CHAPTER 9

Untuk pertama kalinya Uchiha Sasuke mempelajari hal yang membuatnya menatap rendah dunia dan semua manusia yang hidup di dalamnya.

Hanya manusia bodoh yang percaya bahwa manusia yang baik akan dicintai para manusia lainnya.

Dan hanya manusia yang ingin cepat mati...

...yang mau berkata jujur.

Mungkin memang sudah ditakdirkan begini apa adanya. Di dunia buatan ini, biarkan para manusia menyenangi dirinya sendiri dengan kebohongan yang mereka buat. Dan biarkan mereka menyesali semuanya dan berteriak ketakutan karena harus menghadapi kejujuran di dunia yang tersedia setelah mereka mati. Tapi, itu urusan belakangan 'kan?

Toh, sekarang mereka masih hidup di dunia buatan, selama kebohongan adalah satu-satunya jalan dan mereka bahagia di dalamnya, mereka akan menerimanya. Itulah pemikiran rata-rata manusia yang katanya paling sempurna dari seluruh makhluk hidup di dunia ini.

Ironis? Ha.

Katakan itu, jika kau memang bukan manusia yang menyukai dan sering melakukan kebohongan.

Sasuke tidak akan membantah. Dia mencintai kebohongan. Dia mencintai dirinya yang telah buta. Dia mencintai kegelapan yang telah menyelimuti mata hatinya. Selama ada wanita itu. Selama ada wanita itu yang akan selalu berada di sisinya sejak awal sampai akhir, maka dia rela hidup selamanya dalam kebohongan sampai waktunya meninggalkan dunia fana ini tiba. Sasuke tidak hanya membutakan penglihatannya, dia juga membekukan waktunya, menulikan pendengarannya, menempelkan topeng untuk menutupi ekspresi aslinya, dan semua akan dilakukannya asal wanita itu ada di sampingnya.

Bagaikan boneka rusak yang memberontak dari pemilik aslinya, lalu memberi benangnya pada pemilik lain yang dicintainya. Sang boneka menghancurkan kehidupan pemilik barunya itu agar pemilik barunya mau mengendalikan dirinya meskipun dengan rasa takut yang luar biasa.

Entah Haruno Sakura menyadarinya atau tidak...

...benang untuk mengendalikan Uchiha Sasuke sedari awal telah ada di tangannya. Sakura tinggal mengendalikan Sasuke yang kedua matanya telah buta itu dengan menggerakkan kedua tangannya.

Ah, betapa mudahnya.

Namun di waktu yang bersamaan... betapa susahnya.

Manusia selalu mempunyai pilihan di dalam hidupnya. Tapi, berhati-hatilah dalam memilih. Hanya ada satu kesempatan untuk memilih dan begitu pilihan telah ditentukan... semua manusia harus siap menjalankannya tanpa terkecuali. Meskipun hasilnya baik atau buruk, menyesal atau tidak, manusia tidak akan bisa dan tidak akan pernah mempunyai hak untuk memutar waktu dan kembali memilih.

Sakura tahu itu.

Dia sangat tahu dan karena itu dia muak.

"Kau sangat cantik, nona."

Wanita yang sedari tadi memejamkan kedua matanya tersebut kini membuka matanya. Menunjukkan sepasang hijau emerald yang indah terpantul pada cermin besar di hadapannya. Tidak hanya kedua matanya, dia bisa melihat wajahnya bahkan tubuhnya. Haruno Sakura tidak merespon semua pujian yang diberikan padanya sedari tadi meskipun hanya sekali. Dia hanya diam dan terus memandang pantulan dirinya sendiri. Gumaman seseorang yang mengatakan bahwa mereka telah selesai, membuat para wanita lain yang mengelilingi Sakura mundur dari posisinya masing-masing.

Para wanita yang ternyata adalah perias kecantikan itu memandang takjub pada pemandangan di hadapan mereka.

Calon pengantin wanita yang terlihat sangat cantik dan luar biasa dengan gaun putihnya yang sangat indah berdiri di depan mereka. Bahkan meskipun tanpa senyum yang terpasang di wajahnya, aura kecantikan Haruno Sakura si calon pengantin wanita pada hari ini memancar dengan kuat. Sakura kini menatap dirinya sendiri dan mencoba mengangkat sedikit kain atas gaun yang dikenakannya. Ya, ini memang gaun cantik yang luar biasa. Sang calon ibu mertuanya lha yang telah memilihkan gaun ini untuknya.

Tanpa ada yang mengetahuinya, Sakura tersenyum kecil. Gaun yang dikenakannya berwarna putih dengan tiga lapisan, lapisan dasar menutupi tubuh atasnya dari buah dada hingga ke bawah—dilapisi korset yang cukup kuat—lalu dua lapisan atas yang kainnya tipis mengembang dari pinggangnya hingga ke bawah. Rambut soft pink miliknya digulung ke atas. Sebagai penambah accessories, Sakura mengenakan kalung berlian mewah yang berukuran sedang mengitari leher jenjangnya.

Sakura mengangkat kedua tangannya yang telah terbalut sarung tangan putih panjang yang menutupi sampai sikunya. Jari-jarinya yang lentik bergerak menyentuh wajahnya yang telah diberi make up natural dengan pelan. Lalu dia menyentuh kain lace di atas kepalanya kemudian menjatuhkannya hingga kain lace itu menutup wajah cantiknya. Sakura kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Dan kali ini menyentuhkan ujung jari telunjuknya pada cermin yang kini hanya selangkah di hadapannya.

"Hei, kau tahu?" Sakura mengabaikan dirinya yang mungkin menjadi pusat perhatian karena terlihat berbisik sendiri—lebih tepatnya pada pantulan dirinya di cermin, "Kau akan menikah hari ini, Haruno Sakura."

Para perias yang tidak tahu harus berbuat apa lagi, akhirnya meminta izin untuk keluar dari ruangan sembari memberinya ucapan selamat dan dukungan. Mereka bilang, tinggal sepuluh menit lagi sampai ayah Sakura datang dan menjemput putri tunggalnya menuju pelaminan dimana sang pengantin pria telah menunggu. Sekarang Sakura sendirian di ruangannya—walau mungkin sepertinya wanita itu tidak menyadarinya dan tidak peduli.

"Kau... senang, 'kan?" Suara lirih yang menggema kembali terdengar. Wanita bermahkota alami soft pink tersebut menggigit bibir bawahnya sendiri dan mengepalkan tangannya di atas cermin. Mencoba tertawa dengan hati tersayat yang tidak bisa disembuhkan lagi, "Salah satu mimpimu sejak kecil kini telah terkabul. Haha." Terakhirnya dia tertawa miris. Seperti menertawakan kebodohannya sendiri.

Dia terus tertawa dan tertawa... sampai akhirnya dia benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Sembari tertawa, air mata mengalir dengan lancarnya dari kedua mata Sakura. Bahkan wanita itu tak bisa menghentikan aliran kedua matanya sendiri. Hatinya mungkin sudah lelah untuk berbohong. Walau begitu, dia tetap memaksa untuk berbohong demi kebaikan yang naif untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Sudah tidak ada akhir bahagia untuk wanita yang sengaja memilih jalan yang salah.

"Sakura." Panggilan yang ditujukan padanya dengan suara yang sangat dikenalnya membuat Sakura tersentak kaget dan buru-buru mengusap air matanya. Sakura mencoba sebisa mungkin mengusap wajahnya perlahan dan hati-hati agar jangan sampai menghilangkan make up di wajahnya tersebut. Setelah merasa cukup, Sakura menarik napas panjang lalu membalikkan tubuhnya. Memasang senyum manis yang biasa dilakukannya.

"Iya, ayah?"

Haruno Kizashi tidak langsung menjawab mendengar nada suara bertanya dari anak tunggalnya. Pria tua itu menatap Sakura sedih sebelum tersenyum pahit, "Kau yakin tidak mau menghentikan pernikahan ini?"

Mendengar pertanyaan sang ayah yang selalu sama—dan sekarang entah sudah masuk yang ke berapa kali, Sakura hanya tertawa kecil lalu menggeleng pelan, "Tidak ayah, keputusanku sudah bulat. Lagipula kita sudah sampai di sini," Wanita beriris hijau emerald tersebut berjalan mendekati Kizashi, "aku tidak mau hanya karena gara-gara aku dan Sasuke-kun, ayah memutuskan pertemanan ayah dengan paman Fugaku."

"Jangan bicara sembarangan!" Kedua tangan Kizashi terkepal dan bergetar menahan amarah yang telah sampai di puncak kepalanya, "Kau pikir aku ayah macam apa yang lebih mementingkan hubungan pertemanannya daripada anak kandungnya sendiri—darah dagingnya sendiri? Hah!?" teriak Kizashi kesal. Sekarang pria tua yang memiliki rambut dengan warna merah muda keabu-abuan itu memegangi kedua bahu putrinya, "Ayah ingin kau bahagia, Sakura! Kau harus—"

"Ayah."

Sakura dengan cepat memotong perkataan Kizashi. Pria tua itu dibuat diam seribu bahasa oleh putri kandungnya sendiri. Laki-laki yang memiliki iris berwarna hijau tersebut menatap Sakura tak percaya. Untuk yang ke sekian kalinya, Sakura tertawa pelan sembari menyingkirkan kedua tangan ayahnya dari bahunya dengan lembut. Ayah dan anak itu mulai bertatapan, mencari arti tatapan masing-masing sementara kedua tangan mereka saling menggenggam, memberi kehangatan dan kekuatan pada satu sama lain. Namun, pertanyaan Sakura membuyarkan semuanya...

"Apa ada laki-laki yang mau menikahi perempuan yang sudah kotor karena telah diperkosa selama bertahun-tahun... selain pemerkosa itu sendiri?"

Kizashi memejamkan kedua matanya erat. Rasanya sakit mendengarkan dan membayangkan kata-kata anak semata wayangnya itu. Seumur hidup dia membesarkan Haruno Sakura sejak kecil hingga remaja, tak pernah disangkanya sang anak akan menjadi salah satu korban kasus pemerkosaan yang biasanya hanya dia tonton di TV. Terlebih pemerkosaan anaknya itu dilakukan oleh salah satu orang yang sangat dipercayainya di dunia ini—yang bahkan Kizashi menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Menyedihkan.

Setidaknya mereka masih beruntung karena aib memalukan ini hanya diketahui oleh dua keluarga yang bersangkutan dan seorang laki-laki berambut merah.

"Bahkan laki-laki pun... tidak mungkin mau memiliki boneka yang sudah rusak."

Perkataan Sakura yang terakhir itu menyadarkan Kizashi dari lamunannya. Sakura telah melepaskan kedua tangan ayahnya lalu berjalan melewati ayahnya yang masih terpaku di posisinya berdiri. Kizashi tidak tahu... rasanya akan sesakit ini bahkan meskipun bukan dia yang berada di posisi Sakura. Kizashi memejamkan kedua matanya, air matanya mengalir pelan dari sudut matanya. Pria tua itu menangis untuk anaknya.

"Setidaknya... jangan samakan dirimu dengan boneka, Sakura."

Tidak ada respon berarti, Sakura terus berjalan. Kizashi mengusap air matanya dengan telapak tangannya kemudian ikut berbalik. Awalnya dia berjalan di belakang Sakura, sampai akhirnya dia mulai berjalan di samping anaknya itu mengingat sebentar lagi mereka akan sampai di depan gedung pelaminan. Sepasang ayah-anak itu menarik napas secara bersamaan lalu mengeluarkannya secara bersamaan pula sebelum mereka benar-benar melangkah di atas karpet merah menuju tempat dimana pengantin pria telah menunggu.

Berbagai macam doa dan latar belakang lagu pernikahan dikumandangkan seiring dengan langkah Sakura dan Kizashi. Pria Haruno itu dapat merasakan tangan sang anak yang meremas erat lengannya. Kizashi tidak bisa melihat jelas ekspresi Sakura karena wanita itu telah menutupi wajahnya dengan kain lace dan terus menunduk. Kizashi hanya bisa berharap Sakura tetap kuat untuk menghadapi semua kenyataan ini.

Langkah terakhir, Sakura telah sampai di depan pengantin pria yang telah menunggunya. Uchiha Sasuke berdiri dengan gagah dan tegap—mengesampingkan sedikit memar di wajahnya, laki-laki itu terlihat tampan mengenakan kemeja putih dengan tuxedo hitam dan dasi hitam yang terlihat mewah. Sepatu kulit hitam dan celana kain hitam miliknya pun tidak lepas dari sorotan. Sakura berjalan mendekat hingga akhirnya dia dan Sasuke berdiri menyamping dari pendeta namun berhadapan. Meskipun Sasuke mencoba menahannya, perubahan ekspresi laki-laki itu tak pernah luput dari penglihatan Sakura.

Sasuke bahagia. Ya, dia senang. Dia senang dan sedih. Tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa. Sakura beruntung karena kain lace masih menutupi wajahnya. Kedua pipi Sasuke memerah meskipun hanya segaris tipis. Berulang kali dia ingin menunduk untuk menyembunyikan warna merah di pipinya itu, namun kali ini dia harus menahannya. Ah, betapa lucu dan polosnya tingkah pria yang selalu terlihat dingin tanpa emosi itu. Sakura ingin sekali tertawa gemas melihat calon suaminya ini.

Ah, sayang sekali semua pengalaman busuk itu harus terjadi.

Kalau tidak, bukan tidak mungkin meskipun mereka dipaksa untuk menikah... mereka akan tertawa karena geli melihat wajah satu sama lain sekarang.

"Dipersilahkan untuk kedua pengantin saling berciuman sebagai tanda pengesahan atas janji sehidup semati yang telah dibacakan."

Tubuh Sakura menegang. Inilah klimaksnya. Sakura menengadahkan kepalanya agar Sasuke lebih leluasa menaikkan kain lace yang menutupi wajah pengantin wanita. Sasuke sendiri merasa tegang. Pasalnya, sudah cukup lama mereka tidak bertemu lagi sejak rencana pernikahan dibuat. Bahkan Sakura dapat merasakan tangan Sasuke yang bergetar ketika menyentuh kain lace-nya.

Sasuke menaruh kain lace tersebut ke belakang kepala Sakura. Kedua bola matanya tiba-tiba membulat kaget. Bukan, bukan... dia sudah memperkirakan ini sejak awal. Sasuke tidak seharusnya kaget, laki-laki itu harus kembali tenang. Ditatapnya iris hijau emerald Sakura yang berkaca-kaca meskipun wanita itu memaksa senyum. Belum lagi jejak air mata di kedua pipi Sakura yang samar-samar terlihat. Menegaskan bahwa sebelum pernikahan dimulai pun, Sakura sudah menangis atas pernikahan yang tidak pernah diinginkan ini.

Rasanya seperti ditusuk benda tajam melihat air mata Sakura lagi setelah sekian lamanya. Sasuke tahu mungkin percuma, tapi—"Sakura, maaf—"

Tanpa pernah disangka sebelumnya, tiba-tiba kedua lengan Sakura mengalungi leher Sasuke dengan cepat lalu menarik wajah pria itu untuk mendekati wajahnya hingga akhirnya mereka berciuman bibir. Para tamu yang diundang hanya bisa tercengang di tempat mereka masing-masing. Biasanya kedua pengantin yang akan berciuman melakukannya secara perlahan dan bersamaan pula, tidak seperti Sakura yang langsung menarik Sasuke dan seperti memaksanya untuk berciuman seperti itu.

Kedua pupil Sasuke membulat lagi. Mengerti maksud wanita yang dicintainya itu, Sasuke segera membalas ciuman Sakura dan salah satu tangannya menutupi wajah samping Sakura dari penglihatan para tamu. Mencoba menutupi sekaligus mengusap air mata Sakura yang kembali turun. Isakan Sakura teredam sepenuhnya di dalam ciuman yang terlihat liar itu. Air mata yang tidak terusap oleh Sasuke jatuh mengenai pipi Sasuke membuat laki-laki itu mengernyitkan alisnya lalu mencium Sakura lebih dalam. Tanpa sadar, di mata semua tamu waktu itu... mereka berdua terlihat seperti kedua pasangan yang benar-benar saling mencintai hingga begitu rakus dengan eksistensi satu sama lain.

Sayang sekali para tamu tersebut hanya tidak tahu...

...betapa pintarnya Sakura dan Sasuke memainkan peran 'baik' mereka. Betapa pintarnya kedua pasangan kotor ini menunjukkan kebohongan yang terlihat seperti kenyataan bodoh di depan orang-orang awam itu.

Mereka melepaskan ciuman mereka setelah merasa air mata Sakura telah terusap. Sakura terlihat mengatur napasnya setelah berciuman. Wajar saja, demi meluapkan amarah yang ada, mereka berciuman dengan penuh emosi tak tersampaikan. Tamu-tamu mulai tersenyum dan mengucapkan kata 'Selamat' pada pasangan baru ini. Tanpa mempedulikan mereka, Sasuke melirik wanita di sampingnya, "Saku—"

Senyum penuh arti yang dipasang Sakura membuat Sasuke sepenuhnya terdiam lagi. Wanita itu memutar tubuhnya menghadap depan tanpa menghilangkan senyumnya. Sasuke tidak mencoba bertanya lagi. Yah, walaupun dia bertanya, dia tahu Sakura mungkin tidak akan pernah menjawabnya dan... mungkin juga Sasuke sendiri telah tahu jawabannya. Sakura yang langsung menciumnya itu... bukanlah sesuatu yang spesial. Seperti orang bodoh jika Sasuke berpikir Sakura telah jatuh cinta padanya—terlebih hanya dalam waktu singkat. Sasuke tersenyum miris. Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya.

Ciuman adalah peredam. Ciuman dapat menelan semua kata-kata yang akan dikeluarkan. Ciuman dapat mengekspresikan perasaan yang sedang kita rasakan. Ciuman adalah pelarian. Ciuman adalah pembukaan dan penutup.

Pria berambut raven itu tahu... Haruno Sakura pasti berpikir lebih baik dia mencium Uchiha Sasuke daripada harus mendengar kata 'maaf' keluar dari mulut laki-laki brengsek seperti dia.

Tentu saja.

Karena Haruno Sakura tidak akan pernah memaafkan Uchiha Sasuke.

Bahkan meskipun mulai detik ini namanya telah berubah menjadi... Uchiha Sakura.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warnings : Hard lemon (rape) with violence almost in every chapters, OOC, AU, misstypo?

Genres : Romance/Angst/Crime/Friendship

Main Pair : SasuSakuGaa

.

.

.

BLIND

.

.

.

Apa kau tahu? Kadang dunia begitu lucu.

Semua orang menertawakan dunia ini... tanpa sadar bahwa mereka telah menertawakan diri mereka sendiri.

"Sasuke-kun..." Suara yang sangat dikenalnya membuat Uchiha Sasuke membuka kedua matanya yang terpejam meskipun sedikit enggan. Pria itu membalikkan posisi tidurnya yang menghadap kanan, sehingga kini dia menghadap kiri—dimana posisi istrinya tidur berada. Sasuke hanya diam melihat Uchiha Sakura yang telah duduk di atas kasur mereka sehingga kedua onyx milik Sasuke hanya menangkap punggung Sakura yang membelakanginya.

Tidak mendapat respon apapun dari Sasuke membuat Sakura sedikit menoleh ke belakang. Saat kedua matanya tak sengaja bertatapan dengan kedua mata Sasuke yang menatapnya intens, Sakura langsung terlihat kaget dan terburu-buru mengalihkan wajahnya. Tidak ada yang merespon lagi setelah itu sementara Sakura tetap diam di posisinya. Sasuke menghela napasnya dan sekilas memejamkan kedua matanya sebelum ikut bangkit dari posisinya. Pasangan suami istri muda tersebut kini telah duduk berdampingan.

"Ada apa?" Tubuh Sakura terlihat menegang kala suara berat Sasuke memasuki indra pendengarannya. Uchiha bungsu itu menatap Sakura datar sebelum wanita itu menundukkan kepalanya semakin dalam.

Entah apa yang ada di kepala Sasuke, Sakura tidak akan pernah mengerti. Di balik kepalanya yang tertunduk itu, Sakura memasang ekspresi kesal. Apa maunya? Apa mau si brengsek ini? Setelah bertahun-tahun memperkosanya dan mengabaikan pemberontakannya, Sasuke selalu berbuat dan berkata semaunya tanpa memikirkan perasaannya. Dan sekarang... setelah semuanya menjadi sah, setelah semuanya diperbolehkan, setelah mereka menjadi sepasang suami istri—

—Sasuke justru tidak pernah menyentuhnya. Jangankan itu, mencium bibirnya saja enggan.

Tiga bulan telah berjalan sejak pernikahan mereka dilangsungkan waktu itu. Sakura berpikir, karena semua sudah terlanjur menjadi bubur, maka dia harus belajar untuk menerima Sasuke perlahan tapi pasti... meskipun dia tahu perasaan cinta yang sesungguhnya untuk Uchiha Sasuke tak akan pernah datang. Tapi, sekarang apa yang terjadi? Sasuke justru menghindarinya. Seakan-akan laki-laki itu telah jijik dengan perempuan yang telah dia perkosa di luar janji suci selama ini. Sakura menangis kesal menyadari kenyataan ini.

Bukan berarti dia menginginkan sentuhan Sasuke, tapi setidaknya dia ingin Sasuke memberi alasan yang jelas. Mengapa laki-laki itu menyiksanya? Mengapa laki-laki itu begitu senang melihatnya menderita? Apa salahnya? Oh, kalau begitu apakah Sasuke mulai bosan pada dirinya? Jadi, apakah Sakura hanya sekedar mainan belaka yang dirusak oleh Sasuke dan begitu dimiliki, sang pemilik akan bosan lalu membuangnya begitu saja?

Jangan bercanda!—Sakura ingin berteriak namun kerongkongannya mengering. Dia memejamkan kedua matanya erat dan menangis lirih. Sungguh, wanita malang itu benar-benar tidak mengerti. Apalagi saat hatinya tiba-tiba berbisik, "Bersiaplah Sakura sayang, kau akan dibuang sebentar lagi."

Mungkinkah... selama ini dia hanyalah sekedar pelampiasan nafsu brutal pria brengsek yang tidak mempunyai hati itu?

Getaran tubuh Sakura yang masih menundukkan kepalanya membuat Sasuke tersentak kaget. Laki-laki itu meremas sprei di bawahnya cukup keras. Bagaimana ini? Bagaimana? Sasuke mengernyitkan kedua alisnya lalu membuka mulutnya. Suaranya... tidak mau keluar lagi. Selalu. Selalu begitu. Selalu saja. Tanpa bisa menahan emosinya, Sasuke menarik bahu Sakura dengan keras. Memaksa kepala Sakura mendongak, dan di saat itu kedua tangan Sasuke memegangi sisi-sisi wajah Sakura. Belum sempat Sakura untuk merasa terkejut, Sasuke sudah menarik kepalanya untuk mendekatkan kedua bibir tipis mereka.

Tinggal sedikit lagi... namun gerakan Sasuke terhenti.

Jarak di antara wajah mereka nyaris menghilang bersamaan dengan tubuh keduanya yang saling bergetar. Bibir mereka tidak sempat bersentuhan sedikitpun—meski hanya sekedar ujungnya saja. Kedua iris hijau emerald Sakura menatap lemah Sasuke yang kembali memundurkan wajahnya dalam diam. Tangan Sasuke melepaskan kepala Sakura perlahan tapi pasti. Sakura mencoba menangkap iris onyx Sasuke yang terus menghindari tatapannya sampai akhirnya sekilas Sakura mendengar suaminya itu mendecih sebelum turun dari kasur mereka.

Sakura tidak pernah menyangka... diabaikan Sasuke seperti ini ternyata jauh lebih sakit. Seperti harga dirimu yang tiba-tiba dibuang, diinjak, lalu ditinggalkan begitu saja.

Wanita bermahkota soft pink tersebut menggelengkan kepalanya lalu mengusap air matanya cepat dengan sekali usapan. Dia menggigit bibir bawahnya cukup keras sembari membuka selimut lalu ikut turun dari kasurnya. Dilihatnya Sasuke berhenti melangkah begitu mendengar suara langkah kakinya. Sakura menutup mulutnya lalu begitu dia akan melewati Sasuke yang berhenti di depannya, wanita cantik itu berbisik...

"Kau memang brengsek."

Tanpa perlu menunggu Sasuke untuk membalasnya meskipun hanya dengan menatapnya, Sakura kembali berjalan cepat meninggalkan Sasuke yang kini berada di belakangnya. Dengan sedikit kasar, wanita itu membuka pintu kamar mereka, lalu begitu keluar dia membanting pintunya keras. Sasuke tidak perlu terheran-heran melihat perilaku istrinya tersebut. Laki-laki itu kembali menarik napas panjang lalu mengeluarkannya pelan bersamaan dengan tubuhnya yang menyandar pada lemari di sampingnya.

Pertengahan musim dingin saat ini membuat suasana begitu dingin meskipun AC tidak dinyalakan di kamar mereka berdua. Sasuke belum bergerak dari posisinya sekarang, namun dia dapat mendengar suara pintu rumah mereka terbuka lalu tertutup kembali. Uchiha bungsu itu tidak perlu menebak asal apa yang sedang terjadi. Dalam diam, Sasuke berbalik lalu berjalan menuju jendela besar di kamarnya. Dari jendela yang dilapisi kaca itu, Sasuke dapat melihat ke bawah. Sesuai dugaannya, Sakura terlihat memakai syal dan jaketnya di luar lalu berjalan cepat menyusuri jalan trotoar hingga sosoknya menghilang dari pandangan Sasuke.

Iris onyx adik dari Uchiha Itachi itu terlihat membeku. Tidak terlihat hidup dan memiliki arti sama sekali. Sasuke memejamkan kedua matanya seiring butiran-butiran salju yang telah turun dari langit. Seakan mengejeknya, para salju mulai menutupi benda-benda di bawahnya perlahan tapi pasti. Udara yang ditiupkan Sasuke dari mulutnya kini berubah menjadi sekumpulan uap putih. Tangan Sasuke menyentuh kaca jendela di hadapannya lalu tersenyum tipis.

"Aku tahu aku brengsek."

Setelah bergumam seperti itu, telinga Sasuke menangkap suara Hp berdering dari atas meja di sampingnya. Ah, sepertinya Sakura lupa membawa salah satu benda elektronik yang penting itu. Sasuke mendekati mejanya agar dia bisa melihat jelas layar Hp tersebut tanpa harus memegangnya. Senyum tipisnya berubah menjadi seringai mengejek yang entah ditujukan pada siapa.

"Tapi Sakura, bukankah kau juga sama saja?" Diambilnya Hp tersebut. Layar yang menunjukkan tulisan 'Sabaku no Gaara is calling...' itu terlihat berkedip beberapa kali. Sasuke memicingkan kedua matanya lalu menjatuhkan Hp malang itu ke dalam tempat sampah tanpa perlu bersusah payah mematikan panggilan yang datang. Sehingga sementara Sasuke menerawang, kedua telinganya tetap setia mendengarkan dering Hp di bawahnya.

"Kau masih belum menyerah ya, dasar sampah."

#

.

.

.

#

"Maaf... aku mengganggumu padahal kau sedang praktek kerja," Sakura menundukkan kepalanya cukup dalam. Terlebih saat laki-laki berambut merah itu mulai menarik kursinya lalu duduk di depan Sakura. Wanita itu meremas celana jeans panjang yang dikenakannya, "aku benar-benar minta maaf."

Mendengar itu, Sabaku no Gaara menatap Sakura datar lalu menghela napasnya, "Sudahlah, aku sudah bilang sekarang adalah jam istirahatku, kau tidak mengganggu pekerjaanku sama sekali," ucapnya mencoba menenangkan Sakura. Namun, begitu dia melihat masih belum ada perubahan, akhirnya Gaara kembali berkata, "tenang saja, Sakura."

Akhirnya kali ini Sakura mau mengangkat kepalanya. Sekarang Gaara dapat melihat ekspresi wajah Sakura dengan jelas. Iris hijau emerald miliknya terlihat redup dan jejak air mata di bawah matanya membekas jelas—seperti biasa. Gaara tidak kaget sama sekali, seakan-akan dia sudah sangat terbiasa dengan pemandangan di depannya ini. Well, tapi memang kenyataannya begitu. Sejak hari pertama setelah Sakura menikah, wanita yang bernama sama dengan bunga kebanggaan Jepang itu selalu datang ke tempatnya. Kondisinya pun sama seperti sekarang.

Gaara tidak tahu apakah Sakura memberi tahu Sasuke tentang kedatangannya yang rutin ke tempatnya meskipun kemungkinannya kecil. Tapi, mau Sasuke tahu atau tidak tahu, sepertinya Sakura sudah terlalu enggan untuk peduli. Toh, Sasuke juga pasti merasa sudah menang tanpa perlu mengkhawatirkan hal kecil seperti ini. Di lain pihak, Gaara tahu dia tidak akan menyalahkan Sakura—karena bagaimanapun juga satu-satunya orang luar yang tahu tentang aib Sasuke dan Sakura hanyalah Sabaku no Gaara.

Iris hijau susu Gaara menatap wajah Sakura yang memerah. Entah karena dingin atau karena hal lain. Laki-laki itu berdiri lagi dari kursinya. Mengabaikan tatapan heran Sakura padanya, Gaara berjalan mengambil dua cangkir lalu diisinya dengan kopi hangat. Sakura terus mengamati Gaara dalam diam sampai pria itu kembali duduk di kursinya lalu memberikan secangkir kopi hangat tersebut pada Sakura.

"Minumlah selagi masih hangat. Harusnya kau jangan berjalan di tengah suasana dingin seperti ini, tidak baik untuk kesehatanmu," Gaara kembali berkata sebelum meminum kopinya sendiri. Merasa Sakura tidak akan memulai inti pembicaraan jika dia tidak memancingnya, maka Gaara mencoba mencari topik lain terlebih dahulu, "kapan kau kembali kuliah? Aku bahkan sudah praktek kerja. Jangan sampai jadi mahasiswi abadi, nona..." ucap laki-laki berambut merah itu—mungkin maksudnya bercanda, tapi Gaara mengucapkannya dengan ekspresi datar.

Sakura mendengus menahan tawa sembari mengambil pegangan cangkir kopinya yang diletakkan di atas meja, "Mungkin aku akan telat wisuda, tapi bukan berarti aku akan jadi mahasiswi abadi, Gaara," Istri dari Uchiha Sasuke itu tertawa kecil, "sungguh... jika kau memang ingin bercanda, setidaknya buatlah ekspresimu mendukung, tuan."

Gaara menghentikan laju cangkir kopi di depan mulutnya melihat Sakura yang akhirnya tertawa setelah cukup lama terlihat murung tadi. Tanpa sadar, Gaara tersenyum kecil—walau akhirnya dia buru-buru menutupinya dengan meminum kopinya. Tawa Sakura mulai mereda lalu wanita itu menaruh cangkir kopinya kembali di atas meja. Merasa waktunya untuk berbicara serius telah tiba, Gaara melipat kedua tangannya di depan dada lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya.

"Ne, Gaara..." Mendengar namanya disebut, laki-laki itu memiringkan sedikit kepalanya, "...menurutmu aku ini bagaimana? Beri satu kata untuk mendeskripsikan diriku secara singkat," pinta Sakura. Gaara tidak terlihat berpikir sama sekali. Wajahnya tetap datar seperti di awal sampai akhirnya dia menjawab dingin...

"Bodoh."

Sakura butuh waktu untuk mencerna maksud Gaara lalu—

"Kau adalah perempuan yang bodoh."

Baiklah, kata-kata yang Gaara lontarkan berikutnya sukses menusuk dada Sakura. Wanita itu tertawa miris, "Benar-benar to the point seperti biasa."

"Tentu saja." Sabaku bungsu itu memajukan posisi duduknya. Hingga sekarang dia menopang dagunya dengan tangan yang sikunya menyandar di atas meja. "Hanya perempuan bodoh yang melewatkan satu-satunya kesempatan berharga yang diberikan padanya sekali seumur hidup," lanjut Gaara lebih terdengar sinis dari sebelumnya.

Sakura merasa heran mendengar nada bicara Gaara yang seperti itu, ditambah dengan tatapan tajam Gaara yang seakan mencoba menusuk kedua matanya, "Jangan bilang kau masih marah soal—"

"Menurutmu?"

Menghela napas, Sakura mengalihkan perhatiannya ke arah lain, "Kau marah."

"Bagus, akhirnya sadar juga," Pria berumur kurang lebih dua puluh tahun itu berucap sarkastik sebelum kembali meminum kopinya sampai habis. Sakura memasang ekspresi bersalah meskipun ekspresi itu tidak ditunjukkan pada Gaara secara langsung.

"Ayolah Gaara, kita sudah mengulangi pertengkaran ini berulang kali," Sakura mencoba bernegoisasi sementara Gaara hanya meliriknya dengan tatapan malas. Anak tunggal keluarga Haruno tersebut menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan senyum, "Kau tahu sendiri... tidak ada yang akan mau menerima wanita kotor seperti diriku selain Sasuke-kun."

"Dan kau juga tahu sendiri kalau aku selalu siap menerimamu kapan saja." Uchiha Sakura tersentak mendengar itu. Seketika wajahnya kembali memerah sementara Gaara... entahlah, dia langsung menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, "Tolong jangan buat aku selalu mengulanginya setiap kau datang ke sini," keluh Gaara diakhiri dengan helaan napas panjang.

Wanita bermahkota soft pink tersebut menatap Gaara yang sedang mengusap wajahnya perlahan. Baiklah, jika dia memilih akan datang ke tempat Gaara, seharusnya dia sudah memperkirakan hal ini pasti akan terjadi. Bagaikan kaset yang rusak, berulang kali semuanya terjadi tanpa bisa Sakura maupun Gaara hentikan. Walau begitu, Sakura menyukainya—bukan, mereka berdua menyukainya. Momen berdua ini... hanya momen seperti ini yang bisa mereka dapatkan. Katakanlah satu jam Sakura untuk laki-laki yang dicintainya dan dua puluh tiga jam sisanya untuk laki-laki yang dibencinya.

Apakah itu cukup adil?

Mengesampingkan itu semua, seorang wanita bersuami dan calon dokter muda yang saling berhadapan itu kini tersenyum kecil di balik penutup wajah mereka masing-masing.

Sakura memejamkan kedua matanya, memohon dalam hati. Oh Kami-sama, meskipun dia sudah dimiliki oleh laki-laki lain, bolehkah dia tetap mencintai laki-laki yang memang telah dicintainya sejak dulu?

"Lalu sekarang langsung saja, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?" Pertanyaan Gaara memasuki gendang telinga Sakura membuat wanita itu kembali menatap laki-laki yang duduk di hadapannya. Harus Sakura akui, semenjak dia menikah dengan Sasuke, Gaara terlihat lebih banyak bicara dari sebelumnya—entah kenapa. Walau masih ada satu hal yang sama. Kehangatan di setiap kata-katanya saat memasuki indra pendengaran Sakura.

Sekarang Sakura merasa tidak enak ingin membicarakan maksudnya di sini setelah perkataan Gaara tadi. Hanya saja, tidak jadi membicarakannya juga adalah pilihan yang buruk. Sakura tidak mau jika Gaara sampai merasa semua waktunya terambil percuma. Akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk berkata, "Aku... tidak akan pernah mengerti apa yang ada di pikiran Sasuke-kun meskipun aku mencobanya."

Mendengar nama Sasuke membuat tubuh Gaara sedikit menegang. Pria berambut merah itu memicingkan kedua matanya, "...Maksudmu?"

"Kau tahu sendiri mengapa aku menikahi Sasuke-kun, karena dia telah memperkosaku sejak SMA!" Sakura tidak bisa menahan volume suaranya yang meninggi. "Tapi sekarang... sudah tiga bulan, dan dia tidak menyentuhku sama sekali... sungguh, aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain mengambil kesimpulan dia adalah laki-laki terbrengsek yang pernah kutemui!" erang Sakura sembari meremas rambutnya sendiri. Berulang kali wanita itu menggumamkan kata-kata yang sama, "Mengapa... mengapa aku memilih untuk menikah dengannya? Kau benar Gaara, aku memang bodoh."

Gaara tidak merespon banyak, dia sempat tersentak kaget mendengar itu walau akhirnya dia kembali tenang. Dia menatap Sakura yang menundukkan kepalanya sembari meremas rambutnya sendiri di depannya. Dia tidak menangis, hanya mengerang kesal—terdengar seperti mengisak. Tidak, Gaara tidak akan langsung menebak bahwa Sakura memang ingin disentuh Sasuke—kemungkinannya sangat kecil bahkan nyaris tidak mungkin. Kurang lebih pria itu mengerti maksud wanita yang dicintainya secara tidak sengaja—

—dan dia juga mengerti mengapa Uchiha Sasuke tidak mau menyentuh istrinya sendiri.

Bukan tidak mau, melainkan tidak bisa.

Pria berambut merah itu memejamkan kedua matanya sesaat kemudian dia berdiri dari kursinya. Suara gerakan kursi membuat Sakura mengangkat kepalanya. Wanita itu sedikit heran melihat Gaara yang tidak langsung merespon kata-katanya, bahkan berjalan melewati posisinya begitu saja. Sakura membuka mulutnya, bermaksud bertanya pada Gaara yang kini terlihat membelakanginya dan menatap jendela besar di hadapannya.

"Sadarkah kau, kalau kau tidak jauh berbeda dengan laki-laki yang kau benci itu?" Gaara memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokter yang dikenakannya. Kedua matanya memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan raya. Suara kursi yang terhentak membuat Gaara yakin sekarang Sakura telah berdiri di belakangnya. Dari bayangan jendela kaca di hadapannya, Gaara dapat melihat tatapan gusar Sakura padanya.

Sakura menggertakkan giginya, "Apa maksudmu?" Gaara melirik sekilas, "Kau mau bilang aku sama seperti dia yang memperkosa—"

"Bukan dalam konteks itu," Kini Gaara menghadapkan tubuhnya ke samping lalu menoleh untuk menatap Sakura, "...tapi dalam konteks keegoisan."

"Hah?"

"Dia egois, ingin memiliki dirimu seutuhnya, ingin selalu menang dariku, ingin semuanya sesuai dengan kemauannya, ingin kekuasaan untuknya seorang. Bedanya, dia masih dapat membuka mata untuk mengetahui perasaanmu yang sesungguhnya, tapi dia enggan mengetahuinya. Karena itu dia sengaja menutup matanya dan berpura-pura menjadi pria egois yang seutuhnya. Tapi kau—" Iris hijau susu menusuk iris hijau emerald di hadapannya.

"—kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Jauh lebih parah daripada dia. Dia masih memikirkan perasaanmu. Tapi yang kau pedulikan hanyalah perasaanmu seorang. Sebenarnya... kau sendiri tidak pernah sekalipun memikirkan perasaannya atau alasan mengapa dia selalu menyakitimu selama ini, 'kan? Kau baru mencoba mencarinya sekarang setelah tiba-tiba dia tidak mau menyentuhmu lagi, 'kan?"

Kaget mendengar kata-kata itu dari Gaara, Sakura melirik ke kanan kirinya. Tiba-tiba merasa tidak tahu harus berkata apa, "I-Itu... bukankah karena dia memang membenciku?"

"Dan karena apa?" Sakura menggigit bibir bawahnya sementara Gaara kembali menghadapkan posisi depan tubuhnya tepat di hadapan Sakura, "Apa wajar teman semasa kecil seperti kalian yang hampir selalu bersama tiba-tiba rusak tanpa alasan yang jelas? Meskipun dia membencimu, tidak mungkin tidak ada alasannya!" ucap Gaara nyaris membentak.

Istri dari Uchiha Sasuke tersebut meremas lengannya sendiri, "Bukan begitu... aku pernah bertanya padanya..." Sakura kembali mengingat masa-masa itu—saat dimana traumanya berjalan. Bagaimana kerasnya teriakannya saat itu... namun Sasuke tidak pernah mendengarnya—"...tapi Sasuke-kun tidak pernah mau menjawabku dan dia terus melakukannya... membuatku ketakutan."—dan sekarang kata-kata Gaara membuatnya tersadar, benarkah Sasuke memang tidak mendengar kata-katanya waktu itu atau—

—dia pura-pura tidak mendengar?

Melihat perubahan ekspresi Sakura membuat Gaara sedikit berpikir, apakah dia sudah keterlaluan? Tidak, ini demi kebaikan wanita itu sendiri. Bukan berarti Gaara bersimpati pada Sasuke—hah, tidak mungkin. Sabaku bungsu itu mengernyitkan dahinya lalu kembali berkata, "Jangankan pada Sasuke," Pria dingin itu kembali melihat jendela kaca di ruangannya, "Sakura, kau bilang kau mencintaiku, tapi pernahkah kau memikirkan bagaimana perasaanku padamu?"

"Eh?" Sakura menelan ludahnya dan lagi-lagi mengelus lengannya sendiri, "A-Aku..."

Berikutnya kata-kata Sakura tidak terdengar oleh telinganya sama sekali. Konsentrasi Gaara sudah tidak tertuju lagi pada Sakura, namun pada suatu hal yang lain. Kedua tangan pria itu masih setia di dalam saku jas dokternya saat Gaara menoleh ke luar jendela. Entahlah, sepertinya ada sesuatu yang menarik di luar sana. Tanpa Sakura sadari... pria dengan lingkar hitam di sekitar matanya itu mendengus kecil lalu tersenyum penuh arti.

"Aah, sampai kapanpun kau memang tidak akan pernah melepaskannya, heh?"

Gaara menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Sudah waktunya. Ini adalah kesempatannya. Jika benar Sasuke belum menyentuh Sakura, berarti kemungkinannya besar laki-laki bodoh itu belum menyatakan perasaannya dengan jujur. Dia harus mengatakannya—walau detak jantungnya untuk yang pertama kalinya enggan menuruti kemauannya untuk tetap tenang.

"Setelah dipikir ulang, ternyata memang lebih baik kalau kau tidak perlu memikirkan tentang perasaanku padamu," Tidak memberikan kesempatan untuk Sakura merespon, Gaara kembali melanjutkan, "aku yang salah karena telah melempar jala dengan harapan kau terjerat di dalamnya. Tapi ternyata... tetap saja aku yang harus terperangkap di dalam jalaku sendiri. Well, kau bisa bilang aku secara tidak langsung telah mengakui kekalahan dan kebodohanku."

"Ga-Gaara?"

"Aku mencintaimu, Sakura..." Tersentak, Sakura sampai tak menyadari mulutnya yang terbuka. Gaara tersenyum tipis, namun tersimpan kelembutan di sana, "...maaf aku baru bisa mengatakan ini sekarang—karena aku memang baru menyadarinya belakangan. Padahal di saat yang bersamaan, kau juga sudah menjadi istri orang lain."

Adik dari Sabaku no Temari dan Sabaku no Kankurou itu memutar tubuhnya sepenuhnya. Dia kembali berhadapan dengan Sakura. Dengan senyum tertahannya, dia berkata lirih, "Maaf ya."

Sakura menggelengkan kepalanya pelan, "Bohong... kau hanya mengasihaniku, 'kan?" tanyanya tanpa berani meninggikan volume suaranya.

Pria berambut merah itu menghela napasnya. Tidak ada gunanya membuat Sakura langsung percaya dengan kata-katanya begitu saja. Gaara hanya menunduk tanpa menghilangkan senyuman tipisnya—yang nyaris tak terlihat seperti sebuah senyuman. Dia berjalan mendekati Sakura yang menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya. Tangan Gaara meraih sebelah tangan Sakura dan menggenggamnya erat. Membuat wanita itu tersentak kaget dan secara reflek berusaha melepaskan diri walau Gaara tetap tidak akan melepaskannya begitu saja.

"Tidak, Gaara... aku sudah..." Sakura terus menggelengkan kepalanya, apalagi saat wajah Gaara mulai mendekati wajahnya. Sakura memejamkan kedua matanya erat lalu membuang wajahnya, "...jangan! Aku mohon—"

"Sekali saja, jujurlah pada perasaanmu," Dahi kedua insan itu telah bersentuhan, membuat Sakura semakin panik ditambah dengan mukanya yang sudah sepenuhnya memerah. Wajah Gaara hanya tinggal beberapa centimeter lagi di depannya membuatnya nyaris melupakan bagaimana caranya bernapas. "Hanya sekali ini, setelah itu aku berjanji tidak akan meminta apapun lagi," lanjut Gaara mencoba menenangkan Sakura.

Kedua tangan Sakura mengepal, hati dan tubuhnya tidak akan pernah bisa berbohong. Gawat, gawat, bagaimana ini... Sakura tidak bisa berbohong lagi. Dia tidak bisa lari lagi. Hidung Gaara telah menyentuh hidungnya, "Aku... Aku mencin—" Tak perlu waktu lama hingga akhirnya kedua bibir mereka bertemu.

Detak jantung Sakura terus berdegup kencang. Gaara masih menggenggam erat tangannya agar dia tidak bisa kabur. Sebelah tangan Sakura mencoba menahan dada Gaara yang terus mencoba maju. Pagutan bibir Gaara hampir sama seperti pertama kali mereka berciuman, hanya saja lebih lembut dan penuh perasaan. Laki-laki itu mencoba berhati-hati sebaik mungkin agar tidak menyakiti wanita di pelukannya ini.

"G-Gaara—" Tiba-tiba saja ciuman ini sudah jauh lebih panas dari sebelumnya. Sakura mencoba menahan hasratnya sekuat mungkin. Aneh. Memang berbeda. Sentuhan dari Gaara tidak jauh berbeda dari Sasuke, hanya saja... ada yang berbeda. Apa karena memang Sakura mencintai Gaara dan Gaara juga mencintainya atau... adakah hal yang lain?

Sakura mengerang perlahan seiring dengan ciuman Gaara yang mulai berpindah pada pipinya lalu turun menuju leher jenjangnya, "Ngh! Gaara... henti—ukh, hmmph!" Sakura langsung menutup mulutnya dengan tangannya sendiri yang kini telah bebas. Entah kenapa tubuhnya terasa jauh lebih sensitif dari biasanya. Apakah karena Gaara yang menyentuhnya atau karena memang tubuhnya sudah lama tidak menerima sentuhan Sasuke? Yang mana yang benar?

"Gaara!" Merasa kekuatannya sudah terkumpul, Sakura langsung mendorong tubuh pria berambut merah itu dengan keras. Nyaris saja... Sakura langsung menutup dua kancing atasnya yang telah terbuka. Wanita Uchiha itu masih sepenuhnya sadar dia telah bersuami dan melakukan hal ini sepenuhnya dilarang. Walau Sakura tidak akan berbohong, dia menginginkan ini. Dia menginginkan Gaara. Dia ingin dimiliki Gaara.

Dia hanyalah wanita biasa yang ingin... bersama pria yang memang dicintainya sedari lubuk hati yang terdalam.

Gaara tidak melakukan apa-apa setelah didorong Sakura. Walau enggan, dia berusaha mengerti. Hingga akhirnya laki-laki itu hanya bisa menarik napas pelan lalu membuang mukanya ke arah lain. "Terlalu lama terlibat dengan kau dan dia memang membawa pengaruh buruk—" Sakura melirik takut dan Gaara kembali menatap wanita itu dengan ekspresi yang tak terbaca, "—ini gawat, sepertinya aku juga mulai menjadi egois."

Sakura tidak tahu harus menjawab apa pada awalnya. Dan akhirnya dia menggigit bibir bawahnya lalu berkata lirih, "Ma-Maaf, Gaara... meskipun aku membenci Sasuke-kun, aku—"

"Tidak bisa mengkhianatinya," Melanjutkan kata-kata Sakura, Gaara hanya bisa tersenyum kecil, "tidak apa-apa, aku tidak akan marah. Aku juga minta maaf. Memang seharusnya begitu," Pria berambut merah itu berdiri dari posisinya lalu membelakangi Sakura, "tapi... aku tidak tahu kau ini sebenarnya memang baik atau hanya seseorang yang naif," bisik Gaara pelan.

"Apa?"

Pertanyaan Sakura karena tidak dapat mendengar perkataan Gaara hanyalah dianggap laki-laki itu sebagai angin lalu. Sakura benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiran kedua laki-laki yang selalu menghantui dirinya sekarang. Tanpa sadar wanita itu telah memegang kepalanya dan memijat dahinya sendiri. Sementara Gaara kini memejamkan kedua matanya dan menunduk.

"Aku... tidak bisa bertemu Sasuke lagi. Karena itu, tolong sampaikan pada suamimu itu bahwa aku telah kalah darinya."

Pijatan Sakura pada dahinya langsung terhenti secara reflek. Wanita beriris hijau emerald tersebut hanya melirik lemas pada Gaara yang telah berjalan mendekati pintu. Laki-laki itu kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sebelum menolehkan kepalanya pada Sakura di belakangnya sembari tersenyum kecil.

"Untuk sekarang, mau makan siang bersama—sebagai sesama teman?"

#

.

.

.

.

.

.

#

Tiga puluh menit telah berlalu semenjak kedatangan Uchiha Sasuke di gedung kuliahnya. Setelah sebulan menikah, sejauh ini hanya Sasuke yang baru kembali kuliah lagi—berbeda dari Sakura yang entah mengapa memilih untuk mengambil cuti dulu dengan alasan mengistirahatkan pikiran. Walau begitu untuk hari ini, selain datang lebih siang dari jam masuk seharusnya, Sasuke memilih tidak masuk kelas. Pria berambut raven itu melepaskan tas ransel yang dikaitkan pada salah satu bahunya, lalu dia duduk di atas kursi kayu panjang yang terletak di samping vending machine.

Sasuke mengenakan kemeja kotak-kotak biru putih yang ditutupi jaket biru tua yang menutupi sampai lehernya, celananya adalah jeans panjang berwarna hitam, dan dia memakai sepasang sepatu sneaker berwarna dasar hitam dengan tali dan ujungnya berwarna putih. Uchiha bungsu itu mengangkat kepalanya melihat ke atas sembari sesekali meniupkan napasnya membuat uap putih berkumpul di atas wajahnya. Posisinya tetap seperti itu sampai seseorang duduk di sampingnya—namun dengan posisi menyamping sehingga membelakanginya.

"Oi, Teme..." Panggilan khas untuknya itu sama sekali tidak membuat Sasuke berkutik. Detik demi detik berjalan, Uzumaki Naruto pun mulai merasa jengah. Dia mengambil kantong kertas berwarna coklat yang berisi penuh akan sesuatu lalu melemparnya ke samping Sasuke.

Naruto mulai memposisikan duduknya dengan benar, sehingga dia duduk menghadap depan dan bersebelahan dengan Sasuke. Ada jarak di antara keduanya dan kantong kertas berwarna coklat itu mengisi di antaranya. Kali ini akhirnya Sasuke mau melirik ke arah teman baiknya sejak SMA tersebut. Sasuke mengambil kantong kertas berwarna coklat itu dalam diam lalu mulai membukanya untuk mengambil isinya.

Berbeda dari Naruto yang terlihat resah sampai memainkan jari-jarinya, Sasuke tetap terlihat tenang. Bahkan meskipun pria itu telah memegang setumpuk foto yang merupakan isi dari kantong berwarna coklat tersebut, Sasuke tidak terlihat merubah ekspresinya sama sekali, "Kau... benar," bisik Naruto sementara Sasuke mulai melihat foto-foto yang baru saja diambil anak tunggal Uzumaki itu beberapa waktu lalu dengan tatapan datar.

"Sakura... bertemu dengan Gaara di belakangmu. Mereka hampir selalu bertemu sekitar dua kali dalam seminggu," Naruto berkata pelan—takut mengagetkan sahabat baiknya walau sesungguhnya itu tidak perlu. Pemuda berambut pirang itu menoleh ke samping, menatap Sasuke yang masih enggan menatapnya, "sekarang aku mengerti kenapa kau memintaku untuk mengikuti Sakura atau Gaara dalam sebulan ini. Maaf aku sudah memarahimu karena berpikir kau terlalu mencurigai mereka," lanjut Naruto diakhiri dengan helaan napas bersalah.

Sasuke tidak langsung merespon Naruto untuk beberapa saat. Kedua matanya terlalu fokus dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang. Semua foto Gaara dan Sakura diambil Naruto dari sudut cahaya yang bagus sehingga terlihat jelas. Mereka bertemu di beberapa tempat seperti café, restaurant, dan berbagai macam tempat lainnya yang bisa dijadikan tempat pertemuan mereka berdua. Di foto-foto itu, Sasuke dapat melihat bagaimana istrinya dengan laki-laki berambut merah tersebut terlihat berbincang dan tertawa bersama. Seolah pembicaraan yang sedang mereka bicarakan terlihat begitu menarik. Terlebih dengan wajah antusias yang dipasang Uchiha Sakura di sana.

"Teme, kau mendengarku tidak sih?" tanya Naruto yang mulai merasa heran tidak mendapat respon dari Sasuke sama sekali. Naruto melipat kedua tangannya di depan dada, "Kesimpulannya istrimu yang salah di sini! Seharusnya kau—"

"Dobe," Naruto tersentak kaget melihat Sasuke yang justru tersenyum tipis. Tidak terlihat seperti suami yang gusar melihat fakta bahwa istrinya telah selingkuh di belakangnya, "kau tahu? Sakura tidak pernah tersenyum seperti ini di depanku," ucapnya dengan tatapan kosong namun bibirnya tersenyum.

Naruto mengernyitkan kedua alisnya heran, "Te-Teme, apa maksudmu? Kenapa kau tidak marah!?" Dalam sekali gerakan, Naruto mendekati Sasuke lalu merebut beberapa foto yang dipegangnya, "Kau lihat ini, 'kan? Apa wajar jika kau sama sekali tidak marah melihat istrimu bermesraan dengan laki-laki lain di belakangmu seperti ini? Sadar, Teme!" teriak Naruto sembari menggoyangkan bahu Sasuke.

"Ma...rah?" Sasuke tidak menatap Naruto. Dia terus menatap ke bawah—entah apa yang ditatapnya. Sama sekali tidak ada bayangan yang terpantul di iris onyx miliknya yang terlihat redup. Senyumnya pun terlihat palsu, "Kenapa harus marah? Sakura terlihat senang, bukankah itu artinya aku juga harus senang?"

"TEME!"

Teriakan Naruto beserta tangannya yang menarik kerah jaket Uchiha bungsu itu membuat Sasuke tersadar. Sasuke mengerjapkan kedua matanya berkali-kali lalu menatap iris biru langit Naruto yang menatapnya tajam, "Jangan buat aku meludah jijik melihat sahabatku sendiri, Teme!" geram Naruto mulai kesal. Sasuke tetap diam, sampai akhirnya Naruto mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya dengan kasar.

"Tadinya aku tidak ingin memperlihatkan ini, tapi sepertinya mau tidak mau aku harus memperlihatkannya," Naruto melempar beberapa tumpuk foto lagi hingga jatuh berantakan di atas tubuh Sasuke. Uchiha bungsu itu mulai mengambil salah satunya dan kedua matanya sukses membulat.

Foto Gaara mencium bibir Sakura yang baru saja diambil tadi pagi. Hanya satu foto itu yang menarik perhatiannya dari sekian banyak foto yang baru diambil Naruto hari ini. Uzumaki tunggal tersebut tiba-tiba merasa bersalah, dadanya serasa dicubit keras melihat ekspresi kaget Sasuke. Walau sebenarnya ekspresi itu tidak terpasang cukup lama, Sasuke kembali menunduk, menutupi ekspresi kedua matanya sekarang.

Aah.

Perasaannya kembali campur aduk. Bagaikan Deja vú sebelum dia menikahi Sakura.

"Aku tidak tahu lagi... Dobe," Setelah cukup lama terdiam, Sasuke kembali berbicara. Dan kali ini tanpa membiarkan Naruto kembali berbicara, Sasuke melanjutkan, "apa aku masih mempunyai hak untuk marah atau... entahlah."

"Apa maksud—"

Sasuke mengambil semua foto yang terjatuh berantakan di sekitarnya. Mengabaikan Naruto yang masih terdiam dan menatapnya bingung, Sasuke mengumpulkan semua foto itu lalu memasukkannya ke dalam kantong coklat yang sedari tadi terabaikan. Setelah itu, kantong tersebut dimasukkannya ke dalam tas ranselnya. Sasuke berdiri dari posisinya sembari mengaitkan sebelah lengan ranselnya pada sebelah bahunya lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Saat akan pergi, Naruto menahannya, "Tunggu—"

"Dobe, sisanya tolong serahkan padaku," Sasuke mengatakan itu tanpa berbalik lalu melanjutkan, "aku percaya kau tidak akan membocorkan hal ini pada siapapun dan... terima kasih atas bantuanmu selama ini."

Tak perlu waktu lama sampai Sasuke berjalan melewati salju-salju yang masih setia turun untuk menutupi salah satu kota di Jepang ini. Naruto hanya bisa menatap sedih punggung Sasuke yang terus menjauh dari pandangannya. Tangannya terjulur, mencoba menggapai punggung yang semakin lama terlihat semakin mengecil itu. Perasaannya tidak enak. Sangat tidak enak. Tanpa alasan yang jelas, Naruto merasa dadanya begitu sakit dan dia meremas bajunya cukup keras.

Apa yang dia lewatkan?

Naruto tahu Sakura bukanlah perempuan yang suka memainkan perasaan orang lain. Tapi, Naruto juga tahu Sasuke bukanlah laki-laki sabar yang akan membiarkan semuanya berjalan tidak sesuai keinginannya. Dan tentu saja Naruto juga tahu Gaara bukanlah laki-laki yang suka bermain sampai merebut istri orang lain tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.

Di tengah kekhawatirannya, Naruto hanya bisa berharap...

"Sungguh, apa yang ada di pikiranmu, Sasuke? Gaara, Sakura... sebenarnya ada apa?"

...agar apa yang dia takutkan tidak akan pernah terjadi.

.

.

.

.

.

Waktu terus dan terus berjalan, sampai akhirnya wanita yang diikat tangkai mawar berduri itu membuka matanya yang terasa perih.

Dia melihat pria yang selalu menyiksanya itu kini tertidur lelah. Kedua tangannya penuh darah, ekspresinya terlihat kesakitan, dan ada bekas jejak air mata di pipinya. Sang wanita hanya bisa menatap keadaan pria itu dengan miris sembari bertanya dalam hati.

Laki-laki itu yang menyiksanya. Laki-laki itu yang selalu tertawa di atas penderitaannya. Laki-laki itu yang telah mengikatnya dengan tangkai mawar berduri. Laki-laki itu... yang selalu mendeklarasikan dirinya tidak akan pernah peduli dengan apa yang terjadi pada wanita yang diikat olehnya.

Walau begitu, mengapa saat pria itu lengah dan tidak bisa menutupi wajah aslinya, dia terlihat lebih tersiksa dari wanita yang disiksanya?

Wanita bernasib malang itu memejamkan kedua matanya. Oh, mungkin itu hanya perasaannya saja—begitu katanya dalam hati berulang-ulang. Tidak ada gunanya mengasihani laki-laki yang seharusnya dia benci.

Sang wanita mencoba bergerak lagi, namun dia berteriak lirih. Tangkai mawar berduri itu kembali menyayat tubuhnya. Luka baru kembali muncul menghiasi tubuh indahnya.

Namun anehnya, itu tidak bertahan lama.

Wanita itu tersentak kaget. Dia kembali menoleh ke arah pria itu, namun sang pria masih terlihat tidur dengan tenang. Tidak ada tanda-tanda dia akan bangun sebentar lagi karena dia terlihat begitu lelah. Si wanita kembali melihat tubuhnya sendiri dan mencoba bergerak.

Apa yang terjadi?

Ada apa?

Kenapa?

Bagaimana bisa?

Otaknya terasa enggan untuk berpikir. Dia tidak tahu lagi harus memasang ekspresi seperti apa. Sang wanita mengalirkan air matanya tanpa dia sadari. Bagaimana ini? Bagaimana? Apakah dia harus merasa sedih, takut, atau senang—

—saat tangkai mawar berduri itu kini melonggar dan memberinya kebebasan untuk bergerak?

.

.

.

.

.

When you feel you've reached the last dead end...

What will you do to save yourself from fate?

.

.

.

Would you take a knife into your heart—

or would you rather break the fall and take defeat?

- Nano (No Pain, No Game)

.

.

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Special thanks for :

Deauliaas, Zuka, Farberawz, Pinky Kyukyu, Aori Rihito, iya baka-san, Kirana Uchiha88, ES Hatake, Allysum fumiko, CN Bluetory, Andia Sakuchi, haru no baka, Lhylia Kiryu, sora azura, oO rambu no baka, eet gitu, Keita, Uchiha Shesura-chan, Pink Uchiha, hachikodesuka, Natsumo Kagerou, ZiEmon, Aozora Straw, Ah Rin, aaa, Dedew, dechaideicha1, Tomat-23, Elang23, tomat, nadialovely, Aoi Lia Uchiha, hanazono yuri, miikodesu, Saverial, Blood Winter, Hikari 'HongRhii, nolarious, Kiki RyuEunTeuk, NN, anzu qyuji, Lactobacilluss, Nohara Rin, Shiori Higashino, bella, yaya uchiha, shawol21bangs, Si Tampan, sslovers, Arizawa Yui, Guest (3x), Saga desu, white moon uchiha, uchiha ratih, anastasya regiana, Kyr Neji, Dark Couriiel, Arakafsya Uchiha, Cindiie, GwendyMary, bLAckALya, kazuran, NaruFhia Uchiha, misty, iihyn-chan, desypramitha2, tsabita koi, ErinMizuMizuna-Chan, XXX, cherry clann1, Diva-hime, nina chan, Tsurugi De Lelouch, goonerette, NeeChan Nadeshiko, summer, Uzumaki Shizuka, Hyo Uchiharuno-SasuSaku, Chichoru Octobaa, chierry violet, Anka-Chan, Qamara-chan Hyuuga, ria, onixchristine (2x), Cherry, ria (8x), creativeactive, randisamma, Brown Story, IisVadelova, Ayume Natsuki, yunianda ardina, akanecchi, Analicious, kawaihana, azuraumiko-chan, ameliahssti, RaihanSofyan, Akihime Rena

Dan untuk yang lainnya juga terima kasih :) yang masih belum meninggalkan jejak saya tunggu yaa :D

HOREEEEEE HOREEE SELESAI KAKAK SELESAAAAAAAI ;w; #narihula #baruchapter9woy Ahahaha maaf maaf, sumpah ini fic satu chapter aja makan sebulan orz Makasiiih banget buat yang masih mau nungguin author ngaret ini ahahahahay~ Doain aja habis UN kan aku senggang tuh, aku dapet banyak mood nulis dan bisa aktif di FFn lagi, amin! xD #siapakamu

Terus terus untuk chapter ini... err no comment deh ahaha. Maaf untuk Gaara yang mungkin sangat OOC, demi kelancaran cerita soalnya ;A; Harusnya sih chapter ini sampai bagian 'PIIP' (?) tapi karena kebanyakan ya gak jadi deh, sampai sini dulu. Paling kalau bisa digabungin sama yang chapter depan ehehe. Dan dan final chapter bakal penuh sudut pandang Sasuke, jadi bersiaplah yaa.

Sudah deh itu saja ahaha #dor Semoga feel chapter ini pun terasa—sejujurnya aku takut-takut mau update mengingat aku sudah lama gak nyentuh fic ini jadi takut feels-nya hilang. Dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Mind to review, please? :3