah polos pun bisa menghancurkan masa lalunya.
"Tapi aku sudah tobat saat bekerja di Google, bermain dengan wanita tidak semenyenangkan bermain dengan kode."
Hinata masih terdiam, berkutat dengan pikirannya. Hinata tidak masalah jika Sasuke belum tobat, karena Hinata belum mencintai Sasuke dan Hinata belum sanggup melayani Sasuke di atas ranjang. Tapi bagaimana jika Sasuke melakukan kecelakaan –menghamili wanita lain- dan wanita itu meminta tanggung jawab, dan itu didengar keluarganya dan keluarga Sasuke pasti pernikahannya berakhir dengan perceraian.
"Bagaimana denganmu?" tanya Sasuke membuyarkan lamunan Hinata.
"Mau mendengar ceritaku?" tawar Hinata. Bertahun-tahun Hinata menutup kisah masa lalunya, tapi tidak ada salahnya ia menceritakan kisahnya pada suaminya.
"Boleh, ini masih terlalu cepat untuk tidur."
Hinata menarik napas sebelum memulai ceitanya.
Hinata POV
Seharusnya aku tidak mempercayai kalimat "Aku mencintaimu." Dari seorang lelaki remaja. Mereka bahkan tidak tahu apa artinya, mereka bahkan tidak tahu bagaimana mempertanggungjawabkan kata-kata itu.
Kelas 3 SMP aku bertemu dengannya di bawah pohon Sakura yang sedang bermekaran, laki-laki tampan berambut putih dengan mata biru yang unik. Dia siswa pindahan dari kota Oto. Dia bernama Otsutsuki Toneri, aku pikir kami hanya akan bertemu di kelas, ternyata kami juga bertemu saat diluar jam pelajaran karena dia tinggal di rumah kosong di samping rumah ku.
Kami menjadi semakin akrab.
Toneri mengikuti ekstrakulikuler basket seperti Naruto-senpai saat masih di sekolah menengah pertama. Aku sering menghabiskan jam istirahatku dengan melihat Toneri bermain basket di lapangan. Saat sudah selesai bermain basket, Toneri akan menghampiriku dan memakan bento bersama.
Sore hari di hari selasa biasanya aku menunggu Sakura-senpai selesai berlatih voli di lapangan SMA –sekolah ku bergabung dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas-. Tapi, semenjak ada Toneri, hari selasa soreku dihabiskan dengan menunggunya berlatih basket.
Sampai akhirnya di musim panas di bulan Agustus dia memintaku menjadi kekasihnya dan akupun mengiyakan permintaannya.
Kami kembali satu kelas saat di SMA, hubungan kami semakin meningkat. Jika saat masih SMP kami hanya terlihat seperti dua orang sahabat, saat SMA kami terlihat seperti pasangan yang sempurna. Kemanapun kami selalu bersama.
Hubungan kami berjalan dengan baik, meskipun sesekali terjadi pertengkaran. Menurutku itu adalah sesuatu yang wajar dan membuat kami semakit dekat. Di hari jadi kami yang pertama, di bawah pohon momoji kami berciuman untuk pertama kali. Dia berhasil mencuri ciuman pertamaku. Toneri mengatakan jika itu adalah ciuman pertamanya juga.
Harusnya aku tidak pernah percaya dengan kata-kata itu. Seharusnya aku tidak memberikan ciuman pertamaku padanya.
Dimusim dingin kami berjalan bergandengan, aku sangat menyukai tangannya yang besar dan hangat itu. Genggaman romantis itu membawa kami pada pelukan hangat yang lama, bahkan saat di depan Naruto-senpai, tanpa malu Toneri memelukku.
Naruto-senpai berjanji akan menghabisi Toneri jika ia berani menyakitiku. Naruto-senpai dan Sakura-senpai selalu mengingatkanku untuk menjaga diri, meskipun Toneri begitu mencintaiku bukan berarti dia tidak berpotensi menyakitiki.
Justru dia lah yang paling menyakitiku, hingga membuat jiwaku hancur.
Hubungan kami terus berlanjut hingga lulus SMA, dan di hari kelulusan itu awal dari penyesalan hidupku.
Seharusnya aku tidak mempercayai ucapannya, seharusnya aku tidak memberikan segalanya padanya.
Dalam sebuah pelukan yang erat dia mengatakan "Aku sangat mencintaimu, aku tak akan pernah meninggalkanmu." Aku mempercayainya dan aku memberikan hartaku yang paling berharga. Memang bukan hal yang tabu di negara Jepang melakukan hubungan badan sebelum menikah, justru para gadis akan merasa bangga sudah memberikan harta berharganya pada seorang laki-laki saat masih sekolah. Tapi aku berbeda, aku memikirkan risiko yang akan terjadi jika aku melakukan hal itu.
Tapi, aku masih tidak mengerti, mengapa Toneri selalu mengatakan pada orang-orang jika dia belum pernah melakukana 'itu' denganku? Dan akhirnya orang-orang mengataiku kurang pergaulan dan perawan tua karena mereka mengira aku belum pernah melakukan 'itu'. ya, berbohong tidak akan pernah berakhir dengan baik.
Hubungan kami mulai berjalan tidak normal, banyak pertengkaran yang terjadi. Ditambah mantan kekasih Toneri pindah ke Konoha dan ternyata Toneri masih menyimpan rasa pada mantan kekasihnya itu.
Puncak pertengkaran kami adalah saat aku menerim beasiswa untuk berkuliah di Aarhus universitet, Denmark. Toneri tidak mengizinkanku untuk pergi dia malah sengaja mengurungku selama tiga hari di dorm-nya dan berkali-kali menyetubuhiku. Hingga akhirnya aku tidak bisa berangkat karena tidak bisa mengikuti tes akhir. Toneri berkali-kali meminta maaf setelah itu, aku pikir mungkin Toneri tidak ingin aku jauh darinya jadi dia melarangku untuk pergi. Aku pun memaafkannya.
Akhirnya aku berkuliah di Universitas Konoha bersama Toneri. Aku mengambil jurusan sastra Inggris dan Toneri mengambil jurusan teknik mesin. Sesekali aku bertemu dengan mantan kekasih Toneri saat di kampus, tapi dia biasa saja tidak marah saat melihat aku dekat dengan Toneri. Justru Toneri sering memperlihatkan wajah terluka saat berpapasan dengan mantan kekasihnya.
Hubungan kami menjadi semakin rumit saat Sasori –teman sekelasku- ikut masuk ke dalamnya. Laki-laki berambut merah itu dengan antang mendeklarasikan diri akan merebutku dari Toneri. Sasori pun begitu nekad dengan sengaja mengganggu setiap kencanku dengan Toneri, dan bisa dipastikan Toneri berakhir dengan marah padaku.
Pada akhirnya aku harus membujuk Toneri dengan bercinta.
Diakhir semester genap, sesuatu yang menohok hatiku terjadi. Saat aku hendak mengunjungi Toneri di dorm, aku malah melihat pemandangan mengejutkan. Toneri berciuman dengan mantan kekasihnya di depan pintu dorm. Hatiku –sangat- sakit melihat itu. Sepertinya Toneri tidak menyadari kehadiranku saat itu, aku pun memutuskan untuk pulang dan menumpahkan semua air mataku.
TBC
Yaaaaay sengaja aku potong soalnya bakal kepanjangan kalo dijadiin satu chapter masa lalu Hinata-nya, belum lagi nanti tanggapan Sasuke.
Jadi sabar aja ya, tunggu aja lanjutan ceritanya.
